Atasi Problem Menyusui dengan Aman dan Nyaman

“Ma, bagaimana, sih, biar nanti pas lahiran ASI langsung keluar buat bayi?”

Pertanyaan di atas sering saya temukan di media sosial. Biasanya, sebagai tanggapan akan muncul saran-saran untuk membersihkan puting susu atau melakukan perawatan puting, merutinkan massage payudara, juga makan atau minum ramuan maupun menu tertentu yang dipercaya bisa memperderas produksi ASI dan lancar dalam menyusui bayi.

Pada dasarnya, melakukan upaya untuk memberikan yang terbaik bagi bayi kita tsepertinya sudah menjadi naluri para mama. Mengantisipasi problem menyusui sedari dini pun perlu dilakukan. Namanya juga usaha, kan? Dan usaha itu ada bermacam-macam bentuknya. Ada yang nyaman dengan mengasup makanan yang sudah dipercaya sejak dulu dapat meningkatkan produksi ASI, ada pula yang mempercayakan kualitas dan kuantitas ASI-nya pada ASI booster kekinian yang banyak berseliweran di media sosial. Tentunya, jangan lupakan untuk tetap selalu berkonsultasi kepada dokter, karena bagaimanapun kondisi masing-masing mama bisa berbeda.

Seperti bisa disimak dalam video berikut ini, para mama bercerita tentang cerita menyusui masing-masing. Ada yang mengalami puting rata, puting kroak, kurang ASI, hingga justru hiperlaktasi atau produksi ASI-nya terlalu berlebihan. Setiap mama punya tantangannya sendiri, dan akan menghadapinya dengan cara masing-masing pula. Semua pastinya untuk cinta kepada buah hati tersayang. Beda caranya, sama cintanya.

Hal lain yang tak kalah penting adalah mencari bekal ilmu. Ya, menyusui memang merupakan kegiatan yang sifatnya alamiah. Sudah dari sananya setiap mama dikaruniai dengan dua payudara untuk dapat meng-ASI-hi, dengan perkecualian beberapa mama yang memang mendapatkan tantangan secara khusus. Namun, menyusui tetap perlu keterampilan yang harus dipelajari.

Pertama soal ekspektasi. Kadang mama merasa ASI-nya belum keluar setelah melahirkan, karena payudara kempes, dipencet pun tidak ada cairan putih yang keluar. Seringnya ibu baru belum punya gambaran tentang ASI itu prosesnya bagaimana. Mungkin ada yang membayangkan ASI bakal berwarna putih seperti susu dalam kemasan atau dibandingkan dengan foto ASIP yang beredar di medsos. Padahal ASI pada hari-hari awal masih berwarna keemasan. Itulah kolostrum, cairan emas yang justru sangat diperlukan oleh bayi untuk daya tahannya dalam mengawali kehidupan. Saking berharganya, ada konselor laktasi yang mengingatkan agar jangan memompa ASI memakai alat pada awal-awal kelahiran bayi, kecuali memang ada kondisi spesial yang mengharuskan bayi dan/atau mama dirawat terpisah. Sayang soalnya, kalau cairan kolostrum yang hanya sedikit itu saat dituang masih tersisa menempel pada alat pompa.

Ya, ASI terlihat tidak keluar bukan berarti belum keluar beneran. Bisa jadi sudah keluar, tetapi saking sedikitnya tidak terlihat oleh kita. Mekanisme jari-jari kita dalam mengeluarkan ASI pun kalah canggih dengan bibir dan mulut bayi yang sudah dirancang oleh Yang Maha Kuasa untuk keperluan itu. Pumping maupun memerah ASI memerlukam keterampilan dan latihan, tidak bisa asal pencet. Nah, dalam kondisi normal, yang “sedikit” itu sudah cukup untuk bayi. Lambung bayi baru lahir, kan, baru seukuran kelereng. Mengutip penjelasan salah seorang dokter laktasi yang pernah saya ikuti seminarnya menjelang kelahiran anak pertama, bayi baru lahir juga bisa dibilang belum tahu rasa lapar. Kalaupun bayi menangis, bisa jadi hal itu disebabkan oleh ketidaknyamannya, keterkejutannya beradaptasi, dari dalam rahim yang tidak terlalu terang dan bising ke dunia yang terang dan ramai. Bukan karena menuntut segera diberi ASI.

