Amalan Ketika Sedang Haid di Bulan Ramadhan

Puasa saya Ramadhan ini sudah bolong di awal karena haid. Nah, bulan suci ini sayang kan kalau dilewatkan begitu saja tanpa berupaya menambah amalah? Dalam keadaan haid, apa dong yang bisa dilakukan? Banyak, kok. Punya buku yang khusus membahas hal ini, trus beberapa waktu yang lalu dapat forward-an dari teman yang dapat dari grupnya, versi ringkasnya lah ya, sayang kalau tidak diarsipkan di sini.

SERI FIQIH MUSLIMAH

AMALAN KETIKA WANITA SEDANG HAID

▶ Dalam Islam, wanita yang sedang berhalangan (haid) masih tetap bisa untuk beribadah, selama tidak melanggar aturan syariat.

Allah menegaskan dalam firman-Nya,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu Al-Yaqin.”
(QS. Al-Hijr: 99)

Para ulama tafsir sepakat bahwa makna Al-Yaqin pada ayat di atas adalah KEMATIAN.

▶ Sekalipun kondisi datang bulan, wanita haid masih bisa melakukan amalan ibadah.

❌ *Amalan Yang Dilarang Dalam Syariat, di Antaranya;*

1⃣ SHALAT
Dari Abu Said radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ ، وَلَمْ تَصُمْ فَذَلِكَ نُقْصَانُ دِينِهَا

“Bukankah bila si wanita haid ia tidak shalat dan tidak pula puasa? Itulah kekurangan agama si wanita.”
(Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari no. 1951 dan Muslim no. 79)

2⃣ PUASA
Sebagaimana disebutkan dalam hadis Abu Said radhiyallahu ‘anhu di atas.

3⃣ THAWAF DI KA’BAH
● Aisyah pernah mengalami haid ketika berhaji. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan panduan kepadanya,

فَافْعَلِى مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِى بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِى

“Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan orang yang berhaji selain dari melakukan thawaf di Ka’bah hingga engkau suci.”
(HR. Bukhari no. 305 dan Muslim no. 1211)

4⃣ MENYENTUH MUSHAF
● Orang yang berhadats (hadats besar atau hadats kecil) tidak boleh menyentuh mushaf seluruhnya ataupun hanya sebagian.

● Inilah pendapat para ulama empat madzhab.

Dalil dari hal ini adalah firman Allah Ta’ala,

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan”
(QS. Al Waqi’ah: 79)

Dalil lainnya adalah sabda Nabi ‘alaihish shalaatu was salaam,

لاَ تَمُسُّ القُرْآن إِلاَّ وَأَنْتَ طَاهِرٌ

“Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali engkau dalam keadaan suci.”
(HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Continue reading

Persiapan Puasa (Ust. Zaitun Rasmin)

Memenuhi undangan dari teman-teman kantor lama, karena lokasinya juga tidak begitu jauh, saya turut menyimak kajian tarhib Ramadhan di masjid sana yang dilaksanakan setelah sholat Dzuhur berjamaah tamggal 16 Mei. Yang menjadi pengisi kegiatan tersebut adalah Ustadz Zaitun Rasmin. Berikut beberapa catatan saya dari tausiyah beliau.

Ramadhan merupakan bulan ibadah, yang bisa kita lakukan untuk mengisinya meliputi ibadah jasadiyah (sholat, puasa), qalbiyah (lebih banyak berdzikir dan introspeksi, tidak bicara ancaman atau menyakitkan), dan maaliyah (infaq, shadaqah).

Puasa 30 hari bisa ditambah nilainya menjadi lebih dari 30 hari dengan memberi buka kepada orang lain yang berpuasa. Selain berpahala, juga menyenangkan yang menerima. Tidak harus kirim ke yayasan atau sejenisnya, bisa saja dengan tukar menukar makanan buka dengan teman kantor atau berbagi makanan berbuka dengan orang yang ditemui dalam perjalanan pulang kerja.

Continue reading

Sabar, Sejauh Mana Batasnya?

Forum Kajian Muslimah Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan #FKMEdisiApril kali ini (07/04) mengangkat tema Menjadi Pribadi Sabar bersama Ustadzah Tri Handayani, S.Pd.I., M.A.

