Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 13

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 13, 26 September 2017

Semalam anak-anak minta dibacakan buku Masa Kecil Nabi dan Rasul karya kang Ridwan ‘Iwok’ Abqary yang baru tiba. Ternyata dalam kumpulan cerita tersebut ada juga kisah yang terkait dengan kecerdasan finansial, yaitu kisah Nabi Ibrahim. Di situ diceritakan bahwa Nabi Ibrahim semasa kecil membantu ayahnya berjualan patung berhala. Namun karena tidak sesuai dengan kata hatinya, maka alih-alih berpromosi agar orang tertarik membeli, Nabi Ibrahim malah mengucapkan kata-kata yang cenderung membuat orang kehilangan minat. Misalnya bahwa patung ini tidaklah berguna dan tidak pantas disembah. Anak-anak sudah pernah dibacakan cerita lain tentang menyekutukan Allah swt dengan hal lain termasuk patung yang disembah, jadi mereka menanggapi bahwa memang sudah seharusnya orang tidak membeli patung untuk disembah. Diskusi kemudian melebar ke soal membantu orangtua, kemudian juga tentang adab berjualan, termasuk berjualan sesuatu yang membawa mudharat. Tidak lama sih memang, karena saya sedang berusaha mengatur kembali jam tidur mereka. Saya sadar juga bahwa yang saya lakukan masih lebih banyak outside in, bukan inside out seperti yang beberapa kali diingatkan oleh IIP, semoga ke depannya bisa saya perbaiki.

 

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 12

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 12, 25 September 2017

Masih melanjutkan buku yang kemarin, berikut cerita-cerita selanjutnya dalam buku Aku Cerdas Mengelola Uang karya mba Watiek Ideo dan Fitri Restiana yang saya bacakan untuk anak-anak:

  • Saat Lebaran Tiba, menggambarkan keriaan Idul Fitri di mana anak-anak biasanya memperoleh angpau. Jadi ingat uang angpau anak-anak yang atas perintah ayah mereka didonasikan semua, sih. Ini PR saya dan suami untuk membahas lebih detil terkait hak anak-anak atas uang mereka, seberapa banyak pilihan yang boleh kami ungkapkan untuk mereka (dibelanjakan, disumbangkan?), apakah beberapa hal yang berbau kesenangan lebih baik kami blokir atau tetap diberitahukan sekaligus dengan menyebutkan manfaat vs mudharatnya.

Continue reading

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 11

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 11, 24 September 2017

Setelah sejak pagi sibuk dengan ‘perayaan’ ultah Fathia (walaupun hanya tumpeng nasi kuning dan puding) dan jalan-jalan ke Taman Suropati, malamnya, saya bacakan buku baru untuk anak-anak. Sengaja saya pilihkan buku berjudul Aku Cerdas Mengelola Uang karya mba Watiek Ideo dan Fitri Restiana. Dalam buku tersebut terdapat 10 judul cerita pendek terkait cara memperoleh, mengelola, maupun membelanjakan uang, disertai dengan ilustrasi menarik. Semuanya menampilkan kisah sehari-hari dalam kehidupan anak-anak terkait, sehingga terasa dekat dan akrab.
Continue reading

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 10

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 10, 23 September 2017

Esok hari, Fathia genap berusia 6 tahun. Tentu ia sempat melontarkan keinginan diadakannya pesta perayaan ulang tahun. Tapi karena memang sejak awal kami belum pernah bikin perayaan dengan mengundang tamu, maksimal hanya berbagi makanan untuk tetangga, maka Fathia juga tidak sampai ingin dibuatkan pesta yang meriah. Meski beberapa kali kami pernah menghadiri pesta ulang tahun anak tetangga, tapi rupanya keseruan pesta tersebut tak sampai menjadi acuan baginya.

