Mbak Dewi Rieka atau biasa dipanggil mbak Dedew adalah penulis produktif sekaligus blogger yang saya kenal sejak kami sama-sama menjadi anggota milis pembaca majalah Cita Cinta, sekitar sepuluh tahun yang lalu. Lantas kami pun cukup aktif ngeblog di Multiply. Kini Mbak Dedew makin moncer saja karier menulisnya (tahu seri Anak Kos Dodol yang salah satunya sudah difilmkan, kan?), saya mah masih begini-begini saja, hehehe. Pada suatu hari (ah, saya mencoba menghindari kata ini tapi kok ya susah) mbak Dedew menghubungi saya menanyakan kisah penamaan putri pertama saya dan suami. Berceritalah saya, yang sedang hamil Fahira, melalui pesan singkat.
Category Archives: anak
Mengkaji Bacaan Anak Bilingual
Tulisan Teh Ary Nilandari atau di grup forum penulis bacaan anak sering dipanggil Bunda Peri ini menjawab kegelisahan saya. Sebelum punya anak, saya sudah membeli beberapa buku anak bilingual tapi terus terang tidak terlalu peduli soal alih bahasanya, karena biasanya saya lebih mengincar isinya yang menarik atau informatif, ilustrasinya yang keren, atau karena memang suka dengan karya-karya penulisnya (ngeblog di Multiply dulu membuat saya ‘kenal’ banyak penulis bacaan anak). Belakangan setelah punya anak dan saya sendiri lebih banyak terpapar materi yang asli berbahasa Inggris, begitu baca beberapa buku anak bilingual saya jadi mengerutkan kening. Ada saja terjemahan yang kurang pas, entah terlalu baku, tidak taat tata bahasa, atau malah salah sekalian. Ini umumnya terjadi pada buku karya penulis dalam negeri yang memang dikhususkan terbit dalam bentuk dwibahasa, bukan buku terjemahan. Bahasa Inggris yang saya kuasai juga pas-pasan, sih. Tapi seperti yang sering saya sampaikan pada teman-teman yang bertanya kenapa skor TOEFL saya bisa segitu, sering muncul perasaan tidak nyaman kalau ada yang salah saat membaca. Belum tentu juga saya tahu persis koreksinya seharusnya bagaimana, sih, hehehe. Saya masih harus buka primbon dulu kalau soal itu…dan dari melakukan hal-hal seperti inilah saya memang sebetulnya banyak belajar.
Karena saya belajar bahasa Inggris dengan cara seperti ini (seringnya tidak mengkhususkan diri, sambil jalan saja), saya jadi membayangkan bagaimana kalau anak-anak yang baru belajar bahasa asing sudah diberi contoh yang kurang tepat. Dari pengalaman dan pengamatan saya, apa yang diketahui atau dibaca anak sejak dini, apalagi kalau berulang-ulang (anak suka kan ya minta dibacakan sebuah buku berkali-kali) akan menjadi patokan baginya, terbawa sampai besar (kecuali kalau ada yang membetulkan kemudian…itu pun kadang pakai ‘berantem’ pada awalnya, mungkin :), karena telanjur mengakar). Saya sampai berniat menyembunyikan beberapa buku anak bilingual yang telanjur dibeli karena grammar-nya keliru. Tapi kalau dipikir-pikir, nggak perlu seekstrem itu juga mungkin, ya. Bisa saja saya beri catatan khusus, toh isi ceritanya sendiri bagus dan mendidik. Apalagi saat ini sebenarnya anak-anak saya belum ada yang bisa baca, hahaha.
