MPASI Perdana, Apa, Ya?

Disclaimer: tulisan ini disusun berdasarkan rekomendasi pada saat itu. Semoga dapat memberikan wawasan bahwa memang ilmu terus berkembang dan akses terhadap informasi pun makin luas sehingga bisa jadi apa yang direkomendasikan dahulu berbeda dengan sekarang.

==============================================================

Ngumpulin beberapa artikel dari berbagai sumber, buat ditengok sewaktu-waktu perlu informasi mengenai MPASI awal.

Yang ini dari milis MPASI Rumahan (mengacu pada brosur complementary feeding dari WHO).

Brosur MPASI Alih bahasa (unicef)(1)-page-001 Brosur MPASI Alih bahasa (unicef)(1)-page-002

Brosur Apakah MPASI itu-page-001Brosur Apakah MPASI itu-page-002

Yang ini kultwit dari AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) menggenai MPASI, diterjemahkan dari IYCF WHO 2010.

Apa sih poin-poin penting MPASI atau Infant and Young Child Feeding?

Poin-poin penting MPASI antara lain: Age, Frequency, Amount, Texture, Variety, Active/Responsive dan Hygiene. Disingkat menjadi AFATVAH.

AGE
Artinya, MPASI diberikan pada saat yang tepat, yaitu usia 6 bulan (180 hari). Kalo telat, risikonya: bayi tidak dapat cukup nutrisi untuk pertumbuhan, tumbuh kembangnya lebih lambat, malnutrisi & defisiensi gizi seperti zat besi dll.

FREQUENCY
Perhatikan frekuensi pemberian MPASI. Di awal mulai makan (umur 6 bln), 1-2x/hari. Lalu tambah jadi 2-3x plus 1-2x makanan ringan. Sejak umur 9 bulan, berikan 3x makan dan 2x selingan makanan ringan. Umur 1 tahun ke atas, kasih 3-4x makan dan 2x selingan.

AMOUNT
Jumlah makanan tentu harus diperhatiin ya. Pas baru mulai makan, mulai dengan sesuai selera bayi, lalu tingkatkan secara bertahap. Umur 6bln (awal) mulai dengan 2-3 sdm setiap kali makan. Notice your baby’s cues :). Tingkatkan secara bertahap sampai setengah mangkok ukuran 250ml utk usia 6-9 bln. MPASI Setelah umur 9-12bln, diharapkan udah mulai makan setengah-tiga perempat mangkok ukuran 250ml. Setelah umur 1thn, porsi rata-rata 1 mangkok ukuran 250ml.

TEXTURE
Tekstur makanan sangaaaat penting. Anak kan lagi belajar makan, jadi harus bertahap teksturnya sampai bisa jago makan kayak emaknya :D.

Tahapan tekstur ini jangan terlalu cepet, tapi jangan terlalu lambat juga. Waktu mulai makan umur 6 bulan, kasih bubur kental atau puree. Jangan terlalu encer atau terlalu kental. Patokannya? Kalau MPASI-nya ditaro di sendok, sendoknya dimiringin, itu puree/bubur gak langsung tumpah.

Setelah mulai makan beberapa minggu, sampai umur 9 bulan kasih bubur yang lebih kental atau bubur saring. Mulai umur 9 bulan udah bisa dikasih makanan cincang halus, yang penting tidak keras, dan mudah dijumput anak. bagian2 yg sulit dikunyah seperti daging sapi.

VARIETY
Keberagaman makanan adalah kunci gizi seimbang. Karena gak ada satu pun bahan makanan yang mengandung semua gizi. MPASI boleh dimulai dgn bubur serealia atau puree buah. Gak usah berantem cuma bahas ginian, yang penting, secepatnya kenalkan bahan makanan yang bervariasi. Inget, kebutuhan energi dan zat gizi lainnya meningkat terus, sedangkan cadangan zat besi menurun drastis di usia 6bln.

Sejak umur 6bln mulai kenalkan semua variasi makanan: pangan pokok (serealia, ubi2an), buah, sayuran, kacang-kacangan, dan sumber hewani. Jadi, variasi sama di semua umur (alias sevariatif mungkin), yang berubah cuman tekstur dan jumlah+frekuensi yg meningkat.