Ustadzah atau yang akrab dipanggil sebagai ummi Tri Handayani ini dahulu adalah atlet berbagai cabang olahraga yang berprestasi. Kemudian Allah memberi ujian berupa kanker, bukan hanya satu jenis tetapi beberapa. Sekarang beliau aktif sebagai penceramah maupun motivator yang banyak menyampaikan kisah beliau sebagai survivor kanker, selain menjadi dosen di dua perguruan tinggi.

Ummi Tri menegaskan bahwa sabar itu baru bisa dibilang berkualitas ketika dihadapkan pada tantangan, dan levelnya tergantung kadar keimanan seseorang. Orang yang terkena macet di dalam mobil mewah yang nyaman, tingkat sabarnya tidaklah sama dengan yang berdiri di angkutan umum berdesakan saat deadline pekerjaan mengintai.

Benarkah sabar ada batasnya? Dalam QS Ali Imran ayat 200 disebutkan kata sabar lebih dari satu kali: bersabarlah kamu (orang-orang yang beriman) dan kuatkanlah kesabaranmu.

Di masa muda, Ummi Tri adalah pemegang sabuk hitam karate, atlet provinsi Jawa Barat, pernah meraih medali emas dan ikut kejuaraan aikido di Jepang. Anggota paskibra juga, pecinta alam yang sudah naik 9 gunung, juara olimpiade daerah berenang, suka diving. Terbayang kan betapa bugar dan aktifnya, karena pasti memerlukan kekuatan fisik yang prima. Ternyata Allah menguji beliau dari segi jasmani juga. Dengan penyakit yang disandang, Ummi Tri sudah menjalani 7 kali operasi mulai dari nasofaring, trakea, otak stadium 4, ovarium kiri, usus buntu, dinding abdomen kanan yang berhubungan dengan rahim, sampai usus. Pernah juga 16 kali kemoterapi, 38 kali radioterapi, 170 kali fisioterapi. Ada dokter yang pernah memperkirakan bahwa umur Ummi Tri tak lama lagi, tetapi ternyata dokter tersebut malah berpulang lebih dahulu.

Sabar menurut terminologi bahasa adalah menahan dan mencegah diri. Sedangkan sabar menurut terminologi syariat adalah menahan diri untuk tetap mengerjakan sesuatu yang disukai oleh Allah atau menghindarkan diri dari sesuatu yang dibenci oleh-Nya. Sehingga pegawai misalnya tidak tergoda untuk korupsi, orang yang cantik tidak tergiur menjual pesona ragawinya secara tidak terpuji. Termasuk yang tidak disukai oleh Allah adalah perilaku mengeluh dan memaki, menyalahkan Allah atas kondisi yang dihadapinya.

Continue reading

Semangat Hijrah sang MuslimahPreneur 

Sesi #SEMUSIM2017 setelah istirahat menampilkan teh Febby Febriani (@melodyhijramusic), sekarang seorang ibu, penyanyi, muslim wedding organizer, dan public speaker.

Teh Febby menceritakan bahwa masa lalunya cukup kelam, erat dengan kehidupan malam. Kuliah sih baik-baik saja, orangtua tahunya juga baik, tapi malamnya lepas jilbab dan kerja sebagai waitress dan event organizer di klub malam. Latar belakangnya klise remaja, ingin mencari jati diri dan memperluas pergaulan. Di usia 19-20 tahun teh Febby berpikir juga untuk menjadikan pergaulan tersebut sebagai ladang usaha, dan dijalankan juga, yaitu menjadi ‘mami’ (muncikari). Tidak pernah ingat akan Allah dan ibadah. Belakangan teguran datang dalam bentuk sakit kanker, dan teh Febby yang kondisinya belum kunjung membaik setelah pengobatan malah menyalahkan keadaan, belum sampai pada kesadaran. Bisnis ‘manajer’-nya jalan terus, kemudian merambah bisnis kartu kredit. Teguran berikutnya menyapa, teh Febby ditipu rekannya, uang investasinya dibawa lari hingga harus kehilangan rumah, mobil dll. Di situ pun ia belum terpikir untuk bertobat. Baru ketika bayinya meninggal 8 jam setelah dilahirkan, teh Febby tersadar. Bukan hanya teh Febby, tapi juga suaminya yang sejak sebelum menikah sama-sama berkecimpung di dunia malam. Maka mereka berdua berniat berhijrah dan mulai berusaha dari nol lagi, bahkan minus karena posisinya masih berutang pada bank.

