Grup Support Antar-Kreator, Saling Dukung untuk Berkembang Bersama

Zaman ngeblog di Multiply dulu, ada aktivitas menyenangkan yang sering saya jalani setiap harinya. Selain menulis di blog, saya juga suka berkeliling ke blog teman-teman untuk membaca tulisan mereka dan meninggalkan komentar. Blogwalking, istilahnya. Saya jadi bisa mengenal dan berinteraksi dengan teman-teman yang tinggal di berbagai daerah, bahkan berbeda negara.

Apa yang teman-teman Multiply-ers tuliskan di blog mereka menjadi tambahan wawasan, sumber pengetahuan, bahan renungan, atau hiburan bagi saya. Lewat kegiatan saling memberikan komentar inilah pertemanan menjadi erat. Bahkan ada yang sering berkirim hadiah meski sampai sekarang belum pernah bertemu muka.

Ketika bertugas dinas sebentar ke Jakarta (saat itu saya ditempatkan di kantor di Bangka), saya pun bisa langsung berbaur dalam acara bakti sosial yang kebetulan diadakan para Multiply-ers pada hari yang berdekatan dengan kedatangan saya. Begitu bertemu, kami bisa ngobrol akrab serasa sudah kenal lama, meski sebelumnya hanya berinteraksi lewat tulisan.

Continue reading

Jejak Digital yang Tetap Teguh Berakar

Bulan lalu kembali saya mengikuti kegiatan BloggerDay 2025 yang diselenggarakan oleh salah satu Komunitas Blogger Indonesia yaitu Komunitas Bloggercrony Indonesia, tepatnya pada tanggal 22 Februari 2025. Lagi-lagi tak bisa mengikuti acaranya secara langsung karena berbarengan dengan acara di sekolah Fahira, jadi saya mendaftar untuk mengikuti secara daring saja. Dari layar laptop dan kiriman foto maupun video di grup, terlihat keseruan teman-teman blogger yang hadir langsung ke lokasi acara di Saung Kampung Sawah, Parung, Bogor.

Tahun ini sekaligus menandai 10 tahun Bloggercrony Community. Bloggercrony Community (BCC) berdiri pada 24 Februari 2015 sebagai komunitas yang mewadahi para blogger Indonesia multiplatform. Saat ini anggotanya yang terdaftar lebih dari 2.500, berasal dari berbagai kota di Indonesia. BCC juga sudah menjadi organisasi sosial berbadan hukum yang terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM RI dengan nama resmi Komunitas Bloggercrony Indonesia sejak 2018.

Continue reading

Bloggercrony Ajak Tingkatkan Skill dan Jaga Profesionalisme

“Maka dari itu, kita perlu menyusun perencanaan konten dengan baik agar …..” Suara saya mendadak terhenti. Otak saya macet. Dengan gugup, saya memindahkan mikrofon ke tangan kiri. Agar apa, ya? Agar berhasil? Terlalu sederhana sepertinya. Agar banyak yang like dan comment? Entahlah, rasanya buntu. Saya menghela napas lalu memutuskan untuk langsung lanjut saja ke halaman berikutnya.

“Ya, itu tadi hal yang harus dilakukan ya, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu. Berikutnya dalam perencanaan konten kita harus mengingat ….” Sesi saya teruskan dengan membacakan poin demi poin yang muncul di layar besar di sebelah.

berbicara di depan umum

Menjadi narasumber di acara kantor

Satu pekan terakhir ini sungguh tidak biasa bagi saya. Empat kali saya perlu tampil berbicara di depan umum, meskipun tiga di antaranya dilakukan secara daring. Saya, yang sebenarnya lebih suka mengungkapkan apa pun lewat tulisan, dari dulu selalu gemetar kalau sudah harus melakukan public speaking. Sebisa mungkin saya berusaha mengalihkan agar teman lain saja yang dijadikan pembicara, host, atau sejenisnya. Pada satu-satunya sesi luring dari empat acara seminggu ini, tepatnya yang baru saja berlangsung kemarin sore, kegugupan saya mencapai puncaknya sebagaimana saya ceritakan di atas. Apalagi audiens saya adalah para pejabat.

