Anak Ternyata Perlu Juga Bermain Sendirian

Usia balita (0–5 tahun) sering dikatakan sebagai usia emas anak. Pada usia ini anak berada dalam tahap perkembangan yang sangat penting. Tentu orang tua ingin memberikan yang terbaik untuk mendukung perkembangan anaknya. Apa saja yang bisa dilakukan? Selain menyediakan nutrisi yang tepat, orang tua juga bisa mengajak anak belajar. Belajar ini tak melulu berarti harus dilakukan sambil duduk diam. Bermain pun bisa menjadi salah satu bentuk kegiatan belajar.

Walaupun terlihat sederhana, sebetulnya permainan merupakan cara bagi anak untuk belajar dan mengeksplorasi. Dengan bermain, anak juga mendapatkan kesempatan untuk memahami sekelilingnya dengan cara yang menyenangkan. Dampak positifnya bisa terasa pada perkembangan kognitif, sosial, dan emosional mereka.

Ginsburg (2007) menyatakan bahwa permainan adalah sarana penting yang memungkinkan anak-anak untuk mengembangkan keterampilan kognitif, sosial, dan fisik melalui eksplorasi bebas dalam lingkungan yang aman. Selain itu, melalui permainan, anak-anak dapat mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang dunia sekitar mereka dan berlatih keterampilan yang akan berguna sepanjang hidup.

Fahira bermain congklak

Fahira bermain congklak

Meskipun orang tua sering merasa perlu untuk selalu mendampingi dan mengawasi anak-anak, ada beberapa alasan penting loh untuk memberi anak waktu bermain sendiri.

1. Mendorong kemandirian dan percaya diri

Bermain sendiri memberikan anak kesempatan untuk menjadi lebih mandiri. Ketika anak bermain tanpa bantuan orang tua, mereka menghadapi tantangan yang harus dipecahkan sendiri. Misalnya, jika anak sedang bermain dengan balok atau puzzle, mereka akan mencoba untuk menyusun potongan-potongan tersebut tanpa bantuan orang dewasa. Meskipun mungkin ada kesulitan yang ditemui, hal ini justru membantu mereka belajar untuk menyelesaikan masalah dan mendapatkan rasa lebih percaya diri saat berhasil menuntaskannya.

Teori perkembangan psikososial Erik Erikson, terutama pada tahap Otonomi vs Rasa Malu dan Ragu (usia 1 hingga 3 tahun), menjelaskan bahwa anak-anak yang diberi kesempatan untuk membuat pilihan dan mengatasi tantangan untuk akan mengembangkan rasa kemandirian. Anak akan menjadi lebih berani untuk mengambil risiko. Ketika orang tua selalu ada untuk membantu, anak-anak akan kesulitan untuk mengembangkan keterampilan ini.

2. Meningkatkan kreativitas dan imajinasi

Bermain bebas atau tidak terstruktur memberi anak kesempatan untuk mengembangkan kreativitas. Ketika anak diberi kebebasan untuk memilih permainan sendiri, mereka dapat berkreasi secara imajinatif. Contohnya, anak bisa bermain dokter-dokteran, menjadi karakter dongeng, atau membangun dengan balok. Permainan pura-pura (pretend play) seperti ini merangsang perkembangan imajinasi mereka, yang penting untuk perkembangan kognitif.

Pakar psikologi perkembangan Jean Piaget menjelaskan bahwa pada usia balita anak-anak berada dalam tahap praoperasional (usia 2 hingga 7 tahun), di mana mereka sangat bergantung pada imajinasi dan simbolisme. Bermain bebas memungkinkan anak-anak untuk menjelajahi ide baru melalui eksplorasi mandiri.

3. Mengembangkan kemampuan sosial dan emosional

Sudah banyak yang mengingatkan bahwa anak juga perlu belajar berinteraksi atau bersosialisasi. Bermain dengan teman atau anggota keluarga memaparkan anak-anak pada konsep berbagi, bergantian, dan memahami perasaan orang lain. Namun, bermain sendiri pun punya manfaat untuk kemampuan sosial anak. Salah satunya dengan mengasah kemampuan untuk mengelola perasaan. Jika anak merasa frustrasi atau marah karena permainan yang tidak berjalan sesuai keinginan, ia akan belajar mengatasi perasaan tersebut. Aspek ini merupakan keterampilan penting dalam pengelolaan emosi, yang nantinya juga berguna saat anak berinteraksi dengan orang lain.

