Buku Eid, Teman Menyambut Lebaran

Lebaran sebentar lagi….

Bulan Suci Ramadhan tak lama lagi berakhir, artinya Idul Fitri akan segera tiba. Fathia (5,5 tahun) sudah mulai mengenali aktivitas khas hari raya seperti shalat berjamaah dan saling mengunjungi. Kegiatan mudik juga ia tunggu-tunggu. Adiknya, Fahira (2,5 tahun) sih ikut saja, kalau kakaknya sedang semangat cerita rencana mau main apa di rumah eyang, ia akan ikut nimbrung dengan antusias. Menjelang tibanya hari lebaran, saya rasa baik juga mengenalkan tradisi Idul Fitri yang sedikit berbeda. Supaya anak-anak tahu, ada beragam bentuk perayaan di berbagai belahan bumi yang intinya tetap bergembira dalam rasa syukur di hari kemenangan.

Continue reading

Generation Gap di Kantor, Generasi Y Yang Terjepit

Tantangan dari sebuah komunitas di Instagram (padahal cuma tahu selintasan sih, boro-boro terlibat secara aktif di situ) beberapa bulan yang lalu membuat saya bersemangat untuk menuliskan suatu cerita singkat. Kebetulan, momennya pas sekali dengan syarat yang diminta, tulisan yang terinspirasi oleh lagu. Saat itu saya sedang suka dengan sebuah lagu dan setelah mencari tahu tentang penjelasan lebih lanjut mengenai lagu itu jadi tertarik menggali lebih dalam, lalu menuliskannya. Hasilnya sih nggak dalam-dalam amat, tapi lumayanlah dapat hadiah buku sebagai salah satu tulisan terbaik bulan itu.

Sebagai bahan untuk tulisan tadi, yang hasilnya bisa dibaca di sini, https://semestaliterasicom.wordpress.com/2017/04/04/bersenang-senang-di-paris-dengan-generasi-z/, saya jadi membaca ulang mengenai pembagian generasi yang diberi nama dengan huruf-huruf dari rangkaian alfabet. Di masa ABG saya, saya cukup akrab dengan istilah generasi X, yang bahkan sempat dijadikan judul serial remaja waktu itu. Generasi X, yang biasanya dideskripsikan sebagai generasi kelahiran tahun 1970-an awal sampai 1980, juga kerap dijuluki generasi MTV. MTV atau saluran televisi Music Television seolah jadi panduan gaya hidup di masa itu. Saya sendiri masuk ke generasi setelah generasi Y, karena lahir pada pertengahan dekade ’80-an. Generasi Y sering juga disebut sebagai generasi milenial (millennialls), karena umumnya menyaksikan pergantian milenium di masa ABG atau remaja. Setelahnya menyusul generasi Z, dan konon akan berlanjut lagi ke generasi Alpha.

Continue reading

Tantangan Level 5 (Menstimulasi Anak Suka Membaca) Hari 12

Hari keduabelas, 18 Juni 2017

Cukup banyak yang dibaca kemarin. Fathia (5 tahun 7 bulan) dan Fahira (2 tahun 6 bulan), dibuat daftarnya saja ya supaya jelas.

1.Eid (Maria MiGo, penerbit Muslim Children’s Books UK). Buku ini berbahasa Inggris, narasinya singkat, ilustrasinya menurut saya agak kurang ceria, mungkin karena terbiasa dengan ilustrasi ala sini yang penuh warna-warni ya, apalagi ketika menggambarkan peristiwa hari raya. Tapi bagus sih, membingkai hal-hal yang biasa terjadi menjelang dan pada hari-H Idul Fitri.

2. The Rainbow Fish (Marcus Pfister, penerbit North-South Books). Isinya dongeng yang pernah kami simak bersama dibawakan oleh storyteller India di Festival Dongeng tahun kemarin, tentang menyenangkannya berbagi.

3. Dear Zoo (Rod Campbell, penerbit MacMillan), buku lift-the-flap dengan cerita pendek tentang hewan-hewan yang ingin dimiliki oleh seorang anak dengan cara memintanya ke kebun binatang. Sepertinya bisa untuk pengenalan nama beberapa hewan ya, sekaligus merangkum khayalan umum anak-anak yang biasanya punya keinginan agak ajaib seperti mau pelihara gajah di rumah (ya, Fathia pun tahun lalu bilang kepengin begini :D).

4. Hands Are Not for Hitting (Martine Agassi, penerbit Free Spirit Publishing). Buku ini kelihatannya simpel, menjelaskan “tangan sebetulnya buat apa saja, sih?” di tiap halamannya disertai ilustrasi yang detil sederhananya menarik. Di bagian belakang ada tips untuk orangtua agar dapat menangani emosi anak-anak (yang kadang disalurkan lewat memukul misalnya) dengan tepat.

