Aliran Rasa Materi Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP – Think Creative

Kaget boleh, tapi jangan lama-lama. Segera kunyah, cerna, pahami, susun prioritas dan ambil tindakan. Demikianlah yang saya lakukan ketika Tantangan 10 Hari untuk materi Level 9 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional dimulai. Sebagaimana yang sudah saya tuliskan di sini, peserta benar-benar dituntut untuk kreatif. Apalagi kalau ingin anaknya jadi anak yang kreatif, pastilah orangtuanya harus lebih kreatif. Di sisi lain karena saya lebih suka ada petunjuk yang lebih jelas (kecuali kalau ide awalnya datang dari diri saya sendiri), jadinya memang sempat bingung dengan tantangan minim instruksi ini.

Alhamdulillah-nya, sekarang di kantor ada tandem untuk bertukar pikiran tentang IIP secara offline, dengan situasi yang hampir serupa (ibu bekerja dst). Jadi saya tidak kelamaan galau mau bikin ‘laporan’ apa atau merancang kegiatan apa yang masuk kriteria yang diminta. Sebagian tantangan saya terjemahkan sebagai kreativitas saya dalam mengelola waktu bersama anak-anak, lainnya berupa aktivitas yang saya harapkan membangkitkan kreativitas anak-anak. Bahkan sejumlah ‘kegagalan’ juga akhirnya saya tuliskan, karena saya memaknai tantangan kali ini adalah bagaimana kita mencari cara untuk mengasah kreativitas dan menikmati prosesnya, meski hasilnya bisa bervariasi.

Ternyata tipe tantangan seperti ini memang jadinya sungguh-sungguh memicu para peserta untuk menjadi kreatif, termasuk untuk jeli mengamati aspek apa dari suatu kegiatan yang bisa dilakukan dengan lebih baik dengan tujuan kian mendekatkan diri. Bersyukur juga dapat tantangan ini, sebagaimana diskusi saya dengan teman seruangan yang sekaligus senior saya, karena sesungguhnya tantangan untuk kreatif itu senantiasa ada, hanya saja mungkin kita yang belum menyadarinya. Dengan ‘ditantang’ begini, ada semangat yang lebih, dan semoga semangat itu juga tetap bertahan selepas tantangan 10 hari selesai.

Tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP (Think Creative) – Hari 13

 

Kemarin (15/11) kami belajar bahwa sebagian hal bisa berjalan sesuai dengan rencana, beberapa rancangan skenario bisa disusun kalau-kalau ada perkembangan yang berbeda, tetapi adakalanya perlu improvisasi. Karena harus menjemput mama ke bandara, saya bangun pagi-pagi dan bermaksud pergi tanpa anak-anak. Namun ternyata Fahira bangun dan minta ikut. Akhirnya saya menyerah dan memintanya bersiap. Akan tetapi, setelah saya ajak ke sana kemari mencari siapa yang pegang kunci portal, ternyata Fahira sendiri yang lalu menyatakan tidak jadi ikut, gelap-gelapan begitu. Kesimpulannya sih, membatasi kreativitas anak dengan langsung melarang acapkali tidak terlalu manjur. Yang lebih mengena adalah ketika anak mengalami dan merasakan sendiri, kemudian bisa menarik kesimpulan mengapa tidak/belum diizinkan untuk melakukan suatu hal. Larangan seperti ini, juga beberapa larangan yang sejenis, bisa menghambat kreativitas anak.

 

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP (Think Creative) – Hari 12

Kemarin (14/11) saya perlu meminta anak-anak tidur lebih cepat karena setelah subuh harus langsung pergi ke suatu tempat. Ini saya anggap sebagai hal yang menantang karena baik saya maupun anak-anak sebetulnya lebih suka main bersama-sama lebih lama. Biasanya saya membacakan buku cerita sampai mereka mengantuk, lalu lanjut doa dan sholawat. Namun kemarin ternyata mereka juga tidak seperti biasanya, rela tidur tanpa dibacakan buku. Saya jadi sadar bahwa ketika kita sudah menyusun berbagai rencana yang kadang cukup rumit (saya sempat membuat rencana A dan B kalau anak-anak belum bisa tidur cepat), Allah mudahkan lewat beberapa cara. Ya, kita sebagai manusia memang harus kreatif, tapi tetap Allah kan yang memudahkan?