Dari pengalamannya, teh Febby menyimpulkan bahwa muslimahpreneur perlu ingat tiga poin yaitu:

Continue reading

Mau Jadi MuslimahPreneur? Belajar Fiqh-nya Dulu Yuk… 

Sabtu ini saya mengikuti SEMUSIM (Seminar Muslimah Nasional) 2017 yang diadakan oleh LDK FUSI Universitas Islam Jakarta tanggal 18 Maret 2017. Tema yang diangkat adalah The Power of MuslimahPreneur, sehingga materi yang disajikan juga banyak mengulas tentang memulai bisnis bagi muslimah. Berasa agak tua karena kebanyakan peserta dan tentu saja panitianya adalah para mahasiswi, tapi mumpung dekat (banget) ini, jadi cuss lah berangkat.

Pada sesi pertama, Ustadzah dr. Yulia Andani Murti menyajikan materi fiqh muamalah.

Jadi, menurut beliau, Rasulullah saw bisa menjadi entrepreneur hebat dengan dukungan masa kecil yang dikelilingi dan dididik oleh para pengusaha juga.

Dalam berdagang, kita harus mengikuti etika yang sudah ditetapkan oleh Islam sebagai berikut:

Continue reading

(Dari Grup BiAS) Bijak Mengelola Waktu

 🌍 BimbinganIslam.com

Senin, 07 Jumadal Akhir 1438 H / 06 Maret 2017 M

👤 Ustadz Abdullah Zaen, MA

📔 Materi Tematik | Tips Mengoptimalkan Waktu (Bagian 1 dari 4)

⬇ Link audio: bit.ly/BiAS-AZ-TipsMengoptimalkanWaktu-01

🌐 Sumber: https://youtu.be/t2SyhH8fsBE

———————————–

TIPS MENGOPTIMALKAN WAKTU (BAGIAN 1 DARI 4)

 

بسم اللّه الرحمن الر حيم

السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

إنّ حمد لله

Kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Allāh Tabarāka wa Ta’ala

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, kepada para shahabatnya, keluarganya dan umatnya yang setia mengikuti tuntunannya hingga akhir nanti.

Pada kesempatan kali ini, in syā Allāh kita memperlajari bagaimana cara mengoptimalkan waktu.

Bagaimana supaya waktu kita optimal, sehingga dengan waktu yang sama kita bisa meraih sesuatu yang lebih banyak dibandingkan orang lain.

Ada beberapa poin in syā Allāh, kita mulai dengan poin yang pertama.

(1) JANGAN MEMBIARKAN WAKTU KITA KOSONG TANPA AKTIVITAS YANG BERMANFAAT

Continue reading

Cinta Sebening Embun, Pengingat untuk Berbakti pada Orangtua

Mengisi waktu minggu pagi, kami sekeluarga mengikuti kajian @pejuangsubuhid yang kali ini mengambil tema Cinta Sebening Embun. Dalam publikasinya, kajian yang diselenggarakan di aula kantor pusat Rabbani Jl. Pemuda Rawamangun ini disebutkan akan menekankan bahasan cinta kepada orangtua. Pembicara pertama adalah Hudzaifah Muhibullah, putra ustadz Taufik Ridho (Allahu yarham) yang menjadi salah satu contoh birrul walidain atau bakti kepada orangtua terkini. Mungkin sudah pada baca ya, cerita beliau yang hendak mendonorkan hati ke ayahanda tercinta, sepotong kisahnya sempat viral dan kisah lengkapnya antara lain bisa dibaca di sini http://www.portal-islam.id/2017/02/penuturan-seorang-bibi-12-jam-bersama.html?m=1.

