Mengkaji Bacaan Anak Bilingual

Tulisan Teh Ary Nilandari atau di grup forum penulis bacaan anak sering dipanggil Bunda Peri ini menjawab kegelisahan saya. Sebelum punya anak, saya sudah membeli beberapa buku anak bilingual tapi terus terang tidak terlalu peduli soal alih bahasanya, karena biasanya saya lebih mengincar isinya yang menarik atau informatif,  ilustrasinya yang keren, atau karena memang suka dengan karya-karya penulisnya (ngeblog di Multiply dulu membuat saya ‘kenal’ banyak penulis bacaan anak). Belakangan setelah punya anak dan saya sendiri lebih banyak terpapar materi yang asli berbahasa Inggris, begitu baca beberapa buku anak bilingual saya jadi mengerutkan kening. Ada saja terjemahan yang kurang pas, entah terlalu baku, tidak taat tata bahasa, atau malah salah sekalian. Ini umumnya terjadi pada buku karya penulis dalam negeri yang memang dikhususkan terbit dalam bentuk dwibahasa, bukan buku terjemahan. Bahasa Inggris yang saya kuasai juga pas-pasan, sih. Tapi seperti yang sering saya sampaikan pada teman-teman yang bertanya kenapa skor TOEFL saya bisa segitu, sering muncul perasaan tidak nyaman kalau ada yang salah saat membaca. Belum tentu juga saya tahu persis koreksinya seharusnya bagaimana, sih, hehehe. Saya masih harus buka primbon dulu kalau soal itu…dan dari melakukan hal-hal seperti inilah saya memang sebetulnya banyak belajar.

Karena saya belajar bahasa Inggris dengan cara seperti ini (seringnya tidak mengkhususkan diri, sambil jalan saja), saya jadi membayangkan bagaimana kalau anak-anak yang baru belajar bahasa asing sudah diberi contoh yang kurang tepat. Dari pengalaman dan pengamatan saya, apa yang diketahui atau dibaca anak sejak dini, apalagi kalau berulang-ulang (anak suka kan ya minta dibacakan sebuah buku berkali-kali) akan menjadi patokan baginya, terbawa sampai besar (kecuali kalau ada yang membetulkan kemudian…itu pun kadang pakai ‘berantem’ pada awalnya, mungkin :), karena telanjur mengakar). Saya sampai berniat menyembunyikan beberapa buku anak bilingual yang telanjur dibeli karena grammar-nya keliru. Tapi kalau dipikir-pikir, nggak perlu seekstrem itu juga mungkin, ya. Bisa saja saya beri catatan khusus, toh isi ceritanya sendiri bagus dan mendidik. Apalagi saat ini sebenarnya anak-anak saya belum ada yang bisa baca, hahaha.

Saya kutip dari tulisan teh Ary:

Karena kata dua pakar:

Anak-anak TK dan SD kelas rendah sebaiknya diberi bacaan yang berbahasa Inggris saja. ‘Bahaya’ bacaan bilingual adalah mereka bisa mendapatkan informasi yang salah, jika kedua bahasa tidak diperhatikan dengan baik.” (DR. Murti Bunanta SS, MA. Spesialis Sastra Anak, Ketua Kelompok Pencinta Bacaan Anak)

“Bacaan bilingual sebagai bahan pelajaran bahasa Inggris untuk anak adalah konsep yang keliru, karena dimulai dengan tahap tersulit, yaitu menerjemahkan. Ditambah kesalahan penerjemahan dan kosa kata yang tidak sesuai, bacaan bilingual semakin tidak efektif.” (Nasti M. Reksodiputro, M.A. Mantan dosen bahasa Inggris,  kepala Pusat Bahasa Universitas Indonesia, Pendiri Yayasan Pustaka Kelana)

Ary Nilandari's avatarMy World of Words

Bacaan Anak Bilingual: Tekstual dan Visual 

Handout Ary Nilandari untuk workshop Editor Buku Anak dengan IKAPI DKI Jakarta, 4-5 Juni 2013, Perpustakaan Nasional Jakarta

Dalam dasawarsa terakhir, bilingual seakan menjadi keharusan dalam menerbitkan bacaan anak di Indonesia. Bahasa Inggris, Arab, dan Mandarin dipasangkan dengan bahasa Indonesia. Tetapi karena yang paling sering adalah bahasa Inggris, untuk selanjutnya, bilingual yang dimaksud adalah bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Motif mem-bilingual-kan bacaan anak sangat beragam. Antara lain:

  1. Memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia
  2. Memberi nilai tambah pada bacaan anak.
  3. Merespons kebutuhan orangtua untuk membantu anak-anak belajar bahasa Inggris.
  4. Menjangkau pasar lebih luas, yaitu anak-anak warga negara asing yang tinggal di Indonesia dan anak-anak Indonesia yang tinggal di negara-negara berbahasa Inggris.
  5. Memudahkan penjualan copyright ke mancanegara.
  6. Dan diharapkan meraup keuntungan lebih banyak ketimbang buku monolingual

Apapun alasannya, tentu saja mendwibahasakan bacaan anak harus melalui kontrol kualitas ganda, dan tidak sesederhana yang dibayangkan. Bilingual bukan sekadar proses pengalihan…

View original post 872 more words

Masuk Majalah!

Sedikit nostalgia peristiwa lama karena waktu itu belum sempat diposting di blog. Tanggal 29 Agustus tahun lalu untuk pertama kalinya saya ikut gathering anggota grup pendukung ASI TATC (Tambah ASI Tambah Cinta) yang kali itu diselenggarakan di RS Meilia Cibubur. Sekalian seminar keluarga terkait ASI dan postpartum depression sih ceritanya. Nah, sebelum acara dimulai, Mba Wynanda, kreator dan admin grup tersebut sempat bilang bahwa nanti akan ada peliput dari majalah Mother & Baby Indonesia yang wawancara untuk masuk rubrik komunitas. Benar saja, ketika break acara saya dimintai pendapat mengenai TATC dan menyusui oleh perwakilan majalah tersebut.

Selesai rangkaian seminar, kami berempat yang diwawancarai (dua admin dan dua member yang hadir) diambil gambarnya bersama anak-anak. Sayang kedua putri mba Wynanda tidak bisa ikut berfoto, Kirana masih dirawat di RS sedangkan kakaknya Kasih sedang bersama eyang keluar ruangan. Kemudian kami diberi informasi bahwa liputan komunitas ini akan dimuat dalam majalah edisi dua bulan yang akan datang. Dan inilah hasilnya, yang tepatnya dimuat di rubrik Mum’s Club edisi Oktober 2015 (versi digital bisa dilihat di http://www.pressreader.com/Indonesia/mother-baby-indonesia/20151001/textview).

MnB

[Ulasan] Belajar Percaya Diri dari Todi

Beberapa hari yang lalu facebook mengingatkan saya bahwa saya pernah ikutan lomba resensi yang diadakan oleh penulis buku ini, Mba Dhonna. Sekalian saya posting ulang di sini saja, nostalgia juga menengok kembali gaya menulis saya lima tahun yang lalu :).

Judul : Todi si Belalang Kerdil
Penulis : RF. Dhonna
Tebal : iv + 53 halaman
ISBN : 978-602-9079-45-6
Penerbit: Leutika
Tahun terbit: 2011
todi belalang 1
Buku untuk anak-anak konon memiliki pakemnya sendiri. Harus mudah dipahami, tetapi sekaligus tanpa mengabaikan kenyataan bahwa daya cerna anak-anak zaman sekarang kian canggih saja. Harus punya pesan moral, sebisa mungkin cukup tersirat tanpa harus menggurui. Dari segi penampilan, sebaiknya buku anak menggunakan huruf yang tidak terlalu rapat dan kecil, serta sebisa mungkin dilengkapi dengan ilustrasi yang semakin menarik minat baca.

Delapan cerita yang termuat dalam buku ini rata-rata tergolong sangat pendek jika dikonversikan ke halaman A4, sehingga bisa dikatakan cukup memadai untuk rentang perhatian anak khususnya usia awal SD (meskipun ternyata di sampul versi barunya tertulis untuk anak usia 9 s.d. 12 tahun). Ukurannya yang mungil dan tipis cocok untuk dibawa ke mana-mana, termasuk untuk dibaca atau dibacakan menjelang tidur. Ilustrasi yang ada pada setiap halaman masih mengacu pada cerita yang menjadi judul buku, sehingga semuanya sama dan tampil hitam-putih. Tema kisah para hewan alias fabel dan dunia khayal putri serta peri menjadi pilihan, dengan satu-dua kisah keseharian masa kini.

