Tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP (Think Creative) – Hari 6

 Kemarin (08/11)  saya jadi membawa pulang sedikit pekerjaan kantor, tepatnya proyek yang agak insidental sih. Yang saya pahami selama ini, praktik seperti itu seharusnya sangat dihindari, apalagi kalau sudah punya anak. Namun, mengingat pilihannya adalah saya lembur di kantor dan pulang larut malam atau pulang lebih awal jadi bisa ketemu anak-anak dulu, membersamai mereka walau sejenak, baru melanjutkan pekerjaan, saya memilih pulang dulu. Tentu, hal ini in sya Allah tidak saya jadikan kebiasaan. Mengefektifkan jam kerja adalah hal yang lebih tepat. Tindakan saya pun saya nilai bukanlah kreativitas yang bebas masalah. Ada risiko-risiko di situ. Hari ini saya baca-baca di Nova bahwa jika memang darurat, membawa kerjaan kantor ke rumah ya apa boleh buat, tinggal bagaimana mengatur strateginya. Sejumlah tips dijabarkan di situ, beserta konsekuensinya. Jadi…melakukan suatu hal dengan cara yang berbeda dari biasanya (sebagaimana saya yang jadi ‘bekerja dari rumah’ itu memang kadang perlu trial and error. Persiapan kita bisa saja matang, tetapi ada saja hal-hal mendadak yang bisa menjadi tantangan baru.

 

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP (Think Creative) – Hari 5

 

Jika memang dikatakan bahwa “tidak ada masalah, yang ada adalah tantangan”, sebagaimana disebutkan dalam materi level 9, lalu, bagaimana jika yang dihadapi adalah kondisi sakit? Kemarin (07/11) malam, salah satu anggota keluarga kami menunjukkan gejala sakit. Imbasnya, salah satu anggota keluarga lain ikut merasa tidak nyaman. Fokus saya terbelah antara memberi pertolongan untuk yang sakit dulu ataukah menenangkan yang jadi ikut tidak nyaman. Dari sini saya belajar bahwa yang dinamakan kreatif itu ya pastilah tetap ada pedoman dasarnya. Jadi kalau bertindak sembarangan semaunya tanpa mau mencari tahu yang seharusnya bagaimana, maka tidak bisa dikatakan kreatif. Kreativitas adalah ketika kita sudah tahu tatalaksana yang benar, lalu sewaktu ada yang belum bisa dilakukan sesuai pedoman maka tetap berusaha mencari cara agar setidaknya tujuan dapat terpenuhi atau mendekati ke sana, tanpa harus melanggar pedoman. Saat ada yang diare dan muntah misalnya, harusnya kan kasih oralit, ya. Ketika betul-betul tidak memungkinkan untuk beli dan di rumah juga tidak ada stok, bisa pakai alternatif membuat sendiri larutan gula garam untuk tujuan mencegah dehidrasi, tapi sekali lagi ini sifatnya darurat.

Saat ada yang sakit, saya berupaya tetap mengikuti pakem yang seharusnya. Hanya saja, ternyata ada tantangan tambahan yaitu membagi perhatian, dan untuk kondisi kami kemarin, tidak mungkin untuk mendelegasikannya ke pihak lain lagi. Di sini dibutuhkan kreativitas untuk mengalihkan perhatian yang ‘rewel’ (sebetulnya saya kurang suka istilah ini), sambil tetap memantau kondisi yang sakit dan memberikan pertolongan semaksimal mungkin. Tidak bisa saya jelaskan lebih lanjut apa saja tepatnya yang saya lakukan, tapi intinya sih saya sangat bersyukur bahwa hari ini anggota keluarga yang sakit sudah merasa lebih baik. 