Continue reading

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 9

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 9, 22 September 2017

Berhadapan dengan media massa artinya siap-siap juga terpapar dengan beraneka iklan yang menggoda. Belum lagi ketika beragam ‘barang lucu’ menjadi konten utama, meskipun mungkin bukan ditujukan untuk menarik perhatian calon pembeli (misalnya tajuknya adalah pilihan editor, bukan iklan atau advertorial), tapi tetap saja mengundang minat. Hari itu saya membeli dua majalah dan anak-anak ikut melihat-lihat isinya. Sampai di halaman rekomendasi mainan anak, nah ini, nih 😁. Begitu banyak ragam mainan yang memang terlihat bakal seru kalau dimiliki. Berhubung harganya juga dicantumkan sekalian, saya jadinya sibuk mencoba menjelaskan, ini harganya dua kali lipat hp bunda lho, yang itu setara dengan belanja susu kakak dua bulan, dst. Fathia sempat protes, masak semuanya mahal? Yaaah, gimana yaaa…memang ‘kebetulan’ yang dimuat harganya lumayan semua. Saya juga sempat menawarkan opsi menjual beberapa mainan yang sudah dimiliki, kalau memang ingin beli yang baru. Memang saya sedang berencana hendak menjual kembali sejumlah barang (yang sejauh ini belum sampai menyentuh ke kategori mainan anak-anak) di rumah, sih. Pilihan ini saya pikir bisa juga diceritakan ke anak, karena adakalanya barang yang bagi kita tidak terpakai ternyata akan sangat bermanfaat bagi orang lain. Terbukti dari pengamatan saya terhadap beberapa grup atau forum jual beli barang 2nd yang saua ikuti. Ada barang yang mungkin lebih baik disumbangkan, tapi mengambil manfaat finansial dari menjual lagi barang tertentu juga tidak ada salahnya, kan?

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 8

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 8, 21 September 2017

Kami cukup jarang bepergian bersama ke pusat perbelanjaan. Alhasil kalau ditanya tentang pengalaman anak tantrum karena tidak dituruti permintaannya beli mainan di mall misalnya, saya tidak bisa menjawab, soalnya memang hampir tidak pernah ke mall yang keliling-keliling begitu (yang umumnya banyak godaan nan menarik hati anak-anak, lha emaknya aja jadi kepengin kok).

Kalaupun pergi ke sana dengan anak-anak, biasanya sudah ada agenda seperti saya sekalian ikut seminar/talk show atau kopdaran dengan teman-teman. Sengaja makan di luar sekeluarga pun tak sering. Bahkan kalau bisa urusan kami di pusat perbelanjaan selesai sebelum waktunya makan, jadi bisa makan di rumah saja. Atau justru sudah membawa bekal, misalnya kalau kami pergi ke pameran atau kebun binatang.

Suami pun lumayan tegas soal permintaan (terkait beli mainan, makanan, atau permainan) yang tidak sesuai rencana. Karena anak-anak tahu ayahnya tidak akan mengabulkan, mereka pun tidak sampai menangis apalagi mengamuk minta sesuatu, walaupun kalau merengek gitu sih pernah juga, ya.

Continue reading

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 7

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 7, 20 September 2017

Kami masih membaca ulang buku Muamalah untuk Anak. Obrolan bergulir ke soal punya pekerja sebagaimana digambarkan dalam cerita, seperti eyang kung anak-anak yang juga mempekerjakan pegawai. Ada banyak cara untuk mencapai tujuan finansial, dan kita sebagai manusia bisa berusaha dan berdoa, sedangkan untuk hasilnya kita serahkan pada Allah. Fathia juga baru saja mengeluh ia tidak bisa mengerjakan sesuatu, dari situ saya ajak ia tetap berusaha dan berdoa jika memang ingin bisa. Namun lagi-lagi berhasil tidaknya tetap hanya Allah yang menentukan. Kalau ia tak kunjung menguasai satu bidang yang diidamkan padahal sudah berupaya diiringi doa, bisa jadi Allah lebih ingin ia fokus di bidang lain (saya sebutkan contoh spesifiknya) dan lebih ridha ia memberi kemanfaatan di bidang tersebut.

Buku lain yang kami bahas adalah Rinduku untuk Ayah (Pipiet Senja). Awalnya saya beli buku itu untuk menambah referensi anak-anak bahwa ada juga kondisi lain yang menyebabkan ayah dan anak harus tinggal berjauhan. Kali ini kami ulas sisi finansialnya, bahwa untuk mencapai tujuan finansial tertentu, misalnya dalam buku itu digambarkan agar bisa sekolah di tempat yang bagus, adakalanya diperlukan pengorbanan. Salah satunya, ya kebersamaan yang jadi tidak bisa dinikmati setiap hari.