[Resensi Buku] Perempuan Yang Mendahului Zaman

Judul buku: Perempuan Yang Mendahului Zaman
Penulis: Khairul Jasmi
Penerbit: Republika
Cetakan V, April 2024
Tebal: 232 xii halaman
ISBN: 978-623-279-089-6

Buku Perempuan Yang Mendahului Zaman

Buku Perempuan Yang Mendahului Zaman – Kisah Syekhah Rahmah El Yunusiyyah

Buku ini menceritakan kisah hidup Rahmah El Yunusiyyah, perempuan kelahiran Padang Panjang, 29 Desember 1900. Sebagai seorang pahlawan pendidikan perempuan, nama Rahmah tidak sepopuler RA Kartini. Dan memang hingga kini beliau belum dijadikan sebagai Pahlawan Nasional. Padahal perjuangan beliau sungguh hebat.

Bahkan negara lain pun mengakuinya, salah satunya lewat penganugerahan gelar Syekhah perempuan pertama dari Universitas Al Azhar Mesir pada tahun 1957. Gagasan Rangkayo Rahmah mendirikan sekolah muslimah Diniyyah Putri pun kemudian diadaptasi oleh universitas tersebut, yang sebelumnya hanya membuka program pendidikan untuk mahasiswa lelaki. Beliau pun punya banyak anak didik dan guru dari negara tetangga, Malaysia.

Rahmah sejak lama gelisah akan nasib para perempuan Minangkabau. Memang daerahnya ini mengakui derajat perempuan melalui sistem matrilineal. Namun, kenyataannya masih banyak perempuan yang tertindas. Seorang perempuan yang belajar, membaca, apalagi bersekolah, merupakan sesuatu yang dipandang sia-sia saja karena toh nantinya ia akan mengabdikan diri seutuhnya untuk keluarga.

Kakak Rahmah, Zainuddin, merintis Diniyyah School pada tahun 1915. Menurut Rahmah, pelajaran di sekolah kakaknya itu belumlah lengkap. Sedikit sekali bahasan akan fikih perempuan. Seperti dibahasakan penulis, “Bertanya malu, sebab gurunya pria, guru pun enggan menjelaskan karena tabu.” Rahmah bersama kawan perempuannya pun lalu belajar secara privat kepada Karim Amrullah atau yang mereka sapa sebagai Inyiak Rasul, ayahanda dari Buya Hamka yang di sisi lain merupakan murid sekolah kakaknya.

“Kaumku sudah lama tertindas, sementara tiap sebentar saya dengar perempuan adalah tiang negara, di mana akan ada negara kalau tiangnya rapuh? Al mar’atu imadul bilad. Selama ini kami dijadikan subjek saja, selama itu pula kami nyaris tidak dianggap, kecuali untuk dinikahkan. Kami menjadi pelengkap saja sampai ajal menjemput. Kami harus pasrah, apa pun yang akan terjadi.”

Rahmah juga tak menyukai nasihat bahwa perempuan hendaklah bekerja untuk yang ringan-ringan saja, sedangkan pekerjaan berat dan kasar diserahkan pada kaum lelaki. Sebab, pekerjaan seperti memasak dan mencuci sesungguhnya bukan sesuatu yang ringan. Suami memang kepala keluarga, tetapi istri juga memiliki hak-haknya.

“Pada guru jangan melawan, kau kami serahkan mengaji ke sana, bukan untuk bergelut sesama besar, bukan untuk mengganggu. Sekarang kau pulang mengadu, anak tak beradab, jangan adu domba orangtua dan guru mengaji! Itu yang didapat kalau masalah dibawa pulang. Rasa hormat pada guru mengaji di Minangkabau adalah hormat nan takzim, sebab karena dialah si anak bisa membaca alif ba ta. Ini metode pengajaran agama paling efektif di Nusantara, yang diciptakan oleh guru mengaji di surau-surau Minangkabau. Anak-anak yang khatam Quran di surau itu, lalu pergi merantau, jadi guru mengaji pula di negeri orang.”

