Kontroversi Buku Aku Berani Tidur Sendiri

Pekan lalu beberapa grup whatsapp yang saya ikuti, khususnya yang beranggotakan para ibu, diramaikan dengan kabar adanya buku anak yang kontennya tidak pantas karena justru seperti mengajarkan anak untuk bermain-main dengan kelaminnya, atau masturbasi. Sekilas lihat, sampul buku tersebut familiar bagi saya, dan memang ternyata dari penerbit dan penulis yang tidak asing: Tiga Ananda (imprint penerbit Tiga Serangkai, Solo, yang dulunya kebih saya kenal sebagai penerbit buku pelajaran, apalagi saya memang lahir dan besar di kota dekat Solo sehingga banyak memakai buku terbitannya) dan mba Fita Chakra (nama aslinya adalah mba Fitria Chakrawati, tulisan saya dan mba Fita pernah dimuat dalam satu buku yang sama yaitu Long Distance Love).

Penerbit sebesar Tiga Ananda, penulis sekaliber mba Fita, mestinya sudah mempertimbangkan dengan matang sebelum memutuskan sebuah buku layak terbit. Memangnya sseperti apa sih, isinya? Jujur, saya juga punya buku Aku Berani Tidur Sendiri di rumah, tapi masih terbungkus rapi dan tersimpan di tumpukan buku yang harus saya saring dulu sebelum diberikan ke anak-anak. Dan karena keterbatasan waktu, saya belum sempat membukanya. Begitu membaca tulisan dalam foto yang viral beredar, saya mengerutkan dahi. Memang cenderung vulgar, ya. Tapi kalau sampai menduga-duga motif negatif mba Fita menulis ini, saya tak berani. Sedih saya membaca hujatan orang-orang di media sosial yang menghujat penerbit dan penulis yang dianggap sengaja agar anak meniru jalan cerita dalam buku, bahkan lebih jauh lagi punya misi menghancurkan generasi muda. Beberapa di antaranya dirangkum dalam berita BBC ini http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-39038005. Ada teman-teman penulis yang juga membuat postingan tanggapan dengan sudut pandang masing-masing.

Continue reading

Bobo Treasure Hunt, Seseruan Bareng Anak di Gramedia Matraman

Sebuah postingan di instagram Penerbit Kiddo menarik perhatian saya beberapa minggu yang lalu. Penerbit ini rupanya hendak menggelar lomba yang cukup unik dalam rangka peluncuran buku kumpulan cerpen dari majalah Bobo. Sebetulnya bentuk lombanya sendiri masih kurang jelas bagi saya ya, karena hanya disebutkan ‘berburu harta karun’ sebagaimana sudah tersirat dalam judul acara itu sendiri. Tapi karena sepertinya menarik, maka saya pun mencoba mendaftar. Apalagi lokasi acaranya cukup dekat dari rumah, yaitu Gramedia Matraman. Peserta lomba ini disyaratkan berpasangan antara ibu-anak, ayah-anak, atau bisa juga kakak beradik, dengan catatan usia anak 4-13 tahun. Untuk 30 pendaftar yang mengunggah (ke fb atau IG) foto kupon yang ada di majalah Bobo terbaru, dapat hadiah tambahan. Demi hadiah itu, saya pun beli Bobo lagi, majalah kesayangan saya di masa kecil itu :D.

Tibalah hari-H, 10 Desember 2016. Kami datang sedikit terlambat, dan beberapa peserta sudah terlihat sibuk di dekat pintu masuk lantai 1. Tapi ternyata masih diterima untuk ikutan, kok. Di tempat pendaftaran di ruang serbaguna di lantai 3, setelah membayar, peserta mendapatkan nomor urut, kartu penilaian, tas berisi kue-kue, pin, buku, dan spidol. Seperti yang dijanjikan, kami memperoleh bonus buku karena termasuk dalam 30 pendaftar pertama melalui media sosial.

