Tantangan Level 5 (Menstimulasi Anak Suka Membaca) Hari 1

Tantangan Kelas Bunda Sayang IIP Level 5 ini terus terang saya suka banget, tapi di sisi lain jadi ujian juga…. Saya suka membaca buku dan membacakan ke anak-anak, anak-anak alhamdulillah juga sudah terlihat tumbuh kesukaannya pada buku, tapi sanggupkah kami konsisten? Apalagi di bulan Ramadhan, pulang kantor biasanya nyambung berbuka, sholat Maghrib, tak lama kemudian sholat Isya dan tarawih. Belum lagi target harian Ramadhan. Kapan waktunya baca bareng anak-anak? Tapi alhamdulillah, lumayan tertolong karena suami sedang libur kuliah cukup lama, jadi seperti petang ini misalnya, saya dapat laporan dari Fathia kalau tadi sudah baca buku ini dan itu bersama ayah.

Hari ini mulai laporan yang kemarin dulu aja ya… Mohon maklumi Pohon Literasi yang masih seadanya, hehehe.

 

Continue reading

Materi #5 Kuliah Bunda Sayang IIP: Menstimulasi Anak Suka Membaca

Institut Ibu Profesional, Kelas Bunda Sayang, Materi #5

MENSTIMULASI ANAK SUKA MEMBACA

๐Ÿ”ธ๐Ÿ”น๐Ÿ”ธ๐Ÿ”น๐Ÿ”ธ๐Ÿ”น๐Ÿ”ธ๐Ÿ”น

Mari kita mulai dengan bermain peran terlebih dahulu. Bayangkan kita adalah seorang dewasa dengan bahasa yang kita gunakan sehari-hari adalah bahasa Indonesia, belum pernah mengetahui bahasa Mandarin, kemudian tiba-tiba kita diberi koran berbahasa Mandarin dengan tulisan Mandarin semua. Apa yang terbayang di benak kita semua?
Pusing? Tidak tahu maksudnya? Lalu kita hanya melihat-lihat gambarnya saja?

Hal tersebut akan sama dengan anak-anak yang belum dibiasakan mendengarkan berbagai dialog bahasa ibunya, belum belajar berbicara bahasa ibunya dengan baik, tiba-tiba dihadapkan dengan berbagai cara belajar membaca bahasa ibunya tersebut yang berisi dengan deretan-deretan huruf yang masih asing di benak anak, diminta untuk mengulang-ulangnya terus menerus dengan harapan anak bisa cepat membaca.

๐Ÿ’ KETERAMPILAN BERBAHASA
Sebelum lebih jauh membahas tentang teknik menstimulasi anak membaca kita perlu memahami terlebih dahulu tahapan-tahapan yang perlu dilalui anak-anak dalam meningkatkan keterampilan berbahasanya.

IMG-20170607-WA0048

๐Ÿ’ Tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Keterampilan Mendengarkan (listening skills)
b. Keterampilan Berbicara (speaking skills)
c. Keterampilan Membaca (reading skills)
d. Keterampilan Menulis (writing skills).

Keempat tahapan tersebut di atas harus dilalui terlebih dahulu secara matang oleh anak. Sehingga anak yang BISA MENDENGARKAN (Menyimak) komunikasi orang dewasa di sekitarnya dengan baik, pasti BISA BERBICARA dengan baik, selama organ pendengaran dan organ pengecapnya berfungsi dengan baik.

Mendengarkan dan berbicara adalah tahap yang sering dilewatkan orangtua dalam menstimulasi anak-anaknya agar suka membaca. Sehingga hal ini mengakibatkan anak yang BISA MEMBACA, belum tentu terampil mendengarkan dan berbicara dengan baik dalam kehidupan sehari-harinya. Padahal dua hal keterampilan di atas sangatlah penting.