Saya kutip dari tulisan teh Ary:
Karena kata dua pakar:
“Anak-anak TK dan SD kelas rendah sebaiknya diberi bacaan yang berbahasa Inggris saja. ‘Bahaya’ bacaan bilingual adalah mereka bisa mendapatkan informasi yang salah, jika kedua bahasa tidak diperhatikan dengan baik.” (DR. Murti Bunanta SS, MA. Spesialis Sastra Anak, Ketua Kelompok Pencinta Bacaan Anak)
“Bacaan bilingual sebagai bahan pelajaran bahasa Inggris untuk anak adalah konsep yang keliru, karena dimulai dengan tahap tersulit, yaitu menerjemahkan. Ditambah kesalahan penerjemahan dan kosa kata yang tidak sesuai, bacaan bilingual semakin tidak efektif.” (Nasti M. Reksodiputro, M.A. Mantan dosen bahasa Inggris, kepala Pusat Bahasa Universitas Indonesia, Pendiri Yayasan Pustaka Kelana)
Bacaan Anak Bilingual: Tekstual dan Visual
Handout Ary Nilandari untuk workshop Editor Buku Anak dengan IKAPI DKI Jakarta, 4-5 Juni 2013, Perpustakaan Nasional Jakarta
Dalam dasawarsa terakhir, bilingual seakan menjadi keharusan dalam menerbitkan bacaan anak di Indonesia. Bahasa Inggris, Arab, dan Mandarin dipasangkan dengan bahasa Indonesia. Tetapi karena yang paling sering adalah bahasa Inggris, untuk selanjutnya, bilingual yang dimaksud adalah bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Motif mem-bilingual-kan bacaan anak sangat beragam. Antara lain:
- Memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia
- Memberi nilai tambah pada bacaan anak.
- Merespons kebutuhan orangtua untuk membantu anak-anak belajar bahasa Inggris.
- Menjangkau pasar lebih luas, yaitu anak-anak warga negara asing yang tinggal di Indonesia dan anak-anak Indonesia yang tinggal di negara-negara berbahasa Inggris.
- Memudahkan penjualan copyright ke mancanegara.
- Dan diharapkan meraup keuntungan lebih banyak ketimbang buku monolingual
Apapun alasannya, tentu saja mendwibahasakan bacaan anak harus melalui kontrol kualitas ganda, dan tidak sesederhana yang dibayangkan. Bilingual bukan sekadar proses pengalihan…
View original post 872 more words
Masuk Majalah!
Sedikit nostalgia peristiwa lama karena waktu itu belum sempat diposting di blog. Tanggal 29 Agustus tahun lalu untuk pertama kalinya saya ikut gathering anggota grup pendukung ASI TATC (Tambah ASI Tambah Cinta) yang kali itu diselenggarakan di RS Meilia Cibubur. Sekalian seminar keluarga terkait ASI dan postpartum depression sih ceritanya. Nah, sebelum acara dimulai, Mba Wynanda, kreator dan admin grup tersebut sempat bilang bahwa nanti akan ada peliput dari majalah Mother & Baby Indonesia yang wawancara untuk masuk rubrik komunitas. Benar saja, ketika break acara saya dimintai pendapat mengenai TATC dan menyusui oleh perwakilan majalah tersebut.
Selesai rangkaian seminar, kami berempat yang diwawancarai (dua admin dan dua member yang hadir) diambil gambarnya bersama anak-anak. Sayang kedua putri mba Wynanda tidak bisa ikut berfoto, Kirana masih dirawat di RS sedangkan kakaknya Kasih sedang bersama eyang keluar ruangan. Kemudian kami diberi informasi bahwa liputan komunitas ini akan dimuat dalam majalah edisi dua bulan yang akan datang. Dan inilah hasilnya, yang tepatnya dimuat di rubrik Mum’s Club edisi Oktober 2015 (versi digital bisa dilihat di http://www.pressreader.com/Indonesia/mother-baby-indonesia/20151001/textview).

Serba-serbi MPASI dari Grup HHBF
Disclaimer: tulisan ini disusun berdasarkan rekomendasi pada saat itu (maka dari itu saya sebutkan sumbernya juga agar dapat langsung dicek). Semoga dapat memberikan wawasan bahwa memang ilmu terus berkembang dan akses terhadap informasi pun makin luas sehingga bisa jadi apa yang direkomendasikan dahulu berbeda dengan sekarang.
=======
Melengkapi bahasan MPASI dari AIMI yang sebagian klipingnya pernah saya posting dulu (bisa dibaca di sini https://ceritaleila.wordpress.com/2014/12/05/serba-serbi-mpasi-dari-grup-aimi/), berikut yang dari grup Homemade Healthy Baby Food ya…
Amanda Pingkan Wulandari Pratama Jika anak sembelit, evaluasi komposisi asupan menunya.
