Tantangan Level 5 (Menstimulasi Anak Suka Membaca) Hari 1

Tantangan Kelas Bunda Sayang IIP Level 5 ini terus terang saya suka banget, tapi di sisi lain jadi ujian juga…. Saya suka membaca buku dan membacakan ke anak-anak, anak-anak alhamdulillah juga sudah terlihat tumbuh kesukaannya pada buku, tapi sanggupkah kami konsisten? Apalagi di bulan Ramadhan, pulang kantor biasanya nyambung berbuka, sholat Maghrib, tak lama kemudian sholat Isya dan tarawih. Belum lagi target harian Ramadhan. Kapan waktunya baca bareng anak-anak? Tapi alhamdulillah, lumayan tertolong karena suami sedang libur kuliah cukup lama, jadi seperti petang ini misalnya, saya dapat laporan dari Fathia kalau tadi sudah baca buku ini dan itu bersama ayah.

Hari ini mulai laporan yang kemarin dulu aja ya… Mohon maklumi Pohon Literasi yang masih seadanya, hehehe.

 

Continue reading

Amalan Ketika Sedang Haid di Bulan Ramadhan

Puasa saya Ramadhan ini sudah bolong di awal karena haid. Nah, bulan suci ini sayang kan kalau dilewatkan begitu saja tanpa berupaya menambah amalah? Dalam keadaan haid, apa dong yang bisa dilakukan? Banyak, kok. Punya buku yang khusus membahas hal ini, trus beberapa waktu yang lalu dapat forward-an dari teman yang dapat dari grupnya, versi ringkasnya lah ya, sayang kalau tidak diarsipkan di sini.

SERI FIQIH MUSLIMAH

AMALAN KETIKA WANITA SEDANG HAID

▶ Dalam Islam, wanita yang sedang berhalangan (haid) masih tetap bisa untuk beribadah, selama tidak melanggar aturan syariat.

Allah menegaskan dalam firman-Nya,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu Al-Yaqin.”
(QS. Al-Hijr: 99)

Para ulama tafsir sepakat bahwa makna Al-Yaqin pada ayat di atas adalah KEMATIAN.

▶ Sekalipun kondisi datang bulan, wanita haid masih bisa melakukan amalan ibadah.

❌ *Amalan Yang Dilarang Dalam Syariat, di Antaranya;*

1⃣ SHALAT
Dari Abu Said radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ ، وَلَمْ تَصُمْ فَذَلِكَ نُقْصَانُ دِينِهَا

“Bukankah bila si wanita haid ia tidak shalat dan tidak pula puasa? Itulah kekurangan agama si wanita.”
(Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari no. 1951 dan Muslim no. 79)

2⃣ PUASA
Sebagaimana disebutkan dalam hadis Abu Said radhiyallahu ‘anhu di atas.

3⃣ THAWAF DI KA’BAH
● Aisyah pernah mengalami haid ketika berhaji. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan panduan kepadanya,

فَافْعَلِى مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِى بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِى

“Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan orang yang berhaji selain dari melakukan thawaf di Ka’bah hingga engkau suci.”
(HR. Bukhari no. 305 dan Muslim no. 1211)

4⃣ MENYENTUH MUSHAF
● Orang yang berhadats (hadats besar atau hadats kecil) tidak boleh menyentuh mushaf seluruhnya ataupun hanya sebagian.

● Inilah pendapat para ulama empat madzhab.