Kutipan di atas menggambarkan cara pendidikan surau yang dianut masyarakat tanah kelahiran Rahmah. Kegemarannya membaca (pada bagian awal bahkan diceritakan ia lebih memilih membaca daripada makan) membuat Rahmah punya wawasan mengenai berbagai cara mendidik. Rahmah tak hendak mengingkari keunggulan metode surau, tetapi menurutnya cara klasikal dapat lebih efektif. Penuh tekad ia gunakan harta yang dipunya untuk mendirikan Diniyyah Puteri Padang Panjang tahun 1923. Semangat yang berkobar tak lantas menjadikannya abai akan peran keluarga besar. Pada kakak dan ibunya, Rahmah memohon restu.

Dasarnya memang kritis, bahkan saat ibunya mendoakan keberhasilan pun, Rahmah menanyakan balik, mengapa? Uminya, Rafiah, menjelaskan bahwa apa yang hendak dibangun oleh Rahmah ini bukan pekerjaan mudah. Pasti akan banyak tantangan dari masyarakat yang menganggapnya “memberontak dari tradisi” hingga dari kalangan Belanda yang tidak suka kaum yang dijajahnya terlalu cerdas. Namun, Umi Rafiah ingin anaknya bisa menolong kaum perempuan dengan pendidikan dan ilmu agama.

“Jika tak cukup bekal ilmu, maka bagai bunga kembang tak jadi. Menurut konsep Rahmah, ibu tak lain adalah sekolah. Jika ibu baik, maka anaknya akan baik dan sebaliknya. Salah satu poin penting bagi calon ibu adalah pendidikan agama.”

Saat Rahmah remaja, sudah ada pejuang perempuan lainnya yang juga berlatar belakang budaya serupa. Roehana Koeddoes dari Koto Gadang misalnya, yang mendirikan yayasan dan sekolah Amai Setia untuk kepribadian dan keterampilan perempuan. Roehana pun menjadi pemimpin redaksi koran Soenting Melajoe. Namun, Rahmah sendiri lebih berfokus pada upaya pendidikan perempuan secara Islam.

Rahmah pun sempat belajar bersama HR Rasuna Said, pahlawan perempuan yang namanya mungkin lebih akrab di telinga kita. Namun, Rahmah tetap secara tegas mengambil jalan pendidikan alih-alih ikut berpolitik seperti Rasuna Said. Bahkan Rahmah dan suaminya pun memutuskan berpisah karena perbedaan jalan perjuangan ini, di mana suaminya memilih jalur pergerakan. Setelah Indonesia merdeka, Rahmah sempat akhirnya terjun ke dunia politik, tetapi tak bertahan lama karena hatinya tak di situ.

Semangat belajar Rahmah membuatnya merambah beragam ilmu lainnya. Dari Nona Oliver, guru di Normal School Rahmah belajar tari, renang, dan senam. Untuk P3K dan kebidanan Rahmah belajar pada rumah sakit umum dan beberapa dokter. Ia berpikiran terbuka dan mengajak murid-muridnya menekuni kegiatan seperti mendaki gunung, menari, dan berenang, tetapi Rahmah bisa marah besar ketika muridnya ketahuan memakai baju terbuka saat hari libur.

Buku ini tak terlalu tebal, meski memuat perjalanan Rahmah sejak kecil hingga meninggal dunia. Telah dilewatinya masa penjajahan Belanda, Jepang, hingga kemerdekaan. Saya turut terhanyut ketika tiba pada bagian Rahmah berkeliling berbagai pulau untuk berdakwah sekaligus mengumpulkan dana untuk mengembangkan ataupun mendirikan kembali sekolahnya.

Ya, nasib sekolah Diniyyah Puteri sempat jatuh bangun secara harfiah, salah satunya karena gempa besar yang melanda. Dengan izin Allah mekalui perjuangan Rahmah, sekolah ini bangkit lagi dan lagi. Nantinya Diniyyah Puteri Tiga sampai dibuka di beberapa daerah, termasuk di beberapa lokasi di Jakarta yaitu di Gang Nangka Kwitang, Mester Cornelis Jatinegara, dan di Kebon Kacang Tanah Abang.

Penulis buku ini, Khairul Jasmi, merupakan jurnalis senior yang juga ayah dari novelis JS Khairen. Di tangannya, kejadian seperti bencana alam maupun dampak perang tersaji puitis. Tentu dengan tetap mengedepankan fakta, sebagaimana disajikan proses risetnya pada bagian Ucapan Terima Kasih. Sedikit yang mengusik adalah penyebutan beberapa nama tokoh terkenal lainnya seperti Buya Hamka dan Roehana Koeddoes yang sampai berulang diselipkan di sana sini beserta riwayat pendeknya. Mungkin untuk mengingatkan lagi bahwa perjuangan para tokoh bangsa ini saling berkait, ya.