ACTIVE/RESPONSIVE
Pemberian makan secara aktif dan responsif terhadap bayi/anak. Gak ada lagi yaaaa cerita nyalain tv atau jalan keliling komplek biar anak tinggal mangap dan glek. Respon anak dengan senyum, jaga eye contact, kata-kata positif yang menyemangati. Suapin pelan-pelan, sabar, ceria, penuh humor. Biar asik gitu loh.

Kasih makanan yang bisa dia pegang (seukuran jari, lunak) jadi dia akan ikut makan sendiri. Lah mainan aja masuk mulut apalagi makanan :P. Jangan ada distraction ya. Biar anak tetap tertarik sama makanannya. Boleh dipangku kalo dia lebih nyaman, tapi jangan gendong jalan-jalan ya πŸ™‚

Poin penting MPASI terakhir tapi juga yang utama: HYGIENE alias higienis. Pastikan makanan bebas patogen (cuci tangan, pilih makanan segar, simpan dan masak dengan baik). pastikan juga MPASI bebas toksin/racun, tidak ada bahan kimia berbahaya, tidak ada tulang atau bagian keras yang bisa bikin keselek, tidak panas mendidih.

Panduan selengkapnya dari UNICEF 2012 (terbaru saat ini) bisa diunduh lewat sini http://www.unicef.org/nutrition/index_58362.html.

Lebih lengkap seputar MPASI tengok postingan yang ini yuk…. https://ceritaleila.wordpress.com/2014/12/05/serba-serbi-mpasi-dari-grup-aimi/

Tambahan pamflet, dari akun dr. Wiyarni Pambudi, Sp.A,. IBCLC.

14233163_10208992584083490_5372395030799339114_n.jpg

 

Update Oktober 2018:

Panduan MPASI dari IDAI bisa diunduh di siniΒ  atau di sini

Sunat Perempuan

Copas kultwit dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA (K) tentang sunat pada perempuan.

1. #sunatperempuan perlu dipahami adalah bagian dari ajaran agama Islam. Bukan berasal dari indikasi medis seperti sunat laki-laki.

2. Oleh karena merupakan ajaran agama, #sunatperempuan banyak dilakukan di berbagai belahan dunia oleh umat Islam.

3. Namun di beberapa negara seperti Afrika dan sekitarnya, terdapat tradisi untuk memotong klitoris dan dikenal dengan female genital mutilation.

4. Praktek #sunatperempuan yang sesuai ajaran Islam berbeda dengan #femalegenitalmutilation ini.

5.Namun WHO maupun Amnesty International menyamakan #femalegenitalmutilation dengan #sunatperempuan yang dilakukan di Indonesia.

6. Tidak aneh bila beberapa waktu lalu kita mendengar bahwa Amnesty International minta Indonesia menghentikan #sunatperempuan karena kerancuan pemahaman.

7. Coba baca kembali Permenkes tahun 2010 tentang #sunatperempuan yang ada di website IDAI. Buka http://www.hukor.depkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK%20No.%201636%20ttg%20Sunat%20Perempuan.pdf ya.

8. Di situ sangat gamblang dijelaskan teknik #sunatperempuan yang sesuai dengan medis dan syari’ah islam. Sama sekali bukan #femalegenitalmutilation.

9. Justru Permenkes ini melindungi bayi perempuan dari tindakan #sunatperempuan yang tidak benar secara medis maupun syariah Islam.

10. Teknik #sunatperempuan hanya menggores dengan jarum steril. Tidak boleh memotong klitoris sama sekali. Jadi bukan #femalegenitalmutilation, kan.

11.Mari kita jernihkan kembali kerancuan ini. Ingat, ya, bahwa #sunatperempuan di Indonesia bukan #femalegenitalmutilation.

12. Silakan baca kembali panduan pada Permenkes itu buat sejawat yang akan melakukan #sunatperempuan.

13. Beberapa tahun lalu petugas medis dilarang melakukan #sunatperempuan karena kerancuan tadi. Akibatnya yang mengerjakan para dukun dan orang nonmedis.