Oh ya, sebelum waktunya tidur tiba, anak-anak asyik main manik-manik yang disusun di cetakan yang baru saya beli. Manik-manik yang saya beli satu set isi beragam bentuk (paketnya mencakup juga aneka huruf, pipe cleaner, dan stik es krim) ini sebetulnya multifungsi ya, banyaaakk sekali kegiatan yang bisa dilakukan dengannya. Meronce, menjepit, jual beli, berhitung, menghias, dst. Hanya saja, karena di grup IIP pekan lalu cukup ramai anggotanya berbagi tentang macam-macam pengalaman benda kecil masuk ke hidung, telinga, atau mulut (pengalaman anak atau diri sendiri), agak ngeri juga sebetulnya.

 

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP (Think Creative) – Hari 11

Kemarin (13/11) kami bergerak menyingkirkan salah satu kendala yang akan kami hadapi beberapa hari ke depan. Lagi-lagi, rinciannya tidak bisa diungkap di sini, tetapi intinya saya terutama belajar tentang meminta bantuan. Sebelumnya, saya memaknai kreativitas itu artinya ya sesuatu yang dikerjakan sendiri, biasanya kan juga terkait DIY kan, do it yourself. Pada dasarnya saya juga sering sungkan jika jadi harus merepotkan orang lain. Namun, adakalanya minta tolong itu memang tidak bisa dihindarkan, apalagi ketika alternatif cara lain yang dikerjakan sendiri ternyata tidak efektif maupun efisien. Atau, di waktu lain mungkin bisa berupa kreativitas dalam tim.

Jadi, begitulah, ternyata dalam proses minta tolong ini ada juga hal-hal baru yang ditemukan. Di rumah tetangga yang kami mintai tolong itu ada sepasang binatang peliharaan yang menarik minat anak-anak. Ini bisa jadi bahan obrolan seru di keluarga kami berikutnya, termasuk mengapa kami tetap belum bisa memelihara hewan yang sama di rumah.

 

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP (Think Creative) – Hari 10

Kemarin (12/11) suami servis motor ke bengkel dan agak tidak memungkinkan untuk ajak anak-anak karena tempatnya sempit di tepi jalan raya, mendung cukup tebal pula. Anak-anak sedang tidur ketika suami berangkat dan mereka agak kaget ketika bangun dan tidak menemukan ayahnya. Spontan saya mengambil beberapa peralatan yang ada di dapur. Idenya muncul ketika saya melihat postingan mba Helena di IG-nya beberapa hari sebelumnya tentang bermain busa sabun dengan botol plastik dan kaos kaki. Kebetulan sedang ada beberapa botol plastik yang cocok dipakai untuk permainan ini. Sebelumnya, kegiatan tersebut sudah pernah saya lihat waktu browsing, dan ada pula dalam buku Kreasi Asyik Muslim Cilik yang kami miliki. Tetapi belum kunjung terlaksana nih bikinnya. Nah, selama ini memang aktivitas main air terbukti paling bikin anak-anak senang, jadi pas lah untuk menghibur mereka.

Hanya saja, kegiatan pengalih perhatian seperti ini sebetulnya rawan berdampak negatif, ya. Anak bisa tidak terlatih untuk mengahdapi hal-hal di luat ekspektasi atau keinginannya, karena ‘hiburan’-nya sudah disiapkan. Saya merasa tertohok ketika membaca suatu postingan di The Urban Mama dulu (bisa dibaca di sini), kutipannya:

Saya diingatkan bahwa anak, sepintar apapun kelihatannya – yang kadang membuat kita lupa kalau dia masih anak-anak – ada kalanya anak tak tahu bagaimana caranya melakukan sesuatu. Dan adalah tugas orang tua untuk mengajarkannya.