Seharusnya buku ini saya setorkan untuk #BacaBarengWISH, tetapi baru bisa saya tuntaskan hari ini. Sebuah buku yang sangat menarik dan inspiratif. Bahkan saya membayangkan seperti apa jika kisah ini diangkat ke layar lebar, karena generasi berikutnya tak boleh lupa bahwa pernah ada pejuang pendidikan muslimah setangguh Rahmah El Yunusiyyah.

Bisakah Test Pack Positif Karena Obat?

Hari ini beberapa grup yang saya ikuti diramaikan dengan bahasan pemberitaan seorang perempuan. Semula ada kabar kalau ia hamil, kemudian yang bersangkutan mengklarifikasi bahwa ia tidak hamil. Menurutnya, ada obat hormonal yang ia konsumsi sehingga memengaruhi hasil uji kehamilan mandiri yang ia lakukan. Obat hormonal ini katanya dikonsumsi atas anjuran dokter, karena ia sempat tidak mendapatkan haid selama beberapa bulan.

Pemberitaan tersebut menjadi obrolan hangat di grup. Beberapa anggota bertanya-tanya, apa iya hasil test pack bisa positif karena pengaruh obat, meskipun sebetulnya yang bersangkutan tidak sedang hamil?

Hasil Test Pack

Hasil Test Pack

Foto: ptogel dari Freeimages.com

Continue reading

JS Khairen: Minat Baca Masyarakat Itu Besar, Hanya Aksesnya Kurang

Jombang Santani Khairen atau lebih dikenal dengan nama JS Khairen merupakan salah satu penulis muda yang karyanya paling ditunggu beberapa tahun terakhir. Tak hanya laris manis hingga dicetak ulang 16 kali pada tahun pertama terbit, novel Kado Terbaik yang ditulisnya juga mendapatkan penghargaan Buku Islam Terbaik kategori Novel Remaja dalam Islamic Book Fair Award tahun ini. Terbaru, JS Khairen memperoleh Penghargaan Writer of The Year dalam Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Award 2024.

Namun, kesuksesan tidak diraihnya dalam sekejap mata. Buku-buku yang ia tulis pun awalnya belum terjual sebanyak sekarang.

“Dengan buku saya tidak laris ini, saya jadi belajar ke mana-mana. Saya datangi penulis-penulis senior, belajar dari kelas-kelas mereka. Dan karya saya penjualannya baru meledak di buku ke-7, Kami (Bukan) Sarjana Kertas. Namun, sebetulnya ini adalah cerita yang mainstream ketika seorang penulis buku pertama, kedua, ketiganya tidak laris. Mungkin pernah dengar, Bang Raditya Dika dulu awalnya yang borong bukunya adalah ibunya sendiri, Bang Darwis Tere Liye juga baru terkenal di bukunya yang kelima,” jelasnya.

Mengingat sebagian karyanya sarat akan kritik sosial, Bang JS pun terbuka untuk kritik dari pihak lainnya.

“Kritik itu biasa saja, karena pembaca kan sudah membeli dan membayar. Suka-suka mau dihina juga. Saya selalu mengizinkan siapa pun pembaca untuk invite collab ke Instagram saya, termasuk review kritik. Justru saya ingin mencari itu. Karya yang terbaik itu adalah karya yang selanjutnya alias yang belum ditulis. Jadi supaya karya yang selanjutnya ini lebih baik ya kita harus mendengar. Bahkan pembaca setia saya, misalnya dia sudah baca 10 karya saya, saya selalu mengundang untuk mengirimkan email karya yang belum terbit untuk dikritisi oleh mereka habis-habisan. Terserah untuk dihina atau dimaki. Karena mereka adalah pembaca setia. Yang sudah baca 10 novel artinya nasabah prioritas. Artinya mereka sudah mengikuti kita lebih dari lima sampai tujuh tahun. Masukan dari mereka ini jauh lebih tajam dari komentar-komentar Instagram. Kalau tidak begitu karya-karya berikutnya tidak bertambah bagus.”

Tahun ini muncul kabar jika buku dari serial Kami (Bukan) akan dilayarlebarkan oleh Visinema. Bang JS mengaku tidak secara aktif mengupayakan alih wahana karyanya menjadi film.

