Mengasah Naluri, Mempertajam Intuisi

Bulan ini kantor saya mengundang Pak Ismail Fahmi, pendiri Drone Emprit dan PT Media Kernels Indonesia sebagai narasumber dalam diskusi “Strategi Melawan Disinformasi, Fitnah, dan Kebencian di Media Sosial”. Saat memaparkan materinya, beliau menyebutkan buku Thinking, Fast and Slow karya ekonom perilaku peraih Nobel Daniel Kahneman sebagai salah satu referensi. Saya pun tertarik untuk membacanya lebih lanjut. Alhamdulillah, di perpustakaan kantor buku ini tersedia. Berikut adalah beberapa kutipannya yang mengena.

Buku Thinking, Fast and Slow

Buku Thinking, Fast and Slow

Kita semua pernah mendengar cerita intuisi pakar: jago catur yang melewati orang-orang yang bermain catur di pinggir jalan lalu berkata “Putih skak mat dalam tiga langkah” tanpa perlu memperhatikan lama-lama, atau dokter yang langsung memberi diagnosis rumit setelah melihat sekilas pasien. Intuisi pakar kita anggap ajaib, tetapi sebenarnya tidak.

Malah kita semua melakukan tindakan intuisi pakar berkali-kali tiap hari. Sebagian besar kita bisa mendeteksi rasa marah pada kata pertama yang terdengar dalam percakapan telepon, menyadari kita sedang dibicarakan ketika kita masuk ke ruangan tempat orang-orang mengobrol, dan bereaksi cepat terhadap tanda-tanda kecil yang menunjukkan pengendara mobil di jalur sebelah membahayakan.

Continue reading

[Resensi Buku] Mengenalkan Kuliner dan Sastra Indonesia ke Anak

Seri Kunang-Kunang @kawankunang Mencecap Kuliner Lokal
Penerbit: Balai Pustaka @official.bpbooks @pt_balaipustaka
Tahun terbit: 2025
Masing-masing 24 halaman

Buku Seri Mencecap Kuliner Lokal - Balai Pustaka

Buku Seri Mencecap Kuliner Lokal – Balai Pustaka

Apa jadinya kalau beberapa cerita sastra lama diadaptasi menjadi cerita bergambar untuk anak? Tahun ini Balai Pustaka, BUMN yang utamanya bergerak di bidang percetakan dan penerbitan, membuat lima judul buku cerita yang bersumber dari buku-buku yang pernah mereka terbitkan dulu. Idenya saja sudah sangat menarik, dan ternyata dieksekusi dengan apik pula. Benang merahnya adalah makanan khas berbagai daerah yang dikaitkan dengan keseharian para tokohnya.

Continue reading

Ikut Silent Reading sebagai Penyemangat Kegiatan Membaca

Pekan ini sebuah ajakan kembali masuk ke salah satu grup komunitas di aplikasi percakapan yang saya gunakan sehari-hari.

“Assalamu’alaikum, Sisterfillah. Mari nanti bergabung di acara rutin kita, Silent Reading. Siapkan buku yang mau dibaca, lalu bergabung dengan aplikasi pertemuan pada pukul 12.10 sampai dengan 12.50 nanti di 40 minutes Silent Reading Meeting. Sampai jumpa, Sisterfillah. Mari rayakan kemerdekaan dengan membaca buku-buku yang memerdekakan pikiran.”

Pengumuman ini secara rutin disampaikan ke grup Women Islamic Studies Hub (WISH) Kemenkeu sepekan sekali. Tak terasa, sudah setahun kegiatan ini rutin dilaksanakan. Selain ajakan baca bareng secara daring, ada juga pertemuan secara langsung yang memang masih cukup jarang bisa terlaksana mengingat kesibukan para anggotanya. Pertemuan tatap muka ini pernah diadakan di perpustakaan kantor maupun di taman kantor.

Continue reading

[Resensi Buku] Bekerja dengan Bahagia

Judul: Bekerja dengan Bahagia
Penulis: Leonita Siwiyanti, Eogenie Laki-laki, M. Fajar Ramadhan, Udi Kurniawan, Attia Mahda, dan penulis lainnya.
Penerbit: Trenlis
Tahun terbit: 2025
Tebal: 142 + vi halaman

Buku Bekerja dengan Bahagia - Trenlis

Buku Bekerja dengan Bahagia – Trenlis

Buku antologi ini memuat kisah-kisah inspiratif dan esai dari 24 penulis. Sesuai dengan judulnya, benang merah tulisan-tulisan yang dimuat di sini adalah pengalaman dan pandangan mengenai aktivitas bekerja dalam hubungannya dengan kebahagiaan.

