Dukung Literasi Digital dan Bijak Manfaatkan AI bersama XLSMART

Pesatnya perkembangan teknologi digital mendorong derasnya arus informasi menyerbu keseharian kita. Cukup dengan ponsel di tangan, dalam hitungan detik kita bisa mengetahui jadwal kerja bakti RT pekan depan, rencana penayangan film terbaru, berita perolehan medali di SEA Games, hingga informasi perkembangan penanganan bencana alam di Sumatra.

Namun, selain membuka pintu kemudahan untuk mengakses hal-hal positif, dunia digital juga punya potensi negatif. Teman-teman mungkin pernah mendengar bahwa ada yang terkuras saldo tabungannya lewat pancingan (phishing) pesan di aplikasi percakapan, atau tertipu oknum penjual daring yang nakal. Belum lagi dengan adanya Artificial Intelligence atau AI yang mampu menirukan cara berpikir manusia dalam beberapa aspek, bahkan menghasilkan gambar atau video rekaan yang amat mirip dengan aslinya.

Oleh karenanya, literasi digital menjadi begitu penting. Literasi di sini bukan sekadar bermakna kemampuan membaca secara harfiah, melainkan juga pemahaman yang diperlukan untuk memilah informasi. Pemanfaatan AI juga perlu dilakukan secara bijak agar tidak merugikan orang lain ataupun diri kita sendiri. Akan lebih baik lagi jika keterampilan digital seperti ini sudah dipelajari sejak dini untuk mencegah terjadinya hal-hal negatif. Bukan berarti dengan mengenalkan gawai sejak bayi, melainkan lewat pendekatan yang disesuaikan dengan usia anak. Edukasi di sekolah, misalnya.

Edukasi Literasi Digital dan AI XLSMART di Pesantren

Santri Berdaya dengan AI bersama XLSMART

Continue reading

Lagu-Lagu dengan Judul Bahaduri

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring VI, bahaduri adalah kata sifat yang berarti bersifat pahlawan (satria); bersifat gagah berani. Kata ini diserap dari bahasa Persia, yang kemudian juga menjadi kosa kata Melayu klasik.

Terdapat beberapa lagu yang menggunakan kata bahaduri ini dalam judulnya. Yuk, simak satu persatu.

Continue reading

Etimologi Prameswari

Kata kesembilan dalam Writober 2025 adalah prameswari. Saya tertarik untuk membahasnya dari segi bahasa. Sepertinya dulu saya pernah membaca bahwa kata prameswari atau permaisuri ini berasal dari kata parama dan iswari. Lebih rincinya, kata tersebut merupakan rangkaian dari bahasa Sanskerta paramā (परमा) yang berarti utama, tertinggi, mulia dan īśvarī (ईश्वरी), bentuk feminin dari īśvara yang memiliki arti penguasa, dewa, tuan. Definisi ini salah satunya tercatat di Monier-Williams Sanskrit Dictionary (University of Cologne), yang menyebutkan bahwa parameśvarī adalah “the supreme goddess; the female form of Parameśvara.”

Continue reading

Kenangan Mengunjungi Atsiri diSarinah

Pertama kali saya mengetahui keberadaan Rumah Atsiri Indonesia adalah dari konten sepupu saya yang menjadi salah satu tamu undangan saat tempat ini baru akan dibuka untuk umum tahun 2018. Dari foto-fotonya saya melihat rumah-rumah kaca nan cantik, bangunan-bangunan kayu dengan desain yang mirip dengan tenda, juga taman bunga marigold yang ikonik. Semua terletak di kaki Gunung Lawu yang memberikan latar pemandangan nan elok.

Atsiri sendiri dalam hal ini adalah minyak hasil penyulingan dari tanaman yang menghasilkan aroma khas. Kita mungkin mengenalnya juga dengan istilah essential oil. Minyak ini bisa ditemukan di kulit, buah, bunga, daun, getah, rimpang, akar, biji, bahkan di batang tanaman. Laman Rumah Atsiri menyatakan bahwa Indonesia punya puluhan ribu jenis tanaman yang dapat menghasilkan minyak atsiri, dari cengkih, pala, nilam, kayu putih, kenanga, sampai cendana. Adapun Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi VI menyatakan bahwa kata yang baku sebenarnya adalah asiri, sebuah kata sifat yang berarti mudah menguap pada temperatur yang relatif rendah.

Continue reading

Berbagai Sebutan Jarak Hari dalam Bahasa Indonesia

Kita pasti sudah akrab dengan kata-kata besok, lusa, kemarin, atau bahkan kemarin lusa. Kata-kata ini umum dipakai dalam percakapan sehari-hari untuk menginformasikan perhitungan atau jarak hari, sebelum atau sesudah hari ini. Ternyata, ada loh sebutan lainnya untuk hari-hari dengan perhitungan tertentu jika dibandingkan dengan hari ini. Mungkin banyak di antaranya yang tidak familier, tetapi seiring berjalannya waktu, barangkali pelan-pelan akan terbiasa juga kita memakainya.

Mozilla & SimpleIcon via Wikimedia Commons

Berikut adalah kata-kata tersebut dan artinya yang saya salin dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) VI Daring.

Continue reading

Mengenal Wisma Batari

Saya lupa kapan persisnya mendengar nama wisma ini, tetapi sepertinya ketika saya masih SD di sebuah kota kecil dekat Solo. Wisma Batari sering digunakan sebagai gedung pertemuan, termasuk untuk acara pernikahan. Saat pertama membaca nama Batari, yang terpikir oleh saya adalah “cantik”. Sebab setahu saya, kata batari merupakan istilah lain dari dewi. Istilah batari sebelumnya sering saya baca di cerita-cerita wayang di majalah Panjebar Semangat ataupun buku-buku milik Mbah Kakung. Biasanya kata tersebut dituliskan sebagai bethari dalam bahasa Jawa, misalnya Bethari Durga dan Bethari Uma.

