Rasa Nyaman dan Manajemen Jempolan, Langkah Awal untuk Jadi Apa Pun Yang Dimau

Pekan lalu saya mengikuti kegiatan blogger gathering yang diselenggarakan oleh Lactacyd bekerja sama dengan Female Daily Network di Tanamera Coffee, Kebayoran Baru. Mba Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., atau yang lebih akrab dipanggil Mba Nina, psikolog anak dan keluarga, juga Donita, celebrity mom brand ambassador Lactacyd ikut hadir. Kegiatan ini dilaksanakan bukan hanya untuk memperkenalkan varian terbaru Lactacyd yaitu Lactacyd Herbal dengan ekstrak alami susu, daun sirih, dan mawar. Tetapi juga untuk berbagi ilmu dan pengalaman agar wanita dapat tampil penuh percaya diri dan menjadi apa pun yang ia mau. Because women are special, be everything that you want.

Mba Affi Assegaf (Editorial Director FDN), pak Benyamin Wuisan (Category Head Consumer Healthcare PT Sanofi Indonesia -produsen Lactacyd), dan mba Debi Widiani (Brand Manager Consumer Health Care PT Sanofi Indonesia) menyambut para blogger di awal acara. Di antara topik yang disampaikan mba Affi, pak Benyamin, dan mba Debi dalam pembukaan adalah bahwa sebagai wanita pastinya ingin tampil percaya diri dan siap untuk bertemu dengan siapa saja. Salah satu hal yang menunjang percaya diri adalah kebersihan, termasuk kebersihan area V. Jadi memang perlu perhatian khusus, bukan hanya wajah dan kulit (yang umumnya tampak dari luar) yang butuh dirawat. Dan bukan hanya yang sudah menikah ya yang perlu merawat area V, karena setiap wanita berhak mendapatkan kenyamanan yang merupakan buah dari perawatan yang dilakukan. Lactacyd memahami kebutuhan akan hal tersebut dan menyediakan produk yang sudah teruji keamanan serta khasiatnya.

Continue reading

Idamkan Suami Beri Perhatian, Jangan Hanya Berpangku Tangan

Beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca rubrik konsultasi psikologi di majalah femina. Menurut saya, tanggapan yang disampaikan oleh para pengasuh rubrik atas salah satu pertanyaan yang dimuat pada edisi tersebut cukup menarik. Curhatan serupa yang ditanyakan oleh sang pembaca, sependek pengetahuan saya jika dilontarkan ke tempat lain bisa jadi akan direspon dengan “Iya nih, dasar lelaki!”, atau justru memancing ‘kompor’ untuk berpikir yang tidak-tidak, misalnya keberadaan perempuan lain sebagai latar belakang berubahnya sikap suami. Waktu itu sempat ingin menuliskan soal ini di blog tapi telanjur lupa, baru ingat lagi ketika sedang browsing di website femina dan ada tanya jawab yang menurut saya kasusnya serupa tapi tak sama. Lagi-lagi, jawaban Kak Irma dan Bung Monty, demikian mereka disapa di rubrik tersebut, tetap cenderung ‘ngademin’, tidak mengajak berprasangka lebih jauh, melainkan memotivasi agar istri merasa lebih berdaya dan tidak melulu tergantung pada perhatian suami.

Berikut tanya-jawab yang pertama menarik perhatian saya:

Sebelum menikah, suami selalu memanjakan saya dengan sikapnya yang manis, memberikan hadiah kejutan, dan mengajak saya bertualang ke tempat-tempat menyenangkan. Namun, setelah menikah sikapnya berubah. Ia tetap pria yang baik, tapi jarang bersikap romantis seperti saat pacaran karena sibuk bekerja.

Jess – Tegal

Saran Irma Makarim
Sudahkah Anda membicarakan perubahan sikap tersebut kepada suami Anda? Jika belum, coba ungkapkan harapan Anda secara jujur dan tidak menuntut. Mungkin saja, suami Anda tidak menyadari perubahan sikapnya karena harus bekerja lebih keras atas dasar tanggung jawab pada Anda.
Selalu ada alasan di balik  tiap perubahan sikap. Saat pacaran, sepertinya suami Anda merasa perlu memanjakan Anda untuk mendapatkan cinta Anda. Sikap itu tidak salah, tapi juga tidak dapat dibenarkan sepenuhnya.
Sambil menunggu penjelasan dari suami, lakukan hal-hal yang membuat diri Anda berkembang secara positif. Gali minat dan bakat yang terpendam. Jangan sampai hal tersebut membuat Anda terpuruk. Tunjukkan juga pada suami bahwa Anda tidak bergantung pada perubahan sikapnya.