Continue reading

“Naik Mesin Waktu” ke Parade Masa Balai Pustaka

Beberapa waktu yang lalu saya membaca informasi mengenai akan diadakannya kegiatan “Parade Masa” yang diadakan di Gedung PT Balai Pustaka, Matraman, Jakarta Timur. Disebutkan di akun Instagram Balai Pustaka, “Parade Masa” bakal berisi pameran arsip koleksi satu abad Balai Pustaka, bazar buku dengan diskon mencapai 95%, hingga aneka diskusi dan bedah buku.

Tempat yang juga dikenal sebagai Istana Peradaban dengan Kafe Sastranya ini cukup familiar karena berkali-kali dijadikan lokasi kegiatan berbagai komunitas yang saya ikuti sejak sebelum pandemi, antara lain pelatihan public speaking Ibu Profesional Jakarta, workshop blog Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta, Milad ke-22 Forum Lingkar Pena pusat, dan talk show Optimalisasi Peran Ayah Tingkatkan Literasi Keluarga bersama komunitas Puan Daya Karya. Jaraknya pun tak terlalu jauh dari rumah.

Lokasi Parade Masa di Balai Pustaka, Jl. Bunga Matraman

Lokasi Parade Masa di Balai Pustaka, Jalan Bunga, Matraman

Meski terbantu kemudahan akses dan panjangnya waktu kegiatan yang berlangsung sejak tanggal 3 Mei sampai dengan 1 Juni 2025, ternyata saya belum jadi-jadi bisa ke sana sampai lewat pertengahan Mei. Ada saja acara lain pada akhir pekan, ditambah dengan kondisi kesehatan yang sedang kurang bersahabat. Sebuah pengumuman di komunitaslah yang menggerakkan saya ke sana.

Continue reading

Kajian Teks Sederhana Buku Yena dan Uang Hijau

Tahun ini, untuk pertama kalinya, saya mengikuti lomba di kantor dalam rangka Hari Oeang ke-78. Biasanya saya hanya jadi suporter bagi suami dan teman-teman untuk lomba-lomba di bidang olahraga dan seni yang digelar. Cabang lomba yang saya ikuti juga baru muncul tahun ini, yaitu Read Aloud atau Membacakan Nyaring.

Meski teknik saya masih perlu perbaikan di sana-sini, tetapi aktivitas Read Aloud telah amat membantu membangun kebiasaan membaca Fathia dan Fahira. Cerita selengkapnya pernah saya tulis untuk buku antologi Chamomile Tea: The Miracle of Reading Aloud yang terbit tahun 2020.

Continue reading

Buku-Buku Anak yang Dianggap Absurd

Kata kedua untuk tantangan Writober Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta ini adalah “absurd”. Berhubung baru-baru ini saya membaca sebuah buku anak yang membuat saya sempat berpikir “ceritanya agak absurd, ya”, jadilah saya ingin mencari tahu lagi. Benarkah yang saya rasakan, atau mungkin absurd tidaknya suatu bacaan juga tergantung pada sudut pandang pembacanya?

Dunia anak adalah dunia imajinasi. Hal ini sepertinya sudah menjadi kesepakatan umum. Karenanya, buku anak seringkali menghadirkan imajinasi yang unik. Beberapa di antara buku ini menjadi terkenal karena konsepnya yang absurd itu. Absurditas ini antara lain muncul dalam cerita yang tampaknya tidak masuk akal, tetapi menawarkan sudut pandang yang segar atau cara yang tidak terduga dalam mengalahkan tantangan yang dihadapi oleh tokoh utama.

Berikut beberapa buku anak yang dikenal dengan konsep yang absurd:

Continue reading

[Resensi Buku] Perempuan Yang Mendahului Zaman

Judul buku: Perempuan Yang Mendahului Zaman
Penulis: Khairul Jasmi
Penerbit: Republika
Cetakan V, April 2024
Tebal: 232 xii halaman
ISBN: 978-623-279-089-6

Buku Perempuan Yang Mendahului Zaman

Buku Perempuan Yang Mendahului Zaman – Kisah Syekhah Rahmah El Yunusiyyah

Buku ini menceritakan kisah hidup Rahmah El Yunusiyyah, perempuan kelahiran Padang Panjang, 29 Desember 1900. Sebagai seorang pahlawan pendidikan perempuan, nama Rahmah tidak sepopuler RA Kartini. Dan memang hingga kini beliau belum dijadikan sebagai Pahlawan Nasional. Padahal perjuangan beliau sungguh hebat.

