[Kliping] MPASI Instan vs Homemade, Catatan Mba Monik

Sumber: Notes mba Fatimah Berliana Monika Purba, konselor laktasi dari La Leche League https://id-id.facebook.com/notes/fatimah-berliana-monika-purba/mpasi-instan-vs-mpasi-homemade-1-5-awal-mulaanemia-defisiensi-besifood-is-more-t/10203526686033649/ (bisa lihat di sini selengkapnya plus foto/grafik terkait). Panjaaang memang, tapi sangat berharga dibaca :).

MPASI Instan vs MPASI Homemade 1-5 (Awal Mula, Anemia Defisiensi Besi, Food is MORE THAN Just Nutrition, MPASI)

Weekend selain saatnya santai, beristirahat, berkumpul dengan anggota keluarga juga saatnya baca-baca, belajar segala hal termasuk asupan terbaik untuk anak sejak dilahirkan. Baru sempat memasukkan 5 tulisan saya ke dalam Notes. Untuk melihat comments2 yang masuk, di akhir Note saya berikan link2 tiap bagiannya. Tulisan panjang ini dibaca pelan2 ya, jangan ambil kesimpulan terburu2 hanya dari 1 bagian saja. So.. happy reading :).
MPASI INSTAN vs MPASI HOMEMADE

Beberapa kali saya dimintai pendapat mengenai pemberian MPASI Instan pada bayi. Sama seperti ketika saya ditanya mengenai Susu Formula (SuFor) vs ASI, tidak pernah saya menjawab atau melarang pemberian MPASI instan atau sufor secara langsung. Saya minta yang bertanya membaca dulu, mendiskusikan, sehingga ketika mengambil keputusan sudah ada dasarnya.

Kenapa akhir-akhir ini ramai kembali mengenai MPASI Instant vs homemade? Karena belum lama ini para dokter dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) memberikan rekomendasi pemberian MPASI Instan Fortifikasi (kutipannya ada di dalam tulisan ini). Mengenai Rekomendasi IDAI mengenai pemberian MPASI Instan, sebelum saya buru-buru mengeluarkan statement pribadi yang menyatakan tidak setuju (siapalah saya…) dan berpikiran buruk bahwa adanya konflik kepentingan yang mendasari rekomendasi tersebut (walaupun misalnya nanti hasil penelitian khusus di Indonesia dikeluarkan dan mendukung rekomendasi pemberian MPASI Instan), mari simak banyak hal yang akan saya tulis (bakal panjang pastinya) di bawah ini.

Adalah hak anak sejak dilahirkan untuk mendapatkan perawatan dan perlindungan kesehatan yang terbaik. Konvensi hak anak dunia article 24 menyatakan bahwa anak berhak untuk mendapatkan makanan bergizi yang mencukupi serta air bersih. Pada akhirnya, pesan yang selalu saya ulang-ulang, yuk jadi Smart parents, yuk belajar belajar belajar supaya bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita.
Bagian 1. Rekomendasi IDAI pemberian MPASI Instan Difortifikasi

Di bawah ini adalah 2 sumber yang saya punya mengenai rekomendasi IDAI pemberian MPASI Instan Difortifikasi. Saya sudah coba cari apakah ada artikel terkai di web site resmi IDAI (idai.or.id) tidak ada/belum ketemu (boleh saling share siapa tau ada yang punya linknya).

    1. MPASI Difortifikasi Bisa Cegah Bayi Kurang Zat Besi?

““Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nutrisi dan Penyakit Metabolik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Damayanti Rusli Syarif, Sp.A(K): Sebagian orangtua memilih makanan dari bahan alami, yang diyakini lebih aman, namun sebenarnya kebutuhan zat besi tidak terpenuhi.

“Saat bayi mulai MPASI, orangtua banyak memberikan pisang, zat besinya hanya 0,31 mg, atau tepung beras dengan zat besi 0,1 mg. Sedangkan MPASI yang difortifikasi zat besinya 2,26 . Makanan bayi pabrikan dianggap sama dengan makanan pabrikan dengan orang dewasa. Padahal MPASI fortifikasi diproduksi sesuai aturan WHO dan diawasi oleh WHO dalam pembuatannya. Kalaupun ada zat aditif, seperti garam dan gula, ada aturannya, tidak boleh berlebihan. Pastikan saja makanan fortifikasi seperti bubur dan biskuit tersebut punya izin BPOM, baca labelnya dengan baik,” terangnya.” . Saya hanya kutip bagian-bagian pentingnya, selengkapnya bisa baca:

http://health.kompas.com/read/2013/11/21/2031266/MPASI.Difortifikasi.Bisa.Cegah.Bayi.Kurang.Zat.Besi

 

2. Simposium & Workshop UKK Nutrisi & Metabolik IDAI tentang Infant Feeding Practice

Makanan pendamping instant (commercial)

Dahulu, WHO dan UNICEF lebih menekankan pemberian MPASI yang dibuat sendiri di rumah daripada makanan instan yang diproduksi massal. Namun setelah dilakukan banyak penelitian klinis, ternyata banyak bayi  tidak memperoleh zat nutrien yang adekuat sesuai dengan yang seharusnya didapatkan bayi.

Untuk itu WHO/UNICEF mengeluarkan Global Strategy for Infant and Young Child Feeding dan mengumumkan bahwa makanan tambahan yang diproses oleh industri makanan dapat digunakan sebagai pilihan para ibu dalam memberikan makanan tambahan yang mudah disiapkan, mencukupi kebutuhan nutrisi dan aman. Makanan tersebut sudah diperkaya dengan tambahan suplemen yang menjamin kecukupan mikronutrien bayi. 

Pembuatan makanan diatur oleh  The Codex Alimentarius Commission, yaitu lembaga yang dibuat oleh FAO dan WHO (1963) yang mengatur standar pembuatan makanan dan menjamin keamanan termasuk cara membuat, promosi dan transportasi dan dilindungi oleh pemerintah internasional. The Codex Alimentarius mengatur bahwa makanan bayi yang diproduksi massal tidak boleh menggunakan pengawet dan zat aditif yang berbahaya. Yang perlu diperhatikan saat membeli adalah tanggal kadaluarsa yang masih jauh, kemasan masih tersegel, warna dan bentuk makanan tidak berubah atau menggumpal.  Di pasaran beredar Nestle Cerelac, Milna, Promina, dll yang sudah difortifikasi vitamin mineral sesuai standar Codex Alimentarius Internasional, tidak memakai pengawet dan zat aditif berbahaya. Jadi simpulannya aman. MPASI yang tidak difortifikasi seperti GERBER, tepung Gasol (hanya berupa tepung-tepungan biasa  dari sumber pisang, ketela, dll) yang tidak difortifikasi, tidak dianjurkan. (Simposium & Workshop UKK Nutrisi & Metabolik IDAI tentang Infant Feeding Practice – Dr. dr. Damayanti Roesli Sjarif, Sp.A.(K), dr. Sri Nasar, Sp.A.(K), dr. Gusti Lanang, Sp.A.).

Catatan: Sejak 2011-sekarang, UKK (Unit Kerja Koordinasi) Nutrisi dan Metabolik IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) mengadakan roadshow ke seluruh Indonesia, mengadakan simposium dan workshop pada seluruh SpA (dokter spesialis anak) dan dokter umum tentang Nutrisi & Kesulitan makan pada anak, policy lama yang berpihak pada MPASI home-made kini mulai beralih ke MP ASI instan pabrik agar masa depan anak Indonesia cerdas, tidak kekurangan nutrisi mikro yang sulit dipenuhi dengan MP ASI home-made.
Bagian 2 : Anemia Defisiensi Besi (ADB)

Perhatian pada masalah malnutrisi mikronutrien meningkat dengan pesat di tahun-tahun terakhir ini. Salah satu alasan utamanya karena hal ini telah menjadi masalah global. Diperkirakan sebanyak 2 miliar manusia di dunia mengalami kekurangan mikronutrien yang sebab utamanya konsumsi makanan yang kurang vitamin & mineral. Kemiskinan, kurangnya akses untuk mendapat berbagai makanan bervariasi, kurangnya pengetahuan mengenai gizi/nutrisi yang baik serta tingginya penyakit infeksi merupakan faktor kunci.

Tahun 2000, WHO menyatakan bahwa kekurangan mikronutrien seperti zat besi, vitamin A dan yodium telah menjadi faktor pemicu masalah kesehatan yang sangat serius di dunia, misalnya berkurangnya kemampuan tubuh untuk melawan penyakit, kelainan metabolis, dan terlambat/terhambatnya perkembangan fisik dan psikomotor.

Menurut IDAI, angka kejadian penderita Anemia Defisiensi Besi (ADB) pada anak balita di Indonesia sekitar 40-45%. Survai Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan prevalensi (angka keterjadian) ADB pada bayi 0-6 bulan adalah 61,3%, bayi 6-12 bulan 64,8%, dan anak balita sebesar 48,1%. Besar sekali tentunya. Nah bagaimana data terakhir? Saya ambil dari laporan Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) Kemenkes tahun 2007 yang sayangnya tidak ada data detil seperti SKRT. Menurut Riskesdas 2007, penderita ADB kelompok usia 1-4 tahun sebesar 27,7%, sementara menurut data Riskesdas terbaru (2013), penderita ADB kelompok usia 12-59 bulan/1-5 tahun sebesar 28,1% .

Bisa dilihat dalam gambar grafik batang di bawah ini kebutuhan zat besi bayi 0 – 23 bulan.

