Enaknya PAUD Dulu atau Langsung TK, ya?

Di awal triwulan kedua 2018 kemarin, pertanyaan seperti di atas mulai berseliweran di grup-grup yang saya ikuti. Mau PAUD dulu atau masuk TK sekalian saja, ya? Maklum, banyak sekolah yang sudah membuka pendaftaran bahkan sejak awal tahun. Jadi keputusan juga dianggap perlu diambil dengan segera, mengingat ada risiko kehabisan kuota di sekolah incaran.

Nah, sebetulnya sebelum mempertimbangkan kapan hendak mulai menyekolahkan anak dan di tingkatan apa, ada baiknya kita kupas terlebih dahulu tentang istilah PAUD itu sendiri. Banyak yang masih salah kaprah mengartikan PAUD sebagai jenjang pendidikan sekolah di luar rumah sebelum Taman Kanak-kanak (TK). Sebetulnya, makna dari PAUD itu sendiri lebih luas, lho.

Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mendefinisikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebagai suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Continue reading

Segera: Ramadhan Seru bersama Hamzah dan Syifa!

Belum juga sempat menyusun strategi promosi yang lebih terarah untuk buku Pulang, tiba-tiba mba Agris, kapten Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta, sudah mengajak untuk ‘berlari’ lagi. Tetap nggak jauh-jauh dari membuat buku tentunya, sesuai nama rumah belajar kami (di Ibu Profesional tiap wilayah ada berbagai rumbel, tergantung minat dan keaktifan anggotanya). Namun, kali ini temanya jauh berbeda.

Buku Pulang, karya perdana Rumbel Menulis yang terbit Februari lalu merupakan antologi cerita pendek dengan benang merah sesuai judulnya, alias bertemakan ‘pulang’. Sedangkan yang hendak digarap kali ini adalah buku aktivitas anak. Wah, ini jenis buku anak yang sangat saya sukai sebenarnya. Saya selalu kagum dan penasaran, kok ada aja ya idenya orang bikin kids activity book begitu.

Alhamdulillah Allah swt berikan kesempatan sehingga saya bisa bergabung dalam tim editor RB Menulis untuk proyek ini, sebagaimana sebelumnya untuk buku Pulang. Tantangannya berbeda sih memang. Untuk antologi Pulang yang diedit adalah sejumlah cerpen, sedangkan untuk buku aktivitas Ramadhan yang awalnya diberi sebutan Jurnal Ramadhan Anak ini kontennya lebih beragam. Isinya ada:

* Aktivitas Ramadhan untuk menemani hari-hari si kecil seperti TTS tentang Rukun Iman, menelusuri maze, menempel stiker, ular tangga, juga membuat prakarya (do-it-yourself/DIY),

* Kisah Penuh Hikmah yang berisi cerita mini (cermin) dengan nilai-nilai Islami,

* Pojok Fakta “Kini Aku Tahu” dan Pengetahuan Dasar Islam yang menambah ilmu serta bisa dimanfaatkan untuk eksplorasi lebih lanjut mengenai materi terkait. Bisa buat bahan obrolan dengan anak-anak, nih, atau mungkin juga ada pengetahuan baru untuk ortu,

* Tabel Ibadah Ramadhan untuk memantau dan menyemangati anak beribadah. Yang ini ada miripnya ya dengan buku kegiatan zaman sekolah dulu, hehehe.

Continue reading

Tentang Ego dan Hak Milik Anak

Salah satu hal yang masih menjadi PR di keluarga kami adalah soal rebutan, biasanya sih rebutan bacaan atau mainan. Apalagi sesama anak perempuan, kemungkinan baper lebih besar. Tidak mungkin juga kan selalu membelikan dua barang sekaligus hanya agar tidak rebutan? Namun ternyata mempertahankan hak milik, yang kadang menjadi awal mula rebutan, ada manfaatnya, lho. Misalnya, anak jadi belajar batas-batas. Ini punyaku, ini punya dia. Ada hak milik orang lain juga yang harus dihargai, sebagaimana ia boleh mempertahankan miliknya. Tentu ada batasannya, ya. Berikut saya kutipkan penjelasan dari Ustadz Harry Santosa (Fitrah Based Education):

Usia di bawah 7 tahun adalah masa penguatan konsepsi semua aspek fitrah yang Allah karuniakan. Pada fase ini anak-anak sedang puncaknya imajinasi dan abstraksi sementara fitrah mereka sedang tumbuh merekah indah, sehingga perlu full cinta dan full imajinasi, di samping kehati-hatian jangan sampai fitrah ini cidera.

