Gendongan Hybrid, Apa Itu?

Hari ini di grup whatsapp Jakarta Babywearers ada pembahasan singkat tentang jenis-jenis gendongan. Diawali dengan dikirimnya gambar berisi informasi dari AE Babywearers (komunitas lokal menggendong di Madiun dan sekitarnya), lalu pada tanya-tanya tentang easy wrap, hybrid wrap, dan stretchy wrap itu lebih jelasnya seperti apa, apakah bahannya sama atau berbeda. Berhubung saya kadang baca-baca soal ini, maka jadilah saya urun rembuk, walaupun siapalah saya ini, ya *tutup muka*, ambil sertifikasi edukator atau konsultan menggendong saja tidak, hiks. Tapi tertarik aja, sih, mengemukakan apa yang saya pernah baca.

Jadi, bahas soal stretchy wrap dulu, nih. Kalau woven wrap (WW) sesuai namanya dibuat dengan cara di-weave alias ditenun dan kainnya cenderung lebih kokoh (tergantung gsm-nya, tapi bisa luwes juga, khususnya kalau sudah sering dipakai), stretchy wrap (SW) seperti namanya lebih lentur atau melar. WW biasanya diproduksi dalam berbagai ukuran dengan penomoran sebagai pembedanya. Size WW apa yang hendak dipakai bisa disesuaikan dengan ukuran tubuh penggendong maupun yang digendong serta variasi teknik gendongan apa yang akan dipakai. Sedangkan SW hanya satu ukuran.

Continue reading

Update Ilmu Gendong-menggendong Bersama IBW

Urusan gendong anak sepengamatan saya merupakan salah satu hal yang banyak ditanyakan di grup parenting. Lewat pertanyaan-pertanyaan tersebut, dulu, saya jadi mengenal istilah seperti pekeh (“Bun, bayi boleh mulai dipekeh gendongnya umur berapa, ya?”).

Meski konon katanya istilah dalam bahasa Jawa, tapi saya yang lahir dan besar di Jawa Tengah dengan keluarga asli Jawa pula, baru tahu istilah tersebut setelah anak pertama saya menjelang setahun. Rupanya, itu sebutan untuk posisi menggendong di mana kedua kaki anak seperti ‘dibuka’, alias tidak disatukan atau ditangkupkan dekat-dekat. Kedua kaki tersebut bisa dipisahkan oleh badan penggendong (misalnya untuk posisi gendong samping) maupun oleh alat atau kain penggendong.

Belakangan sebuah artikel di website The Urban Mama, lebih tepatnya salah satu komentar di situ, menyadarkan saya bahwa gendong-menggendong ini bukan perkara sepele. Salah-salah, tubuh anak berisiko mengalami gangguan. Artikel yang dirujuk dalam komentar adalah tulisan dalam situs babywearingadvice, http://www.babywearingadvice.co.uk/anatomy.htm. Saya jadi tahu bahwa seharusnya bayi diposisikan sedemikian sehingga kakinya membentuk huruf M.

Posisi ini, dengan kedua lutut setidaknya setinggi pantat bayi, tidak akan tercapai jika bagian bawah gendongan (yang biasanya bermodel mirip ransel depan) terlampau sempit. Posisi ini memang tampak serem bagi yang belum terbiasa, tapi ternyata itulah yang benar. Toh tidak terlalu ngangkang juga kok, jika overspread juga tidak tepat. Ikuti saja posisi kaki alami bayi, seperti foto dari Sheffield Sling Surgery berikut (ada juga yang menyarankan coba angkat bayi mungil dengan bertumpu di ketiak, biasanya kakinya akan membentuk posisi alami mirip ini dan segitulah lebar yang disarankan):

Continue reading