Tentang Tongkat Ajaib untuk Kewanitaan

Produk ini iklannya cukup sering wira-wiri di media sosial, dengan klaim yang sungguh aduhai. Tetapi, bagaimana sebenarnya dengan keamanannya?

Credit to Umm Hamzah (https://www.facebook.com/umm.hamzah.5?fref=ufi)

Dari grup Curhat Emak-emak:

PERLU DIPELAJARI UNTUK YG MAU JUAL(AN) & BELI PRODUK TRADISIONAL

(halah…judule njilmet…abaikan…)

Mak-mak, sering lewat di wall kita atau grup, tawaran produk ini produk itu yang di-klaim (lengkap dengan testimoni) punya khasiat woooooow…dan punya angka penjualan yang gak kalah woooooow…jadi kita tergoda untuk jualan produk atau beli produk itu.

Sebelum jual atau beli produk tradisional, supaya kita tambah pede jualan dan pakai bahwa produk yang kita pake betul-betul aman, kita intip peraturan BPOM tentang produk tradisional di foto ini:

(keterangan foto) diambil dari sini http://jdih.pom.go.id/produk/PERATURAN%20KEPALA%20BPOM/Per%20KaBPOM_No.%20HK.00.05.41.1384_tentang%20Kriteria%20dan%20Ta_2005.pdf:

Bab IX – LARANGAN
Pasal 34, poin 2:
Obat tradisional dilarang dalam bentuk:
a. intravaginal (keterangan – dipakai dengan cara memasukkan ke dalam vagina)
b. tetes mata;
c. parentral; (ket – dipakai dengan cara disuntikkan)
d. supositoria, kecuali untuk wasir (ket – dimasukkan ke dalam anus)

Jadi, kalau ada produk obat tradisional yang dipromosikan dengan cara pakainya seperti di poin a-d itu, itu artinya, produsen atau distributor atau penjual sudah menyalahi aturan BPOM.

Jadi lagi…kalo ada konsumen yg pake, lalu gak dapet hasil seperti yang dipromokan atau malah ngalami efek samping yang gak diinginkan, BPOM sebagai pemberi ijin edar tidak bisa dimintai pertanggungjawaban.

Nah…setelah tahu peraturan ini, silahkan cek kalau ada produk-produk berpotensi obat dengan cara pakai di luar yang diizinkan oleh BPOM. APA IZIN EDARNYA? Sesuaikah dengan peraturan perizinan oleh BPOM? Kalau gak sesuai:

a. Kalau tetap pakai, risiko tanggung sendiri;
b. lalu terjadi hal yang tidak diinginkan, silakan komplen ke produsen/distributor/penjual.
c. terjadi hal yang diharapkan, maka perlu diteliti kembali:

– apakah produk tersebut benar-benar telah melalui UJI KLINIS sehingga layak dikatakan bisa memberi hasil sebagaimana produsen/distributor/penjual mengakuinya?
– apakah hal tersebut memang dihasilkan dari produk yang dipakai atau hanya merupakan respon plasebo di mana bahan/tindakan yang sebenarnya tidak bermanfaat tetapi DIRASAKAN bermanfaat oleh pemakai sebagai hasil dari mekanisme sugestif pemakai.
– bagaimana sebenarnya cara kerja bahan tersebut agar betul-betul diketahui apakah cara kerja bahan tersebut benar-benar baik utk tubuh atau baik di satu sisi tetapi merugikan di sisi lain, tidak memperlihatkan dampak merugikan dalam jangka pendek tetapi merugikan dalam jangka panjang, dll.

Trus…gimana tanggung jawab distributor atau penjual yang tetep menjual barang di luar izin edarnya?

Secara etika, penjual bertanggung jawab mencari tahu apakah produknya BENAR-BENAR AMAN untuk digunakan, bukan hanya mengandalkan testimoni. Karena testimoni TIDAK SAMA dengan uji klinis.
Untuk distributor atau penjual…yang masih mau memperbaiki diri, sebaiknya memperbaiki diri, supaya tidak kena masalah di akhirat karena sudah merugikan orang lain.

Ma’ap untuk bagian-bagian yang pake huruf kapital ya, Mak… bukan marah2 lho…cuma menandai bagian penting aja.

Hepi jualan & belian…

Kemudian ada yang menambahkan:

Kalau Crystal X yang ditanyakan adalah produk bernomor registrasi BPOM NA 18111600004, keterangan sebagaimana tertera di kemasan luar yang didaftarkan ke BPOM:

Komposisi: Piper betle leaf oil, aqua water, eucheuma spinosum extract, potasium alum sulfide, aloe extract Vera, CI 42090.

Manfaat dan Fungsi:

Membantu menghilangkan bau tidak sedap di vagina dan sekitarnya.

Membantu membersihkan kotoran di bibir vagina.

Dosis Dan Cara Pemakaian: Oleskan Crystal-X di sekitar bibir vagina 1-2 kali sehari sehabis mandi. Bersihkan Crystal-X dan simpan di tempat yang kering *****

Keterangan bahan:

– piper bettle leaf oil extract = ekstrak berupa minyak atsiri daun sirih

– euchema spinosum extract = ekstrak rumput laut

– potasium aluminium sulfat = TAWAS. –> Tawas inilah yang membuat Crystal-X sangat keras dan membuat vagina kesat (pada pemakaian dimasukkan ke vagina) karena tawas bersifat menarik cairan. Yang patut diperhatikan adalah: ketika cairan lendir yang dibutuhkan ternyata dikurangi, justru berpotensi merugikan dalam jangka panjang.

– aloe vera extract = ekstrak lidah buaya.

– CI 42090 = pewarna.

Crystal-X nomer registrasi NA 18111600004 terdaftar di BPOM sebagai produk KOSMETIK dalam bentuk sabun UNTUK PEMAKAIAN LUAR. Maka tidak dianjurkan menggunakannya dengan memasukkannya ke dalam organ intim perempuan. Termasuk organ intim perempuan bagian luar adalah: labium mayor, labium minor, preputium klitoridis, klitoris, perineum. Liang vagina dan rongga vagina adalah bagian dalam organ intim perempuan.

Dari akun pribadi Umm Hamzah

Umm Hamzah added 2 new photos.

16 April 2013 ยท Edited ยท

PRODUK KEWANITAAN

Telah terjadi perdebatan panjang mengenai produk kewanitaan berbentuk tongkat dengan konsistensi sangat keras berwarna hijau sampai timbul dugaan bahwa saya, Mbak Tami Ummu Shafiyya Tsabita dan Mbak Arnida Sharah Auli berusaha mendiskreditkan produk tersebut, distributor dan penjual.

Maka saya sampaikan keterangan berikut, hasil kolaborasi dengan kedua ummahat di atas:

1. Produk kewanitaan yang banyak dijual dengan petunjuk pakai dimasukkan ke vagina lalu di-unyer-unyer sekian kali dan diklaim bisa mengobati penyakit yang serem-serem itu MEMANG TERDAFTAR DI BPOM. Catet ya…MEMANG TERDAFTAR.

Kami tidak pernah mengatakan bahwa produk tersebut tidak terdaftar. Jika ada yang mengatakan kami mengatakan bahwa produk tersebut tidak terdaftar, silakan datangkan buktinya atau lebih baik Anda diam.

2. Produk tersebut terdaftar sebagai KOSMETIK. Silakan dicek ke sini : http://www.pom.go.id/webreg/index.php/home/produk/12/row/10/page/1/order/4/DESC/search/0/18111600004

3. Sesuai surat BPOM tersebut dalam gambar di bawah ini, peraturan untuk kosmetik adalah untuk PEMAKAIAN LUAR.

4. Produsen sudah benar mencantumkan aturan pakai untuk PEMAKAIAN LUAR sebagaimana tercantum dalam keterangan produk.

5. Itu artinya, JIKA ada produsen atau distributor atau penjual mempromosikan dengan cara pakai DIMASUKKAN ke dalam vagina –> MENYALAHI STATUS DAFTAR.

6. Dengan demikian BPOM sebagai pemberi izin edar tidak bisa dimintai pertanggungjawaban jika terjadi apa-apa dengan konsumen.

7. Setelah tahu peraturan ini, silahkan cek kalau ada produk-produk berpotensi obat dengan cara pakai di luar yang diizinkan oleh BPOM. APA IZIN EDARNYA? Sesuaikah dengan peraturan perizinan oleh BPOM? Kalau gak sesuai:

a. kalau tetep pakai, risiko tanggung sendiri.
b. lalu terjadi hal yang tidak diinginkan, silakan komplen ke produsen/distributor/penjual.
c. terjadi hal yang diharapkan, maka perlu diteliti kembali:

– apakah produk tersebut benar-benar telah melalui UJI KLINIS sehingga layak dikatakan bisa memberi hasil sebagaimana mereka mengakuinya,
– apakah hal tersebut memang dihasilkan dari produk yang dipakai atau hanya merupakan RESPON PLASEBO di mana bahan/tindakan yang sebenarnya tidak bermanfaat tetapi DIRASAKAN bermanfaat oleh pemakai sebagai hasil dari mekanisme sugestif pemakai.
– bagaimana sebenarnya cara kerja bahan tersebut agar betul-betul diketahui apakah cara kerja bahan tersebut benar-benar baik untuk tubuh atau baik di satu sisi tetapi merugikan di sisi lain, tidak memperlihatkan dampak merugikan dalam jangka pendek tetapi merugikan dalam jangka panjang, dll.

Semoga jelas, nggih…

Kalau gambar berikut ini belum cukup meyakinkan, silakan baca sendiri di sini : http://jdih.pom.go.id/produk/PERATURAN%20KEPALA%20BPOM/HK.03.1.23.12.10.12459%20PERSYARATAN%20KOSMET

Tambahan komen dari orang BPOM:

Tami Ummu Shafiyya Tsabita Oya maaf takralat. Kemarin pagi sudah dikonfirmasi, ternyata perbaruan izin obat tradisional 5 tahun, kalo notifikasi kosmetika tiap 3 tahun. Permenkes 661 tahun 94 tidak menyebutkan adanya sediaan tetes telinga untuk obat tradisional. Sedangkan tetes mata, injeksi, intravaginal, supositoria sudah jelas dilarang dalam peraturan yang ada di foto. Kalau produsen/distributor bermaksud menggunakan obat tersebut untuk tetes mata tapi izin yang diajukan bukan itu, yaa…itu namanya pengelabuan alias berdusta. Bisa dinilai sendiri ya dari sini. Mohon dipahami bahwa peraturan dibuat untuk melindungi konsumen dari produk tidak bermutu dan berbahaya, yang pada akhirnya sebenarnya ya menguntungkan produsen/distributor sendiri karena konsumen percaya produk yang dijual berkualitas dan aman. Oya, informasi dari teman sertifikasi dan teman pemeriksaan, produsen cx berlepas tangan dari distribusi dan cara distribusi alias promosi alias cara pemasarannya, karena dia hanya mengurusi produksi, sedangkan pemasaran oleh nasa. Jadi kalau ada hal-hal yang tidak diinginkan karena penggunaan ilegal, minta pertanggungjawabannya ya sama pihak-pihak terkait distribusinya. Karena memang ada yang mengatakan mengalami perdarahan setelah memakai cx dengan dimasukkan dan diputer-puter gitu.