Dalil dari hal ini adalah firman Allah Ta’ala,

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan”
(QS. Al Waqi’ah: 79)

Dalil lainnya adalah sabda Nabi ‘alaihish shalaatu was salaam,

لاَ تَمُسُّ القُرْآن إِلاَّ وَأَنْتَ طَاهِرٌ

“Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali engkau dalam keadaan suci.”
(HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Continue reading

Materi #5 Kuliah Bunda Sayang IIP: Menstimulasi Anak Suka Membaca

Institut Ibu Profesional, Kelas Bunda Sayang, Materi #5

MENSTIMULASI ANAK SUKA MEMBACA

🔸🔹🔸🔹🔸🔹🔸🔹

Mari kita mulai dengan bermain peran terlebih dahulu. Bayangkan kita adalah seorang dewasa dengan bahasa yang kita gunakan sehari-hari adalah bahasa Indonesia, belum pernah mengetahui bahasa Mandarin, kemudian tiba-tiba kita diberi koran berbahasa Mandarin dengan tulisan Mandarin semua. Apa yang terbayang di benak kita semua?
Pusing? Tidak tahu maksudnya? Lalu kita hanya melihat-lihat gambarnya saja?

Hal tersebut akan sama dengan anak-anak yang belum dibiasakan mendengarkan berbagai dialog bahasa ibunya, belum belajar berbicara bahasa ibunya dengan baik, tiba-tiba dihadapkan dengan berbagai cara belajar membaca bahasa ibunya tersebut yang berisi dengan deretan-deretan huruf yang masih asing di benak anak, diminta untuk mengulang-ulangnya terus menerus dengan harapan anak bisa cepat membaca.

🍒 KETERAMPILAN BERBAHASA
Sebelum lebih jauh membahas tentang teknik menstimulasi anak membaca kita perlu memahami terlebih dahulu tahapan-tahapan yang perlu dilalui anak-anak dalam meningkatkan keterampilan berbahasanya.

IMG-20170607-WA0048

🍒 Tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Keterampilan Mendengarkan (listening skills)
b. Keterampilan Berbicara (speaking skills)
c. Keterampilan Membaca (reading skills)
d. Keterampilan Menulis (writing skills).

Keempat tahapan tersebut di atas harus dilalui terlebih dahulu secara matang oleh anak. Sehingga anak yang BISA MENDENGARKAN (Menyimak) komunikasi orang dewasa di sekitarnya dengan baik, pasti BISA BERBICARA dengan baik, selama organ pendengaran dan organ pengecapnya berfungsi dengan baik.

Mendengarkan dan berbicara adalah tahap yang sering dilewatkan orangtua dalam menstimulasi anak-anaknya agar suka membaca. Sehingga hal ini mengakibatkan anak yang BISA MEMBACA, belum tentu terampil mendengarkan dan berbicara dengan baik dalam kehidupan sehari-harinya. Padahal dua hal keterampilan di atas sangatlah penting.

Banyak orang dewasa yang menggegas anaknya untuk bisa cepat-cepat membaca, padahal anak yang BISA BERBICARA dengan baik, pasti akan BISA MEMBACA dengan baik, tetapi banyak yang mengesampingkan 2 tahap sebelumnya.

Pertanyaan selanjutnya, mengapa banyak anak bisa membaca tetapi sangat sedikit yang menghasilkan karya dalam bentuk tulisan, bahkan di antara kita orang dewasa pun sangat susah menuangkan gagasan-gagasan kita, apa yang kita baca, kita pelajari dalam bentuk tulisan?

Padahal kalau melihat tahapan di atas anak yang BISA MEMBACA dengan baik pasti akan BISA MENULIS dengan baik.

Mengapa? Karena selama ini anak-anak kita hanya distimulus untuk BISA membaca tidak SUKA MEMBACA. Sehingga banyak di antara kita  BISA MENULIS huruf (melek huruf) tetapi tidak bisa menghasilkan karya dalam bentuk tulisan (MENULIS KARYA).

Terbukti  berdasarkan survei UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia baru 0,001 persen. Artinya dalam seribu masayarakat hanya ada satu masyarakat yang memiliki minat baca. Berdasarkan studi “Most Literate Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.

