Tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP (Think Creative) – Hari 8

Sepulang kantor kemarin (10/11), ada beberapa hal yang perlu saya dan mama bicarakan secara serius, tetapi anak-anak juga sibuk ingin melaporkan kegiatan mereka. Karena pembicaraan saya dan mama perlu segera dilakukan untuk menentukan langkah berikutnya (dan menuntut pemikiran cepat serta juga kreativitas), jadi saya harus menahan antusiasme anak-anak yang makin diminta gantian ceritanya malah tambah semangat bersahut-sahutan. Maka saya harus berhenti dulu ngobrol dengan eyang mereka, dan menatap anak-anak satu-per satu. Saya sampaikan bahwa ini pembicaraan yang cukup penting dan tidak bisa ditunda. Di sini saya sadar bahwa kreativitas dalam mendengarkan juga penting, agar anak-anak tidak merasa diabaikan. 

Karena menunggu bisa menjadi hal yang membosankan, maka selama menanti giliran mereka masing-masing bicara, anak-anak perlu sesuatu yang menarik perhatian mereka. Kebetulan sih ada mainan mereka yang belum dibereskan, dan masih bisa didorong supaya lebih detil lagi membereskannya (diatur menurut bentuk dan warna, karena yang mereka mainkan adalah beraneka manik-manik).

 

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP (Think Creative) – Hari 7

Kemarin (09/11) kami membaca bersama beberapa buku yang baru saya beli. Salah satu bukunya berjudul Press Here oleh Herve Tullet. Kebetulan, ilustrasi sampul depannya ternyata punya kemiripan dengan komponen infografis materi pendukung diskusi untuk level 9 ini. Buku yang pertama kali diterbitkan tahun 2010 ini sungguh kreatif idenya. Kalau biasanya anak-anak memahami aksi-reaksi lewat layar sentuh atau fitur interaktif lainnya yang ada pada perangkat elektronik (termasuk gawai), dalam buku ini penulis menyajikan instruksi pada suatu halaman yang kemudian ‘menghasilkan’ perubahan pada halaman berikutnya. Dan ini tanpa tambahan aksesori seperti pop up, pull up atau sejenisnya ya, murni ilustrasi dan tulisan dalam halaman biasa saja.

Ternyata, seru lho! Fathia asyik memencet-mencet gambar, meniup halaman buku, atau memiringkan buku ke arah yang diminta. Ide penulis menurut saya unik karena terlihat simpel hingga setelah melihatnya orang mungkin berpendapat ‘buku kayak gini sih saya juga bisa bikin’ atau ‘kayak gini kok ya laku dijual’, tapi idenya itu lho…berapa banyak orang yang terpikir membuatnya sebelum melihat buku ini? Sebelum membeli, saya sempat cek ulasannya di Goodreads dan menemukan banyak pujian untuk buku tersebut, yang memantapkan saya untuk membelinya. Menikmati karya kreatif seperti ini saya percayai sebagai salah satu cara memotivasi diri agar ikutan menjadi kreatif, termasuk dalam bidang yang berbeda.

Ya, semangat untuk terus membangkitkan sisi kreatif kita terutama sebagai orangtua perlu terus dijaga. Malam itu juga, saya sudah melewatkan kesempatan belajar dari Fathia. Usai membaca buku-buku baru maupun lama, menjelang tidur, Fathia bercerita tentang kegiatannya tadi di sekolah. Katanya, ia mewarnai es. Saya sudah terbayang kegiatan ala Montessori, mungkinkan mengoleskan atau meneteskan pewarna ke es batu lalu melihat efeknya? Tapi begitu saya tanyakan apakah alat yang dipakai adalah kuas atau pipet, Fathia malah bingung. Ternyata yang ia maksud adalah ‘mewarnai huruf S’, hahaha. Nah, tuh kan, padahal tempo hari di sesi diskusi sudah diingatkan tuh, don’t assume! Jangan buru-buru membuat pernyataan, perbanyaklah membuat pertanyaan. Yah, sebetulnya yang saya lakukan juga melontarkan pertanyaan, ya, hanya saja ternyata asumsi saya beda dengan kenyataannya.

 

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP (Think Creative) – Hari 6

 Kemarin (08/11)  saya jadi membawa pulang sedikit pekerjaan kantor, tepatnya proyek yang agak insidental sih. Yang saya pahami selama ini, praktik seperti itu seharusnya sangat dihindari, apalagi kalau sudah punya anak. Namun, mengingat pilihannya adalah saya lembur di kantor dan pulang larut malam atau pulang lebih awal jadi bisa ketemu anak-anak dulu, membersamai mereka walau sejenak, baru melanjutkan pekerjaan, saya memilih pulang dulu. Tentu, hal ini in sya Allah tidak saya jadikan kebiasaan. Mengefektifkan jam kerja adalah hal yang lebih tepat. Tindakan saya pun saya nilai bukanlah kreativitas yang bebas masalah. Ada risiko-risiko di situ. Hari ini saya baca-baca di Nova bahwa jika memang darurat, membawa kerjaan kantor ke rumah ya apa boleh buat, tinggal bagaimana mengatur strateginya. Sejumlah tips dijabarkan di situ, beserta konsekuensinya. Jadi…melakukan suatu hal dengan cara yang berbeda dari biasanya (sebagaimana saya yang jadi ‘bekerja dari rumah’ itu memang kadang perlu trial and error. Persiapan kita bisa saja matang, tetapi ada saja hal-hal mendadak yang bisa menjadi tantangan baru.

 

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP (Think Creative) – Hari 5

 

Jika memang dikatakan bahwa “tidak ada masalah, yang ada adalah tantangan”, sebagaimana disebutkan dalam materi level 9, lalu, bagaimana jika yang dihadapi adalah kondisi sakit? Kemarin (07/11) malam, salah satu anggota keluarga kami menunjukkan gejala sakit. Imbasnya, salah satu anggota keluarga lain ikut merasa tidak nyaman. Fokus saya terbelah antara memberi pertolongan untuk yang sakit dulu ataukah menenangkan yang jadi ikut tidak nyaman. Dari sini saya belajar bahwa yang dinamakan kreatif itu ya pastilah tetap ada pedoman dasarnya. Jadi kalau bertindak sembarangan semaunya tanpa mau mencari tahu yang seharusnya bagaimana, maka tidak bisa dikatakan kreatif. Kreativitas adalah ketika kita sudah tahu tatalaksana yang benar, lalu sewaktu ada yang belum bisa dilakukan sesuai pedoman maka tetap berusaha mencari cara agar setidaknya tujuan dapat terpenuhi atau mendekati ke sana, tanpa harus melanggar pedoman. Saat ada yang diare dan muntah misalnya, harusnya kan kasih oralit, ya. Ketika betul-betul tidak memungkinkan untuk beli dan di rumah juga tidak ada stok, bisa pakai alternatif membuat sendiri larutan gula garam untuk tujuan mencegah dehidrasi, tapi sekali lagi ini sifatnya darurat.

Saat ada yang sakit, saya berupaya tetap mengikuti pakem yang seharusnya. Hanya saja, ternyata ada tantangan tambahan yaitu membagi perhatian, dan untuk kondisi kami kemarin, tidak mungkin untuk mendelegasikannya ke pihak lain lagi. Di sini dibutuhkan kreativitas untuk mengalihkan perhatian yang ‘rewel’ (sebetulnya saya kurang suka istilah ini), sambil tetap memantau kondisi yang sakit dan memberikan pertolongan semaksimal mungkin. Tidak bisa saya jelaskan lebih lanjut apa saja tepatnya yang saya lakukan, tapi intinya sih saya sangat bersyukur bahwa hari ini anggota keluarga yang sakit sudah merasa lebih baik. 

 

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP (Think Creative) – Hari 4

 

Kemarin (06/11) anak-anak masih lanjut berebut boneka kaos kaki yang saya belikan pada Festival Dongeng Internasional Indonesia sehari sebelumnya, juga balon yang kami peroleh dari acara tersebut. Dalam keadaan capek sepulang kantor, kadang pertengkaran seperti itu kian menambah kelelahan saya. Menjaga agar nada suara tidak meninggi adalah PR tersendiri. Tadinya saya menerapkan konsekuensi seperti barang bisa diambil dari anak-anak kalau mereka tidak bisa mempertahankan haknya (kalau mainan itu memang jatah mereka) atau meminta izin dengan baik. Namun perkataan seorang teman menyadarkan saya, kalau diberi sanksi seperti itu, bagaimana dengan konsep kepemilikan yang seharusnya juga dipahami betul oleh anak? 

