Judul: Highly Unlikely
Penulis: Aghnia Sofyan
Penerbit: POP (Imprint Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan pertama, Mei 2024
Jumlah halaman: 250 + v
Saran usia pembaca: 13+


Judul: Highly Unlikely
Penulis: Aghnia Sofyan
Penerbit: POP (Imprint Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan pertama, Mei 2024
Jumlah halaman: 250 + v
Saran usia pembaca: 13+

Judul buku: Kamu Tidak Istimewa
Penulis: Natasha Rizky
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan Kedua, Februari 2024
Tebal: 104 halaman + xi
ISBN: 9786230055874

“Ih, judulnya kok gitu?” Fahira mengerutkan kening saat melihat saya mengeluarkan buku ini dari kemasan paket. Memang, jika dibandingkan dengan buku-buku apalagi yang bergenre motivasi, judul buku ini seolah malah mendemotivasi. Alih-alih menyemangati bahwa kita juga istimewa dan layak dihargai, justru belum-belum sudah langsung mengantarkan kita ke realita.
Judul Buku: Catatan Pinggir 15
Penulis: Goenawan Mohamad
Penerbit: Tempo Publishing
Tahun Terbit: 2023
Tebal halaman: 502 +xviii halaman
ISBN: 978-623-05-4044-8
Goenawan Mohamad dikenal akan tulisan-tulisannya yang tajam sekaligus reflektif. Pendiri sekaligus pimpinan redaksi pertama majalah Tempo ini kerap mengulas berbagai peristiwa dengan membawa serta aneka referensi untuk memperkuat argumennya.

Judul Buku: Bebas Burnout, Tangguh tanpa Rasa Jenuh
Penulis: dr. Ekachaeryanti Zain, Sp.KJ.
Penerbit: TransMedia Pustaka
Tahun Terbit: 2022
Tebal halaman: 206 +xiv halaman
ISBN: 978-602-7100-90-4

Buku Bebas Burnout
Burnout merupakan istilah kedokteran psikiatri yang juga dikenal dalam dunia psikologi. Sindrom burnout terutama dikenal sebagai suatu gangguan psikologis yang terjadi akibat akumulasi stres jangka panjang yang tidak terkendali, misalnya dalam hal pekerjaan. Orang yang mengalami burnout dapat merasa tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, dan tidak punya harapan, bahkan untuk melakukan hal-hal yang biasanya digemari. Burnout memang bukan termasuk dalam diagnosis gangguan jiwa, tetapi tetap dapat mengganggu kesehatan mental. Continue reading
Meskipun anak-anak sudah beranjak besar, tetapi saya masih sering membelikan board book untuk mereka. Apalagi kalau temanya menarik untuk dibahas (dan kadang-kadang sesederhana karena ilustrasinya menarik). Namun memang lama-lama saya agak pilih-pilih. Bagaimana pun, harga buku yang bahannya tebal seperti ini cenderung lebih mahal. Ruangan kami di rumah pun terbatas, Jadi tetap harus ada prioritas.

Buku Tentang Anak
Saat muncul berita bahwa ada board book baru dengan tajuk seri Sikap Baik yang diluncurkan pada Desember 2020, saya juga masih pikir-pikir dulu untuk membeli. Temanya sekilas sudah sering diangkat, yaitu tentang kata-kata ajaib. Namun, suasana pandemi memang membuat saya jadi memerlukan amunisi bacaan yang lebih banyak untuk anak-anak yang jadi tidak bisa pergi ke mana-mana. Apalagi saya membaca bahwa buku dari Tentang Anak ini diramu oleh dokter spesialis anak dan pakar lainnya seperti psikolog anak, penggiat Montessori, praktisi anak usia dini, dan penulis buku anak.
Ada anak bertanya pada bapaknya,
“Buat apa berlapar-lapar puasa?”
Ada anak bertanya pada bapaknya,
“Tadarus tarawih apalah gunanya?”
Penggalan lagu Bimbo di atas rasanya sudah akrab di telinga kita, generasi X dan Y. Dulu, mungkin penjelasan seperti lanjutan syair lagunya sudah cukup bagi anak-anak pada zamannya: lapar mengajarmu rendah hati selalu. Tadarus artinya memahami kitab suci. Tarawih mendekatkan diri pada Ilahi.
Namun, generasi berikutnya bisa jadi tidak akan puas dengan jawaban seperti itu. Generasi Z dan Alpha, sesuai karakter mereka yang sedikit banyak juga dibentuk oleh orang tua yang “tidak ingin anak merasakan keadaan serba-terbatas seperti dirinya dulu”, akan dengan berani menuntut penjelasan lebih lanjut.
Keberanian semacam ini, dulu atas nama penghormatan dan rasa segan, hanya akan diekspresikan oleh segelintir anak. Sekarang, anak-anak cenderung lebih bebas berinteraksi karena sebagian orang tua berupaya menghilangkan sekat masa lalu yang mengekang. Hal ini, didukung dengan makin majunya teknologi, berdampak pula pada kebebasan anak-anak dalam berekspresi. Itu pun masih syukur kalau anak mau bertanya ke orang tua atau pihak yang kompeten. Bagaimana kalau mereka nekat mencari tahu sendiri di belantara informasi?