Bayi baru lahir membutuhkan asupan zat besi 0,27 mg/hari. Setelah umur 6 bulan kebutuhan asupan zat besi bayi meningkat pesat menjadi 11 mg/hari. Dan usia 1-3 tahun sebesar 7 mg/hari. Maka saat inilah (usia 6 bulan) waktu yang penting bagi bayi untuk mendapatkan makanan lain selain dari ASI. Hal ini sudah saya tulis di tulisan saya berjudul Bahaya Pemberian MPASI Dini & Menundanya:
http://theurbanmama.com/articles/bahaya-pemberian-mpasi-dini-menundanya.html

Untuk yang ingin mempelajari lebih lanjut mengenai ADB silahkan baca di  http://milissehat.web.id/?p=1923

Mengenai rekomendasi pemberian suplementasi besi pada bayi lahir cukup bulan tidak BBLR (Berat Badan Lahir Rendah <2,5kg), baik IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) maupun AAP (American Academy of Pediatrics) sepakat agar dimulai saat bayi lahir cukup bulan berusia 4 bulan. Perbedaannya, IDAI menganjurkan bahwa suplementasi terus dilanjutkan sampai usia 2 tahun, sementara AAP menganjurkan usia 4-6 bulan saja dan dilanjutkan pemberian MPASI kaya zat besi (akan saya bahas berikutnya). Juga perbedaan dosis. IDAI menyarankan dosis 2mg/kg BB/hari sementara AAP 1mg/kg BB/hari. Tambahannya IDAI menurunkan dosis menjadi 1mg/kgBB/hari pada usia 2-5tahun.
Perbedaan kedua adalah mengenai anjuran pemeriksaan status Hb anak. AAP dan CDC di Amerika Serikat menganjurkan pemeriksaan hemoglobin (Hb) dan hematokrit (Ht) setidaknya satu kali pada usia 9-12 bulan dan diulang 6 bulan kemudian pada usia 15-18 bulan atau pemeriksaan tambahan setiap 1 tahun sekali pada usia 2-5 tahun. Sementara Rekomendasi IDAI adalah pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) dilakukan mulai usia 2 tahun dan selanjutnya setiap tahun sampai usia remaja.

Bagi saya pribadi deteksi dini tentu jauh lebih baik, jadi saya mengikuti rekomendasi AAP untuk pemeriksaan yang pertama kali  maksimal saat bayi berusia 1 tahun, kemudian bila ada dana berlebih melakukan pemeriksaan ADB lengkap, tidak hanya Hb dan Ht tapi juga status besi dalam tubuh dan hal-hal lainnya (Serum Ion, Ferritin, dll) sesuai kutipan dari AAP berikut “the deficiency won’t always be detected with a simple hemoglobin test.” Tentu saja orang tua tidak perlu menunda bila pada bayi atau anak terdapat tanda-tanda menderita ADB seperti pucat, lesu, nafsu makan menurun, dan berat badan tidak/sulit bertambah (penting ya untuk selalu plot ke GC/Growth Chart setiap kunjungan pemeriksaan kesehatan bayi, yang belum paham mengenai pentinganya paham GC bisa pelajari tulisan saya: http://theurbanmama.com/articles/growth-chart.html).

Ada hal-hal lain yang mempengaruhi berapa banyak zat besi yang dibawa bayi saat lahir:

1. Apakah Ibu saat hamil menderita Anemia Defisiensi Besi (ADB) atau tidak.

Ibu hamil yang menderita ADB berisiko melahirkan bayi prematur, bayi dengan BBLR (Berat Badan Lahir Rendah), dan masalah kesehatan bayi di kemudian hari. Selain itu, bayi yang lahir dari Ibu penderita ADB memiliki cadangan besi yang lebih sedikit, maka bayi tersebut berisiko menderita ADB juga.

2. Penundaan pemotongan tali pusat bayi baru lahir (Delayed Umbilical Cord Clamping).

Penelitian-penelitian terbaru memberikan evidence/bukti bahwa pelaksanaan penundaan pemotongan tali pusat bayi baru lahir meningkatkan cadangan besi pada badan bayi. Berdasarkan penelitian RCT yang di-publish BMJ Nov 2011, bayi-bayi yang ditunda pemotongan tali pusatnya >=3 menit dibandingkan dengan bayi-bayi yang dipotong tali pusatnya <10 detik, pada usia 4 bulan status besinya (Ferritin) lebih tinggi dan risiko menderita ADB berkurang.

Sampai saat ini riset-riset masih terus dikembangkan untuk mendapatkan waktu optimal pemotongan tali pusat ini (penelitian lain menyatakan =>1 menit penundaan pun sudah bermanfaat), dan perhatikan faktor-faktor risiko lain terutama kondisi ibu & bayi setelah kelahiran.

Keypoint Bagian 2:

1. +- 2 miliar manusia di dunia mengalami kekurangan mikronutrien yang sebab utamanya konsumsi makanan yang kurang vitamin & mineral. Faktor kunci: Kemiskinan, kurangnya akses untuk mendapat berbagai makanan bervariasi, kurangnya pengetahuan mengenai gizi/nutrisi yang baik serta tingginya penyakit infeksi.

2. Anjuran pemberian suplementasi besi IDAI (4 bulan – 2 tahun) vs AAP (4-6 bulan lanjut MPASI kaya zat besi).

3. Anjuranscreening atau pemeriksaan ADB (Anemia Defisiensi Besi). IDAI: 2 tahun. AAP: 9-12 bulan. Saya: deteksi dini LEBIH baik, paket lengkap Screening ADB bila ada dana lebih. Jangan tunda bila pada bayi/anak jelas tampak gejala-gejala ADB.

4. 2 hal lain yang mempengaruhi status besi/cadangan besi dalam tubuh bayi: Kondisi ibu saat hamil (menderita ADB/tidak) dan penundaan pemotongan tali pusat bayi baru lahir (Delayed Umbilical Cord Clamping).
Bagian 3. Food is MORE THAN Just Nutrition = Makanan Tidak Hanya Sekadar Untuk memenuhi kebutuhan Nutrisi atau Gizi

Sebelum saya masuk membahas mengenai MPASI, saya akan membahas sedikit mengenai hal umum mengenai nutrisi (mohon dikoreksi kalau ada kesalahan pemahaman berhubung saya bukan ahli gizi).

Para nutritionist, dietitian & dokter di sini (Amerika Serikat) sedang mengkampanyekan agar para Ibu -khususnya- KEMBALI ke dapur, MEMASAK whole foods untuk anggota keluarganya, terutama bayinya, meninggalkan junk foods atau makanan instan lainnya. Begitu pula di UK, Pemerintah UK menyatakan: Usahakanlah memberikan makanan yang dimasak di rumah (home cooking) dibandingkan memberikan makanan bayi kemasan.

Bahkan Michelle Obama membuat kampanye-kampanye menarik kembali pada memilih makanan sehat dan makan bersama di keluarga, selain kampanye minum air putih (dibanding minum susu berlebihan, soda, jus kemasan, sirup) serta kampanye berolahraga.

Video kampanyenya bisa dilihat di Kampanye Let’s Move ini :

http://www.youtube.com/watch?v=2oBeuSCfGeg

Saya mengambil online course mengenai Nutrisi dari Stanford University, di mana banyak hal dibahas secara menarik. Salah satunya adalah topik mengenai Food is MORE THAN Just Nutrition.

Sepertinya gambar 4 sudah cukup jelas ya,  pada bagian kiri merupakan:

Pengelompokan Zat Gizi atau Nutrients.

Menurut kebutuhan manusia, terbagi dalam dua golongan besar yaitu makronutrien dan mikronutrien.

    1. Makronutrien adalah zat gizi yang diperlukan dalam jumlah besar dalam tubuh yang menghasilkan energi. Merupakan komponen terbesar dari susunan diet, berfungsi untuk mensupplai energi dan zat-zat esensial (pertumbuhan sel/ jaringan), pemeliharaan aktivitas tubuh.

Yang termasuk zat makronutrien adalah karbohidrat/hidrat arang, lemak, dan protein. Pasti semua sudah tahu jenis-jenis bahan makanan apa saja yang kaya kandungan karbohidrat, lemak, dan protein ya, jadi tidak saya sebutkan lagi, karena fokus saya adalah membahas salah satu mikronutrien yaitu iron/zat besi.

2. Mikronutrien adalah zat gizi yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit tapi penting.

Golongan mikronutrien terdiri dari vitamin dan mineral. Vitamin juga terbagi 2 jenis yaitu larut dalam lemak dan dalam air. Vitamin yang termasuk dalam kelompok larut dalam lemak adalah vitamin A, D, E, dan K. Normalnya, tubuh dapat menyimpan vitamin jenis ini (terdapat batasan untuk vitamin E dan K). Oleh sebab itu, asupan vitamin larut lemak setiap hari bukan keharusan. Sementara Vitamin yang larut dalam  air adalah vitamin C dan kelompok vitamin B. Karena larut dalam air, vitamin ini tidak tersimpan dalam tubuh. Kelebihannya akan dikeluarkan melalui urine.

Golongan mikronutrien yang kedua adalah mineral seperti kalsium, zat besi, yodium, fosfor, magnesium, zinc.

Kemudian selain makronutrien & mikronutrien, penting juga memperhatikan:

3. Fiber/serat. Dari semua asupan makanan kita, penting untuk menjaga kuantitas fiber/serat. Serat sangat penting untuk pengeluaran buang air besar (mencegah sembelit, wasir), mengurangi risiko penyakit jantung koroner, menjaga kadar gula darah tetap normal, dll.