Yang saya lakukan, pertama adalah mengusir rasa baper. Kedua, menggali lagi materi komunikasi produktif yang menjadi bahan level pertama kelas Bunda Sayang IIP. Iya, sering masih lupa soalnya untuk betul-betul menerapkan teknik ini. Maka, hasilnya juga tidak ‘instan’, masih perlu waktu. Ketiga, doa, tentunya. Mungkin ini ‘tidak kreatif’, tapi saya percaya segala ide dan solusi, atau bahkan jalan lain yang tidak terpikirkan sebelumnya, datangnya adalah dari Allah swt.

Dari sini juga saya belajar bahwa membelikan dua barang yang sama/serupa untuk masing-masing anak bukanlah solusi yang selalu pas. Yang lebih penting adalah mengenalkan konsep berbagi maupun konsep kepemilikan sesuai usia. 

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP (Think Creative) – Hari 3


Kemarin (05/11) kami lanjut menyimak Festival Dongeng Internasional Indonesia 2017 hari kedua. Kali ini saya banyak belajar dari para penampil. Ada yang membawakan dongeng lewat lagu-lagu, musik, menggunakan boneka atau alat bantu lainnya, bahkan mengajak penari. Setelah saya perhatikan, beberapa cerita punya tokoh utama yang sama yaitu naga. Namun masing-masing dongeng, meskipun sama-sama punya tokoh naga, bisa disajikan dengan cara yang berlainan. Ini bisa menjadi contoh kreativitas dalam mengolah cerita.

Sepulang dari acara, anak-anak seru mendongeng dengan cara mereka. Dan hadiah terbaik yang bisa orangtua berikan adalah menyimaknya dengan sepenuh jiwa, bukan dengan fokus yang terbagi. Ada boneka kaos kaki yang saya belikan di acara itu dan saya berikan kepada anak-anak sebagai sarana bercerita, walaupun sebetulnya apa saja bisa dijadikan sarana ya. Dan memang dengan alat bantu yang baru dan menarik, anak-anak jadi tambah bersemangat. Meski demikian, muncul juga tantangan baru, gara-gara salah satu boneka terlihat lebih menarik daripada yang lainnya. Rebutan lah jadinya. Ini juga tantangan baru sih, ya… Perlu kreativitas untuk menanganinya, termasuk dalam menerapkan komunikasi produktif yang menjadi materi pertama Kelas Bunda Sayang IIP.

 

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP (Think Creative) – Hari 2

Kemarin (04/11) kami bersama-sama nonton pertunjukan air mancur menari (Jakarta Fountain) di Monas. Kami benar-benar sampai di lokasi sekitar pukul 20, alias tepat setelah pertunjukan pertama selesai (dari kejauhan masih sempat lihat ujung-ujung show pertama). Jadilah kami harus menunggu 30 menit lagi untuk sesi kedua. Masih alhamdulillah sih kebagian, dan cuaca pun cerah.

Yang sempat saya rasakan menantang adalah bagaimana agar anak-anak tidak merasa bosan. Sayang kami lupa membawa cemilan, jadi butuh pengalih perhatian yang lain. Kalau nonton hp gitu kan gak seru, ya. Mau menggambar juga situasinya kurang memungkinkan. Banyak anak yang berlarian di sekitar undak-undakan tempat kami duduk, sepertinya memang jadi kesibukan yang seru buat anak-anak untuk menghabiskan waktu. Tapi remang-remang begitu, banyak orang dan anak-anak yang lari bikin risiko tertabrak tinggi, ditambah lagi banyak rumput di lokasi yang rawan terinjak (dan harusnya tidak boleh diinjak memang), saya, mama, dan pengasuh anak-anak memilih untuk membatasi aktivitas mereka. Berdiri, jalan-jalan sedikit tak apa.

Maka untuk menjaga mood anak-anak yang ketika masuk hitungan belasan menit terlihat mulai jenuh menanti, saya, atau tepatnya kami, sih, ┬ámulai bercerita tentang apa saja. Paling banyak tentang aktivitas kami seharian sebelumnya, mulai dari festival dongeng yang kami hadiri sampai show tokoh boneka. Ya, hari yang amat sibuk, memang…. Alhamdulillah kreativitas dalam mencari bahan obrolan, termasuk akhirnya main tebak-tebakan juga, bisa menolong agar anak-anak betah.

 

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative