Tanggal 26 yang lalu, saya mengikuti sesi sharing Pojok Ilmu Ceria (PIC) dengan topik “Bagaimana Menerima dan Mengelola Inner Child dalam Diri Ibu?” Inner child seingat saya sudah beberapa kali diangkat sebagai tema kulwap yang saya ikuti atau baca resume-nya, tetapi melihat pendekatan yang tidak selalu sama persis antarpembicara (karena memang penyajinya sejauh ini berbeda-beda) membuat saya tetap tertarik menyimak. Pertanyaan dari para peserta biasanya juga bisa menjadi sumber pembelajaran. Apalagi kali ini peserta juga bisa mengirimkan tulisan tangan untuk dianalisis. Narasumber dalam kegiatan hari itu adalah teh Gina Shabira Permana, SST, CHt, CI, CBHA., ibu satu anak, bidan, praktisi hypnobirthing, terapis, dan grafolog atau analis kepribadian dari tulisan tangan dengan pengalaman di bidang terapi sekitar tujuh tahun menangani kasus khusus perempuan, dan berdomisili di Arcamanik, Bandung.
Sebagai pengantar, peserta diminta menyimak materi terlebih dahulu.
Inner Child πΆπ§ adalah sosok anak kecil yang berada di dalam diri kita (Ego Personality). Inner child ada yang baik dan ada juga yang memang negatif atau trauma. Inner child dalam diri kita sebetulnya bisa bertumbuh dewasa sesuai usia dan pengalaman yang kita hadapi, hanya kadangkala ketika inner child negatif yang muncul dan sangat memberikan trauma butuh kesadaran penuh untuk mengenalinya dan kemudian berdamai.
Dalam pernikahan biasanya inner child muncul di satu tahun pertama, sosok kecil suami atau istri tanpa disadari muncul dengan perwujudan seperti:
π Istri yang semasa kecil jarang dibersamai oleh orang tuanya dan merasa kesepian sering menginginkan suaminya selalu ada di dekatnya, marah ketika suami memberikan perhatian pada keluarganya, dan ingin perhatian suami hanya kepada istrinya saja, padahal bisa jadi suami sebetulnya sudah sangat baik pada sang istri.
π Suami yang semasa kecil diperlakukan keras oleh kedua orang tuanya atau oleh sanak saudaranya tanpa disadari melakukan KDRT pada istrinya.
π Anak memecahkan piring atau merusak barang, tanpa disadari kita tiba-tiba memukul atau membentaknya.
Jika dari ketiga kasus yang di atas kemudian ada penyesalan setelah melakukannya, tapi diulang lagi dan lagi, bisa dipastikan itu inner child negatif.