Pesan moral yang disampaikan dalam cerita-cerita yang ada cukup bervariasi, di antaranya mengenai makanan sehat, kejujuran, prioritas, kedisiplinan, pergaulan, kesabaran dan ketegaran, inisiatif, serta kerja keras. Benang merah yang paling menonjol di kebanyakan cerita adalah motivasi agar tetap percaya diri dalam berbagai kondisi. Beberapa hikmah cerita disampaikan dalam bentuk pertanyaan di akhir kisah, sehingga anak atau orang dewasa yang membacakan bisa berpikir sendiri atau berdiskusi mengenainya.

Cerita favorit saya adalah Senyum Terindah Molly, karena mengingatkan pada diri saya sendiri. Tidak enak memang disangka sombong karena tampak lebih suka menyendiri. Padahal aslinya hal tersebut disebabkan oleh kepribadian yang memang cenderung introvert (sedikit berbeda dengan Molly yang sempat minder akan keadaan fisiknya). Todi si Belalang Kerdil mengingatkan untuk tidak membalas keburukan orang-orang (atau dalam buku ini, hewan-hewan) lain dengan perbuatan jelek pula. Sedangkan Kisah Peri Warna menggelitik pemikiran saya, adakah cerita di situ dimaksudkan sebagai satir bagi kondisi masyarakat yang enggan mengubah sesuatu yang ‘sudah sejak dulu begitu’, alih-alih mencoba berinovasi demi masa depan yang lebih indah?

Masukan untuk penulis, ungkapan “Rasain!” yang muncul dalam cerita Banguuun, Nanda! tampaknya agak kurang pas karena rawan ditiru oleh anak-anak. Mungkin akan lebih baik jika diganti dengan kalimat lain yang meskipun intinya sama-sama girang karena rencana (yang sedikit ‘curang’ tapi maksudnya baik?) berhasil, tetapi tidak terlalu bernada keras atau puas di atas kesedihan orang lain (kendati tujuannya memang untuk memberi pelajaran).

Begalor di ‘Surga’ Kaya Timah

Annida-No-2-XVIII-Okt-08

Tulisan saya yang (dengan beberapa perubahan) dimuat di majalah Annida edisi Oktober 2008. Tentu Belitung sudah banyak berubah ya sejak itu, terlebih setelah suksesnya film Laskar Pelangi (saat saya di sana, filmya sedang dalam proses awal syuting). Tetap lumayan buat kenang-kenangan, apalagi belakangan majalah tersebut tidak rutin terbit lagi edisi cetaknya.

Begalor di ‘Surga’ Kaya Timah

Barangkali, dulu kita hanya mengenal Belitung sebagai salah satu penghasil timah utama di negeri ini. Meledaknya novel karya Andrea Hirata membuat pulau tersebut kemudian dikenal juga dengan julukan lain: Bumi Laskar Pelangi. Penggambaran Andrea tentang masa kecilnya dalam tetralogi (baru tiga yang diterbitkan hingga tulisan ini dibuat) tersebut memang merebut hati banyak orang. Kini Belitung telah jauh berkembang dibandingkan saat Ikal (nama julukan Andrea) dan kawan-kawannya mengecap pendidikan di sebuah SD sederhana. Kepulauan Bangka Belitung sudah menjadi provinsi terpisah dari Sumatra Selatan. Pulau Belitung juga telah terbagi menjadi dua kabupaten yaitu Belitung (atau Belitung Induk, dengan bandara yang terletak di Kecamatan Tanjung Pandan) dan Belitung Timur (di mana terdapat Kecamatan Gantung yang menjadi latar cerita Laskar Pelangi). Tak heran para sineas yang berencana melayarlebarkan novel itu harus berusaha keras menciptakan suasana sekian tahun lampau demi kemiripan tampilan.

