Kata kesembilan dalam Writober 2025 adalah prameswari. Saya tertarik untuk membahasnya dari segi bahasa. Sepertinya dulu saya pernah membaca bahwa kata prameswari atau permaisuri ini berasal dari kata parama dan iswari. Lebih rincinya, kata tersebut merupakan rangkaian dari bahasa Sanskerta paramā (परमा) yang berarti utama, tertinggi, mulia dan īśvarī (ईश्वरी), bentuk feminin dari īśvara yang memiliki arti penguasa, dewa, tuan. Definisi ini salah satunya tercatat di Monier-Williams Sanskrit Dictionary (University of Cologne), yang menyebutkan bahwa parameśvarī adalah “the supreme goddess; the female form of Parameśvara.”
Category Archives: bahasa
Berbagai Sebutan Jarak Hari dalam Bahasa Indonesia
Kita pasti sudah akrab dengan kata-kata besok, lusa, kemarin, atau bahkan kemarin lusa. Kata-kata ini umum dipakai dalam percakapan sehari-hari untuk menginformasikan perhitungan atau jarak hari, sebelum atau sesudah hari ini. Ternyata, ada loh sebutan lainnya untuk hari-hari dengan perhitungan tertentu jika dibandingkan dengan hari ini. Mungkin banyak di antaranya yang tidak familier, tetapi seiring berjalannya waktu, barangkali pelan-pelan akan terbiasa juga kita memakainya.

Mozilla & SimpleIcon via Wikimedia Commons
Berikut adalah kata-kata tersebut dan artinya yang saya salin dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) VI Daring.
Kesamaan Singkatan yang Menjembatani Perbedaan Bahasa
Masih dalam suasana Bulan Bahasa, saya ingin membahas soal keluwesan berbahasa Indonesia. Awal tahun ini sebuah artikel di The Conversation menarik perhatian saya. Sebuah istilah disebutkan di sana: akal imitasi (AI). Wah, saya baru tahu kalau padanan dari artificial intelligence dalam bahasa Indonesia adalah akal imitasi. Ketika saya coba telusuri lagi, ada artikel di Kompas yang juga sudah menggunakan istilah tersebut sejak Oktober tahun lalu. Belum sempat mencari apakah ada yang lebih lawas lagi, sih. Dalam situs KBBI VI (versi situs), istilah akal imitasi ini juga sudah ada.

Kompas Akal Imitasi
Saya spontan kagum. Unik, ya. Dapat aja, gitu lho. Singkatan dalam bahasa Indonesia bisa sama dengan singkatan dalam bahasa Inggris yang juga sudah populer. Sebelumnya, sudah ada juga beberapa singkatan yang tetap bisa dipertahankan dengan menggunakan kata-kata terjemahan yang sesuai. Jadi, masyarakat bisa tetap menggunakan singkatan aslinya, yang umumnya juga sudah cukup populer.
Writober 1: Terdampak Langsung oleh Pagebluk
Sekian bulan hanya menjadi pengamat soal pagebluk Covid-19, sambil sesekali menuliskan hal-hal terkait mereka yang terdampak untuk tugas kantor, Agustus lalu saya dan keluarga akhirnya mengalami sendiri, menjadi yang terdampak langsung. Melalui penelusuran kontak erat dari kasus yang sudah ada, saya dan suami menjalani pemeriksaan swab PCR yang hasilnya ternyata positif.
Yakin Sudah Paham Bahasa Indonesia?
Pertengahan tahun lalu saya mendapatkan kesempatan mengikuti lokakarya dalam rangka penerbitan majalah kantor. Salah satu pembicara yang paling saya tunggu dari rangkaian dua hari kegiatan lokakarya adalah Uda Ivan Lanin. Materi keseluruhan cukup padat dengan tema besar Meningkatkan Keterampilan Menulis dengan Gaya Bahasa yang Baik dan Benar. Seratus lebih salindia ditampilkan dalam waktu hanya sekitar empat jam.

Karena materi aslinya memang banyak, kali ini saya ingin berfokus pada salah satu halaman saja yang cukup menohok. Kenapa menohok? Pasalnya, di situ peserta ditantang untuk menemukan kesalahan pada kalimat-kalimat yang ditampilkan. Yakin, nih, sudah paham betul penggunaan bahasa kita yang benar?
How Much Do You Love Me?
Beberapa waktu yang lalu anak-anak memperoleh oleh-oleh dari saudara pengasuh mereka yang baru pulang dari Dubai. Isinya sepasang gelang bergaya simpel dengan hiasan berwarna keemasan. Iseng saya mengamati tulisan yang tertera di situ. Love Forever 520. Wah, apa artinya, ya?

Yakin, Sudah Menguasai Bahasa Kita Sendiri?