serius menyusun puzzleSesuai petunjuk, kami langsung turun ke lantai 1. Tantangan pertama adalah menyusun puzzle dari gambar sampul buku-buku yang akan diluncurkan. Setelah puzzle tersusun rapi, peserta diberi kertas yang berisikan petunjuk untuk mencari bolpoin berlogo Gramedia. Di sinilah kami (dan beberapa peserta lain juga) agak kelamaan menghabiskan waktu, memutari area alat tulis sambil tanya-tanya. Para pramuniaga entah memang tidak tahu atau dilarang memberi petunjuk sehingga pencarian cukup rumit. Malah ada pramuniaga yang mengarahkan saya untuk bertanya ke customer service lantai berikutnya. Hampir kami mengikuti jejak pasangan lain yang kayaknya sudah memutuskan membeli bolpoin berlabel Gramedia yang dijual, ketika saya berpikir masak iya sih harus keluar uang (lagi, soalnya uang pendaftarannya juga sudah lumayan :D). Saya pun kembali untuk bertanya pada panitia, yang dijawab “Carinya di sini-sini aja, Bu.”, dan rupanya memang dekat dengan tempat tantangan puzzle tadilah saya melihat sekotak bolpoin yang ditempeli tanda “tidak dijual”. Lha…

Continue reading

Menikmati Diskon Big Bad Wolf Tanpa ke Sana

Poster Big Bad Wolf Book Sale Surabaya yang tersebar di media sosial sejak berminggu-minggu sebelum pelaksanaannya membuat saya teringat lagi akan gelaran sebelumnya yang diadakan di ICE BSD, Tangerang Selatan. Bazaar buku semacam ini sebetulnya menggiurkan sekali bagi saya yang suka belanja membaca buku. Apalagi melihat postingan mereka yang sudah pergi ke sana dan memamerkan buku-buku menarik nan murah yang ditawarkan, wah….

Namun, sekarang-sekarang ini rasanya kok sayang jauh-jauh ke suatu tempat (yang bukan urusan tugas kantor atau acara keluarga) padahal waktunya bisa digunakan untuk main dengan anak-anak yang sehari-hari sudah ditinggal kerja. Sedangkan bila anak-anak diajak juga belum tentu mereka nyaman/bisa menikmati.

Paling mentok sih kami sekeluarga pergi ke book fair di Senayan, misalnya Indonesia International Book Fair atau Islamic Book Fair. Itu juga tak begitu maksimal pilih-pilihnya. Kalaupun ke sana, biasanya ada talkshow atau program menarik yang diincar untuk diikuti, meskipun tak sepenuhnya bisa fokus juga (lagi-lagi mempertimbangkan kemampuan rentang perhatian anak-anak).

Walhasil saya lebih sering mantengin online shop. Tinggal klik-klik dan barang sampai ke rumah, bahkan banyak yang menawarkan gratis ongkos kirim. Saya sudah menyimak sih pengalaman dan tips dari beberapa teman yang ke BBW, misalnya yang dituangkan oleh Uni Dian di blognya ini http://www.dianonasis.com/2016/05/tips-ala-dian-onasis-saat-belanja-buku.html, tapi tetap rasa hati ini belum mantap.

Continue reading

[Ulasan] Belajar Percaya Diri dari Todi

Beberapa hari yang lalu facebook mengingatkan saya bahwa saya pernah ikutan lomba resensi yang diadakan oleh penulis buku ini, Mba Dhonna. Sekalian saya posting ulang di sini saja, nostalgia juga menengok kembali gaya menulis saya lima tahun yang lalu :).

Judul : Todi si Belalang Kerdil
Penulis : RF. Dhonna
Tebal : iv + 53 halaman
ISBN : 978-602-9079-45-6
Penerbit: Leutika
Tahun terbit: 2011
todi belalang 1
Buku untuk anak-anak konon memiliki pakemnya sendiri. Harus mudah dipahami, tetapi sekaligus tanpa mengabaikan kenyataan bahwa daya cerna anak-anak zaman sekarang kian canggih saja. Harus punya pesan moral, sebisa mungkin cukup tersirat tanpa harus menggurui. Dari segi penampilan, sebaiknya buku anak menggunakan huruf yang tidak terlalu rapat dan kecil, serta sebisa mungkin dilengkapi dengan ilustrasi yang semakin menarik minat baca.

Delapan cerita yang termuat dalam buku ini rata-rata tergolong sangat pendek jika dikonversikan ke halaman A4, sehingga bisa dikatakan cukup memadai untuk rentang perhatian anak khususnya usia awal SD (meskipun ternyata di sampul versi barunya tertulis untuk anak usia 9 s.d. 12 tahun). Ukurannya yang mungil dan tipis cocok untuk dibawa ke mana-mana, termasuk untuk dibaca atau dibacakan menjelang tidur. Ilustrasi yang ada pada setiap halaman masih mengacu pada cerita yang menjadi judul buku, sehingga semuanya sama dan tampil hitam-putih. Tema kisah para hewan alias fabel dan dunia khayal putri serta peri menjadi pilihan, dengan satu-dua kisah keseharian masa kini.