* apakah makan lengkap 4 bintang?
* apakah sudah diberi lemak tambahan ?
* apa selingan buahnya ?
* bagaimana tekstur dan porsi makannya ?
* bagaimana asupan asi dan air putihnya ?
MENU 4 bintang yaitu terdiri dari :
🌟Sumber karbohidrat dikenal sebagai makanan pokok sumber penghasil energi (memenuhi fungsi zat tenaga). Selain nasi, ada kentang, ubi, singkong, labu kuning, jagung, oat, pasta, bihun, mie, roti.
🌟🌟 Sumber hewani; sumber pembentuk sel tubuh dan sumber zat besi (memenuhi fungsi zat pembentuk), dapat diberikan sesering mungkin. Aneka ikan air tawar, ikan laut, daging ayam, sapi, kambing (termasuk otak, ati), telur
🌟🌟🌟 Kacang-kacangan dan olahannya sebagai sumber protein nabati dan mineral zat besi (memenuhi fungsi zat pengatur). Ada kacang hijau, kacang merah, kacang polong, kacang kedelai, kacang tolo, edamame, kecambah (toge), buncis, tahu, tempe.
🌟🌟🌟🌟 Aneka buah dan sayuran berwarna hijau dan jingga yang kaya vitamin A (memenuhi fungsi zat pengatur).
Penunjang yang wajib ada yaitu sumber lemak tambahan (minyak/mentega/margarin/santan — boleh dan dianjurkan dikenalkan sejak usia 6 bulan ) untuk menambah nilai kalori makanan (bisa untuk membantu boost BB), sebagai pelarut vitamin A, D, E dan K; menambah rasa gurih alami makanan serta untuk membantu melancarkan pencernaan.
Tentang komposisi makanan yang baik sudah pernah diposting di wall, pembahasan sembelit ada di file grup 🙂
Ol hp, buka fb via browser atau opera mini, masuk ke grup, scroll ke bawah, klik photos untuk ke album foto grups atau klik files untuk dokumen grup.
Yang ol hp fb aplikasi, masuk ke grup, klik tanda i di bawah foto cover grup, klik photos untuk ke album foto grups atau klik files untuk dokumen grup.
Untuk buka link, ol hp buka fb via browser atau opera mini.
Komposisi Makanan Ideal
https://m.facebook.com/groups/208836479136874?view=permalink&id=987647997922381&refid=18&_ft_
Sembelit Bayi Mpasi
https://m.facebook.com/groups/208836479136874?view=permalink&id=209212342432621&refid=18&_ft_
Saat sembelit jangan buru-buru panik ngasih anak buah atau sayur biar lancar BAB.
Bukan sekedar lengkap 4 bintangnya, tapi perlu dievaluasi juga :
* bagaimana komposisinya…apakah sayuran melebihi protein ? Bayi dan anak butuh serat, tapi cukup sedikit. Bayi dan anak butuh banyak protein dan lemak. Jika porsi sayur berlebih, kurangi sayur, perbanyak protein dan lemak tambahan.
* apa saja variasi lemak tambahannya? Apa hanya dikasih kaldu saja? Kenalkan minyak dan juga santan misalnya
* apa saja variasi buahnya? Apakah sering diberi pisang dan pepaya? Saat sembelit dijejali pepaya dan pisang justru makin sembelit. Imbangi dengan buah yang kandungan air (pir, buah naga, jeruk, semangka, melon) atau buah kaya kandungan lemak
* bagaimana asupan asi dan air putihnya? Cukupkah?
* apakah sering diberi oat/jagung/beras merah/beras hitam? Bahan karbohidrat ini tinggi serat.
* seberapa banyak porsinya? Porsi terlalu banyak pun bisa menyebabkan sembelit.
* apakah naik tekstur terlalu cepat? Perpindahan drastis dari lembut ke kasar pun bikin sembelit.