Masa kejayaan timah di Bangka Belitung juga bisa dibilang sudah sedikit memudar. Padahal, ingat kan, pekerja PN Timah apalagi para petingginya sempat menjadi kalangan elit dengan fasilitas melimpah. Setelah dieksploitasi sejak abad ke-18, penambangnya kini lebih banyak masyarakat umum yang kerap disebut sebagai penambang timah inkonvensional (TI). Kendati tak menghasilkan sebanyak dulu, pemasukan satu tim penambang masih cukup menarik minat daripada bekerja kantoran. Kru film Laskar Pelangi sampai kebingungan karena tak banyak yang mau jadi figuran, mending cari timah katanya. Praktik ini sebenarnya cenderung ilegal, karena seringkali mengabaikan dampak lingkungan. Kalau teman-teman melintasi langit Bangka Belitung, akan tampak bahwa pulau-pulaunya ‘bopeng’ di sana-sini. Lubang-lubang itulah bekas situs penambangan atau kolong yang ditinggalkan begitu saja, yang bentuknya jadi mirip danau kecil dengan air berwarna kebiruan. Indah, dong? Sama sekali tidak, karena warna itu adalah efek samping dari mekanisme penjagaan suhu situs selama proses penambangan. Efek samping lainnya sudah pasti erosi dan bisa juga pencemaran sumber air bersih.
Kalau mau yang indah-indah, lebih baik menjelajahi pantainya. Sebagian orang mengatakan bahwa kata Belitung atau Belitong dalam dialek aslinya merupakan singkatan dari ‘Bali dipotong’. Namun, wisatawan pengunjung Belitung tampaknya memang belum sebanyak pelancong di Bali. Padahal letak yang tidak jauh dari Jakarta (tak sampai sejam perjalanan udara) dan kealamiannya menjadi nilai lebih. Sebut saja Pantai Tanjung Tinggi yang berpasir putih nan lembut dan bertaburkan bebatuan granit raksasa. Di awal kunjungan, jangan kaget kalau kamu mendadak ‘insyaf’ (sementara, hehehe) dari kenarsisan. Yang ada, kamu akan bertasbih berulang kali sambil berusaha merekamnya dalam ingatan. Beberapa belas menit kemudian, baru deh heboh mengabadikan diri sebagai bukti pernah datang ke sini.

Pantai-pantai lain seperti Tanjung Kelayang, Tanjung Binga, Penyaeran, Tanjung Kiras, Teluk Gembira, sampai Batu Berlubang juga dihiasi batu-batu sebesar rumah yang membentuk formasi menarik. Salah satu yang paling terkenal adalah tumpukan batu di Pulau Burung (bisa ditebak, kan, bentuknya memang mirip paruh burung) Konon, bebatuan ini adalah pecahan meteor yang jatuh ke bumi.
Pecahan meteorit lain yang juga menjadi ciri khas Belitung adalah batu satam atau billitonite. Batu berwarna hitam mengilap ini tergolong langka, hanya ada di beberapa tempat di dunia dan diberi nama sesuai tempat ditemukannya. Biasanya ditemukan secara tak sengaja ketika sedang menambang timah, dan mengapa di pulau lain di Indonesia yang juga penghasil timah batu ini jarang sekali kelihatan masih menjadi misteri. Ada yang percaya batu satam mengandung kekuatan magis (duh, jatuhnya syirik nggak ya?), misalnya memberikan wibawa atau mengurangi rasa sakit saat melahirkan. Baik diasah sampai licin atau dibiarkan dalam bentuk aslinya yang dipenuhi cekungan dan alur halus, batu ini bernilai tinggi. Coba saja ketik billitonite di mesin pencari internet, akan muncul banyak penawaran perhiasan batu satam bahkan yang berharga selangit di pasaran internasional. Tapi kalau beli di Belitung langsung, masih cukup terjangkau kantong kita-kita, kok.

Jangan hanya puas dengan menikmati pemandangan. Air pantai yang berombak kecil dan landainya pantai mengundang kita untuk menceburkan diri. Kamu yang suka menyelam juga bisa melihat-lihat cantiknya panorama bawah laut. Tentunya tetap lihat-lihat situasi ya, sebab pada bulan-bulan tertentu ombak cukup besar atau sedang banyak ubur-ubur berkeliaran. Kalau ada waktu dan laut sedang bersahabat, kita bisa menyeberang ke pulau-pulau kecil tak jauh dari pantai. Pulau Lengkuas dekat Tanjung Kelayang dengan mercusuarnya yang berdiri sejak tahun 1882 dan masih berfungsi sampai sekarang adalah pilihan tepat.