Untuk anak 1-3 tahun kebutuhan seratnya 19 gr/hari. Bahkan dalam panduan gizi terbaru – My Food Plate Amerika serikat yang juga gencar dikampanyekan Michelle Obama, dalam satu piring, separuhnya adalah sayur dan buah. Dasar pertimbangannya karena tingginya penderita obesitas/kegemukan yang sudah terjadi sejak anak-anak.

4. Air bersih. Tersedianya air bersih merupakan salah satu komponen penting dalam menyediakan MPASI yang baik. Hal ini karena air adalah hal penting dalam persiapan makanan yang higienis, pencucian tangan dll sangat penting dalam mencegah penularan infeksi.

Bagian kiri sudah selesai saya bahas, nah yang sekarang sedang dikampanyekan adalah bagian yang kanan, yaitu Fungsi Sosial dari makanan. Ada 4 aspek yaitu: Komunikasi, hubungan sosial, kesehatan emosi, dan sejarah atau tradisi.

Jadi selain kampanye kembali memasak, juga kampanye agar para keluarga menghidupkan kembali kebiasaan Family Time is (salah satunya) Meal Time. Sejak bayi mulai diberikan MPASI, orang tua menekankan pentingnya nikmat & nyaman saat makan, tentu saja bukan hanya karena rasa makanan yang enak dan keahlian memasak orang tua (yang utama ibu), tapi juga perhatian, kedekatan dan kasih sayang di dalamnya yang sudah dicurahkan sejak ibu memasak.

Ketika manusia makan bersama, hormon oksitosinnya meningkat, proses pencernaan dan metabolisme makanan juga menjadi lebih efektif. Kebahagiaan dan kegembiraan anggota keluarga yang dimulai saat menyiapkan makanan adalah sangat penting. Menyusui adalah hal menyenangkan bagi bayi, jadi begitu pula dengan makan. Jadi jangan dibuat: Meal Time is Battle Time.

Harap diingat, ketika sedang makan bersama, fokuskan perhatian pada seluruh anggota keluarga, bukan sibuk masing-masing. Oleh karena itu, salah satu kebiasaan yang saya bangun sejak dini di keluarga saya adalah ketika makan tidak ada TV, komputer, Ipad, smartphone yang nyala di area makan. Jangan seperti contoh gambar 5 ya, ini mah sama aja bukan makan bersama yang saya sebutkan di atas :).

Keypoint Bagian 3:

1.      Negara-negara maju seperti US & UK gencar mengkampanyekan agar para Ibu -khususnya- KEMBALI ke dapur, MEMASAK whole foods untuk anggota keluarganya, terutama bayinya, meninggalkan junk foods atau makanan instan lainnya.

2. Food sebagai Nutrisi. Terbagi atas: Makronutrien: karbohidrat, protein, lemak. Mikronutrien: vitamin & mineral (zat besi termasuk dalam golongan mineral), fiber/serat, air bersih.

3.      Food is MORE than Nutrition – only : Komunikasi, hubungan sosial, kesehatan emosi dan sejarah/tradisi. Family time salah satunya meal time.

4.      Ketika manusia makan bersama, hormon oksitosinnya meningkat , proses pencernaan dan metabolisme makanan juga menjadi lebih efektif.
Bagian 4: Serba-Serbi MPASI, dengan fokus pada kandungan zat besi MPASI

Ilmu mengenai MPASI sangat penting untuk dikuasai para ibu jauh-jauh hari SEBELUM MPASI dimulai. Supaya ibu paham serba-serbi MPASI yang dimulai sejak dari penyiapan hingga pemberiannya pada bayi. Harap diingat MPASI adalah Makanan Pendamping ASI atau complementary food, jadi ibu perlu paham seberapa banyak pemberian porsi MPASI sesuai usia bayi.

ASI adalah asupan utama bayi HINGGA bayi berusia 1 tahun.  Karena, sering terjadi porsi MPASI melebihi kapasitas yang seharusnya diterima bayi, sehingga MPASI bukannya menjadi makanan pendamping ASI tapi menjadi Pengganti ASI/Breastmilk Substitutes. Salah pemberian menu MPASI yang miskin gizi juga dapat membuat bayi kenyang lebih lama dan malas menyusu, contohnya Ibu terlalu banyak memberikan jus buah, kuah sup, dll. Selain itu, “ajaran” turun-temurun dan mitos-mitos yang salah mengenai MPASI, misalnya pemberian protein hewani paling cepat di usia 8-9 bulan, padahal pemberian MPASI kaya zat besi dimulai sesegera mungkin saat MPASI dimulai.

Mengutip dari AAP :

One recommendation may change the order in which solid foods are introduced. Traditionally, iron-rich meat is the last food introduced to infants, preceded by cereal, fruits and vegetables. This sequence, however, has not been scientifically tested. Dr. Baker said that food order should be reversed. Red meat and vegetables with higher iron content should be introduced into the baby’s diet early on, perhaps at 6 months of age.”
Prinsip Dasar MPASI menurut IYCF WHO & UNICEF

Prinsip dasar utama MPASI adalah: Age, Frequency, Amount, Texture, Variety, Active/Responsive dan Hygiene. Agar gampang diingat kita singkat jadi AFATVAH.

    1. Age / Usia

Pemberian MPASI dimulai saat usia 6 bulan, alasannya sudah saya berikan link tulisan saya sebelumnya (Bahaya Pemberian MPASI Dini dan Menundanya http://theurbanmama.com/articles/bahaya-pemberian-mpasi-dini-menundanya.html).

2. Frekuensi

Mengenai Frekuensi, ada perbedaan mengenai Frekuensi berdasarkan sumber dari Guiding Principle of Complementary Feeding WHO vs UNICEF. Berdasarkan Guiding Principle of Complementary Feeding WHO, Frekuensi Pemberian MPASI sbb:

Usia 6-8 bulan: 2-3 kali per hari

Usia 9-11 bulan: 3-4 kali per hari

Usia 1 tahun – 2 tahun: 3-4 kali per hari dengan tambahan snack 1-2 kali per hari sesuai keinginan bayi (snack yang dianjurkan bisa potongan buah, roti, dll).

Sementara panduan UNICEF & IYCF sbb:

Usia 6 bulan (saat mulai MPASI): 2-3 x

Usia 6-9 bulan: 2-3 x , dapat ditawarkan snack 1-2 x

>9 bulan: 3-4 x , dengan snack 1-2 x

Jadi perbedaannya pada pemberian snack, di anjuran Guiding Principle of Complementary Feeding WHO tidak ada penawaran snack sebelum usia 1 tahun, mengacu pada penjelasan sebelumnya bahwa ASI adalah yang utama hingga bayi usia setahun, maka penawaran snack maka akan mengurangi frekuensi menyusu bayi.

Ada yang bertanya pada saya apakah pemberian jus buah baik untuk MPASI? Kembali ke prinsip bahwa hingga usia 1 tahun ASI yang utama, pemberian banyak cairan lain selain ASI dan apalagi diberikan saat seharusnya memberikan MPASI padat gizi berisiko untuk bayi. Bayi akan malas menyusu serta tidak didapatkan nutrisi yang mencukupi dari MPASI.
3. Amount/banyaknya makanan per penyajian.

Prinsipnya bertingkat, panduannya:

Usia 6 bulan saat baru mulai MPASI: 2-3 sendok makan (sdm)

Usia 6-9 bulan: tingkatkan bertahap hingga mencapai setengah mangkuk kapasitas 250ml

Usia 9-12 bulan: setengah mangkuk kapasitas 250ml

Usia 1tahun – 2 tahun: ¾ hingga 1 mangkuk kapasitas 250 ml

4. Texture/tekstur MPASI.

Prinsipnya sama dengan Amount, yaitu berikan bertahap, hati2 jangan terlalu cepat/memaksa dan juga jangan terlambat naik tekstur.

Usia 6 bulan saat baru mulai MPASI : bubur kental

Usia 6-9 bulan: bubur kental/puree, bertahap naik ke tim saring, dan pengenalan finger food di usia 8-9 bulan

Usia 9-12 bulan: Makanan cincang halus, nasi tim tanpa disaring, finger food

Usia > 1 tahun: Table food/makanan keluarga, jangan lupa bahan makanan tertentu tetap dipotong kecil-kecil/dicincang seperti daging.

5. Variety/Keragaman jenis makanan
Nah, poin ini sangat penting apalagi sehubungan dengan fokus pembahasan tulisan ini mengenai kekurangan micronutrient seperti zat besi.

Kenapa harus beragam? Karena setiap bahan makanan tidak akan memberikan kandungan gizi sempurna yang dibutuhkan tubuh, jadi dalam setiap porsi makanan berikan makanan yang bervariasi ( khusus pada kandungan zat besi akan dibahas terpisah mengenai jenis makanan heme dan non heme, enhancer/yang membantu penyerapan dan inhibitor/yang menghambat penyerapannya) .

Mengenai 4 days rule, saya pribadi merasa tidak perlu saklek ya. Yang utama perhatikan riwayat alergi makanan di keluarga terutama Ayah Ibu. Kemudian kenalkan bahan makanan tunggal di awal, bila sehari 2 hari tidak ada masalah ya segera kenalkan bahan makanan lainnya. Sangat baik Ibu memiliki Food Diary dan ditaruh di kulkas/yang terjangkau sehingga bila bukan Ibu yang menyiapkan, panduannya do’s and don’ts nya ada. Penekanan mengenai bahan makanan kaya zat besi juga perlu diperhatikan ya, salah satu efeknya bayi bisa sembelit bila bayi mendapatkan zat besi terlalu banyak (apalagi bila bayi pun masih menerima suplementasi zat besi).
6. ACTIVE/RESPONSIVE.

