Blogger Muslimah, Antara Hamasah dan Iffah

Hari ini, 27 Oktober, diperingati sebagai Hari Blogger Nasional. Rangkaian tantangan One Day One Post Blogger Muslimah belum tuntas sebulan saya ikuti, tapi izinkan saya mengucapkan terima kasih untuk komunitas Blogger Muslimah khususnya pendiri dan admin yang sudah memberikan semangat dan motivasi. Sebelumnya, tak terbayangkan bagi saya untuk mengisi blog ini setiap hari. Bahkan di masa-masa rajin nge-blog di Multiply dahulu kala, seingat saya belum pernah terjadi saya bisa posting sampai lebih dari lima belas hari berturut-turut begini.

Ya, kadang yang dibutuhkan ‘hanya’ suntikan semangat, termasuk dari pihak luar. Niat saja belumlah memadai. Harus ada dorongan lebih untuk mewujudkan niat itu. Sebab kalau tidak, maka rintangan seperti keterbatasan waktu dan sarana akan selalu menjadi alasan. Tentu, sebagai hamba, pribadi, anak, istri, ibu, pegawai, pengusaha, pekerja paruh waktu, atau apa pun peran kita di dunia ini, ada hal-hal yang seringkali memang patut mendapat perhatian lebih atau dijadikan prioritas. Boro-boro sempat mencatat ide-ide untuk nanti dituangkan di blog. Di saat seperti itulah, tuduhan ‘cari-cari pembenaran’ yang disematkan atas blog yang mulai lumutan atau dihiasi sarang laba-laba jadi terasa tidak pas. Kenyataannya, kita semua punya kondisi masing-masing yang tidak bisa disamaratakan, kan? Jadi bukan bermaksud menjadikan anak, suami, atau pekerjaan sebagai tameng saat frekuensi menulis kita dipertanyakan, tetapi memang ada masanya kita perlu fokus ke urusan selain meng-update blog.

Continue reading

Batuk Pilek dan Influenza, Serupa tapi Tak Sama

Sudah beberapa pekan ini saya dan orang-orang di sekitar, baik di rumah maupun di kantor, bergantian kena batuk pilek. Komentar yang seringkali terlontar dari teman yang menyapa setelah melihat masker yang saya pakai atau mendengar suara saya jadi serak atau sengau adalah, “Flu, ya?” Gampangnya sih memang jawab saja “Iya”, hehehe. Namun, sebetulnya flu dan batuk pilek adalah penyakit yang berbeda, lho.

Saya rangkum dari WebMD, batuk pilek (cold) atau biasa diistilahkan dengan selesma adalah penyakit saluran pernapasan yang lebih ringan jika dibandingkan dengan influenza atau flu. Flu bisa berlangsung hingga berminggu-minggu, dan bisa berujung pada masalah kesehatan serius seperti pneumonia dan menyebabkan penderita harus dirawat inap.

Ada ratusan jenis virus yang bisa mengakibatkan batuk pilek (makanya belum ada vaksin untuk selesma, saking banyak macam virusnya). Batpil biasanya diawali dengan sakit tenggorokan yang hilang setelah sehari dua hari. Gejala yang mengikutinya adalah hidung berair/mengeluarkan ingus/meler, kemudian batuk pada hari keempat atau kelima. Pada orang dewasa, jarang disertai dengan demam sebagaimana yang terjadi pada anak-anak, tetapi bisa saja ada demam ringan.

Biasanya sih di awal-awal ingusnya bening dan encer, lama-lama menjadi lebih kental dan keruh warnanya. Ingus kental dan ‘berwarna’ ini belum tentu merupakan tanda infeksi bakteri, ya (ada yang berpendapat demikian soalnya). Batuk pilek ini biasanya paling menular pada tiga hari pertama, dan memakan waktu hingga lebih kurang seminggu hingga sembuh betul. Bahkan kalau berdasarkan grafik di bawah ini, hidung meler dan batuknya bisa bertahan sampai dua minggu, lho.