Tadi saya menemani Fathia yang mengikuti lomba menggambar di Badan Bahasa Kemendikbud, Rawamangun. Rupanya di sana sedang diselenggarakan berbagai acara dalam menyambut Bulan Bahasa dan Sastra yang jatuh pada bulan Oktober ini. Mengapa bulan Oktober? Karena pada bulan inilah peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda digaungkan.
Berhubung Fahira tidak terlalu betah menemani kakaknya di satu tempat, saya ajak ia jalan-jalan mengelilingi salah satu bangunan Badan Bahasa. Di gedung tersebut sedang diselenggarakan pameran dan bazar buku sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Bulan Bahasa dan Sastra.
Panitia pameran menyediakan panel berseri yang menampilkan sejarah perkembangan bahasa Indonesia. Menelusuri panel demi panel, pengunjung bisa memahami perjalanan bahasa kita dari masa ke masa.
Review Materi Membangun Keluarga Literasi
Review Materi Bunda Sayang Institut Ibu Profesional sesi #5
📚 *MEMBANGUN KELUARGA LITERASI* 📚
Selamat untuk Anda para bunda di kelas Bunda Sayang yang sudah berhasil menyelesaikan tantangan game level 5.
Banyak kreasi literasi yang muncul, mulai dari pohon literasi, pesawat literasi, galaksi literasi, dll. Semua yang sudah Bunda kerjakan di tantangan kali ini sesungguhnya bukan hanya melatih anak-anak dan seluruh anggota keluarga untuk SUKA MEMBACA, melainkan melatih diri kita sendiri agar mau berubah.
Seperti tagline yang kita gunakan di tantangan level 5 kali ini, yang menyatakan “for things to CHANGE, I must CHANGE FIRST.”
Sebagaimana yang kita ketahui, tantangan abad 21, tidak cukup hanya membuat anak sekadar bisa membaca, menulis dan berhitung, melainkan kita dan anak-anak dituntut untuk memiliki kemampuan membaca, menulis, berhitung, berbicara, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga, dan masyarakat di sekitar kita. Kemampuan inilah yang saat ini sering disebut literasi (National Institute for Literacy, 1998).
Dari #IRF2016 (1) Belajar Mengalihbahasakan Idiom dengan Rasa
Sudah lama saya penasaran akan kegiatan Festival Pembaca Indonesia, ‘hajatan’ komunitas pengguna Goodreads yang ada di Indonesia. Sayangnya saya sendiri memang tidak aktif di Goodreads, sih. Akun GR saya sudah debuan, hihihi, saking lama nggak ditengok.
Festival yang disebut juga dengan Indonesian Readers Festival (IRF) ini rutin diadakan setiap tahun sejak 2010. Di tahun pertama diselenggarakannya tersebut, buku Long Distance Love (Lingkar Pena Publishing House, 2009) yang memuat tulisan saya meraih Anugerah Pembaca Indonesia untuk kategori Sampul Buku Non-Fiksi Terfavorit atas nama SindikArt dan mendapat tempat kedua untuk kategori Buku & Penulis Non-Fiksi Terfavorit atas nama mba Imazahra yang bertindak selaku inisiator dan koordinator (sumber: Okezone).
Tahun ini kebetulan lokasi yang dipilih untuk IRF relatif lebih dekat dengan tempat tinggal, sekaligus lebih akrab dengan keluarga kami, yaitu Museum Nasional. Begitu melihat publikasinya di facebook saya langsung mencari tahu ada kegiatan apa saja, dan menemukan dua workshop yang menarik perhatian yaitu Menerjemahkan Idiom: Alih Bahasa dengan Rasa; dan Mengeluarkan Kekuatan Narasi: Baca dan Bacakan bersama Ayo Dongeng Indonesia. Keduanya dilaksanakan berturut-turut pada hari Minggu, 11 Desember 2016.
Kalau tengok di postingan instagram @bacaituseru, ada juga kegiatan untuk anak-anak seperti workshop menulis dan workshop origami, tapi melihat kisaran usia yang menjadi sasaran sepertinya Fathia juga belum bisa ikutan. Tapi Fathia dan Fahira mungkin masih bisa ikut kegiatan lain seperti Bioskop Baca (yang memutar film-film adaptasi buku) jika kebetulan filmnya cocok (saya lihat hari Minggu ada The Little Prince), menyimak dongeng, atau sekadar main atau mewarnai di Pojok Anak Museum Nasional seperti biasa.
