Membawa Anak Saat Kita Menuntut Ilmu, Ya Atau Tidak?

Beberapa waktu yang lalu saya sudah memposting materi pertama dalam Kelas Matrikulasi Ibu Profesional Batch 2, yaitu yang berjudul Adab Menuntut Ilmu. Satu hal yang belum dibahas secara khusus pada materi tersebut, juga sewaktu sesi diskusi, adalah adab membawa anak ketika ibunya sedang menuntut ilmu.

Ini pertanyaan yang menarik dan relevan dikaitkan dengan kondisi sekarangs. Semakin banyak kegiatan pengajian/seminar/workshop/kelas edukasi dibuka untuk para ibu dengan berbagai tema yang bermanfaat, tetapi bagaimana dengan anak-anak ibu tersebut? Banyak topik acara yang justru cenderung menyasar ibu atau orangtua muda yang biasanya masih punya anak balita, seperti kesehatan keluarga, menyusui, memasak bekal yang sehat, make up praktis, dan pola pengasuhan (parenting).

Ada pula penyelenggara acara yang tegas menyebutkan bahwa peserta tidak diperbolehkan mengajak anak. Wajar, karena anak dengan segala aktivitasnya berpotensi membuyarkan konsentrasi. Peserta lain kan juga berhak mengikuti acara dengan tenang. Saya yakin maksudnya bukan hendak tak ramah anak, tetapi kan memang harus ada yang diprioritaskan.

Nah, kalau ada yang menjaga anak-anak di rumah sementara orangtuanya ikut kegiatan sih tak masalah, misalnya ada anggota keluarga lain yang diajak serta khusus untuk menemani dan tidak masuk ruangan acara jika ada tempatnya, atau memanfaatkan jasa profesional seperti pengasuh atau daycare. Namun, opsi ini tidak selalu tersedia. Sebagian ibu juga beralasan kasihan kalau kehilangan waktu kebersamaan dengan anak, khususnya yang masih ASI, walaupun ada yang memungkinkan dititipi.

Continue reading

Adab dan Hukum di Media Sosial (dari grup BiAS)

sosmed-1 sosmed-2 sosmed-3 sosmed-4 sosmed-5 sosmed-6 sosmed-7 sosmed-8 sosmed-9 sosmed-10

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 23 Muharam 1438 H / 24 Oktober 2016 M
👤 Ustadz Nuzul Dzikri, Lc
📔 Materi Tematik | Adab Dan Hukum di Sosial Media (Bagian 01)
⬇ Download Audio: bit.ly/BiAS-NZ-Sosmed-01
———————————–

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إنَّ الـحَمْدَ لله نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،

أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا الله الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Bapak-bapak, ibu-ibu, rekan-rekan, ikhwān dan akhwāt yang saya muliakan.

Marilah kita awali dengan bersyukur kepada Allāh Jala wa ‘Alā, atas segala nikmat dan karunia yang Allāh berikan dan Allāh limpahkan kepada kita.

Nikmat yang tidak mungkin kita bisa hitung. Nikmat yang senantiasa menyapa setiap derap langkah kita. Dan Allāh meminta kita untuk bersyukur kepada-Nya.

Dan nikmat yang harus kita syukuri secara khusus adalah:

⑴ Nikmat Imān
⑵ Nikmat Islām

⇛ Dua nikmat yang merupakan kunci kebahagiaan di dunia kita dan di ākhirat kita.

Selanjutnya, marilah kita haturkan shalawat kita dan salam kita kepada qudwah kita, Nabi besar Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam beserta para keluarga beliau, para shahābat-shahābat beliau dan orang-orang yang istiqamah berjalan di bawah naungan sunnah beliau sampai hari kiamat kelak.

Kita akan berbicara tentang sebuah fenomena yang sangat booming di tengah-tengah kita. Fenomena yang tidak memandang segmen dan batas usia. Tua muda, miskin kaya, anak muda, bapak-bapak, ibu rumah tangga, menggandrungi fenomena ini.