Saya jadi mengingat kembali paparan Bang Anwari Natari atau akrab disapa dengan Bang Away, pengawas Komunitas Bloggercrony Indonesia pada Kick Off Event #BloggerDay2023 tanggal 24 Februari lalu. Di situ, Bang Away mengingatkan perlunya seorang blogger atau penulis memiliki keterampilan public speaking.

Continue reading

Belajar Jadi Blogger Yang Punya Visi di BloggerDay Bloggercrony Community

“Data doang nggak cukup. Kita butuh cinta untuk memajukan negeri ini.”

Hari MInggu, 27 Februari 2022 lalu adalah kali kedua saya mengikuti kegiatan #7thBloggercrony, perayaan ulang tahun Komunitas Bloggercrony Indonesia atau Bloggercrony Community (BCC). Ungkapan dari salah satu pembicara dalam acara tersebut, Mas Emte, benar-benar mengena buat saya. Ya, seorang blogger bisa ikut berpartisipasi dalam memajukan bangsa melalui kompetensi yang dimilikinya, yang biasanya berkisar seputar menulis. Jadi, kita bukan sekadar menulis, melainkan harus punya visi.

Ya, saya seorang blogger

Apa yang kita tulis, bagaimana kita menyajikan suatu gagasan, hingga bagaimana kita membawakan diri dapat berpengaruh pada tersampaikannya suatu pesan. Tentunya, pesan ini adalah pesan penuh cinta untuk negeri sesuai minat dan bidang kepedulian kita masing-masing. Tak melulu harus isu besar, bahkan lewat hal-hal yang sekilas remeh pun kita bisa berbagi nilai-nilai positif di blog. Kompetensi untuk dapat menjalankan peran ini harus terus diasah, selaras dengan semangat yang kerap digaungkan di BCC yaitu #ScaleUpYourSkill, belajar tanpa henti. Rasa cinta akan meringankan langkah kita dalam belajar dan berkarya meskipun ada rintangan menghadang.

Continue reading

Tangguh Hadapi Pandemi bersama Bloggercrony

Sudah setahun lebih pandemi Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 melanda dunia. Bulan Maret ini, tepat setahun pula sejumlah pembatasan aktivitas diberlakukan di banyak wilayah di Indonesia guna mencegah penyebaran penyakit tersebut semakin luas.

Belasan bulan mestinya cukup sebagai masa adaptasi, untuk kemudian memasuki tahapan penerimaan bahwa kita pada akhirnya harus hidup pada tatanan kenormalan baru. Namun, pada kenyataannya, selalu ada saja sesuatu yang membuat kita harus kembali menyesuaikan diri. Memang, penyakit ini adalah penyakit baru. Wajar muncul perkembangan demi perkembangan terkini di bidang ilmu pengetahuan kesehatan, diikuti pergerakan kebijakan yang diambil untuk merespons hal baru tersebut oleh pihak-pihak yang berwenang.

Kantor saya dan suami termasuk yang menerapkan pengurangan aktivitas di kantor untuk bagian tertentu yang memungkinkan. Alhamdulillah kami berdua termasuk yang bisa melakukan pekerjaan dari rumah. Kebijakan ini berlaku hingga setelah Idulfitri, yang kemudian diperbarui menjadi kebijakan penjadwalan masuk kerja secara bergiliran. Sekolah anak-anak juga belum mengadakan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka hingga saat ini. Bagi keluarga kami, proses adaptasi menjadi lebih memakan waktu dan energi karena pada saat yang hampir bersamaan kami juga pindah ke rumah sendiri. Hanya berjarak sekitar tiga kilometer dari kontrakan sebelumnya, tetapi tetap saja kami belum familiar dengan lingkungannya. 