Banyak orang dewasa yang menggegas anaknya untuk bisa cepat-cepat membaca, padahal anak yang BISA BERBICARA dengan baik, pasti akan BISA MEMBACA dengan baik, tetapi banyak yang mengesampingkan 2 tahap sebelumnya.

Pertanyaan selanjutnya, mengapa banyak anak bisa membaca tetapi sangat sedikit yang menghasilkan karya dalam bentuk tulisan, bahkan di antara kita orang dewasa pun sangat susah menuangkan gagasan-gagasan kita, apa yang kita baca, kita pelajari dalam bentuk tulisan?

Padahal kalau melihat tahapan di atas anak yang BISA MEMBACA dengan baik pasti akan BISA MENULIS dengan baik.

Mengapa? Karena selama ini anak-anak kita hanya distimulus untuk BISA membaca tidak SUKA MEMBACA. Sehingga banyak di antara kitaย  BISA MENULIS huruf (melek huruf) tetapi tidak bisa menghasilkan karya dalam bentuk tulisan (MENULIS KARYA).

Terbuktiย  berdasarkan survei UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia baru 0,001 persen. Artinya dalam seribu masayarakat hanya ada satu masyarakat yang memiliki minat baca. Berdasarkan studi “Most Literate Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.

Continue reading

Lagi, Menyimak Bahasan Fitrah Anak Bersama Ustadz Harry

Sabtu lalu, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional), Institut Ibu Profesional Jakarta menyelenggarakan Kopdar Akbar sekaligus Wisuda Kelas Matrikulasi IIP Batch #3. Tahun lalu saya tidak kesampaian ikut wisuda ‘angkatan’ saya yaitu batch #2, alhamdulillah masih bisa ikutan yang sekarang.

Kopdar IIP bukan kopdar biasa pastinya. Kopdar ini sekaligus dijadikan sarana untuk menambah ilmu. Kali ini yang diundang untuk berbagi adalah Ustadz Harry Santosa, founder HEbAT (Home Education based on Akhlak and Talent) Community dan penulis buku Fitrah Based Education. Tema materi dari Ustadz Harry adalah Mendidik Fitrah Iman Anak Usia Pra-Aqil Baligh. Berikut catatan saya dari materi yang beliau sampaikan, sebetulnya secara garis besar sama sih dengan workshop atau seminar Fitrah Based Education yang pernah saya ikuti, tapi belum sempat diposting di blog ini.


Jika kita amati akhir-akhir ini, tantangan zaman semakin banyak. IIP menurut Ustadz Harry menjadi embun penyejuk dengan kekuatan ibu-ibu yang bersama bergandengan tangan untuk siap menjadi arsitek peradaban. Salah satu tantangannya adalah mudahnya orang sekarang ikut arus. Anak yang dididik dengan baik sekarang, ke depannya belum tentu terjaga fitrah belajarnya dengan baik. Padahal semua anak terlahir dengan fitrah belajar, semuanya pasti suka belajar.

Lihat saja bayi yang pantang menyerah belajar berjalan meskipun berkali-kali jatuh. Namun, mengapa lama-lama belajar menjadi hal yang membosankan, tidak menyenangkan, bahkan yang ditunggu adalah tibanya saat pulang dari tempat belajar atau liburan. Pada dasarnya semua orang suka belajar, kalau terlihat tidak suka belajar bisa jadi objek belajarnya yang tidak relevan atau gaya belajarnya belum cocok.

Kita mendidik anak dalam rangka mengantar anak menuju tugasnya sebagai khalifah, menumbuhkan fitrahnya agar menjadi peran-peran peradaban terbaiknya.ย Allah sudah berikan misi pada tiap makhluk-Nya, misalnya dinosaurus diwafatkan karena tidak kompatibel lagi dengan manusia. Allah juga ciptakan life system untuk men-support.

Masa dewasa dalam Islam dimulai pada usia 15 tahun, umumnya anak sudah aqil baligh di umur itu, jadi tidak ada istilah remaja, setelah fase anak ya fase dewasa. Di usia itu seharusnya sudah bisa mandiri, kalaupun masih dibiayai orangtua maka jatuhnya jadi sedekah.