Kita akan berbicara tentang:

Adab dan Hukum yang Berkaitan dengan Sosial Media

Dalam kamus bahasa Indonesia:

⇛ Media itu berarti alat atau sarana komunikasi, perantara, penghubung.
⇛ Sosial artinya berkenaan dengan masyarakat.

Oleh karena itu dari sisi bahasa di atas, medsos (media sosial) bermakna: sarana berkomunikasi dan berbagi.

Sehingga hampir semua media (medsos-medsos) tersebut memiliki istilah sharing yang mereka tawarkan, karena memang itulah makna dasar dari dunia yang akan kita bahas sebentar lagi.

⇛ Istilah lain dari media sosial adalah jejaring sosial, (yaitu) jaringan atau jalinan hubungan secara online di internet.

Jadi yang kita gunakan adalah media yang berbasis internet.

Rasanya kita kurang tertarik untuk mendengarkan tapi penting untuk kita mendudukkan masalah.

Kenapa demikian?

Karena kalau kita baca definisi di atas maka fenomena sosmed ini semakin membuat kita beriman kepada Allāh dan Rasūl-Nya.

⇛Fenomena sosmed seharusnya membuat seorang mu’min:

√ Semakin rajin ke masjid.
√ Semakin semangat mengikuti sunnah Rasūl shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

√ Semakin sami’na wa atha’na.
√ Semakin tidak membantah apabila dikasih perintah atau larangan dari Allāh dan Rasūl-Nya.

√ Semakin tidak suka mendebat firman-firman Allāh dan hadīts-hadīts Nabi ahallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Kenapa demikian?

Continue reading

Penulisan insya Allah yang tepat…benarkah?

Hingga sekarang masih sering beredar gambar yang menyatakan bahwa Dr. Zakir Naik mengoreksi penulisan insya Allah. Seharusnya in shaa Allah, demikian disebutkan dalam gambar itu. Benarkah?

11037468_10203062489482772_9070729239158713232_n.jpg

15135824_10205784731737127_1824157765269986179_n.jpg

Saya termasuk yang membenahi cara penulisan saya begitu beredar informasi tersebut. Lupa sih, waktu itu informasinya bawa-bawa nama Dr. Zakir Naik atau tidak. Belakangan, saya membaca ada yang mengklarifikasi bahwa Dr. Zakir Naik tidak pernah mengeluarkan pernyataan seperti itu. Disertakan pula keterangan singkat bahwa sebetulnya tidak ada masalah karena ini soal transliterasi masing-masing negara saja. Penjelasan selengkapnya sendiri bisa dibaca di bawah, saya kutip dari konsultasisyariah.com.

Continue reading

Imsak dan Menahan Diri

Pada suatu bulan Ramadhan saat saya masih jadi anak SD, seorang paman yang sedang mudik karena liburan kuliah (orangtua saya tinggal bersama dengan orangtua mama) menyampaikan sesuatu yang cukup membuat saya kaget.

“Imsak itu bukan waktunya berhenti sahur… Masih boleh makan kok, sampai adzan Subuh,” kata beliau. Diteguknya segelas air meski sirine tanda waktu imsak tiba telah berbunyi, seakan memberi contoh langsung. Hal ini terus terang tidak diajarkan di sekolah saya saat itu. Hingga kini, 20 tahun kemudian, sepertinya masih banyak yang menganggap bahwa waktu imsak, yang jamnya tercantum di jadwal yang sering beredar dan di banyak daerah diumumkan ‘kedatangannya’ secara khusus dengan cara masing-masing, adalah batas awal dimulainya shaum pada hari tersebut. Yang artinya aktivitas seperti makan dan minum harus berhenti pada saat itu. Dengan semakin majunya teknologi informasi khususnya di bidang informasi, tulisan tentang batas akhir yang benar ini juga banyak beredar. Memang kata imsak itu sendiri artinya adalah menahan, jadi ada yang menafsirkannya menahan diri untuk lebih hati-hati, takutnya keterusan makan minum saat sebetulnya sudah tidak boleh. Namun, yang saya baca dari beberapa referensi, imsak itu ya sinonim dari shaum alias puasa, yang disebut dengan menahan diri itu ya berhenti dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa, jadi adanya jadwal imsak yang punya selisih waktu dengan adzan subuh itu bikin rancu karena seolah-olah imsak dan mulai puasa ‘betulan’ setelah terbit fajar itu adalah dua waktu yang berbeda.