Komentar dr. Noorma Rina Hanifah:

  • Kemarin ada pasien yang datang dengan vagina melepuh dan perubahan awal ke kanker leher rahim. Dia sudah rutin pakai crystal x selama 5 tahunan. Awalnya seminggu sekali, lama-lama jadi tiap hari. Dia pakai karena keputihan. Sugesti dia, kalau pakai tongkat itu, keputihannya berkurang. Padahal berkurangnya karena lendirnya terbawa tongkat ketika dikeluarkan. Setelah dipakai, 1-2 hari keputihan lagi, lama-lama semakin pendek interval antar pemakaiannya. Sementara proses radang yang menyebabkan keputihan juga jalan terus tanpa ada obat yang tepat. Saya tidak mengatakan kalau crystal x bikin kanker leher rahim. Tapi salah satu pemicu kanker adalah radang kronis.
  • Penyebab radang selain infeksi adalah benda asing. Jadi crystal x pada kasus pasien saya kemungkinan besar: menutupi gejala, memberikan rasa aman palsu dengan sugesti kalau penyakitnya sudah sembuh, menambah radang di daerah itu. Nah, kalau masih mau pakai, silakan. Tapi ketahui bahwa tidak ada obat dewa. Jika dipakai karena keputihan, ketahuilah, keputihan yang tidak diobati dengan tepat bisa berakibat mulai pada nyeri panggul, ketidaksuburan, infeksi rongga panggul, sampai kanker leher rahim (tergantung penyebab). Jika dipakai karena merasa vagina longgar, ada senam yang lebih terbukti manfaatnya.

Terakhir, ulasan lebih mendalam dari dr. Noorma Rina Hanifah

Keputihan, Kanker Leher Rahim dan si Tongkat Keajaiban Dunia ke-20

Sudah cukup bombastis judulnya ? ๐Ÿ˜€
Ini gara-gara permintaan teman saya supaya ada artikel khusus untuk menanggapi si tongkat ajaib penyembuh segala keluhan itu.
Dibahas singkat-singkat aja lah ya.
Vulva:
Vulva adalah daerah kelamin yang tampak dari luar. Terdiri dari bibir besar kelamin (labia mayora), bibir kecil kelamin (labia minora), lubang vagina (introitus vagina), lubang kencing (meatus uretra) dan klitoris. Penampakan anatomis bervariasi dari orang ke orang. Jadi ingat ya, lubang untuk kencing dan vagina itu beda. Kalau sampai sama, berarti ada kelainan. https://www.nva.org/vulvarAnatomy.html
Vagina:
Vagina berbentuk tabung yang kolaps. Panjangnya 5-10 cm dan lebarnya sekitar 2 cm. Vagina dilapisi oleh cincin otot yang bisa melar kalau dibutuhkan, misal saat melahirkan atau berhubungan seks, dan melarnya itu sesuai dengan ukuran benda yang berada di dalam vagina. Jadi, keluhan vagina terasa melar saat berhubungan seks ituโ€ฆ (tunggu ya pembahasannya).
http://web.carteret.edu/keoughp/LFreshwater/NEO/blackboard/EmbDev/female_reproductive_organs.htm
Vagina juga dilapisi oleh sel-sel selaput lendir yang tebal dan di bawah pengaruh hormon memproduksi lendir sehingga vagina secara normal memang dan harus basah. Kondisi ini menjaga agar vagina tidak mudah teriritasi saat berhubungan seks dan agar flora normal (vagina itu tidak steril) bisa tumbuh baik (kalau yang baik ga tumbuh bisa-bisa diganti dengan yang ga baik).
Uterusโ€“ tuba โ€“ ovarium ga saya bahas disini, karena permintaan teman saya hanya khusus tentang tongkat sakti.

Nah tentang keputihan/fluor albus/vaginal discharge:
Seperti saya bilang di atas, secara normal, vagina memang dan HARUS basah. Kalau ga kering, maka keseimbangan ekosistem di dalamnya akan rusak. Kalau kering, yang pertama terganggu adalah flora normalnya, koloni-koloni bakter dan jamur itu bisa berkurang populasinya (dan diganti oleh jenis yang mengganggu) atau malah bertambah melebihi kapasitas imunitas vagina. Yang terganggu kedua adalah lapisan mukosanya, kekeringan di vagina membuat vagina mudah iritasi. Dan jika dipakai untuk berhubungan seks, di samping nyeri, lapisan mukosa yang kering akan mudah lecet akibat gesekan. Kalau lecet, ditambah adanya flora vagina yang sudah tidak normal, ya berarti mudah terjadi infeksi. Kalaupun tidak infeksi, sel-sel lapisan mukosa tersebut akan berupaya memperbaiki diri sendiri dengan cara membelah diri, terus menerus. Sel-sel yang demikian mudah mengalami mutasi genetika menjadi sel-sel ganas, apalagi kalau ada stimulus tambahan (misalnya zat asing yang dibawa oleh cairan pembasuh ajaib atau tongkat keajaiban dunia ke-20 itu), waduh, bisa diakselerasi perubahan genetika yang terjadi.
Ok, diulang, lembap dan basah itu normal, terutama jika menjelang haid atau saat hamil. Cukup ganti celana dalam sesering mungkin, menjaga agar daerah โ€˜ituโ€™ cukup berangin. Kegemukan, yang membuat paha tetap berimpit meskipun kaki terpentang lebar, membuat daerah โ€˜ituโ€™ tidak cukup berangin, demikian juga pakaian yang ketat. Belum lagi orang gemuk cenderung mengalami sindroma metabolic yaitu rentan terkena diabetes, hipertensi dan hiperkolesterolemia, yang membuat sistem imun lebih lemah.

TAPI TIDAK SEMUA KEPUTIHAN NORMAL. Keputihan yang tidak normal tidak pula selalu disebabkan oleh kanker. Penyebab keputihan bisa jadi karena infeksi (bakter-jamur-virus), iritasi (benda asing) atau tanda awal keganasan. Bagaimana membedakan penyebabnya? Ya dengan pemeriksaan dokter secara langsung. Dilihat apakah ada benda asingnya, atau ada tanda-tanda infeksi (radang/warna lendir/bau) atau ada tanda-tanda keganasan. Biasanya lendir juga akan diambil untuk diperiksa di laboratorium. Kalau dicurigai keganasan akan diambil contoh jaringan (biopsi) atau dengan papsmear, tergantung kondisi saat pemeriksaan. Terapi yang asal, hanya akan memperburuk kondisi. Bisa jadi keputihan berhenti, tapi penyakit yang sebenarnya jalan terus.
Lalu bagaimana dengan tongkat berwarna hijau yang berbentuk mirip dengan โ€œsex toyโ€ itu? Saya ga tau itu tongkat aslinya terbuat dari apa. Kalau dari situs yang menjual (http://www.crystalxkeputihan.com/2013/06/kandungan-cystal-x.html) katanya mengandung:

– Eucheuma Spinosum atau sejenis Rumput Laut, sebagai bahan pangan, rumput laut telah dimanfaatkan bangsa Jepang dan Cina semenjak ribuan tahun yang lalu. Penelitian Harvard School of Public Health di Amerika mengungkap, wanita premenopause di Jepang berpeluang tiga kali lebih kecil terkena kanker payudara dibandingkan wanita Amerika. Hal ini disebabkan pola makan wanita Jepang yang selalu menambahkan rumput laut di dalam menu mereka.ย –> orang Jepang meMAKANnya bukan menaruhnya ke โ€˜situโ€™. Dan, menurut WHO http://www.inchem.org/documents/jecfa/jecmono/v48je08.htm. Tapi ingat, di penelitian WHO itu seaweednya diMAKAN, ga dimasukkan ke โ€˜situโ€™.

– Piper betle leaf oil atau Minyak Sirih, masyarakat Nusantara telah lama mengenal manfaat daun sirih untuk mencegah atau membantu mengatasi keputihan. Yang saya temukan ketika mengGOOGLE piper beetle ini malah tentang sifat antifertilitasnya (nah lho!)
http://ajes.in/PDFs/07-1/17-Lalita%20Sharma.pdf
http://www.researchgate.net/publication/256296145_Medicinal_plants_with_potential_antifertility_activity-A_review_of_sixteen_years_of_herbal_medicine_research_(1994-2010)/file/9c9605223442382544.pdf
– Potassium Alum sulfide atau Tawas yaitu mineral alami yang bersifat adstringen. Sifat ini memiliki daya menggumpalkan protein. Sifat ini sebagai antiperspiran, dengan mengerutkan pori kelenjar keringat sekaligus bertindak sebagai antiseptik lemah dengan menggumpalkan protein mikroba –> sudah saya bilang, secara alami vagina memang dan harus basah. kalau kering malah bahaya. Apalagi kalau si tawas punya sifat menggumpalkan protein, bisa merusak organ-organ saluran reproduksi kita. Tentang potassium alum sulphyde : http://chemistry.about.com/od/foodchemistryfaqs/f/Is-Alum-Safe.htm
– Aloe Vera atau kita biasa menyebutnya lidah buaya, tanaman ini secara signifikan dapat memperpanjang hidup pasien kanker dan bahkan merangsang sistem kekebalan tubuh penderita kanker –> Aloe vera punya sifat melembapkan, sementara tawas dan sirih mengeringkan, jadi efek mana yang mau dicapai? Galau kayaknya yang bikin :P. Tentang aloe vera http://idosi.org/aejts/3%283%2911/17.pdf mungkin bermanfaat sebagai antidiabetes jika diMAKAN.
Sekian dulu. Silakan simpulkan sendiri ituh tongkat bermanfaat atau malah berbahaya. Ingat ya, benda asing di vagina justru merupakan iritan yang menimbulkan reaksi radang. Reaksi radang yang lama membuat sel-sel di sekitar situ tumbuh cepat untuk memulihkan kondisi. Sel-sel yang tumbuh cepat punya kemungkinan untuk bermutasi ke arah keganasan (belum lagi jika ternyata benda asingnya bersifat karsinogen).