Sekarang, banyak orang yang masih bingung bakatnya apa bahkan pada usia 25 tahun, akibat sebelumnya terlalu tergantung pada orang tua, karena selama hidupnya hanya jadi robot pembelajar. Bahkan lulusan universitas terbaik pun belum tentu memperbaiki peradaban. Otak cerdas, tetapi gersang jiwanya, tidak menjadi human being. Skripsi bisa jadi merupakan karya pertama dan satu-satunya seumur hidup. Coba kita lihat pendidikan anak usia dini sekarang yang seharusnya mendidik anak sesuai fitrah usianya, tetapi justru didesain menjadi sekolah persiapan untuk memasuki SD.

Usia 15 tahun juga menjadi batas awal untuk memasukkan anak boarding school jika diperlukan. Di bawah 15 tahun sebaiknya anak belum dikirim ke sekolah berasrama atau pesantren, karena fitrah seksualitasnya belum matang.

Untuk fitrah seksualitas ini urutannya adalah sbb: 0-2 tahun dekat ke ibu dalam masa pemberian ASI (sebaiknya diberikan secara langsung dan tidak disambi kegiatan lain, bahkan termasuk ikut kelas online :D); 2-6 tahun dekat ayah dan ibunya; 7-10 tahun dekatkan dengan orangtua yang sejenis agar paham potensi keayahan/kebundaannya, berikan contoh bagaimana misalnya bunda jago masak dan menjahit, ayah ikut rapat-rapat dan kegiatan kemasyarakatan; 11-15 tahun kedekatan ke ayah dan bunda ‘disilang’, jadi anak perempuan didekatkan dengan ayah dan anak laki-laki didekatkan dengan bunda agar memahami karakter dari kaca mata jenis kelamin yang berbeda.

Continue reading

Memahami Gaya Belajar Anak

Materi #4 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional
MEMAHAMI GAYA BELAJAR ANAK, MENDAMPINGI DENGAN BENAR

Dulu kita adalah anak/murid yang selalu menerima apa saja yang diberikan orangtua/guru kita, apabila ada hal-hal yang belum kita pahami kita lebih cenderung diam, tidak berani untuk menanyakan kembali. Karena paradigma yang muncul saat itu, ketika banyak bertanya dianggap bodoh atau mengganggu proses pembelajaran.

Itu baru tingkat pemahaman, guru/orangtua kita sangat sedikit yang mau memahami bagaimana cara kita bisa belajar dengan baik, yang ada kita harus menerima gaya orangtua/guru kita mengajar. Sehingga ย anak yang gaya belajarnya tidak sesuai dengan gaya mengajar guru/orangtuanya, akan masuk kategori โ€œsiswa dengan tingkat pemahaman rendahโ€ dan kadang mendapat label โ€œbodohโ€.

Zaman berubah, dan terus akan berubah. Sudah saatnya kita harus mengubah paradigma baru di dunia pendidikan.
Dari sisi orangtua/pendidik:
Apabila anak tidak bisa belajar dengan cara/gaya kita mengajar, maka kita harus belajar mengajar dengan cara mereka BISA belajar.

Dari sisi anak/siswa:
Setiap anak/siswa PASTI BISA belajar dengan baik, setiap anak akan belajar dengan CARA yang BERBEDA.

Sudah saatnya kita belajar memahami gaya belajar anak-anak (Learning Styles) dan memahami gaya mengajar kita sebagai pendidik (Teaching Styles) karena kedua hal tersebut di atas akan berpengaruh pada gaya bekerja kita dan anak-anak (Working Styles).
Karena kalau tidak, kita dan anak-anak akan masuk kategori masyarakat buta huruf abad 20, yang didefinisikan Alvin Toffler sbb: Mereka yang dikategorikan buta huruf di abad 20 bukanlah individu yang tidak bisa membaca dan menulis, melainkan orang yang tidak mampu belajar, tidak mau belajar dan tidak kembali belajar* (catatan Leila: kalimat aslinya adalah “The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn“, menurut saya terjemahan di materi ini agak tidak pas, sudah ditanyakan ke fasilitator dan katanya akan dibicarakan di tim tetapi belum ada lanjutan lagi).

Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang gaya belajar ada baiknya kita memahami terlebih dahulu untuk apa anak-anak ini harus belajar.

Ada 4 hal penting yang menjadi tujuan anak-anak belajar yaitu:
a. Meningkatkan Rasa Ingin Tahu anak (Intellectual Curiosity)
b. Meningkatkan Daya Kreasi dan Imajinasinya (Creative Imagination)
c. Mengasah seni / cara anak agar selalu bergairah untuk menemukan sesuatu (Art of Discovery and Invention)
d. Meningkatkan akhlak mulia anak-anak (Noble Attitude).

Fokuslah kepada 4 hal tersebut selama mendampingi anak-anak belajar. Buatlah pengamatan secara periodik, apakah rasa ingin tahunya naik bersama kita/selama di sekolah? Apakah kreasi dan imajinasinya berkembang dengan bagus selama bersama kita /selama di sekolah? Apakah anak-anak suka menemukan hal baru, dan keluar Aha! Moment (teriakan โ€œAha! Aku tahu sekarangโ€ atau ekspresi lain yang menunjukkan kebinaran matanya) selama belajar?
Apakah dengan semakin banyaknya ilmu yang anak-anak dapatkan di rumah/di sekolah semakin meningkatkan akhlak mulianya?

Setelah memahami tujuan anak-anak belajar baru kita memasuki tahapan-tahapan memahami berbagai gaya belajar anak-anak. Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar anak. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, anak dapat berkembang dengan lebih baik.

Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda.
Modalitas belajar adalah cara informasi masuk ke dalam otak ย melalui indra yang kita miliki.
Tiga macam modalitas belajar anak:
โ˜˜Auditori: modalitas ini mengakses segala macam bunyi, suara, musik, nada, irama, cerita, dialog, dan pemahaman materi pelajaran dengan menjawab atau mendengarkan lagu, syair, dan hal-hal lain yang terkait.
โ˜˜ Visual: modalitas ini mengakses citra visual, warna, gambar, catatan, tabel diagram, grafik, serta peta pikiran, dan hal-hal lain yang terkait.
โ˜˜ Kinestetik: modalitas ini mengakses segala jenis gerak, aktivitas tubuh, emosi, koordinasi, dan hal-hal lain yang terkait.

Continue reading

Cemilan Rabu Kelas Bunda Sayang IIP: Potensi Kecerdasan Anak untuk Meraih Kesuksesan Hidup

