Tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP (Think Creative) – Hari 3


Kemarin (05/11) kami lanjut menyimak Festival Dongeng Internasional Indonesia 2017 hari kedua. Kali ini saya banyak belajar dari para penampil. Ada yang membawakan dongeng lewat lagu-lagu, musik, menggunakan boneka atau alat bantu lainnya, bahkan mengajak penari. Setelah saya perhatikan, beberapa cerita punya tokoh utama yang sama yaitu naga. Namun masing-masing dongeng, meskipun sama-sama punya tokoh naga, bisa disajikan dengan cara yang berlainan. Ini bisa menjadi contoh kreativitas dalam mengolah cerita.

Sepulang dari acara, anak-anak seru mendongeng dengan cara mereka. Dan hadiah terbaik yang bisa orangtua berikan adalah menyimaknya dengan sepenuh jiwa, bukan dengan fokus yang terbagi. Ada boneka kaos kaki yang saya belikan di acara itu dan saya berikan kepada anak-anak sebagai sarana bercerita, walaupun sebetulnya apa saja bisa dijadikan sarana ya. Dan memang dengan alat bantu yang baru dan menarik, anak-anak jadi tambah bersemangat. Meski demikian, muncul juga tantangan baru, gara-gara salah satu boneka terlihat lebih menarik daripada yang lainnya. Rebutan lah jadinya. Ini juga tantangan baru sih, ya… Perlu kreativitas untuk menanganinya, termasuk dalam menerapkan komunikasi produktif yang menjadi materi pertama Kelas Bunda Sayang IIP.

 

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Push Yourself to the Limit!

Seperti sudah saya sampaikan dalam postingan laporan pelaksanaan tantangan 10 hari untuk hari pertama, saya sempat kaget dengan tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. Bagi saya yang lebih dominan sisi mengikuti buku teks atau manual petunjuk, diminta untuk mengasah kreativitas melalui ‘apa saja yang ditemui sehari-hari’ itu… ‘menakutkan’. Bagaimana kalau saya salah memaknai instruksinya, dan yang saya laporkan berbelok dari yang seharusnya?

Apalagi di hari-hari awal tantangan, saya sedang banyak kerjaan di kantor sampai sering pulang malam. Sampai rumah suka sayang kalau buka hp alih-alih main dengan anak-anak, apalagi mama sedang ada di sini. Waktunya untuk bercengkrama, kan? Makin bingung saya, bagaimana memahami apa yang seharusnya dilakukan untuk tantangan Level 9 ini. Bahkan untuk mengikuti sesi diskusi bersama-sama (bukan pertanyaan yang insidental) pun kewalahan karena bersamaan waktunya dengan persiapan keberangkatan suami ke luar kota. Jelas saya memilih untuk menaruh ponsel dulu. Begitu baca keesokan harinya, waah, seru ya ternyata bahasannya. Banyak tantangan berpikir kreatif yang mengajak untuk melihat bukan hanya dengan sudut pandang yang selama ini dipakai.

Continue reading

Tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP (Think Creative) – Hari 2

Kemarin (04/11) kami bersama-sama nonton pertunjukan air mancur menari (Jakarta Fountain) di Monas. Kami benar-benar sampai di lokasi sekitar pukul 20, alias tepat setelah pertunjukan pertama selesai (dari kejauhan masih sempat lihat ujung-ujung show pertama). Jadilah kami harus menunggu 30 menit lagi untuk sesi kedua. Masih alhamdulillah sih kebagian, dan cuaca pun cerah.

Yang sempat saya rasakan menantang adalah bagaimana agar anak-anak tidak merasa bosan. Sayang kami lupa membawa cemilan, jadi butuh pengalih perhatian yang lain. Kalau nonton hp gitu kan gak seru, ya. Mau menggambar juga situasinya kurang memungkinkan. Banyak anak yang berlarian di sekitar undak-undakan tempat kami duduk, sepertinya memang jadi kesibukan yang seru buat anak-anak untuk menghabiskan waktu. Tapi remang-remang begitu, banyak orang dan anak-anak yang lari bikin risiko tertabrak tinggi, ditambah lagi banyak rumput di lokasi yang rawan terinjak (dan harusnya tidak boleh diinjak memang), saya, mama, dan pengasuh anak-anak memilih untuk membatasi aktivitas mereka. Berdiri, jalan-jalan sedikit tak apa.

Maka untuk menjaga mood anak-anak yang ketika masuk hitungan belasan menit terlihat mulai jenuh menanti, saya, atau tepatnya kami, sih,  mulai bercerita tentang apa saja. Paling banyak tentang aktivitas kami seharian sebelumnya, mulai dari festival dongeng yang kami hadiri sampai show tokoh boneka. Ya, hari yang amat sibuk, memang…. Alhamdulillah kreativitas dalam mencari bahan obrolan, termasuk akhirnya main tebak-tebakan juga, bisa menolong agar anak-anak betah.

