Sudah cukup lama saya ingin mengajak anak-anak nonton wayang orang secara langsung. Tujuannya tentu untuk mengenalkan budaya dari daerah asal kami, Jawa Tengah. Sebagai warga kabupaten tetangga Kota Solo, saya tak asing dengan kesenian ini.
Sejak kecil saya juga menikmati cerita-cerita wayang dari buku-buku dan majalah berbahasa Jawa milik alm. Mbah Kakung (bapak dari Mama, kami tinggal di rumah beliau), sampai hafal para tokohnya dan beberapa alur cerita yang terkenal. Mbah Kakung bahkan pernah aktif mendalang walau kecil-kecilan di sela-sela kesibukan sebagai guru Sekolah Rakyat. Beliau pun rajin membuat sendiri wayang dari kardus, yang saya amati prosesnya dengan antusias. Sayangnya, setelah beliau meninggal sewaktu saya SD, koleksi buku, majalah, dan wayangnya tak semua terawat dengan baik.

Gedung Wayang Orang Bharata Tampak Depan
Sebetulnya ada juga Pakdhe, kakak sulung Mama, yang tinggal di rumah yang sama dan cukup rajin merawat rasa cinta terhadap budaya Jawa. Namun, bentuknya sedikit berbeda. Beliau mewujudkan semangat menjaga budaya ini antara lain lewat nonton pertunjukan wayang, baik wayang kulit maupun wayang orang. Bersama alm. Pakdhe inilah saya pertama kali nonton wayang orang di Sriwedari. Saya lupa tepatnya kapan, tapi sepertinya saat saya SD. Pertunjukan yang diadakan hingga larut malam tampaknya menjadi alasan hingga saya cuma dua kali nonton wayang orang di sana.
Waktu berlalu, karena satu dan lain hal saya sama sekali belum pernah nonton wayang orang lagi. Ketika mulai magang di Jakarta, sebetulnya kantor saya dekat dengan Gedung Wayang Orang Bharata di Jalan Kalilio, daerah Senen. Namun, kesibukan kerja membuat saya lagi-lagi belum kesampaian ke situ. Apalagi setelahnya saya sempat bertugas di luar pulau selama beberapa tahun, dan baru kembali ke Jakarta lagi setelah punya anak. Saya sempat mengalami masa-masa enggan pergi lama-lama karena kasihan dengan anak yang sehari-hari sudah ditinggal bekerja, sedangkan mau ajak anak pergi sekalian pun harus lihat-lihat dulu sikonnya.
Sejak sembilan tahun lalu saya kembali berkantor di daerah dekat Pasar Senen, dan jadinya setiap hari melewati Gedung Wayang Orang Bharata lagi dalam perjalanan berangkat maupun pulang. Lama-lama penasaran juga. Apalagi salah satu sepupu saya yang lahir dan besar di Jakarta malah beberapa tahun terakhir selalu menyempatkan diri nonton wayang orang di Sriwedari jika sedang mudik. Ingin ikut sekalian sebenarnya, sayang jadwalnya selalu belum pas.
Kesempatan itu akhirnya datang bulan lalu. Awal bulan, akun Instagram Unit Pengelola Gedung Pertunjukan Seni Budaya Dinas Kebudayaan DKI Jakarta (@gedungpertunjukan) seperti biasanya membagikan jadwal kegiatan bulan itu. Di antaranya ada pertunjukan tari, musik, sampai teater yang diselenggarakan di Gedung Kesenian Jakarta, Gedung Benyamin Suaeb, Gedung Miss Tjitjih, Balai Budaya Condet, sampai Gedung Wayang Orang Bharata. Ketika saya cek, hanya ada satu pertunjukan wayang orang yaitu pada tanggal 22 Agustus. Cerita yang akan diangkat adalah Punakawan Jadi Wanita,
Saya menunggu informasi lebih lanjut diunggah ke media sosial mereka. Kalau mengacu pada penyelenggaraan bulan-bulan sebelumnya, biasanya akan ada poster khusus yang memuat judul cerita, waktu pertunjukan, dan cara pemesanan tiket. Namun, sampai mendekati hari-H, belum ada informasi lagi. Saya pun berinisiatif menghubungi akun Gedung Pertunjukan lewat DM Instagram. Kenapa tidak ke akun paguyuban @wobharata, karena saya lihat akunnya sudah cukup lama tidak ada unggahan baru, jadi saya agak khawatir akun ini tidak aktif.