* terkadang sembelit bisa juga indikasi tidak cocok makanan tertentu
Muntah dan Diare yang Menyeramkan
Selain sariawan, satu lagi penyakit anak yang saya takuti adalah diare. Bagaimana tidak, Fathia sehari-hari saja masih butuh trik untuk bisa makan dengan baik, kalau diare kan lebih perlu perjuangan lagi. Tiga tahun pertamanya alhamdulillah terlewati tanpa infeksi pencernaan yang konon menjadi penyakit langganan anak-anak ini. Tapi November 2015 saya ‘dipaksa’ membuka dan membaca lagi dengan lebih saksama segala bekal terkait diare dan muntah atau gastroenteritis ini.

Kasus yang ini lebih banyak muntah, sih. Diare hanya datang di dua hari terakhir, itu pun ‘hanya’ dua-tiga kali dalam sehari dengan konsistensi pup yang agak encer, tidak benar-benar cair (lebaran kemarin barulah kejadian yang betul-betul nyaris hanya air, tapi alhamdulillah juga tak sampai 5x/hari dan tidak tiap hari dalam satu minggu). Muntah ini sebetulnya tantangan juga karena harus berlomba dengan upaya rehidrasi. Jangan sampai anak kekurangan cairan, kan? Saat itu saya masih menggunakan oralit/cairan rehidrasi oral dalam bentuk bubuk yang dilarutkan dalam air, kalau CRO siap minum (untuk anak, ada merk Pedialyte) baru kami coba saat kejadian waktu mudik. Selama bisa beli, ya pilih pakai oralit/pharolit/sejenisnya yang takaran komposisinya sudah pas, larutan gula garam hanya untuk kondisi darurat.
Tentang Karin “awkarin” Novilda, Line, dan Liverpool.
Repost tulisan dari https://inineracauan.wordpress.com/ yang bagus menurut saya, walau telat bacanya tapi sukses bikin saya jadi ikut merenung, belajar, sedih…. Saya menggarisbawahi yang ini:
Para youtuber atau selebgram yang berani posting segala macem adalah orang yang (harusnya) berprinsip, tau batasnya sharing dan show off, tau kapan harus stop, dan tau gimana caranya tutup mata dan tutup mulut. Ketika kamu jadi sosok yang dilihat semua orang, everyone judges, because you let them to. Dan dalam kasus awkarin ini, aneh rasanya ketika dia playing victim, sedangkan dia sendiri yang mempertontonkan kehidupannya ke semua orang. Dan ketika dia mulai dapat keuntungan dari situ, dia ga lebih dari sekadar pekerja. Don’t play victim, honey, because you pull the trigger – we all just stand by here and watch.
Bukan untuk membenarkan bullying, ya. Hanya saja, memang jadi pengingat buat diri sendiri juga, harus lebih hati-hati dengan tingkah laku, terutama di era gencarnya media sosial sekarang (karena terus terang belum bisa benar-benar tidak menggunakan, toh masih banyak manfaatnya).
Oh, dan tentu saja yang jadi pusat perhatian saya juga adalah soal bagaimana Karin memberi pengaruh :(. Tulisan guru bahasa Inggris di bagian bawah (di versi viralnya jarang diikutkan) menjadi contoh nyata….
Bahwa adalah tugas ortu untuk membentengi anak-anaknya (karena ada yang komen “jangan salahin yang kasih pengaruh, dong!”), ya iyalah memang. Justru karena adanya kepedulian dan biar bisa jadi bekal untuk membentengi makanya tulisan seperti ini banyak di-share, biar bisa digali kan penyebabnya, diprediksi arahnya, dicari penangkalnya (mungkin selama ini belum mengenalkan anak ke idola yang lebih baik dengan anggapan yang kayak gitu juga bakal nemu dengan sendirinya), ortu bisa menyesuaikan pendekatan dan milih kata-kata yang lebih tepat dst. Bukan dengan maksud melimpahkan seluruh kesalahan ke ‘benda’ bernama media sosial, kok.
Tulisan lain terkait hal ini ada di Femina http://www.femina.co.id/trending-topic/fenomena-karin-awkarin-novilda-dan-generasi-swag-inilah-7-alasan-kenapa-para-orang-tua-harus-cemas-.