Pembentukan pola makan yang baik dimulai sedini mungkin, sebagian sudah saya tulis di bagian 3: Food is more than nutrition.  Ketika bayi GTM, cari penyebabnya dan atasi seperti mencoba menu lain, perhatikan apakah bayi merasa dipaksa makan, suasana makan tidak nyaman atau malah bayi terbiasa digendong jalan-jalan di keramaian yang membuat bayi terganggu (tidak jarang anak disuapi sambil lari-lari dan bermain dan merasa tidak sedang makan).

Mengenai pros dan cons metoda BLW (Baby Led Weaning) sudah pernah saya tulis :

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10202846830877695&set=pb.1409280466.-2207520000.1393112844.&type=3&theater

Quote:

Terdapat kekhawatiran bahwa Metoda BLW dapat menyebabkan bayi:

    1. Tidak mendapatkan cukup zat besi
    1. Beresiko lebih besar untuk tersedak (choked, bukan hanya gag ya, ada penelitiannya di comments di link di atas)
    1. Tidak mendapat cukup makanan untuk tumbuh dengan baik

7. Hygiene

Mengenai higinitas sudah saya singgung sedikit di atas, termasuk tersedianya akses akan air bersih untuk cuci tangan, persiapan, pemasakan, dan penyajian MPASI.

Jangan lupa pilih bahan makanan yang segar, tidak mengandung bahan toksik & berbahaya, perhatikan juga penyimpanan makanan dan bahan makanan, serta proses memasak yang benar sesuai jenis bahan makanannya. Misal sayur tidak dimasak terlalu lama, daging dipastikan masak dengan suhu yang tepat hingga matang, dll.

Mungkin tertarik baca soal Toksoplasma (ada sedikit pembahasan mengenai memasak daging di tulisan saya ini :

http://pranikah.org/pranikah/kenal-lebih-dekat-dengan-toksoplasma/)
Seputar kandungan zat besi dalam makanan

Zat besi adalah salah satu mineral yang fungsinya sangat vital bagi tubuh mansia.  Zat besi berperan dalam proses pembentukan hemoglobin (hemoglobin adalah protein di sel darah merah yang membawa oksigen). Hampir 2/3 zat besi dalam tubuh terdapat di dalam hemoglobin. Zat besi dalam jumlah kecil terdapat di myoglobin (myoglobin adalah protein yang mensupplai oksigen ke otot).

Ada 2 jenis zat besi dalam makanan, yaitu heme iron dan non heme iron.

Heme iron dapat ditemukan dalam daging yang secara asalnya mengandung hemoglobin seperti daging merah, ikan, dan unggas. Sementara non heme iron banyak ditemukan pada tanaman (buah dan sayur).

Bisakah hanya mengejar kebutuhan zat besi dari non heme iron saja? Tidak, karena zat besi dalam non-heme iron hanya sedikit diserap tubuh (1-15%) dibandingkan dengan heme iron yang dapat mencapai penyerapan sebesar 15-40%. Jangan lupa banyak faktor yang mempengaruhi penyerapan seperti status kadar besi dalam tubuh seseorang, juga makanan yang berfungsi sebagai enhancer (membantu penyerapan) atau inhibitor (menghambat penyerapan) yang akan saya jelaskan sedikit setelah daftar bahan makanan heme dan non heme iron ini.

Daftar bahan makanan heme iron (saya pilih beberapa saja, tabel lengkap bisa buka link di daftar sumber) :

Berhubung saya tidak tampilkan dalam bentuk tabel, urutannya: nama makanan, miligram zat besi per penyajian, % DV/Daily Value. DV untuk zat besi 18 miligram (untuk bayi 6-12 bulan sudah disebutkan sebelumnya yaitu 11 miligram per hari). Bila DV kurang dari 5% artinya kandungan zat besinya rendah, DV 10-19% kandungannya baik dan DV >20% artinya kaya zat besi. 1 ounces = 1 oz = 28,35 gr.

  1. Hati ayam 3 oz – 11 mg – 61%
    1. Tiram 3 oz – 5,7 mg – 32%
  1. Hati sapi 3 oz – 52 mg – 29%
  1. Daging sapi tanpa lemak 3 oz – 3,1 mg – 17%
  1. Daging sapi giling sedikit lemak 3 oz – 2 mg – 11%
  1. Ikan tuna 3 oz – 1,3 mg – 9%
  1. Daging ayam 3 oz – 1,1 mg – 6%
  1. Udang 4 buah besar – 0,3 mg – 2%

Daftar bahan makanan non-heme iron

  1. Kacang kedelai 1 cup – 8,8 mg – 48%
  1. Lentil 1 cup – 6,6 mg – 37%
  1. Beans-golonga kacang2an 1 cup – 5,2 gr – 29%
  1. Tahu ½ cup – 3,4 mg – 19%
  1. Sayur bayam ½ cup – 3,2 mg – 18%
  1. Kismis tanpa biji ½ cup – 1,6 mg – 9%
  1. Roti putih 1 potong – 0,9 mg -5%
  1. Roti gandum 1 potong – 0,7 mg – 4% 

 Iron enhancers / Bahan makanan&hal2 yang membantu penyerapan zat besi

 a)      Vitamin C adalah enhancer yang paling baik (dan mudah didapat juga).

Kombinasikan pemberian makanan heme, non heme, dan Vitamin C. Misalnya daging sapi, sayur bayam dengan potongan tomat, jambu, kiwi, dll yang kaya vitamin C. Atau peras lemon/jeruk di atas potongan daging sapi/ayam/seafoodnya. Silahkan explore ya… Menu orang bule sejak turun-temurun banyak menggunakan perasan lemon di atas lauk pauknya yang ternyata kebiasaan yang tepat dan baik sekali.

b)   Proses fermentasi. Contohnya tempe.

c)   Memasak dalam panci/pan berbahan besi
 

Iron inhibitors / Penghambat penyerapan zat besi
 1. Senyawa phenolic/polifenol yang mengikat zat besi jadi mengurangi penyerapan zat besi dalam tubuh. Beberapa di antaranya adalah teh, kopi, cocoa, jadi sangat tidak disarankan bayi dan anak-anak minum 3 hal ini apalagi dalam jumlah berlebihan. Teh dapat mengurangi penyerapan zat besi hingga 60% sementara kopi mengurangi penyerapan zat besi hingga 40% selain itu membuat bayi berkurang frekuensi menyusunya. Beberapa rempah juga merupakan senyawa phenolic seperti oregano (bumbu pizza, pasta, dll). Juga segolongan sayuran seperti kacang panjang.

2. Kalsium. Segelas susu yang diminum saat makan dapat mengurangi penyerapan zat besi hingga 50%. Susu segar tidak boleh diberikan pada anak <1 tahun karena dapat menyebabkan masalah pada pencernaan (intestine bleeding). Selain itu terlalu banyak minum susu juga mengurangi nafsu makan, selain menyebabkan anak menderita ADB.

3. Pytates yang biasanya terdapat di cereal dan oat.
Key Point Bagian 4 :

  1. Porsi MPASI tidak boleh melebihi kapasitas yang seharusnya diterima bayi, sehingga MPASI bukannya menjadi Makanan pendamping ASI tapi menjadi Pengganti ASI/Breastmilk Substitutes. ASI yang UTAMA hingga bayi usia 1 tahun.
  1. Pemberian MPASI kaya zat besi dimulai sesegera mungkin saat MPASI dimulai.
  1. Prinsip dasar utama MPASI adalah: Age, Frequency, Amount, Texture, Variety, Active/Responsive dan Hygiene. Agar gampang diingat kita singkat jadi AFATVAH.
  1. Ada 2 jenis zat besi dalam makanan, yaitu heme iron dan non heme iron.

Heme iron dapat ditemukan dalam daging yang secara asalnya mengandung hemoglobin seperti daging merah, ikan, dan unggas. Sementara non heme iron banyak ditemukan pada tanaman (buah dan sayur).

  1. Zat besi dalam non-heme iron hanya sedikit diserap tubuh dibandingkan dengan heme iron yang dapat mencapai penyerapan sebesar 3x lipat lebih banyak dari non heme iron.

2. Padukan dengan Iron enhancers / Bahan makanan&hal2 yang membantu penyerapan zat besi

3. Hindari Iron inhibitors / Penghambat penyerapan zat besi

 

Bagian 5 : Seputar MPASI Instan

Ada yang pernah membandingkan rasa MPASI Instan dengan bahan2 aslinya? Contoh rasa pisang saja yang gampang.

Kebetulan saya pernah makan keduanya, bagi saya pribadi rasa alami tidak akan tergantikan dengan buatan. Manisnya berbeda, kalau mata saya tertutup dan pisang asli dibuat lumat vs makanan instan (bubur) rasa pisang, saya bisa tebak yang mana yang instan yang mana yang asli.
Begitu pula dalam hal rasa masakan. Saya tidak pernah memasak pakai MSG dan bumbu2 yang tajam, nah ketika saya pulang sebentar ke Indonesia, makan di restoran, saya rasa semua rasa makanannya “tajam”, banyak MSG nya, alhasil saya langsung pusing (saya sensitif sama MSG) dan ujung-ujungnya diare.

Menurut Gabrielle Palmer (nutritionist, breastfeeding counselor, former UK IBFAN), kecenderungan menyukai suatu rasa dibentuk sejak awal kehidupan dan cara pemberian makan awal bayi (MPASI) dapat membentuk bayi/anak menginginkan rasa yang terlalu manis, asin, makanan-minuman rendah nutrisi untuk jangka panjang.