14. Karena bukan orang medis yang melakukan #sunatperempuan maka tidak terjamin aspek sterilitas dan kebenaran tekniknya.

15. Jadi, daripada melarang #sunatperempuan maka pemerintah kini memberi panduan #sunatperempuan yang benar.

16. MUI membuat tulisan berjudul: dilarang melarang #sunatperempuan. Argumen berdasarkan dalil2 agama berkaitan dengan #sunatperempuan.

16. Bila ada yang minat dengan makalah dari MUI tentag berbagai dalil #sunatperempuan silakan kirim email ke piprim@klinikjantunganak.com.

17 .Itu sedikit bahasan #sunatperempuan yang sempat kontroversial. Semoga tidak terjadi lagi kerancuan menyamakan #sunatperempuan dengan #femalegenitalmutilation.

18. Apa manfaat #sunatperempuan dari segi medis? Saya sendiri belum tahu pasti. Ada teori yang mengatakan mempermudah wanita orgasme kelak.

19. Tapi masalah #sunatperempuan kan anjuran agama, maka ada atau tidak manfaat medisnya orang tetap melakukannya, bukan?

20. Tugas kami sebagai dokter anak dan petugas medis yang lain hanyalah mengamankan agar #sunatperempuan dilakukan dengan cara yang benar.

Kultwit lain dari beliau…

1) Hadits shahih: 5 perkara yang merupakan fitrah manusia: khitan, mencukur rambut kemaluan, dan ketiak, mgunting kuku dan memotong kumis.. (HR Jamaah)

2) Hadits: dari Aisyah ra, apabila bertemu dua khitan, maka wajib mandi. (Hadits shahih redaksi Ibn Hibban)

3) Dari Ummu Athiyah ra: diceritakan bahwa di Madinah ada seorang wanita tukang khitan, sabda Nabi kpdnya: jgn berlebihan, yg demikian itu…

4)…paling membahagiakan perempuan dan paling disukai suaminya. (HR Abu Dawud dari Ummu Atiyyah ra)

5) Bahwa Nabi saw bersabda khitan merupakan sunnah (ketetapan Rasul) bagi laki2 dan makrumah (kemuliaan) bagi perempuan. (HR Ahmad)

6) Dari Abdullah ibn Umar bhw Rasulullah saw bersabda: Wahai wanita2 Anshar, warnailah kuku kalian (dengan pacar dan sejenis) dan berkhifadhlah

7) Berkhifadlah = berkhitanlah.. Tapi jangan berlebih2an (Al Syaukani dlm Nailul Authar)

8) Ijma’ ulama: seluruh ulama sepakat bahwa khitan bagi perempuan merupakan hal yg disyariatkan…

9) Kaidah Fiqh: Laa ijtihad ma’annash..Tdk ada ijtihad ketika ada nash..artinya ga perlu interpretasi yg lain saat ada dalil (nash)

10) Khitan perempuan menurut madzhab Hanafiyyah, Malikiyyah, dan Hanabilah: hukumnya sunnah. Menurut Syafi’iyyah: hukumnya wajib..

11) Tidak ada satu pun ulama ahlus sunnah wal jama’ah yang melarang khitan pada perempuan..

12) Oleh karena itu, khitan perempuan adalah masalah ibadah, masalah anjuran agama..medis hanya mengamankan pelaksanaannya.

13)Β  Dalam hal khitan perempuan ini rujukan kita adalah para ulama, bukan WHO (maaf kalo tdk berkenan). Medis tinggal memastikan tekniknya aman.

14) Th 2010 terbit Permenkes 2010 ttg sunat perempuan yg ditandatangani Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih alm dan Menku mham Patrialis Akbar.

15) Permenkes 2010 ttg Sunat Perempuan dan juknis pelaksanaannya yg aman secara syariah dan medis bisa didonlot di http://t.co/skwgb19e16) Smg sharing ini bs memupus keraguan tentang bolehnya khitan perempuan…maaf bila tdk berkenan.

Fatwa MUI http://www.muidiy.or.id/fatwa-mui/fatwa-mui-tentang-khitan-perempuan

 

Sering baca di media sosial, yang pro maupun yang kontra sunat perempuan sama-sama punya alasan sendiri. Bagaimana dengan Fathia? Belum dikhitan juga sih… padahal deketan ya sama Rumah Vaksinasi punya dr. Piprim.