Menangani tugas kantor sambil menemani anak-anak belajar dari rumah memang cukup menantang. Belum lagi, ternyata rumah ini juga perlu satu-dua perbaikan setelah ditempati, sehingga kami harus berkoordinasi dengan tukang. Perihal membagi waktu saja rasanya sudah cukup melelahkan. Kalau soal tak bisa jalan-jalan, saya termasuk yang justru menikmati bisa lebih banyak berada di rumah. Anak-anak pun rasanya tidak banyak menuntut untuk bepergian seperti yang diceritakan beberapa teman. Baru saja kami beradaptasi dengan dimulainya kelas daring anak-anak yang jadwalnya lebih padat dibandingkan dengan sebelum Lebaran, ujian lain menghadang.

Continue reading

Kafe Sastra, Tempat Nongkrong Bernuansa Pujangga

Sekitar dua tahun yang lalu, setiap pulang kerja, saya selalu melewati Jalan Bunga yang terletak di kawasan Matraman, Jakarta Timur. Hanya lewat-lewat saja dan seringnya ketika matahari sudah mulai tenggelam, jadi saya tidak terlalu memperhatikan bangunan di sekitar. Setelah tidak lagi melalui rute tersebut, saya justru baru tahu, ada kafe nan cantik di jalur menuju Stasiun Commuter Line Pondok Jati tersebut. Kegiatan Milad Forum Lingkar Pena (FLP) tahun 2019 yang bertempat di aula PT Balai Pustaka (Persero) membawa saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Kafe Sastra ini.

Kafe Sastra Balai Pustaka

Continue reading

Belajar SEO, Sedikit Rumit tapi Asyik

Dalam perjalanan nge-blog, saya menemukan istilah SEO disebut-sebut oleh mereka yang sudah jago dalam hal blogging. SEO atau Search Engine Optimization ini merupakan cara-cara untuk mengoptimalkan mesin pencari agar kunjungan ke suatu situs meningkat. Mesin pencari tentunya punya algoritma ataupun mekanisme kerja yang membuat trik-trik tertentu bisa dilakukan agar situs atau blog kita berada di halaman awal laman pencarian. Misalnya, dengan memanfaatkan penempatan kata tertentu yang kerapkali dicari. Jika berada di bagian atas saat pencarian, otomatis situs kita pun mendapatkan kunjungan lebih banyak. Baik kita menargetkan monetisasi blog kita maupun tidak, kehadiran banyak pengunjung yang betah berlama-lama biasanya bikin kita lebih bersemangat menulis dan berbagi.

Banyak website maupun buku yang menyediakan materi belajar SEO, tetapi memang lebih enak kalau ada yang mengajari. Kita bisa bertanya secara langsung mengenai hal-hal yang belum dipahami, ‘kan. Maka begitu Blogger Perempuan Network membuka pendaftaran untuk kelas SEO yang diselenggarakan Sabtu (03/03) lalu, saya pun bersemangat ikut. Apalagi yang menjadi narasumber adalah mba Nunik Utami, teman lama sejak ikutan milis majalah Cita Cinta dan sama-sama nge-blog di Multiply dulu, yang juga dikenal sebagai penulis buku. Senang sekali menyimak penjelasannya yang mudah dipahami dengan contoh-contoh nyata.

Acara dibuka oleh mba Shintaries Nijerinda, founder Blogger Perempuan Network. Kata mba Shinta, kita tentunya ingin dapat pembaca yang organik, ketemu pembaca yang interest-nya sama, dan untuk itulah kita belajar SEO.

Kemudian, mba Nunik menyajikan materi secara jelas dan menyenangkan. Selaku pemilik situs atau blog, pastilah kita ingin laman blog masuk ke halaman pertama pencarian Google. Namun kalaupun belum bisa dicapai, yang penting blog kita sudah terindeks oleh Google. Masuk sampai dengan halaman kelima pencarian juga sudah bagus. Mari tengok tujuan yang pertama, yaitu tulisan yang ada di blog kita ramah untuk Google dan bukan dianggap konten yang buruk oleh Google. Jika isi blog bagus tetapi ada kata yang menjurus ke pornografi, itu bisa dianggap konten yang buruk oleh Google, walaupun sekarang algoritmanya sudah lebih manusiawi dengan melihat isinya. Jika isinya memang bermanfaat, misalnya artikel kesehatan yang memuat sebutan alat kelamin yang bisa menjurus negatif, dapat tetap diindeks ke Google.

