Kenangan Mengunjungi Atsiri diSarinah

Pertama kali saya mengetahui keberadaan Rumah Atsiri Indonesia adalah dari konten sepupu saya yang menjadi salah satu tamu undangan saat tempat ini baru akan dibuka untuk umum tahun 2018. Dari foto-fotonya saya melihat rumah-rumah kaca nan cantik, bangunan-bangunan kayu dengan desain yang mirip dengan tenda, juga taman bunga marigold yang ikonik. Semua terletak di kaki Gunung Lawu yang memberikan latar pemandangan nan elok.

Atsiri sendiri dalam hal ini adalah minyak hasil penyulingan dari tanaman yang menghasilkan aroma khas. Kita mungkin mengenalnya juga dengan istilah essential oil. Minyak ini bisa ditemukan di kulit, buah, bunga, daun, getah, rimpang, akar, biji, bahkan di batang tanaman. Laman Rumah Atsiri menyatakan bahwa Indonesia punya puluhan ribu jenis tanaman yang dapat menghasilkan minyak atsiri, dari cengkih, pala, nilam, kayu putih, kenanga, sampai cendana. Adapun Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi VI menyatakan bahwa kata yang baku sebenarnya adalah asiri, sebuah kata sifat yang berarti mudah menguap pada temperatur yang relatif rendah.

Continue reading

Mengunjungi 5 Gong Perdamaian di Indonesia

Pertama kalinya saya menyadari keberadaan monumen Gong Perdamaian adalah saat secara tak sengaja melihatnya di Blitar. Tepatnya di kompleks makam Bung Karno, saat mampir ke sana setelah menghadiri pernikahan teman kantor. Sayangnya, itu pun dari jauh. Saya baru mengetahui adanya gong berukuran besar ini saat sudah keluar kompleks. Ya, gongnya sendiri memang kelihatan dari luar pagar.

Kemudian saya mencari tahu sejarah Gong Perdamaian, dan menemukan informasi bahwa terdapat banyak Gong Perdamaian lain di berbagai kota di Indonesia, bahkan di berbagai negara di dunia. Umumnya, permukaan Gong Perdamaian ini dihiasi dengan bendera-bendera kecil atau lambang berbagai daerah di Indonesia dan negara-negara di dunia.

Hanya berselang sebulan, ternyata saya mendapatkan kesempatan untuk melihat Gong Perdamaian lainnya yaitu di Kota Palu. Awal tahun ini ketika mengunjungi Museum Konferensi Asia Afrika di Bandung, saya juga baru tahu kalau di dalamnya ada Gong Perdamaian.

Asia-Africa Peace Gong

Gong Perdamaian Asia Afrika

Continue reading

Mengunjungi Jembatan EMAS di Bangka

Belasan tahun tidak menginjakkan kaki di Bumi Serumpun Sebalai, tentu banyak sekali kemajuan yang saya saksikan ketika kembali ke sana. Salah satunya adalah Jembatan Emas yang sepertinya baru pada tahap pembangunan awal ketika saya pindah dari sana. Jembatan ini memilik keunikan dapat digerakkan naik-turun agar kapal besar dapat lewat, sekaligus tetap dapat dimanfaatkan untuk lalu lintas kendaraan saat sedang tidak diangkat.

Nama Jembatan Emas diambil dari singkatan nama Eko Maulana Ali Suroso, Gubernur Bangka Belitung yang menjabat pada saat pembangunan jembatan tersebut (sekitar tahun 2007-2012 dan terpilih kembali untuk 2012-2017, tetapi meninggal dunia pada tahun 2013).

Jembatan Emas Pulau Bangka tampak tengah

Continue reading

Sambut HUT Jakarta ke-495, Air Mancur Menari Lapangan Banteng Kembali Dibuka

Plus Jakarta, Kota Kolaborasi. Kata-kata tersebut menyambut para pengunjung Taman Lapangan Banteng yang memasuki area tersebut dari Pintu Barat, termasuk kami semalam. Slogan ini mengandung pesan bahwa pembangunan Jakarta memerlukan keterlibatan warganya dari semua lapisan. Dikutip dari website resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, kota ini diharapkan menerapkan konsep City 4.0

Jakarta Kota Kolaborasi

Jika dalam tataran City 1.0 pemerintah menjadi administrator sedangkan warga sekadar sebagai penduduk, lalu pada City 2.0 pemerintah sebagai pelayan sementara warga merupakan customer, kemudian dalam City 3.0 pemerintah adalah fasilitator bagi warga yang mengambil peran partisipan, maka City 4.0 dirancang lebih dari itu. Dalam City 4.0, berbagi gagasan adalah suatu kultur, hingga terbentuk ekosistem yang saling mendukung antara pemerintah dengan warga kota yang bergerak bersama. 

Warga kota yang dimaksud di sini bisa berasal dari berbagai kalangan, mulai dari peserta didik atau mahasiswa, ibu-ibu, aneka komunitas, seniman, UMKM, hingga startup. Kolaborasi dapat dilakukan antara lain dalam enam kategori, yaitu Environmental Resilience, Future of Work, Urban Regeneration, Innovation and Technology, Equality and Empowerment, serta Art and Culture.

Jakarta sebagai ibukota negara adalah kota pusat pemerintahan sekaligus pusat perekonomian, sehingga insan dari berbagai budaya dan latar belakang berkumpul di sini. Beragamnya karakter warga ini merupakan potensi yang jika dikembangkan dengan baik maka akan saling melengkapi dan makin mendukung makin majunya Kota Jakarta yang usianya sudah mendekati lima abad.

