Hadiah Spesial untuk Orang Yang Spesial

Buku Long Distance Love yang terbit tahun 2008

Status yang kami berdua sandang mulai pertengahan tahun lalu mengingatkan saya pada judul sebuah buku: Long Distance Love. Ya, kami tinggal terpisah untuk beberapa waktu ke depan karena suami sedang menjalani tugas belajar di provinsi lain. Menjalani hubungan jarak jauh dengan status sudah punya anak dua ternyata tak sama dengan episode beda kota sebelumnya. Sekitar 9 tahun yang lalu kami juga sempat mendapatkan penugasan di kantor pada pulau yang berbeda, dan pengalaman selama melewatinya menjadi inspirasi saya menyusun sebuah tulisan yang akhirnya dimuat dalam buku antologi Long Distance Love. Ada berbagai kisah kocak sampai mengharukan selama tujuh bulan kami berjauhan sejak usia pernikahan baru hitungan minggu.

Mungkin itu dia salah satu segi positif dari episode yang meskipun mungkin bukan hal aneh lagi apalagi di masa sekarang, tetapi tetaplah bukan kondisi ideal di mata kebanyakan orang, ketika tidak setiap hari bahkan tidak setiap minggu bisa bertemu muka: ada momen-momen unik yang bisa dijadikan tulisan. Bukan berarti semua hal diceritakan secara terbuka ya, tapi ada hal-hal yang bisa dijadikan inspirasi atau digali lebih jauh. Apalagi kota tempat tinggal kami waktu itu, Jakarta, Tanjungpandan (Belitung), dan Pangkalpinang (Bangka), punya kekhasan masing-masing termasuk banyaknya tempat wisata dan kekayaan kuliner. Saya memang suka menulis, dan suami saya tahu betul akan hal itu. Suami memahami ketika saya sedang asyik menulis, meskipun sering juga mengingatkan kalau saya sudah lupa waktu akibat terlalu serius di depan notebook. Dari aktivitas menulis saya selama di sana, beberapa tulisan telah terbit dalam buku-buku antologi.

Continue reading

Kenangan Kalender Abadi

Sepasang muda-mudi menyetop angkot yang saya tumpangi sore itu di Jatinegara. Mereka naik dengan membawa serta sebuah kardus berukuran besar. Meski bisa saja isinya adalah barang kulakan, alat rumah tangga atau yang lain lagi, saya menerawang (ngasal, maksudnya) bahwa yang mereka angkut itu adalah suvenir nikahan. Lokasinya pas, sih (walaupun Pasar Jatinegara juga terkenal sebagai salah satu pusat perdagangan perlengkapan rumah tangga).

Sepuluh tahun yang lalu saya pun berbelanja cendera mata untuk resepsi pernikahan kami di lantai dasar Pasar Mester Jatinegara. Saya memperoleh info tempat penjualan ini dari forum Weddingku yang beralamat di http://discussion.weddingku.com/. Forum ini masih eksis tapi saya tidak berhasil menemukan arsip diskusi yang lama. Melalui Weddingku pula saya mendapatkan gambaran mengenai alternatif souvenir yang bisa dibeli berikut harganya. Pilihan saya jatuh ke kalender abadi, harganya tahun 2006 masih di bawah Rp5.000/pc (lupa persisnya, mungkin Rp3.500 ya). Intinya sih pengin cari tanda mata yang unik sekaligus bermanfaat bagi para tamu, meskipun kalau dipikir-pikir sekarang apa ya ada orang yang masih serajin adik saya di Solo sana mengganti angka kalendernya setiap hari :D.

img_20160630_104312.jpg

Berhubung hasil googling menyiratkan bahwa suvenir yang nyata-nyata menampilkan tulisan nama yang jelas akan kurang terpakai, jadi saya sengaja tidak memesan grafir/tambahan tulisan nama pengantin. Cukup diselipkan saja kertas dengan tulisan itu (pesan sekalian di tempat pembuatan undangan). Agak nyesel sih sekarang, sepertinya kan se-nggak mau-nggak maunya orang juga bakal tetap dipakai ya, minimal sebagai pajangan. karena dalam jumlah besar tentu tidak bisa langsung hari itu juga tersedia ya suvenirnya, jadi saya bolak-balik ke sana, pertama untuk berburu, deal, dan memesan (ditemani adik kelas di kampus), kedua untuk mengambil pesanan (ditemani sepupu). Dulu rasanya Jatinegara itu jauuuh banget dari Bintaro, pakai acara muter-muter pula karena naik kendaraan umum. Pulangnya, karena harus membawa dua kardus besar, saya pilih naik taksi yang ongkosnya juga lumayan (artinya sih memang jauh ya, bukan hanya perasaan saya saja). Eh, sekarang malah lewat pasar itu setiap hari, hahaha.