Jangan Remehkan Keluhan Lupa

“Masih muda, kok sudah pelupa?”

Kadang-kadang, celetukan seperti di atas mudah saja terlontar dalam keseharian kita. Entah kita yang mengomentari teman, atau justru kita yang beroleh pertanyaan bernada ledekan tersebut. Meski tampak sepele, kalau yang dilupakan adalah hal-hal yang cukup penting dan terjadi berulang-ulang, kan bisa merepotkan juga. Apalagi jika ternyata upaya-upaya yang dilakukan sendiri untuk memperkuat daya ingat tidak mendapatkan hasil. Kalau sudah begitu, bukan celaan (meskipun sekadar bercanda) yang dibutuhkan, melainkan bantuan dari ahlinya.

Rabu lalu saya mengikuti seminar awam yang diselenggarakan oleh Departemen Neurologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat. Dalam seminar yang bertempat di  RSCM Kencana ini, pembicaranya adalah para dokter konsultan yang merupakan neurolog atau ahli syaraf. Salah satunya Diatri Nari Lastri, Sp.S (K), yang membawakan materi dengan judul yang saya pakai sebagai judul postingan ini. Ya, keluhan lupa memang tidak bisa diremehkan begitu saja.

Lupa apa yang hendak dilakukan, apa yang baru dilakukan, di mana meletakkan barang, juga kesulitan mengingat nama orang atau benda merupakan sejumlah keluhan yang kerapkali terdengar. Bahkan, seseorang yang tingkat lupanya sudah cukup parah bisa mengalami disorientasi waktu maupun tempat. Biasanya, yang mengalami penurunan ingatan adalah mereka yang berusia lanjut. Namun memang pada masa sekarang keluhan ini cenderung bergeser ke kelompok umur yang lebih muda.

Gangguan pada memori bisa juga disebut sebagai salah satu aspek dalam demensia atau pikun. Demensia merupakan sindrom penurunan fungsi intelektual dibanding sebelumnya yang cukup berat. Efeknya, bisa mengganggu aktivitas sosial dan profesional yang tecermin dalam aktivitas hidup keseharian (activity of daily living). Umumnya juga ditemukan gangguan perilaku, tetapi bukan disebabkan oleh delirium maupun gangguan psikiatri mayor.

Selain gangguan memori, gangguan demensia dalam hal lainnya juga masih terkait dengan fungsi kognitif, yaitu dalam berkomunikasi, fokus dalam memperhatikan sesuatu, fungsi menilai aktivitas yang dilakukan, hingga persepsi penglihatan. Demensia cenderung terjadi secara perlahan-lahan dan progresif. Imbasnya, kondisi lupa ini mengganggu aktivitas sehari-hari dan menyebabkan menjadi tidak mandiri.

Angka keterjadian demensia di dunia diproyeksikan terus meningkat. Tahun 2015 saja penyandangnya sudah mencapai angka 46,8 juta orang. Penyebab terbesarnya adalah penyakit Alzheimer. Apa saja gejalanya? Gejala penyakit Alzheimer meliputi:

  • gangguan daya ingat
  • sulit fokus
  • sulit melakukan kegiatan yang familiar
  • disorientasi
  • kesulitan memahami visuospasial
  • gangguan komunikasi
  • menaruh barang tidak pada tempatnya
  • salah membuat keputusan
  • perubahan perilaku dan kepribadian.

Akibatnya, penderitanya cenderung menarik diri dari pergaulan. Untuk mengatasinya, tentu perlu ditelusuri terlebih dahulu oleh yang berkompeten, yaitu dokter spesialis syaraf. Sebab tidak semua gangguan lupa adalah pikun atau gejala penyakit Alzheimer. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, neurologis, maupun neuropsikologis. Jika memang terbukti ada gangguan, maka bisa dilaksanakan pemeriksaan penunjang dan ditindaklanjuti dengan terapi.

Untuk mencegah gangguan lupa menghampiri, dr. Diatri menyarankan agar memelihara kesehatan dengan baik. Lakukan aktivitas fisik yang cukup, atur pola makan dengan baik, jauhi konsumsi alkohol maupun rokok.

Adapun pembicara kedua, Dr. dr. Renindra Ananda Aman, Sp.BS (K) yang merupakan dokter konsultan spesialis bedah syaraf secara lebih khusus menyoroti kondisi Normopressure Hydrocephalus (NPH). Gangguan neurodegeneratif ini sebagian besar masih belum diketahui penyebabnya, tetapi secara umum merupakan penyakit yang progresif pada pasien lanjut usia. NPH yang penyebabnya tidak diketahui ini disebut dengan NPH primer. Selain itu, terdapat NPH sekunder yang biasanya terjadi pada usia yang lebih muda (50-60 tahun), disebabkan antara lain oleh cedera otak, perdarahan otak, infeksi meningitis, tumor atau kista.

Gejala klinis NPH yang cukup mudah dikenali adalah gangguan berjalan (gait disorder) yang membuat lambat melangkah bahkan seringkali berjalan dengan menggeser kaki, gangguan kognitif/pola pikir berupa sering lupa, serta inkontinensia urin alias sering BAK dan kesulitan menahan BAK/mengompol. Diagnosis NPH ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan radioimaging (CT scan atau MRI). Jika terkonfirmasi, maka dilakukanlah terapi pada pasien dengan NPH.

Saat ini terapi untuk NPH berupa diversi cairan serebrospinalis melalui operasi ventriculoperitoneal shunt yang mengalirkan cairan otak dari kepala ke perut menggunakakan selang kecil, atau dengan endoscopic third ventriculostomy (ETV) yaitu menghubungkan ventrikel III dengan ruang subaraknoid. Terapi ini bukan tanpa risiko, karena terkadang ada kejadian infeksi, perdarahan, shunt tersumbat atau selang putus, atau tubuh pasien menolak alat implan.

Terkait suplemen-suplemen yang banyak dipromosikan bisa mempertajam daya ingat, para dokter yang menjadi pemateri sepakat bahwa masih perlu riset jangka panjang terkait bukti keampuhannya. Adapun klaim bahwa pola makan ala Mediterania (khususnya konsumsi ikan dan kacang-kacangan) bisa mencegah demensia, memang sudah ada pendukungnya berupa penelitian. Akan tetapi, untuk demensia yang dikarenakan faktor genetik, ‘bantuan’ ini biasanya hanya bersifat menunda, bukan menghilangkan risiko sama sekali.

Saat ini ada sejumlah gerakan tubuh yang disebut-sebut sebagai senam otak (bahkan F2 juga ikutan semangat menirukan dari video yang diputar oleh suami), apakah memang benar ada manfaatnya? Pertanyaan dari peserta yang hadir ini mendapatkan jawaban bahwa senam otak memang bisa menjadi salah satu cara agar otak tetap aktif bekerja.

“Otak kan harus digunakan, karena sifatnya ‘use it or lose it‘. Jika tidak digunakan, otak mengecil dan kemampuan berpikirnya semakin menurun,” jelas dr. Renindra. Gerakan seperti senam otak memicu cairan neurotransmitter keluar terus dan diproduksi terus, sehingga sel otak terus bereaksi. Bukan hanya senam otak, aktivitas seperti main catur, mengerjakan sudoku, atau ketua Cluster Neuroscience RSCM Kencana ini mencontohkan ibu beliau yang rajin mengaji, bisa merangsang sel otak untuk terus bekerja dan terjaga kemampuannya.

#ODOPOKT16

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s