Denah tempat duduk pertunjukan Wayang Orang Bharata (disesuaikan dengan bantuan Gemini)
Alhamdulillah, dari admin IG Gedung Pertunjukan saya diarahkan untuk mengontak narahubung WO Bharata. Saya pun menghubungi Bu Endang untuk memperoleh informasi lebih lanjut. Dengan ramah Bu Endang menjelaskan alur pemesanan. Untuk pertunjukan kali itu, tiketnya seharga Rp100.000 untuk VIP, Rp75.000 untuk Kelas 1, dan Rp50.000 untuk balkon. Kalau lihat di IG, beberapa pertunjukan sebelumnya juga ada yang gratis. Pertunjukan akan dimulai pukul 20.00. Saat saya tanyakan mengenai kebijakan dokumentasi, Bu Endang menjawab bahwa penonton boleh mengambil foto dan video, tetapi tidak diperkenankan melakukan siaran langsung (live).
Setelah saya transfer ke nomor rekening paguyuban yang diberikan, Bu Endang mengirimkan denah kursi yang masih tersedia untuk saya pilih. Sudah banyak yang terisi ternyata. Sebagai gambaran, denah kursi saya sertakan di atas, dengan editan Gemini untuk menghapus catatan nama secara manual yang sudah ditambahkan (dan jadinya tidak rapi karena nama baris E berulang di sebelah kiri, yang seharusnya F). Alhamdulillah masih ada kursi yang memungkinkan untuk kami duduk bersebelahan. Ya, saya mengajak suami dan anak untuk nonton juga.

Poster Pertunjukan Wayang Orang Bharata
H-1 barulah poster pertunjukannya muncul di IG WO Bharata. Saya membaca sekilas sinopsisnya di situ, walaupun ternyata setelah disimak jalan ceritanya berbeda (mungkin tertukar dengan jalan cerita lain di mana punakawan juga sempat berubah jadi wanita, ya). Di takarir poster ini juga tertera informasi harga tiket dan nomor Bu Endang yang bisa dihubungi untuk pemesanan. Karena sudah tertera di postingan publik jadi saya rasa aman juga ya untuk diinformasikan lewat blog ini. Bu Endang dapat dihubungi melalui nomor WhatsApp 0858-8233-6684.

Relief Wajah Djadoeg Djajakusuma di Gedung Wayang Orang Bharata
Kami tiba sudah mepet dengan waktu dimulainya pertunjukan wayang orang. Lahan parkir di depan gedung sudah penuh oleh motor dan mobil. Saat menunggu teman yang memegang tiket (masih berupa kertas), saya lihat di lobi ada layar yang menampilkan situasi panggung. Ternyata ada pertunjukan tari dulu sebelum cerita dimulai (tidak berhubungan dengan jalan cerita).
Saya sempat menyapa Bu Endang juga. Di bagian lobi terdapat patung ondel-ondel yang bisa jadi mewakili budaya Betawi selaku tuan rumah pengelola gedung. Lalu ada pula relief wajah Djadoeg Djajakusuma, seniman film legendaris yang juga sangat peduli terhadap berbagai kesenian tradisional dan menjadi salah satu pendukung utama dibentuknya Wayang Orang Bharata (sebuah sumber bahkan menyebutnya sebagai salah satu pendiri, tetapi saya belum sempat mengecek ulang informasi ini).
Sebelum masuk, kami diminta meninggalkan makanan dan minuman di meja dekat pintu ruangan pertunjukan, yang nanti bisa diambil lagi setelah selesai atau jika ingin minum di tengah-tengah pertunjukan. Karena lampu tempat duduk sudah dimatikan, ada petugas yang membantu dengan penerangan senter dan mengantar sampai ke baris tempat duduk kami.