Continue reading

Kaum Lanjut Usia Bukan Berarti Tak Berdaya

Beberapa waktu yang lalu salah satu komunitas yang saya ikuti mengumumkan rencana untuk mengadakan bakti sosial di Panti Tresna Werdha, sebuah panti jompo di kawasan Jakarta Timur. Tadinya saya kira ini panti jompo yang sama dengan yang pernah saya kunjungi dengan teman-teman milis Cita Cinta sekitar 11 tahun yang lalu, tapi sepertinya berbeda. Mengunjungi panti jompo dan melihat beliau-beliau yang berusia lanjut dengan kondisi masing-masing menurut saya menerbitkan haru. Banyak yang tetap antusias berkegiatan dengan rekan-rekan seusianya, tetapi ada juga yang mungkin tidak se-bersemangat kawan lainnya. Akankah kita kelak diberi kesempatan menjalani masa tua yang bahagia, atau yang lebih dekat lagi dapatkah kita merawat orangtua kita dengan baik dengan tangan sendiri agar beliau tetap merasa nyaman di usia senja?

Baca juga: Indahnya Berbagi dengan Para Kakek dan Nenek di Bulan Ramadhan

Hari ini, 29 Mei ternyata diperingati sebagai Hari Lanjut Usia Nasional sejak tahun 1996. Tema tahun ini adalah “Hidup Bermartabat di Usia Senja, Lansia Sejahtera”. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2014 menunjukkan penduduk lansia mencapai 20,24 juta jiwa atau 8,03% dari total jumlah penduduk Indonesia. Kalau kata BKKBN, lansia sebagai golongan yang telah memiliki pengalaman hidup diharapkan bisa membagi pengalaman hidup untuk generasi muda.

Continue reading

Lagi, Menyimak Bahasan Fitrah Anak Bersama Ustadz Harry

Sabtu lalu, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional), Institut Ibu Profesional Jakarta menyelenggarakan Kopdar Akbar sekaligus Wisuda Kelas Matrikulasi IIP Batch #3. Tahun lalu saya tidak kesampaian ikut wisuda ‘angkatan’ saya yaitu batch #2, alhamdulillah masih bisa ikutan yang sekarang.

Kopdar IIP bukan kopdar biasa pastinya. Kopdar ini sekaligus dijadikan sarana untuk menambah ilmu. Kali ini yang diundang untuk berbagi adalah Ustadz Harry Santosa, founder HEbAT (Home Education based on Akhlak and Talent) Community dan penulis buku Fitrah Based Education. Tema materi dari Ustadz Harry adalah Mendidik Fitrah Iman Anak Usia Pra-Aqil Baligh. Berikut catatan saya dari materi yang beliau sampaikan, sebetulnya secara garis besar sama sih dengan workshop atau seminar Fitrah Based Education yang pernah saya ikuti, tapi belum sempat diposting di blog ini.


Jika kita amati akhir-akhir ini, tantangan zaman semakin banyak. IIP menurut Ustadz Harry menjadi embun penyejuk dengan kekuatan ibu-ibu yang bersama bergandengan tangan untuk siap menjadi arsitek peradaban. Salah satu tantangannya adalah mudahnya orang sekarang ikut arus. Anak yang dididik dengan baik sekarang, ke depannya belum tentu terjaga fitrah belajarnya dengan baik. Padahal semua anak terlahir dengan fitrah belajar, semuanya pasti suka belajar.

Lihat saja bayi yang pantang menyerah belajar berjalan meskipun berkali-kali jatuh. Namun, mengapa lama-lama belajar menjadi hal yang membosankan, tidak menyenangkan, bahkan yang ditunggu adalah tibanya saat pulang dari tempat belajar atau liburan. Pada dasarnya semua orang suka belajar, kalau terlihat tidak suka belajar bisa jadi objek belajarnya yang tidak relevan atau gaya belajarnya belum cocok.

Kita mendidik anak dalam rangka mengantar anak menuju tugasnya sebagai khalifah, menumbuhkan fitrahnya agar menjadi peran-peran peradaban terbaiknya. Allah sudah berikan misi pada tiap makhluk-Nya, misalnya dinosaurus diwafatkan karena tidak kompatibel lagi dengan manusia. Allah juga ciptakan life system untuk men-support.

