[Kliping] Batuk, Pneumonia dan Sesak Napas pada Anak

Awal masuk TK, Fathia malah batuk. Lumayan juga, dari yang tadinya sudah mendingan waktu mudik sepertinya ketularan lagi begitu kamu kembali. Karena sampai demam beberapa kali, jadinya Fathia harus nggak masuk sekolah selama tiga hari dalam dua minggu pertamanya bersekolah.
image

image

Dalam masa itu terus terang saya deg-degan ketika memantau hitung napasnya (selain juga asupan cairan). Soalnya sesak nafas merupakan salah satu tanda kegawatdaruratan, kan? Khawatir kalau ternyata pneumonia. Berikut dari Ayahbunda:

Sesak napas karena pneumonia beda dengan asma. Pada pneumonia, kesulitan napas terjadi pada saat anak menarik napas. Sedangkan pada asma, kesulitannya saat mengeluarkan napas, bahkan terkadang bunyi ngik-ngik atau mengi.
Pedoman Perhitungan Frekuensi Napas (WHO)
Usia anak    Napas Normal         Napas Cepat
0–2 bulan    30–50 per menit    > 60 per menit
2-12 bulan   25-40 per menit     > 50 per menit
1-5 tahun    20-30 per menit     > 40 per menit

Saya tetap kontak-kontakan sama dokternya, tentu. Dan buka-buka juga arsip milis sehat. Sekalian dikopi kemari biar gampang. Alhamdulillah sih, sudah berlalu. Tinggal PR balikin bb-nya yang sempat menyusut, huhuhu.

Dari arsip milis sehat bulan September 2013:

  • Dear Mba,

    Coba diperhatikan apakah napas cepat saja (yang umum terjadi kalau sedang demam) atau sesak napas? Coba pelajari ini:

    Definisi sesak napas:

    – tarikan otot-otot perut (sampe kalau napas tuh perutnya keliatan kembang kempis gitu)
    – tarikan otot-otot dada (sama juga kalau napas dadanya keliatan kembang kempis…bahasanya saya sampe keliatan “nekuk” ke dalam, mudah-mudahan bisa dibayangkan)
    – tarikan otot-otot leher
    – cuping hidung kembang-kempis

    Semakin ke atas semakin “parah” sesak napas ya (maksudnya kalau sudah sampe cuping hidungnya yang kembang kempis berarti sesak nafasnya bisa dikategorikan “parah”).

    Video Breathing Problems & Respiratory Distress
    Breathing difficulties:
    1. http://www.youtube.com/watch?v=GUkh1EGXvaE
    Retraksi dada; lekuk leher tertarik ke dalam kala menarik nafas; mengi terdengar jelas.

    2. http://www.youtube.com/watch?v=ZpGK8auKh0U&feature=related
    Retraksi dada; lekuk leher tertarik ke dalam kala menarik nafas; kemungkinan ada mengi (nggak terdengar di videonya)

    3. http://www.youtube.com/watch?v=U-RfbrnMJZE&feature=related
    Retraksi dada; lekuk leher tertarik ke dalam kala menarik nafas; kemungkinan ada mengi (nggak kedengeran di video-nya)

    Respiratory distress (derajatnya sudah lebih berat daripada breathing difficulties dalam ketiga video di atas):
    4. http://www.youtube.com/watch?v=pF_1wu4Q7wk
    Retraksi dada; lekuk leher tertarik ke dalam kala menarik nafas; mengi
    masih terdengar (ada juga suara lendir di tenggorokan).

    5. http://www.youtube.com/watch?v=sJLHiTaXrtc
    Retraksi dada; lekuk leher tertarik ke dalam kala menarik nafas;
    kemungkinan mengi sudah tidak ada (pada sesak napas berat atau repiratory
    distress, mengi malah sudah tidak ada lagi –lihat pocket guide GINA https://ginasthma.org/pocket-guide-for-asthma-management-and-prevention/).

    Anak sendiri apa lemas, tidak mau beraktivitas, makan minum sam sek? Berapa kali pipis dalam sehari?

    Bila Mba yakin sesak napas juga anak tidak mau makan minum dan menunjukkan tanda dehidrasi ya segera ke dokter.

    Mengenai pemberian paracetamol, pertimbangkan risk vs benefit Mba. Bisa dicoba dulu metoda membuat nyaman yang lain yang trik-triknya sudah buanyak banget di-share.

    HTH

    Your BFF-Breastfeeding Friend, F.B.Monika, @f_monika_b

    La Leche League (LLL) Leader of Roc, South NY,US

  • purnamawati.spak@…
    Sun, 05:44 PM
    Sesak (dyspnea) atau napas cepat (tachypnea)?
    Saat demam, napas pasti cepat.
    Kalau sesak, kan bukan sekedar frekuensi.
    Kedua, saat menghitung frekuensi napas, apakah anak sdg tidur? Ukur frek napas harus saat anak tidur.
    Apakah mungkin lebih dari sekedar common cold?
    Waktu ke IGD, diagnosisnya apa? Kok dinebul NaCl?
    Bukan pneumonia dong ya
    Bukan juga bronkiolitis

    Coba assessment nya diperbaiki

    Wati

    -patient’s safety first-

Yang ini email dr. Anto, Sp.A. Juli 2016

Pneumonia adalah diagnosis klinis, terdapat sesak napas yang ditandai dengan upaya peningkatan volume paru, gejala berupa retraksi atau cekungan dan peningkatan frekuensi napas.
Derajat pneumonia bisa ringan, sedang atau berat. Pada pneumonia terdapat peningkatan upaya pemenuhan kebutuhan oksigen dengan parameter obyektif saturasi oksigen. Bila kadar saturasi oksigen <92% maka perlu terapi oksigen atau bila saturasi >92% tetapi terdapat peningkatan upaya napas (frekuensi meningkat dan dada cekung) maka juga diperlukan oksigen.

Bagaimana penyebabnya?
Pneumonia bisa disebabkan virus atau bakteri bahkan jamur. Yang paling sering tentu virus atau bakteri. Bila gejal awal terdapat common cold maka mengarahkan kepada virus. Namun perlu dilakukan pemeriksaan penunjang untuk memastikan, kenapa? karena tingkat kesakitan dan kematian pneumonia tinggi apalagi pada kelompok risiko tinggi (neonatus, bayi, gizi buruk, asma kronik, pemakaian steroid lama, penyakit jantung bawaan, gangguan sistem imunitas atau lansia)

Dari laboratorium dinilai adalah leukosit: secara umum 3-36 bulan, bila leukosit >15.000 maka mengarahkan kepada infeksi bakteri. Dilihat hitung jenis leukosit, bila peningkatan pada batang atau segmen maka mengarah kepada bakteri, sementara bila limfosit yang meningkat maka mengarah kepada virus.

Sementara pemeriksaan rontgen thoraks akan membantu: bila infiltrat (gambaran putih tampak pada satu lobus (bagian) paru maka mengarahkan kepada bakteri.

CRP merupakan protein reaktif akut yang meningkat pada proses peradangan, Peradangan dapat disebabkan oleh bakteri atau virus atau luka jaringan, jadi CRP membantu diagnosis, bukan standar emas. Standar emas adalah bilasan bronkus, tetapi ini tidak dilakukan rutin karena tingkat kesulitan dan manfaat dan risikonya.

Bila terdapat keraguan antara virus dan bakteri?
Bila terdapat fasilitas lengkap dan dapat diperiksa lengkap, secara umum bila didahului infeksi virus, tidak terdapat peningkatan leukosit, atau peningkatan pada limfosit saja, gambaran rontgen mendukung virus maka dapat diterapi sebagai pneumonia karena virus dengan pemantauan, dalam 48 jam bagaimana respons klinis, bila perburukan maka dilakukan evaluasi ulang.

Bila terdapat peningkatan leukosit, segmen atau batang, rontgen thoraks sesuai dengan bakteri maka diterapi antibiotik, dan pemantauan sama 48-72 jam harus memberikan respons perbaikan, bila tidak membaik maka perlu evaluasi ulang.

Kortikosteroid setahu saya tidak termasuk dalam tata laksana pneumonia (bisa cek di pneumonia guideline British Thoracic Society, atau IDSA)
semoga bisa membantu dan lekas sembuh.

salam,
-anto- (dr. Yulianto milis sehat)

Ada juga infografisnya lhoo…sila mampir ke blog Icha ini.

 

Catatan tambahan terkait salah satu obat batuk yang biasa digunakan (ambroxol): http://www.idionline.org/wp-content/uploads/2016/04/SURAT-KE-IDI-DAN-DDL-B-POM.pdf

Muntah dan Diare yang Menyeramkan

Selain sariawan, satu lagi penyakit anak yang saya takuti adalah diare. Bagaimana tidak, Fathia sehari-hari saja masih butuh trik untuk bisa makan dengan baik, kalau diare kan lebih perlu perjuangan lagi. Tiga tahun pertamanya alhamdulillah terlewati tanpa infeksi pencernaan yang konon menjadi penyakit langganan anak-anak ini. Tapi November 2015 saya ‘dipaksa’ membuka dan membaca lagi dengan lebih saksama segala bekal terkait diare dan muntah atau gastroenteritis ini.

img_20160704_194310.jpg

Kasus yang ini lebih banyak muntah, sih. Diare hanya datang di dua hari terakhir, itu pun ‘hanya’ dua-tiga kali dalam sehari dengan konsistensi pup yang agak encer, tidak benar-benar cair (lebaran kemarin barulah kejadian yang betul-betul nyaris hanya air, tapi alhamdulillah juga tak sampai 5x/hari dan tidak tiap hari dalam satu minggu). Muntah ini sebetulnya tantangan juga karena harus berlomba dengan upaya rehidrasi. Jangan sampai anak kekurangan cairan, kan? Saat itu saya masih menggunakan oralit/cairan rehidrasi oral dalam bentuk bubuk yang dilarutkan dalam air, kalau CRO siap minum (untuk anak, ada merk Pedialyte) baru kami coba saat kejadian waktu mudik. Selama bisa beli, ya pilih pakai oralit/pharolit/sejenisnya yang takaran komposisinya sudah pas, larutan gula garam hanya untuk kondisi darurat.

Continue reading

Rokok, si Kebutuhan Pokok

garis kemiskinan I

Beberapa waktu yang lalu saya menyusun sebuah laporan dalam rangka pekerjaan, dan salah satu data yang harus saya kutip cukup membuat tercengang. Ternyata rokok adalah bahan pokok kedua penyumbang Garis Kemiskinan masyarakat terbesar, hanya kalah oleh beras. Pengeluaran untuk daging, susu, ikan kembung, dan telur berada di bawah rokok. Saya jadi ingat tulisan seorang dokter anak yang cukup populer karena rajin memberikan edukasi lewat media sosial, kata beliau rokok bisa menyebabkan anak jadi anemia. Pasalnya, uang yang seharusnya bisa digunakan untuk membeli daging merah (salah satu sumber zat besi yang paling mudah diserap) guna mencegah anemia malah dialokasikan untuk belanja rokok. (Masakan) dagingnya bisa untuk seisi rumah, pula. Tidak harus daging juga sebetulnya (yang harganya mungkin dianggap kemahalan), kalau dikonversi ke telur, ikan, sayur-sayuran, juga sudah lumayan, kan? Bandingkan dengan rokok yang hanya bisa ‘dinikmati’ oleh si pengisap, sedangkan penghuni rumah yang lain ‘menikmati’ efek sebagai perokok pasif bahkan bagi yang hanya menjadi third hand smoker.

BPS sendiri sudah memuat tulisan khusus mengenai hal ini. Tentu saja, ada yang membela dengan menyebutkan bahwa posisi itu diraih bukan karena segitu fanatiknya orang Indonesia pada rokok melainkan ada penyebab lain, tapi saya enggan mengutipnya di sini, dan saya tidak minta maaf untuk itu :D. Tapi saya masih tidak enggan mendoakan, semoga makin banyak yang menyadari dampak negatif rokok, dan berusaha menjauhinya.

(aslinya mau ditulis dekat-dekat Hari Anti Tembakau Internasional 31 Mei, tapi telat banget :D).

Tambahan:

Saat menyusun tugas tersebut saya juga sempat bertanya-tanya kenapa ada ikan kembung di situ. Kenapa bukan ikan lain? Saya tanyakan pada seorang kawan di BPS dan jawabannya seperti ini (sekaligus menjawab juga kenapa rokok bisa masuk penyumbang kemiskinan ya):

wp-1466632213626.jpegKarena ikan kembung termasuk dalam paket komoditas yang ada dalam diagram timbang. Penentuan satu komoditas masuk ke dalam paket komoditas berdasarkan hasil Survei Biaya Hidup (SBH). SBH merupakan survei dengan unit penelitiannya adalah rumah tangga. Pertanyaannya tentang konsumsi rumah tangga dan seluruh anggota rumah tangga. Satu responden dikunjungi selama 3 bulan berturut-turut untuk menjaring seluruh komoditas yang dikonsumsi. Dari seluruh komoditas yang dikonsumsi secara nasional, maka akan diurutkan berdasarkan bobotnya. Komoditas dengan bobot di atas 20% akan dimasukkan dalam paket komoditas tadi. Jadi, si kembung tadi merupakan komoditas dengan bobot besar karena dikonsumsi oleh sebagian besar rumah tangga di seluruh Indonesia, karena harga relatif stabil dan mudah diperoleh. Jadi kalau si kembung ini harganya naik, maka akan berpengaruh terhadap kemiskinan di Indonesia.

Oh ya, biasanya rokok dikonsumsi dengan alasan supaya nggak stres. Benarkah? Coba baca ini ya…
http://health.kompas.com/read/2015/02/28/161000223/Ternyata.Merokok.Tak.Hilangkan.Stres

“Apa yang dialami ketika kita menyalakan rokok adalah tanda awal dari gejala ketagihan. Dan, gejala-gejala itu sangat mirip dengan stres. Merokok akan menghilangkan gejala itu dan jika kita merasa lebih baik, sebenarnya itu adalah gejala awal ketagihan nikotin,” kata Mike Knapton dari British Heart Foundation.

Dengan kata lain, jika kita mengira merokok bisa mengendalikan stres, sebenarnya adalah rokok justru memperburuk.

Penelitian tersebut dilakukan tim dari University College London dan British Heart Foundation dengan melibatkan 6.500 orang berusia di atas 40 tahun. Diketahui bahwa lebih dari 18 persen perokok dalam studi tersebut melaporkan memiliki kecemasan dan depresi, dibandingkan dengan 10 persen pada nonperokok dan 11,3 persen pada mantan perokok.

“Rasa high yang kita dapatkan dari rokok tidak berguna karena justru merusak tubuh. Banyak cara lain untuk mengatasi stres, misalnya bicara dengan teman, berolahraga, atau memasak. Lakukan hobi yang disukai sehingga mood lebih baik,” kata Michael Roizen, pakar wellness dari Cleveland Clinic’s.

[Kliping] MPASI Instan vs Homemade, Catatan Mba Monik

Sumber: Notes mba Fatimah Berliana Monika Purba, konselor laktasi dari La Leche League https://id-id.facebook.com/notes/fatimah-berliana-monika-purba/mpasi-instan-vs-mpasi-homemade-1-5-awal-mulaanemia-defisiensi-besifood-is-more-t/10203526686033649/ (bisa lihat di sini selengkapnya plus foto/grafik terkait). Panjaaang memang, tapi sangat berharga dibaca :).

MPASI Instan vs MPASI Homemade 1-5 (Awal Mula, Anemia Defisiensi Besi, Food is MORE THAN Just Nutrition, MPASI)

Weekend selain saatnya santai, beristirahat, berkumpul dengan anggota keluarga juga saatnya baca-baca, belajar segala hal termasuk asupan terbaik untuk anak sejak dilahirkan. Baru sempat memasukkan 5 tulisan saya ke dalam Notes. Untuk melihat comments2 yang masuk, di akhir Note saya berikan link2 tiap bagiannya. Tulisan panjang ini dibaca pelan2 ya, jangan ambil kesimpulan terburu2 hanya dari 1 bagian saja. So.. happy reading :).
MPASI INSTAN vs MPASI HOMEMADE

Beberapa kali saya dimintai pendapat mengenai pemberian MPASI Instan pada bayi. Sama seperti ketika saya ditanya mengenai Susu Formula (SuFor) vs ASI, tidak pernah saya menjawab atau melarang pemberian MPASI instan atau sufor secara langsung. Saya minta yang bertanya membaca dulu, mendiskusikan, sehingga ketika mengambil keputusan sudah ada dasarnya.

Kenapa akhir-akhir ini ramai kembali mengenai MPASI Instant vs homemade? Karena belum lama ini para dokter dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) memberikan rekomendasi pemberian MPASI Instan Fortifikasi (kutipannya ada di dalam tulisan ini). Mengenai Rekomendasi IDAI mengenai pemberian MPASI Instan, sebelum saya buru-buru mengeluarkan statement pribadi yang menyatakan tidak setuju (siapalah saya…) dan berpikiran buruk bahwa adanya konflik kepentingan yang mendasari rekomendasi tersebut (walaupun misalnya nanti hasil penelitian khusus di Indonesia dikeluarkan dan mendukung rekomendasi pemberian MPASI Instan), mari simak banyak hal yang akan saya tulis (bakal panjang pastinya) di bawah ini.

Adalah hak anak sejak dilahirkan untuk mendapatkan perawatan dan perlindungan kesehatan yang terbaik. Konvensi hak anak dunia article 24 menyatakan bahwa anak berhak untuk mendapatkan makanan bergizi yang mencukupi serta air bersih. Pada akhirnya, pesan yang selalu saya ulang-ulang, yuk jadi Smart parents, yuk belajar belajar belajar supaya bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita.
Bagian 1. Rekomendasi IDAI pemberian MPASI Instan Difortifikasi

Di bawah ini adalah 2 sumber yang saya punya mengenai rekomendasi IDAI pemberian MPASI Instan Difortifikasi. Saya sudah coba cari apakah ada artikel terkai di web site resmi IDAI (idai.or.id) tidak ada/belum ketemu (boleh saling share siapa tau ada yang punya linknya).

