Tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP (Think Creative) – Hari 5

 

Jika memang dikatakan bahwa “tidak ada masalah, yang ada adalah tantangan”, sebagaimana disebutkan dalam materi level 9, lalu, bagaimana jika yang dihadapi adalah kondisi sakit? Kemarin (07/11) malam, salah satu anggota keluarga kami menunjukkan gejala sakit. Imbasnya, salah satu anggota keluarga lain ikut merasa tidak nyaman. Fokus saya terbelah antara memberi pertolongan untuk yang sakit dulu ataukah menenangkan yang jadi ikut tidak nyaman. Dari sini saya belajar bahwa yang dinamakan kreatif itu ya pastilah tetap ada pedoman dasarnya. Jadi kalau bertindak sembarangan semaunya tanpa mau mencari tahu yang seharusnya bagaimana, maka tidak bisa dikatakan kreatif. Kreativitas adalah ketika kita sudah tahu tatalaksana yang benar, lalu sewaktu ada yang belum bisa dilakukan sesuai pedoman maka tetap berusaha mencari cara agar setidaknya tujuan dapat terpenuhi atau mendekati ke sana, tanpa harus melanggar pedoman. Saat ada yang diare dan muntah misalnya, harusnya kan kasih oralit, ya. Ketika betul-betul tidak memungkinkan untuk beli dan di rumah juga tidak ada stok, bisa pakai alternatif membuat sendiri larutan gula garam untuk tujuan mencegah dehidrasi, tapi sekali lagi ini sifatnya darurat.

Saat ada yang sakit, saya berupaya tetap mengikuti pakem yang seharusnya. Hanya saja, ternyata ada tantangan tambahan yaitu membagi perhatian, dan untuk kondisi kami kemarin, tidak mungkin untuk mendelegasikannya ke pihak lain lagi. Di sini dibutuhkan kreativitas untuk mengalihkan perhatian yang ‘rewel’ (sebetulnya saya kurang suka istilah ini), sambil tetap memantau kondisi yang sakit dan memberikan pertolongan semaksimal mungkin. Tidak bisa saya jelaskan lebih lanjut apa saja tepatnya yang saya lakukan, tapi intinya sih saya sangat bersyukur bahwa hari ini anggota keluarga yang sakit sudah merasa lebih baik. 

 

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP (Think Creative) – Hari 4

 

Kemarin (06/11) anak-anak masih lanjut berebut boneka kaos kaki yang saya belikan pada Festival Dongeng Internasional Indonesia sehari sebelumnya, juga balon yang kami peroleh dari acara tersebut. Dalam keadaan capek sepulang kantor, kadang pertengkaran seperti itu kian menambah kelelahan saya. Menjaga agar nada suara tidak meninggi adalah PR tersendiri. Tadinya saya menerapkan konsekuensi seperti barang bisa diambil dari anak-anak kalau mereka tidak bisa mempertahankan haknya (kalau mainan itu memang jatah mereka) atau meminta izin dengan baik. Namun perkataan seorang teman menyadarkan saya, kalau diberi sanksi seperti itu, bagaimana dengan konsep kepemilikan yang seharusnya juga dipahami betul oleh anak? 

Yang saya lakukan, pertama adalah mengusir rasa baper. Kedua, menggali lagi materi komunikasi produktif yang menjadi bahan level pertama kelas Bunda Sayang IIP. Iya, sering masih lupa soalnya untuk betul-betul menerapkan teknik ini. Maka, hasilnya juga tidak ‘instan’, masih perlu waktu. Ketiga, doa, tentunya. Mungkin ini ‘tidak kreatif’, tapi saya percaya segala ide dan solusi, atau bahkan jalan lain yang tidak terpikirkan sebelumnya, datangnya adalah dari Allah swt.

Dari sini juga saya belajar bahwa membelikan dua barang yang sama/serupa untuk masing-masing anak bukanlah solusi yang selalu pas. Yang lebih penting adalah mengenalkan konsep berbagi maupun konsep kepemilikan sesuai usia. 