‘Bosan’ dengan pantai? Ada Gunung Tajam, gunung tertinggi di Belitung yang dihiasi air terjun nan jernih. Awas, kadang ada monyet nakal di sini. Bisa juga main-main ke Kampung Bali, tempat berkumpulnya pendatang dari Pulau Dewata yang dari segi arsitektur dan budaya bikin serasa di Bali betulan. Suasana resort bisa didapatkan di Bukit Berahu. Ada pula dua museum buat yang tertarik pada sejarah. Pertama museum di tengah kota yang dulunya adalah museum geologi rintisan peneliti Belanda yang sekarang dilengkapi juga dengan kebun binatang di halaman belakang. Koleksi hewannya memang terbatas, tapi buaya terbesar di sini sudah jadi bintang film karena tempo hari dipinjam untuk syuting Laskar Pelangi. Satunya lagi museum yang memajang peninggalan kerajaan Badau.
Di Belitung Timur sendiri, tempat-tempat yang diceritakan Andrea Hirata jadi sering didatangi orang. Apalagi selama Mira Lesmana, Riri Riza dkk berada di sana. Meski, bahkan SD Muhammadiyah pun sudah roboh tahun 1991 hingga harus dibuatkan replikanya untuk adegan-adegan film. Toh masih ada kelenteng tempat janjian dengan A Ling, kedai kopi Akiong, sisa-sisa bioskop di mana para cowok ABG itu menyelinap nonton film, gedung-gedung milik PT Timah, dan tentunya rumah para tokohnya. Bisa saja kita ketemu Bu Muslimah yang masih penuh semangat dalam mengajar itu atau para anggota Laskar Pelangi.

Kalau beruntung, kita bisa menyaksikan beragam upacara seperti Maras Taun (pesta panen), Buang Jong (melarung perahu mini), atau Nirok Nanggok (menombak ikan). Menyesal juga dalam jangka waktu setengah tahun lebih tinggal di sana saya belum sempat melihat satu pun. Ada pula seni dan permainan asli seperti Dulmuluk (teater tradisional), betiong, begambus, dan stambul (musik), begubang dan campak (berbalas pantun), beripat beregong (adu ketangkasan dengan pemukul rotan diiringi musik tradisional), serta lesong panjang. Pengaruh budaya Cina juga cukup terasa, kemeriahan Imlek biasanya dirayakan besar-besaran lengkap dengan pertunjukan barongsai di jalan-jalan utama.

Sedangkan Pantai Tanjung Pendam mungkin ‘penampakannya’ tak semenakjubkan pantai-pantai lain, tapi posisinya di pusat kota Tanjung Pandan membuatnya nyaris selalu ramai terutama pada sore hari. Di saat seperti itu jadi agak sulit mencari tempat di tepian pantai yang sudah dilengkapi dengan banyak bangku, trotoar, aneka sarana permainan anak, kios-kios makanan, dan lapangan voli. Minimal sepekan sekali saya jalan kaki dari kos ke Tanjung Pendam, sekadar bersantai setelah sehari-hari bekerja atau ‘pacaran’ dengan suami kalau dia sedang berkunjung. Pemandangannya bisa berubah tergantung pasang-surutnya. Saat penuh, enaknya duduk mengamati gelombang lautan memantulkan bias-bias cahaya mentari menjelang terbenam ditingkahi aneka warna layar kapal di kejauhan sambil mencelupkan kaki ke air. Jika sedang surut, kita bisa berjalan-jalan hingga jauh ke tengah, walaupun belakangan peringatan akan banyaknya lubang makin gencar diserukan. Sayang, suka banyak anjing berkeliaran.