    1. MPASI Difortifikasi Bisa Cegah Bayi Kurang Zat Besi?

““Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nutrisi dan Penyakit Metabolik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Damayanti Rusli Syarif, Sp.A(K): Sebagian orangtua memilih makanan dari bahan alami, yang diyakini lebih aman, namun sebenarnya kebutuhan zat besi tidak terpenuhi.

“Saat bayi mulai MPASI, orangtua banyak memberikan pisang, zat besinya hanya 0,31 mg, atau tepung beras dengan zat besi 0,1 mg. Sedangkan MPASI yang difortifikasi zat besinya 2,26 . Makanan bayi pabrikan dianggap sama dengan makanan pabrikan dengan orang dewasa. Padahal MPASI fortifikasi diproduksi sesuai aturan WHO dan diawasi oleh WHO dalam pembuatannya. Kalaupun ada zat aditif, seperti garam dan gula, ada aturannya, tidak boleh berlebihan. Pastikan saja makanan fortifikasi seperti bubur dan biskuit tersebut punya izin BPOM, baca labelnya dengan baik,” terangnya.” . Saya hanya kutip bagian-bagian pentingnya, selengkapnya bisa baca:

http://health.kompas.com/read/2013/11/21/2031266/MPASI.Difortifikasi.Bisa.Cegah.Bayi.Kurang.Zat.Besi

 

2. Simposium & Workshop UKK Nutrisi & Metabolik IDAI tentang Infant Feeding Practice

Makanan pendamping instant (commercial)

Dahulu, WHO dan UNICEF lebih menekankan pemberian MPASI yang dibuat sendiri di rumah daripada makanan instan yang diproduksi massal. Namun setelah dilakukan banyak penelitian klinis, ternyata banyak bayi  tidak memperoleh zat nutrien yang adekuat sesuai dengan yang seharusnya didapatkan bayi.

Untuk itu WHO/UNICEF mengeluarkan Global Strategy for Infant and Young Child Feeding dan mengumumkan bahwa makanan tambahan yang diproses oleh industri makanan dapat digunakan sebagai pilihan para ibu dalam memberikan makanan tambahan yang mudah disiapkan, mencukupi kebutuhan nutrisi dan aman. Makanan tersebut sudah diperkaya dengan tambahan suplemen yang menjamin kecukupan mikronutrien bayi. 

Pembuatan makanan diatur oleh  The Codex Alimentarius Commission, yaitu lembaga yang dibuat oleh FAO dan WHO (1963) yang mengatur standar pembuatan makanan dan menjamin keamanan termasuk cara membuat, promosi dan transportasi dan dilindungi oleh pemerintah internasional. The Codex Alimentarius mengatur bahwa makanan bayi yang diproduksi massal tidak boleh menggunakan pengawet dan zat aditif yang berbahaya. Yang perlu diperhatikan saat membeli adalah tanggal kadaluarsa yang masih jauh, kemasan masih tersegel, warna dan bentuk makanan tidak berubah atau menggumpal.  Di pasaran beredar Nestle Cerelac, Milna, Promina, dll yang sudah difortifikasi vitamin mineral sesuai standar Codex Alimentarius Internasional, tidak memakai pengawet dan zat aditif berbahaya. Jadi simpulannya aman. MPASI yang tidak difortifikasi seperti GERBER, tepung Gasol (hanya berupa tepung-tepungan biasa  dari sumber pisang, ketela, dll) yang tidak difortifikasi, tidak dianjurkan. (Simposium & Workshop UKK Nutrisi & Metabolik IDAI tentang Infant Feeding Practice – Dr. dr. Damayanti Roesli Sjarif, Sp.A.(K), dr. Sri Nasar, Sp.A.(K), dr. Gusti Lanang, Sp.A.).

Catatan: Sejak 2011-sekarang, UKK (Unit Kerja Koordinasi) Nutrisi dan Metabolik IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) mengadakan roadshow ke seluruh Indonesia, mengadakan simposium dan workshop pada seluruh SpA (dokter spesialis anak) dan dokter umum tentang Nutrisi & Kesulitan makan pada anak, policy lama yang berpihak pada MPASI home-made kini mulai beralih ke MP ASI instan pabrik agar masa depan anak Indonesia cerdas, tidak kekurangan nutrisi mikro yang sulit dipenuhi dengan MP ASI home-made.
Bagian 2 : Anemia Defisiensi Besi (ADB)

Perhatian pada masalah malnutrisi mikronutrien meningkat dengan pesat di tahun-tahun terakhir ini. Salah satu alasan utamanya karena hal ini telah menjadi masalah global. Diperkirakan sebanyak 2 miliar manusia di dunia mengalami kekurangan mikronutrien yang sebab utamanya konsumsi makanan yang kurang vitamin & mineral. Kemiskinan, kurangnya akses untuk mendapat berbagai makanan bervariasi, kurangnya pengetahuan mengenai gizi/nutrisi yang baik serta tingginya penyakit infeksi merupakan faktor kunci.

Tahun 2000, WHO menyatakan bahwa kekurangan mikronutrien seperti zat besi, vitamin A dan yodium telah menjadi faktor pemicu masalah kesehatan yang sangat serius di dunia, misalnya berkurangnya kemampuan tubuh untuk melawan penyakit, kelainan metabolis, dan terlambat/terhambatnya perkembangan fisik dan psikomotor.

Menurut IDAI, angka kejadian penderita Anemia Defisiensi Besi (ADB) pada anak balita di Indonesia sekitar 40-45%. Survai Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan prevalensi (angka keterjadian) ADB pada bayi 0-6 bulan adalah 61,3%, bayi 6-12 bulan 64,8%, dan anak balita sebesar 48,1%. Besar sekali tentunya. Nah bagaimana data terakhir? Saya ambil dari laporan Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) Kemenkes tahun 2007 yang sayangnya tidak ada data detil seperti SKRT. Menurut Riskesdas 2007, penderita ADB kelompok usia 1-4 tahun sebesar 27,7%, sementara menurut data Riskesdas terbaru (2013), penderita ADB kelompok usia 12-59 bulan/1-5 tahun sebesar 28,1% .

Bisa dilihat dalam gambar grafik batang di bawah ini kebutuhan zat besi bayi 0 – 23 bulan.

Bayi baru lahir membutuhkan asupan zat besi 0,27 mg/hari. Setelah umur 6 bulan kebutuhan asupan zat besi bayi meningkat pesat menjadi 11 mg/hari. Dan usia 1-3 tahun sebesar 7 mg/hari. Maka saat inilah (usia 6 bulan) waktu yang penting bagi bayi untuk mendapatkan makanan lain selain dari ASI. Hal ini sudah saya tulis di tulisan saya berjudul Bahaya Pemberian MPASI Dini & Menundanya:
http://theurbanmama.com/articles/bahaya-pemberian-mpasi-dini-menundanya.html

Untuk yang ingin mempelajari lebih lanjut mengenai ADB silahkan baca di  http://milissehat.web.id/?p=1923

Mengenai rekomendasi pemberian suplementasi besi pada bayi lahir cukup bulan tidak BBLR (Berat Badan Lahir Rendah <2,5kg), baik IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) maupun AAP (American Academy of Pediatrics) sepakat agar dimulai saat bayi lahir cukup bulan berusia 4 bulan. Perbedaannya, IDAI menganjurkan bahwa suplementasi terus dilanjutkan sampai usia 2 tahun, sementara AAP menganjurkan usia 4-6 bulan saja dan dilanjutkan pemberian MPASI kaya zat besi (akan saya bahas berikutnya). Juga perbedaan dosis. IDAI menyarankan dosis 2mg/kg BB/hari sementara AAP 1mg/kg BB/hari. Tambahannya IDAI menurunkan dosis menjadi 1mg/kgBB/hari pada usia 2-5tahun.
Perbedaan kedua adalah mengenai anjuran pemeriksaan status Hb anak. AAP dan CDC di Amerika Serikat menganjurkan pemeriksaan hemoglobin (Hb) dan hematokrit (Ht) setidaknya satu kali pada usia 9-12 bulan dan diulang 6 bulan kemudian pada usia 15-18 bulan atau pemeriksaan tambahan setiap 1 tahun sekali pada usia 2-5 tahun. Sementara Rekomendasi IDAI adalah pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) dilakukan mulai usia 2 tahun dan selanjutnya setiap tahun sampai usia remaja.

Bagi saya pribadi deteksi dini tentu jauh lebih baik, jadi saya mengikuti rekomendasi AAP untuk pemeriksaan yang pertama kali  maksimal saat bayi berusia 1 tahun, kemudian bila ada dana berlebih melakukan pemeriksaan ADB lengkap, tidak hanya Hb dan Ht tapi juga status besi dalam tubuh dan hal-hal lainnya (Serum Ion, Ferritin, dll) sesuai kutipan dari AAP berikut “the deficiency won’t always be detected with a simple hemoglobin test.” Tentu saja orang tua tidak perlu menunda bila pada bayi atau anak terdapat tanda-tanda menderita ADB seperti pucat, lesu, nafsu makan menurun, dan berat badan tidak/sulit bertambah (penting ya untuk selalu plot ke GC/Growth Chart setiap kunjungan pemeriksaan kesehatan bayi, yang belum paham mengenai pentinganya paham GC bisa pelajari tulisan saya: http://theurbanmama.com/articles/growth-chart.html).

Ada hal-hal lain yang mempengaruhi berapa banyak zat besi yang dibawa bayi saat lahir:

1. Apakah Ibu saat hamil menderita Anemia Defisiensi Besi (ADB) atau tidak.

Ibu hamil yang menderita ADB berisiko melahirkan bayi prematur, bayi dengan BBLR (Berat Badan Lahir Rendah), dan masalah kesehatan bayi di kemudian hari. Selain itu, bayi yang lahir dari Ibu penderita ADB memiliki cadangan besi yang lebih sedikit, maka bayi tersebut berisiko menderita ADB juga.

2. Penundaan pemotongan tali pusat bayi baru lahir (Delayed Umbilical Cord Clamping).

Penelitian-penelitian terbaru memberikan evidence/bukti bahwa pelaksanaan penundaan pemotongan tali pusat bayi baru lahir meningkatkan cadangan besi pada badan bayi. Berdasarkan penelitian RCT yang di-publish BMJ Nov 2011, bayi-bayi yang ditunda pemotongan tali pusatnya >=3 menit dibandingkan dengan bayi-bayi yang dipotong tali pusatnya <10 detik, pada usia 4 bulan status besinya (Ferritin) lebih tinggi dan risiko menderita ADB berkurang.

Sampai saat ini riset-riset masih terus dikembangkan untuk mendapatkan waktu optimal pemotongan tali pusat ini (penelitian lain menyatakan =>1 menit penundaan pun sudah bermanfaat), dan perhatikan faktor-faktor risiko lain terutama kondisi ibu & bayi setelah kelahiran.

Keypoint Bagian 2:

1. +- 2 miliar manusia di dunia mengalami kekurangan mikronutrien yang sebab utamanya konsumsi makanan yang kurang vitamin & mineral. Faktor kunci: Kemiskinan, kurangnya akses untuk mendapat berbagai makanan bervariasi, kurangnya pengetahuan mengenai gizi/nutrisi yang baik serta tingginya penyakit infeksi.

2. Anjuran pemberian suplementasi besi IDAI (4 bulan – 2 tahun) vs AAP (4-6 bulan lanjut MPASI kaya zat besi).

3. Anjuranscreening atau pemeriksaan ADB (Anemia Defisiensi Besi). IDAI: 2 tahun. AAP: 9-12 bulan. Saya: deteksi dini LEBIH baik, paket lengkap Screening ADB bila ada dana lebih. Jangan tunda bila pada bayi/anak jelas tampak gejala-gejala ADB.

4. 2 hal lain yang mempengaruhi status besi/cadangan besi dalam tubuh bayi: Kondisi ibu saat hamil (menderita ADB/tidak) dan penundaan pemotongan tali pusat bayi baru lahir (Delayed Umbilical Cord Clamping).
Bagian 3. Food is MORE THAN Just Nutrition = Makanan Tidak Hanya Sekadar Untuk memenuhi kebutuhan Nutrisi atau Gizi

Sebelum saya masuk membahas mengenai MPASI, saya akan membahas sedikit mengenai hal umum mengenai nutrisi (mohon dikoreksi kalau ada kesalahan pemahaman berhubung saya bukan ahli gizi).

Para nutritionist, dietitian & dokter di sini (Amerika Serikat) sedang mengkampanyekan agar para Ibu -khususnya- KEMBALI ke dapur, MEMASAK whole foods untuk anggota keluarganya, terutama bayinya, meninggalkan junk foods atau makanan instan lainnya. Begitu pula di UK, Pemerintah UK menyatakan: Usahakanlah memberikan makanan yang dimasak di rumah (home cooking) dibandingkan memberikan makanan bayi kemasan.

Bahkan Michelle Obama membuat kampanye-kampanye menarik kembali pada memilih makanan sehat dan makan bersama di keluarga, selain kampanye minum air putih (dibanding minum susu berlebihan, soda, jus kemasan, sirup) serta kampanye berolahraga.

Video kampanyenya bisa dilihat di Kampanye Let’s Move ini :

http://www.youtube.com/watch?v=2oBeuSCfGeg

Saya mengambil online course mengenai Nutrisi dari Stanford University, di mana banyak hal dibahas secara menarik. Salah satunya adalah topik mengenai Food is MORE THAN Just Nutrition.

Sepertinya gambar 4 sudah cukup jelas ya,  pada bagian kiri merupakan:

Pengelompokan Zat Gizi atau Nutrients.

Menurut kebutuhan manusia, terbagi dalam dua golongan besar yaitu makronutrien dan mikronutrien.

    1. Makronutrien adalah zat gizi yang diperlukan dalam jumlah besar dalam tubuh yang menghasilkan energi. Merupakan komponen terbesar dari susunan diet, berfungsi untuk mensupplai energi dan zat-zat esensial (pertumbuhan sel/ jaringan), pemeliharaan aktivitas tubuh.

Yang termasuk zat makronutrien adalah karbohidrat/hidrat arang, lemak, dan protein. Pasti semua sudah tahu jenis-jenis bahan makanan apa saja yang kaya kandungan karbohidrat, lemak, dan protein ya, jadi tidak saya sebutkan lagi, karena fokus saya adalah membahas salah satu mikronutrien yaitu iron/zat besi.

2. Mikronutrien adalah zat gizi yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit tapi penting.

Golongan mikronutrien terdiri dari vitamin dan mineral. Vitamin juga terbagi 2 jenis yaitu larut dalam lemak dan dalam air. Vitamin yang termasuk dalam kelompok larut dalam lemak adalah vitamin A, D, E, dan K. Normalnya, tubuh dapat menyimpan vitamin jenis ini (terdapat batasan untuk vitamin E dan K). Oleh sebab itu, asupan vitamin larut lemak setiap hari bukan keharusan. Sementara Vitamin yang larut dalam  air adalah vitamin C dan kelompok vitamin B. Karena larut dalam air, vitamin ini tidak tersimpan dalam tubuh. Kelebihannya akan dikeluarkan melalui urine.

Golongan mikronutrien yang kedua adalah mineral seperti kalsium, zat besi, yodium, fosfor, magnesium, zinc.

Kemudian selain makronutrien & mikronutrien, penting juga memperhatikan:

3. Fiber/serat. Dari semua asupan makanan kita, penting untuk menjaga kuantitas fiber/serat. Serat sangat penting untuk pengeluaran buang air besar (mencegah sembelit, wasir), mengurangi risiko penyakit jantung koroner, menjaga kadar gula darah tetap normal, dll.

Untuk anak 1-3 tahun kebutuhan seratnya 19 gr/hari. Bahkan dalam panduan gizi terbaru – My Food Plate Amerika serikat yang juga gencar dikampanyekan Michelle Obama, dalam satu piring, separuhnya adalah sayur dan buah. Dasar pertimbangannya karena tingginya penderita obesitas/kegemukan yang sudah terjadi sejak anak-anak.

4. Air bersih. Tersedianya air bersih merupakan salah satu komponen penting dalam menyediakan MPASI yang baik. Hal ini karena air adalah hal penting dalam persiapan makanan yang higienis, pencucian tangan dll sangat penting dalam mencegah penularan infeksi.

Bagian kiri sudah selesai saya bahas, nah yang sekarang sedang dikampanyekan adalah bagian yang kanan, yaitu Fungsi Sosial dari makanan. Ada 4 aspek yaitu: Komunikasi, hubungan sosial, kesehatan emosi, dan sejarah atau tradisi.

Jadi selain kampanye kembali memasak, juga kampanye agar para keluarga menghidupkan kembali kebiasaan Family Time is (salah satunya) Meal Time. Sejak bayi mulai diberikan MPASI, orang tua menekankan pentingnya nikmat & nyaman saat makan, tentu saja bukan hanya karena rasa makanan yang enak dan keahlian memasak orang tua (yang utama ibu), tapi juga perhatian, kedekatan dan kasih sayang di dalamnya yang sudah dicurahkan sejak ibu memasak.

Ketika manusia makan bersama, hormon oksitosinnya meningkat, proses pencernaan dan metabolisme makanan juga menjadi lebih efektif. Kebahagiaan dan kegembiraan anggota keluarga yang dimulai saat menyiapkan makanan adalah sangat penting. Menyusui adalah hal menyenangkan bagi bayi, jadi begitu pula dengan makan. Jadi jangan dibuat: Meal Time is Battle Time.

Harap diingat, ketika sedang makan bersama, fokuskan perhatian pada seluruh anggota keluarga, bukan sibuk masing-masing. Oleh karena itu, salah satu kebiasaan yang saya bangun sejak dini di keluarga saya adalah ketika makan tidak ada TV, komputer, Ipad, smartphone yang nyala di area makan. Jangan seperti contoh gambar 5 ya, ini mah sama aja bukan makan bersama yang saya sebutkan di atas :).