Pesan moral yang disampaikan dalam cerita-cerita yang ada cukup bervariasi, di antaranya mengenai makanan sehat, kejujuran, prioritas, kedisiplinan, pergaulan, kesabaran dan ketegaran, inisiatif, serta kerja keras. Benang merah yang paling menonjol di kebanyakan cerita adalah motivasi agar tetap percaya diri dalam berbagai kondisi. Beberapa hikmah cerita disampaikan dalam bentuk pertanyaan di akhir kisah, sehingga anak atau orang dewasa yang membacakan bisa berpikir sendiri atau berdiskusi mengenainya.

Cerita favorit saya adalah Senyum Terindah Molly, karena mengingatkan pada diri saya sendiri. Tidak enak memang disangka sombong karena tampak lebih suka menyendiri. Padahal aslinya hal tersebut disebabkan oleh kepribadian yang memang cenderung introvert (sedikit berbeda dengan Molly yang sempat minder akan keadaan fisiknya). Todi si Belalang Kerdil mengingatkan untuk tidak membalas keburukan orang-orang (atau dalam buku ini, hewan-hewan) lain dengan perbuatan jelek pula. Sedangkan Kisah Peri Warna menggelitik pemikiran saya, adakah cerita di situ dimaksudkan sebagai satir bagi kondisi masyarakat yang enggan mengubah sesuatu yang ‘sudah sejak dulu begitu’, alih-alih mencoba berinovasi demi masa depan yang lebih indah?

Masukan untuk penulis, ungkapan “Rasain!” yang muncul dalam cerita Banguuun, Nanda! tampaknya agak kurang pas karena rawan ditiru oleh anak-anak. Mungkin akan lebih baik jika diganti dengan kalimat lain yang meskipun intinya sama-sama girang karena rencana (yang sedikit ‘curang’ tapi maksudnya baik?) berhasil, tetapi tidak terlalu bernada keras atau puas di atas kesedihan orang lain (kendati tujuannya memang untuk memberi pelajaran).

Bekal Menjawab Pertanyaan Anak

Pertanyaan anak-anak seringkali mengejutkan kita, para orangtua. Tak jarang ada pertanyaan yang membuat kita salah tingkah, atau kaget. Bukan hanya bingung karena tidak tahu jawabannya, tetapi juga jadi pusing bagaimana menyampaikan jawaban dengan tepat. Takutnya anak salah paham, justru penasaran, kemudian tidak puas dan terus bertanya, atau jangan-jangan malah mencari tahu dari sumber lain.
Ini beberapa buku yang jadi bekal saya buat menjawab pertanyaan Fathia, sebagian besar bisa dibaca bareng-bareng karena banyak gambar yang memudahkan penjelasan.
buku pertanyaan

1. Seri Widya Wiyata Pertama Anak-anak (Tiga Raksa)

Ini bukunya gede, hardcover, berat juga, isinya cukup komplet (ada tema Roda dan Sayap, Ulah Binatang, Kehidupan di Bawah Air, Bumi dan Angkasa dst). dengan gambar dan foto yang besar-besar juga. Baru punya beberapa, beli ketengan kalau lagi ada yang jual 2nd (versi lama) hehehe.

2. Seri Aku Ingin Tahu Mengapa (Grolier)

Ini cuma punya satu sih, kado. Hard cover tapi tipis, bertema (yang dipunya ini soal padang pasir), banyak gambar kecil-kecil, lumayan lah untuk menerangkan.

3. Ensiklopedia Pertanyaan Besar Mengapa (BIP)

Buku tunggal, yang dibahas pertanyaan yang cenderung serius seperti apa HAM itu, kenapa nggak boleh terlalu banyak nonton, apa itu rasisme, mengapa kita suka lelucon, dst, jawabannya juga panjang-panjang sih, dan terjemahannya agak kaku. Tapi tetap nggak terlalu berat buat disimak, bergambar juga.

4. Emotional Intelligence Series #1: Apa Kamu Punya Rahasia? (BIP)

Berisi cergam, di bagian akhir tiap cerita ada penjelasan untuk membantu orangtua menerangkan kondisi tertentu seperti ibu bekerja, rasa malu, dan menyambut adik baru.