Dalam kasus ini, Lintang perlu diajari cara menghadapi kesedihan. Dan itu tidak sama dengan “menggantikan” kesedihannya dengan sesuatu yang (mungkin kita kira) akan membuatnya senang. Contohnya, seperti mainan baru.

Dimulai dengan memberi tahu Lintang bahwa yang dirasakannya itu bernama kesedihan.

Kami tidak menyalahkannya untuk merasa bersedih. Anak kecil, ingin ikut bapaknya pergi tugas yang jauh dan lama, wajar ‘kan? Tak perlu ada bentakan, atau kemarahan karena tangisannya minta ikut pergi.

Well, baiklah… Berarti niatnya perlu diperbaiki, ya. Karena idenya toh sudah muncul sejak sehari sebelumnya, anggap saja ini memang kebetulan pas saja ya momennya, bukan khusus untuk menghibur anak-anak, hehehe *membela diri.

Dan…inilah keseruan anak-anak membuat ular-ularan dari gelembung sabun. Nggak bisa semirip contohnya sih, tapi lumayanlah… Setelah dicek lagi, kaos kakinya kurang ketat saya pasang ternyata, makanya busanya menyebar begitu alih-alih memanjang hingga membentuk ular-ularan. Kalau di buku Kreasi Asyik Muslim Cilik, aktivitas ini bisa dikaitkan dengan kisah ular Nabi Musa.

 

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP (Think Creative) – Hari 9

 Dengan kondisi sekarang, pengaturan waktu yang baik untuk kebersamaan keluarga kami mutlak perlu. Suami mendapat cukup banyak tugas dari kampus, sehingga waktu berjumpa dengan anak-anak di akhir pekan pun jadi harus dibagi dengan mengerjakan tugas. Bisa saja semua dibiarkan mengalir apa adanya, artinya pegang tugas dulu sedapatnya lalu kalau anak-anak minta perhatian ya diladeni. Akan tetapi, dari pengalaman, hasilnya malah sering keteteran. Tugas belum tuntas, anak-anak malah sering kena tegur karena nempel terus pada ayah mereka yang sedang perlu fokus mengetik. Harus ada pengaturan waktu yang baik agar kebersamaan yang berkualitas tercapai, tugas pun rampung. 

Saya tidak suka istilah ‘mengganggu’, sebenarnya. Bagaimanapun, kebersamaan adalah hak setiap anggota keluarga. Maka, yang bisa dilakukan adalah menyediakan ragam kegiatan untuk anak-anak, itu pun mereka (tentu saja) tetap ingin ayahnya terlibat. Kalau waktunya sedang senggang, jalan-jalan ke taman biasanya menjadi pilihan kami agar bisa fokus main atau berolahraga bersama. Tapi kemarin (11/11), waktunya sedang sungguh-sungguh tidak memungkinkan. 

Akhirnya saya kepikiran mengajak mama (yang sedang ke Jakarta beberapa minggu ini) nonton Duka Sedalam Cinta dengan membawa anak-anak. Di tempat yang kami kunjungi, bioskopnya berdekatan dengan tempat makan dan tempat main anak, jadi bisa bagi-bagi rombongan. Dari seisi rumah, baru saya yang pernah ke sana, sehingga main ke sana sekaligus menjadi pengalaman baru bagi anak-anak, eyang, dan pengasuh mereka. Seperti pernah saya sebutkan sebelumnya, kami sendiri sebetulnya jarang pergi ke pusat perbelanjaan modern. Anggap saja saya menyimpan kunjungan seperti ini untuk kesempatan khusus, meski tidak ingin juga menganggapnya kelewat istimewa hingga dinanti-nantikan.


Tentu saja karena niatnya agar suami bisa mengerjakan tugas dengan fokus sehingga nanti ketika bertemu kembali semua sudah sama-sama santai, jadinya ada sebagian waktu liburan yang tidak dihabiskan dengan ‘formasi penuh’. Bagi kami, ini salah satu pilihan yang bisa diambil. Ada memang sahabat keluarga kami yang memilih mengurangi waktu istirahat malam untuk mengerjakan tugas daripada melewatkan main bareng anak-anak, tetapi ada kondisi kami yang berbeda dengan mereka.