Keypoint Bagian 3:

1.      Negara-negara maju seperti US & UK gencar mengkampanyekan agar para Ibu -khususnya- KEMBALI ke dapur, MEMASAK whole foods untuk anggota keluarganya, terutama bayinya, meninggalkan junk foods atau makanan instan lainnya.

2. Food sebagai Nutrisi. Terbagi atas: Makronutrien: karbohidrat, protein, lemak. Mikronutrien: vitamin & mineral (zat besi termasuk dalam golongan mineral), fiber/serat, air bersih.

3.      Food is MORE than Nutrition – only : Komunikasi, hubungan sosial, kesehatan emosi dan sejarah/tradisi. Family time salah satunya meal time.

4.      Ketika manusia makan bersama, hormon oksitosinnya meningkat , proses pencernaan dan metabolisme makanan juga menjadi lebih efektif.
Bagian 4: Serba-Serbi MPASI, dengan fokus pada kandungan zat besi MPASI

Ilmu mengenai MPASI sangat penting untuk dikuasai para ibu jauh-jauh hari SEBELUM MPASI dimulai. Supaya ibu paham serba-serbi MPASI yang dimulai sejak dari penyiapan hingga pemberiannya pada bayi. Harap diingat MPASI adalah Makanan Pendamping ASI atau complementary food, jadi ibu perlu paham seberapa banyak pemberian porsi MPASI sesuai usia bayi.

ASI adalah asupan utama bayi HINGGA bayi berusia 1 tahun.  Karena, sering terjadi porsi MPASI melebihi kapasitas yang seharusnya diterima bayi, sehingga MPASI bukannya menjadi makanan pendamping ASI tapi menjadi Pengganti ASI/Breastmilk Substitutes. Salah pemberian menu MPASI yang miskin gizi juga dapat membuat bayi kenyang lebih lama dan malas menyusu, contohnya Ibu terlalu banyak memberikan jus buah, kuah sup, dll. Selain itu, “ajaran” turun-temurun dan mitos-mitos yang salah mengenai MPASI, misalnya pemberian protein hewani paling cepat di usia 8-9 bulan, padahal pemberian MPASI kaya zat besi dimulai sesegera mungkin saat MPASI dimulai.

Mengutip dari AAP :

One recommendation may change the order in which solid foods are introduced. Traditionally, iron-rich meat is the last food introduced to infants, preceded by cereal, fruits and vegetables. This sequence, however, has not been scientifically tested. Dr. Baker said that food order should be reversed. Red meat and vegetables with higher iron content should be introduced into the baby’s diet early on, perhaps at 6 months of age.”
Prinsip Dasar MPASI menurut IYCF WHO & UNICEF

Prinsip dasar utama MPASI adalah: Age, Frequency, Amount, Texture, Variety, Active/Responsive dan Hygiene. Agar gampang diingat kita singkat jadi AFATVAH.

    1. Age / Usia

Pemberian MPASI dimulai saat usia 6 bulan, alasannya sudah saya berikan link tulisan saya sebelumnya (Bahaya Pemberian MPASI Dini dan Menundanya http://theurbanmama.com/articles/bahaya-pemberian-mpasi-dini-menundanya.html).

2. Frekuensi

Mengenai Frekuensi, ada perbedaan mengenai Frekuensi berdasarkan sumber dari Guiding Principle of Complementary Feeding WHO vs UNICEF. Berdasarkan Guiding Principle of Complementary Feeding WHO, Frekuensi Pemberian MPASI sbb:

Usia 6-8 bulan: 2-3 kali per hari

Usia 9-11 bulan: 3-4 kali per hari

Usia 1 tahun – 2 tahun: 3-4 kali per hari dengan tambahan snack 1-2 kali per hari sesuai keinginan bayi (snack yang dianjurkan bisa potongan buah, roti, dll).

Sementara panduan UNICEF & IYCF sbb:

Usia 6 bulan (saat mulai MPASI): 2-3 x

Usia 6-9 bulan: 2-3 x , dapat ditawarkan snack 1-2 x

>9 bulan: 3-4 x , dengan snack 1-2 x

Jadi perbedaannya pada pemberian snack, di anjuran Guiding Principle of Complementary Feeding WHO tidak ada penawaran snack sebelum usia 1 tahun, mengacu pada penjelasan sebelumnya bahwa ASI adalah yang utama hingga bayi usia setahun, maka penawaran snack maka akan mengurangi frekuensi menyusu bayi.

Ada yang bertanya pada saya apakah pemberian jus buah baik untuk MPASI? Kembali ke prinsip bahwa hingga usia 1 tahun ASI yang utama, pemberian banyak cairan lain selain ASI dan apalagi diberikan saat seharusnya memberikan MPASI padat gizi berisiko untuk bayi. Bayi akan malas menyusu serta tidak didapatkan nutrisi yang mencukupi dari MPASI.
3. Amount/banyaknya makanan per penyajian.

Prinsipnya bertingkat, panduannya:

Usia 6 bulan saat baru mulai MPASI: 2-3 sendok makan (sdm)

Usia 6-9 bulan: tingkatkan bertahap hingga mencapai setengah mangkuk kapasitas 250ml

Usia 9-12 bulan: setengah mangkuk kapasitas 250ml

Usia 1tahun – 2 tahun: ¾ hingga 1 mangkuk kapasitas 250 ml

4. Texture/tekstur MPASI.

Prinsipnya sama dengan Amount, yaitu berikan bertahap, hati2 jangan terlalu cepat/memaksa dan juga jangan terlambat naik tekstur.

Usia 6 bulan saat baru mulai MPASI : bubur kental

Usia 6-9 bulan: bubur kental/puree, bertahap naik ke tim saring, dan pengenalan finger food di usia 8-9 bulan

Usia 9-12 bulan: Makanan cincang halus, nasi tim tanpa disaring, finger food

Usia > 1 tahun: Table food/makanan keluarga, jangan lupa bahan makanan tertentu tetap dipotong kecil-kecil/dicincang seperti daging.

5. Variety/Keragaman jenis makanan
Nah, poin ini sangat penting apalagi sehubungan dengan fokus pembahasan tulisan ini mengenai kekurangan micronutrient seperti zat besi.

Kenapa harus beragam? Karena setiap bahan makanan tidak akan memberikan kandungan gizi sempurna yang dibutuhkan tubuh, jadi dalam setiap porsi makanan berikan makanan yang bervariasi ( khusus pada kandungan zat besi akan dibahas terpisah mengenai jenis makanan heme dan non heme, enhancer/yang membantu penyerapan dan inhibitor/yang menghambat penyerapannya) .

Mengenai 4 days rule, saya pribadi merasa tidak perlu saklek ya. Yang utama perhatikan riwayat alergi makanan di keluarga terutama Ayah Ibu. Kemudian kenalkan bahan makanan tunggal di awal, bila sehari 2 hari tidak ada masalah ya segera kenalkan bahan makanan lainnya. Sangat baik Ibu memiliki Food Diary dan ditaruh di kulkas/yang terjangkau sehingga bila bukan Ibu yang menyiapkan, panduannya do’s and don’ts nya ada. Penekanan mengenai bahan makanan kaya zat besi juga perlu diperhatikan ya, salah satu efeknya bayi bisa sembelit bila bayi mendapatkan zat besi terlalu banyak (apalagi bila bayi pun masih menerima suplementasi zat besi).
6. ACTIVE/RESPONSIVE.

Pembentukan pola makan yang baik dimulai sedini mungkin, sebagian sudah saya tulis di bagian 3: Food is more than nutrition.  Ketika bayi GTM, cari penyebabnya dan atasi seperti mencoba menu lain, perhatikan apakah bayi merasa dipaksa makan, suasana makan tidak nyaman atau malah bayi terbiasa digendong jalan-jalan di keramaian yang membuat bayi terganggu (tidak jarang anak disuapi sambil lari-lari dan bermain dan merasa tidak sedang makan).

Mengenai pros dan cons metoda BLW (Baby Led Weaning) sudah pernah saya tulis :

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10202846830877695&set=pb.1409280466.-2207520000.1393112844.&type=3&theater

Quote:

Terdapat kekhawatiran bahwa Metoda BLW dapat menyebabkan bayi:

    1. Tidak mendapatkan cukup zat besi
    1. Beresiko lebih besar untuk tersedak (choked, bukan hanya gag ya, ada penelitiannya di comments di link di atas)
    1. Tidak mendapat cukup makanan untuk tumbuh dengan baik

7. Hygiene

Mengenai higinitas sudah saya singgung sedikit di atas, termasuk tersedianya akses akan air bersih untuk cuci tangan, persiapan, pemasakan, dan penyajian MPASI.

Jangan lupa pilih bahan makanan yang segar, tidak mengandung bahan toksik & berbahaya, perhatikan juga penyimpanan makanan dan bahan makanan, serta proses memasak yang benar sesuai jenis bahan makanannya. Misal sayur tidak dimasak terlalu lama, daging dipastikan masak dengan suhu yang tepat hingga matang, dll.

Mungkin tertarik baca soal Toksoplasma (ada sedikit pembahasan mengenai memasak daging di tulisan saya ini :

http://pranikah.org/pranikah/kenal-lebih-dekat-dengan-toksoplasma/)
Seputar kandungan zat besi dalam makanan

Zat besi adalah salah satu mineral yang fungsinya sangat vital bagi tubuh mansia.  Zat besi berperan dalam proses pembentukan hemoglobin (hemoglobin adalah protein di sel darah merah yang membawa oksigen). Hampir 2/3 zat besi dalam tubuh terdapat di dalam hemoglobin. Zat besi dalam jumlah kecil terdapat di myoglobin (myoglobin adalah protein yang mensupplai oksigen ke otot).

Ada 2 jenis zat besi dalam makanan, yaitu heme iron dan non heme iron.

Heme iron dapat ditemukan dalam daging yang secara asalnya mengandung hemoglobin seperti daging merah, ikan, dan unggas. Sementara non heme iron banyak ditemukan pada tanaman (buah dan sayur).

Bisakah hanya mengejar kebutuhan zat besi dari non heme iron saja? Tidak, karena zat besi dalam non-heme iron hanya sedikit diserap tubuh (1-15%) dibandingkan dengan heme iron yang dapat mencapai penyerapan sebesar 15-40%. Jangan lupa banyak faktor yang mempengaruhi penyerapan seperti status kadar besi dalam tubuh seseorang, juga makanan yang berfungsi sebagai enhancer (membantu penyerapan) atau inhibitor (menghambat penyerapan) yang akan saya jelaskan sedikit setelah daftar bahan makanan heme dan non heme iron ini.

Daftar bahan makanan heme iron (saya pilih beberapa saja, tabel lengkap bisa buka link di daftar sumber) :

Berhubung saya tidak tampilkan dalam bentuk tabel, urutannya: nama makanan, miligram zat besi per penyajian, % DV/Daily Value. DV untuk zat besi 18 miligram (untuk bayi 6-12 bulan sudah disebutkan sebelumnya yaitu 11 miligram per hari). Bila DV kurang dari 5% artinya kandungan zat besinya rendah, DV 10-19% kandungannya baik dan DV >20% artinya kaya zat besi. 1 ounces = 1 oz = 28,35 gr.

  1. Hati ayam 3 oz – 11 mg – 61%
    1. Tiram 3 oz – 5,7 mg – 32%
  1. Hati sapi 3 oz – 52 mg – 29%
  1. Daging sapi tanpa lemak 3 oz – 3,1 mg – 17%
  1. Daging sapi giling sedikit lemak 3 oz – 2 mg – 11%
  1. Ikan tuna 3 oz – 1,3 mg – 9%
  1. Daging ayam 3 oz – 1,1 mg – 6%
  1. Udang 4 buah besar – 0,3 mg – 2%

Daftar bahan makanan non-heme iron

  1. Kacang kedelai 1 cup – 8,8 mg – 48%
  1. Lentil 1 cup – 6,6 mg – 37%
  1. Beans-golonga kacang2an 1 cup – 5,2 gr – 29%
  1. Tahu ½ cup – 3,4 mg – 19%
  1. Sayur bayam ½ cup – 3,2 mg – 18%
  1. Kismis tanpa biji ½ cup – 1,6 mg – 9%
  1. Roti putih 1 potong – 0,9 mg -5%
  1. Roti gandum 1 potong – 0,7 mg – 4% 

 Iron enhancers / Bahan makanan&hal2 yang membantu penyerapan zat besi

 a)      Vitamin C adalah enhancer yang paling baik (dan mudah didapat juga).

Kombinasikan pemberian makanan heme, non heme, dan Vitamin C. Misalnya daging sapi, sayur bayam dengan potongan tomat, jambu, kiwi, dll yang kaya vitamin C. Atau peras lemon/jeruk di atas potongan daging sapi/ayam/seafoodnya. Silahkan explore ya… Menu orang bule sejak turun-temurun banyak menggunakan perasan lemon di atas lauk pauknya yang ternyata kebiasaan yang tepat dan baik sekali.

b)   Proses fermentasi. Contohnya tempe.

c)   Memasak dalam panci/pan berbahan besi
 

Iron inhibitors / Penghambat penyerapan zat besi
 1. Senyawa phenolic/polifenol yang mengikat zat besi jadi mengurangi penyerapan zat besi dalam tubuh. Beberapa di antaranya adalah teh, kopi, cocoa, jadi sangat tidak disarankan bayi dan anak-anak minum 3 hal ini apalagi dalam jumlah berlebihan. Teh dapat mengurangi penyerapan zat besi hingga 60% sementara kopi mengurangi penyerapan zat besi hingga 40% selain itu membuat bayi berkurang frekuensi menyusunya. Beberapa rempah juga merupakan senyawa phenolic seperti oregano (bumbu pizza, pasta, dll). Juga segolongan sayuran seperti kacang panjang.

2. Kalsium. Segelas susu yang diminum saat makan dapat mengurangi penyerapan zat besi hingga 50%. Susu segar tidak boleh diberikan pada anak <1 tahun karena dapat menyebabkan masalah pada pencernaan (intestine bleeding). Selain itu terlalu banyak minum susu juga mengurangi nafsu makan, selain menyebabkan anak menderita ADB.

3. Pytates yang biasanya terdapat di cereal dan oat.
Key Point Bagian 4 :

  1. Porsi MPASI tidak boleh melebihi kapasitas yang seharusnya diterima bayi, sehingga MPASI bukannya menjadi Makanan pendamping ASI tapi menjadi Pengganti ASI/Breastmilk Substitutes. ASI yang UTAMA hingga bayi usia 1 tahun.
  1. Pemberian MPASI kaya zat besi dimulai sesegera mungkin saat MPASI dimulai.
  1. Prinsip dasar utama MPASI adalah: Age, Frequency, Amount, Texture, Variety, Active/Responsive dan Hygiene. Agar gampang diingat kita singkat jadi AFATVAH.
  1. Ada 2 jenis zat besi dalam makanan, yaitu heme iron dan non heme iron.

Heme iron dapat ditemukan dalam daging yang secara asalnya mengandung hemoglobin seperti daging merah, ikan, dan unggas. Sementara non heme iron banyak ditemukan pada tanaman (buah dan sayur).

  1. Zat besi dalam non-heme iron hanya sedikit diserap tubuh dibandingkan dengan heme iron yang dapat mencapai penyerapan sebesar 3x lipat lebih banyak dari non heme iron.

2. Padukan dengan Iron enhancers / Bahan makanan&hal2 yang membantu penyerapan zat besi

3. Hindari Iron inhibitors / Penghambat penyerapan zat besi

 

Bagian 5 : Seputar MPASI Instan

Ada yang pernah membandingkan rasa MPASI Instan dengan bahan2 aslinya? Contoh rasa pisang saja yang gampang.

Kebetulan saya pernah makan keduanya, bagi saya pribadi rasa alami tidak akan tergantikan dengan buatan. Manisnya berbeda, kalau mata saya tertutup dan pisang asli dibuat lumat vs makanan instan (bubur) rasa pisang, saya bisa tebak yang mana yang instan yang mana yang asli.
Begitu pula dalam hal rasa masakan. Saya tidak pernah memasak pakai MSG dan bumbu2 yang tajam, nah ketika saya pulang sebentar ke Indonesia, makan di restoran, saya rasa semua rasa makanannya “tajam”, banyak MSG nya, alhasil saya langsung pusing (saya sensitif sama MSG) dan ujung-ujungnya diare.

Menurut Gabrielle Palmer (nutritionist, breastfeeding counselor, former UK IBFAN), kecenderungan menyukai suatu rasa dibentuk sejak awal kehidupan dan cara pemberian makan awal bayi (MPASI) dapat membentuk bayi/anak menginginkan rasa yang terlalu manis, asin, makanan-minuman rendah nutrisi untuk jangka panjang.

Sepertinya sangat umum di sosial media Ibu2 yang mengeluh bayi/anaknya tidak mau lagi makan makanan homemade setelah sebelumnya terbiasa makan makanan instan.  Masih menurut Gabrielle, terdapat bukti/evidence bahwa anak2 yang tereskpose/mendapatkan beragam makanan sehat dan alami, di masa mendatang akan memilih sendiri makanan sehat seimbang yang memenuhi kebutuhan nutrisinya. Dan jangan lupa, bayi-anak adalah imitator/peniru, they see, they learn, they copy. Jadi konsep memberi makanan sehat adalah untuk seluruh keluarga, bukan hanya untuk bayi-anak2 saja. Bisa intip tulisan saya: 10 Tips Orang Tua Jadi Contoh Pola Makan Yang Baik & Sehat untuk anak2

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10202928886289029&set=pb.1409280466.-2207520000.1393179840.&type=3&theater.