5. Seri Ensiklopedia Junior: Tubuh Manusia (Émilie Beaumont, BIP)

Ada judul-judul lain dalam seri EJ, tertarik sama judul yang ini karena direkomendasikan mba Fatimah Berliana Monika Purba (konselor laktasi Leader la Leche League) untuk pendidikan seks bagi anak. Nah pas beli minggu lalu dan buka-buka, ngng…kayaknya perlu dibahas berdua sama ayahnya dulu deh ini sebelum dibacain ke kakak, hahaha. Soalnya gambarnya (kartun) lumayan jelas soal anatomi tubuh dan proses kehamilan.

6. Balita Bertanya, Anda Menjawab (Pritha Khalida & Saniawati, PandaMedia)

Ini buku panduan untuk orangtua (minim ilustrasi), ada bab tubuh kita, peraturan, alam sekitar, agama/ketuhanan. Asli Indonesia, jadi bahasanya juga lebih mengalir dan enak dibaca.

Yang bukunya nyelip waktu mau difoto:

7. Anak Bertanya, Anda Menjawab (Adil Fahmi, Maghfirah Pustaka)

Ini lebih sebagai panduan bagi orangtua (minim ilustrasi) untuk membahas pertanyaan-pertanyaan yang terkait agama khususnya Islam ya, termasuk Allah ada di mana, kematian dst.

8. Seri Mengapa Bagaimana (BIP)
Baru punya yang Dinosaurus sama Ekologi, nggak setebal dan sebesar WWP jadi praktis dibawa-bawa. Suka diselipi ilustrasi konyol dalam pembahasannya.

9. How to Make a Baby, Mommy? (Dian Mardi & Gita Lovusa, Mizan)

(bersambung, ada beberapa buku lain yang mau dimasukkan)

[Arsip Lomba] Serunya Dunia Anak Usia Dini

(Januari 2016, grup facebook Preschool Online)PhotoGrid_1453605502742

Ini kedua putri kami, Fathia (4 tahun 4 bulan) dan Fahira (13 bulan). Keduanya punya karakter yang berbeda, hingga ada saja hal yang menjadi kejutan baru bagi saya dan suami. Adik lebih ekspresif sejak awal kelahirannya, tangisan dan celotehannya bahkan mengundang komentar tetangga, “Beda banget sama kakaknya, ya…”. Memang jika dibandingkan, kakak dulu jadi terlihat lebih kalem. Namun, di umurnya sekarang, tentu kakak sudah lebih ceriwis dan aktif, sehingga tak jarang ada benturan yang membuat salah satu dari mereka menangis (tapi ya lalu rukun lagi dalam waktu amat singkat).

Punya dua balita di rumah semakin membuat saya haus akan ilmu, khususnya terkait kesehatan dan pendidikan anak. Selain menyimak sharing di grup-grup dunia maya yang membantu memperluas cakrawala wawasan, membaca buku merupakan cara saya untuk memuaskan dahaga, yang tentunya kemudian menjadi referensi untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari dengan penyesuaian di sana-sini.

Pertanyaan di kepala saya terwakili oleh kalimat pada kata pengantar buku Serunya Dunia Anak Usia Dini (SDAUD): Apa istimewanya buku ini? Ya, buku-buku bertemakan parenting memang banyak tersedia, dengan gaya dan prinsip masing-masing. Buku SDAUD yang disusun oleh tim admin grup Preschool Online ini menurut saya menjadi semacam panduan dasar yang bersahabat dan cukup lengkap karena tidak secara langsung memperkenalkan gaya parenting tertentu, melainkan menyajikan dasar-dasar mengenai apa saja aspek yang perlu menjadi perhatian orangtua. Tak ketinggalan disertai pula dengan testimoni yang menunjukkan bagaimana kiat-kiat yang tertulis dalam buku tersebut diterapkan. Inilah yang saya maksud dengan ‘bersahabat’, karena pemaparan penjelasan ‘saja’ bagi sebagian orang bisa dianggap sebagai ‘teori’ (ah, jadi ingat pengin nulis seputar teori vs hasil riset vs pengalaman) yang kurang membumi. Penyampaiannya juga lumayan ringan, padat berisi sehingga tidak terlalu tebal, praktis dibawa-bawa. Hanya saja, kalau boleh memberi masukan, mungkin perlu sedikit perbaikan editing jika nanti (moga-moga) buku ini dicetak ulang.

Bagian favorit saya dalam buku SDAUD adalah bagaimana orangtua perlu mempersiapkan keterampilan hidup alias life skills anak. Di situ disebutkan beberapa kemampuan yang hendaknya dimiliki anak sesuai usia, yang sepertinya tidak langsung berkaitan dengan kemampuan akademik, tetapi akan bermanfaat sebagai landasan ketangguhan dan kelincahannya berperilaku serta menyelesaikan persoalan. Poin demi poinnya terkesan remeh, tetapi penting. Penguasaan akan keterampilan hidup ini juga akan mewarnai karakter anak, bahkan bisa berpengaruh ke kehidupannya sebagai orang dewasa kelak.