5. Kue Coklat Alfil (mba Orin, penerbit GIP), buku lama dari zaman Fathia batita yang masih seru dibaca lagi. Ada hikmah serunya berbagi dengan teman-teman.

6. Landak, si Imut yang Berduri Tajam (Arfan Alfayyad, penerbit Gurita-Zikrul), memperkenalkan tentang hewan landak dengan ilustrasi yang lucu meskipun kayaknya akan lebih seru kalau jalan ceritanya linier ya.

7. Aku Tidak Suka Sombong (Ratna Puji Lestari, penerbit DAR!), anak diajak agar tidak meniru kesombongan si tokoh utama, yang berbuah kerugian pada dirinya sendiri.

8. Kata Siapa Tidak Boleh Marah? (Zhizhi Siregar & arrahmanrendi, penerbit Bestari-Zikrul), teksnya cukup banyak dan kalimatnya agak rumit, mungkin lebih sesuai untuk anak yang lebih besar, atau bisa juga sih untuk anak TK asal orangtua menjelaskan dengan bahasa yang lebih sederhana. Konsepnya bagus, mengingatkan bahwa marah itu wajar tapi harus dikelola dengan baik, tapi ya itu tadi, padat sekali yang mau disampaikan.

9. Atur Waktumu dengan Baik (Athirah Mustajab, ilustrasi Hanani Dissy Ladiba, penerbit Pinisi Samudra Ilmu), saya suka karena sebetulnya isinya pengingat untuk segala usia. Bahwa kita dianugerahi waktu oleh Allah dan seharusnya diisi dengan sebaik-baiknya dengan kegiatan bermanfaat dari waktu ke waktu.

10. Seri Aku Berhati-hati: Tamu Tak Dikenal (Lia Herliana, penerbit Tiga Ananda), bagus untuk mengingatkan lagi perlunya waspada pada orang tak dikenal, apalagi yang mengetuk pintu. Deskripsinya cukup jelas tanpa berlebihan, disertai gambar yang besar-besar, jadi mudah untuk menceritakannya kembali ke anak.

Screen Time, Sentilan Telak untuk Orangtua

Minggu lalu saya menyimak acara bincang-bincang parenting yang disiarkan live di instagram. Salah satu pembicaranya adalah mama Tascha Liudmila yang selama ini dikenal sebagai pembaca berita di televisi. Tema besar acara pada hari itu adalah perlunya pembatasan penggunaan gadget untuk anak-anak, terutama dari segi waktu. Selain sharing tentang pengalamannya, mama Tascha juga beberapa kali menyebutkan buku Screen Time yang ia tulis sendiri. Penasaran, saya pun memesan buku terbitan tahun 2015 ini.

Pada pemirsa acara tersebut, mama Tascha sudah menyampaikan peringatan: jangan bacakan buku Screen Time ini ke anak jika belum siap dengan konsekuensinya, yaitu diprotes oleh anak-anak ketika kita sibuk sendiri dengan gadget. Ya, buku Screen Time ini adalah buku cerita anak-anak yang dilengkapi dengan ilustrasi menarik karya Inez Tiara. Melalui buku ini, mama Tascha ingin mengajak sesama orangtua untuk memahami risiko pemakaian gadget yang berlebihan, dan bertindak untuk mengurangi dampaknya.

Continue reading

Tantangan Level 5 (Menstimulasi Anak Suka Membaca) Hari 11

Hari 11, 17 Juni 2017

Fathia (5 tahun 7 bulan) dan Fahira (2 tahun 6 bulan) minta dibacakan paket buku The When I’m Feeling Collections (Trace Moroney) yang baru tiba. Isinya ada delapan buku, masing-masing berjudul When I’m Feeling Sad, Lonely, Happy, Angry, Kind, Scared, Jealous, dan Loved. Meski berbahasa Inggris tapi penggambaran dalam bukunya universal dengan ilustrasi yang menarik, mencakup perumpamaan perasaan yang dialami, situasi apa saja yang biasa memicunya, bagaimana mengatasinya, dan apa yang sebaiknya dilakukan mumpung perasaan sedang positif atau sebaliknya agar perasaan negatif tak sampai merugikan.