Pernah dengar RUTF? RUTF adalah Ready To Use Therapeutic Food. RUTF ditemukan akhir tahun 1990. Produk makanan instan yang bisa masuk kategori RUTF adalah makanan yang padat vitamin dan mineral setara dengan F100 (Formula 100). F100 adalah produk susu therapeutic yang didesain khusus untuk mengobati malnutrisi berat. RUTF sangat berguna untuk mengobati kasus malnutrisi berat yang penderitanya memiliki akses terbatas ke sumber2 bahan makanan local untuk rehabilitasi nutrisinya. Yang jadi masalah, ketika RUTF diberikan pada bayi-anak yang tidak mengalami malnutrisi berat dan diberikan setiap hari (daily diet).

Berikut kutipan dari buku Palmer: “The Use of ready made food designed for the clinical rehabilitation of severe malnutrition SHOULD NOT become the daily diet just because political leaders neglect their basic duty to provide water, to support locally sustainable food system & communicate practical nutrition information.”

Nah tepat sekali kutipan di atas dengan suara hati saya. Kembali pada poin: Rekomendasi pemberian MPASI Instan difortifikasi. Apakah pemerintah Indonesia sudah melaksanakan kewajibannya:

    1. Menyediakan air bersih
  1. Mendukung sistem dan memberi kemudahan akses (termasuk harga terjangkau) mendapatkan bahan makanan lokal kaya nutrisi.
  1. Mengedukasi masyarakat mengenai nutrisi A to Z (sehingga masyarakat paham mengenai Nutrisi dari sejak pemilihan bahan, paham apa kandungannya, cara penyiapan hingga penyajian dan untuk MPASI mengikuti panduan AFATVAH yang sudah saya jelaskan sebelumnya)? Silakan menilai sendiri.

Saya ada menyinggung kampanye Michelle Obama mengenai kembali pada memasak – makanan rumahan, salah satu janji pemerintah US adalah:

Kemiskinan adalah faktor kunci terjadinya kasus malnutrisi, tapi jangan salah, anak-anak yang lahir besar di keluarga yang  mampu bahkan kaya juga dapat menerima nutrisi yang tidak tepat/tidak optimal. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan kemampuan ekonomi yang lebih baik bagi orang Eropa dan Amerika Selatan menghasilkan keluarga yang menerima asupan bervariasi dan memiliki kesehatan yang lebih baik dibandingkan dengan yang tingkat pendidikannya lebih rendah dan kemampuan ekonominya lebih lemah.

Pemberian RUTF/ready-to-use therapeutic foods yang digunakan saat kasus gawat darurat (malnutrisi berat) dapat memberikan konsekuensi negative di kondisi normal. Salah satu potensi bahayanya misalnya, bahan makanan lokal yang murah dapat terabaikan karena strategi pemasaran & iklan – promosi RUTF yang persuasif meyakinkan anggota keluarga bahwa makanan instan (misal puree pisang dalam botol) secara kandungan nutrisi jauh lebih superior dibanding dari pisang di pasar. Problem berikutnya, nilai-nilai dasar keluarga di mana keluarga mampu menyediakan makanan sehat bergizi juga akan terkikis. Dikhawatirkan, manusia meyakini bahwa manusia tidak dapat menyiapkan makanan yang layak untuk anak-anaknya, supaya layak/bergizi baik makanan tersebut harus dibuat di pabrik. Hal lain, hilangnya kebiasaan food sharing di antara anggota keluarga (ya iyalah siapa juga orang dewasa yang mau makan MPASI instan seperti bayi/anaknya, pasti lebih memilih makan pisang asli –misalnya).

Sejak beberapa dekade terakhir, industri makanan meningkat secara pesat. Mengutip tulisan saya mengenai The Truth About Baby Food Jar:
“Berapakah besarnya pasar makanan bayi secara global? Diperkirakan besarnya lebih dari £6 billion. Coba kita konversikan ke rupiah. 1 GBP (British Poundsterling) = Rp 19.500. Jadi 6 billion GBP = 6.000.000. 000 x 19.500 = Rp 117.148.200.000.000 = 117 Triliun Rupiah!

Harap diingat bahwa ketika para orang tua membeli makanan instan tersebut mereka tidak hanya membayar untuk kandungannya tapi juga untuk pemrosesannya, pengemasannya, penyimpanan, pendistribusian, iklan, serta biaya-biaya pemasaran lainnya. Apa konsekuensinya? Commercial baby food ini harganya sangat mahal, jauh lebih mahal dari bahan aslinya.  https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10202625119735055&set=pb.1409280466.-2207520000.1393202286.&type=3&theater

Ini fakta di sini (US): Perusahaan2 yang memproduksi MPASI instan berlomba-lomba mendapatkan konsumen. Banyak sekali caranya, mulai dari pembagian brosur, mengirim direct mail, iklan TV dll untuk meyakinkan bahwa produknya yang terbaik. Gerber baru saja meluncurkan $30 million atau sekitar Rp 300 miliar lebih untuk iklan TV, media cetak dan direct mail mengusung slogan: “For Learning to eat smart, right from the start”.

Iklan tersebut berusaha meyakinkan orang tua bahwa produk Gerber: “specially formulated to help your baby develop a variety of tastes for healthier foods”. “The longer you can keep your baby on these smart [Gerber] foods now, the better her chances are for eating healthy–and being healthy–for a long time to come.” Juga iklan di bawah ber tagline Baby Food So Easy (mudah dalam pemberiannya, ga perlu repot menyiapkannya) dan penekanan kata Natural.

Bisa liat beberapa iklan videonya di:
http://www.youtube.com/watch?v=Ng7k7vhHo58

http://www.youtube.com/watch?v=1kqHJAY8afM
Sementara pesaingnya, Heinz, mengklaim “Everything you could want in a baby food!” and provide “Only the best ingredients for the best nutrition.”

Bisa dilihat Iklan Heinz , tagline: A better way to feed you baby (Cara yang lebih baik dalam memberi makan bayi Ibu)
http://www.youtube.com/watch?v=nzoRpN0NDHQ

Bagaimana iklan2 MPASI Instan di Indonesia?

    1. Promina mengusung tagline: satu-satunya bubur tim saji praktis dengan nutrisi & tekstur yang tepat.

http://www.youtube.com/watch?v=iGwKPdwKyvw
Perhatikan penekanan kata praktis, untuk saya yang mengambil program master bidang  Marketing Management dan pernah bekerja sebagai Brand manager sebuah brand fast moving consumer goods, campaign tersebut juga akan “leading” pada persepsi menyiapkan MPASI homemade itu ribet/repot.
2. Cerelac mengusung tagline: Gizinya pasti, harga pas. Pilihan cerdas esok cemerlang.
http://www.youtube.com/watch?v=ZoCSIDv13k8
3. Milna mengusung tagline Ahlinya makanan bayi, dengan bla bla bla agar bayi Anda tumbuh optimal.
http://www.youtube.com/watch?v=igS7VMdAj5c

Di bagian akhir tulisan ini yang semoga bagi yang sudah membaca lengkap mendapat gambaran utuhnya, pertanyaan yang sering diajukan itu kan: What Parents Should Do?
1. Berikan bayi-anak kita nutrisi yang paling baik serta ekonomis.

Ingat bagian 3: Food is more than nutrition? Kampanye kembali memasak? Dilanjutkan Bagian 4 : Serba serbi MPASI & zat besi? Cara memilih bahan, mengolah, menyajikan, dan menyimpan, semua itu perlu ILMU. Dan tidak bisa para ibu hanya menyalahkan tim kesehatan yang tidak pernah mengedukasi atau mendapat informasi yang kurang tepat, kurangnya kampanye pemerintah mengenai hal ini, lebih baik para ibu proaktif. Sudah banyak kelas-kelas Persiapan MPASI, bergabung dengan grup-grup kesehatan yang reliable. Kunjungi website-website kredibel (saya pernah kasih tips ya cara mencari sumber dari website credible).

2. Paham kapan saat yang tepat memberikan MPASI instan.
Kembali pada penjelasan Palmer mengenai penggunaan RUTFs (Ready to Use Theurapeutic Foods), maka MPASI Instan difortifikasi dapat diberikan saat anak menderita kasus malnutrisi atau sudah mendekati tahap malnutrisi DAN akses mendapatkan bahan makanan kaya gizi dan spesifik untuk malnutrisinya itu sulit. Sulit di di sini bisa 2, bisa sulit karena tidak mampu (kondisi kemiskinan) dan atau sulit mendapatkannya di daerah ibu tinggal. (key point: RUTFs is NOT for daily diet for healthy baby & easy access to get nutritious food).

Ada kondisi-kondisi di mana ibu tidak dapat menyiapkan MPASI homemade seperti ibu sakit, dalam perjalanan dan kondisi-kondisi emergency lainnya. Maka pemberian MPASI Instan adalah salah satu solusi. Jangan sampai bayi tidak mendapatkan MPASI yang mencukupi karena ibu ngotot ingin selalu memberi MPASI homemade. Sama seperti adanya kasus ibu yang ngotot memberi ASIx padahal bayinya sudah terindikasi kurang asupan.
Ketika Ibu membeli MPASI Instan, berikut ini What To Do Listnya:

  1. Pastikan kemasan tertutup rapat & dalam kondisi baik.
  1. BACA LABEL Kemasan:

–          Pilih yang tanggal kadaluwarsanya masih cukup lama.
–          Baca kandungannya, bandingkan nilai kalori & lainnya dengan merek lainnya, jangan hanya terpengaruh iklan & promosi.

3. Ketika dibuka/sebelum penyajian pertama, pastikan baik bau, tekstur dan rasa tidak ada yang aneh.
4. Ikuti saran penyajian di kemasan. Sama seperti penyajian susu formula, tidak boleh air dikurangi atau ditambah yang akan mengurangi kandungan zat gizinya.

Alinea penutup, ada 2 kutipan menarik  untuk pemerintah dan pihak-pihak yang berkaitan: “Strategies for the control of micronutrient malnutrition
Policy and programme responses include food-based strategies such as dietary diversification and food fortification, as well as nutrition education, public health and food safety measures, and finally supplementation. These approaches should be regarded as complementary, with their relative importance depending on local conditions and the specific mix of local needs.

Of the three options that are aimed at increasing the intake of micronutrients, programmes that deliver micronutrient supplements often provide the fastest improvement in the micronutrient status of individuals or targeted population.

Food fortification tends to have a less immediate but nevertheless a much wider and more sustained impact. Although increasing dietary diversity is generally regarded as the most desirable and sustainable option, it takes the longest to implement.” 

“Gabrielle Palmer: In common with many others, my vision is of a world where there is egalitarian food security for all; where the majority of humans get their nutrients from their food (and sunshine); where unbiased public education ensures that families have the knowledge and skills to feed their children without the need for different or specially made foods and where government policies protect public health rather than private profit. “ -dalemm pesannya…

Keypoint Bagian 5:

    1. Kecenderungan menyukai suatu rasa dibentuk sejak awal kehidupan dan cara pemberian makan awal bayi (MPASI) dapat membentuk bayi/anak menginginkan rasa yang terlalu manis, asin, makanan-minuman rendah nutrisi untuk jangka panjang.
    1. Terdapat bukti/evidence bahwa anak2 yang tereskpos/mendapatkan beragam makanan sehat dan alami di masa mendatang akan memilih sendiri makanan sehat seimbang yang memenuhi kebutuhan nutrisinya.
    1. Kemiskinan adalah faktor kunci terjadinya kasus malnutrisi, tapi jangan salah, anak-anak yang lahir besar di keluarga yang mampu bahkan kaya juga dapat menerima nutrisi yang tidak tepat/tidak optimal.
    1. Sejak beberapa dekade terakhir, industri makanan meningkat secara pesat. Harap diingat bahwa ketika para orang tua membeli makanan instant tersebut mereka tidak hanya membayar untuk kandungannya tapi juga untuk pemrosesannya, pengemasannya, penyimpanan, pendistribusian, dan iklan serta biaya-biaya pemasaran lainnya.
    1. MPASI instan difortifikasi dapat diberikan saat anak menderita kasus malnutrisi atau sudah mendekati tahap malnutrisi DAN akses mendapatkan bahan makanan kaya gizi dan spesifik untuk malnutrisinya itu sulit. Sulit di di sini bisa 2, bisa sulit karena tidak mampu (kondisi kemiskinan) dan atau sulit mendapatkannya di daerah Ibu tinggal. (key point: RUTFs is NOT for daily diet for healthy baby & easy access to get nutritious food).
    1. Ada kondisi-kondisi di mana ibu tidak dapat menyiapkan MPASI homemade seperti ibu sakit, dalam perjalanan dan kondisi-kondisi emergency lainnya.
    1. Ketika Ibu membeli MPASI Instan, perhatikan What To Do Listnya.

 

Sumber :

1. A discussion paper developed for the International Baby Food Action Network (IBFAN)by Gabrielle Palmer

2. http://www.cdc.gov/nutrition/everyone/basics/vitamins/iron.html

3. Laporan Riskesdas 2013 Kemenkes RI

4. Laporan Riskesdas 2007 Kemenkes RI

5. Complementary Feeding : Nutrition, Culture & Politics book by Gabrielle Palmer

6. Key message booklet UNICEF 2012

7. Guiding Principle of Complementary Feeding WHO 2010

8. Infant and young child feeding (IYCF) Model Chapter for textbooks for medical students and allied health professionals-WHO

9. Guidelines on food fortification with micronutrients
10.  The Truth About Baby Food jar : http://www.thealphaparent.com/2013/02/the-truth-about-baby-food-jars.html?m=1

11.  Cheating Babies: Nutritional Quality and Cost of Commercial Baby Food – Daryth D. Stallone, Ph.D., M.P.H. Michael F. Jacobson, Ph.D.

12.  http://idai.or.id/public-articles/seputar-kesehatan-anak/anemia-defisiensi-besi-pada-bayi-dan-anak.html

13.  http://idai.or.id/wp-content/uploads/2013/02/Rekomendasi-IDAI_Suplemen-Zat-Besi.pdf

14.  http://aapnews.aappublications.org/content/early/2010/10/05/aapnews.20101005-1.full?rss=1

15.  http://ods.od.nih.gov/factsheets/Iron-HealthProfessional/

16. http://www.iom.edu/Global/News%20Announcements/~/media/48FAAA2FD9E74D95BBDA2236E7387B49.ashx

17.  http://ods.od.nih.gov/factsheets/Iron-HealthProfessional/

18.  http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/002461.htm

19.  http://ajcn.nutrition.org/content/71/5/1280s.full

20.  http://pediatrics.aappublications.org/content/117/4/e779.abstract

21.  http://www.bmj.com/content/343/bmj.d7157

22. https://www.acog.org/Resources_And_Publications/Committee_Opinions/Committee_on_Obstetric_Practice/Timing_of_Umbilical_Cord_Clamping_After_Birth
Bagian 1 : Rekomendasi dokter2 IDAI pemberian MPASI Instan Difortifikasi :

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10203216244032793&id=1409280466

Bagian 2 : Anemia Defisiensi Besi (ADB) :

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10203216730884964&set=a.1070999501093.13218.1409280466&type=1&theater

Bagian 3 : Food is MORE THAN Just Nutrition = Makanan Tidak Hanya Sekedar Untuk memenuhi kebutuhan Nutrisi / Gizi :

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10203217513784536&set=a.1070999501093.13218.1409280466&type=1&relevant_count=1

Bagian 4 : Serba-Serbi MPASI , dengan fokus pada kandungan zat besi MPASI:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10203221299919187&id=1409280466

Bagian 5 : Seputar MPASI Instan

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10203221983616279&set=pb.1409280466.-2207520000.1397218728.&type=3&theater

Continue reading

[Kliping] Dokter Keluarga… atau Dokter Umum?

Lagi pengin menulis tentang dokter keluarga kami… tapi lalu jadi browsing sana-sini dan menemukan beberapa tulisan menarik mengenai definisi dokter umum dan dokter keluarga. Dikliping di sini saja dulu ya sebelum mulai cerita :). Ada beberapa tulisan lama yang memang jadinya sedikit memperkaya sudut pandang mengenai peranan dokter umum maupun dokter keluarga. Kedua istilah ini, samakah? Atau ada perbedaannya?

Penjelasan yang lebih lengkap dan terstruktur ada di sini http://familymedicine.ugm.ac.id/dokter-keluarga-dalam-sistem-kesehatan/.

================================================================================================

Selama ini, Prijo menilai ada yang salah pada sistem rujukan yang berlaku di Indonesia. Di mana pasien baru sering langsung berobat ke dokter spesialis maupun super-spesialis.

“Itu tidak benar. Di negara manapun, sistem itu tidak ada. Kecuali di Indonesia,” tegasnya. Oleh karena itu, Prijo berniat ingin mengubah sistem tersebut. Sistem pelayanan primer, katanya pula, harus dimotori oleh dokter umum.

Menurut Prijo, sistem yang salah selama ini telah mengakibatkan kekacauan. Dokter spesialis menerima pasien secara langsung tanpa rujukan. Akibatnya, banyak dokter umum yang menganggur, karena ‘lahan’ mereka diambil alih dokter spesialis.
(https://m.jpnn.com/news/utamakan-dokter-umum-pasien-tak-boleh-langsung-ke-spesialis?page=3)

Jika sakit melanda, kebanyakan orang Indonesia segera mengunjungi dokter spesialis favorit. Tentu ini bukanlah hal yang buruk, tetapi bisa juga dikatakan kurang perlu. Kok bisa? “Hari gini masih banyak orang sakit yang langsung ke dokter spesialis langganannya, meski seorang dokter umum bisa menanganinya,” kata dr. Nurlan Silitonga, pendiri sekaligus pemilik Klinik Angsamerah yang berlokasi di bilangan Blora, Jakarta Pusat.