Oh ya, sampul buku SDAUD dengan warna ngejreng (saya ikut memilih cover versi yang ini saat dilakukan pemungutan suara) juga menjadi keunggulan tersendiri karena menarik perhatian. Pernah suatu pagi Fahira terbangun lebih dulu daripada saya, dan ketika membuka mata saya dapati ia sedang membolak-balik buku ini :).

Akhirnya ke Perpusnas

Sudah lama saya ingin berkunjung ke Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas). Begitu pindah ke Jakarta lagi, perpustakaan yang terletak di Jl. Salemba Raya No. 28A Jakarta Pusat ini selalu kami lewati setiap kali berangkat kerja. Ternyata tetap saja perlu waktu agak lama sampai saya benar-benar dapat menginjakkan kaki di sana. Kami pergi ke Perpusnas pada hari Sabtu tanggal 14 September 2013, hari yang belakangan baru saya sadari sebagai Hari Kunjung Perpustakaan. Hari itu, Perpusnas juga sepertinya tidak mengadakan acara atau program khusus. Pameran Perpustakaan di Perpustakaan Nasional untuk memperingati Hari Kunjung Perpustakaan baru digelar mulai hari Senin (16/09).

Tujuan utama saya datang ke Perpusnas adalah untuk mencari seri buku Kamus Indonesia: The Beauty of Asia yang saya ikut terlibat dalam penulisannya. Mungkin karena kontributornya sangat banyak sementara bukunya dicetak cukup luks, jadi para kontributor tidak mendapatkan jatah buku sebagai bukti terbit. Mau beli sendiri juga lumayan berat, soalnya harga tiap buku mencapai Rp250.000,00, dan harus beli satu seri sebanyak minimal 10 buku :D. Keseluruhannya ada 2 seri, dan tidak di semua buku saya ikut menulis ataupun menyumbang foto.

Tujuan lainnya jelas, pengin ngajak Fathia jalan-jalan, mumpung hari libur. Tentu saja saya sempat ragu, mengingat perpustakaan kan identik dengan suasana hening, tenang, sepi…. Apa jadinya kalau seorang anak berusia menjelang dua tahun ‘dilepas’ di sana? Saya sih berharap ada semacam pojok bacaan anak di sana, tapi sepertinya harapan itu belum terpenuhi :).

20130914_111959

20130914_111627

Kami sampai di Perpusnas sekitar pukul sembilan pagi. Sebelumnya saya sempat googling dulu mengenai jam operasional pada hari Sabtu, dan ternyata tutupnya juga tidak terlalu siang kok. Berbeda ya dengan Perpustakaan Daerah Pangkalpinang, yang terakhir kali saya ke sana (2010 atau 2011 ya) akhirnya menutup layanan hari Sabtu karena katanya sepi peminat. Padahal kalau buka di hari Sabtu kan kami-kami yang bekerja ini juga bisa jadi lebih leluasa berkunjung, ya. ‘Untungnya’ saat layanan Sabtu ditiadakan itu saya dan suami sudah cukup ‘khatam’ membaca buku-buku yang kayaknya menarik di sana 😀 *yang menarik bagi kami lho ya*. Moga-moga saja sekarang sudah dibuka lagi. Ya, berhubung saya ‘susah hidup tanpa buku’, jadinya perpustakaan jadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi ketika berkunjung atau pindah ke suatu kota. Tapi karena keterbatasan waktu, informasi, dan sarana, memang tidak semua berhasil didatangi.

Untuk Perpusnas, jadwal lebih lengkapnya sbb (kopas dari web Perpusnas):

Jasa Layanan yang dibuka hingga pukul 18.00 WIB adalah:
a. Koleksi berkala mutakhir (lantai I B)
b. Layanan Informasi (lt. 1C)
c. Loby Penitipan Tas (Lt. 1C)
d. Layanan Katalog (Lt. 2C)
e. Layanan Bahan Pustaka Baru (Lt.3B)

Layanan Katalog ditutup pada pukul 17.00 WIB, Layanan Pengambilan Bahan Pustaka ditutup pada pukul 17.30 WIB dan ruang baca ditutup pada pukul 18.00 WIB