“Saya tidak mengejar. Cuma, kalau ada produser yang datang, saya terbuka. Saya sudah punya dua novel yang tanda tangan kontrak, yaitu Kami (Bukan) Sarjana Kertas dan Kami (Bukan) Jongos Berdasi. Soal kapan, soal aktor, saya memilih untuk membiarkan menjadi karya si filmmaker itu. Terbaru, Dompet Ayah Sepatu Ibu juga ada beberapa produser yang mendekati. Cuma menurut saya karena novel ini masih baru banget, nanti dulu deh. Menurut saya masih terlalu cepat. Karenas kadang kita juga kesal ya ketika film dari buku tidak sesuai. Biarkan dia hidup dulu di hati pembaca. Kalau buru-buru nanti kurang seru.”

Adapun untuk novel berikutnya, ia sedang mempersiapkan sekuel dari Melangkah yaitu Berlari.

“Saya suka banget ke Indonesia Timur. Kalau Sumba punya savana dengan legenda kudanya, nah di Sulawesi ada Luwuk Banggai dengan Kraken. Mitosnya, itu gurita raksasa. Jadi kalau di Melangkah aksinya pakai kuda perang yang dibikin canggih, kalau di Berlari mau bikin Kraken yang canggih. Masalahnya, karena risetnya harus ke Indonesia Timur jadi sekuelnya belum terbit-terbit juga. Padahal sudah empat tahun dan ditunggu-tunggu oleh pembaca. Bukan apa-apa, biaya risetnya juga mahal. Ke Indonesia Timur itu lebih mahal daripada ke Eropa. Kalau riset kan harus sebulan, tiga minggu, jadi mahalnya itu bukan hanya dua kali lipat, tapi lebih mahal lagi. Apalagi rencananya sekaligus untuk menyusun sekuelnya lagi yaitu Terbang, supaya pembaca tidak harus menunggu sampai empat tahun lagi. Jadi paling lama setahun setelah Berlari terbit, Terbang bisa terbit.”

Sebanyak 16 judul buku yang telah ia tulis menjadi bukti produktivitasnya. Lelaki kelahiran Januari 1991 ini berbagi tips saat mengisi acara bedah buku di Intress Library Festival, kantor pusat DJPb, bulan Agustus 2024.

“Untuk menyeimbangkan aktivitas menulis dengan yang lainnya, kita harus disiplin. Pagi pukul 04.00 saya sudah menulis. Saya bisa menulis di kereta, di stasiun, di pesawat, di mana saja. Jadi ya disiplin. Memang disiplin itu saya bangun. Saya datang ke orang-orang hebat, belajar langsung dari mereka, bekerja dengan mereka, datang ke acara mereka. Jadi tidak ada mood itu, sudah saya usir. Saya tidak percaya lagi menulis itu harus menunggu mood. Menulis itu sudah seperti bernapas,” tegasnya.

“Saya mengetik satu novel itu rata-rata 2 sampai 4 minggu saja. Tapi itu mengetiknya saja. Yang lama sebetulnya adalah risetnya. Kalau kerangkanya sudah jadi, konfliknya sudah jadi, mengetiknya bisa cepat. Digabung dengan risetnya bisa adi enam bulan, bisa setahun. Bahkan ada tulisan yang sejak novel pertama saya terbit sampai hari ini sudah 12 tahun risetnya dan masih berjalan, novelnya belum jadi,” katanya.

“Kita harus menghadirkan tokoh-tokoh itu di kepala kita. Di kehidupannya, dia itu seperti apa. Kita “ajak ngobrol”. Kita harus membayangkan tokoh A ketika bertemu dengan orang lain itu seperti apa cara bicaranya, seperti apa pilihan kata-katanya ketemu tokoh B atau tokoh C. Bahkan hal-hal yang sepertinya remeh, misalnya si A ini di tempat ramai atau saat sendirian gerak-geriknya seperti apa, karena pasti akan berbeda dan ini akan memengaruhi bagaimana ceritanya berjalan, termasuk memengaruhi bagaimana ketika dia bertemu dengan tokoh antagonis.”