 

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP (Think Creative) – Hari 1

Tantangan kali ini cukup bikin saya kewalahan. Bagaimana tidak, bukannya diberi penjabaran harus ngapain, malah diajak kreatif pula menemukan ‘sesuatu’ dalam kehidupan sehari-hari. Boro-boro ada contohnya :D. Apalagi di kantor juga lagi banyak kerjaan, jadi ketinggalan melulu sesi diskusinya. Ya sudah, lapor sependek pemahaman saya saja ya…

Salah satu hal yang menuntut kreativitas menurut saya adalah bagaimana mengatur waktu untuk membersamai anak betul-betul ketika saya berada di rumah, termasuk ketika kami beraktivitas di luar rumah juga sih…intinya ketika saya sedang tidak ngantor. Apalagi kerjaan yang sekarang kadang bikin saya harus siaga pegang gawai di mana pun berada. Beberapa hari ini saya bertekad betul mengurangi pemakaian gawai di rumah.

Jumat kemarin (03/11) misalnya. Paling tidak, begitu pulang, saya mandi, sholat (kalau belum) tanpa mengecek ponsel dulu, termasuk sewaktu makan malam. Ceritanya biar fokus. Saya manfaatkan juga benda apa saja yang ada di sekeliling untuk memulai pembicaraan dengan anak-anak. Ya, pada dasarnya saya susah ngobrol soalnya. Tapi saya haruskan diri saya terus berpikir. Wawancara narasumber bisa, masa’ sama anak sendiri keok. Sebenarnya sih anak-anak juga dipancing sedikit sudah semangat cerita dan mengajak bermain. Tanpa ditanya pun mereka biasanya sudah bersahut-sahutan kasih laporan kegiatan seharian atau kondisi mereka dengan semangat. Saya saja yang belum bisa fokus betul. Seringnya ketika semua urusan saya beres, termasuk video call kami semua, sudah mendekati waktu tidur. Nggak mau juga jam tidur mereka berantakan. Maka solusinya ya itu tadi, saya komit untuk membersamai mereka dengan sepenuh pikiran dan segenap perasaan.

Kemarin ada paket dari teman datang, sebuah juicer manual yang kontan jadi rebutan. Lagi-lagi malah saya yang belajar dari anak-anak soal kreativitas ini, karena cara mereka berbagi kadang out of the box. Dan memang berkaitan dengan box beneran sih, jadi kotak kemasan pun ternyata dianggap mainan yang bikin keadaan imbang, lho.

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

 

Belajar dari Generasi Z, Mengapa Tidak?

Awal bulan ini, tepatnya tanggal 1 lalu, saya kembali memboyong seisi rumah untuk mengikuti kegiatan wisuda program Matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP) Jakarta Batch 4. Lagi-lagi ‘jadi penyusup’ di acara batch lain, hehehe, seperti yang kami lakukan Mei lalu. Habisnya, sayang sih kalau melewatkan kesempatan belajar dari para pembiacara. Jika pada wisuda batch 3 yang diundang untuk mengisi materi adalah ustadz Harry Santosa, kali ini panitia menghadirkan ketiga putra-putri bu Septi Peni Wulandani (founder IIP) dengan pak Dodik Marianto.

Nurul Syahid Kusuma (Enes), Kusuma Dyah Sekararum (Ara), dan Elan Jihad Muhammad yang masa pendidikannya lebih banyak dijalani dengan metode homeschooling ini bisa dibilang merupakan bagian dari generasi Z. Enes kelahiran tahun 1996, Ara lahir setahun kemudian, sedangkan Elan, satu-satunya lelaki dari tiga bersaudara ini, lahir tahun 2003. Terakhir saya melihat mereka sekitar dua tahun yang lalu, ketika ada kuliah umum IIP (waktu itu belum jadi anggota) di mana bu Septi sekeluarga menjadi pengisi acara. Menarik melihat perkembangan ketiga anak muda nan cerdas ini. Mereka tampak makin mantap dan fokus dengan proyek sesuai minat masing-masing.

Continue reading

Review Kelas Bunda Sayang IIP Sesi #6: Cerdas Finansial Ibu Berpengaruh pada Anak

Institut Ibu Profesional
Review Materi Sesi 8

CERDAS FINANSIAL IBU BERPENGARUH PADA ANAK

Bunda, terima kasih sudah menyelesaikan tantangan di kelas Bunda Sayang yang ke-#8 kali ini. Kita sudah melewati 2/3 perjalanan kita.

Sejatinya di materi kali ini kita ditantang untuk menjadi cerdas finansial dengan cara memandu anak-anak (Learning by Teaching).

Maka langkah yang kita ambil adalah memahamkan diri kita terlebih dahulu bahwa uang adalah bagian kecil dari rezeki.

Selanjutnya belajar mengelola uang, membaginya kepada yang berhak, membedakan keinginan serta kebutuhan.

Kita sedang tumbuh bersama anak dengan menjadi teladan, sehingga anak ikut belajar mengelola uang dan bertanggung jawab terhadap bagian rezeki yang didapatkan di dalam kehidupan ini.

Maka kuncinya adalah mulai dari orangtuanya.

