Pesatnya perkembangan teknologi digital mendorong derasnya arus informasi menyerbu keseharian kita. Cukup dengan ponsel di tangan, dalam hitungan detik kita bisa mengetahui jadwal kerja bakti RT pekan depan, rencana penayangan film terbaru, berita perolehan medali di SEA Games, hingga informasi perkembangan penanganan bencana alam di Sumatra.
Namun, selain membuka pintu kemudahan untuk mengakses hal-hal positif, dunia digital juga punya potensi negatif. Teman-teman mungkin pernah mendengar bahwa ada yang terkuras saldo tabungannya lewat pancingan (phishing) pesan di aplikasi percakapan, atau tertipu oknum penjual daring yang nakal. Belum lagi dengan adanya Artificial Intelligence atau AI yang mampu menirukan cara berpikir manusia dalam beberapa aspek, bahkan menghasilkan gambar atau video rekaan yang amat mirip dengan aslinya.
Oleh karenanya, literasi digital menjadi begitu penting. Literasi di sini bukan sekadar bermakna kemampuan membaca secara harfiah, melainkan juga pemahaman yang diperlukan untuk memilah informasi. Pemanfaatan AI juga perlu dilakukan secara bijak agar tidak merugikan orang lain ataupun diri kita sendiri. Akan lebih baik lagi jika keterampilan digital seperti ini sudah dipelajari sejak dini untuk mencegah terjadinya hal-hal negatif. Bukan berarti dengan mengenalkan gawai sejak bayi, melainkan lewat pendekatan yang disesuaikan dengan usia anak. Edukasi di sekolah, misalnya.

Santri Berdaya dengan AI bersama XLSMART