 

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP (Think Creative) – Hari 4

 

Kemarin (06/11) anak-anak masih lanjut berebut boneka kaos kaki yang saya belikan pada Festival Dongeng Internasional Indonesia sehari sebelumnya, juga balon yang kami peroleh dari acara tersebut. Dalam keadaan capek sepulang kantor, kadang pertengkaran seperti itu kian menambah kelelahan saya. Menjaga agar nada suara tidak meninggi adalah PR tersendiri. Tadinya saya menerapkan konsekuensi seperti barang bisa diambil dari anak-anak kalau mereka tidak bisa mempertahankan haknya (kalau mainan itu memang jatah mereka) atau meminta izin dengan baik. Namun perkataan seorang teman menyadarkan saya, kalau diberi sanksi seperti itu, bagaimana dengan konsep kepemilikan yang seharusnya juga dipahami betul oleh anak? 

Yang saya lakukan, pertama adalah mengusir rasa baper. Kedua, menggali lagi materi komunikasi produktif yang menjadi bahan level pertama kelas Bunda Sayang IIP. Iya, sering masih lupa soalnya untuk betul-betul menerapkan teknik ini. Maka, hasilnya juga tidak ‘instan’, masih perlu waktu. Ketiga, doa, tentunya. Mungkin ini ‘tidak kreatif’, tapi saya percaya segala ide dan solusi, atau bahkan jalan lain yang tidak terpikirkan sebelumnya, datangnya adalah dari Allah swt.

Dari sini juga saya belajar bahwa membelikan dua barang yang sama/serupa untuk masing-masing anak bukanlah solusi yang selalu pas. Yang lebih penting adalah mengenalkan konsep berbagi maupun konsep kepemilikan sesuai usia. 

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP (Think Creative) – Hari 3


Kemarin (05/11) kami lanjut menyimak Festival Dongeng Internasional Indonesia 2017 hari kedua. Kali ini saya banyak belajar dari para penampil. Ada yang membawakan dongeng lewat lagu-lagu, musik, menggunakan boneka atau alat bantu lainnya, bahkan mengajak penari. Setelah saya perhatikan, beberapa cerita punya tokoh utama yang sama yaitu naga. Namun masing-masing dongeng, meskipun sama-sama punya tokoh naga, bisa disajikan dengan cara yang berlainan. Ini bisa menjadi contoh kreativitas dalam mengolah cerita.

Sepulang dari acara, anak-anak seru mendongeng dengan cara mereka. Dan hadiah terbaik yang bisa orangtua berikan adalah menyimaknya dengan sepenuh jiwa, bukan dengan fokus yang terbagi. Ada boneka kaos kaki yang saya belikan di acara itu dan saya berikan kepada anak-anak sebagai sarana bercerita, walaupun sebetulnya apa saja bisa dijadikan sarana ya. Dan memang dengan alat bantu yang baru dan menarik, anak-anak jadi tambah bersemangat. Meski demikian, muncul juga tantangan baru, gara-gara salah satu boneka terlihat lebih menarik daripada yang lainnya. Rebutan lah jadinya. Ini juga tantangan baru sih, ya… Perlu kreativitas untuk menanganinya, termasuk dalam menerapkan komunikasi produktif yang menjadi materi pertama Kelas Bunda Sayang IIP.

 

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP (Think Creative) – Hari 2

Kemarin (04/11) kami bersama-sama nonton pertunjukan air mancur menari (Jakarta Fountain) di Monas. Kami benar-benar sampai di lokasi sekitar pukul 20, alias tepat setelah pertunjukan pertama selesai (dari kejauhan masih sempat lihat ujung-ujung show pertama). Jadilah kami harus menunggu 30 menit lagi untuk sesi kedua. Masih alhamdulillah sih kebagian, dan cuaca pun cerah.

Yang sempat saya rasakan menantang adalah bagaimana agar anak-anak tidak merasa bosan. Sayang kami lupa membawa cemilan, jadi butuh pengalih perhatian yang lain. Kalau nonton hp gitu kan gak seru, ya. Mau menggambar juga situasinya kurang memungkinkan. Banyak anak yang berlarian di sekitar undak-undakan tempat kami duduk, sepertinya memang jadi kesibukan yang seru buat anak-anak untuk menghabiskan waktu. Tapi remang-remang begitu, banyak orang dan anak-anak yang lari bikin risiko tertabrak tinggi, ditambah lagi banyak rumput di lokasi yang rawan terinjak (dan harusnya tidak boleh diinjak memang), saya, mama, dan pengasuh anak-anak memilih untuk membatasi aktivitas mereka. Berdiri, jalan-jalan sedikit tak apa.

