Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 1

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 1, 14 September 2017

Kemarin saya hendak memulai menjalankan tantangan hari pertama dengan cara mengajari anak-anak menabung. Kebetulan, minggu lalu saya membuatkan celengan untuk anak-anak dari kardus bekas. Waktu itu sih rencananya untuk pengenalan huruf dan angka dengan cara menyuapkan kepingan wortel dan ikan dengan angka/huruf ke ‘celengan’ yang berbentuk kelinci dan kepiting. Inspirasinya dari buku Kreasi Asyik Muslim Cilik (Azka Madihah). Tapi bentuk kepiting ternyata kemudian diganti sendiri oleh Fathia menjadi kupu-kupu.

Baru juga saya mengambil dompet berisi uang, Fathia mengeluh pusing. Badannya memang sedang hangat, diiringi serangan batuk yang agak mengganggu. Jadi saya beralih fokus membantunya merasa lebih nyaman. Rupanya Fahira telanjur antusias dengan dompet yang saya letakkan, dan ia berusaha membuka sendiri. Maka meluncurlah pertanyaan-pertanyaan kritis dari Fahira, ini uang berapa? Isi yang mudah diambil olehnya hanya lembaran uang sepuluh dan dua puluh ribuan, masing-masing satu. Pertanyaan ‘berapa’ itu jadinya berulang-ulang saja ia sampaikan dengan jawaban yang juga berulang. Saya mencoba memberi gambaran, uang segitu bisa untuk beli barang A, B, atau C.

Materi Kelas Bunda Sayang IIP sesi #8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini

Institut Ibu Profesional
Kelas Bunda Sayang sesi #8

MENDIDIK ANAK CERDAS FINANSIAL SEJAK DINI

Apa itu Cerdas Finansial?

Menurut para ahli, cerdas finansial adalah kemampuan seseorang untuk mendapatkan dan mengelola keuangan.

Apabila disesuaikan dengan konsep di Ibu Profesional bahwa uang adalah bagian kecil dari rezeki, dengan belajar mengelola uang artinya kita belajar bertanggung jawab terhadap bagian rezeki yang kita dapatkan di dalam kehidupan ini.

Apa pentingnya cerdas finansial ini bagi anak-anak?

Di dalam Ibu Profesional kita memahami satu prinsip dasar dalam hal rezeki yaitu,

Rezeki itu pasti, kemuliaanlah yang harus dicari

 

Ketika anak sudah paham konsep dirinya, maka kita perlu menstimulus kecerdasan finansialnya agar:

Kemuliaan Anak Meningkat

dengan cara:

a. Anak paham konsep harta, bagaimana memperolehnya dan memanfaatkannya sesuai dengan kewajiban agama atas harta tersebut.

b. Anak bertanggung jawab atas pengelolaan keuangan sendiri.

c. Anak terbiasa merencanakan (membuat budget) berdasarkan skala prioritas.

d. Anak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

e. Anak memiliki rasa percaya diri dengan pilihan “gaya hidup” sesuai dengan fitrahnya, tidak terpengaruh dengan gaya hidup orang lain.

f. Anak paham dan punya pilihan hidup untuk menjadi employee, self employee, bussiness owner, atau investor.

Continue reading

Review Kelas Bunda Sayang IIP Sesi #6: Menstimulus Kecerdasan Matematis Logis

Institut Ibu Profesional

Review kelas Bunda Sayang sesi #6

🌐πŸ₯‡πŸŽ— MENSTIMULUS KECERDASAN MATEMATIS LOGIS πŸ”’πŸ₯‡πŸŽ—

πŸ’πŸ’Bunda, setelah kurang lebih selama 1 bulan kita belajar bersama tentang bagaimana menstimulus kecerdasan matematis logis pada diri kita dan anak-anak, maka sekarang kita bisa merasakan bahwa matematika itu bukanlah sesuatu yang jadi momok buat anak-anak.