Continue reading

Napak Tilas Virtual Sejarah Perjuangan Bangsa

Kami sekeluarga termasuk suka menjelajahi berbagai museum yang berlokasi di sekitar kami, baik di kota tempat tinggal maupun kota-kota lain yang sedang kami datangi. Dari museum, kami bisa belajar banyak hal. Bukan cuma anak-anak, kami pun jadi bertambah pengetahuan, terutama tentang sejarah dan kebudayaan bangsa ini.

Pada masa pembatasan aktivitas untuk pencegahan pandemi Covid-19 beberapa bulan belakangan ini, kegiatan ke museum memang menjadi mustahil untuk dilakukan. Beberapa lokasi bersejarah mungkin memang sudah dibuka untuk umum dengan penerapan protokol kesehatan. Akan tetapi, kami belum berani untuk banyak keluar rumah dulu selain untuk keperluan mendesak.

Continue reading

Menyapa Hiu Paus di Perairan Gorontalo

Hiu paus. Hiu atau paus, nih? Kalau hiu, ‘kan, termasuk ikan, sedangkan paus adalah golongan mamalia yang jelas bukan golongan ikan. Nah, hiu paus ini sebetulnya adalah ikan hiu. Namun, jika umumnya ikan hiu merupakan hewan karnivora alias pemakan daging, ikan hiu paus (whale shark) ini makanannya adalah plankton yang ia peroleh dengan cara menyaring dari air laut melalui mulut. Mirip cara makan paus, kan? Bukan hanya plankton sebetulnya, hiu paus juga menyukai ikan kecil seperti sarden, makerel, maupun udang dan cumi-cumi kecil.

Sumber gambar: Kementerian KKP

Continue reading

Air Mancur Menari di Monas, Cantiknya!

Beberapa kali mama sempat mengutarakan keinginan beliau melihat air mancur menari di Monumen Nasional. Pertunjukan ini intinya berupa gerakan air mancur yang tampak ‘menari’ diiringi musik dan permainan cahaya. Beberapa waktu yang lalu beliau memang nonton pertunjukan serupa di Grand Indonesia maupun di Kenjeran Surabaya — sementara saya belum pernah sama sekali, hehehe. Saya sendiri cuma dengar-dengar saja tentang pertunjukan ini dan belum pernah mencari tahu lebih lanjut. Bulan lalu, mumpung mama sedang di Jakarta, saya pun coba browsing informasi tentang air mancur menari di Monas.

Ternyata pertunjukan air mancur ini baru dibuka mulai tanggal 12 Agustus lalu, diresmikan oleh Wakil Gubernur Jakarta pada saat itu, pak Djarot Syaiful Hidayat. Dulu pertunjukannya sempat ada tahun 1970-an kemudian rusak dan diaktifkan lagi tahun 2005 dengan nama Taman Air Mancur Pesona Monas (masih tanpa iringan musik), tetapi ditutup kembali karena rusak tahun 2009. Kini jadwal pertunjukannya adalah setiap hari Sabtu malam dan Minggu malam, masing-masing ada dua kali show yaitu pukul 19.30 dan 20.30.

 

Continue reading

Berpetualang ke Bintang-bintang lewat Planetarium

Saat menuju tempat penyelenggaraan acara Jumpa Penulis yaitu di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Cikini, tanggal 15 Oktober lalu, saya iseng melewati bagian dalam Planetarium yang terletak di kompleks yang sama. Toh kalau menurut jadwal yang saya peroleh, Jumpa Penulis mestinya sudah masuk sesi istirahat.

Baca juga: Catatan dari Jumpa Penulis di TIM

Begitu memasuki bagian depan bangunan Planetarium, ramainya pengunjung yang memadati antrean pembelian tiket Teater Bintang kontan menarik perhatian saya. Wah, apa mungkin sudah dibuka kembali untuk umum, ya? Informasi yang saya dapat dari petugas Planetarium saat Peneropongan Bulan dan Planet di bulan Agustus, pertunjukan Teater Bintang sedang dalam proses pertimbangan untuk dibuka kembali. Pertunjukan ini memang tidak diadakan lagi sejak bulan April 2017 karena adanya kerusakan proyektor utama M-VIII. Kemudian di bulan September, saya lihat ada pengumuman di media sosial resmi Planetarium bahwa pertunjukan Teater Bintang dibuka kembali, tetapi sifatnya masih uji coba dan hanya diperuntukkan bagi rombongan yang harus mendaftarkan diri terlebih dahulu.

Begitu menengok situs resmi Planetarium, wah, ternyata memang sejak tanggal 13 Oktober Teater Bintang sudah memasuki tahap uji coba yang lebih luas, yaitu untuk rombongan maupun perseorangan.  Namanya juga masih masa uji coba, jadwal pertunjukan masih terbatas. Pengunjung rombongan harus melakukan reservasi dulu sesuai dengan ketentuan (bisa dibaca di sini) dan nantinya bisa menonton pertunjukan pada hari Selasa-Jumat (kecuali libur nasional dan cuti bersama) pada pukul 09.30 atau 13.30. Jumlah pengunjung rombongan minimal 100 siswa/mahasiswa. Jika kurang, maka tetap diterima dengan perhitungan biaya untuk 100 siswa/mahasiswa. Sedangkan kalau lebih, kelebihannya dihitung sesuai harga tiket masuk yang berlaku untuk rombongan.

Continue reading