Bagi saya sendiri, dibunyikannya peringatan imsak ada manfaatnya untuk bersiap-siap. Terlebih setelah tahu bahwa mengakhirkan makan sahur itu disunnahkan. Maka kadang kami malah baru mulai sahur saat imsak tiba, walaupun tidak sering melakukannya karena khawatir ‘bablas’, terlebih jika anak sedang dalam usia bayi yang berpotensi terbangun minta menyusu sewaktu-waktu. Sebelum imsak artinya masih longgar waktu untuk sholat, sekalian memasak makanan untuk anak, atau menata perlengkapan ke kantor. Atau kalau bangun kesiangan, sudah tiba atau belumnya waktu imsak (ini sih sebetulnya sama aja dengan melirik jadwal adzan Subuh ya kalaupun tidak mendengar peringatan imsak, hehehe) bisa menjadi pertimbangan makanan apa yang bisa disajikan dalam waktu singkat kalau kebetulan tidak ada persiapan dari malam sebelumnya. Jika pun sudah selesai makan sahur, pengumuman imsak bisa dijadikan pengingat untuk minum lagi, sikat gigi dst.
image

image

Begitu pindah ke Jakarta di tahun kelima pernikahan, kami mendapati bahwa di tempat tinggal kami tidak ada peringatan imsak yang dibunyikan. Jadi kami paling-paling mengandalkan jadwal yang tersedia lalu mencocokkannya dengan jam dinding guna mengelola waktu sahur dengan sebaik-baiknya. Baru tahun ini, tahun kelima kami di Jakarta, entah bagaimana ceritanya (lupa terus mau tanya ke suami, barangkali bisa ditanyakan ke pengurus musholla) mulai ada pengumuman waktu imsak yang terdengar dari speaker musholla.

Berikut beberapa referensi terkait waktu sahur dan imsak ini (termasuk bagaimaja ketika tengah makan kemudian mendengar adzan Subuh dikumandangkan):
1. https://muslim.or.id/1290-kekeliruan-pensyariatan-waktu-imsak.html
2. https://muslimafiyah.com/dekat-dekat-adzan-waktu-terbaik-makan-sahur-dan-catatan-terhadap-waktu-imsak.html
3. https://m.facebook.com/notes/moslem-education/imsak-bukan-batas-akhir-makan-sahur/423973898410/
4. https://rumaysho.com/1231-hukum-makan-ketika-adzan-shubuh.html.

*maunya ditulis di bulan Ramadhan tapi nggak sempat-sempat :D*

Ruh Bisa Melihat?

Kemarin saya membaca jurnal di blog mas Iwan Yuliyanto yang membahas ‘Arwah Gentayangan. Saya tertarik dengan salah satu kutipan di situ:

Apakah orang yang mati bisa melihat orang-orang yang ditinggalkannya?

Memang ada riwayat yang menyebutkan adanya ruh manusia yang melihat bagaimana orang-orang yang masih hidup memperlakukan jasadnya. Seperti yang diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jika jenazah telah siap, kemudian kaum lelaki memikulnya di atas pundak-pundak mereka, jika jenazah itu orang yang shalih ia berkata: ‘Segerakanlah aku!’, tetapi jika ia tidak shalih, ia berkata kepada keluarganya: ‘Celaka, akan kalian bawa kemana aku?’ Segala sesuatu akan mendengar suaranya selain manusia, dan andaikan manusia mendengarnya niscaya akan jatuh tersungkur.” [HR Bukhari].

Arwah tersebut HANYA melihat dan merasakan perlakuan orang-orang terhadap dirinya yang sudah mati. Selanjutnya arwah bisa melihat dan merasakan kondisi keluarga yang ditinggalkannya, apakah bahagia atau tidak. Jadi, tidak ada gunanya meminta pertolongan kepada orang yang sudah mati. Sungguh itu perbuatan yang sia-sia, karena sejatinya arwah tidak bisa berbuat apa-apa. Lebih baik memanjatkan do’a agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengampuni dosa-dosa arwah, dan berharap ditempatkan di tempat yang layak di akherat. Do’a anak shalih kepada orang tuanya yang sudah meninggal dunia insya Allah diterima.