Fahira kemudian masih minta dibacakan beberapa buku lagi, di antaranya Seri Aku Berhati-hati: Di Dapur Mama (Lia Herliana, penerbit Tiga Ananda) serta Seri Hewan Halal dalam Al-Qur’an dan Hadis: Unta si Kapal Padang Pasir dan Domba si Pabrik Wol (Zikrul Kids). Ia juga masih sempat membuka-buka fold-up book Our Favourite Colours (Richard Scarry, Five Miles Press) yang ia raih sendiri dari tumpukan buku. Fathia lebih asyik dengan board game el Hana yang juga baru dibeli, menjelang tidur ia baru minta dibacakan buku The Twins Two by Two, tapi terseling Fahira yang rewel minta dikelonin. Berhubung suami lagi i’tikaf, nggak ada tandem deh sementara…dan akhirnya Fathia keburu hilang minat, malah lalu semangat bercerita.

Continue reading

Tantangan Level 5 (Menstimulasi Anak Suka Membaca) Hari 10

Hari kesepuluh, 16 Juni 2017

Kata orang, kalau balita nggak kedengaran suaranya, malah mencurigakan tuh. Jangan-jangan lagi berbuat suatu keisengan, hehehe. Tapi semalam ketika saya mengecek, ternyata Fahira (2 tahun 6 bulan) sedang membuka-buka dan memainkan sendiri fitur tarik/putar/geser dalam buku HOP! (Rabbit Hole). Kalau digerakkan, beberapa bagian dari ilustrasi akan bergerak ke adegan berikutnya atau berganti tokoh cerita dari perempuan menjadi laki-laki/sebaliknya.

Menjelang tidur, Fathia (5 tahun 7 bulan) saya ajak membaca ulang salah satu buku dari seri Widya Wiyata Pertama yang berjudul Ulah Binatang. Bagian favorit kami semua di buku ini adalah foto seekor ulat jeruk yang penampilannya bikin gemas sekaligus geli. Cuma dapat kira-kira setengah dari keseluruhan buku sih, soalnya tebal juga ya.

Lailatur Qadar untuk Para Wanita

Setelah 20 hari berlalu, biasanya yang diburu di bulan Ramadhan adalah Lailatul Qodar. Bagaimana dengan para wanita, yang dalam beberapa hal jelas berbeda dengan para pria? Ustadzah Kingkin Anida Jumat lalu memberi tausiyah terkait hal ini di pengajian Dharma Wanita di kantor.

Tak terasa sebentar lagi Ramadhan akan berakhir. Ibarat akan ditinggalkan oleh kekasih, kita akan merasa belum lama bersama, sedih dan belum mau berpisah. Maksimalkan ibadah pada 10 hari terakhir, bukan hanya malam ganjil dan Lailatul Qadar. Salah satu caranya adalah dengan i’tikaf atau berdiam diri dengan memperbanyak ibadah yang bisa dilakukan. Lelaki tentu baiknya di masjid, ada pendapat bahkan minimal harus sehari. Wanita juga bisa di masjid jika memungkinkan, tapi tidak ada minimalnya. Jangan sia-siakan kesempatan ini, persiapkan fisik siang hari untuk malam harinya. Misalkan makanan terbaik, istirahat cukup (sesuai jalan berpikir masing-masing, tidak harus sesuai standar yang dibilang ahli kesehatan). Tambah motivasi pada anggota keluarga: memberi teladan, siapkan reward untuk keluarga yang berangkat i’tikaf (memang baiknya ke masjid karena kalau di rumah hawanya beda, dan banyak yang memperjuangkan hal serupa).


Semakin menjelang akhir Ramadhan, niatkan lebih baik, misal 10 hari khatam lebih banyak, kalau sudah niat akan ada rencana yang lebih tertata, bisa bergantian dengan teman-teman sekelompok. Bisa diseling antata tilawah dengan sedekah, sholat, wirid. Termasuk untuk ibu-ibu yang sudah setengah baya, biarpun usia menjelang senja tapi juga harus punya cita-cita, doakan juga keluarga dekat, keluarga jauh, bangsa dan negara, umat sedunia, bukan hanya diri sendiri. Ikhlaskan maaf pada mereka yang pernah bersalah atau menyakiti kita.

Wanita yang sedang haid tidak boleh i’tikaf bahkan di rumah pun (jika tidak haid, wanita boleh i’tikaf di tempatnya biasa sholat, berdiam di atas sajadah), jadi yang bisa dilakukan antara lain:
1. Bersegera pada ampunan Allah, istighfar sebanyak-banyaknya.
2. Bersedekah, termasuk memberi makanan berbuka puasa dan untuk yang beri’tikaf.
3. Menahan amarah dan memaafkan, misalnya ketika akhirnya jadi harus mengerjakan lebih banyak pekerjaan rumah ketika yang lain bisa i’tikaf, kadang kan tergoda untuk menggerutu.