Masa dewasa dalam Islam dimulai pada usia 15 tahun, umumnya anak sudah aqil baligh di umur itu, jadi tidak ada istilah remaja, setelah fase anak ya fase dewasa. Di usia itu seharusnya sudah bisa mandiri, kalaupun masih dibiayai orangtua maka jatuhnya jadi sedekah.

Sekarang, banyak orang yang masih bingung bakatnya apa bahkan pada usia 25 tahun, akibat sebelumnya terlalu tergantung pada orang tua, karena selama hidupnya hanya jadi robot pembelajar. Bahkan lulusan universitas terbaik pun belum tentu memperbaiki peradaban. Otak cerdas, tetapi gersang jiwanya, tidak menjadi human being. Skripsi bisa jadi merupakan karya pertama dan satu-satunya seumur hidup. Coba kita lihat pendidikan anak usia dini sekarang yang seharusnya mendidik anak sesuai fitrah usianya, tetapi justru didesain menjadi sekolah persiapan untuk memasuki SD.

Usia 15 tahun juga menjadi batas awal untuk memasukkan anak boarding school jika diperlukan. Di bawah 15 tahun sebaiknya anak belum dikirim ke sekolah berasrama atau pesantren, karena fitrah seksualitasnya belum matang.

Untuk fitrah seksualitas ini urutannya adalah sbb: 0-2 tahun dekat ke ibu dalam masa pemberian ASI (sebaiknya diberikan secara langsung dan tidak disambi kegiatan lain, bahkan termasuk ikut kelas online :D); 2-6 tahun dekat ayah dan ibunya; 7-10 tahun dekatkan dengan orangtua yang sejenis agar paham potensi keayahan/kebundaannya, berikan contoh bagaimana misalnya bunda jago masak dan menjahit, ayah ikut rapat-rapat dan kegiatan kemasyarakatan; 11-15 tahun kedekatan ke ayah dan bunda ‘disilang’, jadi anak perempuan didekatkan dengan ayah dan anak laki-laki didekatkan dengan bunda agar memahami karakter dari kaca mata jenis kelamin yang berbeda.

Continue reading

Persiapan Puasa (Ust. Zaitun Rasmin)

Memenuhi undangan dari teman-teman kantor lama, karena lokasinya juga tidak begitu jauh, saya turut menyimak kajian tarhib Ramadhan di masjid sana yang dilaksanakan setelah sholat Dzuhur berjamaah tamggal 16 Mei. Yang menjadi pengisi kegiatan tersebut adalah Ustadz Zaitun Rasmin. Berikut beberapa catatan saya dari tausiyah beliau.

Ramadhan merupakan bulan ibadah, yang bisa kita lakukan untuk mengisinya meliputi ibadah jasadiyah (sholat, puasa), qalbiyah (lebih banyak berdzikir dan introspeksi, tidak bicara ancaman atau menyakitkan), dan maaliyah (infaq, shadaqah).

Puasa 30 hari bisa ditambah nilainya menjadi lebih dari 30 hari dengan memberi buka kepada orang lain yang berpuasa. Selain berpahala, juga menyenangkan yang menerima. Tidak harus kirim ke yayasan atau sejenisnya, bisa saja dengan tukar menukar makanan buka dengan teman kantor atau berbagi makanan berbuka dengan orang yang ditemui dalam perjalanan pulang kerja.

Continue reading

Cermati Hal-hal Ini Dulu Sebelum Eksis di Medsos

Hari ini Perpustakaan Kementerian Keuangan mengundang mas Iwan Setyawan, penulis buku 9 Summers 10 Autumns yang sudah difilmkan dan pendiri lembaga Provetic, dengan tema Jurus Jitu Eksis di Media Sosial. Berhubung tanggal 17 Mei adalah juga Hari Buku Nasional, mas Iwan mengawali uraiannya dengan menyebutkan bahwa anak muda yang keren sekarang sejatinya adalah anak muda yang berani duduk di kafe sendiri sambil membaca buku seperti buku Pramudya Ananta Toer, bukan yang keluar masuk mall. Di sini, budaya itu masih belum berjalan.

