“Naik Mesin Waktu” ke Parade Masa Balai Pustaka

Beberapa waktu yang lalu saya membaca informasi mengenai akan diadakannya kegiatan “Parade Masa” yang diadakan di Gedung PT Balai Pustaka, Matraman, Jakarta Timur. Disebutkan di akun Instagram Balai Pustaka, “Parade Masa” bakal berisi pameran arsip koleksi satu abad Balai Pustaka, bazar buku dengan diskon mencapai 95%, hingga aneka diskusi dan bedah buku.

Tempat yang juga dikenal sebagai Istana Peradaban dengan Kafe Sastranya ini cukup familiar karena berkali-kali dijadikan lokasi kegiatan berbagai komunitas yang saya ikuti sejak sebelum pandemi, antara lain pelatihan public speaking Ibu Profesional Jakarta, workshop blog Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta, Milad ke-22 Forum Lingkar Pena pusat, dan talk show Optimalisasi Peran Ayah Tingkatkan Literasi Keluarga bersama komunitas Puan Daya Karya. Jaraknya pun tak terlalu jauh dari rumah.

Lokasi Parade Masa di Balai Pustaka, Jl. Bunga Matraman

Lokasi Parade Masa di Balai Pustaka, Jalan Bunga, Matraman

Meski terbantu kemudahan akses dan panjangnya waktu kegiatan yang berlangsung sejak tanggal 3 Mei sampai dengan 1 Juni 2025, ternyata saya belum jadi-jadi bisa ke sana sampai lewat pertengahan Mei. Ada saja acara lain pada akhir pekan, ditambah dengan kondisi kesehatan yang sedang kurang bersahabat. Sebuah pengumuman di komunitaslah yang menggerakkan saya ke sana.

Buku-buku klasik di Parade Masa Balai Pustaka

Buku-buku klasik di Parade Masa Balai Pustaka

Tahun ini saya memang bergabung dengan satu lagi komunitas membaca, yaitu Lingkar Baca. Komunitas yang beranggotakan para perempuan penyuka baca ini meramaikan “Parade Masa” dengan diskusi Rekomendasi Buku Sastra Melingkar, tepatnya pada hari Sabtu, 17 Mei 2025. Beberapa teman lama yang saya kenal lewat komunitas lain ikut serta jadi pembicara. Ada juga beberapa bookstagram yang sering saya simak konten-konten bukunya. Tentu saya tak mau melewatkan kesempatan menyimak langsung cerita mereka tentang buku dan membaca.

Salah satu publikasi lama di Parade Masa

Salah satu publikasi lama di Parade Masa

Dan saya tidak menyesal menyempatkan diri ke sana bersama Fahira. Malahan menyesal, kenapa tidak dari kemarin ke sini? Ya, tapi jalannya mungkin memang harus begini. Sebelum diskusi dimulai, kami melihat-lihat pameran arsip koleksi Balai Pustaka. BUMN yang sudah berusia seabad ini punya banyak ragam terbitan, bukan hanya sastra klasik bahkan.

Pameran Parade Masa di Balai Pustaka

Pameran Parade Masa di Balai Pustaka

Ada buku-buku dengan sampul asli terbitan awal yang desainnya klasik memesona. Ada juga mesin tik kuno yang dipajang di dekat pintu masuk kafe. Beranjak ke koridor menuju ruangan bazar buku dan diskusi, ada komunitas yang menawarkan pembuatan puisi kilat, juga tampak sudut berfoto yang fotonya bisa dicetak langsung.

Hasil photo booth di Parade Masa Balai Pustaka

Hasil photo booth di Parade Masa Balai Pustaka

Bazar bukunya sendiri menarik sekali. Ada promo “isi sendiri kantong belanja” (sampai penuh) yang dihargai Rp100.000, lalu ada buku-buku tipis yang harganya tak sampai lima ribu rupiah. Beberapa judul sastra klasik yang terkenal ditaruh di dekat kasir, turun harga dari Rp250.000 menjadi Rp125.000 karena ada sedikit defect. Dalam rangkaian kegiatan “Parade Masa” ini juga dilakukan peluncuran ulang buku Salah Asuhan, jadi ada satu rak sendiri di bagian depan untuk memajang novel karya Abdul Muis ini. Tersedia juga merchandise Parade Masa maupun Balai Pustaka seperti kaus.

Bazar Buku di Parade Masa Balai Pustaka

Bazar Buku di Parade Masa Balai Pustaka

Area gedung yang digunakan untuk kegiatan pun sehari-harinya sudah dihiasi dengan gambar dan kutipan dari para sastrawan Indonesia beserta karyanya. Ditambah dengan koleksi yang dipamerkan khusus dalam rangka “Parade Masa”  beberapa sudut Balai Pustaka seolah menjadi mesin waktu yang membawa berkelana ke masa lalu.