Menurutnya, dokter umum sebetulnya memiliki peran yang sama pentingnya dengan dokter spesialis, yang berbeda hanya kompetensinya. Datang ke dokter umum akan memberikan manfaat pada sang pasien dan juga sang dokter spesialis. Mengapa demikian? Karena dokter umum terlatih untuk menangani penyakit umum seperti flu, alergi ataupun penyakit infeksi lainnya, dengan datang ke dokter umum, biaya lebih murah, mungkin saja lebih dekat rumah atau kantor, dan tidak harus menunggu lama atau ngantri, karena mungkin banyaknya jumlah pasien di tempat sang dokter spesialis.

Saat ini masyarakat belum banyak mengetahui, bahwa dokter umum itu dilatih untuk bisa menyaring apakah kasus penyakit sang pasien membutuhkan tindakan dan pengobatan dari seorang dokter spesialis, termasuk pemilihan rujukan ke dokter spesialis yang tepat. Melalui dokter umum, sang pasien bisa langsung bertemu dengan dokter spesialis yang tepat, dari pada sang pasien yang berkeliling mencari sendiri beberapa dokter spesialis, dan membuat stress pasien, menghabiskan waktu dan biaya dan juga mungkin tindakan medis yang berulang dan tidak perlu.

Melalui rujukan dokter umum, seorang dokter spesialis akan terbantukan karena banyak informasi kesehatan dasar sudah disediakan oleh dokter umum, dan dokter spesialis hanya menambahkan menggali beberapa informasi lain yang lebih spesifik, dan bisa lebih menfokuskan keahliannya pada tindakan dan pengobatan, sehingga pasien bisa tertangani dengan baik. Bahkan ketika sudah tertangani dengan baik, mungkin untuk follow up, dengan seijin dokter spesialis, sang dokter umum yang kemudian bisa melanjuti.

So, tidak semua penyakit mesti segera dibawa ke dokter spesialis. Dr. Nurlan menyarankan untuk selalu berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter umum. Syukur-syukur penyakit Anda cukup ditangani oleh dokter umum tersebut. Pun jika tidak, dokter umum akan menyarankan tindakan yang lebih sesuai atau merujuk ke dokter spesialis yang tepat.

——

Pertanyaan ini saya baca di sebuah buku yang diterbitkan oleh sebuah tabloid anak ternama ibukota. Menarik sekali. Salah satu bagian buku itu menulis: “Apakah anak harus dibawa ke dokter spesialis anak (dr, SpA) ataukah cukup ke dokter umum (dr,) saja?” Jawaban di buku: “bila di sekitar rumah ada dokter spesialis anak (DSA) atau kita membayar dokter yang lebih memahami penyakit anak, sebaiknya anak dibawa ke dokter spesialis anak saja. Sebab, DSA lebih memahami masalah penyakit pada anak, karena mereka sudah dibekali ilmu lebih banyak dibandingkan dokter umum biasa. Diharapkan, dengan pemahaman yang lebih tinggi, anak bisa tertangani lebih baik”. Dst dst.

Bagaimana menurut Anda jawaban di atas? Ini pendapat saya pribadi. Dokter menjalani pendidikan selama 6 tahun mulai dari ilmu kedokteran dasar sampai penerapannya pada manusia, dan tata laksana penyakit-penyakitnya. Termasuk ilmu kesehatan anak. Jawaban di atas agak klise (ngambang) menurut saya. Karena bisa saja orang memahami bahwa dokter (umum) kurang tepat dalam menangani masalah kesehatan anak. Bawa saja langsung ke spesialis. Lalu apa yang sudah dipelajari dokter umum enam tahun lamanya?

Dokter spesialis dibentuk untuk menangani kasus-kasus yang tidak dapat ditangani oleh dokter (umum). Artinya, dokter memiliki kompetensi dasar untuk semua kasus, mulai dari kasus kesehatan anak, penyakit dalam, kebidanan-kandungan, bedah, dst. Namun ada kasus-kasus rujukan yang harus ditangani oleh dokter spesialis. Makanya setiap profesi memiliki standar kompetensinya masing-masing. Jika dokter umum melakukan hal-hal di luar standar kompetensinya, maka bisa terjerat pasal dalam Undang-undang Praktik Kedokteran tahun 2004. Mayoritas kasus kesehatan anak di masyarakat adalah penyakit harian (common problems) seperti demam, batuk-pilek, mencret/diare, dan masih banyak lagi yang tentunya cukup ditangani dokter umum. Namun jika ada masalah kecurigaan penyakit jantung bawaan, gangguan perkembangan, keganasan, dan banyak kasus rujukan lain, tentu prosedurnya adalah dokter merujuk ke dokter spesialis. Tapi tak dapat dielakkan memang di Indonesia konsumen kesehatan bisa memilih untuk datang langsung ke dokter spesialis tanpa melalui dokter umum terlebih dahulu. Beda dengan di negara-negara maju. Dengan kata lain, mekanisme referral system (rujukan) memang belum berjalan di negara kita. Pun tak dapat dipungkiri apa yang tertanam dalam pemahaman masyarakat perkotaan umumnya adalah, datangi langsung dokter yang sesuai dengan spesialistiknya, tanpa harus ke dokter umum terlebih dahulu, jika mampu (bayarnya).

Sampai-sampai guru-guru yang mendidik calon dokter anak di sekolah saya bilang, ”Jangan sampai kamu nanti lulus cuma jadi spesialis batuk pilek mencret”. Itupun juga ngobatinnya masih nggak benar, timpal guru saya yang lain. Sakit ringan diresepkan antibiotika tidak sesuai indikasi. Dalam hati saya pun membalasnya, habis mau gimana lagi, yang datang ke dokter anak kebanyakan memang kasusnya batuk pilek mencret.

Lalu kalau anak sakit gigi, apakah langsung ke dokter gigi anak (drg, SpKGA) atau cukup ke dokter gigi umum (drg,) saja? Buku itu menjawab: “sebaiknya ke dokter gigi anak, karena mereka dibekali pengetahuan mengenai spesifikasi pertumbuhan dan perawatan gigi anak. Pendidikan spesialis dijalani selama 3-4 tahun bla bla bla”

Lagi-lagi, ini opini saya pribadi. Melihat istri saya yang dokter gigi umum, saya jadi tahu persis kemampuan seorang dokter gigi (umum) dalam menangani kasus-kasus gigi anak. Pengalaman menata laksana ratusan siswa SD dalam UKGS di beberapa sekolah di pelosok Sumatera saat PTT, dan menghadapi pasien-pasien anak di bawah lima tahun di praktik rumah, membuat saya memahami kompetensi mereka. Tetapi tentu saja, selalu ada kasus-kasus yang harus ditangani SpKGA. Dokter gigi harus merujuk kasus-kasus ini ke sejawat spesialis mereka.

Those are all my personal opinion. Saya sama sekali tidak mengajak pembaca untuk menjauhi dokter spesialis dalam kunjungan pertama. It’s all up to you. Yang saya ajak adalah agar para pasien (baca: konsumen kesehatan) menjaga dokter tetap bertindak rasional. Tidak jarang pasien minta diberikan obat padahal dokter merasa tidak perlu. Cukup sering konsumen kesehatan minta resep antibiotika padahal dokter sudah menjelaskan bukan indikasinya. Khawatir kehilangan pasien, dokter pun kadang “tunduk” pada keinginan kliennya ini.

Pelajari dasar-dasar ilmu kesehatan dengan baik. Ajak diskusi dokter anak dengan bekal ilmu ini. Alasan lain pentingnya mempelajari dasar-dasar ilmu kesehatan ini adalah orangtua menjadi tahu, kapan sih harus ke dokter. Pada akhirnya, konsumen kesehatan memahami bahwa batuk-pilek, mencret, demam tanpa gejala berat, dan masih banyak penyakit lain sebenarnya tidak perlu dibawa ke dokter sama sekali. Ke dokter umum sekalipun. Just wait and observe, gejalanya akan self limiting (hilang sendiri). Ini sudah terbukti pada banyak sekali orangtua yang memiliki kemauan kuat belajar ilmu kesehatan, dan mempraktikannya pada diri sendiri dan keluarganya. Mudah-mudahan layanan kesehatan negara kita menjadi lebih baik kelak. Amin.

(http://arifianto.blogspot.com/2008/01/kalau-anak-sakit-berobat-ke-dokter-anak.html) — ditulis ketika dr. Apin masih menempuh pendidikan dokter spesialis anak :).

Memasuki bulan ketiga era Jaminan Sosial yang berlaku sejak 1 Januari 2014, telah banyak perubahan dalam sistem asuransi sosial. Seperti misalnya perubaan pola pembayaran ke pelayanan kesehatan dari fee for service menjadi kapitasi pada Puskesmas dan InaCBGs (Indonesia Case Base Group) pada RS.

Tak cukup sampai disitu, pola pelayanan jasa kesehatan pun berubah sesuai tingkatan Fasilitas Kesehatannya. Mulai dari pelayanan kesehatan primer puskesmas) hingga tersier (RS). Hal ini juga otomatis mengubah fungsi seorang dokter karena adanya alih fungsi bagi dokter umum yang melayani pasien di pelayanan kesehatan primer.

Karena adanya perubahan tersebut, kini muncul program dokter layanan primer yang disebut-sebut akan setara dan mendapat pengakuan dari dunia medis sebagai spesialis yang akan melayani pasien di layanan primer. Tapi meninjau hal tersebut, jadi apa yang membedakan dokter spesialis, dokter umum dengan dokter layanan primer?

Menurut Direktur Utama RS Cipto Mangunkusumo, Dr. dr. Czeresna. H. Soedjono, Sp.PD-KGer, yang membedakan dokter spesialis, dokter umum dan dokter layanan primer adalah kompetensi, area dan pekerjaannya.

“Dibanding dokter umum biasa, dokter layanan primer memiliki 10 atau 11 item yang akan membedakan bukan hanya jenis area kompetensinya saja tapi bagaimana pendekatan kepada pasien dalam masalah kesehatan. Misalnya, dokter yang mengobati batuk pilek di layanan primer. Dia harus periksa dan menetapkan obat ini. Mungkin dokter umum akan langsung memberikan obat tapi dokter layanan primer tidak begitu,” kata Czeresna saat ditemui dalam acara Dies Natalis Universitas Indonesia ke 64 di UI Salemba, Jakarta, Rabu (5/3/2014).

Czeresna menerangkan, dokter layanan primer tidak akan memberikan obat langsung karena dia akan mencari tahu lebih dalam lagi mengenai sebab pasien batuk pilek. Seperti faktor-faktor apa yang menyebabkan pasien batuk pilek. Apakah virusnya dari diri sendiri, keluarga, lingkungan atau sekitar rumahnya ada yang mengalami batuk pilek. Kemudian apakah batuk pilek ang dialami hanya sekali atau berulang dan tidak pernah terpikirkan oleh dokter sebelumnya.

“Dokter layanan primer akan melakukan penelusuran lebih dalam dan approach lebih baik lagi sehingga pengobatan juga secara komperhensi akan lebih baik lagi,” ujarnya.

Untuk pendidikan dokter layanan primer, Czeresna melanjutkan, perlu waktu 2-3 tahun untuk setiap angkatannya dengan bobot 50-90 SKS. Dan saat ini, proses pendidikan ini masih dalam tahap penyusunan standar kompetensi dan membutuhkan waktu sekitar 5 tahun. Artinya, dokter layanan primer baru ada pada 2019.

“Nanti proses pendidikan akan mengacu pada RSCM karena idealnya mereka (dokter layanan primer) akan bekerja di pelayanan primer dan bukan berarti tidak perlu mengenal RS. Mereka perlu mengenal proses di RS agar mereka tahu betul apa yang terjadi di RS. Ketika mereka mengetahui bagaimana komunikasinya, barulah diterjunkan ke komunitas,” ujarnya.

Setara dengan spesialis

Untuk menjadi dokter layanan primer, Czeresna menyampaikan bahwa semua dokter umum berpotensi menjadi dokter layanan primer karena dia setara dengan spesialis.

“Dalam kedokteran tidak boleh ada 2 spesialis. Dokter layanan primer itu setara spesialis,” katanya.

Sebelumnya, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sendiri baru akan membuka program pendidikan dokter layanan primer pada 2016. Nantinya, dokter layanan primer akan memiliki gelar dokter Sp. FM (Family Medicine-dokter keluarga).

(http://health.liputan6.com/read/2018835/ini-bedanya-dokter-layanan-primer-dengan-dokter-umum-spesialis-di-era-jkn)

Sistem pendidikan kedokteran di Indonesia akan cukup banyak berubah setelah disahkannya Undang-Undang Pendidikan Kedokteran (UU Dikdok) Nomor 20 Tahun 2013 pada awal Agustus tahun ini. Penegasan Alur Pendidikan Dokter Alur pendidikan kedokteran yang ada saat ini masih tidak standar antaruniversitas. Anda mungkin pernah mendengar ada dokter yang sudah disumpah dokter, lalu tidak lulus Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI), sehingga ia terkatung-katung menjadi Dokter yang tak bisa mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) dan ia akhirnya tidak bisa praktik. Dalam UU Dikdok ditegaskan bahwa seorang mahasiswa kedokteran harus mengikuti pendidikan sarjana kedokteran kemudian dilanjutkan pendidikan profesi dokter (koas), lalu harus lulus UKDI terlebih dahulu baru dapat diangkat sumpahnya sebagai dokter. Kemudian ia mendapatkan STR dan melanjutkan 1 tahun internsip atau magang di rumah sakit dan puskesmas. Dokter Praktik Umum Menjadi Spesialisasi Setelah internsip apakah ia dapat langsung membuka praktik? Menurut UU Dikdok, kelak ada yang berubah. UU yang harus laksanakan paling lambat 2 tahun lagi yaitu Agustus 2015 ini mengatakan bahwa untuk membuka layanan praktik umum (atau dalam UU disebut layanan primer), seorang dokter harus mengikuti pendidikan dokter layanan primer (DLP) yang setingkat dengan pendidikan spesialis. Maka setelah UU ini berjalan, dokter yang baru lulus dari masa internsip tidak bisa membuka praktik jika tidak mengikuti pendidikan spesialis baik untuk layanan primer maupun di atasnya (seperti spesialis penyakit dalam, kebidanan, bedah, dan lainnya). Menurut dr. Erfen G Suwangto, yang juga merupakan pengurus Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI), pendidikan DLP ini direncanakan program setara spesialis, yang sesuai amanat UU DIkdok, diselenggarakan oleh fakultas kedokteran berakreditasi tertinggi yaitu A. Pendidikan DLP akan kurang lebih ditempuh dalam 2 tahun, dan lulusannya direncanakan diberi gelar SpFM (spesialis Famili Medisin). dr. Erfen menambahkan, “(Pendidikan DLP-ed) ini bukan untuk mempersulit (dokter umum), tetapi untuk meningkatkan kompetensi dokter layanan primer dan meningkatkan derajat dokter layanan primer itu sendiri, termasuk dalamm hal insentif dan renumerasi. Serta untuk menekan angka kesakitan penduduk sehingga anggaran negara tidak membengkak. Karena DLP ini harus menguasai 155 penyakit yang merupakan 80 persen masalah kesehatan di masyarakat.” Dokter Selesai Internsip Sebagai Stem Cell Seseorang dapat disebut sebagai profesi dokter apabila ia sudah internsip dan mendapatkan STR. Namun sekali lagi, dengan UU Dikdok dijalankan, ia belum dapat membuka praktik. Apakah dengan demikian dokter dalam tahap ini tidak bisa bekerja? Menurut dr. Erfen, dokter ini tetap dapat bekerja namun bukan sebagai klinisi atau membuka praktik. Dokter tersebut dapat bekerja sebagai dokter manajerial, atau mengambil pendidikan lain seperti sebagai peneliti, dan lainnya. Jadi dokter pada tahap ini disebut sebagai stem cell atau sel punca yang masih bisa mengarah ke klinisi dan non-klinisi. Bagaimana Nasib Dokter Umum Lama? Walaupun masih belum ditetapkan, rencananya dokter umum lulusan sebelum UU ini diterapkan akan menjalani proses pemutihan baik dengan pendidikan singkat untuk penyegaran atau dengan mengikuti pendidikan DLP tersebut. Proses pemutihan ini dilakukan agar semua dokter mendapatkan kompetensi sebagai SpFM. Bagaimana dokter umum lama yang sulit untuk mengikuti SpFM? dr. Erfen mengatakan, mereka tetap dapat melakukan praktik layanan primer. Ia juga mencontohkan bahwa proses pemutihan ini juga serupa yang terjadi di Amerika Serikat pada tahun 1970-an. Jadi, jika ingin menjadi dokter praktek umum setelah UU ini berjalan, seorang mahasiswa harus menyiapkan waktu paling tidak 8-9 tahun, dengan perincian 3-4 tahun pendidikan Sarjana Kedokteran, 2 tahun pendidikan koas, 1 tahun internsip, dan 2 tahun pendidikan DLP (SpFM).
(http://www.tanyadok.com/berita/dokter-praktik-umum-akan-setara-spesialis)
 Kendati demikian, tidak berarti dokter spesialis juga tidak merugi. Pasalnya, menurut Prijo, kompetensi mereka yang sesungguhnya tidak bisa dimanfaatkan secara optimal dengan mengerjakan pasien-pasien yang sejatinya bisa ditangani dokter umum.

Menyusui Sambil Tiduran Miring, Berbahayakah?

Copas jawaban pertanyaan dari grup fb AIMI:

https://m.facebook.com/groups/10676814777?view=permalink&id=10152742770469778&p=10&refid=18

Apakah benar menyusui dengan posisi tidur miring (side-lying) tidak diperbolehkan? Jika tidak diperbolehkan mengapa, jika diperbolehkan bagaimana caranya?

Menyusui sambil tidur miring (side-lying) DIPERBOLEHKAN. Bayi baru lahir ke dunia saja sudah diajari menyusu dengan posisi tidur tengkurap ala posisi IMD. Di berbagai literatur, posisi menyusui side lying atau tidur miring bahkan dianjurkan untuk mereka yang baru saja menjalani operasi cesar.

