Nyaman dan Asyiknya bermain di Playground fx Sudirman

Kami sekeluarga jarang pergi ke mall. Kalau sampai ke mall, biasanya karena ada undangan dari teman (syukuran, perpisahan, atau kopdar komunitas) atau keluarga besar yang mengajak jalan-jalan. Saya dan suami juga nonton berdua sih kadang-kadang. Nah, tahun lalu saya mulai aktif di The Urban Mama (TUM) setelah sebelumnya lebih banyak menjadi pembaca saja. TUM seringkali mengadakan kegiatan semacam seminar, bincang santai atau workshop yang temanya menarik perhatian saya. Jadilah saya mendaftarkan diri, dan ternyata banyak di antara acara tersebut yang diselenggarakan di fx Sudirman.

Pertama kalinya saya menginjakkan kaki ke dalam mall ini ya dalam rangka mengikuti acara TUM. Tepatnya untuk acara Pink Class #TUMMeTime yang mengangkat tema All About Kesehatan Kewanitaan. Kegiatannya digelar di food court Eat & Eat, lantai f5, dan saya tiba agak terlalu pagi waktu itu. Jadilah saya berkeliling…dan menemukan playground yang lucu di lantai yang sama! Wah, tahu gitu, tadi ajak anak-anak, ya. Tapi belum tahu juga sih sistem pemakaiannya bagaimana.

Saya mulai mencari tahu informasi tentang tempat bermain anak ini di internet. Ternyata gratis lho, alias tidak dipungut biaya jika mau bermain di situ. Tidak ada karcis masuk ataupun tanda sejenis. Sepertinya sistemnya mandiri ya, jadi tidak ada petugas penjaga juga. Maka orangtua, pengasuh, atau keluarga juga harus tetap mendampingi dan mengawasi selama anak-anak main di situ. Kalau sedang ada acara di panggung atrium, dari playground bisa ikut simak juga, entah itu sajian musik ataupun workshop/seminar. Sip, bisa ajak anak-anak nih kali berikutnya.

Continue reading

Cepat Tanggap Atasi Anemia pada Anak

Anemia, khususnya anemia defisiensi besi (ADB) selalu menjadi salah satu topik hangat di grup facebook maupun whatsapp ibu-ibu, khususnya yang memiliki anak bayi atau balita. Jika ada yang curhat anaknya berbadan mungil, biasanya akan ada yang menanggapi dengan saran cek kadar Hb, kalau perlu screening secara keseluruhan. Sebab, anemia diketahui bisa menghambat pertumbuhan.

Tapi di sisi lain, ada juga yang beranggapan tes-tes semacam itu cenderung merepotkan, apalagi jika dokter yang memeriksa (dan sudah berkomentar tentang pertumbuhan) malah tidak pernah merujuk atau menyuruh supaya tes darah untuk mengetahui apakah statusnya anemia atau tidak.

Usai bahasan panjang tentang tes atau tidak, ada pula pro kontra seputar apakah suplemen zat besi perlu diberikan. Ada orangtua yang mengikuti rekomendasi IDAI untuk memberikan suplemen zat besi pada anak sejak bayi tanpa memandang status Hb, ada yang memilih tes dulu agar suplementasinya lebih tepat sasaran, ada juga yang meski sudah jelas-jelas anemia tapi beranggapan bahwa ‘yang alami lebih baik’, alias bertekad mengejar kekurangan zat besi dari makanan sehari-hari.

Continue reading

Langkah-langkah Jitu Atasi Anak Demam

“Demam itu sebenarnya adalah sesuatu yang muncul karena alasan. Tidak mungkin tubuh kita memunculkan sesuatu yang tidak lazim kalau tidak ada alasan,” sebut dr. Apin.

Kalimat di atas bukan untuk pertama kalinya saya dengar atau baca. Dari Milis Sehat, milis tempat dr. Arifianto, Sp.A. dan rekan-rekan termasuk para senior beliau dan para orangtua (non-nakes) yang peduli kesehatan keluarga aktif berbagi, juga dari postingan dr. Apin dan kawan-kawan, saya banyak belajar mengenai hal-hal serupa. Sejumlah sesi Program Edukasi keSehatan Anak untuk orangTua (PESAT) yang diselenggarakan oleh para anggota milis (tahun ini adalah tahun penyelenggaraan yang ke-17 di Jakarta, belum terhitung yang di daerah lain) pun sudah saya ikuti, beberapa di antaranya diisi oleh dr. Apin.