Sepertinya sangat umum di sosial media Ibu2 yang mengeluh bayi/anaknya tidak mau lagi makan makanan homemade setelah sebelumnya terbiasa makan makanan instan.  Masih menurut Gabrielle, terdapat bukti/evidence bahwa anak2 yang tereskpose/mendapatkan beragam makanan sehat dan alami, di masa mendatang akan memilih sendiri makanan sehat seimbang yang memenuhi kebutuhan nutrisinya. Dan jangan lupa, bayi-anak adalah imitator/peniru, they see, they learn, they copy. Jadi konsep memberi makanan sehat adalah untuk seluruh keluarga, bukan hanya untuk bayi-anak2 saja. Bisa intip tulisan saya: 10 Tips Orang Tua Jadi Contoh Pola Makan Yang Baik & Sehat untuk anak2

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10202928886289029&set=pb.1409280466.-2207520000.1393179840.&type=3&theater.

Pernah dengar RUTF? RUTF adalah Ready To Use Therapeutic Food. RUTF ditemukan akhir tahun 1990. Produk makanan instan yang bisa masuk kategori RUTF adalah makanan yang padat vitamin dan mineral setara dengan F100 (Formula 100). F100 adalah produk susu therapeutic yang didesain khusus untuk mengobati malnutrisi berat. RUTF sangat berguna untuk mengobati kasus malnutrisi berat yang penderitanya memiliki akses terbatas ke sumber2 bahan makanan local untuk rehabilitasi nutrisinya. Yang jadi masalah, ketika RUTF diberikan pada bayi-anak yang tidak mengalami malnutrisi berat dan diberikan setiap hari (daily diet).

Berikut kutipan dari buku Palmer: “The Use of ready made food designed for the clinical rehabilitation of severe malnutrition SHOULD NOT become the daily diet just because political leaders neglect their basic duty to provide water, to support locally sustainable food system & communicate practical nutrition information.”

Nah tepat sekali kutipan di atas dengan suara hati saya. Kembali pada poin: Rekomendasi pemberian MPASI Instan difortifikasi. Apakah pemerintah Indonesia sudah melaksanakan kewajibannya:

    1. Menyediakan air bersih
  1. Mendukung sistem dan memberi kemudahan akses (termasuk harga terjangkau) mendapatkan bahan makanan lokal kaya nutrisi.
  1. Mengedukasi masyarakat mengenai nutrisi A to Z (sehingga masyarakat paham mengenai Nutrisi dari sejak pemilihan bahan, paham apa kandungannya, cara penyiapan hingga penyajian dan untuk MPASI mengikuti panduan AFATVAH yang sudah saya jelaskan sebelumnya)? Silakan menilai sendiri.

Saya ada menyinggung kampanye Michelle Obama mengenai kembali pada memasak – makanan rumahan, salah satu janji pemerintah US adalah:

Kemiskinan adalah faktor kunci terjadinya kasus malnutrisi, tapi jangan salah, anak-anak yang lahir besar di keluarga yang  mampu bahkan kaya juga dapat menerima nutrisi yang tidak tepat/tidak optimal. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan kemampuan ekonomi yang lebih baik bagi orang Eropa dan Amerika Selatan menghasilkan keluarga yang menerima asupan bervariasi dan memiliki kesehatan yang lebih baik dibandingkan dengan yang tingkat pendidikannya lebih rendah dan kemampuan ekonominya lebih lemah.

Pemberian RUTF/ready-to-use therapeutic foods yang digunakan saat kasus gawat darurat (malnutrisi berat) dapat memberikan konsekuensi negative di kondisi normal. Salah satu potensi bahayanya misalnya, bahan makanan lokal yang murah dapat terabaikan karena strategi pemasaran & iklan – promosi RUTF yang persuasif meyakinkan anggota keluarga bahwa makanan instan (misal puree pisang dalam botol) secara kandungan nutrisi jauh lebih superior dibanding dari pisang di pasar. Problem berikutnya, nilai-nilai dasar keluarga di mana keluarga mampu menyediakan makanan sehat bergizi juga akan terkikis. Dikhawatirkan, manusia meyakini bahwa manusia tidak dapat menyiapkan makanan yang layak untuk anak-anaknya, supaya layak/bergizi baik makanan tersebut harus dibuat di pabrik. Hal lain, hilangnya kebiasaan food sharing di antara anggota keluarga (ya iyalah siapa juga orang dewasa yang mau makan MPASI instan seperti bayi/anaknya, pasti lebih memilih makan pisang asli –misalnya).

Sejak beberapa dekade terakhir, industri makanan meningkat secara pesat. Mengutip tulisan saya mengenai The Truth About Baby Food Jar:
“Berapakah besarnya pasar makanan bayi secara global? Diperkirakan besarnya lebih dari £6 billion. Coba kita konversikan ke rupiah. 1 GBP (British Poundsterling) = Rp 19.500. Jadi 6 billion GBP = 6.000.000. 000 x 19.500 = Rp 117.148.200.000.000 = 117 Triliun Rupiah!

Harap diingat bahwa ketika para orang tua membeli makanan instan tersebut mereka tidak hanya membayar untuk kandungannya tapi juga untuk pemrosesannya, pengemasannya, penyimpanan, pendistribusian, iklan, serta biaya-biaya pemasaran lainnya. Apa konsekuensinya? Commercial baby food ini harganya sangat mahal, jauh lebih mahal dari bahan aslinya.  https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10202625119735055&set=pb.1409280466.-2207520000.1393202286.&type=3&theater

Ini fakta di sini (US): Perusahaan2 yang memproduksi MPASI instan berlomba-lomba mendapatkan konsumen. Banyak sekali caranya, mulai dari pembagian brosur, mengirim direct mail, iklan TV dll untuk meyakinkan bahwa produknya yang terbaik. Gerber baru saja meluncurkan $30 million atau sekitar Rp 300 miliar lebih untuk iklan TV, media cetak dan direct mail mengusung slogan: “For Learning to eat smart, right from the start”.

Iklan tersebut berusaha meyakinkan orang tua bahwa produk Gerber: “specially formulated to help your baby develop a variety of tastes for healthier foods”. “The longer you can keep your baby on these smart [Gerber] foods now, the better her chances are for eating healthy–and being healthy–for a long time to come.” Juga iklan di bawah ber tagline Baby Food So Easy (mudah dalam pemberiannya, ga perlu repot menyiapkannya) dan penekanan kata Natural.

Bisa liat beberapa iklan videonya di:
http://www.youtube.com/watch?v=Ng7k7vhHo58

http://www.youtube.com/watch?v=1kqHJAY8afM
Sementara pesaingnya, Heinz, mengklaim “Everything you could want in a baby food!” and provide “Only the best ingredients for the best nutrition.”

Bisa dilihat Iklan Heinz , tagline: A better way to feed you baby (Cara yang lebih baik dalam memberi makan bayi Ibu)
http://www.youtube.com/watch?v=nzoRpN0NDHQ

Bagaimana iklan2 MPASI Instan di Indonesia?

    1. Promina mengusung tagline: satu-satunya bubur tim saji praktis dengan nutrisi & tekstur yang tepat.

http://www.youtube.com/watch?v=iGwKPdwKyvw
Perhatikan penekanan kata praktis, untuk saya yang mengambil program master bidang  Marketing Management dan pernah bekerja sebagai Brand manager sebuah brand fast moving consumer goods, campaign tersebut juga akan “leading” pada persepsi menyiapkan MPASI homemade itu ribet/repot.
2. Cerelac mengusung tagline: Gizinya pasti, harga pas. Pilihan cerdas esok cemerlang.
http://www.youtube.com/watch?v=ZoCSIDv13k8
3. Milna mengusung tagline Ahlinya makanan bayi, dengan bla bla bla agar bayi Anda tumbuh optimal.
http://www.youtube.com/watch?v=igS7VMdAj5c

Di bagian akhir tulisan ini yang semoga bagi yang sudah membaca lengkap mendapat gambaran utuhnya, pertanyaan yang sering diajukan itu kan: What Parents Should Do?
1. Berikan bayi-anak kita nutrisi yang paling baik serta ekonomis.

Ingat bagian 3: Food is more than nutrition? Kampanye kembali memasak? Dilanjutkan Bagian 4 : Serba serbi MPASI & zat besi? Cara memilih bahan, mengolah, menyajikan, dan menyimpan, semua itu perlu ILMU. Dan tidak bisa para ibu hanya menyalahkan tim kesehatan yang tidak pernah mengedukasi atau mendapat informasi yang kurang tepat, kurangnya kampanye pemerintah mengenai hal ini, lebih baik para ibu proaktif. Sudah banyak kelas-kelas Persiapan MPASI, bergabung dengan grup-grup kesehatan yang reliable. Kunjungi website-website kredibel (saya pernah kasih tips ya cara mencari sumber dari website credible).

2. Paham kapan saat yang tepat memberikan MPASI instan.
Kembali pada penjelasan Palmer mengenai penggunaan RUTFs (Ready to Use Theurapeutic Foods), maka MPASI Instan difortifikasi dapat diberikan saat anak menderita kasus malnutrisi atau sudah mendekati tahap malnutrisi DAN akses mendapatkan bahan makanan kaya gizi dan spesifik untuk malnutrisinya itu sulit. Sulit di di sini bisa 2, bisa sulit karena tidak mampu (kondisi kemiskinan) dan atau sulit mendapatkannya di daerah ibu tinggal. (key point: RUTFs is NOT for daily diet for healthy baby & easy access to get nutritious food).