Pergi ke suatu daerah rasanya tak lengkap kalau belum mencicipi makanan khas setempat. Teman-teman bisa mulai dengan mi Belitung berteman tahu yang disiram kuah kari udang dan ditaburi kerupuk emping plus taoge. Hati-hati, karena banyak tempat makan milik etnis Tionghoa yang juga menyediakan masakan daging babi. Kepiting telur berisiko bikin ketagihan (saya pun suka dititipi kalau ada yang tahu saya akan pergi ke Jakarta atau Bangka). Jangan lupa mencoba gangan alias ‘sup ikan’ berkuah kuning asam pedas serta tumis genjer dan otak-otak. Dampingi dengan segelas es jeruk kunci, hmmm… tentu makin menyegarkan. Harga masakan di rumah-rumah makan pinggir Tanjung Tinggi dijamin bikin kamu terpukau nggak percaya. Murah meriah!
Untuk buah tangan keluarga di rumah, bawakan sambelingkung (abon ikan), dodol agar-agar, madu manis dan pahit, keripik sukun, aneka kerupuk ikan (getas dan kemplang), keritcu (keripik telur cumi), juga kue rintak (kue kering dari sagu dan gula aren). Sebotol tauco, rusip (fermentasi ikan dengan proses mirip tauco), atau terasi (bahkan ada yang berbentuk bubuk) cocok juga sebagai oleh-oleh untuk ibu di rumah. Kalau mau yang awet, perhiasan batu satam, kerajinan tangan dari timah (pewter), peci resam (dari anyaman sejenis rotan), bermacam taplak atau peci dari bahan renda, gantungan kunci, hiasan magnet kulkas, sampai cangkir bergambar pemandangan Belitung bisa jadi alternatif.

Jadi, siap begalor (bergaul, nongkrong) di Belitong?

Meningkatkan Kualitas Diri lewat Bacaan untuk #BahagiadiRumah

Ketika membaca tabloid NOVA beberapa minggu yang lalu, sebidang gambar dengan ilustrasi meriah warna-warni menarik perhatian saya. Wah, ternyata Tabloid NOVA berulang tahun yang ke-28! img_20160531_074532.jpgMasih tuaan saya dong, ya, hahaha. Tahun ini tabloid NOVA mengambil istilah NOVAVERSARY untuk ulang tahunnya.

Bertahan di dunia media cetak di tengah derasnya arus informasi digital masa kini, yang saya tahu sebagai awam, tidaklah mudah. Tabloid NOVA saya rasa merupakan salah satu contoh sukses, bukan hanya dalam menerbitkan edisi cetak, tetapi juga merangkul komunitas lewat acara-acara menarik yang digelar. Ada beragam komunitas dengan benang merah yang sama, yaitu menggerakkan perempuan untuk lebih bahagia lewat berbagai aktivitas, mulai dari olahraga, berbagi/sosial, berwirausaha, menulis, dan sebagainya. screenshot_2016-05-31-07-56-27.pngBerbagai media sosial juga dioptimalkan manfaatnya untuk meningkatkan keterikatan pembaca maupun memberikan informasi kepada masyarakat pada umumnya. Tak hanya lewat website, tabloid NOVA juga hadir lewat edisi digital yang bisa diunduh agar lebih praktis dibaca di mana dan kapan saja.

Dulu zaman sekolah saya menganggap bahwa tabloid NOVA itu bacaan ibu-ibu, tidak terasa saya sekarang sudah menyandang status ibu-ibu muda juga. Sejak awal saya mengenal tabloid NOVA, tabloid ini saya nilai konsisten menyajikan konten informatif mulai dari masakan, mode, info dunia hiburan, kecantikan, peristiwa terkini yang dikupas tuntas, konsultasi psikologi, wawasan seputar dunia pendidikan, dan seterusnya. Bisa dibilang komplet untuk meng-update diri tiap perempuan. Peningkatan kualitas diri lewat bacaan ini tidak bisa dipandang remeh karena meski ‘hanya’ lewat teks, perempuan bisa melakukan sesuatu yang bermakna.

ss nova resepTidak percaya? Coba tengok resep-resep di dalamnya. Ada resep praktis yang mudah dipraktikkan untuk sehari-hari, ada pula resep yang menantang untuk dicoba di kesempatan istimewa. Mau mode pakaian terbaru berikut padu padan koleksi dasar, ada. Perlu tips berdandan agar tampil prima, tinggal buka juga. Butuh inspirasi penataan rumah terkini, artikel dengan foto yang jelas untuk ditiru pun tersedia. Berita terbaru untuk meningkatkan kewaspadaan, kepedulian, dan menyemangati diri juga sayang dilewatkan. Pembaca bisa bercermin dari rubrik-rubrik psikologi maupun pengembangan diri. screenshot_2016-05-31-07-54-51.pngCermat memantau kesehatan keluarga berawal dari rajin mempelajari artikel terkait dari sumber yang dapat diandalkan seperti tabloid NOVA (psst, dokumentasi yang jempolan di web tabloid NOVA membuat saya mudah menelusuri aneka bahasan kesehatan keluarga dengan rujukan yang tepercaya. Sering juga saya kirimkan link dari web tabloid NOVA ke rekan atau keluarga yang memerlukan.). Pengetahuan yang luas dapat menjadi bekal agar perempuan merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Mengingat perempuan punya pengaruh besar di keluarganya, kenyamanan yang dirasakan bisa berbuah kebahagiaan bagi seluruh penghuni rumah. Rumah menjadi tempat yang senantiasa dirindukan untuk pulang, bercengrama dalam kehangatannya selalu dinanti-nantikan.