Jadi, sebelum melahirkan, mama bisa membaca dulu soal pemberian ASI dari sumber yang tepercaya, supaya bisa menata harapan. Belajar bareng sama suami pun penting, pastikan tenaga kesehatan yang dipilih juga sejalan soal pemberian ASI, IMD, dan seterusnya.

Belajar ASI Sedari Awal

Sejak kontrol kehamilan di tempat yang mama rencanakan menjadi tempat bersalin, mama bisa bertanya pada tenaga kesehatan seperti dokter atau bidan di sana. Mencari testimoni dari mama-mama lain juga bisa dilakukan untuk memperoleh sudut pandang berbeda. Misalnya, apakah ada kebijakan inisiasi menyusu dini atau IMD? Coba pelajari definisi IMD yang sebenarnya, karena masih ada yang menganggap menaruh bayi di dada mama itu sudah termasuk IMD. Padahal harusnya ada proses menemukan dulu, jadi bayi diletakkan di perut kemudian merayap pelan dengan panduan indra penciumannya, bukan langsung ditemplokin di dada. Bagaimana pula kebijakan IMD kalau persalinan harus dilakukan secara SC? Bagaimana SOP di klinik atau RS tersebut tentang pemberian ASI? Katakanlah ada kondisi darurat, apa yang dilakukan? Bolehkah tetap memberikan ASI jika bayi ternyata perlu perawatan dulu di ruangan terpisah? Ini jawabannya bisa tergantung situasi ketika terjadi sih, ya, tapi setidaknya kita ada gambaran.

Barangkali memang rasanya “pamali”, ya. Kita berharapnya kan sehat lancar semua, ngapain nanya risiko yang kalau bisa jangan terjadi? Namun, sebagai bekal, ada baiknya juga lho setidaknya mengetahui hal-hal tersebut. Ajak suami juga kompakan sejak awal. Jika perlu, ambil kelas menyusui berdua, belajar soal tanda bayi lapar, latch on yang pas, posisi yang nyaman, hingga pijat oksitosin untuk memperlancar ASI. Kapan harusnya mulai merespon kalau bayi lapar, jangan tunggu sampai terlalu lapar, bagaimana harusnya bentuknya bibir bayi dan suara yang muncul saat sedang menyusu, karena kalau tidak pas maka pemberian ASI bisa jadi tidak efektif = bayi masih lapar, rewel, bahkan mungkin berat badannya kurang dan kita mengira ASI kita sedikit, padahal bisa diperbaiki dengan lebih cepat merespon tanda bayi lapar dan ganti posisi misalnya.

Baca-baca soal pola, warna, dan tekstur pipis dan pup bayi pun bisa dilakukan. Khususnya untuk sepekan pertama, di mana perubahan pola dan warna BAK dan BAB bayi menjadi salah satu tanda kecukupan ASI. Pahami juga bahwa berat badan bayi baru lahir adakalanya turun dengan batas normal sekian persen di beberapa hari pertama dan harus kembali minimal dalam sekian pekan. Belajar cara baca growth chart bayi juga, karena ini biasanya yang jadi indikator dikatakan ASI kurang.

Topik-topik ini terkesan tidak ada hubungannya dengan ASI lancar, tapi ada, lho. Bisa, sih, dipelajari sambil jalan nanti, atau pasrahkan saja sepenuhnya pada dokter, tapi sepengalaman saya akan lebih baik kalau setidaknya pernah tahu dulu. Enggak menjamin enggak panik, sih, ketika tantangan sungguhan atau problem menyusui datang, tapi kalau sudah pernah tahu, kita bisa saling bantu mengingatkan dengan suami, bisa mulai tanya-tanya ke dokternya dari sekarang, atau mulai mempersiapkan peralatan yang mendukung.

Siap-siap Menyusui, Persiapkan Perintilannya

Saya sendiri termasuk yang sudah heboh sejak bayi belum lahir. Status sebagai ibu bekerja mengharuskan saya belajar serba-serbi pumping ASI. Dari pompa ASI, cooler bag dan ice gel, botol kaca untuk penyimpanan ASIP, sampai apron menyusui telah saya pesan jauh-jauh hari. Saya pun menyewa freezer khusus, karena kulkas di rumah berukuran standar dengan freezer yang berada di bagian dalam.