Yang ini sudut pandang lain dari mami Ubii yang menyatakan pernah segaul Karin dulu, kemudian mengupas apa yang mungkin menjadi akar masalahnya, plus surat terbuka yang semoga dibaca oleh Karin ya http://www.gracemelia.com/2016/07/catatan-untuk-para-orangtua-dulu-saya-pernah-menjadi-karin-novilda.html.
[Kliping] Pembatasan Televisi di Rumah
Tulisan dari Abah Ihsan (Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari, page fb @abahihsanofficial) di bawah ini kemarin lewat di news feed Facebook saya. Saya jadi teringat untuk menghitung hari. Terhitung sampai akhir bulan Juli ini kami telah delapan bulan menyingkirkan televisi. Nggak total banget, sih. Televisi cuma diungsikan ke lantai dua, tempat yang jarang banget dijangkau anak-anak.
Sekali dua, kami masih menyempatkan nonton khususnya jika sedang ada liputan atau ulasan bagus yang informasinya kami peroleh sebelumnya. Beberapa kali anak-anak juga kami ajak ke atas (biasanya sambil salah satu di antara kami beberes) dan akhirnya TV dinyalakan, tapi belum tentu dua bulan sekali kami melakukannya. Kami juga masih belum berniat benar-benar mensterilkan anak-anak dari televisi, apalagi di tempat saudara atau tetangga ketika kami berkunjung. Lebih-lebih di tempat umum. Ya, saya sempat membaca bahwa salah satu tips ayah Musa sang hafidz Al Qur’an ternyata termasuk meminta kepada tuan rumah untuk mematikan TV jika kebetulan sedang disetel.
Musholla Ramah Anak di Lingkunganku
Belakangan ini beredar tulisan “Dicari: Masjid Ramah Anak” yang mengingatkan bahwa baiknya anak mengenal masjid sedari dini. Jika sejak kecil hatinya sudah terpaut dengan masjid, diharapkan ia akan aktif memakmurkan masjid.
Selengkapnya, ini isi tulisan Ustadz Bendri Jaisyurrahman yang viral tersebut:
Kapan Pertama Kali Mens Setelah Nifas?
Setelah melahirkan anak pertama, saya mendapatkan menstruasi tak lama setelah nifas selesai. Sempat sebulan lebih sedikit tidak haid, kemudian setelah itu sudah mens rutin. Awalnya saya bingung karena yang pada saat itu dibaca di grup dukungan menyusui di fb adalah banyakkk member yang bertanya kenapa nggak mens-mens juga setelah lahiran. Tapi di kolom jawaban oleh adminnya dijelaskan kalau itu wajar aja, karena bisa beda di setiap orang. Isapan bayi, pola menyusui, kondisi tubuh dan hormon kan lain-lain.
Di kehamilan pertama saya mengalami keguguran saat usia kandungan 9 pekan. Seingat saya waktu itu siklus haid saya tidak makan waktu lama sudah kembali normal. Nah, sehabis melahirkan anak kedua, saya mens pertama setelah bayi berumur 6 bulan. Kebetulan pas bulan Ramadhan mens pertama ini, padahal sudah senang tadinya kirain bisa puasa full kayak pas hamil, hehehe, ternyata harus bolong.
Kakak dan dedek sama-sama full ASI (dedek baru 18 bulan sih, semoga bisa sampai 2 tahun :)) dan saya sampai sekarang tidak menggunakan KB hormonal maupun yang dipasang di tubuh saya. Analisis sementara penyebabnya mungkin karena kakak dikenalkan pakai dot sejak awal (dilatih dari sebelum masuk kantor kembali), sedangkan dedeknya memang sengaja nggak dipakaikan dot sama sekali. Pola menyusui/mengosongkan payudara khususnya yang secara langsung ke payudara ibu kan bisa mempengaruhi hormon yang menghambat ovulasi, sedangkan kebiasaan memakai dot berpotensi menurunkan daya isap bayi atau kadang disebut dengan bingung puting laten. Tapi banyak juga sih working mom yang bayinya pakai dot lantas baru mens setelah bayinya disapih (sekitar 2 tahun), tanpa KB hormonal tentunya (kalau pakai, jadwal menstruasi bisa jadi berbeda memang ya), termasuk beberapa teman kantor.
