Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 1, 14 September 2017
Kemarin saya hendak memulai menjalankan tantangan hari pertama dengan cara mengajari anak-anak menabung. Kebetulan, minggu lalu saya membuatkan celengan untuk anak-anak dari kardus bekas. Waktu itu sih rencananya untuk pengenalan huruf dan angka dengan cara menyuapkan kepingan wortel dan ikan dengan angka/huruf ke ‘celengan’ yang berbentuk kelinci dan kepiting. Inspirasinya dari buku Kreasi Asyik Muslim Cilik (Azka Madihah). Tapi bentuk kepiting ternyata kemudian diganti sendiri oleh Fathia menjadi kupu-kupu.
Baru juga saya mengambil dompet berisi uang, Fathia mengeluh pusing. Badannya memang sedang hangat, diiringi serangan batuk yang agak mengganggu. Jadi saya beralih fokus membantunya merasa lebih nyaman. Rupanya Fahira telanjur antusias dengan dompet yang saya letakkan, dan ia berusaha membuka sendiri. Maka meluncurlah pertanyaan-pertanyaan kritis dari Fahira, ini uang berapa? Isi yang mudah diambil olehnya hanya lembaran uang sepuluh dan dua puluh ribuan, masing-masing satu. Pertanyaan ‘berapa’ itu jadinya berulang-ulang saja ia sampaikan dengan jawaban yang juga berulang. Saya mencoba memberi gambaran, uang segitu bisa untuk beli barang A, B, atau C.


Kotak palet kosmetik telah terbuka di hadapan saya. Apron dan headband terpasang sudah. Saya menghela napas panjang. Akhirnya, setelah selama ini saya menghindari ikut kegiatan-kegiatan beauty class, sampai juga pada saat di mana saya tidak mungkin kabur. Bukan kabur karena serem ya, tapi merasa kikuk banget aja, hehehe. Coba, kalau tahapan materi yang diajarkan nggak maju-maju gara-gara saya seorang yang nggak kunjung benar menggerakkan aplikator misalnya, apa nggak malu-maluin? Berasa menghambat peserta lain dan menyusahkan pengajar, gitu. Padahal di sisi lain sebetulnya saya punya keinginan juga untuk bisa berdandan dengan baik dan benar. Dalam kesempatan istimewa, adakalanya kita dituntut untuk tidak tampil polosan ‘kan, ya.