Pada usia ini ego sentris anak juga sedang puncaknya, sehingga akan nampak seolah tidak berakhlak, misalnya tidak mau berbagi, susah mengalah, dstnya. Ego sentris ini hal yang wajar dan harus terpuaskan, jika tidak akan menyebabkan luka ego, kelak di atas 7 tahun jadi anak yang kurang pede, susah mengambil keputusan, gampang di-bully dll atau malah egonya liar menjadi sangat kasar dan suka mem-bully dll.

Intinya, tidak memaksa “on the spot” jika sedang tidak mau berbagi. Dipaksa juga percuma, walaupun akhirnya mau berbagi karena dia malah kemungkinan besar kelak membenci berbagi.

Bukan berarti tidak mengajarkan berbagi, namun tidak memaksa jika sedang tidak mau.
Nanti ketika ego sentrisnya mereda, bacakan kisah indahnya berbagi, atau ajak anak ke pasar membeli hadiah dan makanan lalu pergi ke rumah anak anak yatim untuk berbagi dan makan bersama. Nah, ini jauh lebih berkesan mendalam di jiwa anak daripada memaksanya berbagi. Jangan shortcut atau tergesa ingin anak segera sholeh tanpa memahami tahapan perkembangan fitrahnya karena malah akan melukai fitrahnya.

Sumber: https://ghinaummulathifah.wordpress.com/2017/10/18/tanya-jawab-kulwap-ustadz-harry-santosa/

Continue reading

Mengapa Perlu Minimalkan Penggunaan Gadget untuk Anak?

Gadget untuk anak, yay or nay?

Dampak negatif dari pemakaian gawai pada bayi dan anak sudah banyak dibahas di berbagai buku dan seminar (termasuk kelas online), tetapi perangkat seperti ini seakan masih sulit dilepaskan dari kehidupan kita sehari-hari. Bisa dikatakan, anak-anak kita pasti sudah akrab dengan ponsel sejak mereka lahir. Istilahnya, mereka itu digital native. Kadang gadget dirasa sangat membantu sebagai ‘penjaga anak’ ketika orangtua perlu mengerjakan berbagai hal seperti bersih-bersih rumah, memasak, mencuci, menyusui adik, atau bekerja di rumah. Worth it kah solusi pemberian gadget jika ditimbang dengan risikonya? Adakah alternatif lain yang bisa digunakan? Pada acara Fun Play without Gadget di Spumante All Day Dining, Menteng, Jakarta Pusat yang diselenggarakan Sabtu (17/03) kemarin, saya ikut menyimak pemaparan tentang penggunaan gadget pada anak dari para ahli yang berlatar belakang psikologi dan aktif sebagai praktisi.

Menurut ibu Pradita Sibagariang, konsultan pendidikan dan tumbuh kembang anak, dilema terkait pemakaian gadget tidak cuma terjadi di Indonesia saja, tetapi sudah mengglobal. Oleh karenanya para peneliti juga melakukan studi terkait pengaruh gadget pada anak. Sebagaimana dikutip oleh ibu Dita, pengaruh gadget terhadap anak tergantung dari frekuensi pemakaiannya.

“Hasil penelitian, bermain gadget selama dua jam dapat memicu masalah kecemasan, emosional, dan konsentrasi. Sedangkan jika durasinya meningkat menjadi tiga jam, ada tambahan masalah berupa gejala diabetes, karena main gadget itu cenderung duduk tidak bergerak. Yang perlu dicatat adalah anak tetap mengalami masalah-masalah tadi walaupun sudah aktif secara fisik satu jam per hari,” jelas perempuan yang akrab disapa dengan ibu Dita ini.

Sedangkan dari segi perkembangan anak, gadget mungkin bisa merangsang kognitif anak melalui permainan-permainan. Namun, dalam piramidanya, fungsi kognitif ini ada di bagian atas. Fungsi lain seperti sensori motorik dan visual ‘terlompati’ karena tidak terstimulus saat anak bermain gadget.

Continue reading

Seberapa Perlu Pemberian Air Putih untuk Bayi dan Anak? 