 

Update:

Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No 1636/2010 tentang Sunat Perempuan dicabut pada 6 Februari 2014, melalui Permenkes No 6/2014. Salah satu pertimbangannya adalah bahwa sunat perempuan lebih didasari oleh pertimbangan adat dan agama, bukan merupakan tindakan medis, sehingga tidak perlu diatur.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan pernah melarang sunat perempuan melalui Surat Edaran No HK.00.07.1.3.1047a tahun 2006. Larangan tersebut melunak dalam Permenkes No 1636/2010 karena sunat perempuan di Indonesia dinilai tidak sama dengan FGM dan hanya bersifat simbolis.

Permenkes tentang Surat Perempuan banyak menerima kritik terutama dari kalangan aktivitas perempuan. Permenkes tersebut dinilai rentan melanggar hak-hak perempuan. “Kalau dasarnya agama kan biar peraturan agama yang mengatur,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, dr Supriyantoro, Sp.P, MARS, di Jakarta, Senin (24/2).

Kalau itu tradisi, kata Supriyantoro, sejauh tidak mengganggu kesehatan maka tidak bisa dilarang. Yang harus dipertimbangkan bagi yang melakukan (sunat perempuan), adalah masalah higienis. Tempat melakukannya harus bersih, pakai sarung tangan, dan lain-lain. Jangan sampai karena budaya lalu merusak organ kelamin wanita.

Jika sunat perempuan mengacu pada female genital mutilation (FGM), maka Majelis Umum PBB telah melarang praktik ini.Β  Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyebut sunat perempuan bersifat makrumah (ibadah yang dianjurkan). Tata cara pelaksanaan khitan perempuan menurut ajaran Islam adalah cukup dengan menghilangkan selaput yang menutupi klitoris.

“Digores sedikit saja. Tidak boleh berlebihan apalagi sampai dipotong. Dalam ajaran agama juga tidak boleh melakukan yang berlebihan,” papar Wakil Ketua Umum MUI Ma’ruf Amin. Jika digores tentunya akan meninggalkan bekas luka. Bukankah hal itu nantinya akan menyebabkan sakit pada anak? Adakah bahaya yang dirasakan ketika perempuan sudah dewasa?

Menanggapi hal ini, Ketua Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI), Prof. Dr. dr. Ali Baziad, SpOG(K) mengatakan bahwa tidak ada masalah. “Kalau hanya digores sedikit sekadar syarat tidak akan ada permasalahan,” ungkapnya.

Ia menuturkan selama 20 tahun lebih menjadi dokter kandungan, tidak pernah ada pasien yang datang dan mengatakan ada keluhan karena sunat perempuan, baik dari ibu atau anaknya. Namun ia juga mengakui bahwa dirinya belum pernah melakukan apa yang disebut orang sebagai sunat perempuan tersebut. Dikatakannya bahwa kebanyakan pasien melakukan hal tersebut ketika sudah pulang ke rumah.

Sementara itu DR dr Nur Rasyid, SpU(K), Ketua Departemen Urologi RSCM, mengatakan selama ini praktik sunat perempuan yang dikenalnya adalah penyayatan penutup klitoris semata. Jangan dibayangkan penyayatan ini akan membuat organ genital anak perempuan jadi berdarah-darah. Sebab hanya dengan menggunakan jarum saja, lapisan penutup klitoris sudah bisa dirobek.

“Itu merupakan puncak atas dari vagina, jadi kulitnya disayat supaya klitorisnya semakin terekspos jadi justru wanita bisa menikmati rangsangan lebih baik. Tidak ada yang dibuang dari sunat wanita itu,” terang dr Nur Rasyid. (kkb2/sumber: detik.com)

(disalin dari http://www.bkkbn.go.id/ViewBerita.aspx?BeritaID=1000)

Time Will Heal

Belajar jadi pasien yang rasional, apalagi dalam posisi sebagai orangtua, susah-susah gampang. Godaan sering muncul, apalagi kalau anak terlihat begitu ‘menderita’. Menangis sepanjang malam, tak mau makan, tak mau minum… ortu pun seringkali jadi harus mengorbankan waktu tidur yang bisa berefek ke pekerjaan (di rumah maupun kantor) esok harinya. Belum lagi khawatir menularkan sakit yang sama ke anak-anak yang lain, atau minimal anak yang lain jadi ‘nggak kepegang’ dan malah ikutan rewel.