Bahkan negara lain pun mengakuinya, salah satunya lewat penganugerahan gelar Syekhah perempuan pertama dari Universitas Al Azhar Mesir pada tahun 1957. Gagasan Rangkayo Rahmah mendirikan sekolah muslimah Diniyyah Putri pun kemudian diadaptasi oleh universitas tersebut, yang sebelumnya hanya membuka program pendidikan untuk mahasiswa lelaki. Beliau pun punya banyak anak didik dan guru dari negara tetangga, Malaysia.

Rahmah sejak lama gelisah akan nasib para perempuan Minangkabau. Memang daerahnya ini mengakui derajat perempuan melalui sistem matrilineal. Namun, kenyataannya masih banyak perempuan yang tertindas. Seorang perempuan yang belajar, membaca, apalagi bersekolah, merupakan sesuatu yang dipandang sia-sia saja karena toh nantinya ia akan mengabdikan diri seutuhnya untuk keluarga.

Kakak Rahmah, Zainuddin, merintis Diniyyah School pada tahun 1915. Menurut Rahmah, pelajaran di sekolah kakaknya itu belumlah lengkap. Sedikit sekali bahasan akan fikih perempuan. Seperti dibahasakan penulis, “Bertanya malu, sebab gurunya pria, guru pun enggan menjelaskan karena tabu.” Rahmah bersama kawan perempuannya pun lalu belajar secara privat kepada Karim Amrullah atau yang mereka sapa sebagai Inyiak Rasul, ayahanda dari Buya Hamka yang di sisi lain merupakan murid sekolah kakaknya.

“Kaumku sudah lama tertindas, sementara tiap sebentar saya dengar perempuan adalah tiang negara, di mana akan ada negara kalau tiangnya rapuh? Al mar’atu imadul bilad. Selama ini kami dijadikan subjek saja, selama itu pula kami nyaris tidak dianggap, kecuali untuk dinikahkan. Kami menjadi pelengkap saja sampai ajal menjemput. Kami harus pasrah, apa pun yang akan terjadi.”

Rahmah juga tak menyukai nasihat bahwa perempuan hendaklah bekerja untuk yang ringan-ringan saja, sedangkan pekerjaan berat dan kasar diserahkan pada kaum lelaki. Sebab, pekerjaan seperti memasak dan mencuci sesungguhnya bukan sesuatu yang ringan. Suami memang kepala keluarga, tetapi istri juga memiliki hak-haknya.

“Pada guru jangan melawan, kau kami serahkan mengaji ke sana, bukan untuk bergelut sesama besar, bukan untuk mengganggu. Sekarang kau pulang mengadu, anak tak beradab, jangan adu domba orangtua dan guru mengaji! Itu yang didapat kalau masalah dibawa pulang. Rasa hormat pada guru mengaji di Minangkabau adalah hormat nan takzim, sebab karena dialah si anak bisa membaca alif ba ta. Ini metode pengajaran agama paling efektif di Nusantara, yang diciptakan oleh guru mengaji di surau-surau Minangkabau. Anak-anak yang khatam Quran di surau itu, lalu pergi merantau, jadi guru mengaji pula di negeri orang.”

Kutipan di atas menggambarkan cara pendidikan surau yang dianut masyarakat tanah kelahiran Rahmah. Kegemarannya membaca (pada bagian awal bahkan diceritakan ia lebih memilih membaca daripada makan) membuat Rahmah punya wawasan mengenai berbagai cara mendidik. Rahmah tak hendak mengingkari keunggulan metode surau, tetapi menurutnya cara klasikal dapat lebih efektif. Penuh tekad ia gunakan harta yang dipunya untuk mendirikan Diniyyah Puteri Padang Panjang tahun 1923. Semangat yang berkobar tak lantas menjadikannya abai akan peran keluarga besar. Pada kakak dan ibunya, Rahmah memohon restu.

Dasarnya memang kritis, bahkan saat ibunya mendoakan keberhasilan pun, Rahmah menanyakan balik, mengapa? Uminya, Rafiah, menjelaskan bahwa apa yang hendak dibangun oleh Rahmah ini bukan pekerjaan mudah. Pasti akan banyak tantangan dari masyarakat yang menganggapnya “memberontak dari tradisi” hingga dari kalangan Belanda yang tidak suka kaum yang dijajahnya terlalu cerdas. Namun, Umi Rafiah ingin anaknya bisa menolong kaum perempuan dengan pendidikan dan ilmu agama.

“Jika tak cukup bekal ilmu, maka bagai bunga kembang tak jadi. Menurut konsep Rahmah, ibu tak lain adalah sekolah. Jika ibu baik, maka anaknya akan baik dan sebaliknya. Salah satu poin penting bagi calon ibu adalah pendidikan agama.”

Saat Rahmah remaja, sudah ada pejuang perempuan lainnya yang juga berlatar belakang budaya serupa. Roehana Koeddoes dari Koto Gadang misalnya, yang mendirikan yayasan dan sekolah Amai Setia untuk kepribadian dan keterampilan perempuan. Roehana pun menjadi pemimpin redaksi koran Soenting Melajoe. Namun, Rahmah sendiri lebih berfokus pada upaya pendidikan perempuan secara Islam.

Rahmah pun sempat belajar bersama HR Rasuna Said, pahlawan perempuan yang namanya mungkin lebih akrab di telinga kita. Namun, Rahmah tetap secara tegas mengambil jalan pendidikan alih-alih ikut berpolitik seperti Rasuna Said. Bahkan Rahmah dan suaminya pun memutuskan berpisah karena perbedaan jalan perjuangan ini, di mana suaminya memilih jalur pergerakan. Setelah Indonesia merdeka, Rahmah sempat akhirnya terjun ke dunia politik, tetapi tak bertahan lama karena hatinya tak di situ.

Semangat belajar Rahmah membuatnya merambah beragam ilmu lainnya. Dari Nona Oliver, guru di Normal School Rahmah belajar tari, renang, dan senam. Untuk P3K dan kebidanan Rahmah belajar pada rumah sakit umum dan beberapa dokter. Ia berpikiran terbuka dan mengajak murid-muridnya menekuni kegiatan seperti mendaki gunung, menari, dan berenang, tetapi Rahmah bisa marah besar ketika muridnya ketahuan memakai baju terbuka saat hari libur.

Buku ini tak terlalu tebal, meski memuat perjalanan Rahmah sejak kecil hingga meninggal dunia. Telah dilewatinya masa penjajahan Belanda, Jepang, hingga kemerdekaan. Saya turut terhanyut ketika tiba pada bagian Rahmah berkeliling berbagai pulau untuk berdakwah sekaligus mengumpulkan dana untuk mengembangkan ataupun mendirikan kembali sekolahnya.

Ya, nasib sekolah Diniyyah Puteri sempat jatuh bangun secara harfiah, salah satunya karena gempa besar yang melanda. Dengan izin Allah mekalui perjuangan Rahmah, sekolah ini bangkit lagi dan lagi. Nantinya Diniyyah Puteri Tiga sampai dibuka di beberapa daerah, termasuk di beberapa lokasi di Jakarta yaitu di Gang Nangka Kwitang, Mester Cornelis Jatinegara, dan di Kebon Kacang Tanah Abang.

Penulis buku ini, Khairul Jasmi, merupakan jurnalis senior yang juga ayah dari novelis JS Khairen. Di tangannya, kejadian seperti bencana alam maupun dampak perang tersaji puitis. Tentu dengan tetap mengedepankan fakta, sebagaimana disajikan proses risetnya pada bagian Ucapan Terima Kasih. Sedikit yang mengusik adalah penyebutan beberapa nama tokoh terkenal lainnya seperti Buya Hamka dan Roehana Koeddoes yang sampai berulang diselipkan di sana sini beserta riwayat pendeknya. Mungkin untuk mengingatkan lagi bahwa perjuangan para tokoh bangsa ini saling berkait, ya.

Seharusnya buku ini saya setorkan untuk #BacaBarengWISH, tetapi baru bisa saya tuntaskan hari ini. Sebuah buku yang sangat menarik dan inspiratif. Bahkan saya membayangkan seperti apa jika kisah ini diangkat ke layar lebar, karena generasi berikutnya tak boleh lupa bahwa pernah ada pejuang pendidikan muslimah setangguh Rahmah El Yunusiyyah.

[Resensi Buku] Highly Unlikely

Judul: Highly Unlikely
Penulis: Aghnia Sofyan
Penerbit: POP (Imprint Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan pertama, Mei 2024
Jumlah halaman: 250 + v
Saran usia pembaca: 13+

Sesuai dengan tema #paradebukujuni Komunitas @resensi_bacayuk, buku yang saya baca untuk memenuhi tantangan #ResensiJuni ini adalah #bukubersampulkuning. Pilihan saya jatuh pada buku Highly Unlikely ini. Bukunya sendiri masih sangat baru, sebagaimana saya cantumkan bulan terbitnya di atas.

Continue reading