Seperti yang sudah saya sebutkan tadi, persiapan yang sepertinya sudah matang tidak menjamin ketiadaan tantangan. Tantangan pertama yang saya hadapi adalah puting datar yang menyulitkan bayi untuk latch-on. Alhamdulillah masalah yang ini bisa teratasi dengan bantuan breastpump dan, atas saran perawat bayi di RS, dibantu dengan spuit suntikan (tanpa jarum) untuk membentuk puting sebelum diberikan kepada bayi.

Tantangan Berikutnya: Puting Lecet

Ketika saya melahirkan anak kedua, problem lainnya muncul. Putri kedua saya ternyata memiliki lip tie. Dugaan saya ini baru terkonfirmasi oleh dokter laktasi yang saya ikuti workshop-nya, karena dokter anak saya yang menangani sejak kelahirannya tidak terlalu menaruh perhatian terhadap hal tersebut. Karena kondisinya ini, perlekatan menyusui yang baik baru tercapai dengan posisi tertentu, dan saya pun harus selalu memperbaiki posisi bibir bayi saat menyusu.

Jika perlekatan tidak pas, maka ASI yang terambil bisa tidak optimal, dan pertumbuhan bayi menjadi taruhannya. Produksi ASI pun bisa menurun, karena ASI tidak terperah secara maksimal sehingga masih ada yang tersisa di payudara, akibatnya kapasitas produksi ASI pun diperlambat. Dokter laktasi tidak merekomendasikan operasi, tetapi memang saya jadi harus lebih telaten dalam menyusui.

Bukan hanya itu, tantangan yang jelas-jelas ada di depan mata adalah puting lecet saat menyusui. Rasa sakitnya sungguh tidak terkatakan. Karena bibir dan lidah bayi tidak pas akibat kondisi semacam “tali bibir” di bagian atas bibirnya itu, gesekan yang terjadi pada puting pun lebih keras dan menumbulkan luka. Proses menyusui maupun pumping yang berlangsung berkali-kali setiap harinya membuat luka lecet ini sulit kering. Saya sempat membaca mengenai adanya salep khusus puting yang dikatakan dapat membantu penyembuhan, tetapi saya ragu dengan bahan-bahannya. Ada yang mengharuskan dibersihkan dulu dari puting sebelum menyusui karena ada risiko jika tertelan oleh bayi. Agak merepotkan, bukan?

Alhamdulillah, saat ini telah hadir produk Mama’s Choice Intensive Nipple Cream. Brand Mama’s Choice ini adalah merek yang hadir karena kepedulian akan pilihan produk yang aman, halal, natural, dan bebas toksin khusus untuk ibu hamil dan menyusui di Indonesia. Pastinya, produk-produk Mama’s Choice diformulasikan oleh para pakarnya dan disesuaikan dengan kebutuhan dan kenyamanan para orang tua.

#PilihanAmanMama menjadi janji dari Mama’s Choice untuk memastikan hanya bahan-bahan alami terbaik yang dipakai, juga mengeliminasi bahan toksin yang dapat berbahaya untuk perkembangan janin. Tagline-nya, “Aman dari Hati, Untuk Mama dan Bayi”.

Mama’s Choice juga memiliki produk aman ibu hamil & menyusui lainnya, seperti pasta gigi, mouthwash, stretch mark cream, dan relaxing massage oil (kesukaan saya, dengan wangi lavender dan grapefruit yang segar sekaligus menenangkan). Rangkaian produk selengkapnya bisa dicek di media sosial Instagram Mama’s Choice: https://instagram.com/ mamaschoiceID.

Ada beberapa penyebab puting bisa menjadi lecet, di antaranya karena perlekatan yang tidak pas seperti yang saya alami, atau juga karena digigit oleh bayi, maupun pemakaian breastpump atau pakaian dalam yang tidak tepat. Kalau sudah begitu, puting bisa menjadi kering, lecet, dan pecah-pecah. Mama’s Choice Intensive Nipple Cream memiliki kandungan ekstrak kurma yang secara efektif dapat menenangkan, melembutkan, dan menghidrasi kulit puting bermasalah, baik karena menyusui langsung (atau istilah yang banyak dipakai sekarang adalah DBF – direct breastfeeding) maupun karena pumping.