Media sosial secara teknologi digital amat membantu, kita bisa tahu perkembangan terkini di belahan dunia lain saat ini juga. Sehingga lifestyle orang meski terpisah jarak cenderung hampir sama, dengan media sosial saat ini kelas C, D, E bisa tahu tren dan kabar terbaru apa yang sedang terjadi di kota metropolitan, di mana saja dan kapan saja. Ini bisa juga mendorong gaya hidup baru seperti menghitung kalori dengan bantuan teknologi. Di sisi lain, media sosial menampilkan yang indah-indah saja, everyone looks perfect in socmed, bisa bikin kita merasa harus mencapai hal serupa padahal belum tentu sesuai dan mampu. Belum lagi kalau waktu kita terlalu banyak dihabiskan untuk kepo sana-sini yang tidak bermakna.

“Kita kini makin banyak menghabiskan waktu untuk sibuk melihat hidup orang lain, sedangkan hidup kita sendiri terancam terabaikan. Iseng baca komen, bisa jadi malah kebawa emosi seharian yang merusak indahnya hari itu bahkan mengganggu pekerjaan. Lihat judul provokatif saja langsung panas. Lalu terpancing ikut berkomentar dengan hati panas. Ini bahaya. Ada baiknya satu dua hari menjauhkan diri dari gadget,” jelas mas Iwan. Kita ini depending on our mood, kan, ujarnya mengingatkan. Saran mas Iwan, belajarlah menahan, nggak semua harus diekspresikan, jangan jadi orang yang reaktif. Dipikir dulu, dimasukkan dalam hati dulu. Ditambah lagi, orang mudah mencaci di medsos karena tidak tahu emosi yang terlibat seperti apa. Status atau postingan kita bisa membuat kita mendapatkan labelling. Rekam jejak digital kita akan selalu ada, termasuk yang sudah dihapus bisa dipulihkan lagi, jadi sekali lagi pikirkan matang-matang.

Continue reading

Totoro dan Serunya Kisah Fantasi Masa Kecil

Beberapa waktu yang lalu saya membaca bahwa ada yang hendak menghadirkan film-film Studio Ghibli di bioskop-bioskop dalam negeri. Berita tersebut sempat terlupakan sampai akhirnya sebuah postingan teman di instagram mengingatkan saya. Penasaran, saya pun mencari tahu jadwal festival film-film animasi tersebut. Ternyata, sebagaimana disebutkan di http://worldofghibli.id/#screening, bulan ini adalah giliran My Neighbor Totoro (Tonari no Totoro) diputar. Film-film lainnya secara bergantian ditayangkan setiap pekan pertama di Studio XXI maupun CGV tertentu di beberapa kota sejak April hingga September tahun ini (kecuali Juni, dan kabarnya akan dilanjutkan hingga Maret 2018).

Saya bukan fans berat Studio Ghibli maupun Hayao Miyazaki (co-founder Ghibli yang juga bertindak antara lain selaku sutradara, produser, animator, dan penulis naskah), tetapi saya sempat menikmati film-filmnya di masa kuliah. Gara-garanya, para sepupu saya yang tinggal serumah waktu itu (lebih tepatnya saya yang ikut tinggal di rumah orangtua mereka, pakdhe dan budhe saya) suka film-film Ghibli. Saya tak sempat nonton semuanya sih, yang paling saya ingat saya saksikan sampai selesai adalah Ponyo on The Cliff by The Sea. Penasaran juga jadinya mau nonton My Neighbor Totoro. Jadi, ya, #NontonGhibli-lah saya dengan memesan tiket terlebih dahulu melalui situsnya. Sayangnya begitu sampai di lokasi kemudian, saya sudah tak kebagian kipas lucu Totoro yang sudah habis duluan.