Dalam sesi diskusi, Mbak Echa @readinglistbyecha yang dikenal sebagai bookstagram berbagi tips menyempatkan diri membaca di sela-sela kesibukan sebagai ibu. Tentu jadwal kita padat, tetapi kadang bisa kok diselipkan waktu untuk membaca. Mbak Hany @hanthinkbooks yang konten rekomendasi buku anaknya selalu dinanti, menceritakan bahwa berkat membaca, kosa kata anak jadi makin kaya. Apalagi jika yang diperkenalkan kepada anak adalah buku-buku sastra dengan diksi yang mungkin jarang diketahui.

Mbak Ajeng @ajengferdiana sebagai orang tua sekaligus akademisi sedang meneliti pembiasaan read aloud yang mendukung literasi keluarga. Menurutnya, sastra itu bisa mengasah empati anak, khususnya yang sedang berada pada fase center of attention. Bahkan sastra bisa menjadi coping mechanism bagi anak dalam menghadapi family stressor. Adapun Mbak Audrey @monitaudrey yang merupakan praktisi read aloud setuju anak bisa lebih terlatih empatinya dan banyak kosa katanya lewat membaca. Tentu orang tua harus aktif juga, apalagi sekarang sudah banyak tersedia akses buku bermutu gratis.

Rekomendasi Buku Lingkar Baca di Parade Masa

Rekomendasi Buku Lingkar Baca di Parade Masa

Terakhir, Mbak Nia @niaramlan yang aktif sebagai pendongeng juga suka berbagi koleksi bacaan lewat @pojokbukupippo agar bisa diakses oleh anak-anak lain. Kegemaran mendongeng mengantarkannya mengenal makin banyak buku dengan beragam tema untuk bahan bercerita. Diskusi ini dipandu oleh moderator Kak Jogi @jogihutabarat yang juga adalah pendiri Lingkar Baca, bersama Kak Ayuw @ayuw_san dan pembawa acara Kak Wulan @wulanda_nda.

Kemudian masing-masing-masing narasumber menyebutkan buku yang direkomendasikan (sebagian besar membawanya serta saat diskusi sehingga bisa dilihat langsung). Ini dia rekomendasi mereka.

  1. Mbak Echa: Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) dan Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (Eka Kurniawan)
  2. Mbak Hany: My First Day (Phùng Nguyên Quang dan Huynh Kim Liên) dan Watercress (Andrea Wang, ilustrasi Jason Chin)
  3. Mbak Ajeng: Buku Latihan Tidur (Joko Pinurbo) dan Tuesdays with Morrie (Mitch Albom)
  4. Mbak Audrey: Na Willa (Reda Gaudiamo) dan Seribu Kucing untuk Kakek (Suyadi “Pak Raden”)
  5. Mbak Nia: Rectoverso (Dewi “Dee” Lestari) dan Dru dan Kisah Lima Kerajaan (Clara Ng, ilustrasi Renata Owen)

Tak disangka, ternyata kami kembali lagi ke “Parade Masa” hari Minggu kemarin, pada hari terakhir penyelenggaraannya. Sebabnya, komunitas bermain untuk anak Catara (yang sudah beberapa kali kami ikuti kegiatannya) menggelar acara “Acaraki Cilik” di situ. Seperti tajuknya, dalam acara main bareng selama 2 jam ini anak-anak diajak belajar mengenai rempah-rempah dan meracik jamu sendiri.

Acaraki Cilik Catara di Parade Masa

Acaraki Cilik Catara di Parade Masa

Sambil menemani Fahira yang menjadi peserta, saya pun berkeliling area bazar sekali lagi. Ada beberapa buku yang akhirnya saya angkut untuk melengkapi koleksi. Salah satunya adalah Salah Asuhan yang sebelumnya ragu-ragu saya beli, juga buku Sastra Jawa: Suatu Tinjauan Umum yang semula harganya Rp480.000 menjadi hanya sekitar limapuluh ribu.

Foto di photo booth Parade Masa

Berfoto lagi di photo booth Parade Masa dengan hasil belanjaan

Kalau menengok ke bio akun Instagram Parade Masa, ada penambahan “Vol. 1” di sana beberapa hari terakhir. Apakah ini artinya akan ada volume berikutnya? Menunggu sih kalau memang bakalan digelar lagi, karena ternyata dua kali ke sana kemarin masih agak kurang, hehehe.

 

4 thoughts on ““Naik Mesin Waktu” ke Parade Masa Balai Pustaka

  1. Serasa diajak jalan-jalan ke masa lalu! Dokumentasinya keren dan ceritanya disusun dengan gaya naratif yang memikat. Semoga event semacam ini makin sering diadakan ya, agar sejarah sastra kita tetap hidup!

  2. gak tanggung-tanggung ya mbak, eventnya berlangsung selama sebulan! Pecinta/penikmat sastra bakalan betah banget sih, kalau memungkinkan pun kayaknya bisa datang lebih dari sekali ke sana.

  3. WAH!! Saya ke Parade Masa juga lohhh… Waktu itu ngincer buku Siti Nurbaya, eh malah udah abis. Yaudah deh beli merchandise buku Salah Asuhan, karena itu salah satu buku klasik yang paling aku suka dari sejarah persastraan Indonesia

Leave a comment