Ini, nih, nilai plus Mama’s Choice Intensive Nipple Cream:

  • Bahannnya dari ekstrak kurma, minyak kelapa, dan shea butter yang aman untuk Mama menyusui, kaya akan antioksidan, vitamin A,dan vitamin C untuk melembapkan dan mengatasi peradangan pada kulit serta meningkatkan produksi kolagen.
  • Telah mendapatkan status food grade sehingga aman jika tertelan bayi
  • Praktis dipakai, mama tidak perlu membilasnya dulu sebelum menyusui bayi
  • Cocok untuk diaplikasikan pada kulit yang sensitif
  • Hypoallergenic atau tidak menyebabkan alergi, dan telah teruji secara dermatologis
  • Sudah memperoleh sertifikat halal dari MUI (nomor 00150074891115)
  • Bebas dari bahan toksin berbahaya seperti paraben, phthalate, pewangi buatan, maupun alkohol.

Bagaimana cara pakainya? Gampang kok, tinggal tuangkan Mama’s Choice Intensive Nipple Cream secukupnya (pea-size atau seukuran kacang polong) pada tangan yang bersih, lalu oleskan secara merata pada bagian puting yang lecet, perih, kering, atau pecah-pecah hingga meresap. Lakukan setelah menyusui atau kapan pun ketika diperlukan.

Tanpa pewangi buatan, jadi Mama’s Choice Intensive Nipple Cream ini memang tidak berbau yang kuat, ya. Kadang kan ada yang terganggu dengan aroma produk perawatan pribadi seperti ini, bahkan yang wangi sekalipun. Khawatirnya juga kalau ada aroma yang lain dari biasanya, bisa berpengaruh ke minat bayi menyusu. Jadi, pilihan untuk tidak menambahkan pewangi buatan ini menurut saya sangat tepat. Teksturnya lembut, memberi kelembapan sekaligus semacam lapisan perlindungan agar luka pada puting lekas sembuh. Sering, kan, luka yang baru mulai menutup justru berdarah lagi karena langsung bersentuhan dengan bahan bra. Perlindungan dari krim puting yang tepat bisa menolong agar proses penyembuhan berjalan lebih cepat. Tidak ada lagi luka berulang yang sungguh bikin nyeri itu.

Dengan jaminan keamanan begini, tidak ada keraguan lagi, dong, ya, untuk menggunakan Mama’s Choice Intensive Nipple Cream. Kalau perlu beli dua, deh, untuk jaga-jaga di tas peralatan pumping yang dibawa ke kantor maupun di rumah. Mama’s Choice Intensive Nipple Cream yang hadir dalam ukuran 15 ml ini harganya terjangkau, kok. Hanya Rp99.000,00 dan sekarang malah sedang diskon menjadi Rp69.000. harga awal 99.000). Mama juga bisa dapat diskon tambahan, lho. Caranya, masuk ke official store Mama’s Choice di Shopee yaitu https://shopee.co.id/mamaschoiceid. Masukkan produk pilihan ke dalam keranjang, lalu gunakan kode berikut ini:

 MAMALEILE

Diskon yang didapatkan adalah sebesar Rp15.000,00 dengan minimal pembelian Rp150.000,00. Kode ini cuma berlaku sampai tanggal 30 April 2020, yaa…

6 thoughts on “Atasi Problem Menyusui dengan Aman dan Nyaman

  1. Jadi ingat masa menyusui anak saya. Saya juga ga bisa maksimal berikan ASI
    Saat itu blm mengenal produk ini. Kalau sudah ada, pasti jadi solusinya ya

  2. aku juga kemarin pas nengok temen yg habis lahiran dan sedang dalam proses mengASIhi ini mengeluhkan ketidaknyamanan selama menyusui karena putingnya lecet, kasih rekomen Nipple cream dari mama’s choice ini ah

  3. Aku waktu hamil anak pertama, merasa sudah paham dengan serba-serbi ASI. Ternyata pas prakteknya, jedeer langsung shock kok susah banget ya. Ternyata gak sekadar bayi nemplok dan nyusu tapi ada segudang permasalahan lainnya. Mama’s Choice ini berperan untuk mengatasi problem menyusui tersebut ya Mba.

  4. Aku banget drama puting lecet Mbak Lei, huhu nyeri nywri sedaappp. Apalagi pas anak tumgi. Soal ASI yg belum berhasil klaur emang most frequently question yah. Akupun samaa Apalagi anak pertama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s