πŸ”£πŸ”’β™₯ Matematika itu sangat dekat dengan kita. Kalau dulu bahkan sampai saat ini kita merasakan bahwa “matematika” itu adalah pelajaran yang sulit, kemungkinan besar karena kita menjalani proses yang salah. Itulah pentingnya mengapa kita harus mengubah konsep pemahaman kita tentang matematika di Institut Ibu Profesional ini, sehingga anak-anak kita akan selalu bahagia dengan matematika.

Sebagaimana kita tahu, matematika adalah sarana agar anak-anak kita memiliki kemampuan:

a. Berpikir logis
b. Berpikir kritis
c. Memecahkan masalah secara sistematis
d. Melatih ketelitian, kecermatan, dan kesabaran
e. Menarik kesimpulan secara deduktif (menarik kesimpulan berdasarkan pola yang umum. Hal ini akan membiasakan otak kita untuk berpikir secara objektif).

 

Continue reading

Aliran Rasa Tantangan Level 7 (Semua Anak Adalah Bintang)

Untuk tantangan kali ini saya merasa agak rancu dengan beberapa tantangan sebelumnya. Mengamati apa bakat dan potensi anak, membandingkan perkembangannya, menyusun proyek yang sesuai, rasanya sudah pernah dilaksanakan untuk level sebelumnya ataupun kelas matrikulasi. Tapi setelah menjalani hari demi hari, tidak ada pengulangan juga kok ternyata dari apa yang saya laporkan.

Seperti biasa, saya masih menjalankan trik sebelumnya yaitu menyiapkan draft di blog. Ini lumayan membantu, apalagi pada tantangan ini kesibukan kantor lebih padat ketimbang saat mengerjakan dua tantangan sebelumnya. Alhasil saya pun sempat ketiduran sebelum setor di hari keduabelas. Alhamdulillah sudah lewat dari 10 hari sih, tapi jadi gemes karena artinya tidak mungkin dapat badge OP lagi :D. Biarpun mengaku tidak mengejar predikat, tapi kalau tinggal selangkah lagi itu rasanya geregetan ternyata. Apalagi di tantangan kali ini disebutkan bahwa badge OP hanya untuk yang rajin menyetorkan berturut-turut tanpa rapel selama 13 hari.

Kendala saat melaksanakan tantangan ini? Karena inginnya tiap hari pengamatan saya lakukan pada Fathia maupun Fahira, dua-duanya, dan ini agak makan waktu, ya… Jadinya di beberapa hari terakhir saya fokus ke masing-masing anak saja. Satu hari itu ditekankan ke perkembangan Fathia saja atau Fahira saja. Namun jika ada hal menarik seperti si kakak/adik yang ikut menanggapi saat saudaranya melakukan sesuatu dan di situ kelihatan arah minatnya, ya saya masukkan sekalian.

Serunya Main Islamic Board Game

Masya Allah, sukaaa sama Islamic Board Game dari el Hana ini. Terutama karena ortu jadinya harus ikutan belajar lagi terkait ilmu agama, hehehe. Anak-anak belum pernah main ular tangga sebelumnya, dan seru sih kakak (5 tahun 11 bulan) main IBG ini. Kakak jadi sekalian belajar baca juga, karena lagi masanya banyak penasaran dengan kata-kata baru. Walaupun yaa kadang jadi bubar jalan kalau dedek (2 tahun 8 bulan) nimbrung dengan pemahaman dan aturannya sendiri :D. Tapi bisa sekalian menuntun soal bersabar, bergiliran, dan mengikuti aturan, sih.

Prinsipnya mirip seperti permainan ular tangga memang, tapi dengan konten Islami yang mengasah pemahaman kita tentang ketentuan-ketentuan dalam Islam. Ada kartu pertanyaan yang dibagi dalam tiga tema: Al Qur’an dan Hadits, Akhlak dan Adab, serta Sirah. Belakangan dibuat juga kartu tema lain, yaitu yang terkait tema Haji dan Qurban.

Continue reading

Materi Kulwap I Rumbel Berkebun IIP Jakarta: Mari Berkebun Bersama

Β γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°πŸ‘ MATERI KULWAPΒ 1⃣ RUMBEL BERKEBUN IIP JAKARTA πŸ‘πŸ‘γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°

Β Bismillaahirrohmaanirrohiim

Mari Berkebun Bersama
oleh Suci Purnama Sari

Kenapa harus berkebun?