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP (Think Creative) – Hari 3


Kemarin (05/11) kami lanjut menyimak Festival Dongeng Internasional Indonesia 2017 hari kedua. Kali ini saya banyak belajar dari para penampil. Ada yang membawakan dongeng lewat lagu-lagu, musik, menggunakan boneka atau alat bantu lainnya, bahkan mengajak penari. Setelah saya perhatikan, beberapa cerita punya tokoh utama yang sama yaitu naga. Namun masing-masing dongeng, meskipun sama-sama punya tokoh naga, bisa disajikan dengan cara yang berlainan. Ini bisa menjadi contoh kreativitas dalam mengolah cerita.

Sepulang dari acara, anak-anak seru mendongeng dengan cara mereka. Dan hadiah terbaik yang bisa orangtua berikan adalah menyimaknya dengan sepenuh jiwa, bukan dengan fokus yang terbagi. Ada boneka kaos kaki yang saya belikan di acara itu dan saya berikan kepada anak-anak sebagai sarana bercerita, walaupun sebetulnya apa saja bisa dijadikan sarana ya. Dan memang dengan alat bantu yang baru dan menarik, anak-anak jadi tambah bersemangat. Meski demikian, muncul juga tantangan baru, gara-gara salah satu boneka terlihat lebih menarik daripada yang lainnya. Rebutan lah jadinya. Ini juga tantangan baru sih, ya… Perlu kreativitas untuk menanganinya, termasuk dalam menerapkan komunikasi produktif yang menjadi materi pertama Kelas Bunda Sayang IIP.

 

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Push Yourself to the Limit!

Seperti sudah saya sampaikan dalam postingan laporan pelaksanaan tantangan 10 hari untuk hari pertama, saya sempat kaget dengan tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. Bagi saya yang lebih dominan sisi mengikuti buku teks atau manual petunjuk, diminta untuk mengasah kreativitas melalui ‘apa saja yang ditemui sehari-hari’ itu… ‘menakutkan’. Bagaimana kalau saya salah memaknai instruksinya, dan yang saya laporkan berbelok dari yang seharusnya?

Apalagi di hari-hari awal tantangan, saya sedang banyak kerjaan di kantor sampai sering pulang malam. Sampai rumah suka sayang kalau buka hp alih-alih main dengan anak-anak, apalagi mama sedang ada di sini. Waktunya untuk bercengkrama, kan? Makin bingung saya, bagaimana memahami apa yang seharusnya dilakukan untuk tantangan Level 9 ini. Bahkan untuk mengikuti sesi diskusi bersama-sama (bukan pertanyaan yang insidental) pun kewalahan karena bersamaan waktunya dengan persiapan keberangkatan suami ke luar kota. Jelas saya memilih untuk menaruh ponsel dulu. Begitu baca keesokan harinya, waah, seru ya ternyata bahasannya. Banyak tantangan berpikir kreatif yang mengajak untuk melihat bukan hanya dengan sudut pandang yang selama ini dipakai.

Continue reading

Tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP (Think Creative) – Hari 2

Kemarin (04/11) kami bersama-sama nonton pertunjukan air mancur menari (Jakarta Fountain) di Monas. Kami benar-benar sampai di lokasi sekitar pukul 20, alias tepat setelah pertunjukan pertama selesai (dari kejauhan masih sempat lihat ujung-ujung show pertama). Jadilah kami harus menunggu 30 menit lagi untuk sesi kedua. Masih alhamdulillah sih kebagian, dan cuaca pun cerah.