Continue reading

Kepada Siapa Kita Minta Pertolongan?

Materi dari grup Bimbingan Agama Islam (BiAS) hari ini lagi-lagi sayang kalau tidak diarsipkan di sini…

👤 Ustadz Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi’ | Bab Zuhud Dan Wara’
🔊 Hadits 05 | Perintah Meminta Pertolongan Hanya Kepada Allāh

Hadits 05 | Perintah Meminta Pertolongan Hanya Kepada Allah (Bagian 1)

 PERINTAH MEMINTA PERTOLONGAN HANYA KEPADA ALLAH (BAG. 1)
klik link audioبِسْـــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــــــــــم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول اللهKita masuk pada hadits yang ke-5 dari Bab Zuhud wal Wara’.وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله الهم قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم يَوْمًا، فَقَالَ: “يَا غُلاَمُ، اِحْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ.” رَوَاهُ التِرْمِذِيُّ، وَقَالَ: حَسَنٌ صَحِيْحٌ.

Dari Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā mengatakan:

Pada suatu hari aku pernah dibonceng Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan beliau bersabda:

“Wahai remaja (pemuda), jagalah Allāh, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allāh, niscaya kamu akan mendapati-Nya selalu hadir di hadapanmu.

Jika kamu meminta sesuatu, mintalah kepada Allāh. Dan jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allāh.”

(HR Tirmidzi, dan ia berkata: “Hadits ini derajatnya adalah hasan shahih.”)

⇒Ibnu ‘Abbās merupakan sepupu Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan shahābat kecil saat itu.

Hadits ini menjelaskan bagaimana perhatian Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam memberi nasihat, bahkan kepada anak-anak.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menanamkan tauhid bukan hanya kepada para shahābat yang senior (besar) tetapi juga kepada para shahābat yang junior (kecil).

Dan anak-anak, kalau ditanamkan tauhid padanya sejak kecil maka akan terpatri dalam dada-dada mereka.

Yang dimaksud dengan “menjaga Allāh” adalah sebagaimana dijelaskan oleh Al Imām Nawawi rahimahullāh, yaitu:

◆ احفظ اوامره وامتثلها وانتبه عن نواهيه يحفظك في تطلباتك وفي دنياك واخرتك

◆ Jagalah perintah-perintah Allāh dan kerjakanlah, dan berhentilah engkau dari perkara yang diharamkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Niscaya Allāh akan menjaga engkau dalam gerakanmu (perpindahanmu) dalam duniamu maupun akhiratmu.

⇒Jadi yang dimaksud dengan menjaga Allāh adalah menjaga syari’at Allāh; perintah Allāh dikerjakan dan larangan Allāh dijauhi.

Apa balasannya?

الجزاء من جنس العمل

Barang siapa yang menjaga perintah Allāh, maka Allāh akan menjaganya.

Allāh akan menjaga dia dalam dua perkara, yaitu:

■ Penjagaan Pertama | Allāh akan menjaga dia dalam urusan dunianya (kesehatan, istri, anak-anak, harta)

Orang yang menjaga perintah Allāh maka Allāh akan:

⑴ Menjaga keluarganya.
⑵ Mengirimkan malaikat untuk menjaganya.

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ

“Baginya (bagi seorang manusia) ada malaikat-malaikat yang berada di depannya dan di belakangnya. Mereka menjaga menusia ini karena perintah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”
(QS Ar Ra’d: 11)

Oleh karenanya, di zaman yang penuh dengan fitnah (godaan) ini, sulit untuk bisa menjaga keluarga dan anak-anak kita kecuali kalau kita bertaqwa kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kalau diri kita bertaqwa (menjalankan perintah Allāh dan menjauhi larangan-Nya) maka Allāh akan menjaga anak-anak kita.

Siapa yang bisa menjaga anak-anak kita sementara anak-anak dilepaskan di sekolah?

