Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 9

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 9, 22 September 2017

Berhadapan dengan media massa artinya siap-siap juga terpapar dengan beraneka iklan yang menggoda. Belum lagi ketika beragam ‘barang lucu’ menjadi konten utama, meskipun mungkin bukan ditujukan untuk menarik perhatian calon pembeli (misalnya tajuknya adalah pilihan editor, bukan iklan atau advertorial), tapi tetap saja mengundang minat. Hari itu saya membeli dua majalah dan anak-anak ikut melihat-lihat isinya. Sampai di halaman rekomendasi mainan anak, nah ini, nih ๐Ÿ˜. Begitu banyak ragam mainan yang memang terlihat bakal seru kalau dimiliki. Berhubung harganya juga dicantumkan sekalian, saya jadinya sibuk mencoba menjelaskan, ini harganya dua kali lipat hp bunda lho, yang itu setara dengan belanja susu kakak dua bulan, dst. Fathia sempat protes, masak semuanya mahal? Yaaah, gimana yaaa…memang ‘kebetulan’ yang dimuat harganya lumayan semua. Saya juga sempat menawarkan opsi menjual beberapa mainan yang sudah dimiliki, kalau memang ingin beli yang baru. Memang saya sedang berencana hendak menjual kembali sejumlah barang (yang sejauh ini belum sampai menyentuh ke kategori mainan anak-anak) di rumah, sih. Pilihan ini saya pikir bisa juga diceritakan ke anak, karena adakalanya barang yang bagi kita tidak terpakai ternyata akan sangat bermanfaat bagi orang lain. Terbukti dari pengamatan saya terhadap beberapa grup atau forum jual beli barang 2nd yang saua ikuti. Ada barang yang mungkin lebih baik disumbangkan, tapi mengambil manfaat finansial dari menjual lagi barang tertentu juga tidak ada salahnya, kan?

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 8

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 8, 21 September 2017

Kami cukup jarang bepergian bersama ke pusat perbelanjaan. Alhasil kalau ditanya tentang pengalaman anak tantrum karena tidak dituruti permintaannya beli mainan di mall misalnya, saya tidak bisa menjawab, soalnya memang hampir tidak pernah ke mall yang keliling-keliling begitu (yang umumnya banyak godaan nan menarik hati anak-anak, lha emaknya aja jadi kepengin kok).

Kalaupun pergi ke sana dengan anak-anak, biasanya sudah ada agenda seperti saya sekalian ikut seminar/talk show atau kopdaran dengan teman-teman. Sengaja makan di luar sekeluarga pun tak sering. Bahkan kalau bisa urusan kami di pusat perbelanjaan selesai sebelum waktunya makan, jadi bisa makan di rumah saja. Atau justru sudah membawa bekal, misalnya kalau kami pergi ke pameran atau kebun binatang.

Suami pun lumayan tegas soal permintaan (terkait beli mainan, makanan, atau permainan) yang tidak sesuai rencana. Karena anak-anak tahu ayahnya tidak akan mengabulkan, mereka pun tidak sampai menangis apalagi mengamuk minta sesuatu, walaupun kalau merengek gitu sih pernah juga, ya.

Continue reading

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 7

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 7, 20 September 2017

Kami masih membaca ulang buku Muamalah untuk Anak. Obrolan bergulir ke soal punya pekerja sebagaimana digambarkan dalam cerita, seperti eyang kung anak-anak yang juga mempekerjakan pegawai. Ada banyak cara untuk mencapai tujuan finansial, dan kita sebagai manusia bisa berusaha dan berdoa, sedangkan untuk hasilnya kita serahkan pada Allah. Fathia juga baru saja mengeluh ia tidak bisa mengerjakan sesuatu, dari situ saya ajak ia tetap berusaha dan berdoa jika memang ingin bisa. Namun lagi-lagi berhasil tidaknya tetap hanya Allah yang menentukan. Kalau ia tak kunjung menguasai satu bidang yang diidamkan padahal sudah berupaya diiringi doa, bisa jadi Allah lebih ingin ia fokus di bidang lain (saya sebutkan contoh spesifiknya) dan lebih ridha ia memberi kemanfaatan di bidang tersebut.

Buku lain yang kami bahas adalah Rinduku untuk Ayah (Pipiet Senja). Awalnya saya beli buku itu untuk menambah referensi anak-anak bahwa ada juga kondisi lain yang menyebabkan ayah dan anak harus tinggal berjauhan. Kali ini kami ulas sisi finansialnya, bahwa untuk mencapai tujuan finansial tertentu, misalnya dalam buku itu digambarkan agar bisa sekolah di tempat yang bagus, adakalanya diperlukan pengorbanan. Salah satunya, ya kebersamaan yang jadi tidak bisa dinikmati setiap hari.

 

Urgensi Mempelajari Sirah Nabawiyah dalam Pendidikan Anak

๐Ÿ“š Resume Kulwap Grup Arsitek Peradaban

๐Ÿ“ Urgensi Mempelajari Sirah Nabawiyah dalam Pendidikan Anak

๐Ÿ“… 30 Agustus 2017

๐Ÿ“๐Ÿ“๐Ÿ“๐Ÿ“

๐Ÿ’• Materi Kulwap Grup Arsitek Peradaban ๐Ÿ’•

Urgensi Mempelajari Sirah Nabawiyah dalam Pendidikan Anak

Oleh: drg. Deasy Rosalina, MMedSc (curriculum vitae di bawah)

“Kami diajari Maghazi Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi Wasallam sebagaimana kami diajari surah dalam Al-Qur’an.” (Ali bin al-Husain w. 94H โ€“ Generasi Tabiโ€™in)

Maghazi adalah salah satu aspek dalam Sirah Nabawiyyah yang terkait dengan peperangan.
Generasi sahabat memandang pelajaran Sirah sama pentingnya seperti pelajaran Al-Qur’an. Sebab Al-Qur’an sebagai sebagai firman Tuhan merupakan konsep dan dasar-dasar petunjuk hidup. Namun untuk masalah yang mendetail tidak diajarkan dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu, Sirah Nabawiyyah-lah yang mendetailkan apa yang ada di Al-Qur’an. Sebab setiap nilai dalam Al-Qur’an dapat dilihat dari akhlak keseharian Rasulullah.

I.Sirah Nabawiyyah
Sirah Nabawiyyah berarti perjalanan hidup Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi Wasallam selama menjalankan tugas kerasulan, yaitu menyampaikan dan mewujudkan risalah Islam di tengah kehidupan manusia.
Memahami Sirah Nabawiyah mencakup; masa pra Islam (Jahiliyah), masa dakwah, dan masa khilafah Nubuwah (Khilafah Rasyidah).
โ€œMendalami Sirah Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi Wasallam akan mendorong siapa pun kepada keniscayaan mengakui kebenaran Nabi dan bersaksi bahwa beliau benar-benar utusan Allah. Seandainya Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi Wasallam tidak memiliki satu pun mukjizat selain sirahnya, maka itu pun sudah cukup.” (Ibn Hazm al-Andalusi w. 456H)

Continue reading

Cemilan Rabu Kelas Bunda Sayang Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial

๐Ÿ“๐ŸŽ๐Ÿ Cemilan Rabu #8.1 ๐Ÿฅ๐Ÿ‰๐Ÿฅ‘ 13 September 2017

โš– Melatih Anak Berdagang โš–

Perhatian Rasulullah dalam membentuk anak dalam hal sosial maupun ekonomi terlihat jelas dalam bimbingan beliau. Sebab kegiatan berdagang akan memberikan gerakan sosial kemasyarakatan yang kuat pada anak.

Manfaatnya bagi anak,
๐ŸŒทAnak belajar berinteraksi dengan teman sebaya
๐ŸŒทMembiasakan diri terus berkembang
๐ŸŒทMemanfaatkan waktu untuk hal-hal berguna
๐ŸŒท Memperoleh kepercayaan diri
๐ŸŒท Belajar bersusah payah, terbiasa memberi dan menerima serta memahami kehidupan dengan baik dan benar.

Continue reading

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 6

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 6, 19 September 2017

Kecerdasan finansial menurut saya perlu disertai juga dengan pengetahuan syariah, karena ada hukum Allah swt yang sudah mengaturnya. Amal harus didahului oleh ilmu, bukan? Saya jadi ingat obrolan dengan beberapa teman di grup yang membuka mata saya bahwa beberapa transaksi yang lazim di masa sekarang seperti preorder dengan uang muka, sistem penjualan dropship, dan jasa titip ternyata punya beberapa titik rawan, yang kalau tidak hati-hati bisa terpeleset ke transaksi yang haram hukumnya. Belum tuntas juga sih belajarnya, tapi sambil jalan –di antaranya dengan membaca buku Harta Haram Muamalat Kontemporer tulisan Ustadz Erwandi Tarmizi– saya juga ingin mengenalkan ke anak-anak soal sejumlah hukum muamalah.

Continue reading

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 5

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 5, 18 September 2017

Demam Fahira yang masih berlanjut mendorong saya untuk izin dulu dari kantor, ditambah lagi badan saya juga mulai melayang karena semalaman jagain Fahira yang batuk terus. Seharian lebih fokus ke menawari Fahira makan dan minum (yang kadang kalaupun masuk lalu malah dimuntahkan karena batuknya). Jadi, malam-malam baru ketemu waktu untuk ngobrol dengan Fathia khususnya. Dengan hobinya main jual-jualan, apa dia memang ingin jadi penjual betulan nantinya? Katanya sih mau jadi koki saja. Saya jelaskan bahwa kalau koki, gajinya biasanya dari pemilik restoran atau hotel. Lalu ganti jadi kasir. Di sini saya menerangkan tugas seorang kasir yang harus teliti, karena jumlah uang yang diterima nanti harus dicocokkan lagi dengan catatan setiap harinya. Lalu Fathia kembali ke cita-cita yang paling sering disebutnya, jadi dokter. Saya pun bilang bahwa sekolah dokter biayanya lumayan. Makanya ayah dan bunda menabung.

Bukan hanya untuk biaya sekolah, sih. Fathia juga coba saya tanyai tentang rencananya kalau sudah punya uang, jika ditabung mau untuk beli apa? Jawabnya sih belum mau beli apa-apa. Saya ingatkan bahwa kalau ayah dan bunda, selain nabung untuk sekolah kakak dan dedek juga nabung untuk berangkat haji. Di sini saya baru sadar kalau saya belum pernah menjelaskan soal tabungan haji ini sama sekali. Bahkan Fathia dengan eksplisit menyatakan ketidakpercayaannya bahwa orangtuanya punya tabungan. Maka saya uraikan dengan tambahan cerita bahwa berangkat haji perlu dana yang tidak sedikit, antara lain untuk penginapan, perjalanan, kesehatan, konsumsi dll.

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 4

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 4, 17 September 2017

Anak-anak, terutama Fathia, suka sekali main jual-jualan. Berhubung libur, jadilah mereka menggelar dua meja berikut segala pernak-perniknya seperti pompom yang ceritanya bakso, papan tulisan jualan apa saja, ‘laptop’ kardus untuk kasir, dst. Dari transaksi jual beli, saya memancing perhitungan harga, pembayaran, dan berapa kembaliannya. Pakai uang koin betulan, dari celengan yang selama ini tidak begitu diseriusi sebagai tempat mengumpulkan uang untuk tujuan jangka panjang. Fathia sudah mulai hitung-menghitung. Kalau Fahira tentu belum sampai hitungan betulan, tapi pelan-pelan ia paham bahwa uang yang dibayarkan belum tentu pas, bisa jadi kurang atau malah lebih alias perlu kembalian.

 

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 3

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 3, 16 September 2017

Kemarin kami membaca ulang sama-sama buku Pengalaman Seruku di Hotel. Fathia memang kerap menyebut-nyebut serunya menginap di hotel, yang pernah beberapa kali kami lakukan. Tentu tidak bisa juga kami sering-sering melakukan hal tersebut. Sambil membaca ulang, saya menggali lebih lanjut topik yang diceritakan di tiap halaman. Misalnya tentang kapan check in dan check out, apa saja benda yang boleh dibawa pulang atau dipakai gratis di kamar dan mana yang bisa membuat kita harus membayar jika mengambil, dst. Agar lebih jelas, saya mencoba mengonversikan tarif menginap dengan harga susu mereka.

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 2

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 2, 15 September 2017

Kepulangan saya dari kantor kemarin menjelang senja disambut oleh suasana gelap di gang sekitar rumah. Rupanya listrik mati. Terus terang kalau mati listrik begini jadi mati gaya, ya. Khawatir anak-anak jadi rewel karena gerah dan nyamuk. Apalagi Fahira ternyata sedang demam, gantian dengan kakaknya yang demam sehari sebelumnya. Tapi ya sudah, tetap harus semangat, kan? Listrik sempat menyala dua kali masing-masing lima menitan, dan baru benar-benar hidup pukul 23.

Di antara waktu itu, saya bermaksud melanjutkan sesi ‘kasih makan kelinci dan kupu-kupu’ kemarin. Sambil menyuapi celengan berbentuk hewan yang mereka buat beberapa waktu yang lalu itu dengan uang logam, ย kami bertiga (Fahira walaupun demam tapi masih tetap semangat). Obrolan kami berlanjut ke konsep rezeki. Uang yang ditabung itu dari mana sih asalnya? Mungkin yang kasih bunda atau ayah, tapi asalnya tetap dari Allah. Allah yang memberi rezeki, ada yang berupa uang, kesehatan, kesempatan…. Fathia sempat bertanya siapa yang membuat uang, jadi saya terangkan bahwa Allah yang membuat manusia jadi berilmu dan bisa mencetak uang. Dulu orang memakai sistem barter, tapi agar lebih memudahkan dan menyamakan nilai maka dibuatlah mata uang. Mata uang ini bisa berbeda-beda di tiap negara.