Mainan Anak dari Bahan Makanan
Selama ini sering saya baca baik di majalah, laman web, hingga akun pribadi ada yang berbagi tips membuat play dough sendiri, adonan mainan homemade, dan sejenisnya. Tentu saja sebagai ibu yang suka mentok soal permainan edukatif anak saya ikut mengumpulkan resep-resepnya, tapi belum sampai betul-betul bikin. Entahlah, rasanya kok sayang saja, gitu. Termasuk penggunaan kentang atau bawang untuk membuat semacam stempel. Itu bahan makanan kan, ya? Bisa buat memenuhi hak tubuh, dan di tempat lain bisa jadi ada yang lebih membutuhkan kan, ya?
Memang, permainan bukannya tidak bermanfaat, ada stimulasi sensori motorik di situ. Tapi pilihan lain kan ada, beli jadi misalnya. Mau pakai alasan ‘yang homemade lebih aman’ pun, produsen play dough terkemuka biasanya jelas mencantumkan cara pakai dan komposisi di kemasan kok, meliputi pewarna apa yang dipakai dan peringatan akan adanya kandungan tertentu yang berpotensi memicu reaksi alergi, termasuk terigu (nah, ini gimana ya, termasuk menyia-nyiakan bahan makanan juga nggak, ya?). Jadi bisa dipilih sesuai dengan kondisi. Kalau dibilang ‘proses bikinnya itu yang seru dan mendidik’, ya masih bisa juga anak diajak bikin adonan buat roti beneran. Misalkan kepepetnya anak ada alergi sehingga yang aman dimainkan hanya yang bikinan sendiri, yang ini mungkin bisa mendapat pengecualian (jika memang darurat ada kemampuan tertentu yang harus distimulasi dengan cara itu barangkali ya).
Belakangan seorang teman di grup whatsapp memposting kutipan artikel di bawah ini yang menjawab kegundahan saya. Yah, walaupun awalnya saya tidak kepikiran soal biji-bijian untuk kolase atau dironce misalnya. Mungkin karena dalam pikiran saya untuk biji-bijian yang terpakai tidak terlalu banyak sebagaimana yang terjadi untuk adonan ya. Omong-omong soal jumlah, mungkin kalau sedikit atau bisa dipakai kembali (biji-bijian, makaroni habis dironce yang bisa dibersihkan) tidak apa-apa? Harus ditanyakan lagi nih ke yang kompeten menjawab, nanti saya update postingan kalau sudah ada jawaban.
Lebay? Mungkin ada yang beranggapan begitu ketika membaca tulisan tersebut. Yah, namanya hati-hati dengan dalil yang jelas (bukan sekadar waspada karena testimoni atau kekhawatiran yang tidak beralasan) kan boleh, ya? 🙂 Yang jelas, saya saat ini mantap untuk tidak bikin sendiri play dough dan sejenisnya (bukan karena malas bikin ya, hehehe).
=============================================================================
Membuat Kolase dari Beras, Kacang dll
Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah
Pertanyaan:
Akhir-akhir ini muncul permainan untuk anak-anak dengan bahan baku kacang, beras dan adas (sejenis rempah-rempah) dan bahan makanan lain dari nikmat-nikmat Allah. Bahan-bahan ini juga digunakan dalam pembuatan media pembelajaran. Seperti untuk membuat peta dan yang lainnya, kemudian dicat dengan warna tertentu. Apakah perbuatan ini diperbolehkan? Bagaimana jika digunakan untuk pembuatan ilustrasi? Kami mengharapkan penjelasan.
Jawaban:
Yang nampak bagiku tentang masalah ini bahwa perbuatan ini tidak boleh dilakukan. Karena di dalamnya terdapat unsur menghinakan nikmat-nikmat Allah. Juga terdapat unsur buang-buang harta tanpa ada keperluan. Perbuatan semacam ini mengumpulkan dua unsur tadi, buang-buang harta dan menghinakan nikmat, yang seharusnya nikmat tersebut dimanfaatkan dengan cara yang lain. (Pendapat) inilah yang menurutku paling kuat dan paling dekat dengan kebenaran. Wallahua’lam.
