[Resensi Buku] Petualangan Rumi

Judul Buku: Petualangan Rumi
Penulis: Dewi Rieka @dedew_writer
Ilustrasi: Inke Alverinne @inkealverinne
Penerbit: Grasindo @grasindo_id
Tahun terbit: 2019
Jumlah halaman: 92
Kategori usia: 7+

Waktu yang terbatas membuat saya belum sempat mencari lagi buku tentang ayah sebagaimana tema @children.bookstagram.id beberapa hari ini. Tiba-tiba Fahira mengusulkan buku ini, yang walaupun terbitnya sudah agak lama tapi masih selalu di hatinya.

Iya juga, ya. Meskipun judulnya tidak secara langsung menyebutkan “Ayah”, tetapi buku ini memang bercerita mengenai waktu yang dihabiskan anak-anak bersama ayahnya. Ceritanya, tokoh Papa dengan kedua putra-putrinya, Agga dan Mozza, tinggal di Jakarta, sedangkan Mama sehari-hari bekerja di Bali. Kali itu mereka ingin memberikan kejutan kepada Mama dengan datang tanpa mengabarkan sebelumnya. Kebetulan, Papa mendapatkan pinjaman mobil karavan dari bosnnya, yang lalu mereka namai Rumi si Rumah Mungil.

Dalam perjalanan, mereka mampir ke beberapa tempat menarik seperti gedung bersejarah dan pantai, juga tak lupa berwisata kuliner. Pembaca jadi ikut belajar mengenai histori suatu daerah dan makanan khasnya. Terdapat juga beberapa aktivitas terkait cerita yang bisa diisi/dikerjakan oleh anak.

Saya sudah pernah mengulas buku ini tak lama setelah terbit. Waktu itu Fahira, yang baru berusia 4,5 tahun, berkomentar, “Dedek mau yang kayak gitu. Asyik, bisa buat tidur, bisa buat masak.” Lima tahun berlalu dan Fahira masih terus menjadikan buku ini salah satu favoritnya, meski banyak buku baru yang ia baca. Bahkan selama sebulan ini Fahira minta saya membaca satu cerita dari sini setiap malam. Ia langsung berkomentar kalau saya salah sebut atau keliru membaca, yang menandakan bahwa sebetulnya Fahira sudah cukup hafal hingga kata per katanya. Seseru itu memang cerita yang disajikan, bikin nggak bosan-bosan untuk diulang.

Kira-kira bakal ada lanjutannya lagi nggak, ya? Mungkin akhirnya mereka bisa membeli sendiri mobil serupa Rumi dan bertualang ke wilayah lain di Indonesia? Pasti seru, deh.

Episode Baru di Kampus Ibu Profesional: Ibu Pembaharu

Akhirnya tibalah saya pada tahapan terakhir (sejauh ini) pada Institut Ibu Profesional, yaitu Bunda Salihah. Baru mulai, sih jadi belum tahu seperti apa nanti kelanjutannya. Sanggupkah saya bertahan?

Jika tahapan awal yaitu Bunda Sayang berkaitan dengan cara mendidik anak dengan baik, berikutnya Bunda Cekatan membahas pengelolaan keluarga yang baik, lalu Bunda Produktif menempa supaya perempuan dapat mandiri dan memiliki jati diri, maka Bunda Salihah akan mengasah agar keberadaan ibu bermanfaat bagi diri, keluarga, hingga lingkungan sekitarnya.

Dengan cepatnya perubahan zaman, tentu para ibu juga harus lincah beradaptasi. Bunda Salihah Batch #1 ini berfokus pada tema Ibu Pembaharu, ibu yang mampu menemukan masalah kemudian mengubahnya menjadi tantangan hidup, sehingga bisa menciptakan solusi untuk masalah tersebut. Dengan bergerak bersama-sama, harapannya tercipta ekosistem agar solusi ini bisa mendukung proses adaptasi di tengah dunia yang terus bergerak.

Continue reading

Menjaga Quality Time bersama Keluarga sebagai Ibu Bekerja

“Semangat pagiii, Buibu. Lagi apa, nih?”

Pagi tadi sebuah pesan muncul di salah satu grup Whatsapp yang saya ikuti. Ada yang menyahut sedang sibuk antre untuk mendaftarkan anak ke sekolah incaran (iya, pendaftaran untuk tahun ajaran depan sudah dimulai sejak hari-hari ini), ada yang bersiap berangkat ke tempat kursus, ada yang sedang berdandan untuk menghadiri pesta pernikahan kerabat, ada pula yang masih sibuk menuntaskan cucian di rumah.

Saya spontan menjawab apa adanya, masih sibuk menyelesaikan pekerjaan kantor. Ya, kantor boleh saja libur, tetapi ada beberapa pekerjaan yang belum beres dan akhirnya harus dilembur di rumah. Apalagi beberapa tahun belakangan saya ditugaskan di bagian yang pekerjaannya seringkali tidak kenal waktu.

Dulu, di bagian sebelumnya, saya sering pulang menjelang tengah malam pada akhir tahun begini karena memang tamu yang datang ke kantor pun membludak. Saat ini tugas saya seringkali bisa dikerjakan di rumah sehingga tidak perlu pulang terlalu malam, tetapi imbasnya memang kadang penugasan datang tiba-tiba berdasarkan permintaan maupun peristiwa yang terjadi. Pada beberapa kesempatan, ada juga tugas lapangan yang membuat saya harus datang ke tempat tertentu sebagaimana arahan yang diberikan.