Nonton Wayang Orang Bharata
Usai pertunjukan Tari Robyong, cerita pun dimulai. Ada yang berperan sebagai pencerita membuka pertunjukan di panggung untuk membawakan prolog kisah, diiringi oleh gamelan dan sinden secara langsung di bawah panggung. Dialog yang disampaikan hampir seluruhnya berbahasa Jawa. Hanya beberapa adegan yang memakai bahasa Indonesia, khususnya pada adegan humor.
Untuk membantu penonton, di bagian atas panggung ada teks berjalan yang menampilkan ringkasan adegan dalam bahasa Indonesia. Tidak rinci memang. Misalnya adegan Punakawan yang sepanjang itu keterangannya masih memakai dari adegan sebelumnya: “Raden Irawan menelusuri hutan bersama Punakawan untuk mencari keberadaan Raden Arjuna, Abimanyu, dan Priyambada”. Akan tetapi, teks ini lumayan membantu, termasuk untuk lebih mengenali nama-nama tokoh dan lokasi yang sedang ditampilkan, yang kemudian juga mempermudah memahami jalan cerita.

Pertunjukan Wayang Orang Bharata – Permulaan
Secara garis besar, ceritanya adalah tentang Permadi alias Arjuna alias Janaka yang menghilang bersama dua putranya, Abimanyu dan Priyambada, dari Kasatriyan Madukara. Tentu para istrinya bingung dan khawatir. Kakak-kakak Arjuna yaitu Puntadewa/Yudistira dan Werkudara/Bima pun sampai minta petunjuk dari Prabu Kresna, sepupu mereka yang sekaligus kakak ipar Arjuna. Dikirimlah Irawan, putra Arjuna yang lain, untuk mencarinya. Irawan pun menjelajah berbagai wilayah dengan ditemani oleh para punakawan yaitu Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.
Di tempat lain yaitu Kerajaan Goa Barong, tampak pemimpinnya, Prabu Singapudhaksa berkeinginan untuk memperistri Wara Sumbadra, yang sebetulnya sudah menjadi istri Arjuna. Ia mengaku mendapatkan wangsit bahwa dengan pernikahan tersebut kerajaannya akan makin berjaya. Adik-adik Singapudhaksa yaitu Singayudha dan Singapati pun memimpikan menikah dengan Srikandhi dan Larasati, dua istri Arjuna lainnya. Mereka pun sepakat mengerahkan pasukan untuk menyerbu Madukara dan merebut para putri tersebut.
Sebagai penyemarak cerita ada para Punakawan yang tampil menghibur. Tak hanya lucu sebetulnya, tetapi juga kadang menyerempet kritik sosial. Karena bertepatan dengan bulan kemerdekaan, ada muatan semangat kebangsaan melalui cuplikan pidato Bung Karno yang dibawakan oleh Petruk. Saya paling terkesan dengan penampilan tokoh Petruk ini karena dialognya yang panjang-panjang bisa disampaikan dengan rapi, suaranya saat menembang pun bagus.
Para Punakawan juga menyampaikan seruan kepedulian untuk saudara-saudara kita yang terkena bencana. Dalam fragmen Punakawan ini ada beberapa penonton yang maju untuk menyampaikan amplop ke panggung (dioper dari bawah panggung). Semacam saweran alias berisi uang ternyata, dengan beberapa di antaranya juga berisi titipan pesan atau salam serta permintaan. Contoh permintaan dari salah satu penonton adalah penampilan adegan singkat dengan bahasa Banyumasan.
Sebagaimana judul pementasan ini, pada pertengahan cerita, Punakawan khususnya ketiga putra Semar diubah menjadi perempuan oleh Bathara Kamajaya. Sebelumnya, Bathara Kamajaya beserta istrinya, Bathari Kamaratih menyamar sebagai sepasang raksasa yaitu Hargsa dan Hargsi yang mengadang perjalanan Raden Irawan.
Setelah penyamaran itu terbongkar, pasangan Dewa-Dewi Cinta ini memanggil Semar dengan sebutan Rama atau ayah dengan penuh hormat. Di sini saya baru ingat bahwa dalam dunia pewayangan Jawa, Semar sesungguhnya adalah Bathara Ismaya. Bathara Ismaya adalah salah satu dewa yang berkedudukan tinggi, tetapi turun ke bumi sebagai pengayom para ksatria dalam wujud Semar. Bathara Kamajaya adalah salah satu putra dari Bathara Ismaya.