Cemilan Rabu 29 Maret 2017
๐ŸตPOTENSI KECERDASAN ANAK UNTUK MERAIH KESUKSESAN HIDUP (Bagian 1)๐Ÿต
Sebelum ditemukannya ragam kecerdasan (IQ, EI, SI, dan AI), seorang anak dikatakan cerdas jika memiliki IQ yang tinggi. Sebaliknya anak dikatakan bodoh jika ber-IQ rendah.
Kecerdasan Intelektual (IQ) adalah kecerdasan yang dimiliki oleh otak manusia untuk bisa melakukan beberapa kemampuan seperti kemampuan menalar; merencanakan masalah; berpikir; memahami gagasan; dan belajar.
Menurut Conny Setiawan dalam buku โ€œPerspektif Pendidikan Anak Berbakatโ€ ada tiga komponen penting yang dianggap esensi intelegensi, yakni penilaian, pengertian, dan penalaran.
Berkat kecerdasan intelektualnya, manusia telah mampu menjelajah ke bulan dan luar angkasa; menciptakan teknologi informasi dan transportasi yang sangat membantu dan lain sebagainya. Namun, ketika IQ saja yang menjadi dasar seseorang bergerak, maka di samping ada kemajuan pesat buah dari kecerdasannya itu, terdapat pula banyak kerusakan muncul akibat dari ulah manusia.
Charles Spearmen, Thurstone, dan Gardner mengembangkan teori multiple intelligence (MI) yang mengukur kecerdasan tidak hanya dari satu aspek kemampuan. Teori MI ini lebih manusiawi karena intelegensi manusia diukur dari tujuh dimensi yang semi-otonom. Masing-masing adalah: 1) Linguistik, 2) Musik, 3) Matematik Logis, 4) Visual-Spasial, 5) Kinestetik-Fisik, 6) Sosial Interpersonal, dan 7) Intra-Personal.
Seperti diungkapkan Suharsono dalam buku โ€œMencerdaskan Anakโ€, ketujuh macam kecerdasan ini merupakan fungsi dari dua belahan otak kiri dan otak kanan. Otak kiri memiliki kemampuan dan potensi memecahkan problem matematik, logis dan fenomenal. Otak kanan memiliki kemampuan merespon hal-hal yang sifatnya kualitatif, artistik, dan abstrak.
โ“Apakah dengan mengoptimalkan ketujuh kecerdasan ini akan menjadikan anak-anak sukses mengarungi hidup? Jawabannya BELUM TENTU.
๐Ÿ–ŒModel kecerdasan intelektual benar-benar akan bergfungsi hanya dalam tahapan ketika anak harus menyelesaikan permasalahan. Bahkan sejauh yang dapat diamati, model kecerdasan ini belum mendorong anak menjadi kreatif bahkan inovatif. Diperlukan upaya pendekatan yang berbeda agar anak menjadi lebih tertantang ide kreatif dan inovatifnya.

Continue reading

Pentingnya Meningkatkan Kecerdasan Anak demi Kebahagiaan Hidup

Materi Bunda Sayang Institut Ibu Profesional sesi #3
โค PENTINGNYA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK DEMI KEBAHAGIAAN HIDUP โค

Dalam kehidupan ini ada dua kata yang selalu diinginkan manusia dalam hidup yaitu SUKSES dan BAHAGIA.
โ˜˜ Makna SUKSES
D. Paul Reilly dalam bukunya Success is Simple mendefinisikan sukses sebagai pencapaian yang berangsur-angsur meningkat terhadap suatu tujuan dan cita-cita yang berharga.
Sedangkan Lila Swell dalam bukunya Success mengemukakan pendapatnya bahwa sukses adalah peristiwa atau pengalaman yang kita akan mengingatnya sebagai pemuasan diri.

โ˜˜ Makna BAHAGIA

Prof. Martin Seligman dalam bukunya Authentic Happiness mendefinisikan kebahagiaan hidup dalam tiga kategori:

A. Hidup yang penuh kesenangan (Pleasant Life)

Hidup yang penuh kesenangan ialah kondisi kehidupan di mana pencarian kesenangan hidup, kepuasan nafsu, keinginan, dan berbagai bentuk kesenangan lainnya menjadi tujuan hidup manusia.
Kebahagiaan jenis ini lebih bersifat material.

B. Hidup nyaman (Good Life)

Hidup yang nyaman ialah kehidupan di mana segala keperluan kehidupan manusia secara jasmani, rohani, dan sosial telah terpenuhi. Hidup yang aman, tenteram, damai. Kebahagiaan jenis ini lebih bersifat mental.

C. Hidup Bermakna (Meaningful Life)
Hidup yang bermakna lebih tinggi lagi dari tingkat kehidupan yang nyaman. Selain segala keperluan hidupnya telah terpenuhi, ia menjalani hidup ini dengan penuh pemahaman tentang makna dan tujuan kehidupan. Selain untuk diri dan keluarganya, ia juga memberikan kebaikan bagi orang lain dan lingkungan sekitar. Rasa kebahagiaan yang timbul ketika banyak orang lain mendapatkan kebahagiaan karena usaha kita, pleasure in giving, kebahagiaan dalam berbagi. Kebahagiaan jenis ini lebih bersifat spiritual.

