Tantangan Level 10 Kelas Bunda Sayang IIP (Grab Your Imagination) – Hari 1

Tantangan kali ini gampang-gampang susah. Saya mengaku suka menulis, termasuk fiksi, walaupun belakangan ini jarang menulis fiksi. Kalau cerita ke anak-anak pun, lebih sering saya mengandalkan baca buku. Bukan kenapa-kenapa…takut salaaah. Apalagi kalau sudah soal pesan moral, sejarah dst-nya. Pakai buku aja disaring dulu kok, padahal sebelum diterbitkan (kebanyakan, harusnya) sudah melalui proses editing dan pertimbangan penerbit, kan?

Aslinya sih sudah mulai tancap gas praktik mendongeng begitu materi diberikan, alhamdulillah anak-anak kok ya betah melek walaupun saya hari-hari itu sedang lembur melulu. Tapi ya selesai mendongeng, saya ikutan tidur :D, boro-boro mau setor laporan tantangan. Ya sudah, lewat deh beberapa hari tantangan. Semoga bisa konsisten untuk belasan hari ke depan. 

Kemarin (1/12), saya mendongeng dengan tujuan anak-anak ingat untuk minta izin atau laporan dulu ke orangtua kalau hendak bepergian. Tokohnya sih boneka-boneka yang ada di rumah saja, kali ini boneka tikus dan ayam. Mereka pulang sekolah bersama, lalu ayam tertarik main ke rumah tikus karena tikus punya mainan baru. Ternyata ayam betah main di rumah tikus sampai lupa waktu. Ibu tikus muncul, lalu mengabarkan bahwa ibu ayam mencari-cari anaknya yang belum pulang-pulang. Ayam pun sadar kalau dia sudah membuat ibunya khawatir. 

Singkat, tapi kenyataannya tidak sebentar juga waktu yang diperlukan. Apalagi ada Fahira yang suka tiba-tiba nyeletuk mengomentari jalan cerita atau justru bertanya, lalu kakaknya protes kenapa ceritanya diinterupsi, dan ini bisa berulang kali terjadi. Asyik sih, ceritanya jadi interaktif gitu, hahaha. Kadang saya juga sengaja memancing anak-anak ikut berpartisipasi, misalnya menebak jalan cerita atau memberi usul tindakan si tokoh.

Untuk tantangan mendongeng berdasarkan pertanyaan atau cerita anak, saya mengeksplorasi cerita Fathia tentang temannya yang biasa membeli bekal makanan ringan di warung depan rumah. Lewat tokoh harimau, kami berdiskusi soal plus minus jajanan yang tersedia di sekitar. Bukan nggak boleh jajan kok, hanya saja ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

Sepertinya cerita di atas juga masih kurang imajinatif, ya. Kenapa juga harus pakai tokoh binatang, gitu, padahal kan bisa tokohnya anak-anak ‘biasa’. Tapi berhubung sepertinya tokoh binatang lebih menarik bagi anak-anak, jadi ya anggap saja termasuk dongeng ya, karena hewannya jadi berlaku layaknya manusia, kan fiksi jadinya… Memang lebih pasnya kalau pakai ‘universe’ sendiri ya, seperti waktu itu kang Adhitya Mulya pernah berbagi di sesi #TUMNgopiCantik, yang belum kunjung kelar draft blognya saya rapikan T_T. Mumpung ini temanya pas, mau diberesin, ah.
#Tantangan10Hari

#Level10

#KuliahBunsayIIP

#GrabYourImagination

Mengulik Fitrah Jasmani bersama dr. Piprim

Kemarin (26/11), saya ikut menyimak materi dalam kajian bulanan Majelis Dhuha Keluarga. Kami belum bisa rutin memang ikutan kajian yang tiap bulannya berfokus pada aspek yang berbeda-beda ini, padahal selalu ada ilmu baru yang bisa diserap dan diterapkan pada keluarga.

Kali ini yang diangkat adalah Fitrah Jasmani, dengan narasumber dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A.(K), dokter spesialis jantung anak yang juga Ketua Bidang Organisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Pusat dan pendiri Rumah Vaksinasi. Beliau cukup terkenal juga aktif mengedukasi tentang kesehatan di dunia maya.

Disampaikan oleh dr. Piprim, yang membedakan anak dengan orang dewasa adalah adanya konsep pertumbuhan dan perkembangan. Tumbuh adalah bertambah besarnya ukuran atau bertambahnya jumlah sel-sel tubuh, sedangkan berkembang adalah peningkatan kualitatif dari sel-sel tubuh itu.

 

Materi yang disampaikan oleh dr. Piprim banyak yang dinukil dari Buku Membumikan Harapan: Keluarga Islam Idaman tulisan Syaikh Abu Al Hamid Rabee’, ditambah dengan berbagi pengalaman beliau sebagai suami, ayah, maupun dokter anak. Seperti disebutkan oleh dr. Piprim, dalam konsep tumbuh kembang anak dikenal konsep asuh, asih, asah (stimulasi) agar tumbuh kembangnya optimal. Ketiganya tidak bisa dipisahkan, merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi.

Continue reading

Air Mancur Menari di Monas, Cantiknya!

Beberapa kali mama sempat mengutarakan keinginan beliau melihat air mancur menari di Monumen Nasional. Pertunjukan ini intinya berupa gerakan air mancur yang tampak ‘menari’ diiringi musik dan permainan cahaya. Beberapa waktu yang lalu beliau memang nonton pertunjukan serupa di Grand Indonesia maupun di Kenjeran Surabaya — sementara saya belum pernah sama sekali, hehehe. Saya sendiri cuma dengar-dengar saja tentang pertunjukan ini dan belum pernah mencari tahu lebih lanjut. Bulan lalu, mumpung mama sedang di Jakarta, saya pun coba browsing informasi tentang air mancur menari di Monas.

Ternyata pertunjukan air mancur ini baru dibuka mulai tanggal 12 Agustus lalu, diresmikan oleh Wakil Gubernur Jakarta pada saat itu, pak Djarot Syaiful Hidayat. Dulu pertunjukannya sempat ada tahun 1970-an kemudian rusak dan diaktifkan lagi tahun 2005 dengan nama Taman Air Mancur Pesona Monas (masih tanpa iringan musik), tetapi ditutup kembali karena rusak tahun 2009. Kini jadwal pertunjukannya adalah setiap hari Sabtu malam dan Minggu malam, masing-masing ada dua kali show yaitu pukul 19.30 dan 20.30.

 

Continue reading

Camilan Rabu Materi Kelas Bunda Sayang IIP Level 9 (Think Creative)

🍧Camilan Rabu 9.1🍧 (08/11)

Warna Pembangkit Kreativitas

🎨 Warna menjadi sebuah unsur penting dalam kehidupan, warna bahkan mampu memberi stimulasi spesial sehingga kreativitas makin terasah.

🎨 Warna secara psikologis terbukti bisa mempengaruhi suasana hati. Untuk itu jangan segan memanfaatkan efek psikologis warna secara maksimal dalam mendekorasi ruang kerja.

🎨 Berikut beberapa warna yang dapat meningkatkan kreativitas dan produktivitas:

📘 Menurut penelitian dari University of British Columbia, warna biru adalah warna ideal untuk lingkungan kerja kreatif. Warna biru ini membangkitkan kemampuan komunikasi, kepercayaan, dan efisiensi.

Biru juga memiliki efek menenangkan, sangat bagus untuk ruang kerja dan bisa memicu pemikiran-pemikiran baru. 💙💙

Continue reading

Tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP (Think Creative) – Hari 1

Tantangan kali ini cukup bikin saya kewalahan. Bagaimana tidak, bukannya diberi penjabaran harus ngapain, malah diajak kreatif pula menemukan ‘sesuatu’ dalam kehidupan sehari-hari. Boro-boro ada contohnya :D. Apalagi di kantor juga lagi banyak kerjaan, jadi ketinggalan melulu sesi diskusinya. Ya sudah, lapor sependek pemahaman saya saja ya…

Salah satu hal yang menuntut kreativitas menurut saya adalah bagaimana mengatur waktu untuk membersamai anak betul-betul ketika saya berada di rumah, termasuk ketika kami beraktivitas di luar rumah juga sih…intinya ketika saya sedang tidak ngantor. Apalagi kerjaan yang sekarang kadang bikin saya harus siaga pegang gawai di mana pun berada. Beberapa hari ini saya bertekad betul mengurangi pemakaian gawai di rumah.

Jumat kemarin (03/11) misalnya. Paling tidak, begitu pulang, saya mandi, sholat (kalau belum) tanpa mengecek ponsel dulu, termasuk sewaktu makan malam. Ceritanya biar fokus. Saya manfaatkan juga benda apa saja yang ada di sekeliling untuk memulai pembicaraan dengan anak-anak. Ya, pada dasarnya saya susah ngobrol soalnya. Tapi saya haruskan diri saya terus berpikir. Wawancara narasumber bisa, masa’ sama anak sendiri keok. Sebenarnya sih anak-anak juga dipancing sedikit sudah semangat cerita dan mengajak bermain. Tanpa ditanya pun mereka biasanya sudah bersahut-sahutan kasih laporan kegiatan seharian atau kondisi mereka dengan semangat. Saya saja yang belum bisa fokus betul. Seringnya ketika semua urusan saya beres, termasuk video call kami semua, sudah mendekati waktu tidur. Nggak mau juga jam tidur mereka berantakan. Maka solusinya ya itu tadi, saya komit untuk membersamai mereka dengan sepenuh pikiran dan segenap perasaan.

Kemarin ada paket dari teman datang, sebuah juicer manual yang kontan jadi rebutan. Lagi-lagi malah saya yang belajar dari anak-anak soal kreativitas ini, karena cara mereka berbagi kadang out of the box. Dan memang berkaitan dengan box beneran sih, jadi kotak kemasan pun ternyata dianggap mainan yang bikin keadaan imbang, lho.

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

 

Imunisasi Terjangkau dan Praktis, ke Sini Aja!

Sebagai salah satu bentuk ikhtiar demi kesehatan keluarga, saya mengikuti jadwal Kementerian Kesehatan RI dalam pemberian vaksin. Biasanya saya membawa anak-anak untuk mendapatkan vaksin yang ada dalam jadwal dari Kemenkes ini di puskesmas. Lumayan kan, bisa lebih menghemat biaya, sekaligus berpartisipasi dalam program pemerintah. Selain mematuhi jadwal yang tercantum dalam buku KIA versi Kemenkes, saya juga mengambil imunisasi lainnya untuk anak-anak, mengikuti rekomendasi IDAI. Nah, karena vaksin non-subsidi ini tidak tersedia di puskesmas, maka kami harus memperolehnya dari tempat lain.

Unduh Buku KIA Kemenkes versi 2016 di tautan ini

Hingga usia anak-anak dua bulan, mereka mendapatkan imunisasi di kota tempat mereka lahir alias kampung halaman saya di Sukoharjo, biasanya di RS. Sedangkan setelah kami kembali ke tempat bertugas di Jakarta, anak-anak memperoleh vaksin rekomendasi melalui sejumlah layanan jasa. Sejauh ini justru kami belum pernah ke rumah sakit untuk imunisasi, karena ada pilihan lain yang lebih praktis. Lebih minim risiko infeksi nosokomial (infeksi ‘oleh-oleh’ dari rumah sakit/pasien di sana) pula.

Baca juga: Jadwal Imunisasi IDAI Terbaru

Dulu kami biasa pergi ke Rumah Labeeba alias praktik pribadi dr. Ian (Farian Sakinah) untuk vaksinasi anak-anak (dan saya juga). Namun sayangnya belakangan stok vaksin di sana tidak selalu tersedia, apalagi yang non-subsidi. Kesibukan dokter keluarga kami itu pun semakin bertambah. Jadilah saya mulai mencari-cari alternatif tempat lain untuk imunisasi.

Berikut beberapa jasa imunisasi yang pernah saya gunakan untuk anak-anak:

Continue reading

Batuk Pilek dan Influenza, Serupa tapi Tak Sama

Sudah beberapa pekan ini saya dan orang-orang di sekitar, baik di rumah maupun di kantor, bergantian kena batuk pilek. Komentar yang seringkali terlontar dari teman yang menyapa setelah melihat masker yang saya pakai atau mendengar suara saya jadi serak atau sengau adalah, “Flu, ya?” Gampangnya sih memang jawab saja “Iya”, hehehe. Namun, sebetulnya flu dan batuk pilek adalah penyakit yang berbeda, lho.

Saya rangkum dari WebMD, batuk pilek (cold) atau biasa diistilahkan dengan selesma adalah penyakit saluran pernapasan yang lebih ringan jika dibandingkan dengan influenza atau flu. Flu bisa berlangsung hingga berminggu-minggu, dan bisa berujung pada masalah kesehatan serius seperti pneumonia dan menyebabkan penderita harus dirawat inap.

Ada ratusan jenis virus yang bisa mengakibatkan batuk pilek (makanya belum ada vaksin untuk selesma, saking banyak macam virusnya). Batpil biasanya diawali dengan sakit tenggorokan yang hilang setelah sehari dua hari. Gejala yang mengikutinya adalah hidung berair/mengeluarkan ingus/meler, kemudian batuk pada hari keempat atau kelima. Pada orang dewasa, jarang disertai dengan demam sebagaimana yang terjadi pada anak-anak, tetapi bisa saja ada demam ringan.

Biasanya sih di awal-awal ingusnya bening dan encer, lama-lama menjadi lebih kental dan keruh warnanya. Ingus kental dan ‘berwarna’ ini belum tentu merupakan tanda infeksi bakteri, ya (ada yang berpendapat demikian soalnya). Batuk pilek ini biasanya paling menular pada tiga hari pertama, dan memakan waktu hingga lebih kurang seminggu hingga sembuh betul. Bahkan kalau berdasarkan grafik di bawah ini, hidung meler dan batuknya bisa bertahan sampai dua minggu, lho.

Continue reading

Berpetualang ke Bintang-bintang lewat Planetarium

Saat menuju tempat penyelenggaraan acara Jumpa Penulis yaitu di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Cikini, tanggal 15 Oktober lalu, saya iseng melewati bagian dalam Planetarium yang terletak di kompleks yang sama. Toh kalau menurut jadwal yang saya peroleh, Jumpa Penulis mestinya sudah masuk sesi istirahat.

Baca juga: Catatan dari Jumpa Penulis di TIM

Begitu memasuki bagian depan bangunan Planetarium, ramainya pengunjung yang memadati antrean pembelian tiket Teater Bintang kontan menarik perhatian saya. Wah, apa mungkin sudah dibuka kembali untuk umum, ya? Informasi yang saya dapat dari petugas Planetarium saat Peneropongan Bulan dan Planet di bulan Agustus, pertunjukan Teater Bintang sedang dalam proses pertimbangan untuk dibuka kembali. Pertunjukan ini memang tidak diadakan lagi sejak bulan April 2017 karena adanya kerusakan proyektor utama M-VIII. Kemudian di bulan September, saya lihat ada pengumuman di media sosial resmi Planetarium bahwa pertunjukan Teater Bintang dibuka kembali, tetapi sifatnya masih uji coba dan hanya diperuntukkan bagi rombongan yang harus mendaftarkan diri terlebih dahulu.

Begitu menengok situs resmi Planetarium, wah, ternyata memang sejak tanggal 13 Oktober Teater Bintang sudah memasuki tahap uji coba yang lebih luas, yaitu untuk rombongan maupun perseorangan.  Namanya juga masih masa uji coba, jadwal pertunjukan masih terbatas. Pengunjung rombongan harus melakukan reservasi dulu sesuai dengan ketentuan (bisa dibaca di sini) dan nantinya bisa menonton pertunjukan pada hari Selasa-Jumat (kecuali libur nasional dan cuti bersama) pada pukul 09.30 atau 13.30. Jumlah pengunjung rombongan minimal 100 siswa/mahasiswa. Jika kurang, maka tetap diterima dengan perhitungan biaya untuk 100 siswa/mahasiswa. Sedangkan kalau lebih, kelebihannya dihitung sesuai harga tiket masuk yang berlaku untuk rombongan.

Continue reading

Budaya Gendongan, Penuh dengan Filosofi

“Menarik bahwa pembicara pada seminar kali ini semuanya lelaki, padahal obrolan soal gendongan identik dengan ibu-ibu.” Lebih kurang demikianlah komentar yang saya dengar saat mengikuti Seminar Gendongan Asia di Museum Nasional kemarin. Saya sendiri duduk berkumpul dengan beberapa teman dari komunitas gendongan seperti Jakarta Babywearers dan Jabodetabek Menggendong. Meski tidak semuanya saling mengenal, sebagian juga belum pernah berinteraksi karena beda komunitas, tapi kami semua dipersatukan oleh minat yang sama pada soal gendong-menggendong bayi. Memang menarik jadinya kalau soal gendongan ini dieskplor dari sisi sejarah dan antropologi, mengingat selama ini obrolan grup maupun edukasi saat kami berkumpul bersama (kopdar) lebih berfokus pada teknik, keamanan dan kenyamanan, juga jenis-jenis gendongan. Maka publikasi pameran gendongan Asia yang diteruskan oleh salah satu anggota grup whatsapp disambut dengan rasa penasaran yang besar. Apalagi ada pula kegiatan seminar yang menyertainya.

Antropolog Dr. Tony Rudyansjah, M.M. yang menjadi pembicara pertama dalam kegiatan dengan tagline Fertil, Barakat, Ayom (Fertility, Blessings, and Protection) ini menyampaikan bahwa bahasan tentang gendongan agak terabaikan dalam antropologi, padahal menurutnya penting sekali.

“Gendongan bayi itu suatu hal yang sangat universal, ada di semua kebudayaan di dunia. Sama universalnya dengan upaya melindungi anak dari sinar matahari, serangga, binatang buas, jatuh, bahkan manusia lain,” sebut beliau. Gendongan juga membantu agar orang bisa bekerja, tangannya bebas beraktivitas tanpa direpotkan oleh anak.

Continue reading

Sugar Rush, Mitos atau Fakta?

Di grup ibu-ibu di whatsapp maupun di kantor (yang isinya padahal mayoritas lelaki), bahasan mengenai ‘mabuk gula’ ini mengemuka beberapa hari belakangan. Katanya, anak-anak memang jadi cenderung susah di-stop, cenderung lebih semangat lari-larian, lompat-lompat, hingga begadang kalau sudah banyak makan kue manis atau minum minuman manis. Bahkan tak hanya ‘di dunia nyata’, dalam trailer film Olaf’s Frozen Adventure yang sempat saya tonton tampak mata Olaf berputar begitu menggantikan wortel yang selama ini menjadi hidungnya dengan permen berbentuk tongkat (candy cane). “Sugar rush!” teriak si orang-orangan salju ‘hidup’ ini.

Sugar rush atau sugar high biasanya diartikan sebagai kondisi amat aktif atau kelewat bersemangat dalam berkegiatan, biasanya terjadi pada anak-anak, yang dipicu oleh banyaknya konsumsi gula. Sekilas sepertinya hal ini logis, karena kalori yang masuk menjadi bahan bakar dalam beraktivitas, bukan? Gula yang tinggi kalori pun lalu menjadi kambing hitam atas ulah anak-anak yang tampak berlebihan.

Continue reading