Saya merasa nyeees membacanya. Papa kehilangan penglihatan karena glaukoma saat saya masih di SMP, dan saya masih selalu menyimpan harapan papa bisa melihat menantu dan para cucu beliau. Tahu video the blind man and his daughter (di mana sang ayah tak jadi dioperasi karena ternyata tetap tak bisa memulihkan penglihatannya)? Saya selalu menangis melihatnya –dan sebetulnya penasaran dengan endingnya karena sepertinya ada adegan yang menggantung, tapi pengunggahnya ke Youtube bilang memang cuma segitu filmnya.”I want you to see me growing up!” begitu ucap sang putri yang masih usia SD sambil berurai air mata.

Papa meninggal tahun lalu, dan karena ada hadits yang meyebut bahwa mayit yang dikuburkan bisa mendengar langkah-langkah orang yang meninggalkan lokasi, berarti ada kemungkinan indra yang sempat terhalang secara fisik duniawi bisa ‘aktif’ kembali, bukan? Wallahu a’lam sih ya. Saya pernah bertanya pada beberapa teman, dan kali ini saya pun bertanya pada mas Iwan. Jawaban beliau sebagai berikut:

Yang saya yakini, bisa kok, mbak Leila, selama kondisi ayahanda nya damai di alam barzakh. Semoga beliau senantiasa damai. Aamiin.

Begini …
Dalam buku “Ar-Ruh” karya Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah, disampaikan banyak dalil bahwa orang yg telah meninggal dunia tahu jika di-ziarahi dan menjawab salam jika diberi salam. Kemudian, keadaan keluarganya yg masih hidup disiarkan secara live kpd kerabatnya yg telah meninggal dunia. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya perbuatan kalian diperlihatkan kepada karib-kerabat dan keluarga kalian yg telah meninggal dunia. Jika perbuatan kalian baik, maka mereka mendapatkan kabar gembira, namun jika selain daripada itu, maka mereka berkata: “Ya Allah, janganlah engkau matikan mereka sampai Engkau memberikan hidayah kepada mereka seperti engkau memberikan hidayah kepada kami.” [HR. Ahmad].

Hadits lainnya …

“Seluruh amal perbuatan dilaporkan kpd Allah SWT pada hari Senin dan Kamis, dan diperlihatkan kepada para orangtua pada hari Jum’at. Mereka merasa gembira dgn perbuatan baik orang-orang yg masih hidup, wajah mereka menjadi tambah bersinar terang. Maka bertakwalah kalian kepada Allah dan janganlah kalian menyakiti orang-orang kalian yg telah meninggal dunia.” [HR. Tirmidzi].

Seperti yang saya sampaikan dalam jurnal di atas, bahwa seseorang setelah meninggal dunia, di alam barzakh HANYA akan disibukkan oleh salah satu dari dua perkara: nikmat kubur dan siksa kubur.
Bila ruh bergelimang nikmat kubur, maka ia bisa melihat & merasakan keluarga yg ditinggalkannya di dunia.
Sedangkan ruh yg mendapat siksa, akan terus disibukkan oleh siksaan shg tidak sempat lagi melihat siaran live tentang keluarga yang ditinggalkannya.
Oleh karena itu, jangan sampai melewatkan hari-hari kita yang masih hidup di dunia ini tanpa memanjatkan do’a ampunan dan kelapangan tempat tinggal orang tua kita di alam barzakh. Namun, jangan lupa satu syarat penting, yaitu senantiasa menjadi anak shalih. Sebab do’a anak shalih .. bisa menembus langit. Wallahu a’lam.

Aamiiin…

Allahummaghfirlahu waafihi wa’fuanhu.

Dan semoga Allah mudahkan saya untuk bisa memenuhi syarat sebagai anak shalih.