Untuk mencapai kategori hidup SUKSES dan BAHAGIA, kita perlu memiliki berbagai macam kecerdasan hidup.

Continue reading

Cemilan Rabu Kelas Bunda Sayang IIP: Membangun dan Mendidik Kemandirian pada Anak

๐Ÿฏ๐Ÿง€Cemilan Rabu #1๐Ÿง€๐Ÿฏ
Materi 2: Melatih Kemandirian Anak
Membangun dan Mendidik Kemandirian pada Anak
Membangun dan mendidik kemandirian anak bukanlah pekerjaan yang mudah, terutama melatih anak mandiri ketika masih di usia dini. Secara alamiah anak sebenarnya cenderung untuk belajar memiliki kemandirian. “Yes, I can!” Kata-kata ajaib ini merupakan sinyal dari kesadaran seorang anak terhadap diri dan kemampuannya sendiri untuk menentukan dirinya.
Orangtua yang bijaksana memanfaatkan keinginan akan kemandirian ini dengan membiarkan anak-anak mereka mempraktikkan keterampilan mereka yang baru muncul sesering mungkin pada lingkungan yang aman atau ramah anak. Dukungan orangtua yang seperti ini memang sangat dibutuhkan anak agar dapat melakukan berbagai hal secara mandiri, termasuk aktivitas yang masih relatif sulit.
Namun realita yang ada, orangtua terkadang merasa tidak tega, tidak bersabar, khawatir yang lahir karena bentuk rasa sayang yang berlebihan kepada anak. Inilah salah satu penyebab dari kegagalan anak dalam proses kemandiriannya. Oleh karena itu, oran tua perlu memperbaiki sikap mental agar tidak mudah khawatir dengan anak.
Faktor lingkungan juga terkadang ikut andil dalam kegagalan proses kemandirian anak. Dorongan negatif dari lingkungan sekitar yang terkadang menganggap apa yang orangtua lakukan untuk melatih kemandirian anaknya sebagai bentuk eksploitasi. Padahal yang paling terpenting dan utama dalam membangun dan mendidik kemandirian anak adalah ketika anak merasa senang dalam melakukan aktivitas kemandiriannya tanpa ada rasa takut ataupun karena ada rasa tekanan dari luar.
Perlu diketahui bahwa kemandirian anak usia dini berbeda dengan kemandirian remaja ataupun orang dewasa. Jika pengertian mandiri untuk remaja dan orang dewasa adalah kemampuan seseorang untuk bertanggung jawab atas apa yang dilakukan tanpa membebani orang lain, sedangkan untuk anak usia dini adalah kemampuan yang disesuaikan perkembangan usianya.
Adapun jenis kemandirian anak yang perlu dibangun adalah sebagai berikut:
1. Kemandirian dalam Keterampilan Hidup
Prinsip pokok menumbuhkan kemandirian dalam keterampilan hidup adalah memberi kesempatan, bukan melatih. Anak secara alamiah memang cenderung berusaha belajar melakukan berbagai keterampilan hidup sehari-hari secara mandiri, semisal makan, mengenakan baju sendiri, mandiri sendiri, dsb.
Jika kita mengizinkan anak melakukan berbagai aktivitas hidup sehari-hari tersebut secara mandiri, lambat laun ia akan terampil. Yang kita perlukan hanyalah kesediaan mendampingi sehingga anak tidak melakukan terlalu banyak kesalahan, meskipun kita tetap harus menyadari bahwa untuk mencapai keterampilan perlu latihan yang banyak dengan berbagai kesalahannya.
Kemandirian itu akan lebih meningkat kualitasnya jika orangtua secara sengaja memberi rangsangan kepada anak berupa tantangan untuk mengerjakan yang lebih rumit dan sulit. Ini bukan saja melatih kemandirian dalam urusan keterampilan hidup sehari-hari, melainkan juga menumbuhkan kemandirian secara emosional.