Maka untuk menjaga mood anak-anak yang ketika masuk hitungan belasan menit terlihat mulai jenuh menanti, saya, atau tepatnya kami, sih, Β mulai bercerita tentang apa saja. Paling banyak tentang aktivitas kami seharian sebelumnya, mulai dari festival dongeng yang kami hadiri sampai show tokoh boneka. Ya, hari yang amat sibuk, memang…. Alhamdulillah kreativitas dalam mencari bahan obrolan, termasuk akhirnya main tebak-tebakan juga, bisa menolong agar anak-anak betah.

 

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Review Kelas Bunda Sayang IIP Sesi #6: Menstimulus Kecerdasan Matematis Logis

Institut Ibu Profesional

Review kelas Bunda Sayang sesi #6

🌐πŸ₯‡πŸŽ— MENSTIMULUS KECERDASAN MATEMATIS LOGIS πŸ”’πŸ₯‡πŸŽ—

πŸ’πŸ’Bunda, setelah kurang lebih selama 1 bulan kita belajar bersama tentang bagaimana menstimulus kecerdasan matematis logis pada diri kita dan anak-anak, maka sekarang kita bisa merasakan bahwa matematika itu bukanlah sesuatu yang jadi momok buat anak-anak.

πŸ”£πŸ”’β™₯ Matematika itu sangat dekat dengan kita. Kalau dulu bahkan sampai saat ini kita merasakan bahwa “matematika” itu adalah pelajaran yang sulit, kemungkinan besar karena kita menjalani proses yang salah. Itulah pentingnya mengapa kita harus mengubah konsep pemahaman kita tentang matematika di Institut Ibu Profesional ini, sehingga anak-anak kita akan selalu bahagia dengan matematika.

Sebagaimana kita tahu, matematika adalah sarana agar anak-anak kita memiliki kemampuan:

a. Berpikir logis
b. Berpikir kritis
c. Memecahkan masalah secara sistematis
d. Melatih ketelitian, kecermatan, dan kesabaran
e. Menarik kesimpulan secara deduktif (menarik kesimpulan berdasarkan pola yang umum. Hal ini akan membiasakan otak kita untuk berpikir secara objektif).

 

Continue reading

Aliran Rasa Tantangan Level 7 (Semua Anak Adalah Bintang)

Untuk tantangan kali ini saya merasa agak rancu dengan beberapa tantangan sebelumnya. Mengamati apa bakat dan potensi anak, membandingkan perkembangannya, menyusun proyek yang sesuai, rasanya sudah pernah dilaksanakan untuk level sebelumnya ataupun kelas matrikulasi. Tapi setelah menjalani hari demi hari, tidak ada pengulangan juga kok ternyata dari apa yang saya laporkan.

Seperti biasa, saya masih menjalankan trik sebelumnya yaitu menyiapkan draft di blog. Ini lumayan membantu, apalagi pada tantangan ini kesibukan kantor lebih padat ketimbang saat mengerjakan dua tantangan sebelumnya. Alhasil saya pun sempat ketiduran sebelum setor di hari keduabelas. Alhamdulillah sudah lewat dari 10 hari sih, tapi jadi gemes karena artinya tidak mungkin dapat badge OP lagi :D. Biarpun mengaku tidak mengejar predikat, tapi kalau tinggal selangkah lagi itu rasanya geregetan ternyata. Apalagi di tantangan kali ini disebutkan bahwa badge OP hanya untuk yang rajin menyetorkan berturut-turut tanpa rapel selama 13 hari.

Kendala saat melaksanakan tantangan ini? Karena inginnya tiap hari pengamatan saya lakukan pada Fathia maupun Fahira, dua-duanya, dan ini agak makan waktu, ya… Jadinya di beberapa hari terakhir saya fokus ke masing-masing anak saja. Satu hari itu ditekankan ke perkembangan Fathia saja atau Fahira saja. Namun jika ada hal menarik seperti si kakak/adik yang ikut menanggapi saat saudaranya melakukan sesuatu dan di situ kelihatan arah minatnya, ya saya masukkan sekalian.