⇒Bertemu dengan orang-orang nakal.
⇒Melihat hal-hal yang diharamkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
⇒Bergaul dengan teman-teman yang tidak benar.
⇒Mendengarkan ucapan-ucapan yang kotor.
⇒Diajari oleh temannya untuk membohongi kedua orang tua.

Sulit bagi kita untuk menjaganya.

Kalau anak-anak di (dalam) rumah mungkin bisa kita jaga, itu pun tidak mudah.

Apalagi kalau kita punya kesibukan di luar rumah dan anak-anak di luar rumah, maka siapa yang bisa menjaganya?

Tidak ada yang bisa menjaganya kecuali Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Oleh karenanya, kita dapati banyak sekali orang-orang shalih (misal di Arab Saudi) yang Allāh berikan umur panjang, diberkahi umur dan ilmu mereka, dijauhkan dari pikun. Subhānallāh, sebagaimana para masyāyikh (para ulama) yang kita lihat.

■ Penjagaan Kedua | Allāh akan menjaga dalam urusan akhiratnya.

⇒Artinya, Allāh akan menjaga dia sehingga tidak terkena syubhat-syubhat (kerancuan pemikiran).

Ada syubhat yang bisa membuat seseorang menjadi kafir, munafiq atau ada yang membuat ragu terhadap agama.

Kita tahu, di zaman sekarang ini syubhat begitu banyak beredar di internet (dunia maya).

Maka kalau dia bertaqwa kepada Allāh, maka Allāh akan:

✓Melindungi (menjauhkan) dirinya dari syubhat-syubhat tersebut.
✓Menjaganya (menjauhkan) dari syahwat yang bisa menjerumuskan dia dalam perbuatan dosa besar.

Kemudian, kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:
“Jagalah Allāh, niscaya engkau akan mendapati Allāh di hadapanmu.”

Artinya apa?
Allāh akan senantiasa bersamamu.

◆ Barang siapa yang bertaqwa kepada Allāh di manapun dia berada dan kapan pun, maka senantiasa Allāh bersama dia, menolong dia setiap ada kesulitan.

Olah karenanya, tatkala Allāh mengutus Nabi Mūsā dan Hārūn untuk berdakwah kepada Fir’aun, mereka berdua takut, maka Allāh berkata:

لَا تَخَافَا ۖ إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَىٰ

“Janganlah kalian berdua takut, sesungguhnya Aku bersama kalian dan Aku melihat apa yang kalian lakukan.”
(QS Thāhā: 46)

Barang siapa yang bertaqwa kepada Allāh, maka yakinlah kalau dia butuh Allāh, maka Allāh selalu berada di sampingnya untuk memudahkan urusannya.

والله تعالى أعلم بالصواب

Continue reading

Berpetualang ke Bintang-bintang lewat Planetarium

Saat menuju tempat penyelenggaraan acara Jumpa Penulis yaitu di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Cikini, tanggal 15 Oktober lalu, saya iseng melewati bagian dalam Planetarium yang terletak di kompleks yang sama. Toh kalau menurut jadwal yang saya peroleh, Jumpa Penulis mestinya sudah masuk sesi istirahat.

Baca juga: Catatan dari Jumpa Penulis di TIM

Begitu memasuki bagian depan bangunan Planetarium, ramainya pengunjung yang memadati antrean pembelian tiket Teater Bintang kontan menarik perhatian saya. Wah, apa mungkin sudah dibuka kembali untuk umum, ya? Informasi yang saya dapat dari petugas Planetarium saat Peneropongan Bulan dan Planet di bulan Agustus, pertunjukan Teater Bintang sedang dalam proses pertimbangan untuk dibuka kembali. Pertunjukan ini memang tidak diadakan lagi sejak bulan April 2017 karena adanya kerusakan proyektor utama M-VIII. Kemudian di bulan September, saya lihat ada pengumuman di media sosial resmi Planetarium bahwa pertunjukan Teater Bintang dibuka kembali, tetapi sifatnya masih uji coba dan hanya diperuntukkan bagi rombongan yang harus mendaftarkan diri terlebih dahulu.