Continue reading

Makan Jangan Bersuara….ย 

Obrolan di grup whatsapp IIP beberapa hari yang lalu sempat membahas tentang trik membuat makan jadi sesuatu yang menyenangkan bagi anak, terkait dengan materi utama mengenai menumbuhkan kemandirian anak. Ada salah satu anggota yang memberi saran makan sambil mengajak anak mengobrol. Ini mirip dengan saran dokter keluarga kami dalam kultwitnya, yaitu dengan menyelipkan cerita mengenai serba-serbi sayuran atau bahan makanan lain yang ada di hadapannya, mengapa perlu makan itu, dst. Kemudian ada anggota lain yang menanggapi, kan makan jangan bersuara, hehehe… kan ada lagunya juga tuh ya, yang dulu sempat populer lagi karena digunakan sebagai pengiring iklan sebuah merk susu kalau tidak salah.

Kalau secara table manner atau etiket makan, sebetulnya tidak terlarang juga bicara sambil makan, maksudnya ketika tidak ada makanan dalam mulut ya. Misalnya saya kutip dari sini https://agyeeta.wordpress.com/2009/06/21/table-manner/:

CARA BERBICARA
๏ƒผ Hindari berbicara saat makanan masih di dalam mulut
๏ƒผ Hindari bicara sambil menunjuk ke arah seseorang atau gerakan tangan yang berlebihan
๏ƒผ Hindari memotong, menguasai pembicaraan
๏ƒผ Sesuai intonasi berbicara, jangan terlalu keras atau lemah

Malah ada juga yang menuliskan bahwa secara etika, ketika semua yang sedang makan bersama diam saja kan malah suasana jadi kurang enak, bahkan tidak sopan kalau kita diam saja. Saya kutip dari http://fitritataboga.blogspot.co.id/2011/04/etiket-makan-part2.html:

Continue reading

Materi Kelas Offline Bunda Sayang Jakarta #1: Komunikasi Produktif

Kuliah Offline IIP Jakarta: Komunikasi Produktif
Hujan yang cukup deras tidak menghalangi langkah kaki member IIP Jakarta terutama peserta kelas Bunda Sayang untuk mengikuti kuliah offline yang telah disepakati bersama. Kegiatan ini melanjutkan sesi kuliah offline ketika Kelas Matrikulasi. Teman-teman IIP Jakarta cukup bersemangat untuk melanjutkan kegiatan kuliah offline ini hingga ke kelas Bunda Sayang.
Tidak hanya ibu-ibu saja yang berpartisipasi, namun bapak dan anak pun turut serta. Bapak-bapak menemani anak bermain di sekitar lokasi dan tetap bisa mengikuti jalannya diskusi. Anak-anak pun difasilitasi dengan aktivitas di kids corner (persembahan dari salah satu member) sehingga tetap merasa aman dan nyaman ketika diskusi berlangsung.
Berikut ini disertakan hasil diskusi kuliah offline Komunikasi Produktif IIP Jakarta.
๐Ÿ“ Resume Diskusi Bersama Ibu Nurchasanah M.A
๐Ÿ“† Ahad, 19 Februari 2017
๐Ÿก Rumah Bunda Sari Kalideres
Profil Pembicara:
๐Ÿ‘ฉ๐Ÿปโ€๐Ÿซ Ibu Nur Chasanah M.A
๐Ÿ“ Beliau adalah seorang Ibu dari 5 Anak
(2 anak sudah hafidz dan 3 lainnya sedang proses, ada yang sudah 16, 3 dan 5 juz)
Aktivitas terkait profesi:
๐ŸŒ€Direktur International Education Program NFbSL-Bandung (2014-2016)
๐ŸŒ€Dosen Fisip UI, kelas international komunikasi (2010-sekarang)
๐ŸŒ€School Principal Green Montessori Islamic School (2012-2014)
๐ŸŒ€Direktur Nurul Fikri English Course (2010-2014)
Vice Principal Cahya MOntessori (2006-2010)
๐ŸŒ€Bidang Pendidikan dan Pengajaran NEC (2002-2005)
Pengantar diskusi
Percakapan nabi Ibrahim dengan Ismail
Terjemah bebas:
T : “Semalam saya bermimpi, menyembelih engkau. Apa pendapatmu?”
J : “Sesungguhnya, engkau akan mendapatiku menjadi orang yang bersabar”.
Apa yang bisa kita lihat?
Sisi komunikasi:
๐ŸŒทBunda profesional harus mengawal fase komunikasi pada saat anak usia 3 tahun (sudah mulai mengetahui sifat yang abstrak)
Contoh:
a. Ada teh kotak di depan bunda. Lalu bunda pindahkan teh kotak ke belakang bunda. Apakah teh kotaknya hilang? Tidak. Teh kotak tetap ada, letaknya pindah di belakang bunda.
b. Main ciluk baa
๐ŸŒทHal abstrak pertama yang dikenalkan adalah adanya Allah dalam kehidupan kita. Komunikasi yang ada framenya (tuntunan dari Allah).
Pengenalan sederhana dimulai dengan berdoa (dalam bahasa Arab) sebelum melakukan aktivitas –> melatih otot (menyiapkan organ of speech) –> terbiasa dengan bahasa Arab sedari kecil melatih lidah anak untuk siap berbicara multibahasa (polyglot) dengan baik pada saatnya nanti.