Yang sempat saya rasakan menantang adalah bagaimana agar anak-anak tidak merasa bosan. Sayang kami lupa membawa cemilan, jadi butuh pengalih perhatian yang lain. Kalau nonton hp gitu kan gak seru, ya. Mau menggambar juga situasinya kurang memungkinkan. Banyak anak yang berlarian di sekitar undak-undakan tempat kami duduk, sepertinya memang jadi kesibukan yang seru buat anak-anak untuk menghabiskan waktu. Tapi remang-remang begitu, banyak orang dan anak-anak yang lari bikin risiko tertabrak tinggi, ditambah lagi banyak rumput di lokasi yang rawan terinjak (dan harusnya tidak boleh diinjak memang), saya, mama, dan pengasuh anak-anak memilih untuk membatasi aktivitas mereka. Berdiri, jalan-jalan sedikit tak apa.

Maka untuk menjaga mood anak-anak yang ketika masuk hitungan belasan menit terlihat mulai jenuh menanti, saya, atau tepatnya kami, sih,  mulai bercerita tentang apa saja. Paling banyak tentang aktivitas kami seharian sebelumnya, mulai dari festival dongeng yang kami hadiri sampai show tokoh boneka. Ya, hari yang amat sibuk, memang…. Alhamdulillah kreativitas dalam mencari bahan obrolan, termasuk akhirnya main tebak-tebakan juga, bisa menolong agar anak-anak betah.

 

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP (Think Creative) – Hari 1

Tantangan kali ini cukup bikin saya kewalahan. Bagaimana tidak, bukannya diberi penjabaran harus ngapain, malah diajak kreatif pula menemukan ‘sesuatu’ dalam kehidupan sehari-hari. Boro-boro ada contohnya :D. Apalagi di kantor juga lagi banyak kerjaan, jadi ketinggalan melulu sesi diskusinya. Ya sudah, lapor sependek pemahaman saya saja ya…

Salah satu hal yang menuntut kreativitas menurut saya adalah bagaimana mengatur waktu untuk membersamai anak betul-betul ketika saya berada di rumah, termasuk ketika kami beraktivitas di luar rumah juga sih…intinya ketika saya sedang tidak ngantor. Apalagi kerjaan yang sekarang kadang bikin saya harus siaga pegang gawai di mana pun berada. Beberapa hari ini saya bertekad betul mengurangi pemakaian gawai di rumah.

Jumat kemarin (03/11) misalnya. Paling tidak, begitu pulang, saya mandi, sholat (kalau belum) tanpa mengecek ponsel dulu, termasuk sewaktu makan malam. Ceritanya biar fokus. Saya manfaatkan juga benda apa saja yang ada di sekeliling untuk memulai pembicaraan dengan anak-anak. Ya, pada dasarnya saya susah ngobrol soalnya. Tapi saya haruskan diri saya terus berpikir. Wawancara narasumber bisa, masa’ sama anak sendiri keok. Sebenarnya sih anak-anak juga dipancing sedikit sudah semangat cerita dan mengajak bermain. Tanpa ditanya pun mereka biasanya sudah bersahut-sahutan kasih laporan kegiatan seharian atau kondisi mereka dengan semangat. Saya saja yang belum bisa fokus betul. Seringnya ketika semua urusan saya beres, termasuk video call kami semua, sudah mendekati waktu tidur. Nggak mau juga jam tidur mereka berantakan. Maka solusinya ya itu tadi, saya komit untuk membersamai mereka dengan sepenuh pikiran dan segenap perasaan.

Kemarin ada paket dari teman datang, sebuah juicer manual yang kontan jadi rebutan. Lagi-lagi malah saya yang belajar dari anak-anak soal kreativitas ini, karena cara mereka berbagi kadang out of the box. Dan memang berkaitan dengan box beneran sih, jadi kotak kemasan pun ternyata dianggap mainan yang bikin keadaan imbang, lho.