Jadi, mau sedang jalan-jalan bersama keluarga di hari Minggu, lagi malam takbiran di kampung halaman, di tengah-tengah antrean panjang di rumah sakit yang sebentar lagi padahal sudah sampai ke nomor saya, selama masih memungkinkan maka sebisanya tugas dituntaskan. Alhamdulillah rekan-rekan kerja dan terutama atasan sangat memahami pentingnya menyediakan waktu untuk keluarga, sehingga kami semua bisa saling bahu-membahu menangani pekerjaan yang ada kalaupun ada anggota tim yang berhalangan. Apalagi jika sudah menyangkut keperluan keluarga yang sifatnya darurat.

Continue reading

Kilas Balik Tahun 2018

Tahun 2018 menjadi tahun yang penuh kesan bagi saya dan keluarga. Sejumlah peristiwa penting terjadi sepanjang tahun lalu, yang membuat beberapa perubahan juga pada dunia kami.

Salah satu kebahagiaan yang kami peroleh adalah karena suami telah menyelesaikan tugas belajarnya. Dua tahun sebelumnya, suami memang memperoleh beasiswa dari instansi tempatnya bertugas untuk melanjutkan pendidikan di Yogyakarta. Tentunya ini juga berarti selama itulah kami menjalankan Long Distance Marriage alias LDM, karena saya juga belum bisa meninggalkan penugasan saya di Jakarta.

Kembali serumah setelah sempat berjauhan, di mana dulu suami hanya pulang sekitar dua minggu sekali karena tugas-tugas kuliah yang cukup banyak, artinya ada adaptasi lagi di keluarga kami. Paling senang sih karena sekarang jadi bisa berangkat ke kantor sama-sama :D.

Continue reading

Sadanis, Deteksi ‘Sederhana’ Kanker Payudara oleh Nakes

Seperti pernah saya sebutkan dalam postingan sebelumnya, bulan Oktober ditetapkan oleh WHO sebagai Breast Cancer Awareness Month. Sejumlah institusi mengadakan kegiatan berkaitan dengan kepedulian terhadap kanker payudara ini. Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) pun tak ketinggalan menggelar deteksi dini gratis terhadap kanker payudara maupun kanker leher rahim dengan metode yang cenderung lebih sederhana dan cepat diketahui hasilnya. Seperti biasa, selagi memungkinkan, saya tak menyia-nyiakan kesempatan.

Dari beberapa poster berhias balon pink cantik (dibentuk menyerupai pink ribbon yang menjadi lambang kepedulian terhadap kanker payudara) yang terpasang di RSCM Kencana, saya mengetahui bahwa setiap tahun ditemukan tujuh juta penderita kanker payudara di dunia, dan lima juta meninggal tiap tahun. Di Indonesia, kanker payudara merupakan peringkat pertama, diikuti kanker leher rahim. Seringkali kanker tersebut ditemukan telah berada pada stadium lanjut, sehingga sudah agak terlambat pula untuk ditangani. Beberapa waktu yang lalu saya menuliskan cerita dari para survivor atau penyintas kanker payudara. Kedua narasumber dalam acara yang saya ikuti tersebut sepakat bahwa deteksi dini amatlah penting, agar jika terdapat masalah bisa ditangani sesegera mungkin.

Baca juga: Peduli Kanker Payudara Lewat Deteksi Dini

Continue reading

Dengan Seulas Senyuman

Apakah kau masih di sana, Sayang? Aku tahu, kala itu kau masih terlampau mungil untuk memberikan tanggapan. Ruhmu bahkan belum lagi ditiupkan. Anggota tubuhmu barangkali juga belumlah lengkap diciptakan. Tak sempat kami ketahui apakah jantungmu sudah sempat menunjukkan denyut kehidupan. Tapi, tak salah kan, jika dalam menanti kehadiranmu kami mulai menyusun aneka persiapan? Merangkaikan sederet nama indah untuk kelak disematkan, membeli seperangkat baju untuk dipakaikan, memesan kain gendongan, mencermati cara pemberian ASI agar hakmu tertunaikan, menumpuk buku-buku cerita berhikmah untuk nantinya dibacakan, meminta doa keselamatan dari mereka yang berkenan khususnya yang dituakan, mengoleksi alat-alat edukatif berupa mainan, mendatangi ahlinya untuk mendapatkan saran kesehatan, menyusun jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kritismu yang kira-kira bakal dilontarkan, sambil menunggu engkau benar-benar datang. Tak kami hiraukan mitos yang menyebutnya sebagai pantangan. Sebab kami ingin segalanya dalam keadaan baik tatkala kau dihadirkan. 

Apakah kau masih di sana, Sayang? Agustus itu, tujuh tahun silam, begitu muram oleh hujan seharian. Waktu yang kita habiskan bersama untuk berjuang sejak kontraksi hebat itu menyapa sudah mendekati 24 jam, dan pada penghujung hari kita pasrahkan keadaan. Tirai malam yang ditutupkan seolah sekaligus menjadi ucapan salam perpisahan. Entah di hati atau di rahimku ngilu itu lebih kuat kurasakan. Sakitnya cuma mampu tersamarkan oleh ayat-ayat-Nya yang ayahmu lantunkan. Di meja operasi, hanya asma Allah yang sanggup kusebut di sela jerit tertahan, melawan pengaruh bius yang tak sepenuhnya mempan. Ada sesuatu yang hilang, lenyap di tengah deraan rasa sakit dan tangisan. Lantas ketika semuanya usai, rasanya bak disentakkan. Tak sanggup kusebut sanubari atau badan ini yang lebih hampa dan kosong akibat ditinggalkan oleh serpihan kenangan. Karena kau sempat mengisi tubuhku dengan kehangatan, memenuhi pikiranku dan ayahmu dengan keceriaan, juga menghiasi tiap doa yang terpanjatkan pagi siang dan malam.

Continue reading