Oya, informasi lain yang saya dapatkan dari membuka-buka web https://pusjasa.perpusnas.go.id/faq/ adalah bahwa di Perpusnas kita tidak bisa membawa pulang buku yang dipinjam. Agak mengecewakan ya, hehehe, tapi tujuannya kan mungkin untuk menjaga koleksi Perpusnas. Eh, tapi kalau mau fotokopi di tempat boleh kok. Dan, ada juga lho Perpusnas di Jl. Merdeka Selatan No. 11 yang memperbolehkan buku pinjaman dibawa pulang. Kapan-kapan ke sana, aaah. Oya, Perpusnas juga melayani fotokopi koleksi mereka maupun pembuatan kliping artikel lho, termasuk melalui e-mail/telepon/fax/pos, tentunya dengan biaya.

Memasuki gedung perpustakaan, kesan pertama saya adalah, “Waaah, luas, ya…”. Ya iyalah, hehehe, dan itu baru lantai satu. Kami diarahkan untuk mendaftar menjadi anggota baru terlebih dahulu. Peminat tinggal mengisi sendiri form di komputer-komputer yang sudah disediakan. Setelah mendapatkan nomor anggota secara otomatis, tinggal menuju ruang di sebelahnya untuk difoto dan dibuatkan kartu anggota. Tapi karena katanya sedang tidak memungkinkan untuk mencetak kartu, kami diberi tahu bahwa berbekal nomor anggota saja bisa kok meminjam buku. Ternyata pendaftaran keanggotaan bisa secara online juga lho, klik saja di http://keanggotaan.pnri.go.id/.

20130914_111633

Oke, sekarang waktunya menjelajah. Pertama-tama, kami menuju tempat penitipan tas. Di sana kami menyerahkan kartu identitas untuk ditukar dengan kunci loker. Loker inilah yang digunakan untuk menyimpan barang bawaan. Di dekatnya terdapat meja-meja komputer dengan wi-fi gratis. Setelah itu kami melihat-lihat display buku baru dan ruangan yang khusus berisi terbitan berkala terbaru baik dalam maupun luar negeri. Seperti sudah diduga, suasananya heniiing, semua orang kelihatannya konsentrasi membaca, sementara Fathia antusias melihat banyaknya bangku lalu tertarik memanjat :D.  Jadi kami buru-buru keluar dan naik lift menuju lantai II.

20130914_11170820130914_111329

Di lantai II inilah terdapat komputer dengan layanan OPAC alias Online Public Acces Cataloguing. Versi onlinenya ada di https://opac.perpusnas.go.id/. Di sini kita bisa mencari buku yang diinginkan, lalu menuliskan keterangan buku di kertas formulir yang sudah disediakan. Formulir ini nanti dibawa ke lantai di mana buku tersebut berada (ada keterangannya di katalog), lalu diserahkan ke petugas untuk diambilkan. Nah, saya belum sampai ke tahap ini, nih. Hasil baca-baca sih nanti kita menaruh formulir itu di sebuah kotak, lalu menunggu dipanggil oleh petugas yang sudah mengambilkan buku.

Kenapa saya tak sampai di tahap ‘memanggil buku’? Soalnya ayah Fathia keburu mau lembur di kantor, cuaca juga mendung. Lagipula, buku yang saya cari tidak ada :(. Padahal di Perpustakaan Nasional Australia (lagi-lagi thanks to mbah Google) ada lho… apa perlu ke sana ya :D. Eh, tapi di katalog ada juga kolom isian untuk meminta/mengusulkan buku yang belum ada di koleksi mereka, lho. Moga-moga ada tindak lanjutnya ya :).

20130914_111450

Sebelum pulang, Fathia sempat bergaya dulu :D. Yang jelas keinginan bikin Fathia senang tercapai, puas banget deh turun tangga dari lantai dua (ceritanya iseng aja coba jalur lain), malah maunya nambah lagi. Oya, ketika googling saya sempat menemukan ada keluhan mengenai petugas perpustakaan yang jutek… well, alhamdulillah, hari itu para petugas yang melayani kami sangat ramah, kok :).

Dibuat untuk mengikuti Library Giveaway

Alif dan Raisa

Beberapa waktu yang lalu ketika akan membeli map di Gramedia Pasar Baru mata saya tertumbuk pada setumpuk buku di meja pajang Buku Baru. Judul-judulnya familiar, tetapi penampilannya sama sekali berbeda. Wah, ternyata tetralogi fashion Syahmedi Dean dikemas ulang dengan sampul baru!