Kakak beradik dalam My Neighbor Totoro kontan mengingatkan saya pada anak-anak, yang kebetulan juga sama-sama perempuan dan jarak usianya mirip. Cara mereka berinteraksi sungguh menggemaskan, bagaimana mereka saling mendukung, bagaimana Mei si adik kadang iseng dan mudah ngambek tapi juga terlihat menjadikan kakaknya sebagai panutan sedangkan Satsuki si kakak begitu mengayomi. Ceritanya sendiri sepintas sederhana, dimulai dari pindahnya ayah Satsuki dan Mei ke sebuah rumah tua agar lebih dekat dengan tempat ibu Satsuki dan Mei sedang dirawat karena sakit. Di sana, Satsuki dan Mei berkenalan dengan makhluk-makhluk unik yang tinggal di sekitar mereka, selain juga berinteraksi dengan tetangga baru (manusia betulan-kenapa juga harus disebutkan begini ya, hehehe) yang amat baik. Mengenai sakit ini tidak disebut jelas sakit apa, tapi situs ini http://www.nausicaa.net/miyazaki/totoro/faq.html menyimpulkan bahwa bisa jadi sang ibu terkena TB. Di situs tersebut juga diterangkan mengenai hal-hal yang mungkin menjadi pertanyaan, misalnya tahun latar belakang kejadian. Dijelaskan pula kenapa ada poster yang beredar dengan ilustrasi seorang anak perempuan berdiri di samping Totoro, rupanya ini konsep awal sebelum diputuskan karakter anak dipecah menjadi dua orang. Karakter fantasi Totoro dan teman-temannya menjadi daya tarik tersendiri dengan keunikan penampilan dan kemampuan ajaib mereka. Seru!

Oh ya, ini lagu favorit saya dari film tersebutThe Huge Tree in the Tsukamori Forest (Tsukamori no Taiju).

 

 

I Ketut Widiadnyana dan Upaya Pelestarian Songket Jembrana Demi Generasi Mendatang

Kecintaan I Ketut Widiadnyana (42) terhadap songket Jembrana berawal dari kepeduliannya terhadap warisan budaya tradisional tersebut.

“Saya masih bisa melihat tenun songket Jembrana sekarang, tetapi bagaimana dengan generasi mendatang? Ada yang memperkirakan bahwa sekitar 20 tahun ke depan songket akan punah, dan memang sudah ada songket daerah lain yang punah, tetapi saya yakin songket Jembrana tidak akan punah dan saya akan terus semangat untuk mengembangkannya,” kata suami dari dr. Luh Wayan Sriadi ini.

Sektor pariwisata daerah Jembrana di mata Ketut kurang hidup dibandingkan dengan daerah lain di Bali, jadi pengembangan songket diproyeksikan dapat ikut menggerakkan perekonomian rakyat di sana. Tenaga kerja pun banyak tersedia, walaupun diakui oleh Ketut sulit mencari generasi muda yang mau menenun. Salah satu alasannya, menenun itu rumit dan perlu kekuatan tangan.

“Jadi saya rancang alat untuk membuat songket tanpa sambungan. Biasanya kan songket tradisional 50 meter disambung dengan 50 meter. Dengan menggunakan alat ini kain songket bisa dibuat lebih lebar tanpa sambungan, tanpa menghilangkan sisi tradisionalnya. Pekerjaan pun menjadi lebih ringan sampai anak kelas 3 SD juga bisa belajar menenun dengan alat tersebut. Alat tenun seperti ini adalah yang pertama untuk di Bali, kalau di Palembang sudah ada beberapa,” ungkap Ketut.

Dengan alat baru yang memudahkan dan potensi pemasukan yang lumayan, Ketut berharap agar makin banyak yang tertarik menjadi penenun.


“Impian saya, orang mau bekerja sebagai penenun. Ini kan warisan budaya kita. Kalau hanya berorientasi bisnis, beli saja alat tenun jacquard, selesai. Tapi saya ingin memberdayakan warga juga.