Continue reading

Ini Dia Bekal untuk Jadi Muslimah Cerdas Era Digital

Pengalaman sekali mengikuti kegiatan Meet-Up Blogger Muslimah membuat saya tak membuang waktu untuk segera mendaftarkan diri begitu penyelenggaraan acara dalam rangka milad ketiga Blogger Muslimah diumumkan. Bagaimana tidak, acara yang saya ikuti itu penuh dengan ilmu dan keseruan, materinya begitu padat bergizi, ditambah dengan hadiah-hadiah yang menarik untuk para peserta.

Kali ini, event milad mengambil tema besar “Muslimah di Era Digital”, dengan materi Kepribadian Muslimah serta SEO Management. Alhamdulillah saya kebagian tempat di acara milad tersebut. Kabarnya, calon pesertanya membludak, lho.

Foto dulu sebelum mulai acara

Continue reading

Cermati Hal-hal Ini Dulu Sebelum Eksis di Medsos

Hari ini Perpustakaan Kementerian Keuangan mengundang mas Iwan Setyawan, penulis buku 9 Summers 10 Autumns yang sudah difilmkan dan pendiri lembaga Provetic, dengan tema Jurus Jitu Eksis di Media Sosial. Berhubung tanggal 17 Mei adalah juga Hari Buku Nasional, mas Iwan mengawali uraiannya dengan menyebutkan bahwa anak muda yang keren sekarang sejatinya adalah anak muda yang berani duduk di kafe sendiri sambil membaca buku seperti buku Pramudya Ananta Toer, bukan yang keluar masuk mall. Di sini, budaya itu masih belum berjalan.

Media sosial secara teknologi digital amat membantu, kita bisa tahu perkembangan terkini di belahan dunia lain saat ini juga. Sehingga lifestyle orang meski terpisah jarak cenderung hampir sama, dengan media sosial saat ini kelas C, D, E bisa tahu tren dan kabar terbaru apa yang sedang terjadi di kota metropolitan, di mana saja dan kapan saja. Ini bisa juga mendorong gaya hidup baru seperti menghitung kalori dengan bantuan teknologi. Di sisi lain, media sosial menampilkan yang indah-indah saja, everyone looks perfect in socmed, bisa bikin kita merasa harus mencapai hal serupa padahal belum tentu sesuai dan mampu. Belum lagi kalau waktu kita terlalu banyak dihabiskan untuk kepo sana-sini yang tidak bermakna.

“Kita kini makin banyak menghabiskan waktu untuk sibuk melihat hidup orang lain, sedangkan hidup kita sendiri terancam terabaikan. Iseng baca komen, bisa jadi malah kebawa emosi seharian yang merusak indahnya hari itu bahkan mengganggu pekerjaan. Lihat judul provokatif saja langsung panas. Lalu terpancing ikut berkomentar dengan hati panas. Ini bahaya. Ada baiknya satu dua hari menjauhkan diri dari gadget,” jelas mas Iwan. Kita ini depending on our mood, kan, ujarnya mengingatkan. Saran mas Iwan, belajarlah menahan, nggak semua harus diekspresikan, jangan jadi orang yang reaktif. Dipikir dulu, dimasukkan dalam hati dulu. Ditambah lagi, orang mudah mencaci di medsos karena tidak tahu emosi yang terlibat seperti apa. Status atau postingan kita bisa membuat kita mendapatkan labelling. Rekam jejak digital kita akan selalu ada, termasuk yang sudah dihapus bisa dipulihkan lagi, jadi sekali lagi pikirkan matang-matang.

Continue reading