Bicara tentang kebahagiaan, menurut saya #BahagiadiRumah itu sederhana sekaligus mewah, tergantung bagaimana memandangnya. Sederhana karena bisa dimulai dari hal-hal kecil, saat ini juga. Mewah karena momen-momennya…yah, priceless. Rasa syukur juga amat penting. Saya jadi teringat petuah salah satu mantan atasan di kantor, bahwa bahagia itu harus dimulai dari diri sendiri, tidak perlu menunggu orang lain yang membuat kita bahagia. Dari sudut pandang saya selaku perempuan bekerja, tentu adakalanya kegamangan datang menyapa. Tulisan yang menyatakan nilai plus bagi anak-anak jika ibunya bekerja adalah salah satu yang jadi penyemangat. Tak hanya cukup di-doping semangat, saya juga butuh tips dan panduan seperti dimuat dalam artikel Pesan untuk Ibu Bekerja ini. Tentunya kebahagiaan bukan monopoli ibu bekerja, ibu rumah tangga juga berhak berbahagia dan bisa mewujudkannya di tengah kesibukan yang seolah tak ada habisnya. Dan sekali lagi, kalau perempuan sudah bahagia, akan lebih mudah baginya untuk menyebarkan energi positif ke seisi rumah.

dsc_5981.jpg

Grab Your Good Food (plus Your Crayon)…and Get a Good Mood!

good food good moodSejak tahun lalu cukup ramai dijual buku-buku mewarnai untuk dewasa. Iya, di sampulnya jelas tertera adult colouring book. Jadi mewarnai bukan hanya aktivitas yang identik dengan kanak-kanak atau hanya ditekuni oleh orang dewasa dengan profesi tertentu. Kalau tidak salah, demam mewarnai ini mulainya dari tanah Korea, dan buku-bukunya pun banyak diimpor dari sana. Saya awalnya tahu dari newsletter beberapa platform toko online yang dikirimkan ke e-mail (lagi jarang ke toko buku offline), kok banyak buku mewarnai untuk dewasa yang ditawarkan. Katanya sih, aktivitas mewarnai ini bisa sekaligus jadi terapi penenang pikiran dan penghilang stres.

Betul juga sih, mewarnai yang melibatkan koordinasi tangan dan mata ini mengasyikkan. Pilah-pilih warna, memperkirakan komposisi yang sesuai, proses mencoretkan pensil/krayon atau menyapukan kuas bisa jadi pengalih perhatian dari pikiran yang ruwet. Barangkali pilihan warna yang dipakai juga bisa menjadi cerminan akan suasana hati pelakunya, ya. Buku yang dijual pun saya amati makin beragam temanya, misalnya motif yang identik dengan etnis atau agama tertentu, alam sekitar, wajah dst.

Saya sendiri terus terang tidak begitu tertarik membeli secara khusus buku mewarnai untuk dewasa ini. Biarlah anak-anak saja yang asyik corat-coret, hahaha. Tapiii…begitu membaca bahwa ada buku mewarnai yang konsepnya lain, saya langsung ingin punya. Good Food Good Mood, judulnya. Bukan karena pembuatnya teman lama ya, hehehe, tapi karena memang unik, sih. Jadi bukan cuma buku mewarnai, melainkan juga ada resep-resepnya. Resep masakan sederhana yang mudah diterapkan ibu-ibu muda nan rempong, mungkin sekalian juga bisa ajak si kecil menyiapkan. Tiap resep di buku terbitan Kawan Pustaka ini diberi ilustrasi bahan mentah maupun hasil jadinya yang bisa diwarnai sesuka hati.