Judulnya yang semula panjang-panjang (walaupun tertulis juga singkatannya) juga mendapatkan subjudul baru, atau justru judul lama itu yang dijadikan subjudul ya? Lontong Sayur dalam Lembaran Fashion (L.S.D.L.F.) menjadi Ednastoria, Jakarta Paris via French Kiss (J.P.V.F.K) jadi J’Adore, Pengantin Gypsy dan Penipu Cinta (P.G.D.P.C.) dilabeli Bohemia, dan Apa Maksud Setuang Air Teh (A.M.S.A.T.) punya judul lain Monsoon. Ada pula paketan box set-nya, yang terkesan lebih lux untuk dikoleksi.

Saya pertama kali berkenalan dengan seri novel ini ketika sedang bertugas di Tanjung Pandan, Pulau Belitung, tahun 2007. Saat itu saya menjadi pelanggan tetap persewaan buku di samping kantor. Setidaknya sepekan dua kali saya mampir untuk mengembalikan dan meminjam buku. Kalau tidak salah ingat sih, saya bacanya tidak berurutan dari buku pertama.

Gaya penulisan novel-novel ini yang dinamis (deskriptif, tapi tidak membosankan), juga penggambaran glamornya dunia fashion (tanpa terlihat maksa maupun sok) tetapi dengan tokoh utama yang tetap memegang nilai-nilai agama (setidaknya berusaha, dan tidak memandang sebelah mata aturan agama yang mengikat) adalah nilai plus buku ini yang memikat hati saya.

Maka tak puas hanya menyewa, ketika salah satu toko buku online langganan saya menawarkan ketiga bukunya (waktu itu seri keempat belum keluar) dengan harga miring, saya pun segera memesan. Saya pun tak sabar menunggu terbitnya A.M.S.A.T. yang baru terbit beberapa tahun setelah saya pindah dari Tanjung Pandan.

boxset Syahmedi Dean100_3732

Mengingat tetralogi ini artinya juga mengingat pemikiran yang sempat terlintas di benak saya pada suatu waktu. Dua di antara tokoh sentral dalam tetralogi fashion bernama Alif dan Raisa. Sama, ya, dengan trilogi Man Jadda Wajada karya Ahmad Fuadi? Kebetulan saya juga baru menuntaskan Rantau 1 Muara bulan Syawal kemarin, ngebut baca dalam semalam demi bisa ditinggal di kampung halaman karena Mama saya belum membacanya.

—-spoiler alert—

Dalam kedua seri buku ini, tokoh Alif dan Raisa sama-sama diceritakan (sempat) dekat. Di tetralogi Syahmedi Dean, Raisa dikisahkan memendam sayang ke Alif, rekan kerjanya di majalah yang kemudian menjadi teman se-geng. Sementara hati Alif sudah dipenuhi oleh Saidah. Alif menerima perhatian dari Raisa, tapi menganggapnya tak lebih dari sahabat atau lebih tepatnya adik yang harus dijaga.

Sedangkan di trilogi Ahmad Fuadi, Alif-lah yang sempat punya asa bersanding dengan Raisa, si gadis cerdas dan dinamis yang dikenalnya di kampus. Sayangnya Raisa ternyata lebih memilih sahabat lama Alif, Randai. Jadilah kedua Alif-Raisa ini sama-sama tak berjodoh di akhir cerita, tapi hubungan baik antara mereka dikisahkan tetap terjaga.

Sepertinya sih hanya kebetulan, ya. Namun, menarik juga.

[Ulasan Buku] Berdamai dengan Ketidaksempurnaan

I'm (Not) Perfect

I’m (Not) Perfect

Judul buku ini langsung menarik perhatian saya. I’m (Not) Perfect: Walaupun Tidak Sempurna, Perempuan Tetap Bisa Bahagia. Mengingat gaya tulisan Cici Dian Kristiani di Buying Office Girl, kemungkinan buku ini juga ditulis dengan lincah dan kocak, seperti dituliskan di sampul depannya, 1001 curhat seru nan kocak tentang mengapa perempuan harus lebih mencintai diri sendiri dan menghargai orang lain. Kenapa saya bilang menarik? Karena belakangan saya memang sedang memikirkan banyaknya tuntutan bagi perempuan, khususnya yang sudah menjadi ibu, untuk (terlihat) sempurna. Peer pressure-nya menurut saya lebih tinggi karena tolok ukur ‘kesuksesan’ bertambah banyak, dari kurus gemuknya anak sampai SPP sekolah anak.