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

 

Rindu Tersampaikan lewat Lagu

Malam Minggu kemarin kami menghadiri pesta pernikahan sepupu jauh saya di bilangan Kalibata. Seperti umumnya resepsi di kalangan keluarga besar saya, para tamu dihibur dengan alunan gending Jawa, dengan sinden dan gamelan lumayan lengkap pula. Salah satu tembang yang mengalun adalah Yen ing Tawang Ana Lintang. Tembang yang dipopulerkan oleh Waldjinah ini sempat saya masukkan dalam daftar lagu-lagu yang bertema kerinduan. Dulu saya kira liriknya mencerminkan rasa kangen antara sepasang kekasih atau suami istri, tetapi belakangan saya membaca artikel yang penjelasannya berbeda.

Dari sini saya peroleh informasi bahwa sejatinya lagu tersebut digubah oleh pak Andjar Any saat menunggu kelahiran buah hatinya. Bintang, awan, dan bulan yang disebutkan dalam tembang adalah benda-benda langit yang menjadi saksi penantian beliau. Kegundahan yang tertuang adalah karena harap-harap cemas apakah istri maupun bayinya selamat dalam proses persalinan. Ternyata, bayi yang terlahir adalah bayi perempuan. Maka sapaan ‘Nimas‘ dan ‘Cah Ayu’-lah yang digunakan dalam tembang. Sehingga menjadi kurang tepat jika ada biduanita yang mengubah sapaan ‘Nimas‘ dan ‘Cah Ayu‘ dalam syair lagu tersebut dengan sapaan untuk lelaki seperti ‘Kangmas‘ atau ‘Cah Bagus‘.

Continue reading

Museum Sumpah Pemuda, Saksi Pergerakan Anak Bangsa

Postingan yang terlambat ini sebetulnya. Berhubung akhir pekan kemarin belum sempat bongkar-bongkar arsip foto, jadilah baru masuk blog sekarang (dan berakibat lagi-lagi ambil sehari libur ODOP :D). Kunjungan ke Museum Sumpah Pemuda ini pun sebetulnya kami lakukan tahun lalu. Saat itu sedang ada renovasi sehingga bisa jadi beberapa bagian museum tidak sama lagi. Namun karena dulu juga belum sempat ditulis di sini, nggak apa-apa ya dipublikasikan sekarang catatannya, mumpung masih dalam suasana peringatannya juga tiga hari yang lalu.

Museum Sumpah Pemuda ini terletak di Jl. Kramat no. 106, tidak begitu jauh dari halte Transjakarta Pal Putih (arah ke Kwitang/Senen). Awalnya, gedung yang didirikan pada permulaan abad ke-20 ini adalah rumah tinggal milik Sie Kong Liang. Sejak tahun 1908, Gedung Kramat disewa oleh pelajar Stovia (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen, Sekolah Pendidikan Dokter Hindia) dan RHS (Rechts Hooge School) sebagai tempat tinggal dan belajar. Mereka yang pernah tinggal dalam gedung yang dulu dikenal dengan nama Commensalen Huis itu adalah Muhammad Yamin, Amir Sjarifoedin, Soerjadi (Surabaya), Soerjadi (Jakarta), Assaat, Abu Hanifah, Abas, Hidajat, Ferdinand Lumban Tobing, Soenarko, Koentjoro Poerbopranoto, Mohammad Amir, Roesmali, Mohammad Tamzil, Soemanang, Samboedjo Arif, Mokoginta, Hassan, dan Katjasungkana (sumber: website museum).

Continue reading

Imunisasi Terjangkau dan Praktis, ke Sini Aja!

Sebagai salah satu bentuk ikhtiar demi kesehatan keluarga, saya mengikuti jadwal Kementerian Kesehatan RI dalam pemberian vaksin. Biasanya saya membawa anak-anak untuk mendapatkan vaksin yang ada dalam jadwal dari Kemenkes ini di puskesmas. Lumayan kan, bisa lebih menghemat biaya, sekaligus berpartisipasi dalam program pemerintah. Selain mematuhi jadwal yang tercantum dalam buku KIA versi Kemenkes, saya juga mengambil imunisasi lainnya untuk anak-anak, mengikuti rekomendasi IDAI. Nah, karena vaksin non-subsidi ini tidak tersedia di puskesmas, maka kami harus memperolehnya dari tempat lain.