Sebagaimana SEMUA posisi menyusui, tetap ada syaratnya: pelekatan menyusui harus tepat. Apa pun posisi menyusuinya, yang penting pelekatan harus tepat. Itu yang SELALU kami tekankan ke semua member. Untuk posisi menyusui tidur miring, posisi pelekatan yang tepat berarti perut ibu harus menempel pada perut bayi, badan bayi seluruhnya menghadap ke badan Ibu (saling berhadapan), dan jangan lupa posisi tubuh ibu dan bayinya sama tinggi, kalau tidak ya tidak bisa melekat dengan baik.

Detail tentang posisi dan pelekatan menyusui ada di dokumen grup (ini link-nya: https://www.facebook.com/notes/asosiasi-ibu-menyusui-indonesia/seputar-posisi-dan-pelekatan-menyusui/10151641563564778, gambarnya ada di album foto grup: https://www.facebook.com/media/set/?set=oa.10152199207654778&type=1.

Dengan pelekatan yang benar, itu akan mencegah hidung bayi tertutup payudara ibu, meminimalisir bayi tersedak, dan mencegah ASI mengalir ke mana-mana termasuk ke telinga, dan sebagainya.

Kuncinya, APA PUN POSISI MENYUSUINYA, PELEKATANNYA HARUS SELALU PAS:). Kalau aliran tidak pas, posisi apa pun bisa membuat aliran ASI-nya ke mana-mana, membuat bayi tersedak.

Coba Anda bayangkan ketika menyusui dengan posisi duduk yang cradle hold atau mendekap. Sebetulnya posisi bayi sama saja kok dengan yang menyusui dengan tidur miring, seluruh badan bayi harus menghadap ke ibu, berarti bayi sepenuhnya miring kan? Sama dengan posisi menyusui sambil tiduran. Tidak ada bedanya.

Continue reading

Suplemen DHA untuk Bayi, Perlukah?

Belum lama ini di grup TATC ada anggota yang menanyakan pola buang air besar bayinya yang bikin galau. Sewaktu ditanya apakah bayinya ASI eksklusif (karena usianya belum 6 bulan), jawabannya iya. Tetapi ketika obrolan semakin mendetil, akhirnya diketahui bahwa ibu ini memberikan ‘vitamin’ (maksudnya suplemen) untuk bayinya, yang ia peroleh dari bidan. Isinya DHA yang dipercaya mendukung kecerdasan. Padahal pemberian suplemen di luar indikasi tentunya termasuk ‘membatalkan’ status ASI eksklusif menurut definisi WHO.

Ini bukan mau membahas pola bab bayinya ya, karena bisa jadi tidak terkait pemberian suplemen melainkan memang bayinya masih adaptasi atau ada pengaruh lain. Fokusnya adalah ke pemberian suplemen khususnya bagi bayi di bawah 6 bulan yang seharusnya hanya mendapatkan ASI saja (kecuali memang pemberian obat, suplemen, dan cairan rehidrasi oralnya sesuai indikasi, maka tetap disebut ASI eksklusif).

Continue reading

[Kliping] Bahayanya Third-Hand Smoker

Wednesday, September 24, 2014

Stop Merokok Demi Anak

Ingin tahu apa lagi kejahatan rokok? Simak tulisan berikut yang memuat wawancara dengan saya di http://health.detik.com/read/2014/03/24/105635/2534413/763/terpapar-residu-asap-rokok-ayahnya-bayi-ini-meninggal-kena-pneumonia

Terpapar Residu Asap Rokok Ayahnya, Bayi Ini Meninggal Kena Pneumonia

M Reza Sulaiman – detikHealth

Senin, 24/03/2014 11:07 WIB

Jakarta, Jangankan menghirup asap rokok, menghirup residu atau endapan racun dari asap rokok juga berbahaya bagi anak. Seorang mantan perokok aktif mengaku telah mengalaminya sendiri, sang anak meninggal meski ia selalu merokok di luar rumah.

Pengakuan tersebut disampaikan seorang pria di sebuah forum online. Pria yang menggunakan akun 05072013 tersebut mengisahkan, anaknya meninggal akibat pneumonia atau radang paru-paru akut di usia yang masih sangat muda, yakni 1 tahun. Sama seperti kisah tentang Keanu, pengakuan pria ini juga tersebar luas di jejaring sosial.

“Gua mantan perokok gan (perokok aktif selama 18 thn). Anak gua cewek hanya bisa genap usianya 1 tahun 10 hari, wafat di vonis radang paru-paru akut (pneumonia) krn ayahnya ngerokok. bukan ngerokok di sebelah anaknya (gua klo ngerokok pasti keluar rumah), tetapi menghirup racun-racun nikotin dari baju ayahnya saat kondisi menggendongnya setelah barusan merokok :sedih,” demikian kutipan pengakuan sang ayah, yang kepada detikHealth tidak bersedia mengungkapkan identitas aslinya.

Kisah-kisah semacam ini dinilai tidak terlalu mengejutkan bagi dokter yang juga penulis buku kesehatan anak, dr Arifianto, SpA. Menurut dokter yang akrab disapa dr Apin ini, orang tua yang merokok tetap membuat anak berisiko terkena penyakit paru-paru meski sudah membatasi untuk tidak merokok di dalam rumah.

“Asap rokok itu efeknya sampai 10 meter. Jadi walaupun di luar rumah tetap ada risiko asap masuk ke dalam,” kata dr Apin saat dihubungi detikHealth, seperti ditulis Senin (24/3/2014).

Risiko tersebut merupakan efek dari residu racun rokok, yang menempel di baju maupun benda, gorden, seprai, dan sebagainya. Seseorang yang terpapar racun rokok dengan cara demikian disebut sebagai third hand smoker. Bahayanya sama seperti second hand smoker, yang oleh orang awam sering disebut perokok pasif.

“Tetap saja (berisiko) biar merokok di kantor atau di perjalanan tetapi baru masuk rumah langsung peluk, gendong, atau cium anak tanpa mandi, bersih-bersih dan sikat gigi dahulu,” ungkap dokter lulusan Universitas Indonesia tersebut.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan Kementerian Kesehatan menunjukkan peningkatan prevalensi perokok pada tahun 2007, 2010, dan 2013 berturut-turut meningkat dari 34,2%; 34,7% dan akhirnya 36,3%. Tak hanya itu, dari 92 juta orang perokok pasif, 43 juta di antaranya anak-anak dan yang paling menyedihkan dan memprihatinkan adalah 11,4 juta dari anak-anak ini masih berusia balita.

http://arifianto.blogspot.com/2014/09/stop-merokok-demi-anak.html

=====================================================================

Papa Suka Merokok, Paru-paru Keanu Sama Rusaknya dengan Perokok Aktif

M Reza Sulaiman – detikHealth

Senin, 24/03/2014 10:03 WIB

Jakarta, Pengakuan tentang bahaya asap rokok pada anak beredar di dunia maya. Seorang balita mengalami masalah paru-paru karena ayahnya merokok. Hasil rontgen menunjukkan, paru-paru anak tersebut sama rusaknya dengan perokok aktif. Wah kok bisa?

Berita tersebut beredar di media sosial Path, Instagram dan juga Twitter. Seorang ibu dengan nama Dinda Lazuardi mengisahkan bahwa anaknya, Keanu (2), mengalami masalah di paru-paru. Dinda menuduh kebiasaan merokok sang suami sebagai penyebabnya.

Astagfirullah..ternyata ada masalah kecil di paru2 keanu dan hrs mulai pengobatan 6 bln! Hasil rontgen paru keanu sama kya perokok aktif! Papahnya selalu ngeroko dkt anak2 pdhl udh sering diomongin ratusan kali!!” demikian potongan postingan Dinda di Path.

Potongan kisah tersebut tersebar luas di berbagai jejaring sosial. Di situs microblogging twitter, komunitas-komunitas anti merokok seperti @BebasRokokID dan @projectJernih juga turut me-retweet screen-shot dari akun Path Dinda tersebut.

Beberapa orang mungkin menganggap kesaksian ini berlebihan, namun tidak demikian halnya dengan dr Nastiti N Rahajoe Sp.A(K). Menurut pakar penyakit paru pada anak ini, secara umum memang balita dan bayi lebih rentan terhadap penyakit apapun, termasuk penyakit akibat asap rokok.

“Balita kan daya tahan tubuhnya belum sempurna, imunitasnya juga, makanya dampaknya bisa lebih besar daripada ke orang dewasa,” papar dr Nastiti, ketika dihubungi detikHealth dan ditulis, Senin (24/3/2014).

Sementara itu, dr Darmawan B. Setyanto, Sp.A(K), ahli pernapasan anak dari RS Cipto Mangunkusumo mengatakan bahwa sebenarnya batuk atau sesak di dada itu memang tidak semata-mata akibat asap rokok. Namun ia tidak memungkiri bahwa gangguan ini bisa dipicu oleh efek tidak langsung dari asap rokok.

“Asap rokok itu merusak dinding saluran napas. Sehingga memudahkan kuman-kuman penyakit masuk ke dalam paru-paru atau saluran napasnya. Kuman TB (Tuberculosis), bronkitis atau bisa menyebabkan radang di tenggorokan,” papar dr Darmawan.

Asap rokok orang lain (AROL) telah terbukti berbahaya bagi orang lain. Data riset kesehatan dasar (Riskesdas) yang dilakukan Kementerian Kesehatan pada tahun 2010 menunjukkan terdapat sekitar 92 juta orang perokok pasif, terdiri dari 62 juta orang perempuan dan 30 juta orang laki-laki. Sementara itu, 43 juta anak-anak terpapar rokok setiap harinya, dan yang memprihatinkan adalah 11,4 juta dari anak-anak ini masih berusia balita.

======================================================================

Surat terakhir buat kaka

Ka, mamih ga tau mau nulis apa tentang kaka. Mamih masih belum percaya kaka kembali lagi ke Allah. Mudah2an dengan cara mamih nulis ini bisa ngobatin kekosongan hati mamih.

Ka,

Mom nunggu kaka ada di rahim mom ampir setaun, yup 11bln. Mom sama pap sabar menunggu, apalagi dari kita yang awalnya satu atap, trus jd misah kota kita tetep berusaha. Awal-awal nikah sama pap, mom kena vertigo, dan itu mom kosumsi obat terus2an. Nikah sama pap, resign dari kantor rehat karena vertigo dan kembali kerja lagi, kita tetep usaha. Akhirnya pap di Bandung mom di JKT, dengan insentisas ketemu yang kadang 2minggu sekali ato sebulan sekali.

Ka,

Haid mom ga pernah telat, makanya pas tau telat 3hari rasanya kaya ga percaya, iya gt mom hamil ato kecapean biasa. Kantor mom yang lumayan jauh sebulan sebelum hamil ditempatin di deket rumah, yang ga perlu cape diperjalanan mungkin ngebantu rahim mom jadi bekerja dengan bagus. Pas tau telat, mom ke Bandung kabarin pap. Jangan tanya gimana perasaan kita pas tau alat tes kehamilan menunjukan 2 garis merah.

Ka,

Selama hamil, alhamdulilah mom dikasi syukur sama Allah menikmati yang namanya mual dasyat. Masuk makanan ato air sedikit langsung muntah. Di kantor juga sama, padahal kamar mandi itu dilantai bawah. Alhamdulilah mom ga pernah ijin ga masuk kerja sampai kaka lahir, sekali itu pas om Wiwip nikah, itu juga hari sabtu yang ga padat kerjaannya. Pas bulan ke 7 USG di bidan dan bilang BB kaka kecil, dan iseng nanya apa bener klo minus besar (kurleb -9) itu perlu caesar dan ga boleh normal, mom sama pap kaya kesamber geledek. Kami berencana normal, dan ga nyiapin duit untuk caesar dari awal. Tapi kata pap, yang terbaik buat mom sm kaka, kalo perlu caesar ya gpp, pap akan tambah giat bekerja. Giat bekerja dalam arti ga ketemu kita sering2, ktm cm sebulan sekali.

Ka,

Karena tau mau caesar, kita pilih tanggal tapi tetep di sesuain dengan minggu aman klo lahir. Kaka lahir dengan nama FATHISYA QUEENA MIKAILA (ratu pertama dan pelengkap pembawa rizki) pada tanggal 10 November 2010 dengan BB 2.8 panjang 47cm jam 8 pagi. Mom tenang banget pas hari H karena sudah byk denger cerita kalo di anestesi harus tenang, bla bla bla. Tapi kenyataan pasca melahirkan yang bikin mom shock. Karena rujukan dari bidan rumah sakit pun ga kaya rumah sakit ibu dan anak biasa. Tapi kerjaan mereka rapih. Setelah melahirkan mom blm ktm kaka, cm mantau dari foto2 pap sama tante2 kaka. Besoknya baru ketemu kaka dan nyusuin kaka, oooh ga susah sama sekali, kolestrum pun kaka dapat. 2hari di rumkit kita balik ke rumah bidan, dan di bidan kita dilepas sama sekali. Mom sama pap gantian ganti popok kaka, dan mom yang harus nyuci popok klo kaka pup ke kamar mandi dengan kondisi jaitan yang belum kering itu kaya…. (Isi sendiri ka).

Ka,

Kaka tumbuh dengan pesat, dari bayi kecil menjadi bayi yang pipinya chubby sampai kaka wafat. Mom kembali bekerja, dengan tetap kasi ASIX ke kaka, yup pompa di pantry bersama orang2 kadang bapak2 yang lagi makan siang. Cuma karena keadaan yang ga memungkinkan, karena uti jadi sering sakit, tensinya suka naek, mom ga tega dan memutuskan resign disaat kaka mau MPASI dengan memasak sendiri tanpa membeli makanan instant.

Ka,

Kalo cerita sama temen2 mom, mom ga pernah bilang kaka ga bs diatur lah, kaka nakal lah, ga! Karena klo ngucapin itu secara ga langsung doa dari orangtua ke anaknya. Mom selalu bilang ” kaka, yang pinternya kelebihan “. Kaka merangkak di 9bln, tanpa babywalker samsek. Kaka bisa jalan di 12bln. Inget pas mom sama pap ngajak kaka ke Bali, buat rayain ulangtaun kaka. Kita komit, ngajak kaka pas kaka udah bisa jalan. Alhamdulilah kesampean. Udah bisa ajak kaka naek pesawat, udah ngajak kaka liat pantai meski takut, ke kebun binatang yang mom bilang paling bagus, tapi katanya Malang juga bagus nak, dan rencananya bulan depan mau ke Malang kan?

Ka,

Barengan sama kaka lancar jalan, lancar juga bicara kaka. Mom komit ga boleh ngajarin kaka ngomong cadel, nakut2in kaka sesuatu biar nurut. Ga! Makanya mom bangga kaka jadi sosok yang pintar, ngerti, nurut dan pemberani. Apalagi kalo liat yang seumuran kaka ngomongnya belum selancar kaka itu bikin mom bangga sama kaka. Anak mom emang paling pintar.

Ka,

Dari panggilan ke mom sama pap, dari awal enyim sama ayah, akhirnya kaka bisa manggil mamih sama papih itu udah bikin kita seneng. Kaka jarang nangis, selalu bikin mom marah dengan kekonyolan kaka, selalu ketawa kalo abis ngelakuin yang bikin mom marah.

Ka,

Ntah sebulan sebelum kaka ninggalin mom, ada perasaan aneh yang jadi tanda tanya. Kaka ga mau dipegang sama orang deket kecuali orang rumah, selalu bilang ” mau sama mamih”. Kaka mulai sering batuk pilek, ilang timbul. Nafsu makan jg on off dari kaka setaun. Pas ulangtaun pernikahan mom sama pap yang ketiga, kita ajak kaka ke Sukabumi, nemenin pap kerja. Kaka seneng banget bisa berenang di kolam ga mau selesai. Dapet temen baru lagi. Pulang dari Sukabumi ke Jakarta lanjut Cirebon. Kaka sehat, ga nunjukin kalo sakit. Cuma batuk aja kalo malam.

Ka,

Pertengahan april mom nyoba ke dsa, ngecek kenapa kaka klo batuk pilek ilang timbul, klo kaka panas kenapa cuma kepala, telapak tangan, dan telapak kaki tapi suhu normal, trus kulit kaka suka ga mulus. Ada bentolan merah yang kadang ilang sama timbul. Dokter bilang kaka alergi. Apalagi alergi susu sapi, klo susu sapi mom udah tau, karena kalo nyoba UHT pasti kaka pupnya lgs ngaco. Tapi baru tau kalo mom jg harus puasa dairyfood, semua yang dari susu ga boleh dimakan karena mom masih nyusuin kaka. Seminggu berselang kaka masih batpil. Mom inisiatif nebu kaka, 3x nebu berturut2, katanya udah mendingan tapi dibilang dahak kaka kentel udah nutupin jalan ke paru2, tapi sekarang udah enakan tinggal yg di bawah leher. Abis nebu kaka jg belom sembuh, obat abis mom balik ke dokter lagi, dikasi obat lagi dan disuruh nebu. Dokter bilang juga udah bersih. Nebu 2x abis itu kita ke Bandung. Maenan kaka udah dibawa ke sana semua. Sambil nunggu obat abis juga. Pohon depan rumah kita tebang abis biar matahari bisa masuk tanpa permisi ke rumah.

Ka,

Seminggu sebelum kaka ninggalin mom, kita nginep di rumah tante mom, mbah nya kaka sampai hari minggu karena pap keluar kota. Oia ka, pap juga udah berhenti rokok loh, mom bangga sama pap, bisa ngalahin egonya dengan berhenti jadi peroko aktif yang rokonya ga pake filter itu. Hari minggu tiba2 kaka panas tinggi banget, tapi tetep mo kaka sakit gimana juga kaka tetap ceria, ketawa2 ga nangis ato rewel. Dijemput pap, langsung pulang kerumah. Panas kaka on off. Salah kita, kita udah pake masker karena kita bertiga kena flu semua, tapi tidur tetep bertiga.