Hal-hal seperti ini ternyata bagi sebagian orang jadi pertimbangan untuk memberikan obat pada anak. Meskipun tahu bahwa sebetulnya bisa sembuh sendiri. Walaupun sudah pernah baca bahwa tatalaksananya memang tidak perlu obat.

‘Tega’? Iya, label seperti itu akan mudah sekali melekat pada ortu yang ‘nggak ngapa-ngapain’ saat anaknya sakit. Padahal, sebetulnya bukan dicuekin juga sih. Tetap dinyamankan, ditawari makan, terutama minum, dan tentunya dilimpahi kasih sayang. Ada pula yang saking takutnya pada obat lalu mengejar penanganan yang ‘alami’, biasanya diidentikkan dengan herbal. Padahal yang alami itu belum tentu aman, dan seringkali sulit diukur berapa dosis yang tepat, dipantau efek sampingnya, dst.

Ada pula terapi yang sepertinya aman, minim efek samping, tapi kalau mau betul-betul mengikuti prinsip pengobatan rasional, tetap tidak tepat dari segi biaya, dan tidak disebutkan pula dalam panduan dasar dari WHO misalnya. Ada lho yang sampai titip-titip dicarikan karena di kotanya tidak ada, benar sih kita selalu rela berkorban demi anak termasuk dalam hal biaya, tapi sekali lagi, apakah memang perlu? Lebih banyak manfaatnya untuk mengobati kekhawatiran orangtuanya, sepertinya. Berikut saya kutipkan e-mail dari dr. Purnamawati di milis Sehat:

Sebetulnya, pemakaian kayu putih dll kan tidak ada ya dalam guidelinenya. Kalau ingusnya kental – mungkin membantu. Tetapi kalau ingusnya encer, kan akan keluar dengan sendirinya tanpa harus uap “sepanjang masa”. Saya tidak tahu apakah eucalyptus oil boleh dan aman untuk bayi tetapi yang jelas, kan tidak perlu. Kadang saya pikir, pemakaian breathy, sterimar, NaCl 0.9 persen – sebetulnya juga merupakan salah satu manifestasi bahwa parents di indonesia masih sulit menerima kenyataan bahwa batpil, runny nose, memang tdk ada obatnya – sehingga … Baik dokter dan orangtua (sadar tak sadar) merasa “harus” ada tindakan; harus ada terapi; butuh ada “intervensi”. Mbok biasa2 saja Kalau boleh usul lho ya Wati

Juga komentar dr. Endah Citraresmi, Sp.A. (K), DSA subspesialis alergi anak, yang kemudian terkenal dengan slogan “Time will heal“-nya….

Dear Smart Parents,

Sibuk mencari sesuatu cara untuk ‘do something‘ saat anak batuk pilek? Obat katanya gak boleh. Nebulizer kan cuma buat anak asma. Gemes kaaan, kalo gak bisa melakukan sesuatu? Kesannya menelantarkan anak?

Aha! Meluncurlah ke apotik beli br**thy, beli tr***p**m*n – obat batpil gak dibeli tapi tetap aja beli ‘sesuatu’. Gak cukup sampai di situ, masak air mendidih lalu diuapkan ke anak kita.

Kesemua itu gak perlu. Hal terpenting dari perlawanan terhadap virus adalah daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh dapat disokong oleh istirahat yang cukup (siapkan fisik untuk menggendong anak yang super rewel ya), makanan (bujuk – dan bukan paksa – anak untuk makan, 1-2 sendok secara berkala sudah lumayan banget), dan yang sangat penting: cairan! Telateni untuk memberi minum pada anak. Bayi ASI perlu disusui lebih sering. Sering lepas-lepas karena mampet? Perah ASInya lalu sendoki.

Sisanya? Time will heal.