Berkebun merupakan bagian dari kegiatan bertani sederhana yang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), berkebun selama 2,5 jam per minggu dapat menurunkan resiko penyakit obesitas, osteoporosis, depresi, stroke, dan penyakit jantung.

Tujuan berkebun umumnya untuk budidaya tanaman yang dikonsumsi, membuat halaman rumah menjadi bermanfaat, aktivitas fisik untuk menjaga kesehatan, mengasah daya kreativitas, dlsb.

πŸ“– Dalam Al Qur’an Surat Hud : 61
“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).”

Menurut Ibnu Katsir, tafsir kalimat “…dan menjadikan kalian pemakmurnya”, yakni Dia menjadikan kalian sebagai para pembangun yang memakmurkan bumi dan yang menggarap pemanfaatannya.

Berdasarkan Surat Hud: 61 aktivitas berkebun bukan hanya “sekadar” menanam untuk menikmati hasil dan merasakan manfaatnyaΒ  namun berkebun haruslah karena Allah, karena Allah telah menjadikan manusia sebagai pemakmur bumi. Dan, ini menjadi salah satu tugas manusia di muka bumi.

Continue reading

Tantangan Level 7 (Semua Anak Adalah Bintang) Hari 13

Tantangan Level 7 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Semua Anak Adalah Bintang, Hari 13, 30 Agustus 2017

Malam itu saya lebih banyak mengamati ketika anak-anak bermain bersama. Mulai dari masak-masakan, mobil-mobilan di miniatur kota, nonton Smart Hafiz bersama, main guru-guruan, dokter-dokteran dst. Ya, menakjubkan ya, betapa banyak permainan hanya dalam dua-tiga jam itu :D. Belum lagi sesi baca cerita, yang kali itu saya bacakan Ingin Dipuji (dari Seri 10 Akhlak Mulia karya mba Anisa Widiyarti yang tempo hari mengikuti acara yang sama dengan saya) dan Di Hotel (dari Seri Petualangan Seruku karya mba Aan Wulandari).

Continue reading

Cemilan Rabu Kelas Bunda Sayang sesi #7: Semua Anak adalah Bintang

🍎🍏 Cemilan Rabu 🍏🍎 23 Agustus 2017
Materi 7 : Semua Anak adalah Bintang

Menumbuhkan Fitrah Bakat Anak

πŸ‘‘ Setiap anak terlahir unik dan membawa peran hidup masing-masing (fitrah bakat).

🌟 Abah Rama Royani, yang mengembangkan Talents Mapping, secara sederhana menyebut fitrah bakat adalah fitur unik, yaitu potensi produktif seseorang, dan dapat dilihat secara sederhana pada aktivitas yang dikerjakan dengan easy, enjoy, excellent, earn (4E).

πŸ‘¨β€πŸ‘©β€πŸ‘§β€πŸ‘¦ Tugas orang tua adalah menjadi fasilitator dan partner yang menumbuhkan dan mengapresiasi fitrah yang mereka miliki.
Fitrah anak bisa jadi akan cedera jika orang tua menitipkan mimpi mereka kepada anak-anak mereka. Misalnya, orang tua mengharuskan anak mengikuti jejak orang tua menjadi dokter, memimpikan anak mereka menjadi pegawai negeri karena mendapatkan tunjangan pensiun, dan harapan-harapan yang lain yang sejatinya itu bukan “diri” mereka. Bisa jadi anak-anak tersebut memang hebat dalam bidang tersebut (easy dan excellent), akan tetapi mereka belum enjoy dalam menjalaninya.

πŸ† Bakat bukan hanya keistimewaan fisik seperti olahraga, memasak, menari, dsb, tetapi bakat juga terkait keistimewaan sifat seperti suka mengatur, suka meneliti, suka berkomunikasi, suka memimpin, dan sebagainya.