(Sumber: www.alifta.net)
Membuat Playdough dari Tepung, Minyak Goreng dan Garam
Fatwa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al Ilmiyyah wal Ifta
Pertanyaan:
Kami adalah ibu guru yang mengajar di sebuah Taman Kanak-kanak. Kami memiliki sebuah materi pelajaran yang disebut dengan pelajaran ketrampilan seni. Anak-anak diberikan adonan yang terbuat dari campuran tepung putih, garam, minyak, pewarna makanan. Bahan-bahan ini diuleni ibu guru hingga menjadi adonan kalis berwarna yang lebih lembut daripada tanah liat. Adonan ini diberikan kepada anak-anak untuk bermain. Perlu diketahui, sebagian adonan ini berjatuhan di lantai, terinjak kaki dan ketika kering adonan ini dibuang ke tempat sampah. Apa hukum bermain adonan dengan model permainan seperti di atas, sementara pelajaran ini menjadi kurikulum yang ditetapkan kementerian pendidikan dan pengajaran. Berilah kami pencerahan tentang masalah ini dengan penuh ucapan terima kasih. Jazakumullahu khairan.
Jawaban:
Menyuguhkan adonan seperti yang disebutkan dalam soal diatas untuk diberikan kepada anak-anak agar mereka bermain dengan adonan tersebut, termasuk menghinakan dan menyia-nyiakan nikmat. Sementara banyak orang sangat membutuhkannya. Sungguh Nabi shallallahu’alaihi wasallam memerintahkan untuk menjaga nikmat dan memuliakannya. Beliau juga memberi arahan kepada orang yang membawa makanan lalu sepotong makanan terjatuh, agar orang tersebut membersihkan bagian yang kotor lalu memakannya dan tidak menyisakannya untuk setan. Dan masih memungkinkan memberikan mainan alternatif lain bagi anak seperti tanah liat dan bahan lainnya yang memiliki tujuan yang sama, yang dapat melatih anak-anak.
Wabillahit taufiq. Washallallahu’ala Nabiyyina Muhammadin wa’ala aalihi washahbihi wa sallam
Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al Ilmiyyah Wal Ifta
Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah Alu Asy Syaikh
Anggota
Abdullah bin Ghudayyan
Shalih bin Fauzan Al Fauzan
Ahmad bin Ali Al Mubaraki
Abdullah bin Muhammad Al Muthalliq
Abdullah bin Muhammad bin Khunain
Sa’d bin Nashir Asy Syitri
(Sumber: www.alifta.net)
Boleh Bermain dengan Kulit dan Ampas Makanan
Oleh Syaikh Khalid bin Suud al Bulihid
Pertanyaan:
Assalamu’alaikum,
Saya tinggal di Swiss. Di sini, anak-anak TK biasa bermain adonan yang terbuat dari tepung, garam sehingga tidak meracuni anak (jika tertelan). Apakah hal ini diperbolehkan meskipun terbuat dari bahan makanan? Apakah diperbolehkan jual beli mainan seperti ini?
Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh,
Alhamdulillah,
Yang nampak bahwa tidak diperbolehkan bermain dengan adonan makanan secara mutlak. Karena termasuk membuang-buang dan menghinakan sesuatu yang seharusnya dimuliakan. Juga karena perbuatan semacam ini meniadakan syukur yang wajib. Sementara Allah Ta’ala sungguh memerintahkan kita untuk mensyukuri nikmat. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.”
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sangat memuliakan makanan walaupun hanya sedikit. Sampai-sampai beliau shallallahu’alaihi wasallam bermaksud memakan satu kurma yang beliau temui di jalan akan tetapi beliau khawatir kurma tersebut adalah kurma sedekah. Beliau shallallahu’alaihi wasallam juga memerintahkan untuk mengambil sepotongan makanan yang terjatuh di tanah. Sebagaimana sabda beliau shallallahu’alaihi wasallam,
إِذَا سَقَطَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيُمِطْ عَنْهَا الْأَذَى وَلْيَأْكُلْهَا وَلَا يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ ) ، وَأَمَرَنَا أَنْ نَسْلُتَ الْقَصْعَةَ قَالَ : ( فَإِنَّكُمْ لَا تَدْرُونَ فِي أَيِّ طَعَامِكُمْ الْبَرَكَةُ ) .