Ahlul Qur’an akan disertai oleh para malaikat Allah, yang haid bisa berdoa agar Al-Qur’an dikumpulkan di dada.

Ciri-ciri Lailatul Qadar: alam rasanya tenang, matahari cerah bersinar tetapi tidak menyengat. Para penghuni langit turun.

Ketentuan i’tikaf bagi wanita: wudhu, niat (tidak harus dilafalkan nawaitu…), sholat tahiyat masjid, pakaian nyaman syar’i tidak terawang, tidak bau tapi juga tidak berparfum. Kalau mau bawa perlengkapan siapkan juga, misal bantal kecil, agar nyaman dan tidak merepotkan penjaga masjid.

Semoga kita semua bisa berupaya menggapai malam yang lebih baik dari seribu bulan dan berhasil memperolehnya….

Tantangan Level 5 (Menstimulasi Anak Suka Membaca) Hari 9

Hari kesembilan, 15 Juni 2017

Kali ini Fathia (5 tahun 7 bulan) dan Fahira (2 tahun 6 bulan) bergantian melihat-lihat dan dibacakan buku yang sama yaitu Jangan Jorok, Dong! (Stella Ernes, penerbit BIP) dan buku pop up Laut Rumahku (penerbit Impian Studio).

Buku Jangan Jorok, Dong cukup tebal dan terdiri atas beberapa cerita pendek, meliputi ajakan agar anak lebih mencintai kebersihan, tidak egois, tidak sombong, tidak gampang iri hati pada teman, dan tidak berbohong. Dalam setiap cerita disampaikan konsekuensi yang didapatkan oleh tiap tokoh dan bagaimana ia menikmati perbaikan diri setelah sadar.

Continue reading

Resume Kulwapp Talent Mapping dan Inner Child

RESUME KULWAPP TALENTS MAPPING BERSAMA ANGGIA CHRISANTI BATCH II

Grup 1

💝💝💝💝💝
📆 Kamis, 15 Juni 2017
⌚10.00 – 12.00 WIB
👱‍♀Moderator : Mey Anza

Profil Narasumber :

✔Anggia Chrisanti, Ibu dari 1 anak perempuan (Sayyidah Athazya) 11 tahun Homeschooling
✔ Psikolog Anak Kemensos RI
✔ Professional Counsellor
✔ Psychotherapist
✔ Talents Mapping Practicioner
✔ Founder #IndonesiaBermain: Learning & Development Center for Children with Home Education System
✔ Writer “Pedoman Tumbuh Kembang Anak 0-72 bulan”

Materi :

Salaam

Ibu Hebat Sang Manajer Keluarga Handal

Setiap kita perempuan yang telah berstatus ibu, seharusnya sudah disertai kesiapan akan dua peran fungsi yaitu sebagai istri dan sebagai ibu.

Peran fungsi yang amanahnya dipertanggungjawabkan pada hari akhir nanti. Sebagai istri jelas peran dan fungsi kita antara lain adalah menjadi penghibur dan penyemangat (pendukung) dalam setiap langkah suami. Juga mendampingi dalam susah dan senangnya. Sebagai ibu yang memegang amanah sebagai guru pertama bagi setiap anak, peran dan fungsi kita adalah membersamai mereka sejak masa konsepsi sampai akhir hayat sesuai kebutuhan tumbuh kembang mereka. Peran fungsi yang (mungkin) bagi sebagian perempuan terasa ringan atau biasa saja dalam menjalaninya, namun sayangnya (lebih banyak) yang merasa ini menjadi tanggung jawab dan beban yang teramat berat.

Bukan Tidak Ingin, Bukan Tidak Ikhlas.

Pemahaman akan kedua peran fungsi ini seringnya overlapping dengan perasaan-perasaan negatif yang sering muncul, yang menyebabkan jadi kelepasan/lepas kendali (out of control) menjadi perasaan-perasaan negatif lainnya ditambah munculnya keluhan fisik dan perilaku yang menyertainya.

Akhir-akhir ini “booming” istilah Inner Child, sekilas memang nyata bahwa Inner Child ini sebegitu “berbahayanya” terhadap kehidupan kita saat ini bahkan di masa yang akan datang. Inner Child adalah salah satu faktor utama kita sulit mengenali diri kita sesungguhnya. Jangankan bicara tentang minat, bakat, potensi dan lain sebagainya, kenyataannya inner child ini membuat kita bahkan sulit mengenali kepribadian dan karakter diri sesungguhnya seperti apa.