Yang mau belajar CBSA tentang keputihan, baca ini, jangan mau disuapin ajah
http://bestpractice.bmj.com/best-practice/monograph/510.html
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2099568/

Kalau tertarik baca lanjutannya: https://www.facebook.com/noorma.hanifah/posts/858539540825186

cx2 cx 1

Mengukur Suhu dengan Termometer

[MABES TATC]
Mari Belajar Sama-sama, Tambah ASI Tambah Cinta

Hingga sekarang ketika ada bunda-bunda yang bertanya mengenai kondisi anak yang sedang demam, tidak semuanya siap ketika ditanya balik, “Suhunya berapa?”. Baik karena belum punya termometer maupun mungkin masih bingung mengenai penggunaan alat ukur suhu tubuh tersebut. Yuk, simak sama-sama penjelasan seputar termometer yang dikutip dari situs Milis Sehat dan Tabloid NOVA ini.

IMG_20170314_215803

TERMOMETER AIR RAKSA
Termometer ini terdiri atas tabung gelas tertutup yang berisi cairan air raksa/merkuri. Di tepi tabung terlihat garis-garis yang menunjukkan skala temperatur. Bila suhu meningkat, air raksa dalam tabung yang sempit itu akan naik. Titik di mana air raksa tersebut berhenti naik menunjukkan berapa suhu tubuh si pengguna saat itu.
Termometer air raksa termasuk paling banyak digunakan. Mudah didapat, harganya murah dan pengukurannya akurat. Sesuai dengan desain tabung kaca termometer ini, posisi ujung air raksa sebagai penunjuk derajatnya akan berada di posisi yang tetap kecuali kita menggoyang-goyangkannya secara kuat. Jagalah agar termometer air raksa tidak patah/pecah. Kalaupun pecah, jangan sampai air raksanya terhirup/termakan karena bersifat toksik alias racun bagi tubuh. Oleh karena itu pengukuran lewat mulut sama sekali tidak dianjurkan pada bayi maupun balita karena dikhawatirkan pecah digigit.

Berikut langkah-langkah menggunakan termometer:
* Mengukur suhu melalui mulut (oral):
– Bila anak baru saja makan atau minum, tunggu sekitar 20-30 menit.
– Pastikan tidak ada makanan di dalam mulutnya.
– Letakkan ujung termometer itu di bawah lidahnya selama tiga menit.
– Minta anak untuk mengatupkan bibirnya di sekeliling termometer.
– Selalu ingatkan anak untuk tidak menggigit atau berbicara ketika ada termometer di dalam mulut.
– Minta pula si anak untuk relaks dan bernapas biasa melalui hidung.
– Kemudian ambil termometer dan bacalah posisi air raksanya.

Continue reading

Kultwit dr. Ian tentang Picky Eater

Berikut ini kultwit dari dokter keluarga kami, dr. Farian Sakinah atau dr. Ian beberapa tahun yang lalu di https://twitter.com/rumahlabeeba tentang picky eater.

Siang, tweeps… Mau sharing lagi. Kali ini tentang si #pickyeater #BabyK. Ada yang punya putra or putri yang sama dengan BabyK?

Sebenarnya #BabyK udah gak baby, sudah 2 tahun. Tapi kalau yang sudah pernah ketemu, first impression-nya (mostly): imut! Apalagi dibandingkan dengan ibunya.

Selama Januari – Mei 2012 #BabyK, #Beeba serta orang rumah 6 kali kena batpil. Ada yang disertai demam ยฑ minggu, ada yang 1 minggu, yang cukup pengaruh terhadap nafsu makan.

Yup, pascasakit lama itu #BabyK jadi sangat sangat #pickyeater, susah sekali makan. Apalagi sejak saya resign dan lebih banyak di rumah, maunya nenen terus.

Hampir setiap makanan yang ditawarkan ditolak, kalaupun mau hanya sesuap dua suap. Bersemangat kalau diberi buah. Sisanya maunya air putih, susu, ASI.

Boleh dibilang sejak saya resign #BabyK kayak bayi lagi, tiap 2 jam minta nenen. Setiap lapar minta nenen. Jadi hampir tidak ada makan berat yang masuk.

Tapi, tetap selalu ditawarkan. Meski ya lebih banyak ditolak. Tapi prinsip saya, saya tidak mau memaksa anak untuk makan. Makan harus jadi momen yang fun.

Meski harus tahan cibiran: “Ih emaknya gede, anaknya segede gini”. Yah gpp, toh anak saya aktif, bahkan perkembangannya termasuk early bloomer.

Alhamdulillah. Dengan keyakinan: anak sehat (tanpa ada kondisi sakit kronis) pasti akan lapar juga. Yah, setelah 2 bulan berlalu #BabyK mulai minta makan.

Continue reading

Dongeng Antibiotik (dan Antiseptik)

Copas dari Milis Sehat, antara lain untuk menjawab pertanyaan “Haruskah konsumsi antibiotik yang sudah telanjur diminum (kemudian sadar sebetulnya tidak perlu) tetap diteruskan?”. Memang, jika sudah diresepkan dan tepat diagnosis, antibiotik yang diresepkan harus dihabiskan. Namun, sepertinya ada semacam salah kaprah bahwa yang nantinya kebal dengan antibiotik tersebut kelak (jika minum antibiotiknya tidak dihabiskan) adalah orangnya. padahal yang dikhawatirkan kebal adalah bakterinya. Selengkapnya bisa berkunjung ke situs http://react-yop.or.id. Yang dikampanyekan oleh ReACT ini bukanlah anti-antibiotik, melainkan pemakaian antibiotik secara tepat guna, untuk ‘menyelamatkan’ antibiotik itu sendiri.

Bayangkan tubuh kita adalah suatu negara yang memiliki pertahanan sipil (bakteri baik/flora alami) dan pertahanan militer (antibodi/imun tubuh). Jika tubuh kemasukan pendatang baru/benda asing/musuh (bisa alergen, virus, cendawan, maupun bakteri), maka bakteri baik kita (pertahanan sipil) yang pertama-tama akan melawan pendatang baru tersebut. Jika pertahanan sipil tidak mampu melawan, maka pertahanan militer (sel darah putih) akan datang ke area tersebut untuk melawan musuh. Jika militer kita tidak sanggup melawan, maka perlu bantuan tentara luar untuk berperang melawan musuh tersebut. Nah, tentara luar inilah yang kita sebut antibiotik. Namun, satu hal yang harus dipahami, tentara luar alias antibiotik tersebut tidak mampu untuk melawan virus maupun alergen. Mengapa? Karena sejatinya tentara luar tersebut hanya bisa mendeteksi dan membunuh makhluk hidup, sedangkan virus maupun alergen bukan merupakan makhluk hidup, sehingga tidak terdeteksi dan tidak terbunuh oleh tentara luar tersebut (seperti rudal dengan sensor panas hanya akan menyerang target tertentu).Apa efeknya jika penyakit karena virus atau alergen diobati dengan antibiotik?
1. Tentara luar tersebut mendeteksi dan membunuh mahluk hidup tanpa pandang bulu. Jika tidak ada penyusup/musuh yang diserang, maka yang jadi korban adalah rakyat sipil kita (flora alami). Akibatnya flora alami jadi berkurang dan pertahanan sipil jadi lemah. Kalau pertahanan sipil melemah, maka akan lebih mudah diserang oleh musuh. Tubuh jadi makin gampang sakit.
2. Jika rakyat sipil kita terus-menerus diserang oleh tentara luar, maka suatu saat akan muncul rakyat sipil yang memberontak (mutasi bakteri dari bakteri baik menjadi bakteri jahat).Apa yang terjadi jika konsumsi antibiotik tidak sesuai/di bawah dosis yang dibutuhkan?
Tidak semua musuh musnah, akan ada bakteri jahat/musuh yang bersembunyi dan menyusun strategi pertahanan yang baru (mutasi).Sedikit tambahan, sebenarnya demam itu berfungsi seperti alarm untuk memanggil tentara kita (sel darah putih) untuk datang ke medan perang. Itu sebabnya demam sebenarnya sangat berguna dan tidak seharusnya dibasmi kecuali sudah benar-benar membuat anak tidak nyaman dan tidak bisa istirahat.
Bayangkan tubuh Anda adalah sebuah negara. Flora alami/bakteri baik dalam tubuh sebagai penduduk sipilnya. Imunitas tubuh sebagai tentaranya. Bakteri jahat sebagai musuhnya. Jika ada musuh menyusup, mereka tidak bisa dengan mudahnya menduduki wilayah tersebut karena sudah ada penduduk sipil yang siap siaga untuk melawan pendatang baru yang mau macam-macam. Jika musuh yang datang cukup banyak dan mulai menginvasi suatu wilayah, maka terjadi demam untuk memanggil si tentara ke wilayah tersebut. Jika tentara Anda dalam kondisi lemah dan tidak dpt memberi perlawanan maksimal, maka perlu bala bantuan/tentara dari luar untuk membantu mengalahkan musuh Anda tersebut. Nah, tentara dari luar inilah yang biasa kita sebut dengan antibiotik. Masalahnya tentara AB ini spesifik untuk membasmi bakteri dan fungi saja. Bukan untuk virus. Dalam kasus antibiotik yg dibutuhkan tidak dihabiskan, kejadiannya si tentara luar ini sudah membantu melawan musuh hingga musuhnya klenger, tapi belum musnah semua. Ada beberapa musuh yang masih bersembunyi dan berlindung. Jika hal itu terjadi 1-2 kali mungkin penduduk sipil kita masih bisa menekan musuh tersebut hingga habis seluruhnya. Namun, dalam hal penggunaan AB sembarangan (sering dilakukan) si musuh yang bersembunyi tersebut akan semakin banyak dan pada akhirnya mereka akan mampu membangun kekuatan yang bisa melawan tentara luar tersebut.Inilah yang disebut resistensi antibiotik. Dalam hal penyakit yang disebabkan oleh virus dan diberi AB kejadiannya si tentara luar tidak menemukan musuh untuk dibasmi, akhirnya mereka memakan/memusnahkan penduduk sipil kita sehingga jika ada musuh benaran yang datang, tidak ada lagi penduduk sipil yang melindungi wilayah tersebut. Makanya tubuh jadi gampang sakit. Efek lain dari penyerangan yang salah sasaran tersebut, penduduk sipil jadi merasa ditekan terus menerus hingga akhirnya terjadi pemberontakan (bakteri baik berubah menjadi bakteri jahat). Itulah akibatnya jika penyakit karena virus diobati terus dengan AB, kita menciptakan pemberontakan dalam negara kita sendiri.

