Jurnal M1M1 BunCek: Merunut Kebahagiaan

Setelah menunggu selama setahun lebih, alhamdulillah tibalah saatnya untuk memasuki tahap berikutnya dalam perkuliahan Institut Ibu Profesional, yaitu Bunda Cekatan. Metode belajar yang digunakan kali ini berbeda lagi dengan yang sebelumnya. Bagi saya memang sedikit rumit, tetapi sepertinya lebih karena memang pekan-pekan ini kegiatan saya sedang cukup padat. Lebih-lebih lagi, pada saat yang bersamaan Ibu Profesional juga sedang berbenah dalam hal sistem dan struktur keorganisasian, jadi kadang saya merasa infonya begitu banyak untuk dikunyah dalam satu waktu.

Sebenarnya, sih, ada pilihan untuk mengikuti Kelas Bunda Cekatan ini atau tidak. Semuanya dipersilakan mengukur sendiri kemampuan masing-masing. Saya merasa sayang saja, sih, kalau kesempatan ini dilewatkan. Apalagi dengan semboyan Merdeka Belajar yang digunakan, bentuk penyetoran tugas tidak terlalu kaku.

Tugas pertama di Kelas Bunda Cekatan ini mirip dengan NHW 7 Kelas Matrikulasi IIP yang lalu. Isian saya pun masih lebih kurang sama, hanya ada sedikit perubahan, karena memang demikianlah yang saya rasakan. Intinya, rasakan pada setiap kegiatan yang kita lakukan… bahagiakah kita?

Setelah berupaya menemukan rasa selama sepekan ini (iya, saya setornya mepet banget di hari terakhir), inilah isian saya…

Tentang kesukaan, saya memang suka membaca dan menulis. Dua hal ini sungguh membuat saya bahagia. Soal menganalisis masih tergantung topiknya, sih, tetapi secara umum begitulah. Saya juga suka menelusuri asal-usul suatu informasi. Sejak zaman milis di Yahoo sampai masanya grup WhatsApp sekarang, saya sering mendapatkan julukan mbah Google atau miss link link, karena saya aktif meneruskan klarifikasi atas hoax yang diedarkan. Gemas, soalnya. Jadi, saya masukkan hal tersebut sebagai sesuatu yang saya suka dan saya bisa.

Saya juga masih sering ikutan berbagai seminar maupun acara sejenis, baik online maupun offline. Dari kegiatan seperti itu saya bisa menambah pengetahuan langsung dari ahlinya, sekaligus memperluas wawasan dengan berinteraksi dengan komunitas yang berbeda-beda.

Sampai saat ini saya masih kurang suka mengobrol panjang secara langsung, berbeda dengan obrolan tertulis. Tentu saja sebenarnya saya bisa, hanya saja saya kurang nyaman.

Tahun ini saya menemukan buku Introvert Doodles yang membuat saya semakin sadar bahwa memang ada orang-orang yang seperti saya, yang kadang bisa ‘tersiksa’ dengan obrolan panjang. Alhamdulillah dengan anak-anak saya masih bisa ngobrol panjang lebar, saya pun masih bisa mendorong diri saya untuk mewawancarai narasumber secara mendalam untuk keperluan penulisan. Pekan lalu saya juga berhasil melewati tantangan berbicara sebagai narasumber untuk Workshop Blogging for Beginner Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta.

Bekerja di bidang keuangan tidak lantas membuat saya piawai mengelola keuangan keluarga. Saya ingin bisa, sebenarnya, tetapi hingga sekarang belum juga menguasai bidang ini. Jadi kalau dibilang bisa, ya, harus bisa, karena terkait dengan kehidupan keluarga, tetapi sebenarnya prosesnya kurang menyenangkan bagi saya.

Terkait mengemudikan kendaraan, sepertinya saya sudah menyerah untuk belajar lagi. Menyanyi juga cukuplah di rumah saja, ketika hanya suami, anak-anak, dan ART saja yang bisa mendengar saat saya bersenandung. Untuk berdandan saya ‘bisa’ jika yang dimaksud hanya memulaskan lipstik, menyapukan bedak, dan sedikit mewarnai (belum sampai tahap membentuk) alis, tetapi untuk lebih dari itu saya belum bisa dan belum terlalu merasakan urgensinya belajar secara intensif (kalau ada kelas gratisan, sih, mau aja, hahaha).

Bisa dilihat dari cara saya memasukkan tulisan dalam template tugas yang sudah disediakan di Jurnal 1 Minggu 1 Kelas Telur-telur Bunda Cekatan ini bahwa kemampuan desain saya tergolong rendah. Hasilnya adalah rancangan yang tabrak sana-sini. Saya ingin bisa mendesain, teman-teman saya di tempat kerja saat ini adalah mereka yang jago banget soal desain visual, bahkan saya sudah diikutsertakan dalam pelatihan singkat oleh kantor. Akan tetapi, sepenangkapan saya, bapak pengajar yang baik banget itu bahkan sampai seperti menyerah mengajari saya. Tampilan blog dan feed IG saya juga masih seadanya banget.

Ah, ya, saya suka menyeterika, tetapi kalau sudah menyeterika saya bisa ‘lupa diri’. Terlalu menikmati seninya meluruskan sesuatu lewat protap yang jelas, sehingga kalau sudah tenggelam dalam kegiatan menyeterika urusan lain bisa terbengkalai. Soal memasak, saya sebetulnya suka, tapi hasilnya lebih sering tidak sesuai harapan. Padahal itu juga sudah mengikuti resep dan tutorial, loh.

 

Dari empat kuadran tersebut, inilah lima hal yang saya suka dan saya bisa, yang menjadi kekuatan saya: Sekilas semuanya masih masuk dalam satu lingkup yang sama, ya. Bisa dibilang seluruhnya ini bisa dirangkum menjadi satu: literasi. Sebenarnya kurang tahu juga apakah dianggap lima hal yang berbeda begini, tetapi menurut saya kelima hal tersebut punya seluk-beluknya sendiri. Setiap ‘telur’ bisa dieksplorasi lebih lanjut, bisa dierami hingga menetas dan membuahkan hasil masing-masing.

 

#JanganLupaBahagia
#JurnalMinggu1
#Materi1
#KelasTelurtelur
#BundaCekatan1
#InstitutIbuProfesional

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s