Jika diibaratkan bercermin, ada yang berbentuk kucing namun melihat tampilan pada bayangan sebagai singa. Merasa superpower, penuh arogansi, kuat, tangguh, dan berani. Atau sebaliknya, singa yang justru melihat bayangannya sebagai kucing. Kecil, lucu, imut, namun tidak berdaya.

Ini bahaya! Jelas bahaya!

Bagaimana mungkin harapan dan cita-cita menjadi pendamping bagi suami dan anak dapat terwujud dengan baik, malah salah menilai. Salah persepsi, salah berharap, salah mendukung, salah mengarahkan, dan lain sebagainya. Akhirnya, paling mudahnya kecewa hampir selalu menemani hari-hari kita. merasa serba salah atau malah merasa serba disalahkan.

Yuk kenali diri kita dengan utuh. Jika itu telah kita lakukan, niscaya cita-cita mulia untuk menjadi istri dan ibu hebat sang manajer keluarga handal akan lebih mudah terealisasikan.

Hidup bahagia dan lebih bermakna.

Salaam
Anggia Darmawan

🎍🌷🎍🌷🎍🌷🎍🌷🎍🌷🎍🌷🎍
🦋🌻🦋🌻🦋🌻🦋🌻🦋🌻🦋🌻🦋

Assalamualaikum semuanyaaaa…

Bismillah Tawakalltu billah, semoga hari ini kita bisa berbagi manfaat dan kebaikan yaaa ☺🙏🏻.

Karena akan ada 5 group kulwapp serentak, Inshaa Allah saya akan jawab melalui voice note.

Mohon maaf suaranya bindeng karena sedang flu, meskipun kalau ngga bindeng juga memang suaranya ngga bagus sih yaa 😂😂.

Yuk sama-sama belajar yuk 😘

Tanya Jawab:

🙋🏻 Arie/Bogor/grup 1.

Berdasarkan penjelasan pada kulwap 1, saya ingin sekali menemukan inner child saya. Kira-kira berapa biayanya jika dengan bantuan profesional? Bagaimana melakukan self healing?

🔊    Sebetulnya menemukan inner child ini gampang-gampang susah, susah-susah gampang, hanya memang jika dibantu oleh ahli atau profesional itu tidak sekedar menemukan inner child tapi lebih dalam yaitu akar permasalahannya. Dan terus terang biaya untuk konsultasi dan terapi personal itu cukup mahal, karena saya bagian dari grup psikologi westaria itu terkena aturan kode etik yang salah satunya adalah biaya yang berlaku per area. Untuk wilayah Jabodetabek, biasanya di Jakarta dan tempat-tempat lain hitungannya per jam yaitu 500ribu – 600ribu. Untuk memudahkan kami menggunakan sistem sesi yaitu satu sesi itu 2-3 jam sebesar 750 ribu, untuk memudahkan lagi saya akan rutin mengadakan terapi inner child dlm bentuk grup tetapi dan itu lumayan meringankan karena untuk satu kali pertemuan hanya 150 ribu saja. Terima kasih… ✅

🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝

Continue reading

Tantangan Level 5 (Menstimulasi Anak Suka Membaca) Hari 8

Hari kedelapan, 14 Juni 2017

Fathia (5 tahun 7 bulan) dibacakan salah satu buku dari seri Senangnya Belajar Islam yang berjudul Al-Quran (karya teh Ummuthoriq el-Kanzo & mba Aan Wulandari), penerbit Salamadani. Ini juga buku lama, tapi karena isi ceritanya lumayan banyak (sebagian tidak saling berkaitan), jadi rasanya saya belum pernah tuntas membacakan dalam sekali kesempatan.

Baru semalamlah kami benar-benar mengeksplor buku yang cukup seimbang antara ilustrasi dengan narasinya ini. Setiap cerita pendek diikuti oleh kisah berhikmah (misalnya kisah sahabat Rasulullah), pojok ayat, dan lembar aktivitas terkait tema cerita. Cukup padat memang jadinya.

Fahira (2 tahun 6 bulan) dibacakan buku Biru (Seri Mengenal Warna karya Anita Loughrey, penerbit Tiga Ananda) dan Serba-serbi Daging dan Ikan (Seri Food Zone karya Vic Parker, penerbit Tiga Serangkai).

Saya suka buku Biru yang kami beli di obralan Gramedia beberapa waktu yang lalu, gambar-gambarnya sederhana tapi menarik, dengan konsep bukan hanya mengajarkan perbedaan warna tetapi juga perbedaan ukuran, menyambungkan gambar, dst. Sedangkan buku Serba-serbi Daging dan Ikan mengenalkan asal-usul, pengolahan, dan produk dari peternakan maupun perikanan, dengan banyak foto.