Ada kondisi-kondisi di mana ibu tidak dapat menyiapkan MPASI homemade seperti ibu sakit, dalam perjalanan dan kondisi-kondisi emergency lainnya. Maka pemberian MPASI Instan adalah salah satu solusi. Jangan sampai bayi tidak mendapatkan MPASI yang mencukupi karena ibu ngotot ingin selalu memberi MPASI homemade. Sama seperti adanya kasus ibu yang ngotot memberi ASIx padahal bayinya sudah terindikasi kurang asupan.
Ketika Ibu membeli MPASI Instan, berikut ini What To Do Listnya:

  1. Pastikan kemasan tertutup rapat & dalam kondisi baik.
  1. BACA LABEL Kemasan:

–          Pilih yang tanggal kadaluwarsanya masih cukup lama.
–          Baca kandungannya, bandingkan nilai kalori & lainnya dengan merek lainnya, jangan hanya terpengaruh iklan & promosi.

3. Ketika dibuka/sebelum penyajian pertama, pastikan baik bau, tekstur dan rasa tidak ada yang aneh.
4. Ikuti saran penyajian di kemasan. Sama seperti penyajian susu formula, tidak boleh air dikurangi atau ditambah yang akan mengurangi kandungan zat gizinya.

Alinea penutup, ada 2 kutipan menarik  untuk pemerintah dan pihak-pihak yang berkaitan: “Strategies for the control of micronutrient malnutrition
Policy and programme responses include food-based strategies such as dietary diversification and food fortification, as well as nutrition education, public health and food safety measures, and finally supplementation. These approaches should be regarded as complementary, with their relative importance depending on local conditions and the specific mix of local needs.

Of the three options that are aimed at increasing the intake of micronutrients, programmes that deliver micronutrient supplements often provide the fastest improvement in the micronutrient status of individuals or targeted population.

Food fortification tends to have a less immediate but nevertheless a much wider and more sustained impact. Although increasing dietary diversity is generally regarded as the most desirable and sustainable option, it takes the longest to implement.” 

“Gabrielle Palmer: In common with many others, my vision is of a world where there is egalitarian food security for all; where the majority of humans get their nutrients from their food (and sunshine); where unbiased public education ensures that families have the knowledge and skills to feed their children without the need for different or specially made foods and where government policies protect public health rather than private profit. “ -dalemm pesannya…

Keypoint Bagian 5:

    1. Kecenderungan menyukai suatu rasa dibentuk sejak awal kehidupan dan cara pemberian makan awal bayi (MPASI) dapat membentuk bayi/anak menginginkan rasa yang terlalu manis, asin, makanan-minuman rendah nutrisi untuk jangka panjang.
    1. Terdapat bukti/evidence bahwa anak2 yang tereskpos/mendapatkan beragam makanan sehat dan alami di masa mendatang akan memilih sendiri makanan sehat seimbang yang memenuhi kebutuhan nutrisinya.
    1. Kemiskinan adalah faktor kunci terjadinya kasus malnutrisi, tapi jangan salah, anak-anak yang lahir besar di keluarga yang mampu bahkan kaya juga dapat menerima nutrisi yang tidak tepat/tidak optimal.
    1. Sejak beberapa dekade terakhir, industri makanan meningkat secara pesat. Harap diingat bahwa ketika para orang tua membeli makanan instant tersebut mereka tidak hanya membayar untuk kandungannya tapi juga untuk pemrosesannya, pengemasannya, penyimpanan, pendistribusian, dan iklan serta biaya-biaya pemasaran lainnya.
    1. MPASI instan difortifikasi dapat diberikan saat anak menderita kasus malnutrisi atau sudah mendekati tahap malnutrisi DAN akses mendapatkan bahan makanan kaya gizi dan spesifik untuk malnutrisinya itu sulit. Sulit di di sini bisa 2, bisa sulit karena tidak mampu (kondisi kemiskinan) dan atau sulit mendapatkannya di daerah Ibu tinggal. (key point: RUTFs is NOT for daily diet for healthy baby & easy access to get nutritious food).
    1. Ada kondisi-kondisi di mana ibu tidak dapat menyiapkan MPASI homemade seperti ibu sakit, dalam perjalanan dan kondisi-kondisi emergency lainnya.
    1. Ketika Ibu membeli MPASI Instan, perhatikan What To Do Listnya.

 

Sumber :

1. A discussion paper developed for the International Baby Food Action Network (IBFAN)by Gabrielle Palmer

2. http://www.cdc.gov/nutrition/everyone/basics/vitamins/iron.html

3. Laporan Riskesdas 2013 Kemenkes RI

4. Laporan Riskesdas 2007 Kemenkes RI

5. Complementary Feeding : Nutrition, Culture & Politics book by Gabrielle Palmer

6. Key message booklet UNICEF 2012

7. Guiding Principle of Complementary Feeding WHO 2010

8. Infant and young child feeding (IYCF) Model Chapter for textbooks for medical students and allied health professionals-WHO

9. Guidelines on food fortification with micronutrients
10.  The Truth About Baby Food jar : http://www.thealphaparent.com/2013/02/the-truth-about-baby-food-jars.html?m=1

11.  Cheating Babies: Nutritional Quality and Cost of Commercial Baby Food – Daryth D. Stallone, Ph.D., M.P.H. Michael F. Jacobson, Ph.D.

12.  http://idai.or.id/public-articles/seputar-kesehatan-anak/anemia-defisiensi-besi-pada-bayi-dan-anak.html

13.  http://idai.or.id/wp-content/uploads/2013/02/Rekomendasi-IDAI_Suplemen-Zat-Besi.pdf

14.  http://aapnews.aappublications.org/content/early/2010/10/05/aapnews.20101005-1.full?rss=1

15.  http://ods.od.nih.gov/factsheets/Iron-HealthProfessional/

16. http://www.iom.edu/Global/News%20Announcements/~/media/48FAAA2FD9E74D95BBDA2236E7387B49.ashx

17.  http://ods.od.nih.gov/factsheets/Iron-HealthProfessional/

18.  http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/002461.htm

19.  http://ajcn.nutrition.org/content/71/5/1280s.full

20.  http://pediatrics.aappublications.org/content/117/4/e779.abstract

21.  http://www.bmj.com/content/343/bmj.d7157

22. https://www.acog.org/Resources_And_Publications/Committee_Opinions/Committee_on_Obstetric_Practice/Timing_of_Umbilical_Cord_Clamping_After_Birth
Bagian 1 : Rekomendasi dokter2 IDAI pemberian MPASI Instan Difortifikasi :

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10203216244032793&id=1409280466

Bagian 2 : Anemia Defisiensi Besi (ADB) :

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10203216730884964&set=a.1070999501093.13218.1409280466&type=1&theater

Bagian 3 : Food is MORE THAN Just Nutrition = Makanan Tidak Hanya Sekedar Untuk memenuhi kebutuhan Nutrisi / Gizi :

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10203217513784536&set=a.1070999501093.13218.1409280466&type=1&relevant_count=1

Bagian 4 : Serba-Serbi MPASI , dengan fokus pada kandungan zat besi MPASI:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10203221299919187&id=1409280466

Bagian 5 : Seputar MPASI Instan

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10203221983616279&set=pb.1409280466.-2207520000.1397218728.&type=3&theater

Continue reading

Ulasan Kuliner

Grup Wa ibu pebe sedang bikin lomba review kuliner sesuai lokasi penugasan, sekalian ditulis di sini saja ya…

  1. Lempah Kuning

lempah

Waktu kami bertugas di Bangka dulu, tepatnya di kota Pangkalpinang, ada satu masakan yang jadi andalan untuk dicari saat saya sedang tak enak badan. Sebab, aroma dan rasanya yang lumayan tajam ampuh menggugah nafsu makan yang biasanya meredup kala sakit menyapa.  Rasa masam, pedas, manis segarnya kontan membangkitkan selera, bahkan ketika baru wanginya yang tercium.

Ini dia sayur lempah kuning. Secara sederhana bisa didefinisikan sebagai masakan ikan (bisa diganti dengan sumber protein hewani lainnya) berkuah yang dimasak dengan rempah-rempah. Ada sebuah warung makan yang menurut kami menyediakan lempah kuning terenak, dan alhamdulillah letaknya tidak terlalu jauh.

2. Kerak Telor

IMG_20151011_103238

Saya masih ingat beberapa tahun lalu saya dan keluarga besar berkunjung ke Pekan Raya Jakarta, dan di situlah saya berkenalan dengan makanan ini untuk pertama kalinya. Awalnya heran juga, ini makanan apa, sih? Semacam omelet ketan ditaburi bumbu rempah dan ebi halus?

Pada dasarnya saya ini penyuka makanan gurih, hal itulah yang mungkin membuat saya spontan ‘jatuh cinta’. Lebay mungkin. Tapi apa lagi yang bisa digunakan untuk mendeskripsikan kerelaan menyisihkan waktu dan tenaga mampir ke Atrium Senen setidaknya sepekan sekali semasa saya magang di Lapangan Banteng, hanya demi mengobati rasa rindu pada kerak telor?

Bahkan saat saya hamil di Pangkalpinang, girang hati ini begitu tahu sudah ada penjual kerak telor mangkal di Lapangan Merdeka. Ngidam saya dengan mudah terpenuhi. Kini saat bertugas kembali di Jakarta, tentu bukan hal sulit mencari penjaja kerak telor. Tapi demi membuatnya tetap spesial, saya tak hendak jor-joran memenuhi hasrat menyantapnya. Pameran-pameran yang diselenggarakan di Lapangan Banteng biasanya menjadi ajang temu kangen saya pada makanan satu ini, walaupun terkadang kecewa karena rasanya memang tidak standar. Tak ketinggalan putri sulung saya pun ikut minta dibelikan, lalu makan dengan lahap.