Aliran Rasa Tantangan Level 6 (Menstimulus Matematika Logis pada Anak)

Aliran Rasa Tantangan Level 6 (Menstimulus Matematika Logis pada Anak)

Pada tantangan level 6 ini kembali saya sempat bingung. Kalau untuk tantangan sebelumnya (aliran rasanya bisa dibaca diΒ sini), baca buku kan ‘tinggal baca’, barangnya sudah ada (banyak, malah), kebiasaan sudah ada, tinggal melaporkan saja. Tapi kali ini saya kembali harus lebih kreatif merancang kegiatan. Walaupun katanya bisa lakukan yang simpel-simpel saja, yang memang sedang dikerjakan di rumah seperti sambil memasak, tapi justru di situ kendalanya bagi saya.

Saya sempat mentok di penjumlahan pengurangan saja, paling-paling variasinya perbandingan ukuran. Padahal sudah ada contoh tentang menimbang dan pengelompokan warna tapi rasanya kok ‘masih kurang matematika’ bagi saya, hehehe. Akhirnya ya lebih banyak menerapkan yang sudah disebutkan di materi (utama maupun cemilan). Malah kadang terjebak juga kegiatannya pakai media yang sudah ada seperti (lagi-lagi) video dan buku yang sudah ada instruksinya jelas, yang mungkin kurang konkret jadinya.

Alhamdulillah bisa juga terkumpul 12 hari, sempat kesal sendiri karena hari-hari awal luput dilaporkan karena agenda kegiatan sedang padat dan sampai rumah sudah malam trus ketiduran sambil ngelonin anak-anak. Hari ke-13 juga tidak sempat lapor, jadi mau lanjut bikin laporan hari ke-14 ragu-ragu, takut dihitung dilompati. Ya sudah, yang penting semoga tetap terjaga semangat untuk saya belajar dan mengajak belajar anak-anak logika matematika, dengan berbagai kegiatan yang menyenangkan :).

 

#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath

#MathAroundUs

Tantangan Level 6 (Menstimulus Matematika Logis pada Anak) Hari 12

Tantangan Level 6 (Menstimulus Matematika Logis pada Anak) Hari 12, 3 Agustus 2017

Fathia (5 tahun 10 bulan) dan Fahira (2 tahun 7 bulan) bermain Busy Bag El Hana. Sudah cukup lama disimpan, sih. Fathia memainkan kartu bergambar ulat dengan badan berupa bulatan warna-warni plus kancing berwarna sama yang mengajarkan logika urutan. Ada selang satu ganti warna, ada juga yang dua-dua, ada yang satu-dua. Saya jadi ingat soal-soal dalam psikotes yang sering menyelipkan masalah sekuens.


 Sedangkan Fahira main stik es krim warna-warni yang bisa membentuk beraneka bangun datar mulai dari segitiga, persegi, hingga belah ketupat. Saya mengawasi saja apa yang terbentuk sambil memberikan penjelasan dan gambaran tentang hasilnya.

#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath

#MathAroundUs

Tantangan Level 6 (Menstimulus Matematika Logis pada Anak) Hari 11

Tantangan Level 6 (Menstimulus Matematika Logis pada Anak) Hari 11, 2 Agustus 2017

Fathia (5 tahun 10 bulan) dan Fahira (2 tahun 7 bulan)Β merapikan buku di ruang keluarga bersama ayah mereka. Tumpukannya memang sudah lumayan tidak beraturan. Dari situ mereka belajar tentang mengatur buku-buku Β agar berdiri sejajar, termasuk mengurutkan dari yang tinggi/besar ke yang pendek/kecil. Karena akan ditata dalam dua tumpukan, jadi kalau tidak beraturan dari segi tingginya maka akan kelihatan berantakan.
IMG-20170803-WA0074

#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath

#MathAroundUs