Jadi, demikianlah kami memaknai kreativitas hari ini: memahami bahwa ada cara baru (yang memang belum pernah kami lakukan, biasanya suami masih bisa ikutan pergi karena tugasnya tidak sebanyak kali ini) yang menarik untuk diterapkan, meski belum tentu di masa mendatang akan tetap menjadi pilihan.

 

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP (Think Creative) – Hari 8

Sepulang kantor kemarin (10/11), ada beberapa hal yang perlu saya dan mama bicarakan secara serius, tetapi anak-anak juga sibuk ingin melaporkan kegiatan mereka. Karena pembicaraan saya dan mama perlu segera dilakukan untuk menentukan langkah berikutnya (dan menuntut pemikiran cepat serta juga kreativitas), jadi saya harus menahan antusiasme anak-anak yang makin diminta gantian ceritanya malah tambah semangat bersahut-sahutan. Maka saya harus berhenti dulu ngobrol dengan eyang mereka, dan menatap anak-anak satu-per satu. Saya sampaikan bahwa ini pembicaraan yang cukup penting dan tidak bisa ditunda. Di sini saya sadar bahwa kreativitas dalam mendengarkan juga penting, agar anak-anak tidak merasa diabaikan. 

Karena menunggu bisa menjadi hal yang membosankan, maka selama menanti giliran mereka masing-masing bicara, anak-anak perlu sesuatu yang menarik perhatian mereka. Kebetulan sih ada mainan mereka yang belum dibereskan, dan masih bisa didorong supaya lebih detil lagi membereskannya (diatur menurut bentuk dan warna, karena yang mereka mainkan adalah beraneka manik-manik).

 

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP (Think Creative) – Hari 7

Kemarin (09/11) kami membaca bersama beberapa buku yang baru saya beli. Salah satu bukunya berjudul Press Here oleh Herve Tullet. Kebetulan, ilustrasi sampul depannya ternyata punya kemiripan dengan komponen infografis materi pendukung diskusi untuk level 9 ini. Buku yang pertama kali diterbitkan tahun 2010 ini sungguh kreatif idenya. Kalau biasanya anak-anak memahami aksi-reaksi lewat layar sentuh atau fitur interaktif lainnya yang ada pada perangkat elektronik (termasuk gawai), dalam buku ini penulis menyajikan instruksi pada suatu halaman yang kemudian ‘menghasilkan’ perubahan pada halaman berikutnya. Dan ini tanpa tambahan aksesori seperti pop up, pull up atau sejenisnya ya, murni ilustrasi dan tulisan dalam halaman biasa saja.

Ternyata, seru lho! Fathia asyik memencet-mencet gambar, meniup halaman buku, atau memiringkan buku ke arah yang diminta. Ide penulis menurut saya unik karena terlihat simpel hingga setelah melihatnya orang mungkin berpendapat ‘buku kayak gini sih saya juga bisa bikin’ atau ‘kayak gini kok ya laku dijual’, tapi idenya itu lho…berapa banyak orang yang terpikir membuatnya sebelum melihat buku ini? Sebelum membeli, saya sempat cek ulasannya di Goodreads dan menemukan banyak pujian untuk buku tersebut, yang memantapkan saya untuk membelinya. Menikmati karya kreatif seperti ini saya percayai sebagai salah satu cara memotivasi diri agar ikutan menjadi kreatif, termasuk dalam bidang yang berbeda.

Ya, semangat untuk terus membangkitkan sisi kreatif kita terutama sebagai orangtua perlu terus dijaga. Malam itu juga, saya sudah melewatkan kesempatan belajar dari Fathia. Usai membaca buku-buku baru maupun lama, menjelang tidur, Fathia bercerita tentang kegiatannya tadi di sekolah. Katanya, ia mewarnai es. Saya sudah terbayang kegiatan ala Montessori, mungkinkan mengoleskan atau meneteskan pewarna ke es batu lalu melihat efeknya? Tapi begitu saya tanyakan apakah alat yang dipakai adalah kuas atau pipet, Fathia malah bingung. Ternyata yang ia maksud adalah ‘mewarnai huruf S’, hahaha. Nah, tuh kan, padahal tempo hari di sesi diskusi sudah diingatkan tuh, don’t assume! Jangan buru-buru membuat pernyataan, perbanyaklah membuat pertanyaan. Yah, sebetulnya yang saya lakukan juga melontarkan pertanyaan, ya, hanya saja ternyata asumsi saya beda dengan kenyataannya.