Serba-serbi MPASI dari Grup AIMI

Disclaimer: tulisan ini disusun berdasarkan rekomendasi pada saat itu. Semoga dapat memberikan wawasan bahwa memang ilmu terus berkembang dan akses terhadap informasi pun makin luas sehingga bisa jadi apa yang direkomendasikan dahulu berbeda dengan sekarang.

=============================

Bahasan mengenai makanan pendamping ASI untuk bayi/batita (sebetulnya bisa juga beberapa prinsipnya dipertahankan hingga anak besar bahkan dewasa, seperti kelengkapan gizi) di grup facebook Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia ini panjaaang dan lengkap, sayang kalau nggak disimpan begini.

Untuk catatan MPASI dari grup HHBF bisa dibaca di sini ya https://ceritaleila.wordpress.com/2016/07/27/serba-serbi-mpasi-dari-grup-hhbf/.

Halo, selamat sore..masih ada yang memberikan bubur nasi dan wortel saja atau bubur nasi dan bayam saja sementara bayi sudah berusia lebih dari 6,5 bulan? Atau bahkan hanya memberikan puree buah sebagai makan siang bayi berumur di atas 6,5 bulan? Yuuk segera diubah pola pemberian MPASI-nya Atau bayi Anda bisa mengalami anemia defisiensi besi yang berakibat pada seretnya kenaikan berat badan

Panduan WHO mengisyaratkan agar makanan pertama yang dikenalkan adalah kategori makanan pokok (karbohidrat) sesuai jenis makanan pokok yang dikonsumsi keluarga. Sesuaikan tekturnya dengan syarat tekstur MPASI yang benar. Untuk perkenalan awal mpasi, paling lama 2 minggu pertama dikenalkan bubur/puree tunggal dari satu bahan, boleh ditambah ASI atau air, jaga tekstur agar tetap semi kental (yang bila diletakkan di sendok dan sendok dibalik tidak mudah tumpah). Frekuensi makan 1-2 kali sehari dengan porsi 2-3 sendok makan dewasa tiap kali makan. Kenalkan semua bahan makanan dari mulai kategori karbohidrat/makanan pokok, buah dan sayur, kacang2an dan sumber-sumber protein hewani dan nabati.

Setelah dua minggu masa perkenalan kenalkan bubur saring lengkap karbohidrat dan sayur ditambah protein hewani dan protein nabati serta sumber lemak tambahan seperti minyak/margarin. Frekuensi makan 2-3x sehari dan dapat diberikan 1-2 kali cemilan bila bayi mau.

Jadi, dalam setiap piring makan anak jangan hanya ada nasi dan sayur atau nasi dan telur ya… lengkap semua elemen gizinya dari mulai karbohidrat, vitamin dalam sayur mayur, protein hewani-nabati dan sumber lemak. Jadi sudah seperti piring dewasa yaa…ada nasi, sayur dan lauk

Menunya apa? Sebetulnya apapun yang dimakan keluarga bisa digunakan. WHO menyarankan makanan bayi adalah makanan yang bisa didapatkan di lingkungan kita. Kalau di rumah ibu membuat sayur sop, sayuran yang digunakan utk sayur sop bisa diberikan ke bayi, dengan bumbu dan tekstur sesuai usia bayi. Jika ada riwayat alergi, perhatikan makanan apa saja yang berpotensi alergi pada anak.

Mari perbaiki MPASI si kecil yuk Bu…MPASI berkualitas dan bervariasi bukan hanya membuat bayi tidak mudah bosan, tapi juga menjamin ketercukupan nutrisinya

(admin, KL AIMI)

Continue reading

Kultwit dr. Ian tentang Picky Eater

Berikut ini kultwit dari dokter keluarga kami, dr. Farian Sakinah atau dr. Ian beberapa tahun yang lalu di https://twitter.com/rumahlabeeba tentang picky eater.

Siang, tweeps… Mau sharing lagi. Kali ini tentang si #pickyeater #BabyK. Ada yang punya putra or putri yang sama dengan BabyK?

Sebenarnya #BabyK udah gak baby, sudah 2 tahun. Tapi kalau yang sudah pernah ketemu, first impression-nya (mostly): imut! Apalagi dibandingkan dengan ibunya.

Selama Januari – Mei 2012 #BabyK, #Beeba serta orang rumah 6 kali kena batpil. Ada yang disertai demam ± minggu, ada yang 1 minggu, yang cukup pengaruh terhadap nafsu makan.

Yup, pascasakit lama itu #BabyK jadi sangat sangat #pickyeater, susah sekali makan. Apalagi sejak saya resign dan lebih banyak di rumah, maunya nenen terus.

Hampir setiap makanan yang ditawarkan ditolak, kalaupun mau hanya sesuap dua suap. Bersemangat kalau diberi buah. Sisanya maunya air putih, susu, ASI.

Boleh dibilang sejak saya resign #BabyK kayak bayi lagi, tiap 2 jam minta nenen. Setiap lapar minta nenen. Jadi hampir tidak ada makan berat yang masuk.

Tapi, tetap selalu ditawarkan. Meski ya lebih banyak ditolak. Tapi prinsip saya, saya tidak mau memaksa anak untuk makan. Makan harus jadi momen yang fun.

Meski harus tahan cibiran: “Ih emaknya gede, anaknya segede gini”. Yah gpp, toh anak saya aktif, bahkan perkembangannya termasuk early bloomer.

Alhamdulillah. Dengan keyakinan: anak sehat (tanpa ada kondisi sakit kronis) pasti akan lapar juga. Yah, setelah 2 bulan berlalu #BabyK mulai minta makan.

Continue reading

Si Gurih Renyah Keritcu

kritcu-4kritcu-1kritcu-3

 

Ini salah satu hasil penugasan saat KKN di STIE Pertiba Pangkalpinang tahun 2009. Daripada hilang bersama dengan dihapusnya blog lama, dimuat kembali di sini saja. Kebetulan lagi kangen juga makan keripik nan renyah dan gurih ini.

Bp. Djunaidi Sarimin (67 tahun) merintis usaha keripik telur cumi atau keritcu/kritcu ini pada tahun 1998. Saat itu Bp. Djunaidi yang seorang pensiunan PT Timah, Tbk. menangkap adanya peluang, karena jenis makanan kecil ini memang belum ada yang menjual. Awalnya Bp. Djunaidi melakukan survei terlebih dahulu di toko-toko untuk menentukan bentuk dan kemasan seperti apa yang diminati masyarakat khususnya anak-anak. Ditemukanlah bentuk mirip stik kecil-kecil. Kemudian penjajakan bahan baku dilakukan pula dengan cara mendatangi pabrik pengolahan cumi-cumi di kawasan Pangkalbalam. Di sana cumi-cumi diolah untuk kepentingan ekspor, sedangkan telurnya belum dimanfaatkan secara maksimal. Tambahan modal diperoleh dari pinjaman BUMN.

Saat itu harga satu kilo telur cumi hanya seribu rupiah, dan Bp. Djunaidi membeli 5 kilogram. Hasil jadinya dijual seharga Rp 12.000,00 dan dipasarkan dengan sistem titipan ke toko-toko oleh-oleh yang ada di kota Pangkalpinang. Rasalina dipilih sebagai merk dagang, yang merupakan akronim dari Rasa Lautan Indonesia (sekaligus mendekati nama istri Bp. Djunaidi). Pekerjaan menjemput bahan baku dan mengolah keritcu ini masih ditangani langsung oleh Bp. Djunaidi berdua istri, dengan basis tempat tinggal mereka di Jl. Adyaksa No. 180 Kacangpedang Pangkalpinang. Penambahan pekerja musiman untuk membantu hanya dilakukan apabila benar-benar diperlukan.

Hambatan yang ditemui dalam perkembangannya antara lain bahan baku telur cumi tidak selalu tersedia, karena sangat tergantung dengan kondisi laut. Tsunami tahun 2004 yang lalu membuat nelayan tidak lagi terlalu berani mengambil risiko melaut di tengah cuaca yang kurang bersahabat. Ini membuat pelebaran sayap untuk dikirim ke daerah lain dalam jumlah besar yang pernah dilakukan pada tahun 2000-an terpaksa terhenti. Daya tahan produk sendiri tak sampai dua bulan untuk kualitas terbaik. Kemudian harga bahan-bahan lain seperti tepung tapioka dan minyak goreng, juga bahan bakar untuk memasak semakin menanjak. Di sisi lain, jika harga jual ikut dinaikkan berarti akan mengurangi daya saing di pasaran. Apalagi kini sudah banyak sekali produsen makanan serupa yang berlomba-lomba menempatkan produknya di toko.

Kemasan produk keritcu sudah mengalami lima kali perubahan. Pada tahun 2001, keritcu Rasalina memenangkan lomba pengemasan UKM se-Sumatra Selatan. Saat ini ada beberapa jenis kemasan dari plastik hingga kotak. Walaupun harga bahan kemasan berbeda-beda, tetapi harga jualnya sendiri tetap sama dengan kemasan apa pun. Yang membedakan adalah daerah pemasaran. Untuk dititipkan di warung-warung misalnya, kemasan plastik biasa terbukti lebih menarik karena orang yang hendak membeli bisa melihat langsung isinya. Sedangkan untuk keperluan pameran dan toko tertentu dipakai kotak dengan ‘jendela’ plastik bening di depannya.