Yang ini dongeng dari dokter Fathia ketika beliau mengadakan acara sharing mengenai kesehatan:

Bayangkan kita hidup bertetangga. Ada tetangga yang selama ini hubungannya baik-baik saja, dalam arti tidak saling mengganggu, tapi nggak akrab-akrab banget juga. Nah, suatu hari tetangga ini tiba-tiba mengancam kita dengan senjata. Makin hari makin jadi. Apa reaksi kita? Kemungkinan besar reaksi spontan pertama kali adalah mempertahankan diri, kalau perlu mempersenjatai diri juga karena ancamannya tidak main-main dan cenderung membahayakan.Inilah yang terjadi jika kita terlalu sering memakai sabun antiseptik. Pemakaian yang tepat guna tentu bermanfaat, tetapi untuk keperluan sehari-hari sebetulnya kita hanya memerlukan sabun biasa. Sabun antiseptik idealnya hanya dipakai di kasus ataupun lingkungan khusus. Sebab walaupun hanya dipakai di kulit, sabun antiseptik tetap bisa memicu resistensi terhadap antibiotik.

Nah, soal apakah antibiotik harus ‘dihabiskan’ ini ternyata juga bisa beda-beda persepsi. Saya baru ‘ngeh’ soal ini ketika ada yang menanyakan mengenai haruskan antibiotik dihabiskan dan yang dimaksud ternyata adalah sebotol antibiotik sirup, haruskah diminum sampai isi botol habis atau mengikuti petunjuk dokter terkait lamanya meminum? Jawabannya ada di sini.

Kapan Antibiotik Harus Dihabiskan dan Tidak Dihabiskan?
Oleh Aditya Eka Prawira
Dikatakan dr. Fransisca Handy, Sp.A., IBCLC, perwakilan dari komunitas Milis Sehat, dalam sebuah talkshow yang diadakan di Social Media Festival 2013, bahwa dalam pemberian antibiotik kepada anak, orangtua harus mengetahui terlebih dulu indikasi apa yang dialami anaknya tersebut. Jika sudah tahu indikasinya, maka orangtua akan paham apakah antibiotik harus dihabiskan atau tidak.Misalnya saja penyakit infeksi saluran kencing. Menurut dr. Fransisca, pada anak yang menderita penyakit ini minimal orangtua memberikan antibiotik selama tujuh hari. Dan biasanya, dokter akan memberikan antibiotik dalam bentuk sirup. Bila dalam empat hari sirup sudah habis, maka harus segera dibeli yang baru lagi.”Sirup itu umumnya cukup untuk empat hari. Karena pemberian antibiotik pada anak yang menderita penyakit infeksi saluran kencing selama tujuh hari, ya orangtua harus membelinya lagi, biar genap tujuh hari. Jika sudah genap tujuh hari antibiotik masih bersisa, biarkan saja,” kata wanita yang juga bertugas di Rumah Sakit Pondok Indah Puri Indah dan Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (FK-UPH), di fX Sudirman, Jakarta, ditulis Selasa (15/10/2013). Begitu juga bila si anak menderita Pneumonia ringan. Biasanya, antibiotik akan dijadikan tata laksana pada anak yang terserang penyakit ini. Dan umumnya, antibiotik yang diberikan cukup untuk tiga hari saja.”Sirup antibiotik biasanya untuk lima hari. Bila sudah tiga hari, hentikan, jangan sampai habis. Harus sesuai dengan durasi yang dianjurkan oleh dokter,” kata Fransisca.
Pneumonia disebabkan berbagai mikroorganisme, dan penyebab terseringnya adalah bakteri (S.pneumonia, H.influenza, S.aureus, P.aeruginosa, M.tuberculosis, M.kansasii, dsb), namun dapat juga disebabkan oleh jamur (P.carinii, C.neoformans, H.capsulatum, C.immitis, A.fumigatus,dsb), protozoa (toksoplasma) serta virus (CMV, herpes simpleks)http://health.liputan6.com/read/719631/kapan-antibiotik-harus-dihabiskan-dan-tidak-dihabiskan/?related=pbr&channel=h

Referensi lain https://lifestyle.kompas.com/read/2014/03/11/1035338/Dosis.Antibiotik.Tak.Selalu.Harus.Dihabiskan
http://m.detik.com/health/read/2014/03/06/185127/2518008/763/tak-kena-bakteri-tapi-telanjur-minum-antibiotik-apakah-harus-dihabiskan

Jakarta, Saat memberi resep antibiotik, dokter biasanya akan meminta pasien untuk menghabiskan obatnya agar bakteri tak menjadi resisten (kebal obat). Tetapi ketika tidak terinfeksi bakteri dan pasien telanjur minum antibiotik, apakah tetap harus dihabiskan?
“Ibaratnya kita mau ke Restoran Gemoelai tapi nyasar dulu ke arah Blok M. Apakah kita terus lanjut aja sampai Blok M? Kan tidak, ya berhenti dan cari tahu,” jelas dr Purnamawati S Pujianto, SpAK, MMPed, penasehat Yayasan Orang Tua Peduli (YOP), dalam acara Diskusi Media ‘Bakteri: Kawan atau Lawan?’ di Restoran Gemoelai, Jl Panglima Polim V No 60, Jakarta, Kamis (6/3/2014).
Berhenti dan mencari tahu juga perlu dilakukan ketika seorang pasien yang tidak terinfeksi bakteri telanjur minum antibiotik. Menurut dr Wati, antibiotik yang sudah telanjur diminum harus segera dihentikan ketika diketahui ternyata penyakit yang diderita pasien bukanlah disebabkan oleh bakteri.
“Kadang-kadang butuh waktu untuk diagnosis, kultur darah (pemeriksaan laboratorium). Ketika diagnosis mengindikasikan bakteri, pasien sementara dikasih antibiotik. Tapi diagnosis kan klinis, jadi begitu hasil kultur darah keluar dan tidak ada bakteri, maka antibiotiknya harus dihentikan,” kata dr Wati.
Bila tubuh tidak terinfeksi bakteri dan terus diberi antibiotik, dampaknya bisa membunuh bakteri-bakteri baik yang berperan dalam sistem tubuh.
Akibatnya, bakteri jahat akan berpesta-pora karena ‘kavling’ yang ditadinya dihuni oleh bakteri baik sudah tak lagi berpenghuni. Tubuh akan lebih mudah sakit, bakteri jahat akan semakin kebal, dan tak lagi mempan dengan antibiotik ketika bakteri jahat benar-benar menyerangnya.
“Kalau kita sayang anak, sayang orang tua, bijaklah menggunakan antibiotik sehingga ketika benar-benar butuh, tidak susah mengobatinya. Menemukan antibiotik baru itu butuh waktu lama, jangan sampai antibiotik punah,” tutup dr Wati.
(mer/vit)

Belakangan saya membaca bahwa yang diduga memicu kekebalan bakteri bukan hanya sabun mandi ternyata. Produk lain seperti cairan pel, sabun cuci, peralatan rumah tangga (setahu saya ada produk penyimpanan makanan yang mengklaim punya manfaat antimikrobial) juga punya potensi serupa. Lebih lengkap antara lain bisa dibaca di sini.

Bulan lalu, muncul pula pernyataan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat sbb, sebagaimana dimuat di Kompas:

WASHINGTON, KOMPAS.com – Penelitian meragukan keampuhan sabun antiseptik membunuh bakteri. Bahkan kandungan zat kimia dalam sabun antiseptik tersebut dinilai berisiko mengganggu hormon dan memicu bakteri yang resisten terhadap obat. Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan hasil penelitian yang sudah dilakukan selama 40 tahun atas bahan kimia anti-bakteri yang sering dipakai sebagai komposisi sabun antiseptik dan sabun pembasuh badan, Senin (16/12/2013).Penelitian juga mendapatkan peningkatan risiko yang muncul dari penggunaan bahan kimia untuk sabun itu. Food and Drug Administration (FDA) mengatakan, saat ini mereka sedang meninjau kembali keamanan penggunaan bahan kimia semacam triclosan untuk sabun. Berdasarkan penelitian terbaru, zat-zat kimia itu justru mengganggu kadar hormon pemakainya dan memicu pertumbuhan bakteri yang resisten terhadap obat. Pernyataan awal FDA adalah mendukung hasil penelitian yang menyatakan bahwa penggunaan zat antiseptik -kemungkinan terbaiknya- tidak efektif dan -kemungkinan terburuknya- mengancam kesehatan masyarakat. (selengkapnya di sini)

Update September 2016: https://m.tempo.co/read/news/2016/09/03/116801424/fda-larang-sabun-cuci-tangan-anti-bakteri-beredar-di-as
TEMPO.CO, Washington – Badan pengawasan makanan dan obat Amerika Serikat (FDA) menyatakan sabun biasa dan air bersih lebih efektif untuk membunuh kuman daripada produk sabun cuci tangan anti-bakteri.

Atas temuan terbaru itu, FDA melarang 19 bahan kimia yang digunakan dalam sabun cuci tangan yang diklaim produsennya mengandung anti-bakteri. Menurut FDA, produsen sabun cuci tangan anti-bakteri gagal membuktikan bahwa penggunaan bahan-bahan kimia itu aman dan dapat membunuh kuman.

“Kami tidak memiliki bukti ilmiah bahwa mereka lebih baik daripada sabun biasa dan air,” ujar Dr Janet Woodcock, Direktur Utama FDA.

Seperti yang dilansir Independent pada 3 September 2016, aturan itu berlaku untuk setiap sabun atau produk antiseptik yang memiliki satu atau lebih dari 19 bahan kimia, termasuk triclocarbon, yang sering ditemukan di sabun batang, dan triclosan, dalam sabun cair.

Kedua bahan kimia berbahaya tersebut dikatakan dapat mengganggu kadar hormon dan memacu bakteri kebal terhadap obat serta dapat mengganggu perkembangan janin pada ibu hamil. Menurut FDA, triclosan dapat ditemukan di hampir semua sabun cair berlabel “anti-bakteri” atau “anti-mikroba”.

FDA telah memberikan batas waktu hingga akhir tahun ini bagi para produsen sabun untuk mengubah produk mereka atau menarik sabun cuci tangan anti-bakteri dari peredaran. Namun hal itu tak berlaku pada hand sanitizer yang mengandung alkohol dan produk anti-bakteri yang digunakan di rumah sakit atau klinik.

Bahan-bahan kimia tersebut telah lama berada di bawah pengawasan. Seorang juru bicara industri sabun pembersih mengatakan sebagian besar perusahaan saat ini menghentikan penggunaan 19 bahan kimia yang dilarang dari produk mereka.