Continue reading

Materi Kelas Bunda Sayang Sesi #2: Melatih Kemandirian Anak

Institut Ibu Profesional
Materi Bunda Sayang Sesi #2
MELATIH KEMANDIRIAN ANAK
Mengapa melatih kemandirian anak itu penting?
Kemandirian anak erat kaitannya dengan rasa percaya diri. Sehingga apabila kita ingin meningktkan rasa percaya diri anak, mulailah dari meningkatkan kemandirian dirinya.
Kemandirian erat kaitannya dengan jiwa merdeka. Karena anak yang mandiri tidak akan pernah bergantung pada orang lain. Jiwa seperti inilah yang kebanyakan dimiliki oleh para entrepreneur, sehingga untuk melatih entrepreneurship sejak dini bukan dengan melatih proses jual belinya terlebih dahulu, melainkan melatih kemandiriannya.
Kemandirian membuat anak-anak lebih cepat selesai dengan dirinya, sehingga ia bisa berbuat banyak untuk orang lain.
Kapan kemandirian mulai dilatihkan ke anak-anak?
Sejak mereka sudah tidak masuk kategori bayi lagi, baik secara usia maupun secara mental. Secara usia seseorang dikatakan bayi apabila berusia 0-12 bulan, secara mental bisa jadi pola asuh kita membiarkan anak-anak untuk selalu dianggap bayi meski usianya sudah lebih dari 12 bulan.
Bayi usia 0-12 bulan kehidupannya masih sangat tergantung pada orang lain. Sehingga apabila kita masih selalu menolong anak-anak di usia 1 tahun ke atas, artinya anak-anak tersebut secara usia sudah tidak bayi lagi, tetapi secara mental kita mengerdilkannya agar tetap menjadi bayi terus.
Apa saja tolok ukur kemandirian anak-anak?
โ˜˜Usia 1-3 tahun
Di tahap ini anak-anak berlatih mengontrol dirinya sendiri. Maka sudah saatnya kita melatih anak-anak untuk bisa setahap demi setahap meenyelesaikan urusan untuk dirinya sendiri.
Contoh:
โœ…Toilet Training
โœ…Makan sendiri
โœ…Berbicara jika memerlukan sesuatu.

Continue reading