Secara umum, pasti kita sudah mengetahui betapa pentingnya air bagi makhluk hidup, tak terkecuali manusia. Ya, tubuh kita 60%-nya terdiri atas air. Cairan berperan penting dalam proses pencernaan, penyerapan, distribusi nutrisi, pertumbuhan sel, serta untuk menjaga suhu tubuh. Dengan asupan air yang cukup, ginjal dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Cairan juga membantu pencernaan dan proses pembuangan sisanya berjalan lancar.

Hal-hal di atas biasanya ditekankan bagi orang dewasa. Lantas, bagaimana dengan bayi dan anak?

Bayi pastinya juga memerlukan air, tetapi untuk usia 0-6 bulan, kebutuhan ini sudah terpenuhi dari ASI (yang >80%-nya adalah air) atau susu formula. Mengutip pernyataan WHO, bayi tidak perlu diberi tambahan air putih karena bisa ‘kenyang’ dan enggan menyusu. Frekuensi menyusu yang berkurang dapat berakibat menurunnya produksi ASI.

Lalu bagaimana dengan bayi yang lebih besar? Dimulainya masa MPASI mulai usia 6 bulan menandai berakhirnya masa ASI eksklusif. Apakah saat itu bayi sudah perlu diberi air putih? Ada yang menjawab perlu, bahkan mencantumkan hitung-hitungannya. Namun, ada pula yang menyatakan bahwa air putih untuk bayi usia 6-12 bulan sifatnya perkenalan saja. Air bisa membantu membersihkan mulut bayi dari MPASI, tetapi pemberiannya tidak perlu ditakar. Tentu saja, tetap perlu diperhatikan jangan sampai pemberian air putih ini mengenyangkan bayi, yang berakibat berkurangnya ruang untuk ASI dan MPASI. Artinya, pemberian air dengan tepat turut berperan menunjang terpenuhinya nutrisi di periode emas bayi dan anak. Kekurangan cairan pada bayi bisa berujung konstipasi yang membuat bayi tidak nyaman, termasuk jadi enggan menyusu atau makan. Padahal bayi butuh ASI dan MPASI untuk mendukung tumbuh kembangnya.

Continue reading

Ingin Menggendong dengan Aman dan Nyaman? Jangan Lupa Cek Hal Berikut Ini

“Gendongan saja, kok, ada komunitasnya segala?” barangkali itu pertanyaan dari beberapa orang saat menemukan aktivitas grup-grup menggendong berseliweran di dunia maya. Ya, urusan gendong-menggendong bayi dan anak acapkali dianggap sebagai sesuatu yang alamiah, bisa dikuasai dengan sendirinya. Kalaupun tidak kunjung bisa menggendong dengan jarik misalnya, masih banyak pilihan alat bantu gendong yang tersedia di pasaran.

Namun, ternyata banyak hal yang perlu dipelajari dan dicermati dalam menggendong bayi dan anak. Misalnya, jenis, bentuk, dan kualitas seperti apa yang harus dipenuhi oleh sebuah gendongan yang baik? Apakah gendongan yang dipakai sudah mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi? Apakah jahitan dan buckle-nya tidak mudah rusak?

Beberapa ketentuan yang kemudian saya temukan adalah sebagaimana dipaparkan dalam infografis di bawah ini:

Continue reading

Tantangan Level 10 Kelas Bunda Sayang IIP (Grab Your Imagination) – Hari 15

Kemarin (15/12) Fathia minta didongengkan tentang kancil. Fathia memang pernah saya bacakan buku Kanchil: Kisah Sebenarnya, yang merupakan modifikasi Ariyo Zidni (kak Aio, aktivis Ayo Dongeng Indonesia) atas dongeng Si Kancil yang populer. Jadi saya coba memodifikasinya lagi.

Kancil sedang menangis tersedu-sedu ketika tampak harimau mendekat. Kancil sudah pasrah kalau harimau mau memakannya, tapi harimau ternyata malah menyapanya ramah. Kata harimau, awalnya ia hendak mengagetkan kancil dan mengajaknya kejar-kejaran sebagai salah satu bentuk olahraga, tetapi urung melihat kancil sedang menangis. Tidak seru lari-larian kalau kancil dalam keadaan sedih. Harimau menanyakan kenapa kancil menangis, dan kancil menjawab bahwa ia dituduh hendak mencuri ketimun di desa.

Kancil biasanya bermain dengan anak-anak dan hewan-hewan piaraan maupin ternak di desa, jadi ia sebenarnya sudah cukup akrab dengan penduduk desa. Tadi sore ia hendak merapatkan saja pintu ladang salah satu warga yang terbuka, tetapi warga salah paham akan niatnya.

Harimau menghibur kancil bahwa kita tidak bisa mengontrol pikiran orang lain. Masih bersyukur kancil tidak diapa-apakan, hanya dimarahi. Kata harimau, ia masih bisa membuktikan diri ke masyarakat desa, dengan tetap berbuat baik. Tapi kancil juga sekaligus harus hati-hati dalam bertingkah laku. Jika dia lihat pagar belum rapat, kancil bisa melapor alih-alih mengambil tindakan misalnya.

#Tantangan10Hari

#Level10

#KuliahBunsayIIP

#GrabYourImagination

Tantangan Level 10 Kelas Bunda Sayang IIP (Grab Your Imagination) – Hari 14

Kemarin (14/12) saya membeli beberapa botol tupperware mungil yang sempat membuat anak-anak berebut saking imutnya. Maka saya bercerita tentang botol mungil yang sedih. Botol mungil hanyalah satu dari banyak botol minum di rumah pak beruang, dan ia merasa minder karena jarang dipakai. Pak beruang, istrinya, dan anak-anak mereka yang sudah beranjak besar lebih suka memakai botol berukuran sedang dan besar, karena muat banyak dan tidak perlu berkali-kali mengisi ulang.

Suatu hari keluarga beruang kedatangan tamu keponakan pak beruang, panda kecil. Panda kecil senang sekali melihat botol mungil karena pas dengan kebutuhannya. Pak beruang bilang panda kecil boleh memakainya selama liburan di rumahnya. Botol mungil gembira karena ia akhirnya berguna juga. Di sini ada konsep kebermanfaatan bagi orang lain, di mana setiap orang memiliki perannya masing-masing.

 

#Tantangan10Hari

#Level10

#KuliahBunsayIIP

#GrabYourImagination

Tantangan Level 10 Kelas Bunda Sayang IIP (Grab Your Imagination) – Hari 13

Kemarin (13/12), bertepatan dengan momen Hari Belanja Online Nasional alias Harbolnas (sebetulnya sudah kemarinnya lagi, ya), saya yang sedang berjauhan dengan anak-anak ingin menyampaikan nilai-nilai kecerdasan finansial. Masih nyambung dengan tantangan level sebelumnya ya. Kebetulan anak-anak juga suka main ‘jual-jualan’, seringnya sih jualan makanan. Tidak yakin ini bisa dianggap mendongeng, tapi lebih pasnya role playing kali ya. Ada yang berjualan dan ada yang membeli/calon pembeli. Tapi permainan tidak mengalir begitu saja, ada ‘skenario’ saya. Ketika mengomentari harga terlalu mahal, ada adabnya. Menawar maupun menolak tawaran ada etikanya. Membeli ada pertimbangannya. Menghitung transaksi harus teliti. Sebagaimana biasanya, anak-anak terutama Fahira suka nyeletuk sesuka dia, misalnya tiba-tiba bilang makanan kesukaannya bukan itu, dia lebih suka warna lain dst.

#Tantangan10Hari

#Level10

#KuliahBunsayIIP

#GrabYourImagination

Tantangan Level 10 Kelas Bunda Sayang IIP (Grab Your Imagination) – Hari 12

Kemarin (12/12), karena sedang akan berjauhan dengan anak-anak, saya bercerita tentang bagaimana menghadapi perpisahan sementara. Tokoh bernama Shima akan ditinggal pergi oleh ibunya untuk beberapa lama. Karena sudah dianggap mandiri, Shima akan sendirian si rumah. Ibu Shima menjelaskan sejumlah pesan untuk keamanan, seperti waspada terhadap orang asing, bagaimana menyiapkan makanan sederhana, tetap menjalani rutinitas sesuai dengan jam biasanya walaupun tidak ada orangtua yang mengawasi.

Setelah ibunya pergi, Shima tergoda untuk menghabiskan waktu dengan bermain saja, makan cemilan, tidak tidur siang. Namun ternyata Shima repot sendiri. Meski tidak sampai sakit, tapi badannya terasa tidak nyaman. Akhirnya ia sadar bahwa pesan orangtua maksudnya baik, dan meski tidak ada yang melihat, jika ada pelanggaran terhadap aturan, biasanya kita sendiri yang akan rugi.

#Tantangan10Hari

#Level10

#KuliahBunsayIIP

#GrabYourImagination