Aplikasi PRIMA untuk Generasi Prima

Masih dari Seminar Sehari All About Vaccination, di antara presentasi soal vaksinasi ada sesi khusus pengenalan aplikasi digital PRIMA untuk pantau tumbuh kembang anak oleh dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A.(K), MPH. Dokter Bernie ini adalah salah satu dokter dari IDAI yang mencetuskan ide lahirnya aplikasi tersebut. Saya sudah pernah membaca-baca mengenai aplikasi tersebut di blog beberapa teman pasca-peluncurannya pada hari anak nasional 23 Juli tahun lalu, tapi belum sempat memasangnya di hp.

Dokter Bernie mengingatkan bahwa ada yang disebut dengan 1000 hari pertama kehidupan yaitu 270 hari masa gestasi (kandungan) ditambah dengan 730 hari pascaanak dilahirkan, di mana terjadi perkembangan fisik dan otak yang sangat pesat. Hal-hal seperti malnutrisi, cedera, prematuritas, infeksi, gangguan hormonal, kelainan kongenital, dan faktor lingkungan bisa mengganggu optimalisasi 1000 hari pertama kehidupan.

Continue reading

Imunisasi Lewat Vaksinasi, Investasi untuk Penerus Masa Depan

Nama Rumah Vaksinasi yang didirikan oleh dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A. (K) sudah sering saya dengar. Beberapa teman keluarga kami juga mengimunisasikan anaknya di sana. Namun, kami sendiri belum pernah secara langsung ke Rumah Vaksinasi cabang mana pun karena beberapa alasan. Tahun ini Rumah Vaksinasi sudah berusia lima tahun dan salah satu kegiatan yang dilakukan untuk memperingatinya adalah dengan menyelenggarakan seminar sehari “All About Vaccination” pada tanggal 2 April 2017. Melihat nama-nama pembicara, materi yang menarik, dekat pula lokasinya, yaitu di Hotel Balairung Matraman, saya pun segera mendaftar setelah mendapat informasi acara tersebut dari teman.

Karena anak-anak masih seru main pasir di RPTRA pagi-pagi (kegiatan yang mereka tunggu setiap kali ayahnya pulang), jadinya kami kesiangan berangkat dan saya melewatkan sesi awal dari Prof. DR. dr. Samsuridjal Djauzi, Sp.PD-KAI, FINASIM, FACP. tentang peran vaksinasi, padahal saya sebetulnya paling ingin mendengarkan langsung penjelasan dari Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia yang beberapa bukunya saya miliki ini. Sesi berikutnya ketika dr. Piprim menceritakan sejarah dibangunnya Rumah Vaksinasi juga saya cuma dapat sepotong karena mengantar anak-anak dulu ke kids corner yang disediakan panitia di lantai lain. Tapi alhamdulillah sesi-sesi lainnya bisa saya ikuti, kecuali lagi-lagi sesi dr. Piprim tentang kehalalan vaksin yang disampaikan ketika kami pulang sebentar mengantar anak-anak yang sudah ngantuk. Nggak apa-apa deh, toh saya sudah pernah dapat presentasi dr. Piprim soal halal-haram vaksin ini di Jakarta Islamic Medical Updates (JIMU) di UI tahun lalu.

Baca juga: Jadwal imunisasi anak rekomendasi dari IDAI 2017.

Para dokter yang setelahnya bergantian menyajikan materi vaksinasi pada seminar tersebut adalah dokter-dokter dari berbagai cabang Rumah Vaksinasi. Mengawali rangkaian materi tentang vaksin untuk berbagai rentang usia, dr. Ferina Rachmi memaparkan penjelasan tentang Vaksinasi pada Bayi dan Balita. Disebutkan olehnya, kadang definisi imunisasi dan vaksinasi jadi rancu. Imunisasi merupakan upaya untuk menimbulkan kekebalan secara aktif terhadap penyakit tertentu, sehingga bila suatu saat terpajan dengan penyakit tersebut tidak akan sakit, atau hanya mengalami sakit ringan. Sedangkan vaksinasi menggunakan bahan antigenik untuk merangsang terbentuknya kekebalan aktif. Atau dengan kata lain vaksinasi adalah memasukkan komponen kuman yang telah dilemahkan ke dalam tubuh dalam jumlah tertentu, yang cukup untuk merangsang terbentuknya antibodi tanpa membuat individu menjadi sakit.
Continue reading

Jadwal Imunisasi IDAI Terbaru

Di triwulan I tahun 2017, Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI telah menerbitkan jadwal rekomendasi pemberian imunisasi yang terbaru, yang dimuat di http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-2017. Rekomendasi terakhir sebelumnya keluar tahun 2014, setidaknya yang dimuat di website resmi mereka, walaupun ada juga yang mengedarkan tabel rekomendasi vaksinasi dari IDAI tahun 2016 (selengkapnya bisa dibaca di postingan saya yang ini: Siap-siap Imunisasi 2 Tahun).

Berikut ini jadwal terbaru imunisasi IDAI, yang memang sedikit berbeda dengan versi Kementerian Kesehatan (yang disubsidi atau gratis).

Versi pdf bisa diunduh di sini.

Secara resmi, vaksin baru yaitu dengue dan Japanese encephalitis (khusus daerah endemis) sudah dimasukkan ke dalam jadwal tersebut. Kemudian ada juga penjelasan alternatif penyesuaian jadwal pemberian apabila vaksin Hepatitis B diberikan bersamaan dengan pilihan vaksin DPT yang ada, apakah vaksin DTPw (yang vaksin pertusisnya whole cell/utuh dan sering disebut sebagai ‘yang panas’ padahal tidak selalu) atau vaksin DTPa (vaksin pertusisnya aseluler, sering dibilang ‘nggak bikin demam’, padahal kemungkinannya tetap ada sih).

Juga dipaparkan saran terkait pemakaian vaksin polio tetes (oral/OPV) atau suntik (inactivated/IPV). Paling sedikit, anak harus mendapat satu dosis IPV bersamaan dengan pemberian OPV-3.

Kalau mau lihat versi Kemenkes, bisa unduh Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 12 Tahun 2017 (6 Februari 2017, diundangkan 11 April) di sini.

Continue reading

Anak Benjol dan Memar, Harus Diapakan?

Lagi scroll timeline IG, tampak oleh saya seorang mama selebriti berpose di akun instagram-nya, melakukan endorse terhadap suatu produk yang diklaim bisa mengatasi memar dan benjol. Belum pernah dengar merk yang itu sih, seringnya dengar merk yang satu lagi, yang kadang dieja sebagai trombopob biar gampang. Apa yang saya ingat begitu melihat ‘iklan’ sang mama? Tentu Fahira, yang pada suatu masa di tahun kemarin itu perasaan seriing bener jatuh, dan yang kena benturan biasanya kalau nggak bibir ya dahi. Kayaknya baru sembuh (kempes benjolnya) seminggu, besoknya ‘kejlungup’ atau kejedot lagi, dst.

Lihat memarnya aja biasanya sudah cukup bikin hati kita iba, penginnya warna kebiruan itu segera pergi, tahu juga nggak nyamannya kayak apa. Jadi, biar cepat sembuh, dikasih apa dong?

Zaman dulu sih mama selalu sedia semacam salep yang setelah saya cek kandungannya sama dengan gel yang dipromosikan oleh mama artis tersebut, untuk kalau saya atau adik benjol (sama juga zat aktifnya dengan gel yang populer disarankan para ibu di mana pun dari grup facebook, whatsapp, sampai tatap muka untuk diberikan pada anak yang habis terbentur). Biasanya yang kasih saran pakai embel-embel “Biar nggak jadi memar, atau supaya memarnya cepat sembuh/benjolnya lekas kempes”.

Sejauh ini, khususnya untuk anak, saya lebih memilih kembali ke tata laksana dasar yaitu kasih kompres dingin saja. Sesuai prinsip RICE: Rest, Iced, Compression, Elevation, dengan ice gel atau es batu yang dibungkus handuk bersih. Untuk diri sendiri (ya, saya secanggung itu sampai acapkali terbentur sesuatu) malah lebih sering nggak diapa-apain, hehehe. Terkesan ngirit atau mungkin cuek ya, tapi saya punya landasan kok *membela diri.

Trus tadi ngintip facebook, ternyata belum lama ini juga ada tulisan dari seorang dokter yang viral terkait pemakaian obat oles (gel) antimemar ini:

Continue reading

Edukasi Anak lewat Montessori di Rumah, Nggak Perlu Mahal Lho

Sore ini saya mengikuti talk show @indonesiamontessori yang menghadirkan penulis buku Montessori di Rumah (dari penerbit Esensi), mba Elvina Lim Kusumo, di Gramedia Matraman. Berhubung sudah punya bukunya duluan, jadi saya tidak berhak ikut undian doorprize paket buku yang diperuntukkan bagi pembeli buku tersebut yang membeli di lokasi (dapat bonus scarf pula lho) tapi gpp lah, yang penting bisa ikut menyimak aja deh.

Mba Vina bercerita bahwa awalnya ketika tinggal di AS, barang-barang kebanyakan masih ada di kontainer, kalau dipikir sepertinya nggak akan bisa mengajak C (putranya) main apa-apa. Tapi kemudian disadari bahwa bermain bisa dengan apa saja yang tersedia di sekeliling, tidak perlu pakai mainan khusus yang mahal. Jadi dalam kondisi yang ‘tidak ideal’ pun bisa kok menstimulasi anak dengan permainan.

“Saya nggak pernah ngajarin C nulis, tapi lewat permainan yang memperkuat otot tangan, sehingga ketika tiba waktunya menulis sudah terlatih menulis dengan baik,” begitu jelas mba Vina.

Kenapa memilih metode Montessori? Karena dengan rentang perhatian anak yang pendek, kalau dipaksa belajar duduk diam dalam waktu lama kasihan. Metode Montessori juga memberikan beberapa pelajaran keterampilan yang sifatnya jangka panjang, bukan hanya yang terlihat di permukaan.

Continue reading

Cemilan Rabu Kelas Bunda Sayang IIP: Membangun dan Mendidik Kemandirian pada Anak

🍯🧀Cemilan Rabu #1🧀🍯
Materi 2: Melatih Kemandirian Anak
Membangun dan Mendidik Kemandirian pada Anak
Membangun dan mendidik kemandirian anak bukanlah pekerjaan yang mudah, terutama melatih anak mandiri ketika masih di usia dini. Secara alamiah anak sebenarnya cenderung untuk belajar memiliki kemandirian. “Yes, I can!” Kata-kata ajaib ini merupakan sinyal dari kesadaran seorang anak terhadap diri dan kemampuannya sendiri untuk menentukan dirinya.
Orangtua yang bijaksana memanfaatkan keinginan akan kemandirian ini dengan membiarkan anak-anak mereka mempraktikkan keterampilan mereka yang baru muncul sesering mungkin pada lingkungan yang aman atau ramah anak. Dukungan orangtua yang seperti ini memang sangat dibutuhkan anak agar dapat melakukan berbagai hal secara mandiri, termasuk aktivitas yang masih relatif sulit.
Namun realita yang ada, orangtua terkadang merasa tidak tega, tidak bersabar, khawatir yang lahir karena bentuk rasa sayang yang berlebihan kepada anak. Inilah salah satu penyebab dari kegagalan anak dalam proses kemandiriannya. Oleh karena itu, oran tua perlu memperbaiki sikap mental agar tidak mudah khawatir dengan anak.
Faktor lingkungan juga terkadang ikut andil dalam kegagalan proses kemandirian anak. Dorongan negatif dari lingkungan sekitar yang terkadang menganggap apa yang orangtua lakukan untuk melatih kemandirian anaknya sebagai bentuk eksploitasi. Padahal yang paling terpenting dan utama dalam membangun dan mendidik kemandirian anak adalah ketika anak merasa senang dalam melakukan aktivitas kemandiriannya tanpa ada rasa takut ataupun karena ada rasa tekanan dari luar.
Perlu diketahui bahwa kemandirian anak usia dini berbeda dengan kemandirian remaja ataupun orang dewasa. Jika pengertian mandiri untuk remaja dan orang dewasa adalah kemampuan seseorang untuk bertanggung jawab atas apa yang dilakukan tanpa membebani orang lain, sedangkan untuk anak usia dini adalah kemampuan yang disesuaikan perkembangan usianya.
Adapun jenis kemandirian anak yang perlu dibangun adalah sebagai berikut:
1. Kemandirian dalam Keterampilan Hidup
Prinsip pokok menumbuhkan kemandirian dalam keterampilan hidup adalah memberi kesempatan, bukan melatih. Anak secara alamiah memang cenderung berusaha belajar melakukan berbagai keterampilan hidup sehari-hari secara mandiri, semisal makan, mengenakan baju sendiri, mandiri sendiri, dsb.
Jika kita mengizinkan anak melakukan berbagai aktivitas hidup sehari-hari tersebut secara mandiri, lambat laun ia akan terampil. Yang kita perlukan hanyalah kesediaan mendampingi sehingga anak tidak melakukan terlalu banyak kesalahan, meskipun kita tetap harus menyadari bahwa untuk mencapai keterampilan perlu latihan yang banyak dengan berbagai kesalahannya.
Kemandirian itu akan lebih meningkat kualitasnya jika orangtua secara sengaja memberi rangsangan kepada anak berupa tantangan untuk mengerjakan yang lebih rumit dan sulit. Ini bukan saja melatih kemandirian dalam urusan keterampilan hidup sehari-hari, melainkan juga menumbuhkan kemandirian secara emosional.

Continue reading

Bumil Jangan Garuk Perut, Hati-hati Stretch Mark!

Familiar dengan anjuran (lebih tepatnya larangan, sih) di atas? Cukup sering kalimat tersebut dilontarkan, biasanya jika ada bumil yang mengeluh gatal-gatal di kulit perut, baik meminta masukan maupun tidak. Umumnya, bumil diminta menahan diri supaya tidak menggaruk kulit perut yang terasa gatal itu, atau kalaupun mau garuk dibilang pakai pembatas seperti baju atau gunakan alat bantu seperti sisir. Tujuannya, agar bekas garukan tidak menjelma menjadi guratan lembah cekung panjang berwarna putih di kulit atau yang biasa disebut dengan istilah stretch mark.

Stretch mark ini sebenarnya bukan hanya rawan dialami oleh ibu hamil. Pada dasarnya orang yang berat badannya berubah secara drastis bisa mendapati keadaan tersebut di kulitnya. Lokasinya pun tidak melulu di perut, bisa saja pada kulit pinggul, paha, payudara, atau betis. Perubahan berat badan tersebut menyebabkan kulit meregang secara drastis dan meninggalkan bekas serupa garis yang tidak melulu berwarna putih. Ada stretchmark alba yang berwarna putih dan stretchmark rubra yang berwarna merah muda. Berikut saya kutip dari Kompas:

Continue reading