Ka,

Hari selasa pas pap ulangtaun, mom punya ide makan diluar. Rencananya bareng sama tante2nya kaka, tapi karena tante dede lg UAN, ya ga jadi. Terus karena kita lagi sibuk pindah KTP ke rumah kakek, ya udah ajak om Yogi adiknya pap makan2. Sempet kaka diam di mobil, tapi pas mom tanya kenapa kaka cm senyum. Mom seneng kaka ketawa2 pas kita makan malam, di foto kaka begitu manja sama mom, dan itu jadi foto terakhir kita.

Ka,

Pulang dari makan, kaka tidur ga nyenyak. Akhirnya mom ikut begadang juga. Keesokan hari kaka udah kaya biasa aja, pagi2 jalan pagi sama pap naek sepeda sambil disuapin pap, mom beresin rumah. Ya biasa aja. Cuman karena mom ga tidur jadi rada ngdrop badannya. Pas pap tinggal kerja, kaka mulai ngerasa ada yang ga enak di badan ya? Kaka mulai kaya kesakitan, manja ga mau diturunin. Mom bingung ka, apalagi kaka minta naek bajay. Bandung ga ada bajay kan ka? Akhirnya setelah jalan dpn rumah mom mutusin buat nyewa becak muterin komplek. Disitu kaka udah lemes, diem aja. Mom tanya mana yang sakit kaka diem aja. Sore pas pap pulang kerja, kita langsung bawa kaka ke dokter klinik, yup mom lagi ga megang uang banyak ka. Kata dokter kaka kena brontitis. Langsung mikir kenapa kaka batuk kalo malem, trus kaka ga bisa gemuk2. Disitu muka kaka udah pucet. Masya Allah nak, mom ga pernah liat kaka kaya gitu sebelumnya. Pulang ke rumah kaka ceria tapi lemes, makan minum obat abis itu muntah. Muntah ketiga kali hari itu.

Ka,

Pas mom ngedenger kaka napas cepet, detak jantung kaka cepet, dan kaka diem aja, mom bingung. Atas saran mamem, mamanya tante delin, mom langsung bawa kaka ke rumah sakit. IGD nak, serem bayanginnya. Disitu kaka langsung dibantu kasi oksigen sama dokter jaganya. Ya, mom tau kaka udah trauma sama selang napas itu karena nebu yang kemaren. Kaka berontak, tapi muka kaka tambah pucat. Apalagi pas dokter bilang kaka harus dirawat diruang ICU khusus anak. Masya Allah nak, mom sama pap ga tau kudu gimana. Pas tanya ruangan dan harga kamar plus obat2an pengen pingsan denger harganya apalagi dikasi tau kamar yang tersedia cuma VIP. Sampai bilang, dok kami ga sanggup dengan harganya. Akhirnya dokter nyaranin kasi rujukan ke rumah sakit lain. Alhamdulilah ada om Yogi, dia yang mondar mandir cari kamar kosong di rumah sakit lain. DP yang harus dilunasi bikin kami shock. Tapi ngeliat kaka yang berontak trus tenang pas oksigen masuk terus berontak lagi. Dokter jaga bilang detak jantung kaka cepet ga wajar kalo anak bayi segini. Akhirnya ada teman yang udah kami anggap sodara, meminjamkan uang (u know who u are). Kami memutuskan kaka ditangani disitu apalagi kabar dari om Yogi semua kamar rujukan penuh.

Ka,

Pas kaka diinfus, kaka cuma bilang “mih, sakit ya?” tanpa tangisan ato teriak pas jarum masuk. Kaka dibawa ke ICU mom cuma bisa tenangin kaka, tapi mom nyesel ga sempet meluk kaka, cium kaka pas kaka mo masuk ruangan. Dan baru tau mom sama pap ga bs ktm kaka sesering mungkin. Jam 12 malam kaka masuk ruangan, ga lama mom sama pap dipanggil dokter jaga yang bilang kaka butuh alat bantu buat nafasnya, karena kaka mulai biru bibir dan kuku kaki karena kurang oksigen. Masya Allah nak, liat kaka berontak gitu mom pengen bawa kaka kabur aja. Dikasi tau harga mesinnya kita udah iya2 aja trus tanda tangan form. Sejam berselang, dokter anak yang malam manggil kita. Yup, kita dimarahin ka, pas disuruh ceritain kronologis kaka sakit. Masya Allah, mom sama pap bingung, kaka pernah keliatan sakit, kaka sehat2 aja,  kaka ceria, kaka makin pinter dibilang kaka kena Broncopneunomia akut (BP). Sejenis peradangan di paru2, jadi paru2 kaka ga bs bekerja maksimal karena ketutup lendir dan virus bakteri apalah itu. Sempet ditanya siapa yang ngeroko dirumah, mom bilang ga ada, bapaknya ngeroko ga pernah didepannya, dan udah berhenti meski baru sebulan. Pengen pingsan pas dokter bilang ini ga mungkin baru, pasti udah lama sakitnya. Masya Allah dok, kalo kita tau dari awal pasti kita udah berobat, anaknya aja ceria gitu, pucet sama rewel pas mo dibawa kerumah sakit aja. Sekilas liat kaka diem di tempat tidur dibelakang kita pas dipanggil dokter itu rasanya kaya.. Ah sudahlah. Kaka udah disana diem, mata setengah melek, selang ada di mulut, hidung, infus kanan kiri. Sejam kemudian mom dipanggil buat tanda tangan transfusi darah karena HB kaka rendah banget. Mom cm bisa kasi semangat ke kaka yang diem karena obat tenang, karena kata dokter kaka berontak terus.

Ka,

Hari kamis siang pas jam besuk dan itu cuma sejam, mom sama pap gantian nemuin kaka. Ya Allah nak, maafin kami ya, kami ga bisa apa2. Kaka nunjukin kalo dy minta tolong, dy gerakin semua infus dan ikatan di kedua kakinya. Mom ga kuat liat kondisi kaka. Masya Allah. Mom cuma berusaha senyum kasi semangat di depan kaka, Alhamdulilah kaka masih ngerespon, mom nyuruh kaka salam chibi pun kaka masih bisa dengan gerakin tangan meskipun tangan penuh infusan dan tranfusi. Mom ajak nyanyi kaka jg masih ngerespon, oia di mulut kaka dikasi plastik gt, karena kaka gigitin bibir kaka ampe bedarah. Mom sempet ngomong ” kaka mau nenen?” Kaka ngangguk. ” Kaka bau asem, belom mandi ya? ” Kaka ngangguk. Satu persatu orang yang masuk liat kaka keluar ruang ICU langsung nangis. Semua orang ga ada yang nyangka. Doa terus kami panjatkan nak. Jam besuk kedua kita ketemu kaka, cuma disitu kaka ga berontak lagi kaya tadi siang. Mom sempet minta maaf sama kaka “maafin mamih sama papih ya ka?” Kaka ngangguk. Mom suruh “mana mata genitnya?” Kaka kedipin mata. Keluar dari situ kami ga tenang, pas malam mencoba nelp ke dalam apa kaka udah tidur, kata orang dalam belum tapi ga segelisah kaya tadi. Gimana mau tidur, kaka biasa tidur sama mom, selalu nenen kalo mo tidur, sekarang disuruh tidur sendiri di ruangan yang asing.

Ka,

Hari jumat kita nunggu dipanggil dokter. Karena kata mereka kalo ga dipanggil berarti aman. Ruangan kita cuma dibatasin tembok ka, dan ada celah kecil yang nunjukin alat2 kaka. Mom tau kaka kalo ga tenang, karena tiang2 itu goyang. Dokter datang jam 9 pagi, pas mom ngintip dokter ko mukanya tegang gitu, ya Allah kak itu rasanya pengen tau kenapa. Akhirnya dokter manggil, ngasi tau lah ini itu. Dokter bilang virusnya udah nyebar ke semua, anti biotik yang dikasi ga bereaksi, obat panas pun sama, ampe yang dimasukin lewat dubur juga ga bereaksi, udah nyerang ke pengatur suhu badan kaka di otak. Obat tenang pun sama. Diliat dari tempat tidur mata kaka ditutupin kasa, mom tanya karena mata kaka ga tidur takut kering kata dokter. Panas kaka ga turun2 ampe 41 derajat. Dokter inisiatif mo kasi asi nyoba apa kaka bereaksi dan turun ga, iya mom tetep mompa dan nitipin asi sebelumnya kaka puasa biar paru2nya bersih. Dokter nunjukin hasil lab pas kaka datang sampai kaka dirawat. HB kaka udah normal berkat tranfusi, tapi darah putih kaka tinggi banget, jadi makanin darah merah yang suplai buat oksigen ke otak. Bakteri dan virus kaka banyak banget, maafin mom sama pap ya ka, ga tau itu bakteri sama virus darimana, yang mom ngerti ada virus dari rokok juga! I hate ciggarate or smoker!!!! Dokter cuma bilang harapannya tipis, semoga anak ibu bisa bertahan.

Ka,

Mom udah keilangan arah ka, ga ngerti mo ngapain selain berdoa dan memohon ampun dan semoga diberi kesempatan kedua. Kerabat, sodara sampai temen sma pap datang ga henti2 buat kasi support. Kung juga datang, sengaja ijin meeting buat ke Bandung. Apalagi mom tiba2 keluar flek lagi, aaaah sebel. 10 menit sebelum jam besuk dibuka dokter panggil mom sama pap. Dan melihat pemandangan yang selama ini kami liat di sinetron terjadi di depan mata. Kaka terbujur diam, suster2 neken dada kaka supaya kaka bertahan. Itu rasanya kaya, …

Masya Allah,

Mom cuma diam terpaku, ngeliat kaka dibantu suster, ngeliat mesin itu kadang flat kadang muncul detak jantung. Ngeliat mesin itu nunjukin angka 0 dan pas angka di mesin nunjukin detak jantung kaka ada, ilang, ada. Mom bisikin 2 kalimat syahadat, mom bacain Al-Fatihah, nyuruh pap azanin kaka. Tapi Allah berkendak lain. Setengah jam kaka dibantu suster, dibantu obat tapi kaka ga selamat. Dokter minta mom sama pap mo diterusin ato ga, akhirnya kita mutusin ga, ngeliat kondisi kaka yang kami masih ga ngeh kalo kaka sebenernya udah ga ada.

Tepat dzuhur ka, pas hari jumat setelah shalat jumat selesai, kaka ninggalin kami. Kaka terbujur diam di ruangan jenazah layaknya kaka lagi tidur dengan mata sedikit terbuka, bibir biru, dan luka bekas selang2 itu. Satu persatu kerabat, sodara datang menengok. Mom ga bisa nangis ka, ga bakal nyangka kaya gini.

Ada kejadian yang masih mom ga ngerti, pas mata kaka sedikit terbuka, mom cuma bilang, “kaka nunggu siapa nak? Semua udah dateng”. Berusaha nutup matanya tapi ga bisa. Kepalanya masih anget tapi seluruh badan dingin, yup masih ada pengaruh obat didalamnya. Pas ashar pap masuk dan bilang semua administrasi sudah selesai, semua sudah dibayar, dan mom sempet gendong kaka untuk terkahir kalinya, ga lama kaka merem. Masya Allah, kaka anak baik,  tau kesusahan orang tuanya, menunggu sampai kewajiban dilunasi.

Uti gendong kaka dari ruang jenazah sampe mobil. Mom ga mau pake ambulan, biar kaka pulang naek mobil kaka, mobil yang sengaja kung beli biar kaka ga kepanasan kalo jalan2, biar kaka ga naek taxi kalo ke mall.

Semua begitu cepat, nyampe rumah di Malabar, kaka dimandiin, iya yang mandiin ustad, pap yang mangku kaka, uti yang nyabunin, mom yang bersihin muka kaka. Kaka disholatin, terus dikubur.

Azan magrib mengiringi tanah itu menutupi badan dan raga kaka.

Ka,

Sampai sekarang meskipun mom udah bisa tersenyum, mom udah bisa ketawa tapi setiap mom buka mata, setiap mom menghela nafas, setiap mom diam langsung ingat kaka. Kadang yang keinget kejadian di ruang icu. Kaka udah datang lewat mimpi ke orang2, mom tau pasti kaka mo nunjukin kalo kaka udah bahagia disamping Allah, kaka udah senang ga sakit lagi dan ga perlu minum obat. Tapi mom masih, ….

Semua orang berusaha menenangi mom, bilang tar kaka yang nunggu kami di surga, udah punya tabungan di surga, bilang jangan ditangisin terus kasian tar kaka sedih, kaka ga tenang. Mom cuma mo bilang makasih, tapi jangan larang mom buat bersedih ato menangis. Doa selalu mom panjatkan. Andai orang itu pernah rasain yang mom sama pap rasain, kehilangan anak, belahan hati yang kami tunggu. Mom yang selalu takut melihat proses pemakaman harus bisa kuat melihat anak sendiri yang dimakamkan. Melihat dimandiin, disholatin hingga dikubur. Masya Allah.

Ka,

Mom tau kaka ngawasin mom sama pap dan keluarga yang deket sama kaka, ato yang belum pernah ketemu kaka tapi kaya udah kenal kaka. Bantu mom sama pap ya ka, bisa lewatin ini semua. Mom sama pap sayang banget sama kaka.

“Dah mamih, mo naek awat, gih yuk mih” mom jadi inget pas kaka ngambil sepatu trus ngajak pergi mom naek pesawat beberapa hari sebelum ke bandung. Alhamdulilah, makam kaka dilewatin pesawat, sama kedengeran bunyi kereta. 2 angkutan publik yang kaka suka. Meskipun mom ga sempet kabulin kaka minta naek bajay, mom tau kaka di alam sana udah naek bajay yang indah banget.

Ka,

Ini surat terakhir mom buat kaka. Maafin mom cm bisa sekali seminggu nengokin rumah kaka, maafin mom yang cm bs bantu doa buat kaka, maafin mom kalo masih ada keinginan kaka yang belum terpenuhi, maafin mom yang bisa nyusui kaka cm 18bulan. Maafin mom sama pap yang belum bisa jadi orang tua terbaik buat kaka. Baik-baik ya nak, tunggu kami di surga. Insha Allah kejadian ini bikin kami lebih dekat lagi sama Allah, biar kaka bisa yakinin Allah mom sama pap udah kasi terbaik buat kaka. Dan ketemu kaka di surga. Mom sama pap sayang kaka selalu dan selamanya.

http://fikihfikih.blogspot.com/2012/06/surat-terakhir-buat-kaka.html

======================================================================

Merokok saat Tidak ada orang lain gak masalah? Pelajari dulu : Third Hand Smoke (THS) ! by F.B.Monika

Banyak perokok/active smoker yang sudah mulai sadar akan tindakannya dapat membahayakan kesehatan perokok pasif/passive smoker atau disebut juga secondhand smoker. Jadi contoh perilaku para perokok aktif itu misalnya pindah ke ruangan lain di dalam rumah untuk merokok atau merokok dalam rumah saat tidak ada orang lain di dalam rumah/ruangan tersebut.

Lalu sudah hilangkah semua bahayanya bagi orang lain? Akan saya paparkan mengenai Third Hand Smoke (THS). Sebelumnya akan dibahas sedikit mengenai Second hand smoke.

Apakah secondhand smoke itu (SHS)?

Secondhand smoke  (SHS) dikenal juga dengan istilah Environmental Tobacco Smoke (ETS).

SHS adalah gabungan dari 2 bentuk asap yang berasal dari tembakau yang dibakar.

1. Asap sidestream : Asap dari rokok, cerutu yang dinyalakan.

2. Asap mainstream : Asap yang dihembuskan oleh perokok.

Awalnya saya berpikir 2 hal tersebut sama aja, ternyata tidak. Asap sidestream memiliki karsinogen (cancer-causing agents) dengan konsentrasi yang lebih tinggi serta lebih beracun/toksik dibandingkan asap mainstream terutama asap sidestream di ujung/saat rokok sudah mau habis. Selain itu partikelnya lebih kecil dari asap mainstream, akibatnya asap sidestream tersebut makin mudah masuk ke paru-paru dan sel-sel tubuh. Ketika orang yang tidak merokok menghirup SHS maka dinamakan Perokok pasif/involuntary.

Masalah Kesehatan Apa yang ditimbulkan oleh Secondhand Smoke/SHS ?

Asap rokok merupakan gabungan dari gas dan partikel2.  Senyawa berbahaya ini dapat bertahan berada di udara selama sekitar 4 jam.  Makin lama menghirup SHS, makin tinggi senyawa berbahaya ini di dalam tubuh. Asap rokok mengandung >4.000 senyawa kimia. Lebih dari 250 senyawa kimia ini telah diketahui berbahaya dan paling tidak 50 diantaranya menyebabkan kanker seperti kanker paru-paru. Senyawa2 kimia ini termasuk ammonia, acrolein, carbon monoxide, formaldehyde, hydrogen cyanide, nicotine, nitrogen oxides, polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs), sulfur dioxide (U.S. Department of Health and Human Services 2006). Terdapat bukti yang menghubungkan SHS dengan penyakit2 berat lainnya seperti lymphoma , leukemia, tumor otak pada anak2 dan kanker larynx (kotak suara) , kanker payudara, penyakit jantung coroner dan peningkatan resiko stroke.

Bagi wanita hamil, selain berbahaya bagi wanita hamil tersebut, juga berbahaya bagi janinnya. Meningkatnya resiko placenta previa,  keguguran (miscarriage), janin meninggal di dalam kandungan (stillbirth) dan kehamilan ectopic. Menghirup SHS menurunkan kadar oksigen yang tersedia bagi Ibu dan bayi , meningkatkan detak jantung bayi, meningkatkan kecenderungan bayi lahir dengan berat badan rendah dan atau lahir prematur. Juga terdapat kasus dari orang tua yang merokok sebelum dan setelah kehamilan memiliki bayi dengan penyakit hepatoblastoma.