Salah satu peran kita sebagai Ibu bukanlah untuk mengkhawatirkan rizqi keluarga, melainkan menyiapkan sebuah jawaban “Dari Mana” dan “Untuk Apa” atas setiap karunia yang diberikan kepada anak dan keluarga kita.

Peran tersebut perlu ilmu.

Hargai dengan baik segala ikhtiar pekerjaan menjemput rezeki, baik yang kita lakukan maupun yang dilakukan pasangan kita. Hal ini membuat penghasilan yang akan diterima akan lebih berharga

Anak-anak harus paham, tidak ada pekerjaan yang hina di muka bumi ini selama untuk menjemput rezeki yang halal.

Habiskan uang di jalan yang benar

Kebiasaan lama kita adalah menyisakan uang agar bisa menabung, investasi dan lain-lain. Namanya menyisakan pasti kecil.

Maka ubah dengan cara merencanakan dengan baik, dan habiskan uang di jalan yang benar.

Contoh:

Cashflow orang yang bermental miskin:

Pendapatan 100

Pengeluaran:
Shopping 57,5
Cicilan hutang 30
Sosial 2,5
——————————–
Sisa 10 baru ditabung

Cashflow orang yang bermental kaya:

Pendapatan 100

Pengeluaran:
Zakat, infaq, sedekah 2,5
Cicilan hutang 30
Investasi 10
Kebutuhan pribadi 57,5
—————————————
Sisa 0

Continue reading

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 13

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 13, 26 September 2017

Semalam anak-anak minta dibacakan buku Masa Kecil Nabi dan Rasul karya kang Ridwan ‘Iwok’ Abqary yang baru tiba. Ternyata dalam kumpulan cerita tersebut ada juga kisah yang terkait dengan kecerdasan finansial, yaitu kisah Nabi Ibrahim. Di situ diceritakan bahwa Nabi Ibrahim semasa kecil membantu ayahnya berjualan patung berhala. Namun karena tidak sesuai dengan kata hatinya, maka alih-alih berpromosi agar orang tertarik membeli, Nabi Ibrahim malah mengucapkan kata-kata yang cenderung membuat orang kehilangan minat. Misalnya bahwa patung ini tidaklah berguna dan tidak pantas disembah. Anak-anak sudah pernah dibacakan cerita lain tentang menyekutukan Allah swt dengan hal lain termasuk patung yang disembah, jadi mereka menanggapi bahwa memang sudah seharusnya orang tidak membeli patung untuk disembah. Diskusi kemudian melebar ke soal membantu orangtua, kemudian juga tentang adab berjualan, termasuk berjualan sesuatu yang membawa mudharat. Tidak lama sih memang, karena saya sedang berusaha mengatur kembali jam tidur mereka. Saya sadar juga bahwa yang saya lakukan masih lebih banyak outside in, bukan inside out seperti yang beberapa kali diingatkan oleh IIP, semoga ke depannya bisa saya perbaiki.

 

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 12

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 12, 25 September 2017

Masih melanjutkan buku yang kemarin, berikut cerita-cerita selanjutnya dalam buku Aku Cerdas Mengelola Uang karya mba Watiek Ideo dan Fitri Restiana yang saya bacakan untuk anak-anak:

  • Saat Lebaran Tiba, menggambarkan keriaan Idul Fitri di mana anak-anak biasanya memperoleh angpau. Jadi ingat uang angpau anak-anak yang atas perintah ayah mereka didonasikan semua, sih. Ini PR saya dan suami untuk membahas lebih detil terkait hak anak-anak atas uang mereka, seberapa banyak pilihan yang boleh kami ungkapkan untuk mereka (dibelanjakan, disumbangkan?), apakah beberapa hal yang berbau kesenangan lebih baik kami blokir atau tetap diberitahukan sekaligus dengan menyebutkan manfaat vs mudharatnya.

Continue reading

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 11

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 11, 24 September 2017

Setelah sejak pagi sibuk dengan ‘perayaan’ ultah Fathia (walaupun hanya tumpeng nasi kuning dan puding) dan jalan-jalan ke Taman Suropati, malamnya, saya bacakan buku baru untuk anak-anak. Sengaja saya pilihkan buku berjudul Aku Cerdas Mengelola Uang karya mba Watiek Ideo dan Fitri Restiana. Dalam buku tersebut terdapat 10 judul cerita pendek terkait cara memperoleh, mengelola, maupun membelanjakan uang, disertai dengan ilustrasi menarik. Semuanya menampilkan kisah sehari-hari dalam kehidupan anak-anak terkait, sehingga terasa dekat dan akrab.
Continue reading

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 10

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 10, 23 September 2017

Esok hari, Fathia genap berusia 6 tahun. Tentu ia sempat melontarkan keinginan diadakannya pesta perayaan ulang tahun. Tapi karena memang sejak awal kami belum pernah bikin perayaan dengan mengundang tamu, maksimal hanya berbagi makanan untuk tetangga, maka Fathia juga tidak sampai ingin dibuatkan pesta yang meriah. Meski beberapa kali kami pernah menghadiri pesta ulang tahun anak tetangga, tapi rupanya keseruan pesta tersebut tak sampai menjadi acuan baginya.

Continue reading