Namun, kendati sudah belajar di sana-sini, keinginan untuk terus belajar membuat saya melangkahkan kaki ke stasiun untuk naik KRL menuju ke Depok pada tanggal 1 Oktober lalu. Tempat yang saya (bersama anak-anak dan pengasuh) tuju adalah Gramedia Depok, tidak jauh dari Stasiun Pondok Cina. Di sanalah diagendakan peluncuran buku Berteman dengan Demam yang ditulis oleh dr. Apin bersama dengan rekan sejawatnya sesama kontributor website Sehat (www.sehat.web.id), dr. Nurul Itqiyah Hariadi, FAAP. Pastinya bukan sekadar acara seremonial untuk menandai resminya buku tersebut beredar ya, tetapi ada pula sesi berbagi yang diisi oleh dr. Apin.

Continue reading

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 13

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 13, 26 September 2017

Semalam anak-anak minta dibacakan buku Masa Kecil Nabi dan Rasul karya kang Ridwan ‘Iwok’ Abqary yang baru tiba. Ternyata dalam kumpulan cerita tersebut ada juga kisah yang terkait dengan kecerdasan finansial, yaitu kisah Nabi Ibrahim. Di situ diceritakan bahwa Nabi Ibrahim semasa kecil membantu ayahnya berjualan patung berhala. Namun karena tidak sesuai dengan kata hatinya, maka alih-alih berpromosi agar orang tertarik membeli, Nabi Ibrahim malah mengucapkan kata-kata yang cenderung membuat orang kehilangan minat. Misalnya bahwa patung ini tidaklah berguna dan tidak pantas disembah. Anak-anak sudah pernah dibacakan cerita lain tentang menyekutukan Allah swt dengan hal lain termasuk patung yang disembah, jadi mereka menanggapi bahwa memang sudah seharusnya orang tidak membeli patung untuk disembah. Diskusi kemudian melebar ke soal membantu orangtua, kemudian juga tentang adab berjualan, termasuk berjualan sesuatu yang membawa mudharat. Tidak lama sih memang, karena saya sedang berusaha mengatur kembali jam tidur mereka. Saya sadar juga bahwa yang saya lakukan masih lebih banyak outside in, bukan inside out seperti yang beberapa kali diingatkan oleh IIP, semoga ke depannya bisa saya perbaiki.

 

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 12

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 12, 25 September 2017

Masih melanjutkan buku yang kemarin, berikut cerita-cerita selanjutnya dalam buku Aku Cerdas Mengelola Uang karya mba Watiek Ideo dan Fitri Restiana yang saya bacakan untuk anak-anak:

  • Saat Lebaran Tiba, menggambarkan keriaan Idul Fitri di mana anak-anak biasanya memperoleh angpau. Jadi ingat uang angpau anak-anak yang atas perintah ayah mereka didonasikan semua, sih. Ini PR saya dan suami untuk membahas lebih detil terkait hak anak-anak atas uang mereka, seberapa banyak pilihan yang boleh kami ungkapkan untuk mereka (dibelanjakan, disumbangkan?), apakah beberapa hal yang berbau kesenangan lebih baik kami blokir atau tetap diberitahukan sekaligus dengan menyebutkan manfaat vs mudharatnya.

Continue reading

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 11

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 11, 24 September 2017

Setelah sejak pagi sibuk dengan ‘perayaan’ ultah Fathia (walaupun hanya tumpeng nasi kuning dan puding) dan jalan-jalan ke Taman Suropati, malamnya, saya bacakan buku baru untuk anak-anak. Sengaja saya pilihkan buku berjudul Aku Cerdas Mengelola Uang karya mba Watiek Ideo dan Fitri Restiana. Dalam buku tersebut terdapat 10 judul cerita pendek terkait cara memperoleh, mengelola, maupun membelanjakan uang, disertai dengan ilustrasi menarik. Semuanya menampilkan kisah sehari-hari dalam kehidupan anak-anak terkait, sehingga terasa dekat dan akrab.
Continue reading

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 10

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 10, 23 September 2017

Esok hari, Fathia genap berusia 6 tahun. Tentu ia sempat melontarkan keinginan diadakannya pesta perayaan ulang tahun. Tapi karena memang sejak awal kami belum pernah bikin perayaan dengan mengundang tamu, maksimal hanya berbagi makanan untuk tetangga, maka Fathia juga tidak sampai ingin dibuatkan pesta yang meriah. Meski beberapa kali kami pernah menghadiri pesta ulang tahun anak tetangga, tapi rupanya keseruan pesta tersebut tak sampai menjadi acuan baginya.