Orang tua tetap bisa membantu anak secara bertahap untuk mengasah kemampuan anak ini. Lev Vygotsky, seorang ahli psikologi Rusia, mengemukakan bahwa scaffolding atau dukungan sementara dari orang dewasa sangat penting pada usia dini. Jika anak terlihat sudah mampu mengatasi tantangan sosial emosional, orang tua bisa pelan-pelan menyesuaikan bentuk dukungan yang diberikan.

Fahira dan Fathia bermain sendiri-sendiri

Fahira dan Fathia bermain sendiri-sendiri

4. Meningkatkan kemampuan memecahkan masalah

Bermain sendiri memberi anak kesempatan untuk menghadapi dan memecahkan masalah tanpa bergantung pada orang lain. Misalnya, jika sebuah mainan terlalu sulit atau bahkan rusak, anak akan terpancing mencari cara untuk mengatasinya. Hal ini mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah pada anak.

Dalam konteks teori pembelajaran konstruktivisme oleh Piaget, anak-anak belajar dengan cara membangun pengetahuan melalui pengalaman langsung, termasuk juga membandingkan informasi baru dengan pemahaman yang sudah dimiliki. Dengan diberi kesempatan untuk bermain sendiri, anak-anak dapat merasakan tantangan, belajar untuk mengatasinya, dan menjadikannya bekal untuk masa mendatang.

5. Memberikan waktu bagi orang tua

Memberikan ruang bagi anak untuk bermain sendiri juga memberi kesempatan bagi orang tua untuk beristirahat atau menyelesaikan tugas lain. Meskipun, mungkin tetap ada orang tua yang merasa bersalah atau bahkan merasa dirinya egois, ya. Namun, waktu ini dapat digunakan orang tua untuk melakukan pekerjaan ringan, beristirahat, atau melakukan hobi. Hal ini sangat penting karena orang tua yang sehat secara fisik dan mental justru akan lebih siap dalam mendampingi dan memberikan dukungan kepada anak.

Parental burnout atau kelelahan orang tua juga menunjukkan pentingnya orang tua menyediakan waktu untuk diri sendiri. Memberi anak kesempatan untuk bermain sendiri membantu orang tua untuk menjaga keseimbangan antara mengasuh anak dan merawat diri sendiri.

Tentunya memberikan ruang untuk bermain sendiri bukan berarti membiarkan anak tanpa pengawasan sama sekali. Orang tua tetap perlu memastikan lingkungan bermain anak aman. Misalnya, anak harus bermain di area yang terlindungi dan menggunakan mainan yang sesuai dengan usia. Pengawasan dari jarak jauh dan bersiap memberikan bantuan jika diperlukan bisa dilakukan.

Dalam teori kelekatan atau attachment yang dikemukakan oleh John Bowlby, hubungan yang baik dengan orang tua penting agar anak merasa aman, khususnya pada tahun-tahun pertama kehidupannya. Akan tetapi, anak juga perlu merasakan otonomi dalam lingkungan yang terjaga untuk tumbuh dengan baik. Pengawasan dalam kadar yang bijak memungkinkan anak merasa aman saat bermain sendiri, sekaligus tetap merasa didukung dan dilindungi.

#writober #writober2025 #sendiri #IbuProfesionalJakarta #IbuProfesional

12 thoughts on “Anak Ternyata Perlu Juga Bermain Sendirian

  1. Tulisan ini relatable sekaligus membuka mata bahwa “sendirian” gak selalu berarti sepi, malah bisa jadi ruang bagi anak untuk eksplorasi, refleksi, dan tumbuh secara mandiri. Terima kasih sudah berbagi insight yang simpel tapi powerful!