Buku Mi Familia
Tantangan terakhir Writober tahun ini kembali bikin geleng-geleng kepala. Jika “jenggala” setidaknya membangkitkan memori akan pelajaran sejarah dan legenda yang pernah dibaca, kata “derana” sama sekali belum pernah saya baca. Tentunya rujukan pertama saya adalah KBBI. Di situ tertera bahwa derana adalah kata sifat yang berarti tahan dan tabah menderita sesuatu (tidak lekas patah hati, putus asa, dan sebagainya).

Ada tanda “ark” di situ, jadi kata ini memang dianggap arkais atau kuno, alias tidak lazim dipakai lagi. Mungkin maknanya mirip dengan kata resilien yang diterjemahkan dari kata dalam bahasa Inggris resilient, ya. “Resilien” sendiri sampai kini belum masuk juga dalam KBBI meskipun lumayan sering saya baca di sana-sini, terlebih ketika sudah membahas ketangguhan dalam menghadapi dampak pandemi. Jadi, saya malah lebih familiar dengan resilien daripada derana. Namun, saat mencoba mencari inspirasi soal kata derana, saya menemukan bahwa ternyata cukup banyak novel yang menggunakan kata derana sebagai judul.
Waktu pindahan tahun lalu, barang yang paling memakan tempat ketika diangkut ke rumah baru ataupun dikirimkan ke rumah orang tua di Solo (ceritanya titip karena rumah baru kami cukup mungil) adalah buku. Ada sekitar selusin kardus besar yang mayoritas memuat buku-buku koleksi saya dan anak-anak. Bagaimana, ya, bahkan di era serbadigital seperti sekarang, buku cetak punya pesonanya sendiri.
Memang, sih, buku digital atau e-book itu sangat praktis dan tidak makan tempat. Seorang teman yang dalam dua tahun ini pindah tugas dari Australia ke Makassar lanjut ke Jakarta (di sini pun sempat pindah dari kos ke apartemen ke rumah dinas) lalu ke Ambon, bercerita bahwa ia akhirnya menyerah membeli buku cetak dan beralih sepenuhnya ke e-book. Andalannya adalah perpustakaan digital milik salah satu penerbit terkemuka. Jadi jika ternyata harus pindahan lagi, bawaannya bisa terkurangi secara signifikan. Di ponsel saya sendiri, aplikasi ini pun ada, di samping Let’s Read dan tentunya Google Play Books. Selain membeli, saya juga memasang aplikasi peminjaman buku digital gratis seperti iPusnas dan iJakarta.

Buku antologi atau kumpulan cerita, khususnya yang ditulis oleh sejumlah penulis berbeda, menawarkan berbagai sudut pandang yang bermacam-macam pula terhadap suatu topik. Buku dengan konsep seperti ini pun dapat menjadi sarana latihan menulis bagi penulis pemula maupun mengasah keterampilan bagi penulis yang sudah lebih lama berkecimpung di dunia literasi. Sadar akan hal ini, Emmy Herlina, Manajer Nubar Rumedia Area Sumatera, menginisiasi event Nubar spesial Sumatera Ada Cinta di Setiap Aksara dan Mi Familia tahun lalu.

Mbak Emmy Herlina
“Bulan Oktober tahun 2020 saya membuat event Ada Cinta di Tiap Aksara untuk memperingati milad Pak Ilham (founder Rumedia), juga Mi Familia memperingati Milad Area Sumatera. Saya menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan cinta, jadi garis besar tema event saya biasanya tentang cinta. Kali ini saya ingin membuat buku yang menceritakan proses menjadi penulis, jadi (temanya) cinta literasi,” urai Emmy dalam acara bedah buku untuk kedua judul tersebut yang diselenggarakan secara daring, Senin (9/08).