Continue reading

Tantangan Level 7 (Semua Anak Adalah Bintang) Hari 12

Tantangan Level 7 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Semua Anak Adalah Bintang, Hari 12, 29 Agustus 2017

Masih melanjutkan proyek mengenalkan kebesaran Allah melalui benda langit, kali ini saya ajak juga Fahira (2 tahun 8 bulan) untuk bergabung dengan kakaknya menyaksikan video bertema peneropongan dan luar angkasa. Sempat diselingi dengan video call eyangnya sih, tentu ini bisa dimasukkan ke mengasah ranah hubungan interpersonal ya.

Terkait ranah hubungan spiritual, kembali saya menyampaikan tentang kebesaran Allah swt kepada anak-anak sambil melihat video. Pergerakan planet-planet, juga kemampuan manusia untuk membuat alat yang memungkinkan mengamati semua itu tentu tidak lepas dari kuasa Allah swt. Kemudian ketika melepon eyangnya, anak-anak juga sekalian mengobrol dengan omnya. Menarik bagi saya ketika saya membisiki Fahira dalam rangka memancingnya melontarkan pertanyaan terntentu (agar obrolan lebih panjang), dan ia ternyata memodifikasinya menjadi kalimat yang lebih lengkap dan detil. Sedangkan Fathia (5 tahun 11 bulan) perlu pemanasan untuk lebih semangat bercerita khususnya seputar kegiatan di sekolah.

 

#Tantangan10Hari

#Level7

#KuliahBunsayIIP

#BintangKeluarga

Belajar agar Makin Cerdas dan Cantik lewat #BloggerMuslimahMeetUp

Kotak palet kosmetik telah terbuka di hadapan saya. Apron dan headband terpasang sudah. Saya menghela napas panjang. Akhirnya, setelah selama ini saya menghindari ikut kegiatan-kegiatan beauty class, sampai juga pada saat di mana saya tidak mungkin kabur. Bukan kabur karena serem ya, tapi merasa kikuk banget aja, hehehe. Coba, kalau tahapan materi yang diajarkan nggak maju-maju gara-gara saya seorang yang nggak kunjung benar menggerakkan aplikator misalnya, apa nggak malu-maluin? Berasa menghambat peserta lain dan menyusahkan pengajar, gitu. Padahal di sisi lain sebetulnya saya punya keinginan juga untuk bisa berdandan dengan baik dan benar. Dalam kesempatan istimewa, adakalanya kita dituntut untuk tidak tampil polosan ‘kan, ya.

Trus, kok bisa saya akhirnya mendaftarkan diri ikut acara beauty class?

Pertama, kegiatan yang saya peroleh informasinya dari Instagram ini tajuk utamanya adalah #BloggerMuslimatMeetUp, dan beauty class bukan satu-satunya agenda. Terus terang yang membuat saya tertarik ikutan adalah nama para pengisi acara, potensi ketemu para blogger muslimah yang selama ini saya amati saja kegiatannya melalui unggahan di dunia maya, plus lokasinya yang dekat dari rumah.

Kedua, mengingat pesertanya adalah para muslimah, saya jadi lebih percaya diri. Minimal, nggak bakal dikasih materi make up menyimpang dari syariat. Panitia pun pastinya sudah mengondisikan agar tidak ada lawan jenis berseliweran di lokasi saat kegiatan berlangsung. Berbeda halnya dengan beauty class cuma-cuma di tengah pusat perbelanjaan atau keramaian lainnya.

Lantas, bagaimana kesan-kesan saya setelah betulan memulaskan perona pipi, bedak, dan lipstik? Saya tuliskan belakangan yaa, biar lebih runut ceritanya. Jadi, Meet Up ini bukan sekadar ketemuan biasa, karena peserta juga diajak berpartisipasi aktif dalam Literacy Class dan Beauty Class.

Sebagaimana yang tertera di banner publikasi acara, kegiatan diselenggarakan pada hari Ahad tanggal 27 Agustus lalu di lantai 2 Nutrifood Inspiring Center, Apartemen Menteng Square, daerah Matraman, Jakarta Timur. Melihat rundown acara ternyata lumayan padat juga, karena acara dimulai dari pukul 09.00 dan baru usai kira-kira ketika azan Asar berkumandang.

Continue reading