 

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP (Think Creative) – Hari 6

 Kemarin (08/11)  saya jadi membawa pulang sedikit pekerjaan kantor, tepatnya proyek yang agak insidental sih. Yang saya pahami selama ini, praktik seperti itu seharusnya sangat dihindari, apalagi kalau sudah punya anak. Namun, mengingat pilihannya adalah saya lembur di kantor dan pulang larut malam atau pulang lebih awal jadi bisa ketemu anak-anak dulu, membersamai mereka walau sejenak, baru melanjutkan pekerjaan, saya memilih pulang dulu. Tentu, hal ini in sya Allah tidak saya jadikan kebiasaan. Mengefektifkan jam kerja adalah hal yang lebih tepat. Tindakan saya pun saya nilai bukanlah kreativitas yang bebas masalah. Ada risiko-risiko di situ. Hari ini saya baca-baca di Nova bahwa jika memang darurat, membawa kerjaan kantor ke rumah ya apa boleh buat, tinggal bagaimana mengatur strateginya. Sejumlah tips dijabarkan di situ, beserta konsekuensinya. Jadi…melakukan suatu hal dengan cara yang berbeda dari biasanya (sebagaimana saya yang jadi ‘bekerja dari rumah’ itu memang kadang perlu trial and error. Persiapan kita bisa saja matang, tetapi ada saja hal-hal mendadak yang bisa menjadi tantangan baru.

 

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP (Think Creative) – Hari 5

 

Jika memang dikatakan bahwa “tidak ada masalah, yang ada adalah tantangan”, sebagaimana disebutkan dalam materi level 9, lalu, bagaimana jika yang dihadapi adalah kondisi sakit? Kemarin (07/11) malam, salah satu anggota keluarga kami menunjukkan gejala sakit. Imbasnya, salah satu anggota keluarga lain ikut merasa tidak nyaman. Fokus saya terbelah antara memberi pertolongan untuk yang sakit dulu ataukah menenangkan yang jadi ikut tidak nyaman. Dari sini saya belajar bahwa yang dinamakan kreatif itu ya pastilah tetap ada pedoman dasarnya. Jadi kalau bertindak sembarangan semaunya tanpa mau mencari tahu yang seharusnya bagaimana, maka tidak bisa dikatakan kreatif. Kreativitas adalah ketika kita sudah tahu tatalaksana yang benar, lalu sewaktu ada yang belum bisa dilakukan sesuai pedoman maka tetap berusaha mencari cara agar setidaknya tujuan dapat terpenuhi atau mendekati ke sana, tanpa harus melanggar pedoman. Saat ada yang diare dan muntah misalnya, harusnya kan kasih oralit, ya. Ketika betul-betul tidak memungkinkan untuk beli dan di rumah juga tidak ada stok, bisa pakai alternatif membuat sendiri larutan gula garam untuk tujuan mencegah dehidrasi, tapi sekali lagi ini sifatnya darurat.

Saat ada yang sakit, saya berupaya tetap mengikuti pakem yang seharusnya. Hanya saja, ternyata ada tantangan tambahan yaitu membagi perhatian, dan untuk kondisi kami kemarin, tidak mungkin untuk mendelegasikannya ke pihak lain lagi. Di sini dibutuhkan kreativitas untuk mengalihkan perhatian yang ‘rewel’ (sebetulnya saya kurang suka istilah ini), sambil tetap memantau kondisi yang sakit dan memberikan pertolongan semaksimal mungkin. Tidak bisa saya jelaskan lebih lanjut apa saja tepatnya yang saya lakukan, tapi intinya sih saya sangat bersyukur bahwa hari ini anggota keluarga yang sakit sudah merasa lebih baik. 

 

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative