Menyimak Petuah dari Para Master Menulis (1): Helvy Tiana Rosa

Ikut pelatihan atau sharing session tentang menulis melulu, apa nggak bosen, sih?

Wah, kalau ditanya seperti itu, saya dengan mantap akan menjawab: tidak. Tentu nggak asal ikutan ya, kadang-kadang kalau sudah pernah dapat materi dari penulis yang sama sebelumnya, saya memang memilih untuk tidak ikut. Apalagi jika ada pilihan event lainnya di waktu yang sama, atau di pekan tersebut saya sudah banyak lembur di kantor sehingga waktu dengan anak-anak tersita. Namun sebetulnya, selalu ada hal baru yang dapat dipelajari dari para inspirator yang sama pada kesempatan berbeda, termasuk dalam hal ini para penulis.

Bulan lalu, deretan nama dan foto pemateri untuk acara yang namanya cukup simpel ini, Jumpa Penulis, langsung membuat saya antusias begitu menerima terusan publikasinya dari seorang teman. Tere Liye, Helvy Tiana Rosa dan sang adik Asma Nadia, Ahmad Rifa’i Rif’an, founder Kelas Menulis Online (KMO) Tendi Murti, bahkan ada Ippho Santosa dan Dewa Eka Prayoga segala. Nah nah, ngapain nih ada motivator di acara kepenulisan? Harga tiket yang lumayan sempat membuat saya maju mundur, tapi iming-iming yang ditekankan di berbagai media promosinya memang ada benarnya: kapan lagi para penulis keren yang juga terkenal akan misi kebaikannya seperti ini, berkumpul di satu tempat untuk berbagi? Alhamdulillah, sedang ada rezekinya juga.

Berhubung kemarin (15/10) sepagian Fathia ada acara, maka saya baru bisa berangkat ke Teater Besar Taman Ismail Marzuki selepas Dzuhur. Meski tidak bergabung di grup telegram sebagaimana disarankan oleh admin yang menerima pendaftaran saya, tetapi dari grup lain saya sempat mendapatkan info jadwal giliran para penulis untuk tampil. Lumayanlah, pikir saya, harusnya masih kebagian sesi bunda Helvy (karena beliau dosen juga, rasanya sungkan ya menyapa ‘Mba’, hehehe), kang Dewa, dan mba Asma. Bahkan sesampainya di tempat sebetulnya saya masih bisa ikutan sesi mas Ippho (walau cuma ujung-ujungnya), hanya saja miskomunikasi dengan panitia yang berjaga membuat saya tidak bergegas masuk.

Alhamdulillah, kemarin untuk pertama kalinya saya bisa menyaksikan langsung bunda Helvy membacakan puisi beliau. Agak susah memperoleh foto yang bagus, padahal kursi saya tidak di belakang-belakang amat. Jadi, mohon maaf kalau wajah para pembicara jadi samar-samar begitu ya, di foto yang saya sertakan. Usai berpuisi, bunda Helvy menceritakan kenangan hidup semasa kecil. Dulu, beliau dan adiknya, mba Asma Nadia, terbiasa menyimak cerita sang ibunda yang suka menulis catatan harian. Bahkan sang ibunda rela menghemat uang transportasi dalam berdagang sprei keliling agar bisa membelikan buku untuk anak-anaknya, termasuk memohon pinjaman buku dari para pelanggan sprei.

Koran bungkus cabe dan bawang pun beliau mintakan dilebihkan saat belanja, untuk bahan bacaan para buah hati. Kedua gadis kecil plus adik lelaki mereka kemudian menemukan bahwa di dekat lingkungan mereka ada persewaan buku. Tapi mereka diusir oleh pemilik persewaan karena berkata jujur tidak ada uang, hanya lihat-lihat saja. Maka si kakak kedua, mba Asma, berjanji bahwa suatu hari nanti mereka akan menulis buku seperti itu, membangun tempat baca buku untuk orang-orang miskin agar mereka bisa membaca buku secara gratis.

Dua yang tertua dari tiga bersaudara ini, bunda Helvy dan mba Asma, di kemudian hari menjadi 2 dari 20 orang Indonesia  yang masuk daftar The Muslim 500: The World’s 500 Most Influential Muslims.

Bunda Helvy mengaku tergerak oleh pesan Umar bin Khaththab, yaitu “Ajarilah anak-anak kalian menulis, karena menulis akan mengubah yang pengecut menjadi pemberani.”

“Menulis mengubah karakter saya. Menulis membuat saya percaya diri, tetapi sebelum percaya diri harus percaya pada Allah, dan inilah yang membuat berani, karena ada Allah sebagai back up saya,” sebut bunda Helvy.