Continue reading

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 9

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 9, 22 September 2017

Berhadapan dengan media massa artinya siap-siap juga terpapar dengan beraneka iklan yang menggoda. Belum lagi ketika beragam ‘barang lucu’ menjadi konten utama, meskipun mungkin bukan ditujukan untuk menarik perhatian calon pembeli (misalnya tajuknya adalah pilihan editor, bukan iklan atau advertorial), tapi tetap saja mengundang minat. Hari itu saya membeli dua majalah dan anak-anak ikut melihat-lihat isinya. Sampai di halaman rekomendasi mainan anak, nah ini, nih 😁. Begitu banyak ragam mainan yang memang terlihat bakal seru kalau dimiliki. Berhubung harganya juga dicantumkan sekalian, saya jadinya sibuk mencoba menjelaskan, ini harganya dua kali lipat hp bunda lho, yang itu setara dengan belanja susu kakak dua bulan, dst. Fathia sempat protes, masak semuanya mahal? Yaaah, gimana yaaa…memang ‘kebetulan’ yang dimuat harganya lumayan semua. Saya juga sempat menawarkan opsi menjual beberapa mainan yang sudah dimiliki, kalau memang ingin beli yang baru. Memang saya sedang berencana hendak menjual kembali sejumlah barang (yang sejauh ini belum sampai menyentuh ke kategori mainan anak-anak) di rumah, sih. Pilihan ini saya pikir bisa juga diceritakan ke anak, karena adakalanya barang yang bagi kita tidak terpakai ternyata akan sangat bermanfaat bagi orang lain. Terbukti dari pengamatan saya terhadap beberapa grup atau forum jual beli barang 2nd yang saua ikuti. Ada barang yang mungkin lebih baik disumbangkan, tapi mengambil manfaat finansial dari menjual lagi barang tertentu juga tidak ada salahnya, kan?

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 8

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 8, 21 September 2017

Kami cukup jarang bepergian bersama ke pusat perbelanjaan. Alhasil kalau ditanya tentang pengalaman anak tantrum karena tidak dituruti permintaannya beli mainan di mall misalnya, saya tidak bisa menjawab, soalnya memang hampir tidak pernah ke mall yang keliling-keliling begitu (yang umumnya banyak godaan nan menarik hati anak-anak, lha emaknya aja jadi kepengin kok).

Kalaupun pergi ke sana dengan anak-anak, biasanya sudah ada agenda seperti saya sekalian ikut seminar/talk show atau kopdaran dengan teman-teman. Sengaja makan di luar sekeluarga pun tak sering. Bahkan kalau bisa urusan kami di pusat perbelanjaan selesai sebelum waktunya makan, jadi bisa makan di rumah saja. Atau justru sudah membawa bekal, misalnya kalau kami pergi ke pameran atau kebun binatang.

Suami pun lumayan tegas soal permintaan (terkait beli mainan, makanan, atau permainan) yang tidak sesuai rencana. Karena anak-anak tahu ayahnya tidak akan mengabulkan, mereka pun tidak sampai menangis apalagi mengamuk minta sesuatu, walaupun kalau merengek gitu sih pernah juga, ya.

Continue reading

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 7

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 7, 20 September 2017

Kami masih membaca ulang buku Muamalah untuk Anak. Obrolan bergulir ke soal punya pekerja sebagaimana digambarkan dalam cerita, seperti eyang kung anak-anak yang juga mempekerjakan pegawai. Ada banyak cara untuk mencapai tujuan finansial, dan kita sebagai manusia bisa berusaha dan berdoa, sedangkan untuk hasilnya kita serahkan pada Allah. Fathia juga baru saja mengeluh ia tidak bisa mengerjakan sesuatu, dari situ saya ajak ia tetap berusaha dan berdoa jika memang ingin bisa. Namun lagi-lagi berhasil tidaknya tetap hanya Allah yang menentukan. Kalau ia tak kunjung menguasai satu bidang yang diidamkan padahal sudah berupaya diiringi doa, bisa jadi Allah lebih ingin ia fokus di bidang lain (saya sebutkan contoh spesifiknya) dan lebih ridha ia memberi kemanfaatan di bidang tersebut.

Buku lain yang kami bahas adalah Rinduku untuk Ayah (Pipiet Senja). Awalnya saya beli buku itu untuk menambah referensi anak-anak bahwa ada juga kondisi lain yang menyebabkan ayah dan anak harus tinggal berjauhan. Kali ini kami ulas sisi finansialnya, bahwa untuk mencapai tujuan finansial tertentu, misalnya dalam buku itu digambarkan agar bisa sekolah di tempat yang bagus, adakalanya diperlukan pengorbanan. Salah satunya, ya kebersamaan yang jadi tidak bisa dinikmati setiap hari.