  2. Benar adanya ya. Anak bermain sendiri kalau kita perhatiin ada yang brisik ada yang cool aja, ini aja udah berkaitan sama personalnya ya. Kita sebagai ortu bisa liatin aja ya sambil istirahat juga jadi me time sesaat kita. Kudu di ketahui semua orang tua yg punya balita nih bahkan juga nenek ya yang kadang jaga cucu.

  3. Jadi keinget kalau anak diem aja saat main sendirian, perlu diwaspadai, masuk kamar sebelah udah mainan bedak, mainan lem dll hahaha.

    Tapi bener ada kalanya anak perlu dibiarkan main sendirian supaya mereka bisa belajar mandiri tipis2 dan belajar memecahkan masalah, tetapi tetep dengan pengawasan ortunya. Kalau zaman sekarang lebih gampang, kita beda ruangan ma bocil bisa pakai CCTV yaa atau dikit2 diintip deh haha.

    Sisi positif buat ortu juga bisa rehat sejenak, menghindari burnout ya mbak.

  4. dari sekian banyak point yang ada, hampir semuanya pernah saya dan istri lakukan buat anak-anak di rumah. Seperti memberikan mereka waktu bermain sendiri. Mendampingi mereka di kala mereka kesulitan tapi sebatas memperhatikan saja. Ini semua penting untuk tumbuh kembang si anak itu sendiri. Kita sebagai orang tua juga disisi mental, tetap terjaga

  5. Insightful banget, Mbak Leila. Kadang orang tua lupa kalau bermain sendirian juga bagian dari proses tumbuh anak. Tulisan ini jadi reminder lembut buat aku untuk lebih menghargai momen ‘me time’ anak.

  6. Aku tertarik dengan istilah  scaffolding atau dukungan sementara dari orang dewasa. Apa maksudnya begini, orang tua enggak harus selalu membantu anak. Saat anak butuh dukungan dalam permainan, misal kesulitan menyusun balok, ya dibantu seperlunya tanpa mengambil alih seluruh permainan. Setelah itu dilepas lagi.

  7. Ternyata memberi anak ruang untuk bermain sendiri nggak cuma diam buat orang tua tenang, tapi juga ruang bagi si kecil untuk tumbuh mandiri, berkreasi, dan percaya diri. Thanks banget sudah mengingatkan kami yang kadang terlalu protektif, Mbak Leila!

  8. ternyata memang penting ya membiarkan anak main sendiri. tapi baca ini aku malah jadi ingat video-video pas anak ditinggal main sendiri dan nggak ada suaranya pas dicek ternyata sudah numpahin tepung atau telur di mana-mana hihi

  9. Insight bagus! Kadang orang tua lupa memberi ruang anak untuk eksplorasi diri. Permainan mandiri itu investasi mental. Selian itu, orang tua sejenak istirahat. Pastikan saja tempat bermainnya aman.

  10. Ternyata permainan ga selamanya buruk ya kak. Kalo tahu manfaatnya dan tahu mainannya apa dan disesuaikan dgn motoriknya, tentu saja bakal positif sesuai yang diceritakan di atas.

    Nggak nyangka loh manfaat bermain bagi anak tuh bejibun banget. Bisa ningkatin percaya diri hingga melatih sosial emosinya. Kalo ortu ga jeli, bisa langsung ikut ngelempar mainan tuh apalagi kalo si kecil nggak beresin mainan setelah bermain.

    Untung aja marahnya ga kayak Mak Damis. Dia gayanya otoriter, persis kayak mak2 kita dulu. Haha. Tapi emg worthed it sih kala itu. Belum tahu kalo diterapin ke anak skrg. Mgkn lgsg nangis bombay tuh anak kalo ga terbiasa. Wkwwk.

  11. waah…ternyata saya pemahamannya keliru yaa…kirain anak kecil itu yaaa selalu wajib ditemani, jangan ditinggalin. Ternyata butuh saat saat sendiri jiga yaaa….makasih kaak artikelnya sudah membuka wawadan saya.

  12. Kalau inget bermain sendiri, rasanya jadi ingat aku jaman kecil. Karena aku anak perem satu-satunya, jadi praktis ga ada temen main.

    Rasanya ga aneh kalo anak suka berkomunikasi sama dirinya sendiri sejak itu yaa..

Leave a reply to Myra Anastasia Cancel reply