Langkah-langkah Jitu Atasi Anak Demam

“Demam itu sebenarnya adalah sesuatu yang muncul karena alasan. Tidak mungkin tubuh kita memunculkan sesuatu yang tidak lazim kalau tidak ada alasan,” sebut dr. Apin.

Kalimat di atas bukan untuk pertama kalinya saya dengar atau baca. Dari Milis Sehat, milis tempat dr. Arifianto, Sp.A. dan rekan-rekan termasuk para senior beliau dan para orangtua (non-nakes) yang peduli kesehatan keluarga aktif berbagi, juga dari postingan dr. Apin dan kawan-kawan, saya banyak belajar mengenai hal-hal serupa. Sejumlah sesi Program Edukasi keSehatan Anak untuk orangTua (PESAT) yang diselenggarakan oleh para anggota milis (tahun ini adalah tahun penyelenggaraan yang ke-17 di Jakarta, belum terhitung yang di daerah lain) pun sudah saya ikuti, beberapa di antaranya diisi oleh dr. Apin.

Namun, kendati sudah belajar di sana-sini, keinginan untuk terus belajar membuat saya melangkahkan kaki ke stasiun untuk naik KRL menuju ke Depok pada tanggal 1 Oktober lalu. Tempat yang saya (bersama anak-anak dan pengasuh) tuju adalah Gramedia Depok, tidak jauh dari Stasiun Pondok Cina. Di sanalah diagendakan peluncuran buku Berteman dengan Demam yang ditulis oleh dr. Apin bersama dengan rekan sejawatnya sesama kontributor website Sehat (www.sehat.web.id), dr. Nurul Itqiyah Hariadi, FAAP. Pastinya bukan sekadar acara seremonial untuk menandai resminya buku tersebut beredar ya, tetapi ada pula sesi berbagi yang diisi oleh dr. Apin.

Continue reading

[Ulasan Buku] Talents Mapping

Judul buku: Talents Mapping, Inspirasi untuk Hidup Lebih Asyik dan Bermakna
Penulis: Abah Rama Royani
Cetakan: Pertama, Desember 2016
Tebal: 208 halaman
Penerbit: ToscaBook
ISBN: 978-602-74211-3-4

Saat ini terdapat cukup banyak tes untuk mengetahui bakat maupun tipe kepribadian manusia. Dengan mengetahui kekuatan maupun kelemahan diri, diharapkan seseorang bisa mengoptimalkan potensinya. Tes tersebut juga kerapkali digunakan oleh perusahaan, instansi pemerintahan, maupun institusi pendidikan untuk mengetahui kecocokan seseorang dengan posisi yang tersedia.

Sedikit berbeda dengan penggolongan potensi atau kepribadian manusia lainnya, talents mapping dirumuskan oleh penulis dari pengalamannya dengan keyakinan bahwa setiap orang punya kekuatan maupun keterbatasan. Bekerja sama dengan memberi manfaat di masing-masing bidang menjadi hal yang sangat penting. “Dalam talents mapping, tidak ada bakat yang buruk. Semua bakat berpotensi menjadi kekuatan. Tinggal bagaimana kita menyalurkan bakat itu ke tempat yang tepat. Jangan sampai bakat itu tersalurkan ke tempat yang salah sehingga malah menimbulkan kerusakan.” (halaman 51)

Continue reading

Belajar Mengoptimalkan Media Sosial untuk Jadi Mamapreneur Andal

Mamapreneur. Kata ini merupakan gabungan dari kata mama dan entrepreneur, atau jika disimpulkan memiliki arti perempuan yang sudah menikah dan memiliki usaha. Ketika publikasi #TUMNgopiCantik dengan tema Social Media for Mamapreneurs tayang di The Urban Mama, saya sempat maju mundur hendak ikut. Merasa diri tidak punya ‘jualan’ :D. Tapi sayang juga jika melewatkan kesempatan belajar dari ahlinya. Ya, yang didaulat untuk menjadi narasumber adalah pak Nukman Luthfie yang sudah kondang sebagai pakar internet marketing. Mantaplah saya mengisi formulir pendaftaran. Siapa tahu pemaparan beliau jadi memicu semangat saya untuk membuka usaha. Atau barangkali ada ilmu yang bisa saya terapkan dalam mengelola media sosial pribadi maupun kantor (yang sudah didukung oleh tim keren di level pusatnya pusat sih, tapi siapa tahu saya bisa dapat sudut pandang lain).

Pada hari penyelenggaraan #TUMNgopiCantik di fx Sudirman tanggal 16 September lalu, pak Nukman menyampaikan materinya dengan gaya santai, tetapi tetap mengena. Sesekali para mama yang menjadi peserta jadi terbahak karena lelucon yang beliau lontarkan, diselingi senyum malu-malu karena merasa tertohok. Maklum, sejumlah kebiasaan dalam bermedsos yang kurang pas juga ikut dikupas.

Menurut pak Nukman, penting sekali bagi para pengusaha untuk menguasai tiga hal yang disingkat dengan 3C dalam memanfaatkan media sosial. “Kalaupun kita tidak master (dalam 3C), minimal kita mengerti supaya kita bisa membentuk tim atau merekrut manajer medsos,” tegasnya.

Tiga hal ini meliputi Community, Content, dan Conversation atau sebetulnya lebih tepat disebut dengan Engagement. “Tapi biar pas gitu, 3C, makanya jadi Conversation,” jelas pak Nukman sambil bercanda.

Continue reading

[Ulasan Buku] Real Mom, Real Journey

Judul buku: Real Mom, Real Journey (and other Motherhood Stories)
Penulis: Elvina Lim Kusumo
Cetakan pertama, Agustus 2017
Penerbit: B first (Bentang Pustaka)
Jumlah halaman: viii + 200
Harga: Rp62.900,00 (ikut PO buku bertanda tangan di Bukabuku.com dengan bonus notes dan voucher belanja)

Dari Institut Ibu Profesional saya belajar bahwa ada yang namanya tsunami informasi. Contohnya adalah ketika kita sibuk mencari dan memperoleh informasi dari banyak tempat atau sumber. Dampaknya, kita bisa mengira diri telah belajar banyak, padahal sebetulnya ya hanya di situ-situ saja. Dalam hal parenting, misalnya. Alih-alih mempraktikkan kiat atau kurikulum yang barusan kita baca atau ikuti seminarnya, atau aktif mengolah ulang kalau memang dirasa ada yang kurang sesuai dengan visi keluarga kita, kita malah terus sibuk menggali informasi baru. Salah satu alasannya, siapa tahu ada metode yang lebih dekat dengan keluarga kita dan lebih mudah dipakai.

Tapi kekhawatiran terpapar tsunami informasi tidak menghalangi saya dari membaca beragam buku tentang parenting. Salah satu buku parenting yang belum lama ini saya baca adalah Real Mom, Real Journey, karya mom Elvina Lim Kusumo atau biasa disapa dengan Mom Vina/Mommy C, pemilik laman IndonesiaMontessori.com (IMC). Ada beberapa tulisan dari kontributor lain dalam buku ini. Saya belum resmi mengikuti komunitas IMC sih, hanya sebatas menjadi pengamat saja dan menerapkan apa yang bisa dijalankan.

Jika dalam buku sebelumnya, Montessori di Rumah, mom Vina bercerita tentang kegiatan ala Montessori yang ia kerjakan bersama-sama putranya, C, buku yang ini lebih fokus ke ‘motherhood‘. Dalam buku ini terangkum kisah-kisah mom Vina, bagaimana ia menghadapi masa-masa awal sebagai ibu nun jauh di negeri orang (California, dan sekarang Singapura meskipun kadang-kadang pulang ke Jakarta). Punya bayi ternyata jauh dari bayangan keindahan yang tampak di foto-foto keluarga pada iklan maupun majalah. Untuk bisa menjadi ibu ideal seperti yang dicita-citakan selama ini, kok susah ya. Belum lagi kalau menengok ke media sosial, wah, kok bisa ya ibu-ibu di sana tampak cantik, kinclong, semua terkendali?

Continue reading

Review Kelas Bunda Sayang IIP Sesi #6: Cerdas Finansial Ibu Berpengaruh pada Anak

Institut Ibu Profesional
Review Materi Sesi 8

CERDAS FINANSIAL IBU BERPENGARUH PADA ANAK

Bunda, terima kasih sudah menyelesaikan tantangan di kelas Bunda Sayang yang ke-#8 kali ini. Kita sudah melewati 2/3 perjalanan kita.

Sejatinya di materi kali ini kita ditantang untuk menjadi cerdas finansial dengan cara memandu anak-anak (Learning by Teaching).

Maka langkah yang kita ambil adalah memahamkan diri kita terlebih dahulu bahwa uang adalah bagian kecil dari rezeki.

Selanjutnya belajar mengelola uang, membaginya kepada yang berhak, membedakan keinginan serta kebutuhan.

Kita sedang tumbuh bersama anak dengan menjadi teladan, sehingga anak ikut belajar mengelola uang dan bertanggung jawab terhadap bagian rezeki yang didapatkan di dalam kehidupan ini.

Maka kuncinya adalah mulai dari orangtuanya.

Salah satu peran kita sebagai Ibu bukanlah untuk mengkhawatirkan rizqi keluarga, melainkan menyiapkan sebuah jawaban “Dari Mana” dan “Untuk Apa” atas setiap karunia yang diberikan kepada anak dan keluarga kita.

Peran tersebut perlu ilmu.

Hargai dengan baik segala ikhtiar pekerjaan menjemput rezeki, baik yang kita lakukan maupun yang dilakukan pasangan kita. Hal ini membuat penghasilan yang akan diterima akan lebih berharga

Anak-anak harus paham, tidak ada pekerjaan yang hina di muka bumi ini selama untuk menjemput rezeki yang halal.

Habiskan uang di jalan yang benar

Kebiasaan lama kita adalah menyisakan uang agar bisa menabung, investasi dan lain-lain. Namanya menyisakan pasti kecil.

Maka ubah dengan cara merencanakan dengan baik, dan habiskan uang di jalan yang benar.

Contoh:

Cashflow orang yang bermental miskin:

Pendapatan 100

Pengeluaran:
Shopping 57,5
Cicilan hutang 30
Sosial 2,5
——————————–
Sisa 10 baru ditabung

Cashflow orang yang bermental kaya:

Pendapatan 100

Pengeluaran:
Zakat, infaq, sedekah 2,5
Cicilan hutang 30
Investasi 10
Kebutuhan pribadi 57,5
—————————————
Sisa 0

Continue reading

Belajar Sejarah (Lagi) lewat Film Toedjoeh Kata

Sabtu lalu saya mengikuti acara di kopdar (walaupun sebenarnya belum ikut komunitasnya) komunitas Indonesia Tanpa JIL (ITJ)-Jakarta sekaligus nobar film Toedjoeh Kata di Rabbani Rawamangun. Alhamdulillah, karena pada kesempatan nobar film yang sama sebelumnya (kalau tidak salah diselenggarakan oleh komunitas yang berbeda) saya sedang ada kegiatan lain. Film doku-drama tersebut mengangkat kisah Ki Bagus Hadikusumo yang mengalami dilema pelik menjelang pengesahan konstitusi negeri kita tercinta ini. Ya, film ini menyoroti terhapusnya tujuh kata dari naskah Piagam Jakarta.

Sebelum nonton bareng dimulai, panitia menghadirkan produser film Toedjoeh Kata, Aanisah Pangrutiningtias dan sang sutradara Bayu Seto untuk menceritakan latar belakang, tujuan, dan suka duka pembuatan film tersebut. Film Toedjoeh Kata berawal dari partisipasi dalam ajang apresiasi seni LSBO PP Muhammadiyah bulan Mei tahun ini. Nisa, Bayu, dan kawan-kawan mereka sesama pegiat komunitas Muhammadiyah Multimedia Kine Klub Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sepakat ingin mengangkat cerita Ki Bagoes Hadikoesoemo yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah (1944-1953) dan mendapatkan gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2015. Kerja keras mereka membuahkan gelar juara 2 pada ajang tersebut.

Continue reading

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 13

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 13, 26 September 2017

Semalam anak-anak minta dibacakan buku Masa Kecil Nabi dan Rasul karya kang Ridwan ‘Iwok’ Abqary yang baru tiba. Ternyata dalam kumpulan cerita tersebut ada juga kisah yang terkait dengan kecerdasan finansial, yaitu kisah Nabi Ibrahim. Di situ diceritakan bahwa Nabi Ibrahim semasa kecil membantu ayahnya berjualan patung berhala. Namun karena tidak sesuai dengan kata hatinya, maka alih-alih berpromosi agar orang tertarik membeli, Nabi Ibrahim malah mengucapkan kata-kata yang cenderung membuat orang kehilangan minat. Misalnya bahwa patung ini tidaklah berguna dan tidak pantas disembah. Anak-anak sudah pernah dibacakan cerita lain tentang menyekutukan Allah swt dengan hal lain termasuk patung yang disembah, jadi mereka menanggapi bahwa memang sudah seharusnya orang tidak membeli patung untuk disembah. Diskusi kemudian melebar ke soal membantu orangtua, kemudian juga tentang adab berjualan, termasuk berjualan sesuatu yang membawa mudharat. Tidak lama sih memang, karena saya sedang berusaha mengatur kembali jam tidur mereka. Saya sadar juga bahwa yang saya lakukan masih lebih banyak outside in, bukan inside out seperti yang beberapa kali diingatkan oleh IIP, semoga ke depannya bisa saya perbaiki.

 

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 12

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 12, 25 September 2017

Masih melanjutkan buku yang kemarin, berikut cerita-cerita selanjutnya dalam buku Aku Cerdas Mengelola Uang karya mba Watiek Ideo dan Fitri Restiana yang saya bacakan untuk anak-anak:

  • Saat Lebaran Tiba, menggambarkan keriaan Idul Fitri di mana anak-anak biasanya memperoleh angpau. Jadi ingat uang angpau anak-anak yang atas perintah ayah mereka didonasikan semua, sih. Ini PR saya dan suami untuk membahas lebih detil terkait hak anak-anak atas uang mereka, seberapa banyak pilihan yang boleh kami ungkapkan untuk mereka (dibelanjakan, disumbangkan?), apakah beberapa hal yang berbau kesenangan lebih baik kami blokir atau tetap diberitahukan sekaligus dengan menyebutkan manfaat vs mudharatnya.

Continue reading

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 11

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 11, 24 September 2017

Setelah sejak pagi sibuk dengan ‘perayaan’ ultah Fathia (walaupun hanya tumpeng nasi kuning dan puding) dan jalan-jalan ke Taman Suropati, malamnya, saya bacakan buku baru untuk anak-anak. Sengaja saya pilihkan buku berjudul Aku Cerdas Mengelola Uang karya mba Watiek Ideo dan Fitri Restiana. Dalam buku tersebut terdapat 10 judul cerita pendek terkait cara memperoleh, mengelola, maupun membelanjakan uang, disertai dengan ilustrasi menarik. Semuanya menampilkan kisah sehari-hari dalam kehidupan anak-anak terkait, sehingga terasa dekat dan akrab.
Continue reading

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 10

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 10, 23 September 2017

Esok hari, Fathia genap berusia 6 tahun. Tentu ia sempat melontarkan keinginan diadakannya pesta perayaan ulang tahun. Tapi karena memang sejak awal kami belum pernah bikin perayaan dengan mengundang tamu, maksimal hanya berbagi makanan untuk tetangga, maka Fathia juga tidak sampai ingin dibuatkan pesta yang meriah. Meski beberapa kali kami pernah menghadiri pesta ulang tahun anak tetangga, tapi rupanya keseruan pesta tersebut tak sampai menjadi acuan baginya.

Continue reading