Begitu menengok situs resmi Planetarium, wah, ternyata memang sejak tanggal 13 Oktober Teater Bintang sudah memasuki tahap uji coba yang lebih luas, yaitu untuk rombongan maupun perseorangan.  Namanya juga masih masa uji coba, jadwal pertunjukan masih terbatas. Pengunjung rombongan harus melakukan reservasi dulu sesuai dengan ketentuan (bisa dibaca di sini) dan nantinya bisa menonton pertunjukan pada hari Selasa-Jumat (kecuali libur nasional dan cuti bersama) pada pukul 09.30 atau 13.30. Jumlah pengunjung rombongan minimal 100 siswa/mahasiswa. Jika kurang, maka tetap diterima dengan perhitungan biaya untuk 100 siswa/mahasiswa. Sedangkan kalau lebih, kelebihannya dihitung sesuai harga tiket masuk yang berlaku untuk rombongan.

Continue reading

Atasi Remaja Galau Sejak Awal, Praktikkan Tips Berikut Ini

Meskipun tema yang tercantum dalam undangan terbuka seminar Islamic Parenting Hijabersmom Community kali ini, “Life Skills, Saatnya Melepas Anak untuk Terampil dalam Hidup”, lebih ditujukan untuk orangtua yang memiliki anak remaja, tetapi saya rasa tak ada salahnya belajar sedari awal. Apalagi setelah saya mulai menyimak materi, meski kebanyakan contoh yang disebutkan ditujukan untuk anak yang lebih besar, beberapa keterampilan memang sudah bisa mulai diajarkan atau dikenalkan kok kepada anak sejak usia dini.

Citra Layla Joesoef, konselor, psikoterapis dan trainer dari Rumah Parenting Bintaro mengawali sesinya dengan bertanya pada para peserta yang hadir di aula Rabbani Rawamangun hari itu (14/10): Apakah dalam satu minggu terakhir ini remaja Anda kehilangan barang pribadinya, tertinggal tugas sekolahnya, terlewati membereskan kamarnya, atau merasa galau karena dijauhi teman mainnya?

Suatu saat, akan tiba masanya remaja meninggalkan rumah dan menghadapi kehidupan. Maka orangtua harus membentuk kebiasaan baik, tolonglah anak-anak kita dengan mengajari keterampilan hidup (life skills) agar mereka menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh.

Menurut WHO, life skills adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dan berperilaku positif yang mampu membuat seseorang menyelesaikan tuntutan-tuntutan dan perubahan-perubahan di kehidupan sehari-hari secara efektif. Sedangkan menurut UNICEF, life skills terkait dengan proses pengajaran yang menggunakan pendekatan pada perkembangan perilaku, dirancang sebagai kombinasi knowledge, attitude, dan skill.

Continue reading

Sindrom Patah Hati, Apa Itu?

Menjelang penayangan perdananya pada pertengahan Desember nanti, awal bulan ini telah dirilis poster dan trailer terbaru film Star Wars: The Last Jedi. Dalam kedua media promosi film Star Wars kedelapan tersebut, tampak sosok Putri/Jenderal Leia Organa Solo (Leia Amidala Skywalker) yang diperankan oleh Carrie Fisher. Penasaran juga bagaimana nanti tim pembuat film mengarahkan jalan cerita sepeninggal Carrie Fisher, mengingat tokoh yang dimainkannya memiliki posisi penting dalam kisah Star Wars sejak trilogi pertamanya mulai dirilis tahun 1977. Ya, Carrie Fisher telah meninggal dunia pada Desember 2016. Penyebab kematiannya sesuai keterangan resmi adalah sleep apnea (gangguan pernapasan saat tidur) dan ‘faktor lainnya’.