Khusus bagi bayi & anak-anak yang menjadi perokok pasif, bahayanya adalah sebagai berikut :

1. Sudden Infant Death Syndrome (SIDS), resikonya meningkat pada bayi yang Ibunya merokok

2. Asma : SHS dapat memicu serangan asma pada anak yang penderita asma

3. Masalah pernapasan seperti batuk – bronchitis, pneumonia

4. Terhambatnya perkembangan paru-paru

5. Meningitis

6. Otitis media / Infeksi telinga tengah

7. Iritasi mata dan hidung

8. Meningkatkan kecenderungan anak kelak akan menjadi perokok!

Sekarang saya masuk membahas Thirdhand smoke (THS).

Istilah thirdhand smoke pertama kali muncul tahun 2006 tapi baru dikenal luas tahun 2009 ketika Jonathan Winickoff, seorang associate professor of pediatrics di  Harvard Medical School & koleganya mempublikasikan paper mengenai bahaya THS. The New York Times menyebutkan bahwa THS (Third Hand Smoke) adalah racun berbahaya, kontaminasi residu dari tembakau yang tidak terlihat (tapi masih dapat tercium) , yang menempel pada baju, rambut perokok (aktif) juga termasuk permukaan karpet, kasur, bantal, sofa dll.

Komponen Third Hand Smoke/THS yang telah diidentifikasi hingga saat ini adalah nicotine, 3-ethenylpyridine (3-EP), phenol, cresols, naphthalene, formaldehyde, dan tobacco- specific nitrosamines (Destaillats et al. 2006;Singer et al. 2002, 2003, 2004; Sleiman et al. 2010b). Penelitian tahun 2002 menemukan bahwa racun2 ini dapat kembali terlepas ke udara dan bergabung membentuk senyawa berbahaya dalam kadar tinggi dalam waktu yang lama setelah perokok meninggalkan ruangan tersebut. Menurut Surgeon General’s Report tahun 2006, tidak ada ambang batas aman dalam menghirup/terpapar asap rokok.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan bulan February 2010 menemukan bahwa THS/Thirdhand smoke menyebabkan pembentukan karsinogen. Nikotin dapat berada di permukaan selama berhari2 bahkan berminggu2, jadi karsinogen terus terbentuk sepanjang waktu, yang kemudian dapat dihirup/ tertelan dan kemudian diserap tubuh.

Siapakah yang paling beresiko terpapar THS ini? Tentu saja anak2! Bayi dan anak-anak sangat rentan terkontaminasi karena mereka tidak dapat mengontrol memasukkan tangan ke dalam mulut mereka pasca menyentuh permukaan yang terkontaminasi. Oleh karena itu sangat penting dan mendesak sekali untuk menyediakan tempat bebas asap rokok dan di tempat umum disediakan tempat khusus untuk merokok.

I don’t hate you Dear SMOKERS, I just hate What You Do With The Cigarettes :

Apa yang dapat kita (Bukan Perokok) lakukan untuk menghindari SHS (Secondhand Smoke) & THS (Thirdhand smoke) ?

Beberapa saran berikut mungkin dapat menolong mengurangi atau bahkan mengeliminasi diri kita dan anggota keluarga dari SHS & THS :

1. Mintalah tamu yang mau merokok untuk merokok DI LUAR RUMAH dan menggunakan jaket sehingga racun2nya tidak menempel langsung di baju (nanti jaketnya diletakkan di luar rumah).

2. Bukalah jendela, pasang kipas angin / intinya menjaga aliran udara-ventilasi dengan baik baik di rumah (terutama kamar) dan di tempat kerja.

3. Jangan letakkan asbak dalam rumah.

4. Seluruh anggota keluarga yang merokok dilarang merokok di dalam rumah, dan ketika masuk ke rumah pasca merokok, sikat gigi, mandi dan ganti baju. Bila tidak bisa, maka cuci tangan, sikat gigi dan ganti baju.

5. Bila bertamu ke rumah perokok bersama bayi/anak2 dan anda mencium bau rokok di dalam rumah, cobalah memperpendek waktu bersilaturahmi di dalam rumah dan dilakukan pembicaraan di luar rumah , bila memungkinkan.

6. Jika merokok diijinkan di tempat kerja anda, bicaralah ke HRD tentang memodifikasi aturan merokok di tempat kerja, paling tidak mengupayakan ruangan khusus merokok.

7. Pilihlah bekerja dengan pekerja yang tidak merokok – jika memungkinkan.

8. Ketika menginap di hotel, pilihkan Non-Smoking Room.

Apa lagi ya? Ada yang bisa mengusulkan?

Sumber2 :

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3230406/

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23741945

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23079177

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3040625/

http://www.cancer.org/cancer/cancercauses/tobaccocancer/secondhand-smoke

http://www.nhs.uk/chq/pages/2289.aspx?categoryid=53&#038;

https://health.clevelandclinic.org/5-things-you-should-know-about-the-risks-of-thirdhand-smoke/

http://www.no-smoke.org/learnmore.php?id=671

https://www.facebook.com/notes/fatimah-berliana-monika-purba/merokok-saat-tidak-ada-orang-lain-gak-masalah-pelajari-dulu-3rd-hand-smoke-/10203415846622733

[Kliping] Obat Cacing untuk Anak, Kapan Diberikan?

Jakarta, Sejak duduk di bangku SD, banyak siswa diajarkan bahwa obat cacing harus diminum rutin 6 bulan sekali. Meski obat cacing relatif aman, informasi ini dinilai menyesatkan karena yang harus dilakukan secara rutin adalah pemeriksaan tinja.

Hal ini ditegaskan oleh ahli parasitologi dari Universitas Indonesia, Prof dr Saleha Sungkar, DAP&E, MS, Sp.ParK, dalam jumpa pers Program Edukasi Bahaya Cacingan di Sekolah yang diselenggarakan oleh Combantrine di Restoran Black Canyon Coffee, Cipete, Jakarta Selatan, Senin (31/1/2011).

“Segala bentuk pengobatan harus dilakukan based on diagnosis, jadi harus berdasarkan diagnosis. Jika diperiksa tinjanya kemudian ternyata positif cacingan, baru boleh diberi obat cacing. Nah, periksa tinjanya itulah yang seharusnya dilakukan tiap 6 bulan,” ungkap Prof Saleha.

Masalahnya sebagian orang malas untuk memeriksakan tinjanya sendiri atau tinja anak-anaknya, karena selain jijik juga agak rumit dan memakan lebih banyak biaya. Karenanya agar lebih praktis, obat cacing diberikan secara rutin setiap 6 bulan meski belum tentu orang tersebut atau anaknya benar-benar cacingan.

Lagipula menurut Prof Saleha, obat cacing relatif aman dari efek samping. Meski bagi sebagian orang bisa menyebabkan keluhan ringan mual-muntah dan alergi, hal itu sangat jarang terjadi sehingga obat cacing umumnya bisa dibeli tanpa resep dokter.

“Kalau ada ibu-ibu mau kasih anaknya obat cacing secara rutin tanpa melakukan pemeriksaan, ya silakan saja tapi kami sebagai orang kesehatan tidak menganjurkan. Teman-teman media juga harus hati-hati menulisnya, yang dianjurkan untuk rutin dilakukan adalah pemeriksaan tinja bukan pemberian obat cacing,” tegas Prof Saleha.

Selain berdasarkan hasil tes laboratorium, diagnosis anak atau seseorang yang positif cacingan juga bisa didasarkan pada pengamatan feses. Jadi bila ibu-ibu menemukan ada cacing di feses anaknya, atau anaknya muntah cacing, anak tersebut bisa segera diberi obat cacing tanpa perlu diperiksa di laboratorium.

(up/ir)

http://health.detik.com/read/2011/01/31/153359/1557313/763/obat-cacing-tidak-dianjurkan-diminum-rutin-tiap-6-bulan

========================================================================

Apa iya masih ada anak yang cacingan? Eits, jangan anggap remeh cacingan pada anak ya, Bu! Karena angka anak yang terkena penyakit cacingan masih tinggi. Cacingan mudah menyerang anak, apalagi jika anak tidak menjaga kebersihan, terutama mencuci tangan sebelum makan dan sesudah dari toilet.

Tidak jarang juga anak bermain kotor yang bisa menyebabkan cacingan pada anak. Cacingan terjadi karena tubuh terinfkesi cacing parasit, seperti cacing kremi,  cacing pita, cacing gelang dan cacing tambang. Nah, masuknya cacing parasit bisa melalui makanan atau pori-pori tubuh anak.

Tanda-Tanda Cacingan

Cacingan akan menyerap zat gizi dalam tubuh dan bisa mengakibatkan tubuh anak kurus. Tanda anak cacingan yang mudah untuk dikenali, tubuh kurus tetapi perut anak buncit, berat badan tidak naik padahal anak tidak ada masalah dengan nafsu makan dan sulit makan. Anak gelisah di malam hari dan terlihat menggaruk bokongnya. Anak sering mengalami gangguan lambung dan usus seperti mulas dan diare secara berkala. Tanda yang bisa ibu lihat secara jelas, anak terlihat lesu, tidak bergairah dan sering mengalami demam yang hilang timbul.

Jika anak positif terkena cacingan, ibu bisa memberikan obat cacing. Ingat, obat cacing bukan digunakan sebagai pencegahan. Jadi sangat tidak disarankan untuk memberikan obat cacing pada anak, jika tidak dilakukan pemeriksaan feses (tinja) dan positif ditemukan telur atau larva pada tinja anak.

Perlu diingat, bahwa obat  cacing hanya ddiberikan kepada anak yang mengalami cacingan. Untuk anak usia satu tahun yang terkena cacingan, obat cacing yang diberikan harus disesuaikan dengan indikasi. Sayangnya masih ada orangtua yang keliru memberikan obat cacing dengan tujuan melakukan pencegahan pada cacingan dengan memberikan obat cacing pada anak, enam bulan sekali.

Padahal, cacingan dicegah bukan dengan memberikan obat cacing tetapi dengan menjaga kebersihan lingkungan dan tubuh anak. Caranya mencuci sayuran dengan air mengalir, memasak daging hingga matang dan membiasakan anak untuk mencuci tangan. Nah, Bu, sebelum memberikan obat cacing kepada anak, sebaiknya berkonsultasi dulu ke dokter dan lakukan pemeriksaan feses di laboratorium untuk memastikan anak positif cacingan.

http://family.fimela.com/anak/kuat-sehat/bolehkah-memberi-obat-cacing-untuk-mencegah-cacingan-pada-anak-130430g.html

============================================================

Arifianto Apin Ini penjelasan dari dr. Aprilianto Eddy Wiria, Ph.D, seorang ahli parasitologi klinik di Indonesia:

Infeksi kecacingan (cacing usus: seperti yang dr Apin sebut di atas) memang relatif masih endemik di daerah pedesaan di Indonesia, namun di wilayah perkotaan, seperti Jakarta sudah berkurang banyak dan relatif rendah. Hal ini terutama karena pengunaan jamban, kebiasaan cuci tangan dengan air mengalir (+sabun) sebelum makan dan sesudah buang air besar dan menggunakan sepatu ketika bermain di tempat-tempat yang kemungkinan tanahnya mengandung larva cacing tambang, serta pembagian obat cacing secara teratur di sekolah-sekolah beberapa tahun yang lalu.

Obat cacing seperti pirantel, albendazol, dan mebendazol, tidak berbahaya. Kadang cacing masih bisa ikut keluar bersama kotoran setelah minum obat, atau sekali dua kali mencret atau mual. Tetapi keluhan ini akan hilang sendiri dan sangat jarang terjadi. Pemberian pada ibu hamil memang dihindari, karena laporan penelitiannya belum banyak. Dari hasil penelitian epidemiologi yang dilaporkan di jurnal-jurnal baik seperti new england, lancet, plos, tidak ada efek samping berbahaya.

Untuk daerah endemik, masih diberikan obat cacing berkala kepada anak-anak sekolah, sedangkan di non endemik, hanya yang terinfeksi yang perlu berobat. Sebaiknya diperiksa dulu tinjanya untuk melihat telur cacing dll.

Pemberantasan kecacingan lebih pada perbaikan kebersihan lingkungan dan sanitasi pribadi.

Untuk jenis cacing lain seperti filariasis atau dikenal dengan kaki gajah, sedang dicanangkan eliminasi, sehingga di wilayah-wilayah yang masih di atas 1% prevalensinya, sedang dibagikan obat dec dan albendazol sekali setahun selama beberapa tahun.

======================================================================

Edit: bulan Agustus 2016 ada kebijakan pemberian obat cacing melalui posyandu di beberapa daerah (http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20160804/5715540/menkes-canangkan-crash-program-campak-diintegrasikan-bulan-pemberian-kapsul-vitamin-dan-obat-cacing/), ini sifatnya pencegahan, semacam blanket treatment (‘pukul rata’ tanpa tes terlebih dahulu) ya… Selengkapnya mengenai tindakan pencegahan yang sifatnya khusus dari pemerintah (sepertinya sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 424/Menkes/SK/VI/2006 tentang Pedoman Pengendalian Kecacingan) ini bisa dibaca di http://milissehatyop.org/penggunaan-obat-cacing/.

[Kliping] Bedak Bayi, Perlukah?

Awas!!! Bedak dan Minyak Telon Bahaya Bagi Bayi

Nadhifa Putri – detikNews

Jakarta – Aroma tubuh bayi yang wangi dan lembut seringkali membuat kita selalu ingin menciumnya. Wangi yang berasal dari bedak ataupun minyak yang dibalurkan bayi menunjukkan ciri khas buah hati.

Namun, amankah pemakaian produk-produk tersebut bagi si mungil? Dokter Spesialis anak RS Pondok Indah Karel Staa menegaskan, pemakaian bedak, minyak kayu putih, minyak telon dan pewangi (cologne) sangat berbahaya untuk kesehatan bayi di masa datang.

“Partikel-partikel yang terkandung di dalam bedak bayi dan minyak itu bahaya jika dihirup bayi,” kata Karel Staa usai diskusi bertajuk ‘Lindungi Semua Perempuan dari Kanker Serviks’ di RS Pondok Indah, Jl. Metro Duta , Jakarta Selatan, Sabtu (10/5/2008).

Produk tersebut, kata Karel, dapat membahayakan fungsi paru-paru. “Misalnya batuk yang tidak sembuh. Nanti setelah diperiksa, biasanya dokter akan menyuruh memberhentikan pemakaian bedak dan lain-lain. Setelah itu batuknya hilang. Itu bisa saja respirasi paru,” imbuh dia.

Baluran minyak dipercaya dapat memberi kehangatan untuk bayi. Namun hal ini juga dibantah Karel. “Kata siapa? Dari mana? Kulit bayi kan belum berfungsi. Lalu mau ditutupi produk itu, bagaimana pori-porinya bernafas?” ujarnya.

Karel menuturkan, pernah mendapati salah satu pasiennya mengeluhkan kulit anaknya gosong. “Ternyata setelah diperiksa, bayinya dibalurin minyak kayu putih 100 persen,” tutur dia.

Ditambahkan dia, kulit bayi seharusnya dibiarkan apa adanya. Meski bayi baru dapat merasakan rangsangan di usia di atas 1 tahun, pemakaian produk tetap tidak dianjurkan.

“Itu kan tradisi Indonesia, dari orang tua. Biarkan bayi pure. Kecuali ada indikasi medis seperti iritasi, itu harus anjuran dokter,” pungkasnya.

Sebagian besar bedak bayi mengedepankan talc sebagai bahan utamanya. Talc adalah semacam batuan mineral yang melalui proses penambangan dan penggilingan sehingga berubah bentuk menjadi butiran-butiran halus.

Dalam proses penggilingan tersebut beberapa partikel mineral ada yang menghilang namun ada pula yang tertinggal. Partikel abses yang tertinggal inilah yang rupanya membahayakan bagi buah hati Anda.

Apabila seseorang (apalagi bayi) kerap menghirup bedak yang notabenenya mengandung partikel abses tersebut, efeknya dapat terjadi peradangan paru-paru, pneumonia bahkan berujung kematian. Walau belum dapat dipastikan korelasi antara talc dan kanker paru-paru.

Berdasarkan laporan-laporan negatif itulah, American Academy of Pediatrics (Ikatan Dokter Anak Amerika Serikat) melarang penggunaan bedak berbahan dasar talc pada bayi. Apalagi baru-baru ini tersiar berita bahwa kebiasaan menabur bedak pada kemaluan bayi dapat memicu kanker ovarium di kemudian hari.
Sumber: http://news.detik.com/berita/937218/awas-bedak-dan-minyak-telon-bahaya-bagi-bayi

======================================================================

Tulisan mba Fatimah Monika Berliana Purba Konselor Laktasi dan Leader La Leche League

Tulisan ini menyambung comment di tulisan saya mengenai Peran Ayah ASI :
https://www.facebook.com/notes/fatimah-berliana-monika-purba/ayah-asibreastfeeding-father-dukunga-ayah-tingkatkan-keberhasilan-pemberian-asi/10201705965316769

Jadi kalau diklik ada foto dokumentasi peserta Kelas Edukasi Persiapan Menyusui yang saya ajar, di mana game-nya itu bapak-bapak kontes siapa yang paling bener & OK dalam mengganti popok bayi. Nah, untuk menjebak ditaruhlah bedak, ternyata bapak-bapak memakaikan bedak semua.

Lalu masuk comment berhubung ga tau bahwa itu games, bilang kan gak boleh bayi dikasih bedak. Banyak yang bertanya, kenapa? Nah, silahkan simak tulisan saya ini. Btw, tahukah para smart parents kalau bayi-bayi Indonesia itu penuh olesan, penuh benda-benda kosmetik yang gak perlu? Mungkin bosan ya saya bilang kalau bayi2 bule juarang bedak2an, minyak telon, cologne, hair lotion, lotion dll.

Continue reading