Continue reading

Mengasah Naluri, Mempertajam Intuisi

Bulan ini kantor saya mengundang Pak Ismail Fahmi, pendiri Drone Emprit dan PT Media Kernels Indonesia sebagai narasumber dalam diskusi “Strategi Melawan Disinformasi, Fitnah, dan Kebencian di Media Sosial”. Saat memaparkan materinya, beliau menyebutkan buku Thinking, Fast and Slow karya ekonom perilaku peraih Nobel Daniel Kahneman sebagai salah satu referensi. Saya pun tertarik untuk membacanya lebih lanjut. Alhamdulillah, di perpustakaan kantor buku ini tersedia. Berikut adalah beberapa kutipannya yang mengena.

Buku Thinking, Fast and Slow

Buku Thinking, Fast and Slow

Kita semua pernah mendengar cerita intuisi pakar: jago catur yang melewati orang-orang yang bermain catur di pinggir jalan lalu berkata “Putih skak mat dalam tiga langkah” tanpa perlu memperhatikan lama-lama, atau dokter yang langsung memberi diagnosis rumit setelah melihat sekilas pasien. Intuisi pakar kita anggap ajaib, tetapi sebenarnya tidak.

Malah kita semua melakukan tindakan intuisi pakar berkali-kali tiap hari. Sebagian besar kita bisa mendeteksi rasa marah pada kata pertama yang terdengar dalam percakapan telepon, menyadari kita sedang dibicarakan ketika kita masuk ke ruangan tempat orang-orang mengobrol, dan bereaksi cepat terhadap tanda-tanda kecil yang menunjukkan pengendara mobil di jalur sebelah membahayakan.

Continue reading

Sari Kacang atau Susu Kacang?

“Beli susu kedelai, yuk!”

Kalimat di atas rasanya cukup familier bagi kita. Selain susu kedelai (“soy milk“) yang lebih dulu populer, belakangan muncul juga minuman dari bahan tumbuhan (plant-based) yang diberi nama sejenis seperti susu almon (“almond milk“), susu oat (“oat milk“), dan susu kacang mede (“cashew milk“). Warna minuman-minuman ini kebanyakan memang putih pekat, mirip dengan susu hewani. Namun, apakah penamaan ini tepat?

Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan bahwa istilah “susu” definisinya sangat spesifik, yaitu cairan yang berasal dari ambing hewan ternak yang sehat. Hal ini ditegaskan dalam Peraturan BPOM Nomor 13 Tahun 2023 tentang Kategori Pangan. Peraturan ini khususnya di Pasal 5 secara eksplisit mengelompokkan produk susu dan analognya dalam Kategori 01.0.

Susu kedelai

Susu kedelai – LinasD, via Wikimedia Commons

Continue reading

Mengagumi Kecantikan Batik Tiga Negeri

Masih dalam suasana Hari Batik Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Oktober, kali ini saya ingin menulis mengenai Batik Tiga Negeri. Saya pertama mengetahui batik ini saat berkunjung ke Museum Batik Danar Hadi, Solo, pada tahun 2009. Pemandu museum, Mas Najib, menjelaskan asal-usul penamaan batik tersebut. Penyematan angka tiga pada namanya mewakili tiga daerah di Jawa Tengah: Lasem, Pekalongan, dan Solo. Ketiga daerah ini punya batik dengan ciri khas masing-masing, dan batik tiga negeri memadukan ciri khas tersebut.

Batik Tiga Negeri di pameran di Gedung AA Maramis, Agustus 2024

Batik Tiga Negeri di pameran Pasar Keliling di Gedung AA Maramis, Agustus 2024

Hasilnya adalah kain batik dengan motif dan warna yang unik. Daerah Lasem menyediakan warna merah, Pekalongan memberikan warna biru indigo, keduanya merupakan warna-warna khas batik pesisir. Sedangkan Solo menghiasinya dengan warna cokelat atau soga khas batik pedalaman. Warna merah sekaligus menandai pengaruh dari kebudayaan Tionghoa, warna biru adalah pengaruh dari budaya Belanda, sedangkan warna cokelat berasal dari budaya Jawa Mataraman.

Continue reading

Menikmati Teri, Si Mungil yang Kaya Gizi

Pekan ini rasanya ikan teri mewarnai hari-hari saya. Senin malam saya ngebut menyelesaikan sebuah tulisan untuk lomba cerita anak yang berakhir waktunya hari itu juga. Karena tema yang saya ambil adalah kuliner daerah, jadi saya menceritakan beberapa makanan khas yang saya ketahui. Salah satu makanan ini dikenal dengan taburan ikan terinya. Sambil mengetik, saya jadi terbayang gurihnya sajian tersebut yang berpadu dengan kriuk-kriuk teri goreng garing.

Ikan teri goreng

Ikan teri goreng dari Midori via Wikimedia Commons

Hari Selasanya saya membeli nasi goreng teri di kantin kantor untuk makan siang. Nasi goreng teri menjadi salah satu pilihan favorit saya dari kantin sejak dulu. Saya sempat kehilangan setelah kantin tutup selama tahun pertama pandemi dan penjualnya ternyata tidak ikut kembali saat kantin dibuka lagi. Namun, akhirnya tahun lalu ada penjual baru di kantin yang menyediakan menu ini lagi. Berbeda rasanya dengan yang sebelumnya, tapi saya juga menyukai nasi goreng teri versi yang ini.

Continue reading