Yang mengejutkan, sehari setelah meninggalnya Carrie Fisher, sang ibu yang berusia 84 tahun ‘menyusul’, diduga karena serangan stroke. Ibunda Carrie Fisher adalah aktris senior Debbie Reynolds yang terkenal lewat film Singin’ in The Rain (1952). Sebelum putrinya berpulang, Debbie secara umum berada dalam kondisi kesehatan yang cukup baik. Putra Debbie Reynolds sempat menyebut bahwa pemicu meninggalnya ibu mereka tercinta adalah kondisi tekanan dan kesedihan pasca-kepergian Carrie.

Pertanyaannya, apa iya kesedihan bisa segitunya menjadi penyebab meninggalnya seseorang? Bukan patah hati lalu bunuh diri, ya…itu sih lagu Koes Plus (yang sebetulnya mencerminkan sejumlah realita juga). Tahun 2006, para peneliti di Johns Hopkins University School of Medicine menyimpulkan bahwa memang sebutan ‘broken heart‘ untuk kesedihan mendalam akibat luka cinta ada benarnya. Penelitian yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine menyatakan bahwa trauma dan guncangan emosional bisa menyebabkan kondisi jantung yang fatal, yang diistilahkan dengan broken heart syndrome alias sindrom patah hati (kesamaan katanya —heart-jantung-hati– jadi agak selip ketika diterjemahkan, tapi intinya seperti itu).

Continue reading

Budaya Gendongan, Penuh dengan Filosofi

“Menarik bahwa pembicara pada seminar kali ini semuanya lelaki, padahal obrolan soal gendongan identik dengan ibu-ibu.” Lebih kurang demikianlah komentar yang saya dengar saat mengikuti Seminar Gendongan Asia di Museum Nasional kemarin. Saya sendiri duduk berkumpul dengan beberapa teman dari komunitas gendongan seperti Jakarta Babywearers dan Jabodetabek Menggendong. Meski tidak semuanya saling mengenal, sebagian juga belum pernah berinteraksi karena beda komunitas, tapi kami semua dipersatukan oleh minat yang sama pada soal gendong-menggendong bayi. Memang menarik jadinya kalau soal gendongan ini dieskplor dari sisi sejarah dan antropologi, mengingat selama ini obrolan grup maupun edukasi saat kami berkumpul bersama (kopdar) lebih berfokus pada teknik, keamanan dan kenyamanan, juga jenis-jenis gendongan. Maka publikasi pameran gendongan Asia yang diteruskan oleh salah satu anggota grup whatsapp disambut dengan rasa penasaran yang besar. Apalagi ada pula kegiatan seminar yang menyertainya.

Antropolog Dr. Tony Rudyansjah, M.M. yang menjadi pembicara pertama dalam kegiatan dengan tagline Fertil, Barakat, Ayom (Fertility, Blessings, and Protection) ini menyampaikan bahwa bahasan tentang gendongan agak terabaikan dalam antropologi, padahal menurutnya penting sekali.

“Gendongan bayi itu suatu hal yang sangat universal, ada di semua kebudayaan di dunia. Sama universalnya dengan upaya melindungi anak dari sinar matahari, serangga, binatang buas, jatuh, bahkan manusia lain,” sebut beliau. Gendongan juga membantu agar orang bisa bekerja, tangannya bebas beraktivitas tanpa direpotkan oleh anak.

Continue reading

Yakin, Sudah Menguasai Bahasa Kita Sendiri? 

Tadi saya menemani Fathia yang mengikuti lomba menggambar di Badan Bahasa Kemendikbud, Rawamangun. Rupanya di sana sedang diselenggarakan berbagai acara dalam menyambut Bulan Bahasa dan Sastra yang jatuh pada bulan Oktober ini. Mengapa bulan Oktober? Karena pada bulan inilah peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda digaungkan.