“Novel saya yang berjudul Dompet Ayah dan Sepatu Ibu berisi cerita tentang seorang perempuan bernama Zenna dan seorang laki-laki bernama Asrul. Sebenarnya ini kisah ayah dan ibu saya. Tahun ini Ibu pensiun, sementara saya sudah menulis 17 novel dan belum satu pun yang saya tulis untuk orang tua saya. Suatu waktu saya nonton stand up comedy Praz Teguh, dia bilang materinya saat itu baru dibuat setelah orang tua meninggal. Jangan sampai yang lain menyesal juga, katanya. Akhirnya saya menulis Dompet Ayah Sepatu Ibu.”

“Itu risetnya sangat rumit. Saya harus mencari orang-orang yang hidup di kampung Ibu saya. Ceritanya kan Zenna sudah dijanjikan dibelikan sepatu. Hal termewah yang dia dijanjikan seumur hidup adalah sepatu itu, tapi malah ayahnya meninggal. Untuk risetnya saya harus mencari teman-teman Ibu saya. Ada yang sudah meninggal, ada yang ternyata sudah di mana. Begitulah, unik-unik. Setiap novel itu punya riset masing-masing. Bungkam Suara itu risetnya tidak di lapangan, tapi saya melihat orang-orang yang julid di medsos, karena ceritanya tentang di suatu negara tidak boleh ada kritikan tetapi pada suatu hari mereka rayakan festival bebas bicara.”

Seperti ia sebutkan sebelumnya, lelaki berdarah Minang (Jombang dalam bahasa Minang yang sudah masuk pula di KBBI berarti tampan atau rupawan, jadi bukan dari nama kota di Jawa Timur) ini banyak belajar dari penulis lain untuk terus mengasah keterampilannya.

“Kalau kata Bu Dee Lestari, ide itu punya alam yang berbeda. Ide bisa datang ke siapa saja. Pernah tidak kalian nonton film lalu terpikir, sepertinya kita juga pernah punya ide yang sama? Ide ini ternyata sudah pernah datang ke kita dengan caranya yang ajaib, tetapi kita tidak mempertanggungjawabkannya. Entah kita memang malas, atau kita tidak punya kapasitas di sana, atau kita memang bukan berkecimpung di dunia sana. Pernah lihat nggak postingan Dian Sastro yang di toiletnya ada kertas sama pulpen untuk mencatat ide? Beda sama kita ya, di toilet malah scroll hp. Jadi ketika ada ide, sebetulnya langsung tangkap saja dulu,” sarannya.

“Nah, bagaimana kalau ide itu ternyata tidak berguna? Ya kita lepaskan saja, ikhlaskan saja, karena ternyata kita tidak berhasil mempertanggungjawabkannya. Misalnya, akhirnya ada cerita yang saya lepas ke adik-adik penulis baru. Idenya sudah bertahun-tahun bersemayam, sepertinya akan lebih cocok dengan penulis yang baru dengan branding dia. Ternyata karya itu memang menjadi jauh lebih bagus di tangan dia. Kemarin idenya cuma numpang nginep di kepala saya.”

Dengan prinsip seperti itu, tak heran tema novel yang ditulisnya juga amat beragam. Ada tema keluarga seperti dalam Kado Terakhir dan Dompet Ayah Sepatu Ibu, ada seri Kami (Bukan) yang bergenre komedi persahabatan anak muda walau isu yang diangkat serius, ada buku Bungkam Suara yang berisi kritik sosial. Terdapat pula genre aksi fantasi di buku Melangkah yang tetap ia padukan dengan pandangan terhadap kondisi masyarakat.

“Di kelas dulu (saat kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia) Pak Faisal Basri menanyakan apakah di kelas ini ada yang bisa menulis fiksi. Kalau ada, beliau bilang cobalah menulis tentang krisis ekonomi dalam kisah fiksi. Tapi setelah itu kami lanjut kuliah dan lupa begitu saja. Lalu saya teringat lagi perkataan Pak Faisal Basri itu ketika satu Jawa mati lampu tahun 2019. Saya terpikir, ternyata menjatuhkan suatu negara itu tidak perlu penyakit atau bom, tetapi cukup dengan dimatikan listriknya seminggu. Kemudian saya datang ke teman-teman yang menjadi dosen, seperti apa analisisnya kalau terjadi mati listrik seminggu, apakah mungkin terjadi krisis?”