“Jika sepotong makanan salah seorang di antara kalian terjatuh hendaknya ia membuang kotoran darinya kemudian memakannya. Dan janganlah membiarkannya untuk setan.” Beliau memerintahkan kami agar membersihkan makan yang tertinggal di piring (dengan tangan). Kemudian bersabda, “Sesungguhnya kalian tidaklah tahu, makanan mana yang mengandung berkah.” (HR. Muslim)
Bermain adonan makanan termasuk merugikan dan menyia-nyiakan harta dalam perkara yang tidak benar. Sungguh Nabi shallallahu’alaihi wasallam melarang kita dari hal-hal yang demikian sebagaimana terdapat dalam sunnah.
Bermain adonan makanan termasuk sikap boros dalam harta. Sungguh Allah Ta’ala berfirman,
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا
“Makan, minumlah dan jangan berlebihan.” (QS. Al A’raf: 31)
Adapun bermain kulit makanan atau sampah makanan yang umumnya tidak dapat diambil manfaatnya atau tidak jelas kegunaannya maka tidak mengapa. Karena itu bukan termasuk makanan yang dimuliakan. Dahulu, para sahabat ridhwanullahi’alaihim saling melempari dengan kulit semangka, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari.
Dengan demikian, tidak seharusnya menjadikan apapun jenis makanan selama makanan tersebut dimuliakan lalu digunakan sebagai bahan mainan anak-anak. Akan tetapi yang wajib dilakukan adalan memuliakan makanan, memperhatikan dan merawatnya karena rasa syukur kepada Dzat yang Maha Melindungi yang telah memberikan nikmat yang berharga.
Sudah selayaknya mencari alternatif material lain yang tidak dimuliakan namun cocok dibuat mainan dan senang-senang.
Demikian juga perlu diwaspadai untuk tidak menggunakan bahan makanan seperti telur, kelapa, tepung dalam perlombaan dan perayaan seperti kebiasaan sebagian orang bermain-main dengan bahan tersebut.
Tidak pantas bagi seorang muslim ikut-ikutan menjualbelikan, menyewakan makanan yang dipersiapkan sebagai bahan untuk acara permainan dan hiburan, karena hal ini termasuk tolong menolong dalam dosa dan permusuhan. Para ulama telah menegaskan haram hukumnya menjual makanan kepada orang yang akan menggunakannya untuk berjudi.
Diperbolehkan bagi seseorang menggunakan makanan untuk memperbaiki tubuhnya atau untuk pengobatan. Seperti menggunakan buah-buahan, madu untuk menghaluskan kulit dan menghilangkan bintik-bintik dan tujuan baik yang lain. Karena ini termasuk menggunakan makanan untuk tujuan yang jelas kemanfataannya. Karena termasuk dalam pengobatan yang mubah serta bukan termasuk menerjang kemuliaan makanan dan bukan untuk main-main. Maka tidak mengapa memanfaatkan makanan untuk pengobatan atau kosmetik agar penampilan makin cantik (untuk berhias didepan suami-pen). Wallahua’lam.washallallahu’ala Muhammad wa aalihi washahbihi wasallam. (Sumber: https://saaid.net/Doat/binbulihed/f/365.htm)
Di antara alternatif mainan anak-anak dari sisa makanan yang tidak bermanfaat lagi misalnya menggunakan ampas kelapa, kulit semangka, kulit jeruk atau tepung yang sudah bau apek, berjamur, berkutu, banyak larva sehingga sangat tidak layak dikonsumsi bisa dimanfaatkan untuk bahan playdough daripada dibuang. Allahu Ta’ala A’lam.
اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله واصحابه
***
Penyusun: Ummu Fatimah Abdul Mu’ti
Artikel wanitasalihah.com
Sumber:http://wanitasalihah.com/mainan-anak-anak-yang-terbuat-dari-bahan-makanan-apa-kata-ulama/