Menurut Hudzaifah, kalau ditanya kenapa bisa begitu tegar dan kuat sewaktu mantap mengambil keputusan mendonorkan sebagian hati, kemudian juga ketika menerima kabar bahwa ternyata ayahnya berpulang terlebih dahulu sebelum hati sempat berpindah, ia juga tidak bisa berbagi tipsnya. Ujian tiap orang, katanya, berbeda. Doa dan perbuatan baik yang pernah dilakukan oleh seseorang sebelumnya bisa menjadi penguat diri dalam menghadapi ujian yang datang.

Continue reading

Kenali Diri dan Kelemahannya, Wujud Introspeksi Kita

Masjid kantor tempat saya bekerja sering mengadakan kajian, baik yang rutin sehabis sholat wajib maupun pengajian insidentil yang biasanya membahas tema tertentu. Siang itu (22/03), yang mengisi adalah Ustadz Ahmad Sarwat, Lc., dan materinya menurut saya sangat mengena, sehingga saya posting di sini.

Dari Abu Hurairah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ مِرَآةُ أَخِيْهِ، إِذَا رَأَى فِيْهِ عَيْباً أَصْلَحَهُ

Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Jika dia melihat suatu aib pada diri saudaranya, maka dia memperbaikinya.” (Hasan secara sanad) — ini saya salin dari Rumaysho.com (https://rumaysho.com/3006-seorang-muslim-cermin-bagi-saudaranya.html).

Dalam hadits dikatakan, muslim cermin bagi muslim yang lain, ini artinya adalah anjuran untuk becermin, mengenali diri dan kelemahan.
Kondisi yang paling menyedihkan adalah ketika seseorang sudah tidak mampu lagi mengenali kekurangannya.
Bagaimana caranya mengenali diri sendiri? Hal-hal yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:

Continue reading

Makan Jangan Bersuara…. 

Obrolan di grup whatsapp IIP beberapa hari yang lalu sempat membahas tentang trik membuat makan jadi sesuatu yang menyenangkan bagi anak, terkait dengan materi utama mengenai menumbuhkan kemandirian anak. Ada salah satu anggota yang memberi saran makan sambil mengajak anak mengobrol. Ini mirip dengan saran dokter keluarga kami dalam kultwitnya, yaitu dengan menyelipkan cerita mengenai serba-serbi sayuran atau bahan makanan lain yang ada di hadapannya, mengapa perlu makan itu, dst. Kemudian ada anggota lain yang menanggapi, kan makan jangan bersuara, hehehe… kan ada lagunya juga tuh ya, yang dulu sempat populer lagi karena digunakan sebagai pengiring iklan sebuah merk susu kalau tidak salah.

Kalau secara table manner atau etiket makan, sebetulnya tidak terlarang juga bicara sambil makan, maksudnya ketika tidak ada makanan dalam mulut ya. Misalnya saya kutip dari sini https://agyeeta.wordpress.com/2009/06/21/table-manner/:

CARA BERBICARA
 Hindari berbicara saat makanan masih di dalam mulut
 Hindari bicara sambil menunjuk ke arah seseorang atau gerakan tangan yang berlebihan
 Hindari memotong, menguasai pembicaraan
 Sesuai intonasi berbicara, jangan terlalu keras atau lemah

Malah ada juga yang menuliskan bahwa secara etika, ketika semua yang sedang makan bersama diam saja kan malah suasana jadi kurang enak, bahkan tidak sopan kalau kita diam saja. Saya kutip dari http://fitritataboga.blogspot.co.id/2011/04/etiket-makan-part2.html:

Continue reading

Agar Ringan dalam Menghadapi Permasalahan Hidup

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 21 Shafar 1438 H / 21 November 2016 M
👤 Ustadz Dr. Ainul Haris, Lc. MA
📔 Materi Tematik | Agar Ringan dalam Menghadapi Permasalahan Hidup (Bag.1)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AH-ARDMPH-01
———————————–

AGAR RINGAN DALAM MENGHADAPI PERMASALAHAN HIDUP (BAG. 1)

img-20161121-wa0046

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله ربّ العالمين والصلاة والسلام على رسول الله الأمين وعلى آله وصحبه أجمعين، أَمَّا بَعْدُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، أَمَّا بَعْدُ
فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار وإلى النار

Ikhwān dan Akhawāt rahimani wa rahimakumullāh.