“Jadi walaupun novel saya fiksi, tetapi pendekatannya sedekat mungkin dengan di kampus. Dari perhitungan teman-teman, dibuat regresi, dihasilkan analisis bahwa mungkin hari pertama orang panik, marah-marah. Hari kedua ATM sudah tidak bisa berfungsi. Hari ketiga distribusi makanan berhenti. Hari keempat krisisnya sudah merambat ke desa-desa, jadi chaos, dan kota-kota besar bisa menjadi lumpuh. Terbayang kalau dalam kondisi ini ada orang yang punya niat jahat atau kecewa karena pernah dikhianati. Tapi saat itu masih ada satu kepingan yang belum ketemu, karena menurut saya supaya seru lokasi ceritanya jangan di Jakarta.”

“Soal latar ini jadinya menyambung ke film Humba Dreams (2019). Tiba-tiba saya dipanggil oleh Mas Riri Riza. Saya kira mau diajak menulis skrip, tetapi katanya ternyata mau di-cast. Saya kira casting untuk tokoh sampingan karena aktor utamanya pasti sudah pilihan. Lihat film-film Miles Films sebelumnya tidak main-main kan, ada Nicholas Saputra dan sebagainya. Besok-besoknya tes screen lagi dan lama-lama skripnya kok makin tebal. Ternyata saya di-cast jadi tokoh utama. Novel Melangkah adalah kombinasi itu semua: lolos casting, syuting ke Sumba, mati lampu, krisis ekonomi, dan satu lagi, action atau berantemnya harus ada. Kebetulan dulu saat SMA dan kuliah saya menekuni pencak silat sampai kejurnas sehingga paham bagaimana adegan itu terbentuk dan bagaimana perkelahian terjadi. Saya buat berbeda pencak silatnya di novel dengan beberapa kombinasi. Untuk riset Melangkah saya tinggal di Sumba sekitar 4 bulan. Di sana ada banyak savana luas, kuda ada di mana-mana, dan ada kerajaan-kerajaan kecil. Saya belajar seperti apa tokoh-tokohnya, karakter dan tingkah lakunya ketika kecil.”

“Novel Melangkah ini judulnya demikian karena penulisnya juga melangkah dari genre yang selama ini nyaman ke tidak nyaman. Tokoh utamanya juga mahasiswa yang baru lulus dan memang melangkah keluar dari rumah. Selama ini mereka di rumah saja, tidak diizinkan ngapa-ngapain oleh orang tuanya. Pesannya adalah, padahal anak muda itu diharapkan oleh orang tuanya untuk menjadi manajer di kantor, tetapi di rumah mau melakukan sesuatu saja dimarahi terus, bernegosiasi di rumah saja tidak bisa,” kata JS Khairen menyentil pola pengasuhan sebagian orang tua.

Bicara soal orang tua, JS Khairen percaya bahwa tingkat literasi negeri ini bisa didukung oleh aktivitas membaca di tingkat keluarga.

“Saya sendiri bukan kutu buku. Saya setiap hari main sepeda, main ke sungai, main layang-layang. Cuma, karena ayah saya wartawan, jadi saya banyak membaca koran dan buku. Dari kecil saya sudah baca Sejarah Tuhan dan buku tentang Soekarno. Sekali sebulan Ayah mengajak kami ke Gramedia. Kami mendapatkan jatah buku. Kalau sedang ada dananya, boleh dua buku. Kalau sedang tidak ada uang, kami cuma menumpang baca. Lama-lama bukunya banyak dan kami membuat perpustakaan kecil di desa.” Ayahnya adalah Khairul Jasmi, jurnalis senior yang kini menjabat sebagai pimred harian Singgalang, juga penulis beberapa buku (salah satu ulasannya saya tuliskan di sini: resensi buku Perempuan yang Mendahului Zaman).

Bagi Bang JS, sebetulnya minat baca masyarakat itu cukup besar. Hanya saja, yang kurang adalah akses dan pilihannya. Maka kemunculan komunitas membaca buku seperti Jakarta Book Party dan kegiatan serupa di kota lain yang banyak diikuti oleh generasi Z patut diapresiasi.