“Di Jembrana ada 10 kelompok, kelompok saya yaitu Kelompok Tenun Putri Mas terdiri atas sekitar 60 orang yang masing-masing bertugas pada 6 unit yaitu pengembangan motif, penenun, pencelupan alam, pemasaran, perancangan busana, dan simpan pinjam. Penenun banyak yang ibu rumah tangga, ada misi pemberdayaan perempuan di sini,” tutur Ketut.

Pekerjaan beratnya, Ketut menggarisbawahi, adalah menanamkan konsep bahwa menenun adalah pekerjaan yang mulia karena membantu melestarikan budaya, juga sekaligus mengasyikkan.

Disebutkan oleh Ketut, songket Jembrana mempunyai tiga segmen pasar. Yang pertama adalah kolektor tenun yang sudah tidak mempermasalahkan soal harga. Kedua ialah para pemakai tenun, mengingat di Bali masih memegang adat istiadat termasuk banyak upacara adat yang tentunya memunculkan kebutuhan akan tenun. Ketiga, pasar fashion.

Sejauh ini produk fashion Kelompok Putri Mas masih dalam bentuk standar seperti blazer, semi jas, alas kaki wedges, dompet, clutch bag, dan tas. Ke depannya, lelaki kelahiran 4 Agustus ini ingin bekerja sama dengan desainer yang lebih profesional, agar penggunaan songket Jembrana juga makin luas.

Songket Jembrana masih mempertahankan motif yang sama sejak zaman kerajaan dulu, yaitu banyak menampilkan unsur alam seperti bunga dan hewan dengan dasar folklore. Ini berbeda dengan songket lain misalnya yang berasal dari Karangasem atau Klungkung. Motif songket Jembrana cenderung statis sehingga memudahkan untuk dimanfaatkan dari segi fashion, tidak seperti motif rumit yang acapkali menyulitkan saat pemotongan kain untuk pola.

Ketut sadar bahwa untuk bisa ‘dilihat’ harus selalu ada terobosan baru. “Saya punya inovasi yang sudah didaftarkan HAKI-nya yaitu songket dipadukan dengan batik tulis kemudian dicelup malam. Selanjutnya kami juga akan lebih banyak memakai pewarna alami, contohnya dari bahan kunyit, akar mengkudu, daun mangga dan tanaman-tanaman lain yang masih banyak ditemukan di daerah Jembrana. Pewarnaan alami ini juga sekaligus memicu kreativitas, bahan apa yang ada itulah yang dikreasikan untuk desain. Harga jualnya pun lebih tinggi,” terangnya.

Bisnis songket yang ditekuni oleh Ketut bukanlah bisnis warisan orangtua, sehingga tantangan yang dihadapi menurutnya juga lebih banyak.

“Saya kontraktor, istri saya dokter, kalau mau mengejar uang daripada susah-susah lebih baik fokus ke profesi masing-masing,” tegas Ketut. Lokasi tempat tinggal yang juga menjadi tempat produksi songket Ketut berada 120 km dari Denpasar, cukup jauh dari pusat kota.

“Oleh karenanya kami memanfaatkan teknologi seperti online shop. Workshop juga sedang disiapkan sehingga orang yang datang berbelanja langsung bisa sekaligus melihat prosesnya,” urainya.

Permasalahan berikutnya yang diceritakan oleh Ketut, kalau batik punya kategori batik print, batik cap, batik celup, batik tulis, songket pun sebetulnya ada jenis songket handmade, songket print, dan songket sablon.

“Sebetulnya bukan bermaksud menutup rezeki orang lain. Malah menjadi tantangan tersendiri untuk berinovasi, apalagi orang Indonesia fashionable, hp belum rusak sudah beli lagi sehingga perputaran barang juga cepat. Hanya saja, songket yang asal katanya adalah nyungkit (mengait-red) itu kan kekayaan tradisional, jangan disamakan dengan tenun mesin yang pemberdayaan masyarakatnya kurang. Tradisional melawan mesin, jelas tidak bisa disamakan. Tenun tradisional dengan pembuatan manual lebih memakan waktu dan memiliki variasi kesulitan dengan ritme pengerjaan yang berbeda-beda, tergantung orangnya. Maksimal per hari hanya 3-7 cm songket manual yang dihasilkan, sedangkan dengan mesin bisa bermeter-meter,” Ketut menjelaskan perbandingannya.