Saran Monty Satiadarma
Perubahan sikap suami tentu menimbulkan pertanyaan. Akan tetapi, Anda juga jangan membiarkan diri  terlalu mudah dimanjakan dengan sikap manis dan mengharapkan sesuatu yang tidak pasti. Sebaiknya Anda cari tahu kondisi suami yang sebenarnya. Coba cari waktu yang nyaman untuk berbincang dan tanyakan kondisi suami, tanpa terkesan menuntut.
Rasa gundah Anda bisa saja muncul karena belum memiliki kegiatan yang memberi makna bagi diri Anda sendiri ketika suami sibuk bekerja. Jika saat ini Anda belum bekerja di bawah institusi tertentu, cobalah untuk bergabung dengan komunitas atau kursus yang sesuai dengan minat Anda. Dengan begitu, Anda dapat memperoleh keterampilan baru dan juga lingkungan pergaulan baru.
Keterampilan dan lingkungan pergaulan baru juga bisa Anda gunakan untuk memberi dampak positif bagi orang di sekitar Anda. Selain itu, Anda juga bisa menggunakan wawasan baru tersebut untuk menyegarkan bahan pembicaraan Anda dengan suami.

http://www.femina.co.id/sex-relationship/suami-tak-seperti-dulu-lagi

Continue reading

Hadiah Spesial untuk Orang Yang Spesial

Buku Long Distance Love yang terbit tahun 2008

Status yang kami berdua sandang mulai pertengahan tahun lalu mengingatkan saya pada judul sebuah buku: Long Distance Love. Ya, kami tinggal terpisah untuk beberapa waktu ke depan karena suami sedang menjalani tugas belajar di provinsi lain. Menjalani hubungan jarak jauh dengan status sudah punya anak dua ternyata tak sama dengan episode beda kota sebelumnya. Sekitar 9 tahun yang lalu kami juga sempat mendapatkan penugasan di kantor pada pulau yang berbeda, dan pengalaman selama melewatinya menjadi inspirasi saya menyusun sebuah tulisan yang akhirnya dimuat dalam buku antologi Long Distance Love. Ada berbagai kisah kocak sampai mengharukan selama tujuh bulan kami berjauhan sejak usia pernikahan baru hitungan minggu.

Mungkin itu dia salah satu segi positif dari episode yang meskipun mungkin bukan hal aneh lagi apalagi di masa sekarang, tetapi tetaplah bukan kondisi ideal di mata kebanyakan orang, ketika tidak setiap hari bahkan tidak setiap minggu bisa bertemu muka: ada momen-momen unik yang bisa dijadikan tulisan. Bukan berarti semua hal diceritakan secara terbuka ya, tapi ada hal-hal yang bisa dijadikan inspirasi atau digali lebih jauh. Apalagi kota tempat tinggal kami waktu itu, Jakarta, Tanjungpandan (Belitung), dan Pangkalpinang (Bangka), punya kekhasan masing-masing termasuk banyaknya tempat wisata dan kekayaan kuliner. Saya memang suka menulis, dan suami saya tahu betul akan hal itu. Suami memahami ketika saya sedang asyik menulis, meskipun sering juga mengingatkan kalau saya sudah lupa waktu akibat terlalu serius di depan notebook. Dari aktivitas menulis saya selama di sana, beberapa tulisan telah terbit dalam buku-buku antologi.

Continue reading

Cemilan Rabu Kelas Bunda Sayang IIP: Membangun dan Mendidik Kemandirian pada Anak