“Kalau anak sekarang sudah telanjur tidak suka membaca, ajak ke toko buku supaya memilih sendiri sesuka dia. Jadi orang tua berperan untuk minat baca anak. Untuk memancing bebaskan anak memilih bacaan yang seperti apa, bisa novel, lucu-lucuan, cerita komik yang seru, mulai dari sana. Atau kalau masih lumayan kecil anaknya, orang tua yang bacakan, cari yang seru dan coba didramatisir sendiri di rumah. Atau bisa dengan bermain peran seperti main bajak laut mencari harta karun. Ini bisa menjadi pintu masuk untuk mengajak anak mengenal literasi. Di masa depan semuanya sudah serbalengkap, AI makin canggih, maka yang dicari adalah leadership manusia yang punya skill yang sophisticated. Termasuk skill membaca, mendengarkan, dan storytelling. Kalau anak sukanya main game, ajak cerita saja. Misalnya di game itu ada hero, bagaimana kalau tokoh ini diubah menjadi karakter manusia modern,” pesan bapak dua anak ini.

“Oh ya, dan satu lagi. Jika teman-teman belum menikah, carilah pasangan yang suka baca buku. Jadi nanti di rumah punya perpustakaan pribadi. Saya melihat generasi milenial yang baru punya anak datang ke acara bedah buku saya di Gramedia, di mana-mana. Padahal biasanya yang datang usia-usia pelajar dan mahasiswa. Sekarang sudah ada yang datang dengan membawa anak. Usianya 20-an akhir, 30-an awal, memang ini usia-usia “balas dendam”. Waktu kecil tidak punya uang, sekarang begitu punya uang maka mereka borong buku.”

Secara umum, ia juga menyarankan untuk membaca minimal dua buku per bulan.

“Satu fiksi, satu nonfiksi. Nonfiksi untuk kepala, fiksi untuk hati. Kita lihat perbedaan isi kepala teman-teman dalam 3-4-5 bulan ke depan,” tegasnya. Bahkan di tengah pesathya perkembangan teknologi yang menbawarkan unggahan berdurasi pendek, Bang JS yakin budaya membaca akan tetap lestari.

“Aktivitas membaca itu akan selalu ada. Katakanlah suatu saat buku itu punah, budaya bercerita masih akan ada. Dari zaman manusia hidup di gua, kita sudah terbiasa menyampaikan cerita dan berita lewat tuturan. Misalkan suatu saat nanti kita sudah menjelajah sampai Planet Mars, mungkin hidup kita sudah bukan berbentuk fisik lagi, tetapi sudah menjadi algoritma kuantum, kita akan terus bercerita. Mungkin buku secara fisik bisa punah tapi buku dalam bentuk lain tidak akan.” pungkasnya.

Mengunjungi 5 Gong Perdamaian di Indonesia

Pertama kalinya saya menyadari keberadaan monumen Gong Perdamaian adalah saat secara tak sengaja melihatnya di Blitar. Tepatnya di kompleks makam Bung Karno, saat mampir ke sana setelah menghadiri pernikahan teman kantor. Sayangnya, itu pun dari jauh. Saya baru mengetahui adanya gong berukuran besar ini saat sudah keluar kompleks. Ya, gongnya sendiri memang kelihatan dari luar pagar.

Kemudian saya mencari tahu sejarah Gong Perdamaian, dan menemukan informasi bahwa terdapat banyak Gong Perdamaian lain di berbagai kota di Indonesia, bahkan di berbagai negara di dunia. Umumnya, permukaan Gong Perdamaian ini dihiasi dengan bendera-bendera kecil atau lambang berbagai daerah di Indonesia dan negara-negara di dunia.

Hanya berselang sebulan, ternyata saya mendapatkan kesempatan untuk melihat Gong Perdamaian lainnya yaitu di Kota Palu. Awal tahun ini ketika mengunjungi Museum Konferensi Asia Afrika di Bandung, saya juga baru tahu kalau di dalamnya ada Gong Perdamaian.

Asia-Africa Peace Gong

Gong Perdamaian Asia Afrika

Continue reading

[Resensi Buku] Terusir

Judul buku: Terusir
Penulis: Buya Hamka
Penerbit: Gema Insani
Tahun terbit: Cetakan pertama, Januari 2016
Tebal: 129 + viii halaman
ISBN: 978-602-250-292-0

Novel Terusir oleh Buya Hamka

Novel Terusir oleh Buya Hamka

Buku ini termasuk tipis dan ukurannya pun mungil, tetapi cerita di dalamnya begitu padat. Tersebutlah Mariah, seorang perempuan yang bernasib malang. Ia harus berpisah dengan suami dan putranya akibat fitnah dari mertua. Pembelaan diri Mariah tak membuat suaminya, Azhar, tersentuh. Seperti judul buku ini, Mariah terusir dan terlunta-lunta. Sekali dua kali ia dipertemukan dengan nasib baik, tetapi kemudian musibah lain menimpa.