Menulis artinya menyampaikan opini, perasaan, pemikiran. Ada orang yang takut kalau-kalau ada pendapat negatif orang akan tulisannya. Tapi hidup ini memang penuh kritik, mau lakukan atau tidak lakukan sesuatu pasti tetap dikritik, tandasnya. Yang penting adalah bagaimana kita menulis kepedulian, katanya. Banyak hal yang bisa kita tulis di medsos. Ingat postingan cerita kakek penjual nasi uduk yang sepi, yang kemudian menjadi viral dan warungnya jadi sangat ramai? Inilah menulis untuk kepedulian. Kita bisa melakukan ini untuk kebaikan apa pun.

Mau menulis buku itu sebetulnya gampang. Mau best seller pun, menurut bunda Helvy, tinggal bikin yang heboh-heboh saja. Tetapi, “Menulis apakah hanya untuk dunia kita saja? Menulis semoga bisa menjadi cahaya untuk akhirat kita juga,” tegas bunda Helvy. Tapi memang, sebisa mungkin, apa pun karya kita, penulis harus ikut aktif berjualan buku kita sendiri. Temui para pembaca, sounding para calon pembaca misalnya lewat media sosial. Bahkan bunda Helvy pernah berjualan majalah yang ia menjadi pemrednya dari bus ke bus (dan inilah yang menjadi inspirasi munculnya tokoh Yudi dalam Ketika Mas Gagah Pergi).

Untuk bisa menulis dengan baik, kita harus rajin membaca. Kalau kutu buku kecil kan ya, maka inginlah menjadi predator buku. “Pastikan juga menulis dengan hati, sesuai passion kita,” ujar beliau.

“Bagi saya, pembaca adalah jantung buku saya. Saya tidak selalu mengikuti selera pembaca, tapi saya menggiring mereka untuk membaca yang lebih berkualitas. Jadi saya meningkatkan kualitas tulisan saya untuk para pembaca juga,” terangnya.

Bunda Helvy punya niat, menulis buku dari hati untuk sampai ke hati orang lain. Penting untuk meninggalkan jejak di dunia dengan karya yang bagus. “Ini jejak saya yang saya akan bawa ke akhirat,” katanya. Bukan berarti lalu tidak produktif ya, mungkin ada yang bisa, tapi bunda Helvy memilih menjaga kualitas dengan tidak terlalu sering menulis buku. Targetnya setahun sepanjang usia satu buku.

Semboyan bunda Helvy, satu buku sebelum mati. “Kita tidak pernah tahu kapan ajal menjemput, jadi bersegeralah untuk menulis,” ungkapnya. Pesannya, menulis itu bukan hanya diomongin, rajin ikutan seminar ini itu, tapi harus dipraktikkan. “Tidak ada kata terlambat untuk menulis,” ucapnya lugas. Hernowo mulai di umur 40 tahun, dan setahun bisa membuat 10 buku. George Dawson, seorang penyapu jalanan, menulis Life is So Good begitu bisa membaca di umur 98 tahun, dan terbitlah buku pertamanya ini di usia 100 tahun.

Dengan terus bergeraknya industri kreatif, ditambah dengan kesukaan bunda Helvy akan adrenalin yang bergerak tinggi, maka tantangan lain diambilnya: menjadi produser film. Tercatat film Ketika Mas Gagah Pergi, Duka Sedalam Cinta yang akan tayang mulai 19 Oktober nanti, dan yang sedang digarap yaitu 212 The Power of Love, menjadi ajang pencurahan idealisme bunda Helvy selaku produser.

Menurutnya, selanjutnya yang menjadi tantangan memang menjaga idealisme. Dalam karya tulisan, bunda Helvy sudah idealis dengan membuat cerita yang aman, bahkan cerita yang menyelipkan romansa dewasa pun tidak akan pernah ada adegan yang mengarah ke pornografi. Tidak mudah menjaga idealisme di media layar lebar, termasuk bagaimana menjaga interaksi antarpemain film agar tidak ada sentuhan-sentuhan yang tidak semestinya, aurat yang diperlihatkan terbuka, dst.

Pada intinya, menulis itu untuk dakwah, dan menulis harus dengan idealisme. “Menulis adalah jalan hidup saya dan lentera saya menuju akhirat,” tutup bunda Helvy.

 

#ODOPOKT13

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah.

7 thoughts on “Menyimak Petuah dari Para Master Menulis (1): Helvy Tiana Rosa

  1. Pingback: Berpetualang ke Bintang-Bintang lewat Planetarium | Leila's Blog

  2. Pingback: [Ulasan Film] Duka Sedalam Cinta | Leila's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s