Buku ini menceritakan kisah hidup Rahmah El Yunusiyyah, perempuan kelahiran Padang Panjang, 29 Desember 1900. Sebagai seorang pahlawan pendidikan perempuan, nama Rahmah tidak sepopuler RA Kartini. Dan memang hingga kini beliau belum dijadikan sebagai Pahlawan Nasional. Padahal perjuangan beliau sungguh hebat.
Bahkan negara lain pun mengakuinya, salah satunya lewat penganugerahan gelar Syekhah perempuan pertama dari Universitas Al Azhar Mesir pada tahun 1957. Gagasan Rangkayo Rahmah mendirikan sekolah muslimah Diniyyah Putri pun kemudian diadaptasi oleh universitas tersebut, yang sebelumnya hanya membuka program pendidikan untuk mahasiswa lelaki. Beliau pun punya banyak anak didik dan guru dari negara tetangga, Malaysia.
Rahmah sejak lama gelisah akan nasib para perempuan Minangkabau. Memang daerahnya ini mengakui derajat perempuan melalui sistem matrilineal. Namun, kenyataannya masih banyak perempuan yang tertindas. Seorang perempuan yang belajar, membaca, apalagi bersekolah, merupakan sesuatu yang dipandang sia-sia saja karena toh nantinya ia akan mengabdikan diri seutuhnya untuk keluarga.
Kakak Rahmah, Zainuddin, merintis Diniyyah School pada tahun 1915. Menurut Rahmah, pelajaran di sekolah kakaknya itu belumlah lengkap. Sedikit sekali bahasan akan fikih perempuan. Seperti dibahasakan penulis, “Bertanya malu, sebab gurunya pria, guru pun enggan menjelaskan karena tabu.” Rahmah bersama kawan perempuannya pun lalu belajar secara privat kepada Karim Amrullah atau yang mereka sapa sebagai Inyiak Rasul, ayahanda dari Buya Hamka yang di sisi lain merupakan murid sekolah kakaknya.
“Kaumku sudah lama tertindas, sementara tiap sebentar saya dengar perempuan adalah tiang negara, di mana akan ada negara kalau tiangnya rapuh? Al mar’atu imadul bilad. Selama ini kami dijadikan subjek saja, selama itu pula kami nyaris tidak dianggap, kecuali untuk dinikahkan. Kami menjadi pelengkap saja sampai ajal menjemput. Kami harus pasrah, apa pun yang akan terjadi.”
Rahmah juga tak menyukai nasihat bahwa perempuan hendaklah bekerja untuk yang ringan-ringan saja, sedangkan pekerjaan berat dan kasar diserahkan pada kaum lelaki. Sebab, pekerjaan seperti memasak dan mencuci sesungguhnya bukan sesuatu yang ringan. Suami memang kepala keluarga, tetapi istri juga memiliki hak-haknya.
“Pada guru jangan melawan, kau kami serahkan mengaji ke sana, bukan untuk bergelut sesama besar, bukan untuk mengganggu. Sekarang kau pulang mengadu, anak tak beradab, jangan adu domba orangtua dan guru mengaji! Itu yang didapat kalau masalah dibawa pulang. Rasa hormat pada guru mengaji di Minangkabau adalah hormat nan takzim, sebab karena dialah si anak bisa membaca alif ba ta. Ini metode pengajaran agama paling efektif di Nusantara, yang diciptakan oleh guru mengaji di surau-surau Minangkabau. Anak-anak yang khatam Quran di surau itu, lalu pergi merantau, jadi guru mengaji pula di negeri orang.”
Kutipan di atas menggambarkan cara pendidikan surau yang dianut masyarakat tanah kelahiran Rahmah. Kegemarannya membaca (pada bagian awal bahkan diceritakan ia lebih memilih membaca daripada makan) membuat Rahmah punya wawasan mengenai berbagai cara mendidik. Rahmah tak hendak mengingkari keunggulan metode surau, tetapi menurutnya cara klasikal dapat lebih efektif. Penuh tekad ia gunakan harta yang dipunya untuk mendirikan Diniyyah Puteri Padang Panjang tahun 1923. Semangat yang berkobar tak lantas menjadikannya abai akan peran keluarga besar. Pada kakak dan ibunya, Rahmah memohon restu.
Dasarnya memang kritis, bahkan saat ibunya mendoakan keberhasilan pun, Rahmah menanyakan balik, mengapa? Uminya, Rafiah, menjelaskan bahwa apa yang hendak dibangun oleh Rahmah ini bukan pekerjaan mudah. Pasti akan banyak tantangan dari masyarakat yang menganggapnya “memberontak dari tradisi” hingga dari kalangan Belanda yang tidak suka kaum yang dijajahnya terlalu cerdas. Namun, Umi Rafiah ingin anaknya bisa menolong kaum perempuan dengan pendidikan dan ilmu agama.
“Jika tak cukup bekal ilmu, maka bagai bunga kembang tak jadi. Menurut konsep Rahmah, ibu tak lain adalah sekolah. Jika ibu baik, maka anaknya akan baik dan sebaliknya. Salah satu poin penting bagi calon ibu adalah pendidikan agama.”
Saat Rahmah remaja, sudah ada pejuang perempuan lainnya yang juga berlatar belakang budaya serupa. Roehana Koeddoes dari Koto Gadang misalnya, yang mendirikan yayasan dan sekolah Amai Setia untuk kepribadian dan keterampilan perempuan. Roehana pun menjadi pemimpin redaksi koran Soenting Melajoe. Namun, Rahmah sendiri lebih berfokus pada upaya pendidikan perempuan secara Islam.
Rahmah pun sempat belajar bersama HR Rasuna Said, pahlawan perempuan yang namanya mungkin lebih akrab di telinga kita. Namun, Rahmah tetap secara tegas mengambil jalan pendidikan alih-alih ikut berpolitik seperti Rasuna Said. Bahkan Rahmah dan suaminya pun memutuskan berpisah karena perbedaan jalan perjuangan ini, di mana suaminya memilih jalur pergerakan. Setelah Indonesia merdeka, Rahmah sempat akhirnya terjun ke dunia politik, tetapi tak bertahan lama karena hatinya tak di situ.
Semangat belajar Rahmah membuatnya merambah beragam ilmu lainnya. Dari Nona Oliver, guru di Normal School Rahmah belajar tari, renang, dan senam. Untuk P3K dan kebidanan Rahmah belajar pada rumah sakit umum dan beberapa dokter. Ia berpikiran terbuka dan mengajak murid-muridnya menekuni kegiatan seperti mendaki gunung, menari, dan berenang, tetapi Rahmah bisa marah besar ketika muridnya ketahuan memakai baju terbuka saat hari libur.
Buku ini tak terlalu tebal, meski memuat perjalanan Rahmah sejak kecil hingga meninggal dunia. Telah dilewatinya masa penjajahan Belanda, Jepang, hingga kemerdekaan. Saya turut terhanyut ketika tiba pada bagian Rahmah berkeliling berbagai pulau untuk berdakwah sekaligus mengumpulkan dana untuk mengembangkan ataupun mendirikan kembali sekolahnya.
Ya, nasib sekolah Diniyyah Puteri sempat jatuh bangun secara harfiah, salah satunya karena gempa besar yang melanda. Dengan izin Allah mekalui perjuangan Rahmah, sekolah ini bangkit lagi dan lagi. Nantinya Diniyyah Puteri Tiga sampai dibuka di beberapa daerah, termasuk di beberapa lokasi di Jakarta yaitu di Gang Nangka Kwitang, Mester Cornelis Jatinegara, dan di Kebon Kacang Tanah Abang.
Penulis buku ini, Khairul Jasmi, merupakan jurnalis senior yang juga ayah dari novelis JS Khairen. Di tangannya, kejadian seperti bencana alam maupun dampak perang tersaji puitis. Tentu dengan tetap mengedepankan fakta, sebagaimana disajikan proses risetnya pada bagian Ucapan Terima Kasih. Sedikit yang mengusik adalah penyebutan beberapa nama tokoh terkenal lainnya seperti Buya Hamka dan Roehana Koeddoes yang sampai berulang diselipkan di sana sini beserta riwayat pendeknya. Mungkin untuk mengingatkan lagi bahwa perjuangan para tokoh bangsa ini saling berkait, ya.
Seharusnya buku ini saya setorkan untuk #BacaBarengWISH, tetapi baru bisa saya tuntaskan hari ini. Sebuah buku yang sangat menarik dan inspiratif. Bahkan saya membayangkan seperti apa jika kisah ini diangkat ke layar lebar, karena generasi berikutnya tak boleh lupa bahwa pernah ada pejuang pendidikan muslimah setangguh Rahmah El Yunusiyyah.