🍯🧀Cemilan Rabu #1🧀🍯
Materi 2: Melatih Kemandirian Anak
Membangun dan Mendidik Kemandirian pada Anak
Membangun dan mendidik kemandirian anak bukanlah pekerjaan yang mudah, terutama melatih anak mandiri ketika masih di usia dini. Secara alamiah anak sebenarnya cenderung untuk belajar memiliki kemandirian. “Yes, I can!” Kata-kata ajaib ini merupakan sinyal dari kesadaran seorang anak terhadap diri dan kemampuannya sendiri untuk menentukan dirinya.
Orangtua yang bijaksana memanfaatkan keinginan akan kemandirian ini dengan membiarkan anak-anak mereka mempraktikkan keterampilan mereka yang baru muncul sesering mungkin pada lingkungan yang aman atau ramah anak. Dukungan orangtua yang seperti ini memang sangat dibutuhkan anak agar dapat melakukan berbagai hal secara mandiri, termasuk aktivitas yang masih relatif sulit.
Namun realita yang ada, orangtua terkadang merasa tidak tega, tidak bersabar, khawatir yang lahir karena bentuk rasa sayang yang berlebihan kepada anak. Inilah salah satu penyebab dari kegagalan anak dalam proses kemandiriannya. Oleh karena itu, oran tua perlu memperbaiki sikap mental agar tidak mudah khawatir dengan anak.
Faktor lingkungan juga terkadang ikut andil dalam kegagalan proses kemandirian anak. Dorongan negatif dari lingkungan sekitar yang terkadang menganggap apa yang orangtua lakukan untuk melatih kemandirian anaknya sebagai bentuk eksploitasi. Padahal yang paling terpenting dan utama dalam membangun dan mendidik kemandirian anak adalah ketika anak merasa senang dalam melakukan aktivitas kemandiriannya tanpa ada rasa takut ataupun karena ada rasa tekanan dari luar.
Perlu diketahui bahwa kemandirian anak usia dini berbeda dengan kemandirian remaja ataupun orang dewasa. Jika pengertian mandiri untuk remaja dan orang dewasa adalah kemampuan seseorang untuk bertanggung jawab atas apa yang dilakukan tanpa membebani orang lain, sedangkan untuk anak usia dini adalah kemampuan yang disesuaikan perkembangan usianya.
Adapun jenis kemandirian anak yang perlu dibangun adalah sebagai berikut:
1. Kemandirian dalam Keterampilan Hidup
Prinsip pokok menumbuhkan kemandirian dalam keterampilan hidup adalah memberi kesempatan, bukan melatih. Anak secara alamiah memang cenderung berusaha belajar melakukan berbagai keterampilan hidup sehari-hari secara mandiri, semisal makan, mengenakan baju sendiri, mandiri sendiri, dsb.
Jika kita mengizinkan anak melakukan berbagai aktivitas hidup sehari-hari tersebut secara mandiri, lambat laun ia akan terampil. Yang kita perlukan hanyalah kesediaan mendampingi sehingga anak tidak melakukan terlalu banyak kesalahan, meskipun kita tetap harus menyadari bahwa untuk mencapai keterampilan perlu latihan yang banyak dengan berbagai kesalahannya.
Kemandirian itu akan lebih meningkat kualitasnya jika orangtua secara sengaja memberi rangsangan kepada anak berupa tantangan untuk mengerjakan yang lebih rumit dan sulit. Ini bukan saja melatih kemandirian dalam urusan keterampilan hidup sehari-hari, melainkan juga menumbuhkan kemandirian secara emosional.

Continue reading

Ulasan Komunikasi Produktif

Review Tantangan 10 Hari Materi Bunda Sayang #1 Institut Ibu Profesional

KOMUNIKASI PRODUKTIF

Pertama, kami ucapkan selamat kepada teman-teman yang telah melampaui tantangan 10 hari dalam berkomunikasi produktif. Dinamika yang terpancar dalam tantangan 10 hari ini sungguh beragam. Mulai dari memperbincangkan hal teknis sampai dengan tantangan nyata komunikasi kita dengan diri sendiri, dengan pasangan, dan dengan anak-anak. Mungkin beberapa di antara kita tidak menyadari pola komunikasi yang terjadi selama ini. Tetapi setelah mengamati dan menuliskannya selama 10 hari berturut-turut dengan sadar, baru kita paham di mana titik permasalahan inti dari pola komunikasi keluarga kita.

KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI
Dari Tantangan 10 Hari sebenarnya kita bisa melihat pola komunikasi dengan diri kita sendiri, bagaimana kita memaknai kalimat di atas. Limit yang kita tentukan bersama di tantangan ini adalah 10 hari, maka kita bisa melihat masuk kategori tahap manakah diri kita:
a. Tahap Anomi: Apabila diri kita belum memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, belum mulai menulis tantangan 10 hari satu pun, karena mungkin belum memahami makna dari sebuah konsistensi.
b. Tahap Heteronomi: Apabila diri kita sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, tapi belum konsisten. Kadang menuliskannya, kadang juga tidak. Hal ini karena dipicu oleh pemahaman dan mendapatkan penguatan dari lingkungan terdekat yang membentuk opini dan persepsi sendiri.
c. Tahap Sosionomi: Apabila diri kita sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, dan sudah mulai konsisten. Menjalankan tantangan tepat 10 hari. Hal ini karena dipicu sebuah kesadaran dan mendapat penguatan dari lingkungan terdekat.
d. Tahap Autonomi: Apabila diri kita terus menerus memperlihatkan perilaku yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten, tidak hanya berhenti pada tantangan 10 hari, terus melanjutkannya meski tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang menilai. Berkomunikasi produktif sudah menjadi budaya dalam kehidupan kita.

Continue reading