Sebetulnya masih ada workshop lain seperti Menghadirkan Puisi di Hati Kita yang narasumbernya adalah kolega satu instansi saya, mas Pringadi. Sayangnya waktunya bentrok dengan workshop dongeng, dan dengan berbagai pertimbangan saya memilih workshop dongeng. Kegiatan hari Sabtu juga tak kalah menggiurkan, ada talkshow dengan Seno Gumira Ajidarma, diskusi dan peluncuran buku terbaru Adhitya Mulya, mini workshop Creative Writing 101 bersama Windy Ariestanty dan Hanny Kusumawati dari Writingtable, Pemanfaatan Big Book dalam Pengembangan Literasi oleh Aksa Berama Pustaka, Make Your Own Book with What You Have and What You Can Do bersama Lala Bohang, plus klinik kiat menembus dapur fiksi bersama editor fiksi majalah femina, tapi kami sudah ada agenda lain pada tanggal 10 itu. Setelah menentukan pilihan, saya bergegas mendaftarkan diri ke e-mail yang tertera dan alhamdulillah masih kebagian tempat.
Dalam pos ini saya ceritakan dulu workshop pertama yang saya ikuti hari itu. Hal yang membuat saya begitu bersemangat mengikuti workshop penerjemahan adalah kesukaan saya pada membaca dan bahasa. Saya sampai sudah melihat-lihat berapa sih biaya kursus penerjemahan di LBI FIB UI. Tambahan lagi, pemateri yang tercantum pada posternya adalah penulis/penerjemah yang selama ini saya kenal (walaupun hanya melalui karya atau interaksi di dunia maya, dan yang jelas tidak semuanya kenal saya, hehehe) dengan keandalannya seperti mba Barokah ‘Uci’ Ruziati (sudah baca A Game of Thrones bahasa Indonesia? Mba Uci ini lho, yang dipercaya menerjemahkan), mba Dina Begum, mba Lulu Fitri Rahman, dan mba Poppy D. Chusfani.
Maka saya pun tiba di auditorium Museum Nasional pada Minggu pagi dengan antusias… dan mengkeret begitu tahu banyak di antara hadirin yang profesinya adalah penerjemah profesional. Yah, meski acaranya sebetulnya diperuntukkan bagi pemula, mungkin acara ini juga sekaligus sebagai ajang temu kangen dan memperluas jejaring, ya. Saya amati banyak yang tukar kartu nama…saya mah boro-boro :D.
Jangan Baper, Ah!
Sebuah album foto dari suatu fanpage menarik perhatian saya beberapa waktu yang lalu. Secara keseluruhan, foto-foto dalam album tersebut menyebutkan arti dari idiom-idiom dalam bahasa Inggris. Beberapa pembaca melontarkan kritik terhadap sebagian idiom yang dituliskan artinya. Ada yang memang mengoreksi dengan tepat, misalnya untuk “don’t bother” yang diterjemahkan sebagai “jangan ganggu”, padahal kalau intransitif arahnya lebih pas ke “jangan repot-repot”. Ada pula yang malah mempertanyakan ketika idiom “piece of cake” diartikan “mudah sekali”, sambil komentar “Bukannya itu maksudnya sepotong kue?”. Yah, mbaknya/masnya belum familiar aja kali, ya.
Idiom berikutnya yang menuai protes adalah ‘no hard feelings‘ (diartikan sebagai “jangan tersinggung”). Kali ini bukan soal artinya, melainkan penulisannya. Rupanya ada komentator-komentator yang menganggap kata hard di situ seharusnya heart, atau malah hurt. Saya jadi ingat obrolan bertahun-tahun lalu di jurnal Mbak Revina Octavianita, tepatnya di blog lama di Multiply. Waktu itu mba Vina membahas beberapa istilah dalam bahasa Inggris yang sering salah dituliskan. Lupa sih, soal no hard feelings vs no heart feelings vs no hurt feelings ini memang sudah ada sejak awal di tulisan mba Vina atau saya duluan yang tanya. Saya pertama mengenal idiom tersebut kalau tidak salah dari majalah Gadis atau MTV, yang jelas di masa sekolah. Lalu belakangan saya agak bingung karena seolah-olah terdapat beberapa versi penggunaan kata.
Barangkali karena no hard feelings itu mengarah ke “jangan dimasukin ke hati, jangan diambil hati”, ya, makanya ada yang terpeleset menuliskannya dengan memakai kata heart. Lalu karena “hard feelings” itu merujuk ke emosi negatif atau lebih khususnya kemarahan (dalam kamus disebutkan anger, resentment, sesuatu yang pahit atau istilah kekiniannya ‘baper’ alias bawa perasaan kali, ya), memang jadinya rawan ada perasaan yang terluka (hurt). Namun, apa pun alasannya, kalau sudah tahu, yuk biasakan gunakan penulisan yang benar*. Jangan baper juga yaa kalau diingatkan soal tata bahasa (eh, kosa kata ya, masuknya?) begini. Yang dikritik pemakaiannya, kok, bukan pribadi kamuuuh… no hard feelings :).
*Kecuali untuk keperluan kreatif seperti judul film yang posternya saya pajang ini ya… semacam dispensasi licentia poetica, barangkali :).