Kategorisasi produk di online marketplace juga menurutnya perlu dibenahi karena tidak edukatif untuk masyarakat, cenderung menyamaratakan songket tradisional dengan songket buatan mesin. Tantangan lainnya yang sudah mulai teratasi adalah material benang yang masih harus diimpor, misalnya dari India dan Cina.

Ketut punya impian agar songket menjadi Warisan Dunia sebagaimana batik. “Saya ingin melestarikan warisan budaya tradisional dan bukan hanya berhenti di slogan. Terkait cita-cita agar songket menjadi Warisan Dunia yang diakui PBB, seharusnya memang menjadi pekerjaan bersama, tidak bisa sendiri-sendiri. Sebagai orang daerah, yang bisa saya lakukan adalah mengumpulkan data, menemui pejabat terkait untuk meminta dukungan, maupun terus mengedukasi masyarakat mengenai keberadaan dan jenis-jenis songket. Apakah nanti upaya saya disetujui atau tidak, hasilnya nanti seperti apa, yang penting saya sudah berbuat sesuatu. Semoga selain bisa melestarikan warisan budaya, songket juga bisa menggerakkan perekonomian rakyat,” pungkas Ketut.

 

(aslinya ditulis untuk media kantor tetapi yang dimuat adalah versi pendek untuk efektivitas halaman)

Anak Batuk Pilek, Imunisasi Jalan Terus

“Anak saya batuk pilek nih Bun, jadwal imunisasi besok, boleh lanjut atau tunda aja dulu, ya?”

Pertanyaan di atas cukup sering terlontar di grup atau forum ibu-ibu. Cukup bisa dimengerti bahwa ada kekhawatiran mengimunisasi anak saat kondisinya sedang tidak fit. Biasanya sih ortu takut sesudah disuntik vaksin anak atau bayinya jadi demam (sebagai efek atau lebih tepatnya kejadian ikutan pascaimunisasi/KIPI) yang bikin tambah rewel. Atau ada juga yang mendapatkan informasi bahwa vaksinasi saat anak kurang sehat akan berpengaruh pada respon tubuh terhadap vaksin yang diberikan, semacam jadi tidak optimal bekerjanya. Yang lain menyebutkan bahwa adanya demam sesudah imunisasi bisa membuat rancu apakah demamnya demam KIPI atau karena batuk pilek yang sedang dialami, ini sehubungan dengan tindakan selanjutnya yang perlu diambil.

Oh ya, ada juga yang mengistilahkan batuk pilek yang sebetulnya lebih tepat dibilang selesma ini dengan flu atau influenza. Sebetulnya sih beda, ya. Perbedaan selengkapnya bisa dibaca di sini: Batuk Pilek dan Influenza (Flu), Serupa tapi Tak Sama.

Setelah baca sana-sini, diawali dari bacaan di Milis Sehat, saya termasuk yang sering menjawab pertanyaan tadi (kalau ada yang nanya, karena saya aktif di beberapa grup) dengan “batuk pilek bukan penghalang imunisasi”. Fathia dulu mendapatkan suntikan MMR (yang di antaranya mengandung vaksin campak, yang salah satu KIPI yang umum terjadi adalah demam sekitar 8-12 hari pasca-imunisasi) saat sedang batuk pilek, dan alhamdulillah batuk pileknya tidak bertambah parah setelahnya. Dokter keluarga kami malah yang menyarankan waktu itu. Ya, kata kuncinya memang konsultasikan dengan dokter, dengan kita juga berbekal informasi valid dulu tentunya. Beberapa lembaga maupun organisasi resmi sudah mengeluarkan pernyataan seputar bolehnya imunisasi ketika batuk pilek, yaitu:

Continue reading