Pentas Wayang Orang Bharata – adegan penculikan
Rupanya Semar-Gareng-Petruk ditugasi untuk mengambil peran sebagai tiga istri Arjuna. Ketika Prabu Singapudhaksa dan pasukannya tiba, mereka menggunakan ajian untuk membuat seisi Keputren tertidur. Wara Sembadra, Srikandhi, dan Larasati “palsu” diculik. Tentu terjadi kehebohan di istana mereka ketika mulai terasa ada yang aneh dari tiga putri yang dibawa pulang, hingga berujung pertempuran.
Singkat cerita, ternyata Prabu Singapudhaksa adalah Arjuna sendiri yang menyamar. Arjuna beralasan bahwa ia sebetulnya hendak melatih ketangguhan kedua putranya yang ia ajak mengembara. Namun, lama-kelamaan ia rindu juga kepada para istrinya, sehingga kembali untuk menjemput mereka.

Pertunjukan Wayang Orang Bharata – Penutupan
Pertunjukan berlangsung selama lebih dari dua jam. Lumayan panjang memang, tapi tidak terasa lama karena jalan ceritanya yang seru. Kapan-kapan kami ingin juga kembali untuk menonton judul lainnya bersama Fathia juga kalau sedang di Jakarta. Sekalian mendukung kelestarian seni budaya bangsa, kan? Nah, kalau ditanya apakah ceritanya aman untuk anak, menurut saya anak kelas 4 SD ke atas sudah bisa menangkap jalan ceritanya dan diajak berdiskusi untuk hal-hal yang membingungkan. Fahira sudah kelas 6 dan cukup antusias menyimak (sekaligus mendokumentasikan) meski tidak terlalu paham bahasa Jawa. Hanya memang di atas pukul 21.30 ia mulai mengantuk.
Wayang Orang Bharata sendiri infonya sudah berdiri sejak 5 Juli 1972. Ketua paguyubannya saat ini adalah Teguh Ampiranto alias Kenthus. Penonton setia tayangan Ketoprak Humor di televisi bertahun-tahun yang lalu mungkin familiar dengan beliau yang dalam acara itu sering tampil sebagai pangeran atau tokoh utama pria. Putri Pak Teguh juga menjadi salah satu generasi penerus bagi paguyuban ini, yang semoga dapat tetap berlanjut di tengah berbagai keterbatasan.
#ISBBudaya

Lahhh mba laela asli Soloraya too ternyata…sekampung halaman kita mbaa..aku juga dari solo dan masih tinggal di solo hehe…
Dulu aku juga inget banget pernah diajak nonton wayang orang di sriwedari mba, entah berapa kali tapi sepertinya tidak sering mungkin karena tayangnya saat malam yaa seperti yang mb laila sebutkan tadi jadi saya jhanya bbrp kali saja kesana
Senangnya sekarang nisa liat WO meskipun di jakarta jadi gak perlu jauh2 kalo kangen pengen liat WO ya mbaa 🙂
Iyaaa, Mbak, kan waktu itu ternyata kita sama-sama ikut jumpa penulis JS Khairen di Gramedia Solo, tapi aku baru nyadar waktu baca blog Mbak hehehe.