Berkali-kali saya menemukan anak yang mengalami reaksi alergi terhadap balsam. Tersering akibat diberikan bawang. Ortu panik, dikira campak. Padahal dermatitis kontak. Yang menyedihkan, sudah dua kali menemukan kasus anak luka bakar akibat ‘terapi uap’. Yang pertama karena anak tidak bisa diam, meronta, ember berisi air panas tertendang dan airnya menciprati badannya. Kasus kedua, memasang magic jar di kamar tidur supaya mengeluarkan uap air panas, lalu ditinggal tidur. Anaknya sudah bisa turun sendiri, lalu memainkan magic jar tadi, melepuhlah kulit tangan sampai mukanya. Sedih sekali melihatnya.

Satu-satunya yang aman dan efektif yang perlu diberikan ke anak yang batuk pilek cuma minum yang banyak. Gak perlu ya perintilan-perintilan ‘home treatment‘. Siapkan stok sabar. Observasi tanda-tanda bahaya. Sisanya, serahkan pada tubuh anak. Sekali lagi, time will heal. Badai pasti berlalu.

Maaf jika tidak berkenan,

Endah

Serius sekali ya saya nulisnya? Padahal, jujur saja, saya juga masih suka panik. Beli juga balsem bayi untuk jaga-jaga kalau Fathia batuk-pilek. Dulu masih menguapi kamar dengan minyak kayu putih yang diteteskan ke panci berisi air panas (kira-kira ada lah 4 kali sepanjang usia Fathia yang sekarang 2 tahun). Waktu Fathia sariawan, masih sibuk mencari tahu kapankah kira-kira boleh dikasih obat oles, saking nggak tega mendengarnya menangis 10 menit, tidur 10 menit dst tiga malam berturut-turut.

Sudah baca teori berulang kali, dijelaskan oleh ahlinya, baca-baca pengalaman orangtua lain, ternyata tetap ada kalanya panik juga. Pernah juga saya ‘panik karena tidak merasa panik’, hahaha. Boleh kan ya dianggap sebagai bagian dari proses belajar? Semoga tidak terlihat seperti pembelaan diri semata, ya :).

Edit April 2015: alhamdulillah ada penguatan lagi dari dr. Arifianto, Sp.A (dokter yang aktif di milis sehat juga)

Arifianto Apin
11 April at 10:44 Β·Β 
Semua orangtua pernah mendapatkan anaknya mengalami selesma alias batuk pilek. Mayoritas berakhir dalam waktu yang tidak lama, sekitar semingguan. Tapi sebagian lainnya bertahan hingga berminggu-minggu, bahkan melampaui angka 1 bulan.

Orangtua yang awalnya paham bahwa selesma dibiarkan saja dan akan sembuh dengan sendirinya, tidak perlu minum obat apapun, toh infeksi virus yang ringan, menjadi khawatir. Apalagi kata orang, batuk yang dibiarkan lama bisa jadi “paru-paru basah”, flek, pneumonia, dan bronkitis.

Mulailah mereka membawa anaknya ke dokter. Sebagian khawatir akan kemungkinan TB, sehingga dilakukan foto ronsen dan tes Mantoux. Sebagian lagi curiga alergi atau asma, maka diberikanlah obat-obatan asma dan alergi. Masih tak kunjung sembuh juga. TB bukan, alergi bukan, asma juga tidak. Lalu apa? Infeksi virus ping-pong ternyata. Ya, awalnya si anak sakit, lalu bapak-ibunya tertular, lalu di sekolah teman-temannya juga sakit. Lengkap sudah.

“Ibu mau anaknya sembuh? Gampang Bu. Ibu taruh anaknya di suatu tempat yang tidak ada orang lain yang sakit batuk-pilek juga. Satu minggu aja. Nanti juga insya Allah sembuh sendiri.” Kata dokter sambil tersenyum.

Ujung-ujungnya pasti orangtua bertanya, “Lalu apa obatnya??”
“Sabar,” jawab dokter. “Obatnya adalah: sabar menunggu anak sembuh sendiri. Toh ini infeksi virus ringan yang hilang seiring waktu. Tapi ya harus sabar. Karena banyak orang di sekelilingnya yang sakit serupa dan bolak-balik menularkan.”

