Jurnal Ulat-ulat 4 Bunda Cekatan: Masih Mengumpulkan Makanan

Pekan ini pembahasan di Keluarga WeBS semakin mendalam. Semakin banyak istilah teknis, tetapi masih cukup mudah dipahami. Blogger senior seperti Mbak Marita dan Mbak Naqiyyah yang baru bergabung dengan baik hati berbagi tutorial langkah demi langkah untuk dapat mencapai tujuan tertentu, seperti mengatur menu tampilan.

Ya, soal tampilan ini ternyata memegang peranan penting dalam mengundang dan mempertahankan pembaca. Tampilan yang ribet dan terlalu meriah akan menurunkan keterbacaan tulisan, juga membuat halaman blog sulit diakses. Kalau kelamaan menunggu halaman yang diinginkan dimuat, bisa-bisa pengunjung keburu pergi, kan? Inilah salah satu hal yang bisa kita lakukan dalam rangka menerapkan SEO.

Saya sendiri termasuk tipe yang pasrah, cenderung membiarkan tampilan apa adanya dari sananya, yang menurut saya juga sudah termasuk mudah diakses. Saya pernah mengecek kecepatan akses ini lewat sebuah website yang menyediakan tool untuk itu, lupa tepatnya seperti apa tapi intinya dibilang sudah lumayan baik. Paling-paling, saya menambahkan hal-hal seperti tab prestasi dan buku karya saya, juga sidebar berisi afiliasi.

Masih terkait tampilan, diskusi kami pun sempat menyebut-nyebut soal AdSense. Saya bercerita bahwa sempat menemukan blog seorang teman yang sebetulnya membahas MPASI, tetapi di situ muncul iklan penyakit kulit ataupun penanganan lemak (kegemukan) dengan foto menjijikkan. Coba, eneg enggak? Saya juga pernah menerima curhat dari seorang teman yang suaminya bersikeras bahwa “kutil” yang ada di badannya adalah sesuatu yang menyeramkan dan harus segera ditindaklanjuti lewat pengobatan alternatif yang ditawarkan oleh iklan yang muncul dari AdSense. Padahal setelah ditelusuri lagi, ciri-ciri “kutil” yang dialaminya ini lebih mirip pada skin tag yang cenderung tidak berbahaya.

Saya menanyakan, apakah yang seperti ini bisa diatur oleh empunya blog untuk mencegah pengunjungnya “kapok?”. Di sisi lain, dengar-dengar, kan iklan itu biasanya mengikuti kebiasaan kita selaku pengunjung, makanya kadang kita disodori produk yang belum lama ini kita lihat-lihat di marketplace misalnya. Saya sendiri merasa tidak pernah mengeklik konten yang bikin mual seperti itu. Namun, saya menduga mungkin kebiasaan saya browsing hal-hal berbau kesehatan yang menjadi penyebabnya, meskipun biasanya saya memilih sumber yang tepercaya untuk itu.

Dugaan saya ini dikonfirmasi oleh Mbak Rahmah. Pemilik blog, sih, tidak akan tahu iklan yang akan muncul seperti apa. Jadi, yaa, kesimpulan saya, risiko ditanggung penumpang, ya. Artinya, kalau memang merasa khawatir akan muncul iklan yang memuakkan atau menyesatkan seperti itu hingga membuat pengunjung enggan mampir lagi, ya tidak usah pasang saja, yang berarti juga kehilangan kesempatan memperoleh penghasilan tambahan.

Soal penghasilan tambahan, kian banyak rezeki yang bisa dipancing lewat penyediaan blog kita untuk postingan berbayar. Di sini Mbak Shanty menyebutkan hal yang menarik bagi saya sehubungan dengan penilaian profesional tidaknya seorang blogger: Profesionalnya itu pakai kamusnya siapa dulu? Kalau tujuannya cari segenggam berlian, mungkin bisa pilih niche informasi apa pun asal dibayar. Kalau yang tujuannya kepakaran, mungkin bisa mematok tema tertentu. Tergantung penilaian profesionalnya gimana.

…yang membuat saya teringat lagi akan keinginan menentukan niche khusus untuk blog ini, tetapi apa daya, masih terlalu banyak keinginan untuk menulis apa saja yang sedang menarik perhatian saya.

Pekan ini mahasiswi Bunda Cekatan diperbolehkan pindah keluarga. Artinya, mau bertahan di keluarga pekan sebelumnya juga boleh, tapi jika mau mencoba “sajian” di keluarga lain juga tidak apa-apa. Bahkan mau belajar di dua keluarga sekaligus juga diperkenankan. Kalau kata Bu Septi, “Boleh kalau tetap mau stay di 2 keluarga, selama tidak merasa riweuh dengan chat dan tsunami informasi yang ada di sana.”

Karena penasaran, saya mampir ke keluarga lain yaitu Manajemen Ibu Bekerja di Ranah Publik yang merupakan cabang dari Keluarga atau Rumah Uluwatu. Namanya keren, ya. Katanya, Uluwatu ini merupakan akronim dari Ulat-ulat Waktu, sesuai dengan topik manajemen waktu yang diambil. Konon rumah besar Uluwatu sangat banyak anggotanya (wajar, ya, karena ini memang ilmu dasar yang perlu dikuasai sebenarnya, sebelum ke ilmu lainnya), hingga akhirnya dibagi-bagi menjadi beberapa paviliun manajemen waktu yang lebih spesifik. Salah satunya ya manajemen waktu untuk ibu bekerja di ranah publik ini. Namun, hingga saat ini aktivitas di grup tersebut baru saling mengenalkan diri sambil berbagi tips singkat ala masing-masing anggota.

#Janganlupabahagia
#Jurnalminggu4
#Materi4
#Kelasulat
#Bundacekatan
#Buncekbatch1
#BuncekIIP
#Institutibuprofesional

3 thoughts on “Jurnal Ulat-ulat 4 Bunda Cekatan: Masih Mengumpulkan Makanan

  1. Iya, terlalu banyak ide di otak kita bahkan sampai membeludak dan akhirnya tak terwujud dalam tulisan, sampai kita gak bisa ngurus ini-ituπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

  2. Pingback: Jurnal Ulat-ulat 5 Bunda Cekatan: Berkemah Bersama | Leila's Blog

Leave a Reply to leilaniwanda Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s