[Resensi Buku] Bebas Burnout

Judul Buku: Bebas Burnout, Tangguh tanpa Rasa Jenuh
Penulis: dr. Ekachaeryanti Zain, Sp.KJ.
Penerbit: TransMedia Pustaka
Tahun Terbit: 2022
Tebal halaman: 206 +xiv halaman
ISBN: 978-602-7100-90-4

Buku Bebas Burnout

Burnout merupakan istilah kedokteran psikiatri yang juga dikenal dalam dunia psikologi. Sindrom burnout terutama dikenal sebagai suatu gangguan psikologis yang terjadi akibat akumulasi stres jangka panjang yang tidak terkendali, misalnya dalam hal pekerjaan. Orang yang mengalami burnout dapat merasa tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, dan tidak punya harapan, bahkan untuk melakukan hal-hal yang biasanya digemari. Burnout memang bukan termasuk dalam diagnosis gangguan jiwa, tetapi tetap dapat mengganggu kesehatan mental.

Buku ini ditulis oleh dr. Ekachaeryanti Zain, Sp.KJ., dokter spesialis psikiatri peraih beasiswa LPDP yang kini sedang menempuh pendidikan S3 di Jepang. Pengalamannya sebagai psikoterapis memperkaya konten buku ini, terutama dalam bagian Lembar Evaluasi diri dan Latihan Harian pada akhir setiap bab yang dapat diisi oleh pembaca. Dengan demikian, buku ini tak hanya menjadi bacaan bermanfaat, tetapi juga dapat menjadi sarana “healing”.

Terdapat penjelasan menarik atas tantangan sehari-hari khususnya di bidang karier di buku ini. Salah satunya bahwa terkadang burnout terjadi bukan karena tekanan di tempat kerja saja, melainkan akibat pemahaman kita sendiri terhadap manajemen waktu dan energi yang belum tepat. Atau sifat idealis dan perfeksionis yang berlebihan. Buku ini berupaya meluruskan kesalahpahaman tersebut.

Mengenai produktivitas misalnya. Penulis yang juga tercatat sebagai dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Kalimantan Timur ini menjelaskan bahwa produktif berarti mempertahankan laju rata-rata yang stabil dari pekerjaan yang dilakukan, bukan kecepatan maksimum pada segala hal dalam satu waktu tertentu.

Jadi, beristirahat pun merupakan bagian dari produktivitas, karena dengan melakukannya berarti kita juga berikhtiar menjaga kesehatan mental. Bekerja keras dan berkomitmen memang merupakan kualitas yang baik untuk dimiliki, tetapi penting pula untuk membagi waktu antara pekerjaan profesional, keluarga, teman, dan diri sendiri.

Memiliki hobi dan lingkungan lain di luar lingkaran pekerjaan juga menjadi hal-hal yang disarankan dalam buku ini sebagai penyeimbang. Mengambil jeda sejenak dari rutinitas dapat membantu kita untuk kembali bekerja dalam keadaan lebih segar bahkan lebih kreatif, tentunya tanpa meninggalkan tugas dan tanggung jawab.

Disajikan dengan gaya bahasa yang santai sekaligus tetap terstruktur dengan rapi, buku ini bisa pula kita baca sembari mempersiapkan resolusi tahun depan. Harapannya, dengan perencanaan dan persiapan yang matang, “perahu” yang kita gunakan untuk berlayar mengarungi samudera kehidupan tak sampai terbakar sebagaimana divisualkan dalam sampul buku ini.

9 thoughts on “[Resensi Buku] Bebas Burnout

  1. Berarti hampir semua orang bisa mengalami burnout ya mbak? Solusinya harus seimbang antara pekerjaan dan kehidupan di luar pekerjaan ya

  2. Istirahat itu termasuk menjaga kesehatan mental. Asiiik! Jadi ada alasan buat rebahan, heheh. Penulisnya spesialis kejiwaan yah jadi punya banyak pengalaman. Buku ini berarti ga hanya untuk dibaca tetapi ada latihan harian yg bisa dikerjakan. Makasih referensinya, Mbak Leila!

  3. Wah sepertinya saya butuh buku ini deh, biar bisa lebih produktif dalam berkarya. Biar lebih matang juga mempersiapkan setiap rencana agar berjalan lancar ke depannya

  4. Menarik, terutama di bagian, mempertahankan laju produktivitas. Kalau kita sebagai blogger, sederhananya ya bagaimana blog utama kita tetap ada update-nya. Alias tulisan terbaru.
    Tidak selalu mepet dengan batas deadline pekerjaan tertentu, tapi ya bisa juga konsisten memasang tulisan-tulisan organik, berdasarkan rutinitas harian kita.

  5. Bahasan Burnout memang sesuatu karena “acap kali” dirasakan oleh orang².
    Bagus ini bukunya jadi pengingat buat menghindari sekaligus mengenali Burnout

  6. Burnout di dunia parenting itu pas capek banget ngurus anak, apalagi anaknya lagi aktif-aktifnya. Belum lagi harus beberes rumah, masak, nyuci, etc. Beneran burnout, yang kalau ngga segera diatasi, bisa stress deh

  7. menarik ini, Kak. Apalagi buat saya yang masih sering sukar memilah dan memilih waktu antara pekerjaan profesional, keluarga, teman, dan diri sendiri.

Leave a reply to sattiraji Cancel reply