Unduh Buku KIA Kemenkes versi 2016 di tautan ini

Hingga usia anak-anak dua bulan, mereka mendapatkan imunisasi di kota tempat mereka lahir alias kampung halaman saya di Sukoharjo, biasanya di RS. Sedangkan setelah kami kembali ke tempat bertugas di Jakarta, anak-anak memperoleh vaksin rekomendasi melalui sejumlah layanan jasa. Sejauh ini justru kami belum pernah ke rumah sakit untuk imunisasi, karena ada pilihan lain yang lebih praktis. Lebih minim risiko infeksi nosokomial (infeksi ‘oleh-oleh’ dari rumah sakit/pasien di sana) pula.

Baca juga: Jadwal Imunisasi IDAI Terbaru

Dulu kami biasa pergi ke Rumah Labeeba alias praktik pribadi dr. Ian (Farian Sakinah) untuk vaksinasi anak-anak (dan saya juga). Namun sayangnya belakangan stok vaksin di sana tidak selalu tersedia, apalagi yang non-subsidi. Kesibukan dokter keluarga kami itu pun semakin bertambah. Jadilah saya mulai mencari-cari alternatif tempat lain untuk imunisasi.

Berikut beberapa jasa imunisasi yang pernah saya gunakan untuk anak-anak:

Continue reading

[Ulasan Film] Duka Sedalam Cinta

Usai menonton film Ketika Mas Gagah Pergi pada awal tahun 2016, ada sepercik rasa kecewa di dada. Habisnya, kok ternyata filmnya bersambung, sih? Kapan lanjutannya tayang juga belum jelas betul. Kan penasaran dengan akhir cerita versi layar lebarnya, apakah akan setia dengan cerpen/novelet atau memberikan ruang untuk penutup yang berbeda. Dengan pengembangan sejumlah karakter orisinal dari cerpen/noveletnya maupun penambahan tokoh-tokoh baru, bisa saja alurnya jadi lain, kan?

Dalam acara Jumpa Penulis beberapa waktu yang lalu, mba Helvy Tiana Rosa selaku penulis Ketika Mas Gagah Pergi menjelaskan salah satu alasan kenapa film pertama dan kedua jadi harus berjarak sebegitu lama: terbentur soal pendanaan. Ya, mba Helvy nekad mengambil peran sebagai produser kedua film tersebut, konon dengan diiringi tangis sang adik, mba Asma Nadia, yang tahu betapa beratnya menembus dunia hiburan Indonesia dengan idealisme macam ini. Biaya pembuatan film ini sendiri dihimpun lewat crowd funding.

Baca juga: Pesan-pesan dari Helvy Tiana Rosa

Penantian cukup panjang itu akhirnya tuntas juga pekan kemarin. Film Duka Sedalam Cinta yang menampilkan sambungan kisah mas Gagah, Gita, Yudhi, serta keluarga dan kawan-kawan mereka naik tayang tanggal 19 Oktober 2017 di sejumlah jaringan sinepleks. Sayang, bioskop yang menyediakan layarnya untuk film ini di Jakarta tidak banyak-banyak amat. Ingin sebetulnya nonton bersama teman-teman seperti waktu itu menyaksikan film pertamanya, atau bergabung dengan sejumlah komunitas yang mengadakan sesi nonton bareng. Namun, belum ketemu waktu yang pas. Daripada nanti nggak jadi-jadi, juga sekaligus mengikuti ajakan mba Helvy untuk menonton di hari-hari awal pemutaran film, saya memantapkan diri memesan tiket sendirian di hari kedua filmnya ditayangkan. Kalaupun nanti ternyata ada teman yang mengajak nonton lagi dan jadwalnya klop, ya nonton lagi saja, pikir saya.

Continue reading