Continue reading

[Resensi Buku] Highly Unlikely

Judul: Highly Unlikely
Penulis: Aghnia Sofyan
Penerbit: POP (Imprint Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan pertama, Mei 2024
Jumlah halaman: 250 + v
Saran usia pembaca: 13+

Sesuai dengan tema #paradebukujuni Komunitas @resensi_bacayuk, buku yang saya baca untuk memenuhi tantangan #ResensiJuni ini adalah #bukubersampulkuning. Pilihan saya jatuh pada buku Highly Unlikely ini. Bukunya sendiri masih sangat baru, sebagaimana saya cantumkan bulan terbitnya di atas.

Continue reading

Haru dan Cerianya Drama Musikal Keluarga Cemara

“Di sini juga tak apa 
Asalkan saling punya 
Begini juga tak apa 
Karena kita bersama”

Lantunan suara emas Galabby “Abby” Thahira dalam lagu “Karena Kita Bersama” malam itu sukses membuat saya menitikkan air mata. Galabby yang berperan sebagai Emak menyanyikan lagu ini dengan penuh power, sedikit berbeda dengan versi Bunga Citra Lestari yang melantunkannya untuk salah satu pengiring adegan dalam Keluarga Cemara layar lebar tahun 2018. Jika versi BCL lebih lembut, lirih, dan menenangkan, versi Galabby bernada menguatkan dan meyakinkan. Saya membayangkannya laksana induk singa, siap melindungi keluarga apa pun yang terjadi. Apalagi di panggung, ceritanya saat itu Abah memang sedang perlu penguatan lebih bahwa ia mampu memenuhi kebutuhan keluarga yang dipimpinnya.

Menonton Musikal Keluarga Cemara di Ciputra Artpreneur

Menonton Musikal Keluarga Cemara di Ciputra Artpreneur

Continue reading

[Resensi Buku] Kamu Tidak Istimewa

Judul buku: Kamu Tidak Istimewa
Penulis: Natasha Rizky
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan Kedua, Februari 2024
Tebal: 104 halaman + xi
ISBN: 9786230055874

“Ih, judulnya kok gitu?” Fahira mengerutkan kening saat melihat saya mengeluarkan buku ini dari kemasan paket. Memang, jika dibandingkan dengan buku-buku apalagi yang bergenre motivasi, judul buku ini seolah malah mendemotivasi. Alih-alih menyemangati bahwa kita juga istimewa dan layak dihargai, justru belum-belum sudah langsung mengantarkan kita ke realita.

Continue reading

[Resensi Buku] Catatan Pinggir 15

Judul Buku: Catatan Pinggir 15
Penulis: Goenawan Mohamad
Penerbit: Tempo Publishing
Tahun Terbit: 2023
Tebal halaman: 502 +xviii halaman
ISBN: 978-623-05-4044-8

Goenawan Mohamad dikenal akan tulisan-tulisannya yang tajam sekaligus reflektif. Pendiri sekaligus pimpinan redaksi pertama majalah Tempo ini kerap mengulas berbagai peristiwa dengan membawa serta aneka referensi untuk memperkuat argumennya.

Continue reading

[Resensi Buku] Bebas Burnout

Judul Buku: Bebas Burnout, Tangguh tanpa Rasa Jenuh
Penulis: dr. Ekachaeryanti Zain, Sp.KJ.
Penerbit: TransMedia Pustaka
Tahun Terbit: 2022
Tebal halaman: 206 +xiv halaman
ISBN: 978-602-7100-90-4

Buku Bebas Burnout

Burnout merupakan istilah kedokteran psikiatri yang juga dikenal dalam dunia psikologi. Sindrom burnout terutama dikenal sebagai suatu gangguan psikologis yang terjadi akibat akumulasi stres jangka panjang yang tidak terkendali, misalnya dalam hal pekerjaan. Orang yang mengalami burnout dapat merasa tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, dan tidak punya harapan, bahkan untuk melakukan hal-hal yang biasanya digemari. Burnout memang bukan termasuk dalam diagnosis gangguan jiwa, tetapi tetap dapat mengganggu kesehatan mental. Continue reading