Berhubung Fahira tidak terlalu betah menemani kakaknya di satu tempat, saya ajak ia jalan-jalan mengelilingi salah satu bangunan Badan Bahasa. Di gedung tersebut sedang diselenggarakan pameran dan bazar buku sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Bulan Bahasa dan Sastra.

Panitia pameran menyediakan panel berseri yang menampilkan sejarah perkembangan bahasa Indonesia. Menelusuri panel demi panel, pengunjung bisa memahami perjalanan bahasa kita dari masa ke masa.

Continue reading

Sadanis, Deteksi ‘Sederhana’ Kanker Payudara oleh Nakes

Seperti pernah saya sebutkan dalam postingan sebelumnya, bulan Oktober ditetapkan oleh WHO sebagai Breast Cancer Awareness Month. Sejumlah institusi mengadakan kegiatan berkaitan dengan kepedulian terhadap kanker payudara ini. Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) pun tak ketinggalan menggelar deteksi dini gratis terhadap kanker payudara maupun kanker leher rahim dengan metode yang cenderung lebih sederhana dan cepat diketahui hasilnya. Seperti biasa, selagi memungkinkan, saya tak menyia-nyiakan kesempatan.

Dari beberapa poster berhias balon pink cantik (dibentuk menyerupai pink ribbon yang menjadi lambang kepedulian terhadap kanker payudara) yang terpasang di RSCM Kencana, saya mengetahui bahwa setiap tahun ditemukan tujuh juta penderita kanker payudara di dunia, dan lima juta meninggal tiap tahun. Di Indonesia, kanker payudara merupakan peringkat pertama, diikuti kanker leher rahim. Seringkali kanker tersebut ditemukan telah berada pada stadium lanjut, sehingga sudah agak terlambat pula untuk ditangani. Beberapa waktu yang lalu saya menuliskan cerita dari para survivor atau penyintas kanker payudara. Kedua narasumber dalam acara yang saya ikuti tersebut sepakat bahwa deteksi dini amatlah penting, agar jika terdapat masalah bisa ditangani sesegera mungkin.

Baca juga: Peduli Kanker Payudara Lewat Deteksi Dini

Continue reading

Jangan Remehkan Keluhan Lupa

“Masih muda, kok sudah pelupa?”

Kadang-kadang, celetukan seperti di atas mudah saja terlontar dalam keseharian kita. Entah kita yang mengomentari teman, atau justru kita yang beroleh pertanyaan bernada ledekan tersebut. Meski tampak sepele, kalau yang dilupakan adalah hal-hal yang cukup penting dan terjadi berulang-ulang, kan bisa merepotkan juga. Apalagi jika ternyata upaya-upaya yang dilakukan sendiri untuk memperkuat daya ingat tidak mendapatkan hasil. Kalau sudah begitu, bukan celaan (meskipun sekadar bercanda) yang dibutuhkan, melainkan bantuan dari ahlinya.

Rabu lalu saya mengikuti seminar awam yang diselenggarakan oleh Departemen Neurologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat. Dalam seminar yang bertempat di  RSCM Kencana ini, pembicaranya adalah para dokter konsultan yang merupakan neurolog atau ahli syaraf. Salah satunya Diatri Nari Lastri, Sp.S (K), yang membawakan materi dengan judul yang saya pakai sebagai judul postingan ini. Ya, keluhan lupa memang tidak bisa diremehkan begitu saja.

Lupa apa yang hendak dilakukan, apa yang baru dilakukan, di mana meletakkan barang, juga kesulitan mengingat nama orang atau benda merupakan sejumlah keluhan yang kerapkali terdengar. Bahkan, seseorang yang tingkat lupanya sudah cukup parah bisa mengalami disorientasi waktu maupun tempat. Biasanya, yang mengalami penurunan ingatan adalah mereka yang berusia lanjut. Namun memang pada masa sekarang keluhan ini cenderung bergeser ke kelompok umur yang lebih muda.

Continue reading