Desain dan beberapa kemasan awal merupakan bantuan dari pemerintah, bersama alat untuk menutup kemasan (awalnya masih manual menggunakan lilin). Setelah kemasan bantuan habis, Bp. Djunaidi harus memesan sendiri kemasan dengan desain yang sudah ada. Pada bungkus, selain merk dicantumkan pula bahan-bahan pembuatan keritcu, logo halal, alamat yang bisa dihubungi, juga versi bahasa Inggris keterangan tersebut dengan tujuan agar lebih dikenal dan dipercaya konsumen.

Sekarang keritcu Rasalina sudah semakin berkembang. Harga untuk kemasan ukuran 250 gram adalah 15 ribu rupiah. Perputarannya di toko termasuk cepat dan termasuk salah satu merk favorit pembeli. Bahkan sudah merambah juga ke kota-kota lain seperti Palembang, Jambi, Batam, dan Jakarta walaupun tidak dikirim sendiri melainkan dibawa oleh pembeli dalam jumlah banyak.

Salah satu kelebihan lain adalah tempat pembuatannya yang strategis dan mudah dikunjungi oleh umum. Sehingga pelanggan yang berminat bisa langsung datang untuk membeli tanpa melalui toko dan pihak-pihak yang ingin mengadakan penelitian, studi banding atau sejenisnya juga bisa mencapainya dengan mudah. Bp. Djunaidi memang mengaku tidak ada rahasia dalam usahanya, setiap orang boleh saja datang untuk menimba ilmu. Rombongan dari Dinas Perindustrian Maluku pernah berkunjung untuk mempelajari pengolahan telur cumi.

Penghargaan dan berbagai sertifikat pengakuan berhasil diperoleh, termasuk liputan di berbagai media. Dalam wawancara dengan tabloid bisnis nasional ‘Kontan’ bulan April lalu, Bp. Djunaidi menyatakan bahwa omzetnya sekitar 12 juta rupiah perbulan. Satu cabang usaha keritcu Rasalina telah dibuka di Sungailiat (Kab. Bangka), dikelola oleh putra Bp. Djunaidi.

Menurut Bp. Djunaidi, dirinya tetap optimis bahwa usaha keritcu Rasalina akan tetap bertahan. Sebab, yang diutamakannya adalah kualitas. Selain itu keritcu sudah menjadi komoditas unggulan kota Pangkalpinang dan tidak ada duanya di daerah lain sehingga akan selalu ada pembeli khususnya untuk oleh-oleh maupun cemilan di rumah. Pelanggan pun sudah bisa membedakan mana keritcu yang benar-benar bermutu dengan yang terlalu banyak memakai bumbu penyedap. Produksi keritcu pun tergolong kontinyu, tidak musiman seperti beberapa merk lain sehingga memudahkan dalam membentuk pasar pelanggan setia. Walaupun ada keterbatasan bahan baku sehingga produksi pun tidak bisa dilakukan setiap hari (maksimal hanya tiga hari sepekan), tetapi ini justru dianggap sebuah efisiensi. Antara lain karena tidak perlu menambah pekerja yang tentunya memerlukan upah lebih banyak. Sebagai usaha tambahan, Bp. Djunaidi juga memproduksi kemplang, tetapi tidak dalam jumlah besar dan tidak tentu waktunya.

Saking semangatnya motret aktivitas sampai lupa ambil foto keritcunya sendiri. Nah, ini dia nih yang namanya keritcu (tapi merk lain hehehe).

.SAMSUNG DIGIMAX A403kritcu-5

MPASI Perdana, Apa, Ya?

Disclaimer: tulisan ini disusun berdasarkan rekomendasi pada saat itu. Semoga dapat memberikan wawasan bahwa memang ilmu terus berkembang dan akses terhadap informasi pun makin luas sehingga bisa jadi apa yang direkomendasikan dahulu berbeda dengan sekarang.

==============================================================

Ngumpulin beberapa artikel dari berbagai sumber, buat ditengok sewaktu-waktu perlu informasi mengenai MPASI awal.

Yang ini dari milis MPASI Rumahan (mengacu pada brosur complementary feeding dari WHO).

Brosur MPASI Alih bahasa (unicef)(1)-page-001 Brosur MPASI Alih bahasa (unicef)(1)-page-002

Brosur Apakah MPASI itu-page-001Brosur Apakah MPASI itu-page-002

Yang ini kultwit dari AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) menggenai MPASI, diterjemahkan dari IYCF WHO 2010.

Apa sih poin-poin penting MPASI atau Infant and Young Child Feeding?

Poin-poin penting MPASI antara lain: Age, Frequency, Amount, Texture, Variety, Active/Responsive dan Hygiene. Disingkat menjadi AFATVAH.

AGE
Artinya, MPASI diberikan pada saat yang tepat, yaitu usia 6 bulan (180 hari). Kalo telat, risikonya: bayi tidak dapat cukup nutrisi untuk pertumbuhan, tumbuh kembangnya lebih lambat, malnutrisi & defisiensi gizi seperti zat besi dll.

FREQUENCY
Perhatikan frekuensi pemberian MPASI. Di awal mulai makan (umur 6 bln), 1-2x/hari. Lalu tambah jadi 2-3x plus 1-2x makanan ringan. Sejak umur 9 bulan, berikan 3x makan dan 2x selingan makanan ringan. Umur 1 tahun ke atas, kasih 3-4x makan dan 2x selingan.

AMOUNT
Jumlah makanan tentu harus diperhatiin ya. Pas baru mulai makan, mulai dengan sesuai selera bayi, lalu tingkatkan secara bertahap. Umur 6bln (awal) mulai dengan 2-3 sdm setiap kali makan. Notice your baby’s cues :). Tingkatkan secara bertahap sampai setengah mangkok ukuran 250ml utk usia 6-9 bln. MPASI Setelah umur 9-12bln, diharapkan udah mulai makan setengah-tiga perempat mangkok ukuran 250ml. Setelah umur 1thn, porsi rata-rata 1 mangkok ukuran 250ml.

TEXTURE
Tekstur makanan sangaaaat penting. Anak kan lagi belajar makan, jadi harus bertahap teksturnya sampai bisa jago makan kayak emaknya :D.

Tahapan tekstur ini jangan terlalu cepet, tapi jangan terlalu lambat juga. Waktu mulai makan umur 6 bulan, kasih bubur kental atau puree. Jangan terlalu encer atau terlalu kental. Patokannya? Kalau MPASI-nya ditaro di sendok, sendoknya dimiringin, itu puree/bubur gak langsung tumpah.

Setelah mulai makan beberapa minggu, sampai umur 9 bulan kasih bubur yang lebih kental atau bubur saring. Mulai umur 9 bulan udah bisa dikasih makanan cincang halus, yang penting tidak keras, dan mudah dijumput anak. bagian2 yg sulit dikunyah seperti daging sapi.

VARIETY
Keberagaman makanan adalah kunci gizi seimbang. Karena gak ada satu pun bahan makanan yang mengandung semua gizi. MPASI boleh dimulai dgn bubur serealia atau puree buah. Gak usah berantem cuma bahas ginian, yang penting, secepatnya kenalkan bahan makanan yang bervariasi. Inget, kebutuhan energi dan zat gizi lainnya meningkat terus, sedangkan cadangan zat besi menurun drastis di usia 6bln.

Sejak umur 6bln mulai kenalkan semua variasi makanan: pangan pokok (serealia, ubi2an), buah, sayuran, kacang-kacangan, dan sumber hewani. Jadi, variasi sama di semua umur (alias sevariatif mungkin), yang berubah cuman tekstur dan jumlah+frekuensi yg meningkat.

ACTIVE/RESPONSIVE
Pemberian makan secara aktif dan responsif terhadap bayi/anak. Gak ada lagi yaaaa cerita nyalain tv atau jalan keliling komplek biar anak tinggal mangap dan glek. Respon anak dengan senyum, jaga eye contact, kata-kata positif yang menyemangati. Suapin pelan-pelan, sabar, ceria, penuh humor. Biar asik gitu loh.

Kasih makanan yang bisa dia pegang (seukuran jari, lunak) jadi dia akan ikut makan sendiri. Lah mainan aja masuk mulut apalagi makanan :P. Jangan ada distraction ya. Biar anak tetap tertarik sama makanannya. Boleh dipangku kalo dia lebih nyaman, tapi jangan gendong jalan-jalan ya 🙂

Poin penting MPASI terakhir tapi juga yang utama: HYGIENE alias higienis. Pastikan makanan bebas patogen (cuci tangan, pilih makanan segar, simpan dan masak dengan baik). pastikan juga MPASI bebas toksin/racun, tidak ada bahan kimia berbahaya, tidak ada tulang atau bagian keras yang bisa bikin keselek, tidak panas mendidih.

Panduan selengkapnya dari UNICEF 2012 (terbaru saat ini) bisa diunduh lewat sini http://www.unicef.org/nutrition/index_58362.html.

Lebih lengkap seputar MPASI tengok postingan yang ini yuk…. https://ceritaleila.wordpress.com/2014/12/05/serba-serbi-mpasi-dari-grup-aimi/

Tambahan pamflet, dari akun dr. Wiyarni Pambudi, Sp.A,. IBCLC.

14233163_10208992584083490_5372395030799339114_n.jpg

 

Update Oktober 2018:

Panduan MPASI dari IDAI bisa diunduh di sini  atau di sini