Satu lagi. Anak seringkali mengalami demam saat selesma. Suhunya bisa mencapai 40 derajat selsius. Ia menjadi rewel. Sudah diberi obat penurun panas, hanya turun sedikit jadi 38,5. Itupun kalau mau diminum obatnya. Banyak yang langsung muntah saat ia dipaksa orangtuanya minum parasetamol. Makin stres si ayah-ibu. Semalaman tidak tidur. Maunya digendong saja. Ditaruh sebentar di kasur, langsung nangis lagi. Hidungnya mampet. Batuknya grok-grok.

“Jadi saya harus kasih obat apa?” tanya orangtua lagi.
“Anaknya nyaman dan anteng kalau digendong kan?” tanya dokter.
“Iya….”
“Ya itu obatnya: gendong!”

Ya, semalaman menggendong anak tentunya melelahkan. Harus masuk kerja pula pagi-pagi.

Nikmatilah! Tidak akan lama masa-masa ini Anda alami. Anda akan segera merindukannya ketika anak-anak besar

Kurva Pertumbuhan

Waduh, anak saya kok kurus banget, ya?

Bb bayi saya nambahnya cuma dikit, nih :-(.

Dibandingkan sama sepupunya yang seusia, kok anak saya kayaknya kurang tinggi, ya?

Pertanayaan-pertanyaan di atas seringkali menghantui orangtua, khususnya para ibu. Sebagai orang yang sehari-hari mengasuh dan merawat bayi/anak, ibu biasanya jadi merasa khawatir, adakah sesuatu yang salah? Apakah makanan yang diberikan kurang memenuhi kebutuhannya?

Jangan-jangan perlu suplemen tambahan? Apakah mungkin ada penyakit atau gangguan kesehatan yang menghambat pertumbuhan anak? Ada yang panik, tetapi ada juga yang ‘menyangkal’, percaya bahwa yang penting anaknya (terlihat) sehat dan aktif.

Sebelum loncat ke pencarian penyebab, apalagi langsung cari solusi, ada baiknya cek dulu. Benarkah ukuran tubuh anak memang sudah berada dalam tahap perlu perhatian? Nah, untuk menjawab pertanyaan ini tentu diperlukan suatu standar. Bayi tetangga, keponakan, anak pak RW walau usianya sama tetapi belum cukup memadai untuk dijadikan pembanding.

Diperlukan sampel yang jauh lebih banyak untuk menghasilkan standar yang dapat digunakan oleh masyarakat luas. Salah satu standar yang dipakai secara luas adalah kurva pertumbuhan alias growth chart.

Ada lebih dari satu versi growth chart, dan versi yang lebih disarankan untuk dipakai adalah versi WHO (terakhir versi 2006). Mengapa? Karena versi lain seperti keluaran Centers for Disease Control and Prevention (CDC, bagian dari Kementerian Kesehatan Amerika Serikat) yang dibuat tahun 2000 misalnya, didasarkan pada bayi ras kaukasian dan banyak di antaranya memakai susu formula.

Continue reading

Let-Down Reflex

Kali ini saya ingin bercerita sedikit mengenai LDR. Bukan long distance relationship lho ya, melainkan let-down reflex atau istilah lainnya milk ejection reflex (MER).

Pernah nggak Bunda-bunda ketika sedang menyusui atau memompa/memerah ASI, sedang merasa bahagia, sedang teringat akan si buah hati yang lagi jauh, atau kadang-kadang tanpa penyebab yang jelas, kemudian kedua payudara terasa mengencang diikuti dengan merembesnya ASI keluar, bahkan kadang sampai mancur-mancur? Nah, inilah yang dinamakan dengan let-down reflex.

Yang berperan dalam terjadinya LDR ini adalah hormon oksitosin. Biasanya, LDR mulai dialami pada hari pertama hingga kelima setelah kelahiran bayi. Isapan bayi adalah salah satu hal paling ampuh untuk mendatangkan LDR. Perhatikan nggak kalau di awal biasanya bayi mengisap dengan ritme cepat-pendek, lalu setelah LDR berubah menjadi lebih lambat dan panjang?

Continue reading