Judul: Kartini, Surat-Surat Lengkap dan Berbagai Catatan 1898–1904
Penulis: Joost Coté
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: 2022
Jumlah halaman: 916 + xx

Buku Kartini: Surat-surat lengkap dan berbagai catatan 1898-1904
Ketebalan buku ini membuat saya cukup lama menyelesaikannya. Padahal sudah setahun buku ini saya beli, tepatnya sejak Hari Kartini tahun lalu. Sesuai dengan judulnya, buku ini memuat surat-surat Kartini dan tulisan-tulisan lainnya dalam rentang waktu tersebut atau ketika Kartini berusia 19 tahun sampai dengan meninggal dunia pada umur 25 tahun. Beberapa di antara pemikiran yang disampaikan lewat tulisan-tulisan ini mungkin sudah cukup familiar lewat bacaan lain atau film yang mengangkat kisah hidupnya. Namun, banyak pula yang baru saya ketahui dari buku ini, terutama dari tulisan-tulisan yang bukan berbentuk surat. Ada cerita pendek, karya ilmiah, juga artikel mengenai kebudayaan.
Salah satu aspek yang menurut saya menarik untuk diketahui adalah pandangan Ibu Kartini tentang parenting. Dalam suratnya, Ibu Kartini menuliskan kecaman terhadap pola asuh oleh orang tua yang keliru sehingga justru membuat anak menjadi manja. Terus-menerus menuruti keinginan anak biasanya malah akan berbuah penyesalan karena anak kelak tidak mandiri. Demikian pula sebaliknya. Terlalu keras dalam menegur dan memberikan sanksi kepada anak, apalagi berbentuk hukuman fisik, juga tidak dibenarkan menurut beliau. Sebab ada pendekatan lain yang lebih pas, yaitu dengan kasih sayang yang sekaligus diiringi dengan ketegasan.
Wahai ibu, bisakah kamu menyadari bahwa air mata di mata seorang anak nantinya dapat menyelamatkan orang yang kamu sayangi itu dan dirimu sendiri dari sungai penderitaan yang sama. Menyerahlah pada temperamen buruk seorang anak dan otoritasmu atas itu akan rusak selamanya. Jika anak dibesarkan dengan cara ini, terus-menerus dimanjakan dengan cara seperti itu, Ibu akan mengeluh dan terus mengeluh tentang anak yang tidak dapat dikendalikan, yang padahal itu karena sang ibu telah kehilangan otoritasnya. (hlm. 867)
Dan kemudian ibu melakukan kesalahan lain, membiarkan dirinya marah tentang perilaku anak itu dan menghukumnya dengan pukulan. Pukulan menimbulkan sakit hati, meskipun itu tidak dengan maksud buruk, tapi sakit hati itu akan berkembang.
Sungguh sangat sulit, sangat menyakitkan jika mendengar seorang anak melecehkan ibunya, ya, bahkan melihatnya memukulnya, yang sama sekali bukan kejadian langka di dunia kita. Bisakah kita menyalahkan seorang anak untuk ini? Apakah ini salah anak? Tidak, semua itu hanya karena apa yang dibuat oleh ibunya. Siapa yang mengajarinya menjadi egoistis, egois, siapa yang mengajarinya untuk balas dendam?
Jika seorang anak jatuh ke tanah, atau menabrak sesuatu, Ibu menghibur bayi yang menangis dengan memukul tanah dengan keras atau benda yang melukai dirinya sendiri: benda itulah yang ditegur, dianiaya, sebagai pihak yang bersalah bukan anak itu. Dengan cara ini anak belajar, bahwa dalam kasus kecelakaan ia harus mencari penyebabnya terlebih dahulu kepada orang lain; ia belajar menjadi keras, dan untuk membalas dendam. (hlm. 868)
Ibu Kartini paham bahwa seorang ibulah yang akan berperan membentuk karakter anaknya. Karena itu, penting agar para perempuan mendapatkan kesempatan belajar atau memperoleh pendidikan yang baik.
Apakah perlu diperjelas bantuan siapa yang harus dicari untuk aspek pendidikan yang penting ini, dari siapa bantuan paling banyak dapat diharapkan? Alam sendiri menunjuk perempuan untuk tugas penting ini. Di pangkuannya seorang anak akan belajar untuk pertama kalinya merasakan, berpikir, berbicara, dan pengasuhan paling awal ini jelas bukan tanpa makna selama sisa hidupnya.
Dan bagaimana ibu-ibu Jawa bisa membesarkan anak-anaknya jika mereka sendiri tidak dididik? Bisakah mereka disalahkan karena telah menghancurkan anaknya, orang dewasa di masa depan, melalui kelemahan dan ketidaktahuan? la tidak banyak tahu, ia belum pernah melihat atau belajar apa pun! (hlm. 869)
Selain memuat surat-surat Ibu Kartini, buku ini juga menyertakan pengantar dan beberapa ilustrasi seperti peta Jepara dan sekitarnya, juga silsilah keluarganya agar pembaca lebih mendapatkan gambaran. Terjemahannya (dari buku berbahasa Inggris terbitan Monash University Publishing, 2014) juga termasuk enak dibaca. Jika ada waktu, buku ini perlu untuk dibaca agar kita dapat menyelami gagasan-gagasan Ibu Kartini.