Berhubung saya memesan melalui PO ke penulisnya, Evelline Andrya, saya kebagian gift cantik berupa centong kayu. Malam setelah bukunya tiba, saya dan anak-anak langsung mewarnai salah satu halaman dari buku tersebut. Seru ya, ternyata. Jadilah Mason Jar Oatmeal a la kami. Saya yang tengah, Fathia jar satunya, dan urek-urekan di bagian resep dipersembahkan oleh Fahira :D. Buku ini juga sudah tersedia di Gramedia, seperti terlihat di foto bawah, kami lagi di Gramedia Matraman waktu itu.

Bekal Menjawab Pertanyaan Anak

Pertanyaan anak-anak seringkali mengejutkan kita, para orangtua. Tak jarang ada pertanyaan yang membuat kita salah tingkah, atau kaget. Bukan hanya bingung karena tidak tahu jawabannya, tetapi juga jadi pusing bagaimana menyampaikan jawaban dengan tepat. Takutnya anak salah paham, justru penasaran, kemudian tidak puas dan terus bertanya, atau jangan-jangan malah mencari tahu dari sumber lain.
Ini beberapa buku yang jadi bekal saya buat menjawab pertanyaan Fathia, sebagian besar bisa dibaca bareng-bareng karena banyak gambar yang memudahkan penjelasan.
buku pertanyaan

1. Seri Widya Wiyata Pertama Anak-anak (Tiga Raksa)

Ini bukunya gede, hardcover, berat juga, isinya cukup komplet (ada tema Roda dan Sayap, Ulah Binatang, Kehidupan di Bawah Air, Bumi dan Angkasa dst). dengan gambar dan foto yang besar-besar juga. Baru punya beberapa, beli ketengan kalau lagi ada yang jual 2nd (versi lama) hehehe.

2. Seri Aku Ingin Tahu Mengapa (Grolier)

Ini cuma punya satu sih, kado. Hard cover tapi tipis, bertema (yang dipunya ini soal padang pasir), banyak gambar kecil-kecil, lumayan lah untuk menerangkan.

3. Ensiklopedia Pertanyaan Besar Mengapa (BIP)

Buku tunggal, yang dibahas pertanyaan yang cenderung serius seperti apa HAM itu, kenapa nggak boleh terlalu banyak nonton, apa itu rasisme, mengapa kita suka lelucon, dst, jawabannya juga panjang-panjang sih, dan terjemahannya agak kaku. Tapi tetap nggak terlalu berat buat disimak, bergambar juga.

4. Emotional Intelligence Series #1: Apa Kamu Punya Rahasia? (BIP)

Berisi cergam, di bagian akhir tiap cerita ada penjelasan untuk membantu orangtua menerangkan kondisi tertentu seperti ibu bekerja, rasa malu, dan menyambut adik baru.

5. Seri Ensiklopedia Junior: Tubuh Manusia (Émilie Beaumont, BIP)

Ada judul-judul lain dalam seri EJ, tertarik sama judul yang ini karena direkomendasikan mba Fatimah Berliana Monika Purba (konselor laktasi Leader la Leche League) untuk pendidikan seks bagi anak. Nah pas beli minggu lalu dan buka-buka, ngng…kayaknya perlu dibahas berdua sama ayahnya dulu deh ini sebelum dibacain ke kakak, hahaha. Soalnya gambarnya (kartun) lumayan jelas soal anatomi tubuh dan proses kehamilan.

6. Balita Bertanya, Anda Menjawab (Pritha Khalida & Saniawati, PandaMedia)

Ini buku panduan untuk orangtua (minim ilustrasi), ada bab tubuh kita, peraturan, alam sekitar, agama/ketuhanan. Asli Indonesia, jadi bahasanya juga lebih mengalir dan enak dibaca.

Yang bukunya nyelip waktu mau difoto:

7. Anak Bertanya, Anda Menjawab (Adil Fahmi, Maghfirah Pustaka)

Ini lebih sebagai panduan bagi orangtua (minim ilustrasi) untuk membahas pertanyaan-pertanyaan yang terkait agama khususnya Islam ya, termasuk Allah ada di mana, kematian dst.

8. Seri Mengapa Bagaimana (BIP)
Baru punya yang Dinosaurus sama Ekologi, nggak setebal dan sebesar WWP jadi praktis dibawa-bawa. Suka diselipi ilustrasi konyol dalam pembahasannya.

9. How to Make a Baby, Mommy? (Dian Mardi & Gita Lovusa, Mizan)

(bersambung, ada beberapa buku lain yang mau dimasukkan)