Marilah kita senantiasa berdo’a dan memohon kepada Allāh agar kita dimudahkan dalam segala urusan kita. Agar diberi solusi untuk setiap persoalan yang kita hadapi sehingga kita lebih mudah menjalankan keta’atan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Di dunia ini, semua orang, tidak peduli apakah dia orang muslim atau orang kāfir, orang kaya atau orang miskin, penguasa atau rakyat jelata, laki-laki ataupun wanita, semuanya ingin menghadapi berbagai persoalan hidupnya dengan ringan, tenang dan tanpa beban.

Ikhwah sekalian rahimani wa rahimakumullāh.

Masing-masing orang memiliki prespektif dan cara pandangnya sendiri-sendiri berkaitan dengan masalah yang dia hadapi dan itu tergantung kondisi masing-masing orang.

Kalau orang miskin yang setiap harinya susah makan, susah mendapatkan tempat tinggal, susah merealisasikan keinginan-keinginannya, dia beranggapan bahwa masalahnya akan selesai apabila dia memiliki banyak uang. Karena dengan begitu dia bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya.

Orang yang menjadi bawahan yang selalu disuruh melayani, yang selalu diberikan perintah dan instruksi. Menurut dia masalah hidupnya akan selesai jika dirinya menjadi atasan. Sehingga gampang dan tinggal menyuruh kepada anak buahnya, karena semuanya sudah ada yang melayani, semua sudah ada yang menyiapkan.

Orang yang tidak dikenal yang ke mana pun dia pergi tidak ada yang menyapa atau tersenyum kepadanya (baginya) mungkin penyelesaiannya adalah dengan menjadi orang populer yang senantiasa apabila dia pergi ke mana saja, dia dikerubuti orang, disalami orang, dimintai tanda-tangan dan seterusnya. Dan itulah baginya penyelesaian dari persoalan hidupnya.

Anak muda yang sedang dibakar oleh hawa nafsu dan gejolak masa mudanya beranggapan bahwa jiwa mudanya akan selesai untuk dipenuhi apa yang dia inginkan, apabila dia bisa hidup bebas, sebebas-sebebasnya tanpa aturan. Pergi ke diskotik, pergi ke kafe, bahkan hingga menghisap ganja narkoba dan sebagainya,  bagi mereka itu, inilah merupakan penyelesaian dari gejolak masa mudanya.

Dan masih banyak lagi kondisi yang dipandang oleh orang sebagai cara penyelesaian dari masalah-masalah yang dihadapi.

Misalnya:

⇒ Seorang yang tergolek di rumah sakit, dia akan merasa bahwa bebannya akan hilang apabila dia sembuh dari penyakitnya. Meskipun untuk itu dia harus mengeluarkan seluruh hartanya membelanjakan apa yang dia miliki, sehingga dia berpikir yang penting dia bisa sehat.

Hidup menjadi ringan karena tidak lagi mempunyai penyakit dan bebas dari berbagai penderitaan.

⇒ Demikian juga orang yang punya hutang akan merasa lepas dari beban hidupnya jika dia bisa dan mampu untuk melunasi hutang-hutangnya.

Saudaraku rahimani wa rahimakumullāh.

Apabila seseorang merasa ringgan dan terlepas dari beban hidup dengan cara keluar dari masalah yang dihadapi maka betapa banyak manusia di dunia ini yang menderita karena beban hidupnya yang sedemikian banyak.

Sebab mungkin saja dia bisa menyelesaikan satu masalah tetapi masalah-masalah lain menunggu untuk diselesaikan.
Sehingga apabila dikatakan bahwa beban hidup bisa diselesaikan dengan cara keluar dari masalah itu, maka tidak akan orang yang bisa untuk bisa hidup tenang, untuk bisa menghindari dari kesengsaraan dan kesusahan hidup karena setiap orang mesti menghadapi berbagai masalah dengan tingkatnya yang berbeda-beda. Ada yang sulit, ada yang berat, ada yang ringan dan ada yang enteng.

Dan demikianlah masalah-masalah dan problem hidup yang kita hadapi.

Continue reading