Profesor Patrick McNamara, yang telah menerbitkan penelitian tentang sabun anti-mikroba, menyambut baik putusan FDA. Menurut dia, penelitian menunjukkan tidak ada manfaat tambahan dari bahan kimia anti-mikroba dalam sabun.

================================================================

Tambahan dari dr. Arifianto ‘Apin’, Sp.A. (dikutip dari http://arifianto.blogspot.co.id/2016/08/antibiotik-boleh-distop-sebelum-habis.html)
“Anak saya demam sudah 3 hari, disertai batuk-pilek. Lalu saya bawa berobat dan diberi antibiotik. Setelah 2 hari diminum, saya baca-baca lagi bahwa selesma (batuk-pilek) tidak butuh antibiotik. Boleh saya stop antibiotiknya?”

Ini prinsipnya:

– Antibiotik adalah untuk infeksi BAKTERI, bukan infeksi VIRUS. Maka seperti pernah saya sampaikan sebelumnya, selalu tanyakan ke dokter, apa diagnosisnya, dan apakah penyebabnya infeksi virus atau bakteri?

– Jika penyebabnya adalah infeksi bakteri, tentu antibiotik yang diberikan harus dihabiskan sesuai waktu yang dianjurkan. Mengapa? Dikhawatirkan jika AB dihentikan sebelum waktunya, maka bakteri-bakteri jahat penyebab penyakit sesungguhnya belum dihabisi semuanya,meskipun gejalanya sudah hilang (merasa sudah sembuh). Dikhawatirkan sebagian bakteri penyebab penyakit yang tersisa ini, akan memperkuat dirinya, bermutasi secara genetik dan menghasilkan keturunan-keturunan yang lebih kuat (kebal) dan tidak mempan dengan antibiotik sebelumnya. Jika di kemudian hari orang ini sakit dan membutuhkan antibiotik tersebut, maka penyakitnya sukar disembuhkan karena penyebabnya sulit diatasi.
Ini yang namanya resistensi antibiotik. Salah satu penyakit yang sering dijumpai dengan kasus ini adalah tuberkulosis (TB) paru yang kebal AB. Seharusnya obat anti TB diminum selama 6 bulan, tapi baru 2 bulan sudah merasa enakan, obat malah dihentikan dan berisiko menciptakan kuman kebal AB (multi drug resistant TB).

-Tapi jika ternyata penyebabnya adalah infeksi virus, maka AB dapat dihentikan.kapanpun. Tidak perlu khawatir terjadi resistensi, karena tidak ada bakteri jahat yang bisa dibuat resisten (kebal). Malah bisa membunuhi bakteri-bakteri baik di tubuh dan menyebabkan efek tidak diinginkan yang pernah dijelaskan di tulisan-tulisan sebelumnya.

Beberapa infeksi bakteri yang terjadi pada anak di kasus rawat jalan (bukan rawat inap): infeksi saluran kemih (ISK), pneumonia bakteri, strep throat, impetigo, disentri basiler dan amuba, dan demam tifoid. Selainnya kebanyakan adalah penyakit-penyakit akibat infeksi virus yang tidak butuh antibiotik.

Sunat Perempuan

Copas kultwit dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA (K) tentang sunat pada perempuan.

1. #sunatperempuan perlu dipahami adalah bagian dari ajaran agama Islam. Bukan berasal dari indikasi medis seperti sunat laki-laki.

2. Oleh karena merupakan ajaran agama, #sunatperempuan banyak dilakukan di berbagai belahan dunia oleh umat Islam.

3. Namun di beberapa negara seperti Afrika dan sekitarnya, terdapat tradisi untuk memotong klitoris dan dikenal dengan female genital mutilation.

4. Praktek #sunatperempuan yang sesuai ajaran Islam berbeda dengan #femalegenitalmutilation ini.

5.Namun WHO maupun Amnesty International menyamakan #femalegenitalmutilation dengan #sunatperempuan yang dilakukan di Indonesia.

6. Tidak aneh bila beberapa waktu lalu kita mendengar bahwa Amnesty International minta Indonesia menghentikan #sunatperempuan karena kerancuan pemahaman.

7. Coba baca kembali Permenkes tahun 2010 tentang #sunatperempuan yang ada di website IDAI. Buka http://www.hukor.depkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK%20No.%201636%20ttg%20Sunat%20Perempuan.pdf ya.

8. Di situ sangat gamblang dijelaskan teknik #sunatperempuan yang sesuai dengan medis dan syari’ah islam. Sama sekali bukan #femalegenitalmutilation.

9. Justru Permenkes ini melindungi bayi perempuan dari tindakan #sunatperempuan yang tidak benar secara medis maupun syariah Islam.

10. Teknik #sunatperempuan hanya menggores dengan jarum steril. Tidak boleh memotong klitoris sama sekali. Jadi bukan #femalegenitalmutilation, kan.

11.Mari kita jernihkan kembali kerancuan ini. Ingat, ya, bahwa #sunatperempuan di Indonesia bukan #femalegenitalmutilation.

12. Silakan baca kembali panduan pada Permenkes itu buat sejawat yang akan melakukan #sunatperempuan.

13. Beberapa tahun lalu petugas medis dilarang melakukan #sunatperempuan karena kerancuan tadi. Akibatnya yang mengerjakan para dukun dan orang nonmedis.

14. Karena bukan orang medis yang melakukan #sunatperempuan maka tidak terjamin aspek sterilitas dan kebenaran tekniknya.

15. Jadi, daripada melarang #sunatperempuan maka pemerintah kini memberi panduan #sunatperempuan yang benar.

16. MUI membuat tulisan berjudul: dilarang melarang #sunatperempuan. Argumen berdasarkan dalil2 agama berkaitan dengan #sunatperempuan.

16. Bila ada yang minat dengan makalah dari MUI tentag berbagai dalil #sunatperempuan silakan kirim email ke piprim@klinikjantunganak.com.

17 .Itu sedikit bahasan #sunatperempuan yang sempat kontroversial. Semoga tidak terjadi lagi kerancuan menyamakan #sunatperempuan dengan #femalegenitalmutilation.

18. Apa manfaat #sunatperempuan dari segi medis? Saya sendiri belum tahu pasti. Ada teori yang mengatakan mempermudah wanita orgasme kelak.

19. Tapi masalah #sunatperempuan kan anjuran agama, maka ada atau tidak manfaat medisnya orang tetap melakukannya, bukan?

20. Tugas kami sebagai dokter anak dan petugas medis yang lain hanyalah mengamankan agar #sunatperempuan dilakukan dengan cara yang benar.

Kultwit lain dari beliau…

1) Hadits shahih: 5 perkara yang merupakan fitrah manusia: khitan, mencukur rambut kemaluan, dan ketiak, mgunting kuku dan memotong kumis.. (HR Jamaah)

2) Hadits: dari Aisyah ra, apabila bertemu dua khitan, maka wajib mandi. (Hadits shahih redaksi Ibn Hibban)

3) Dari Ummu Athiyah ra: diceritakan bahwa di Madinah ada seorang wanita tukang khitan, sabda Nabi kpdnya: jgn berlebihan, yg demikian itu…

4)…paling membahagiakan perempuan dan paling disukai suaminya. (HR Abu Dawud dari Ummu Atiyyah ra)

5) Bahwa Nabi saw bersabda khitan merupakan sunnah (ketetapan Rasul) bagi laki2 dan makrumah (kemuliaan) bagi perempuan. (HR Ahmad)

6) Dari Abdullah ibn Umar bhw Rasulullah saw bersabda: Wahai wanita2 Anshar, warnailah kuku kalian (dengan pacar dan sejenis) dan berkhifadhlah

7) Berkhifadlah = berkhitanlah.. Tapi jangan berlebih2an (Al Syaukani dlm Nailul Authar)

8) Ijma’ ulama: seluruh ulama sepakat bahwa khitan bagi perempuan merupakan hal yg disyariatkan…

9) Kaidah Fiqh: Laa ijtihad ma’annash..Tdk ada ijtihad ketika ada nash..artinya ga perlu interpretasi yg lain saat ada dalil (nash)

10) Khitan perempuan menurut madzhab Hanafiyyah, Malikiyyah, dan Hanabilah: hukumnya sunnah. Menurut Syafi’iyyah: hukumnya wajib..

11) Tidak ada satu pun ulama ahlus sunnah wal jama’ah yang melarang khitan pada perempuan..

12) Oleh karena itu, khitan perempuan adalah masalah ibadah, masalah anjuran agama..medis hanya mengamankan pelaksanaannya.

13)ย  Dalam hal khitan perempuan ini rujukan kita adalah para ulama, bukan WHO (maaf kalo tdk berkenan). Medis tinggal memastikan tekniknya aman.

14) Th 2010 terbit Permenkes 2010 ttg sunat perempuan yg ditandatangani Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih alm dan Menku mham Patrialis Akbar.

15) Permenkes 2010 ttg Sunat Perempuan dan juknis pelaksanaannya yg aman secara syariah dan medis bisa didonlot di http://t.co/skwgb19e16) Smg sharing ini bs memupus keraguan tentang bolehnya khitan perempuan…maaf bila tdk berkenan.

Fatwa MUI http://www.muidiy.or.id/fatwa-mui/fatwa-mui-tentang-khitan-perempuan

 

Sering baca di media sosial, yang pro maupun yang kontra sunat perempuan sama-sama punya alasan sendiri. Bagaimana dengan Fathia? Belum dikhitan juga sih… padahal deketan ya sama Rumah Vaksinasi punya dr. Piprim.

 

Update:

Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No 1636/2010 tentang Sunat Perempuan dicabut pada 6 Februari 2014, melalui Permenkes No 6/2014. Salah satu pertimbangannya adalah bahwa sunat perempuan lebih didasari oleh pertimbangan adat dan agama, bukan merupakan tindakan medis, sehingga tidak perlu diatur.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan pernah melarang sunat perempuan melalui Surat Edaran No HK.00.07.1.3.1047a tahun 2006. Larangan tersebut melunak dalam Permenkes No 1636/2010 karena sunat perempuan di Indonesia dinilai tidak sama dengan FGM dan hanya bersifat simbolis.

Permenkes tentang Surat Perempuan banyak menerima kritik terutama dari kalangan aktivitas perempuan. Permenkes tersebut dinilai rentan melanggar hak-hak perempuan. “Kalau dasarnya agama kan biar peraturan agama yang mengatur,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, dr Supriyantoro, Sp.P, MARS, di Jakarta, Senin (24/2).

Kalau itu tradisi, kata Supriyantoro, sejauh tidak mengganggu kesehatan maka tidak bisa dilarang. Yang harus dipertimbangkan bagi yang melakukan (sunat perempuan), adalah masalah higienis. Tempat melakukannya harus bersih, pakai sarung tangan, dan lain-lain. Jangan sampai karena budaya lalu merusak organ kelamin wanita.

Jika sunat perempuan mengacu pada female genital mutilation (FGM), maka Majelis Umum PBB telah melarang praktik ini.ย  Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyebut sunat perempuan bersifat makrumah (ibadah yang dianjurkan). Tata cara pelaksanaan khitan perempuan menurut ajaran Islam adalah cukup dengan menghilangkan selaput yang menutupi klitoris.

“Digores sedikit saja. Tidak boleh berlebihan apalagi sampai dipotong. Dalam ajaran agama juga tidak boleh melakukan yang berlebihan,” papar Wakil Ketua Umum MUI Ma’ruf Amin. Jika digores tentunya akan meninggalkan bekas luka. Bukankah hal itu nantinya akan menyebabkan sakit pada anak? Adakah bahaya yang dirasakan ketika perempuan sudah dewasa?

Menanggapi hal ini, Ketua Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI), Prof. Dr. dr. Ali Baziad, SpOG(K) mengatakan bahwa tidak ada masalah. “Kalau hanya digores sedikit sekadar syarat tidak akan ada permasalahan,” ungkapnya.

Ia menuturkan selama 20 tahun lebih menjadi dokter kandungan, tidak pernah ada pasien yang datang dan mengatakan ada keluhan karena sunat perempuan, baik dari ibu atau anaknya. Namun ia juga mengakui bahwa dirinya belum pernah melakukan apa yang disebut orang sebagai sunat perempuan tersebut. Dikatakannya bahwa kebanyakan pasien melakukan hal tersebut ketika sudah pulang ke rumah.

Sementara itu DR dr Nur Rasyid, SpU(K), Ketua Departemen Urologi RSCM, mengatakan selama ini praktik sunat perempuan yang dikenalnya adalah penyayatan penutup klitoris semata. Jangan dibayangkan penyayatan ini akan membuat organ genital anak perempuan jadi berdarah-darah. Sebab hanya dengan menggunakan jarum saja, lapisan penutup klitoris sudah bisa dirobek.

“Itu merupakan puncak atas dari vagina, jadi kulitnya disayat supaya klitorisnya semakin terekspos jadi justru wanita bisa menikmati rangsangan lebih baik. Tidak ada yang dibuang dari sunat wanita itu,” terang dr Nur Rasyid. (kkb2/sumber: detik.com)

(disalin dari http://www.bkkbn.go.id/ViewBerita.aspx?BeritaID=1000)

Kenalan sama Sariawan

Akhirnya Fathia mengalami juga yang namanya sariawan. Jujur, ini salah satu yang paling saya takuti sejak dulu…. lha nggak sariawan aja makannya suka mood-mood-an, gimana kalau kena? Benar saja, Fathia bukan hanya tidak mau makan, bahkan air putih favoritnya pun ditolak! Tiga malam kami semua begadang karena Fathia terus-menerus menangis, hanya bisa terlelap beberapa menit untuk kemudian bangun lagi dan menangis lagi, sampai menjelang subuh. Saat terjaga pun, tertawa jadi hal yang menyakitkan, sampai nggak tega mau ngajakin bercanda (padahal maksudnya kan biar lebih ceria).

Begitu melihat gejala sariawan di Fathia, saya buka-buka lagi deh tulisan bu Julia. Karena panjang, nanti saya tempel di akhir tulisan ya. Sudah lama baca tulisan ini dikirim berulang kali di milis Sehat, copas ke sini saja sekalian buat arsip.

(update yang saya tambahkan belakangan)

Yang ini tulisan dr. Arifianto Apin https://www.facebook.com/arifianto.apin/posts/10205474698541285

Benarkah kebanyakan sariawan pada anak disebabkan oleh jamur?

Ya, tidak jarang seorang anak pergi ke dokter dan dinyatakan mengalami sariawan. Lalu pulang dari dokter dengan membawa resep: nistatin alias antijamur.

Benarkah demikian?

Ternyata tidak. Infeksi jamur penyebab sariawan terjadi pada anak-anak dengan daya tahan tubuh menurun, seperti mereka yang sakit leukemia (kanker sel darah putih) dan mendapatkan kemoterapi. Atau anak-anak dengan HIV/AIDS.

Lalu apa penyebab tersering sariawan pada anak?

Seperti yang ada di foto-foto, secara umum sariawan (sores) dibagi 2: cold sores dan canker sores. Nah, cold sores ini letaknya biasanya di bibir dan gusi. Penyebabnya adalah virus herpes simpleks (HSV). Canker sores lokasinya lebih ke dalam lagi, bisa sampai ke langit-langit. Dan bentuknya bisa lebih putih, yang kadang dipikirkan sebagai infeksi jamur, padahal bukan. Penyebab canker sores lebih variatif dan belum jelas benar, bisa karena trauma gigitan, stres psikologis, sampai “bakat” alias keturunan (ada kaitannya dengan sistem imun juga).

Prinsip penanganannya adalah: baik cold maupun canker sores akan sembuh dengan sendirinya dalam 1 sampai 3 minggu. Lalu apa obatnya? Lagi-lagi dan lagi-lagi…. SABARRR. Ya, pemberian antivirus, apalagi antibiotik bahkan antijamur tidak terbukti mempercepat penyembuhan. Tega bener, anak kesakitan, ngeces terus, nggak bisa makan, nggak mau menetek, kok disuruh SABAR aja??

Pemberian minuman dingin, pokoknya yang adem-adem bisa membantu menyamankan (biasanya saya menyarankan anak mengemut es batu, atau sekalian saja makan es krim. Hmmm, enaakk). Yang penting: anak tidak boleh dehidrasi. Yang paling dikhawatirkan adalah kekurangan cairan. Jadi, perbanyak saja minum dan cairan.

Saya jadi ingat putra saya mengalami sariawan yang putih-putihnya hampir memenuhi seluruh rongga mulutnya, sampai ke langit-langit. Ya, butuh kurang lebih seminggu sampai akhirnya putih-putih tersebut hilang dengan sendirinya.

Yang lagi pada sariawan, semoga cepat sembuh semua ya.
Yang pengalaman anaknya diobservasi saja sesuai tulisan ini dan sariawan sembuh sendiri, silakan berbagi pengalamannya, supaya yang lain juga makin mantap.

Bisa baca lanjutannya yang fokus ke seriawan jamur di (https://m.facebook.com/arifianto.apin/posts/10205483438959790).

Referensi lain yang juga sempat saya baca: http://kidshealth.org/parent/general/aches/canker.html (kalau yang jamur di http://m.kidshealth.org/parent/infections/skin/thrush.html). Meski agak stres karena khawatir badannya tambah susut, apalagi minum pun sempat nggak mau sama sekali, saya mencoba mencari cara untuk menyamankan Fathia.

Mengingat yang dingin-dingin biasanya ampuh, saya beli saja es krim, dan ternyata memang lumayan bisa masuk untuk menambah tenaganya (kendati tidak banyak juga). Tetap saja saya cemas, sih, dan akhirnya bersama suami memutuskan untuk ke dokter langganan kami :D. Alasan saya sih, biar bisa dicek langsung gitu, siapa tahu jamur, kan bisa diobatin lebih awal. Tetep ya, namanya juga panik, padahal sudah pernah lihat foto-foto oral thrush di https://www.dermnetnz.org/topics/oral-candidiasis/. Beda kan ya dengan sariawan yang satunya, yang lebih mirip dengan yang Fathia alami https://www.dermnetnz.org/topics/aphthous-ulcers/.

Di rumahnya, tante dokter nan sabar mengulangi lagi materi yang sebetulnya juga saya sudah baca berkali-kali, ampun Dok, memang sayanya masih suka galau nih :D. Intinya, kalau sampai nggak mau minum sama sekali, bisa saja dikasih obat, tapi mengingat isi obatnya kortikosteroid yang efek sampingnya lumayan, alangkah lebih baik tunggu dulu saja.

Alhamdulillah, ternyata memang sariawan Fathia sembuh sendiri di hari kelima. Nafsu makannya pun berangsur kembali, sudah bisa minta kerupuk pula…. (waktu lagi parah-parahnya itu, minta nasi aja terus langsung nangis sendiri karena ingat bakalan sakit kalau dimasukin ke mulut).

Berikut saya sertakan juga hasil pencarian terkait obat-obatan yang sering disarankan untuk sariawan, penjelasannya adalah sebagai berikut:
– Antijamur mis. nystatin, ada merk mycostatin, candistin: tentu hanya untuk jamur. Lebih lengkap bisa dibaca di sini http://www.drugs.com/mtm/nystatin.html
– Gom: isinya borax glycerine. Pernah baca tulisan yang menyebutkan bahwa sekarang sebaiknya tidak dipakai lagi karena bikin rongga mulut kering dan pastinya tambah nyeri, tepatnya di http://toxnet.nlm.nih.gov/cgi-bin/sis/search/a?dbs+hsdb:@term+@DOCNO+328 . Kalau di milis sih, simpelnya, yah, borax gitu lho…
– Kenalog in orabase: Isinya triamnicolone acetonide yang termasuk kortikosteroid dengan efek antiperadangan, antigatal, antialergi, sebaiknya dengan petunjuk dokter. Selengkapnya di sini http://www.drugs.com/kenalog.html.
– Albothyl: saya pernah coba waktu zaman sekolah, dan suakiiittt…. efeknya kan memang mematikan jaringan, ya. Sekali lagi, yakin, mau ngasih ke anak? Dulu pun, saya takjub membaca keterangan di kemasannya yang sebetulnya bukan diperuntukkan bagi sariawan mulut. Trus sariawan di mana, dong? Ng, sila baca selengkapnya di sini, ya, http://www.mims.com/malaysia/drug/info/Albothyl/?type=full.

Berikut ini tulisan bu Julia selengkapnya.

SARIAWAN

Apa sih sariawan itu?

Sariawan adalah istilah yang digunakan luka-luka/lesi-lesi di dalam mulut. Dalam bahasa kedokteran digunakan istilah APHTHAE. Bentuk luka macam borok dengan selaput putih, permukaan rata. Tempat yang terkena adalah bagian-bagian selaput lendir/mukosa mulut yang bisa digerak-gerakkan yaitu daerah pipi bagian dalam, bibir bagian dalam. Gejalanya perih, sakit jika digerakkan dan sensitif terhadap rasa pedas. Tidak demam. Sembuh sendiri.

Penyebab: BELUM DIKETAHUI
Mungkin karena genetik, hormon, stress, daya tahan tubuh (faktor imun sehingga kecolok sikat gigi bisa menjadikannya sariawan, tergigit), alergi pasta gigi, obat, makanan.

Ada dua kelompok Aphthae:
– minor
– mayor/kronis

Minor Aphthae akan sembuh sendiri dalam tiga โ€“ lima hari. Tidak demam, dan tidak menimbulkan rasa lemah. Tidak muncul berulang-ulang. Tidak perlu diobati.

Mayor aphthae:
Adalah sariawan yang berulang-ulang, luka lebih dalam, lebih sakit, kadang diikuti rasa demam-demam, dan lemah. Bentuk sariawan bisa bergerombol bisa melebar dengan pinggiran merah. Seringkali diikuti infeksi sekunder (bakteria). Munculnya berulang-ulang, ada yang muncul saat-saat menstruasi, atau jika terlalu lelah, stress. Lamanya muncul lebih lama daripada Aphthae minor tadi. Bentuk Aphthae ini kadang juga sebagai manifestasi (muncul gara-gara) penyakit lain yang lebih parah, misalnya HIV/AIDS, gangguan hormon, gangguan imunologi.

Pengobatan:
Antibakteria kumur untuk mencegah infeksi sekunder.
Vitamin untuk menunjang daya tahan tubuh.
Penghilang rasa sakit
Salep mulut kortikosteroid (hanya dengan resep dan di bawah pengawasan dokter).
Jaga kebersihan mulut.

http://www.aafp.org/afp/20000701/149.html

INFEKSI JAMUR

TIDAK DISEBUT SARIAWAN (tolong jangan menyebut sariawan buat infeksi jamur, bisa membingungkan), karena memang bukan sariawan, tetapi infeksi jamur. Yang paling sering adalah infeksi jamur candida, maka disebut candidiasis. Infeksi jamur ini yang paling sering terjadi pada bayi dan anak-anak. Warnanya gumpalan-gumpalan putih creamy macam susu. Tempatnya terutama di lidah, tetapi juga bisa menyebar ke mana-mana hingga selaput lendir atau mukosa mulut lainnya yaitu pipi bagian dalam, bibir bagian dalam, bawah lidah, gusi, pinggiran mulut, bahkan ke luar rongga mulut sekitar mulut. Selain dapat menyebar ke luar mulut, dapat juga menyebar ke dalam yaitu ke tenggorokan, kerongkongan, dan masuk ke dalam usus. Jamur yang menggerombol dan menempel ini kadang lepas akan menyebabkan luka-luka yang sangat sakit. Jika penyebarannya mencapai tenggorokan anak akan selalu menangis karena sulit menelan dan sulit makan.

PERLU DIOBATI dengan antijamur dengan resep dokter. Jaga kebersihan supaya tidak menular ke mana-mana. Bagi ibu yang sedang menyusui maka si ibu juga perlu mendapatkan pengobatan candida di puting susu. Pengobatan harus tuntas, karena itu jika obat telah habis tetapi belum sembuh juga, perlu kembali ke dokter yang merawatnya.

Untuk infeksi jamur, antibiotika adalah kontraindikasi.
http://www.nutrition4health.org/nohanews/NNS95OralYeastInfections.htm
http://www.mayoclinic.com/health/oral-thrush/DS00408/DSECTION=2

INFEKSI VIRUS

Juga TIDAK DISEBUT SARIAWAN. Tetapi infeksi virus. Biasanya virus yang mengenainya adalah virus herpes, umumnya disebabkan karena virus herpes simplex atau herpes zozter. Gambaran virus herpes simplex mempunyai luka-luka soliter (satu-satu sendiri-sendiri) dan herpes zoster bisa menggerombol. Bentuk luka/lesi-lesi bulat-bulat kecil sekitar 2 โ€“ 3 mm โ€“ bisa menyerang seluruh bagian mulut. Biasanya dimulai dengan gelembung yang segera pecah meninggalkan luka-luka yang sakit, daerah mukosa menjadi merah, mudah berdarah, dan kadang diikuti pembengkakan. Gejalanya: high fever, rasa sakit, tidak enak badan, tidak nafsu makan, lemah, ada pembengkakan kelenjar di bawah rahang, MENULAR.

Harus segera mendapatkan penanganan segera, makanan tinggi kalori tinggi protein, untuk mengurangi sakit diberi obat oles yang mengandung lidocain (anastesi lokal) atau analgesik telan. Jika tanpa medikasi akan sembuh sendiri antara 10-14 hari. Pemberian antivirus hanya untuk memperpendek waktu sakit. Untuk anak kecil harus dijaga agar tidak terjadi penyebaran ke mata yang membahayakan penglihatan (buta).
http://dentistry.ouhsc.edu/intranet-WEB/ContEd/OPCE/PHG.html
http://www.dentistry.bham.ac.uk/ecourse/cal/stlesions/stltn24.htm

Diagnosis pembanding: HFMD (Handโ€“Foot-Mouth-Disease) gambaran di dalam mulut mirip-mirip.

INFEKSI BACTERIA

Infeksi bakteria (biasanya mix bacteria anaerob) SERING terjadi di daerah-daerah miskin yang kurang perhatian kebersihan terutama kebersihan mulut, ditambah dengan daya tahan tubuh kurang akibat gizi kurang baik. Tetapi tidak menutup kemungkinan terjadi pada kelompok-kelompok ekonomi baik, sebab infeksi ini SANGAT MENULAR. Ginggivo stomatitis necrotica, atau Necrotica Ginggivostomatitis, atau Necrotica Ulcerative Ginggivostomatitis (NUG), bentuk yang akut disebut Acute Necrotica Ulcerative Ginggivostomatitis (ANUG).

Juga TIDAK DISEBUT SARIAWAN.

Dulu di sekitar Jakarta banyak ditemukan, lama-lama menghilang, tetapi kini dilaporkan sudah ada lagi pasien yang datang ke rumah sakit di Jakarta. Di daerah-daerah banyak ditemukan yang sudah melanjut kronis menjadi NOMA (kanker mulut).

Gejala awal, terjadi sangat cepat dengan rasa sakit pada gigi geligi hampir semua bagian di rahang atas dan bawah, gusi-gusi sekitar gigi-gigi merah meradang, untuk selanjutnya daerah gusi bagian yang runcing di antara dua gigi (papil) akan menumpul, menunjukkan adanya pembusukan (gangrena) dengan bau busuk yang sangat khas dan keras. Kondisi anak demam, lemah, rasa sakit, yang menyebabkan tidak mau makan. Jika dibiarkan pembusukan akan meluas mengenai gusi dan mukosa pipi bagian dalam. Pembusukan di daerah ini akan menyebabkan rusaknya jaringan yang akhirnya menyebabkan pembukaan dengan proses seperti kanker. Dalam keadaan ini kemungkinan meninggal dunia sangat besar, karena kondisi tubuh yang terus merosot dan dehidrasi. Kalau mencari laporan dan tidak ada laporan adanya ANUG di Indonesi bukan berarti di Indonesia penyakit ini tidak ada, tapi studi/penelitiannya dan laporannya ke dunia internasional yang tidak ada.

Pengobatan untuk ANUG: segera kumur atau basuh mulut dengan hidrogen peroksida, tingkatkan kebersihan mulut, vitamin, makanan tinggi kalori tinggi protein, banyak minum.

Keadaan kronis, perlu antibiotika (karena infeksinya mix perlu dilakukan tes lab). Kadang juga disertai dengan infeksi virus.

Noma perlu tindakan operasi dan perbaikan kondisi tubuh secara menyeluruh.

ANUG:

Click to access folayan.pdf

Gambar NOMA dapat dilihat di sini.

Click to access ph0004_176.pdf

Click to access 2187.pdf

ORAL ULCER (luka/lesi mulut) lain
Karena penyakit rongga mulut banyak, jika masih penasaran dapat membaca di sini serta membandingkannya.

Click to access 11_schneider.pdf

Salam,
Julia Maria van Tiel

sumber: milis Sehat

Oh ya, kata yang baku ternyata seriawan, lho. Dalam KBBI (https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/seriawan) disebutkan bahwa kata sariawan tidaklah baku. Di situ sih diartikan sebagai n penyakit pada gusi, bibir bagian dalam, langit-langit mulut, atau lidah (tampak merah atau putih dan melepuh) .

Time Will Heal

Belajar jadi pasien yang rasional, apalagi dalam posisi sebagai orangtua, susah-susah gampang. Godaan sering muncul, apalagi kalau anak terlihat begitu ‘menderita’. Menangis sepanjang malam, tak mau makan, tak mau minum… ortu pun seringkali jadi harus mengorbankan waktu tidur yang bisa berefek ke pekerjaan (di rumah maupun kantor) esok harinya. Belum lagi khawatir menularkan sakit yang sama ke anak-anak yang lain, atau minimal anak yang lain jadi ‘nggak kepegang’ dan malah ikutan rewel.

Hal-hal seperti ini ternyata bagi sebagian orang jadi pertimbangan untuk memberikan obat pada anak. Meskipun tahu bahwa sebetulnya bisa sembuh sendiri. Walaupun sudah pernah baca bahwa tatalaksananya memang tidak perlu obat.

‘Tega’? Iya, label seperti itu akan mudah sekali melekat pada ortu yang ‘nggak ngapa-ngapain’ saat anaknya sakit. Padahal, sebetulnya bukan dicuekin juga sih. Tetap dinyamankan, ditawari makan, terutama minum, dan tentunya dilimpahi kasih sayang. Ada pula yang saking takutnya pada obat lalu mengejar penanganan yang ‘alami’, biasanya diidentikkan dengan herbal. Padahal yang alami itu belum tentu aman, dan seringkali sulit diukur berapa dosis yang tepat, dipantau efek sampingnya, dst.

Ada pula terapi yang sepertinya aman, minim efek samping, tapi kalau mau betul-betul mengikuti prinsip pengobatan rasional, tetap tidak tepat dari segi biaya, dan tidak disebutkan pula dalam panduan dasar dari WHO misalnya. Ada lho yang sampai titip-titip dicarikan karena di kotanya tidak ada, benar sih kita selalu rela berkorban demi anak termasuk dalam hal biaya, tapi sekali lagi, apakah memang perlu? Lebih banyak manfaatnya untuk mengobati kekhawatiran orangtuanya, sepertinya. Berikut saya kutipkan e-mail dari dr. Purnamawati di milis Sehat:

Sebetulnya, pemakaian kayu putih dll kan tidak ada ya dalam guidelinenya. Kalau ingusnya kental – mungkin membantu. Tetapi kalau ingusnya encer, kan akan keluar dengan sendirinya tanpa harus uap “sepanjang masa”. Saya tidak tahu apakah eucalyptus oil boleh dan aman untuk bayi tetapi yang jelas, kan tidak perlu. Kadang saya pikir, pemakaian breathy, sterimar, NaCl 0.9 persen – sebetulnya juga merupakan salah satu manifestasi bahwa parents di indonesia masih sulit menerima kenyataan bahwa batpil, runny nose, memang tdk ada obatnya – sehingga … Baik dokter dan orangtua (sadar tak sadar) merasa “harus” ada tindakan; harus ada terapi; butuh ada “intervensi”. Mbok biasa2 saja Kalau boleh usul lho ya Wati

Juga komentar dr. Endah Citraresmi, Sp.A. (K), DSA subspesialis alergi anak, yang kemudian terkenal dengan slogan “Time will heal“-nya….

Dear Smart Parents,

Sibuk mencari sesuatu cara untuk ‘do something‘ saat anak batuk pilek? Obat katanya gak boleh. Nebulizer kan cuma buat anak asma. Gemes kaaan, kalo gak bisa melakukan sesuatu? Kesannya menelantarkan anak?

Aha! Meluncurlah ke apotik beli br**thy, beli tr***p**m*n – obat batpil gak dibeli tapi tetap aja beli ‘sesuatu’. Gak cukup sampai di situ, masak air mendidih lalu diuapkan ke anak kita.

Kesemua itu gak perlu. Hal terpenting dari perlawanan terhadap virus adalah daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh dapat disokong oleh istirahat yang cukup (siapkan fisik untuk menggendong anak yang super rewel ya), makanan (bujuk – dan bukan paksa – anak untuk makan, 1-2 sendok secara berkala sudah lumayan banget), dan yang sangat penting: cairan! Telateni untuk memberi minum pada anak. Bayi ASI perlu disusui lebih sering. Sering lepas-lepas karena mampet? Perah ASInya lalu sendoki.

Sisanya? Time will heal.

Berkali-kali saya menemukan anak yang mengalami reaksi alergi terhadap balsam. Tersering akibat diberikan bawang. Ortu panik, dikira campak. Padahal dermatitis kontak. Yang menyedihkan, sudah dua kali menemukan kasus anak luka bakar akibat ‘terapi uap’. Yang pertama karena anak tidak bisa diam, meronta, ember berisi air panas tertendang dan airnya menciprati badannya. Kasus kedua, memasang magic jar di kamar tidur supaya mengeluarkan uap air panas, lalu ditinggal tidur. Anaknya sudah bisa turun sendiri, lalu memainkan magic jar tadi, melepuhlah kulit tangan sampai mukanya. Sedih sekali melihatnya.

Satu-satunya yang aman dan efektif yang perlu diberikan ke anak yang batuk pilek cuma minum yang banyak. Gak perlu ya perintilan-perintilan ‘home treatment‘. Siapkan stok sabar. Observasi tanda-tanda bahaya. Sisanya, serahkan pada tubuh anak. Sekali lagi, time will heal. Badai pasti berlalu.

Maaf jika tidak berkenan,

Endah

Serius sekali ya saya nulisnya? Padahal, jujur saja, saya juga masih suka panik. Beli juga balsem bayi untuk jaga-jaga kalau Fathia batuk-pilek. Dulu masih menguapi kamar dengan minyak kayu putih yang diteteskan ke panci berisi air panas (kira-kira ada lah 4 kali sepanjang usia Fathia yang sekarang 2 tahun). Waktu Fathia sariawan, masih sibuk mencari tahu kapankah kira-kira boleh dikasih obat oles, saking nggak tega mendengarnya menangis 10 menit, tidur 10 menit dst tiga malam berturut-turut.

Sudah baca teori berulang kali, dijelaskan oleh ahlinya, baca-baca pengalaman orangtua lain, ternyata tetap ada kalanya panik juga. Pernah juga saya ‘panik karena tidak merasa panik’, hahaha. Boleh kan ya dianggap sebagai bagian dari proses belajar? Semoga tidak terlihat seperti pembelaan diri semata, ya :).

Edit April 2015: alhamdulillah ada penguatan lagi dari dr. Arifianto, Sp.A (dokter yang aktif di milis sehat juga)

Arifianto Apin
11 April at 10:44 ยทย 
Semua orangtua pernah mendapatkan anaknya mengalami selesma alias batuk pilek. Mayoritas berakhir dalam waktu yang tidak lama, sekitar semingguan. Tapi sebagian lainnya bertahan hingga berminggu-minggu, bahkan melampaui angka 1 bulan.

Orangtua yang awalnya paham bahwa selesma dibiarkan saja dan akan sembuh dengan sendirinya, tidak perlu minum obat apapun, toh infeksi virus yang ringan, menjadi khawatir. Apalagi kata orang, batuk yang dibiarkan lama bisa jadi “paru-paru basah”, flek, pneumonia, dan bronkitis.

Mulailah mereka membawa anaknya ke dokter. Sebagian khawatir akan kemungkinan TB, sehingga dilakukan foto ronsen dan tes Mantoux. Sebagian lagi curiga alergi atau asma, maka diberikanlah obat-obatan asma dan alergi. Masih tak kunjung sembuh juga. TB bukan, alergi bukan, asma juga tidak. Lalu apa? Infeksi virus ping-pong ternyata. Ya, awalnya si anak sakit, lalu bapak-ibunya tertular, lalu di sekolah teman-temannya juga sakit. Lengkap sudah.

“Ibu mau anaknya sembuh? Gampang Bu. Ibu taruh anaknya di suatu tempat yang tidak ada orang lain yang sakit batuk-pilek juga. Satu minggu aja. Nanti juga insya Allah sembuh sendiri.” Kata dokter sambil tersenyum.

Ujung-ujungnya pasti orangtua bertanya, “Lalu apa obatnya??”
“Sabar,” jawab dokter. “Obatnya adalah: sabar menunggu anak sembuh sendiri. Toh ini infeksi virus ringan yang hilang seiring waktu. Tapi ya harus sabar. Karena banyak orang di sekelilingnya yang sakit serupa dan bolak-balik menularkan.”

Satu lagi. Anak seringkali mengalami demam saat selesma. Suhunya bisa mencapai 40 derajat selsius. Ia menjadi rewel. Sudah diberi obat penurun panas, hanya turun sedikit jadi 38,5. Itupun kalau mau diminum obatnya. Banyak yang langsung muntah saat ia dipaksa orangtuanya minum parasetamol. Makin stres si ayah-ibu. Semalaman tidak tidur. Maunya digendong saja. Ditaruh sebentar di kasur, langsung nangis lagi. Hidungnya mampet. Batuknya grok-grok.

“Jadi saya harus kasih obat apa?” tanya orangtua lagi.
“Anaknya nyaman dan anteng kalau digendong kan?” tanya dokter.
“Iya….”
“Ya itu obatnya: gendong!”

Ya, semalaman menggendong anak tentunya melelahkan. Harus masuk kerja pula pagi-pagi.

Nikmatilah! Tidak akan lama masa-masa ini Anda alami. Anda akan segera merindukannya ketika anak-anak besar

Susu Tidak Menetralkan Obat

Sepertinya masih banyak yang salah kaprah mengenai hal ini…. mau nulis sendiri belum sempat nyari sumber tambahannya, untuk sementara ini dulu ya. Semoga Cak Moki berkenan postingan beliau saya reblog.

cakmoki's avatarcakmoki Blog

Susu dan Obat Di kalangan masyarakat, masih berkembang anggapan bahwa susu akan menetralkan obat jika diminum bersamaan. Tentu anggapan ini salah. Susu tidak menetralkan obat. Apakah kekeliruan informasi tersebut berhubungan dengan rendahnya tingkat pendidikan ? Tidak mesti ! Faktanya lulusan perguruan tinggi masih ada yang beranggapan bahwa susu akan menetralkan obat jika diminum bersamaan. Bahkan, boleh jadi sebagian petugas di lingkup kesehatanpun masih beranggapan semacam itu. Maklum, doktrin bahwa susu menetralkan obat sudah kadung melekat dalam masyarakat sehingga kadang tidak mudah meluruskannya, meski di kalangan kesehatan sekalipun. Untuk itu saya merasa berkepentingan menulis posting ini sebagai kontra-doktrin.

Benarkah semua jenis obat menjadi netral (tidak berkhasiat) jika diminum bersamaan dengan susu ? Tidak benar alias keliru.

Susu tidak membuat obat menjadi netral dan tidak menjadikan obat tidak berkhasiat. Ini artinya tidak masalah jika anak lebih suka minum obat bersama susu.

KILAS BALIK HUBUNGAN ANTARA SUSU DAN OBAT

Tatkala pertama kali bertugas di Puskesmasโ€ฆ

View original post 420 more words

Kurva Pertumbuhan

Waduh, anak saya kok kurus banget, ya?

Bb bayi saya nambahnya cuma dikit, nih :-(.

Dibandingkan sama sepupunya yang seusia, kok anak saya kayaknya kurang tinggi, ya?

Pertanayaan-pertanyaan di atas seringkali menghantui orangtua, khususnya para ibu. Sebagai orang yang sehari-hari mengasuh dan merawat bayi/anak, ibu biasanya jadi merasa khawatir, adakah sesuatu yang salah? Apakah makanan yang diberikan kurang memenuhi kebutuhannya?

Jangan-jangan perlu suplemen tambahan? Apakah mungkin ada penyakit atau gangguan kesehatan yang menghambat pertumbuhan anak? Ada yang panik, tetapi ada juga yang ‘menyangkal’, percaya bahwa yang penting anaknya (terlihat) sehat dan aktif.

Sebelum loncat ke pencarian penyebab, apalagi langsung cari solusi, ada baiknya cek dulu. Benarkah ukuran tubuh anak memang sudah berada dalam tahap perlu perhatian? Nah, untuk menjawab pertanyaan ini tentu diperlukan suatu standar. Bayi tetangga, keponakan, anak pak RW walau usianya sama tetapi belum cukup memadai untuk dijadikan pembanding.

Diperlukan sampel yang jauh lebih banyak untuk menghasilkan standar yang dapat digunakan oleh masyarakat luas. Salah satu standar yang dipakai secara luas adalah kurva pertumbuhan alias growth chart.

Ada lebih dari satu versi growth chart, dan versi yang lebih disarankan untuk dipakai adalah versi WHO (terakhir versi 2006). Mengapa? Karena versi lain seperti keluaran Centers for Disease Control and Prevention (CDC, bagian dari Kementerian Kesehatan Amerika Serikat) yang dibuat tahun 2000 misalnya, didasarkan pada bayi ras kaukasian dan banyak di antaranya memakai susu formula.

Continue reading