Membaca lembar demi lembar buku setebal 153+xi halaman ini rasanya sungguh gado-gado. Ada kalanya saya manggut-manggut, tetapi ada pula bagian yang membuat saya mengerutkan kening. Dalam buku yang terdiri atas 28 tulisan pendek ini, Cici Dian berbagi mengenai hal-hal yang memicu munculnya bisik-bisik sinis atau pandangan sebelah mata. Ada yang merupakan pengalaman pribadinya, ada juga yang bersumber dari curhatan teman. Sebut saja melahirkan dengan operasi sectio caesarean, penggunaan susu formula, pemberian jajanan ‘sembarangan’ untuk anak, status sebagai single parent, pengenaan hukuman fisik pada anak, ketergantungan terhadap pengasuh anak, konsumsi rokok, status keperawanan (lebih tepatnya ketidakperawanan), pilihan untuk bekerja di luar rumah, ukuran tubuh, belum hadirnya buah hati, keterampilan memasak, hingga obsesi terkait kecerdasan anak.

Nah, begitu banyaknya segi kehidupan seorang manusia, lebih khususnya lagi seorang perempuan, sungguh mustahil bisa sempurna di semua bidang, kan? Dan ketika kita punya sisi-sisi kurang baik, apa yang harus kita lakukan?

“Berterus terang sajalah. Tak usah pedulikan apa kata orang tentang diri kita. Meladeni tanggapan orang lain tak akan ada habisnya,” demikian kata cici Dian di pengantar buku. Di sisi lain, meskipun konteksnya sedikit berbeda, “Memiliki hidup lebih baik itu mutlak, berusaha itu  penting.” (halaman 3). Kesimpulan saya, sih, kita tidak perlu memasukkan semua omongan orang ke dalam hati apalagi menjadikannya sebagai beban, kendati yang namanya introspeksi untuk perbaikan diri itu juga perlu.

Be yourself... Itu bukan berarti aku tak mau mengubah sikapku menjadi lebih baik,” tegas cici Dian di halaman 103. Nah, terus terang di bagian ini saya agak bingung. Sebatas apakah kita harus menutupi kekurangan atau malah membuka terang-terangan (kadang dengan rasa bangga karena telah berani ‘beda’)?

Continue reading

Tontonan di Bulan Desember

Dulu ketika kami masih bertugas di Pangkalpinang, kami jelas tidak bisa nonton film di bioskop karena bioskopnya memang tidak ada. Paling-paling kami nonton kalau kebetulan sedang mudik ke Solo dan ada film menarik. Pada dasarnya kami memang tidak terlalu ‘gila’ film, ada yang bagus dan sempat ya ditonton, kalau nggak ya nggak ngoyo juga (beda, ya, sama zaman masih gadis dulu :D) . Malah karena selera yang agak berbeda, kadang-kadang saya ‘menyeret’ adik untuk menemani nonton di kampung halaman.

Setelah pindah ke Jakarta, di mana bioskop bertebaran, ternyata kami tetap saja sulit meluangkan waktu ke bioskop. Pekerjaan dan terutama berharganya waktu bersama putri kami (karena kami pindah hampir bersamaan dengan perubahan status menjadi orangtua) menjadi alasan. Boro-boro nonton, mengikuti perkembangan film terbaru seperti dulu saja rasanya saya sudah tidak sanggup. Tercatat baru dua kali kami nonton berdua sejak punya anak. Film yang kami tonton adalah Hafalan Sholat Delisa (2011) dan Habibie & Ainun (2012).

Uniknya, justru di bulan Desember di mana pekerjaan kantor lagi sibuk-sibuknya (terutama kantor saya, yang di hari libur pun jadi sering masuk) itulah kami bisa nonton. Entah karena perasaan kepengin jeda sejenak dari rutinitas, atau kebetulan saja ada film yang bikin penasaran. Hal lain yang baru saya sadari belakangan, kedua film tersebut sama-sama dibintangi oleh Reza Rahadian. Bukan, saya bukan fans Reza walau kagum juga akan aktingnya. Murni film atau cerita di balik filmnyalah yang bikin saya mengajak suami nonton. Begitu saya ‘ngeh’ akan persamaan ini, saya langsung mencari tahu Reza Rahadian main film apa akhir tahun 2013. Nah, mungkinkah kami akan nonton Tenggelamnya Kapal van der Wijck Desember nanti? Sepertinya saya harus buru-buru menuntaskan baca bukunya dulu. Payah, ya, saya mengaku pecinta buku tapi belum pernah baca karya Buya HAMKA yang satu ini.

Tenggelamnya3