Tantangan Level 5 (Menstimulasi Anak Suka Membaca) Hari 3

Hari ketiga, 9 Juni 2017

Fathia (5 tahun 7 bulan) membaca buku Keni Pilek, penerbit Erlangga for Kids. Buku ini masih dalam seri yang sama dengan yang kami baca di hari pertama, yaitu Seri Anak Sehat. Di sini diceritakan gejala pilek itu seperti apa saja, juga bagaimana cara menutup mulut saat batuk dengan benar untuk mengurangi kemungkinan penularan.

Fahira (2 tahun 6 bulan) dibacakan buku Suara Apa Itu? dari penerbit Rabbit Hole. Di sini anak bisa belajar mengenai jenis-jenis kendaraan dan bagaimana suaranya, melalui buku yang relatif minim teks tapi gambarnya cukup rinci nan cantik tanpa harus jadi rumit. Penggambaran daerah GBK misalnya (karena ceritanya ini lagi lari pagi bersama), khas kan, jadi sekalian mengingatkan anak-anak kalau kami juga sudah pernah ke sana. Aslinya sih dibacakan menjelang saya berangkat ke kantor, tapi malamnya dia minta dibacakan lagi.

Tantangan Level 5 (Menstimulasi Anak Suka Membaca) Hari 2

Hari 2, 8 Juni 2017

Fathia (5 tahun 7 bulan) membaca buku Cita-cita dan Profesi (Seri Kepribadian Muslim 4, Gema Insani Press). Dalam buku ini dikenalkan aneka profesi dan definisi (singkat dan sederhana) apa saja yang dikerjakan, mulai dari guru, astronot, sampai dokter. Dan dia tetap pada cita-cita semula, menjadi dokter.

Fahira (2 tahun 6 bulan) melihat-lihat dan dibacakan buku bilingual Tidak! (No!, Erlangga for Kids). Hanya saya bacakan bahasa Indonesianya sih, kadang bahasa Inggris-nya saya bacakan cuma untuk menggoda kakak yang adakalanya tertarik tapi lebih sering menolak mendengar saya membaca dalam bahasa Inggris kalau bukunya bilingual.

Buku Tidak! yang tipis dengan banyak gambar ini menggemaskan sih buat saya. Tokoh utamanya, Archie si anak badak ceritanya sedang menyukai dan terus-menerus mengucapkan sebuah kata baru yang jadinya bikin geregetan orang-orang, eh, hewan-hewan, di sekelilingnya, sampai akhirnya bikin repot dirinya sendiri. Jadi ingat si dedek sendiri yang sedang masanya banyak berucap “nggak mau!” :D.

 

Tantangan Level 5 (Menstimulasi Anak Suka Membaca) Hari 1

Tantangan Kelas Bunda Sayang IIP Level 5 ini terus terang saya suka banget, tapi di sisi lain jadi ujian juga…. Saya suka membaca buku dan membacakan ke anak-anak, anak-anak alhamdulillah juga sudah terlihat tumbuh kesukaannya pada buku, tapi sanggupkah kami konsisten? Apalagi di bulan Ramadhan, pulang kantor biasanya nyambung berbuka, sholat Maghrib, tak lama kemudian sholat Isya dan tarawih. Belum lagi target harian Ramadhan. Kapan waktunya baca bareng anak-anak? Tapi alhamdulillah, lumayan tertolong karena suami sedang libur kuliah cukup lama, jadi seperti petang ini misalnya, saya dapat laporan dari Fathia kalau tadi sudah baca buku ini dan itu bersama ayah.

Hari ini mulai laporan yang kemarin dulu aja ya… Mohon maklumi Pohon Literasi yang masih seadanya, hehehe.

 

Continue reading

Materi #5 Kuliah Bunda Sayang IIP: Menstimulasi Anak Suka Membaca

Institut Ibu Profesional, Kelas Bunda Sayang, Materi #5

MENSTIMULASI ANAK SUKA MEMBACA

πŸ”ΈπŸ”ΉπŸ”ΈπŸ”ΉπŸ”ΈπŸ”ΉπŸ”ΈπŸ”Ή

Mari kita mulai dengan bermain peran terlebih dahulu. Bayangkan kita adalah seorang dewasa dengan bahasa yang kita gunakan sehari-hari adalah bahasa Indonesia, belum pernah mengetahui bahasa Mandarin, kemudian tiba-tiba kita diberi koran berbahasa Mandarin dengan tulisan Mandarin semua. Apa yang terbayang di benak kita semua?
Pusing? Tidak tahu maksudnya? Lalu kita hanya melihat-lihat gambarnya saja?

Hal tersebut akan sama dengan anak-anak yang belum dibiasakan mendengarkan berbagai dialog bahasa ibunya, belum belajar berbicara bahasa ibunya dengan baik, tiba-tiba dihadapkan dengan berbagai cara belajar membaca bahasa ibunya tersebut yang berisi dengan deretan-deretan huruf yang masih asing di benak anak, diminta untuk mengulang-ulangnya terus menerus dengan harapan anak bisa cepat membaca.

πŸ’ KETERAMPILAN BERBAHASA
Sebelum lebih jauh membahas tentang teknik menstimulasi anak membaca kita perlu memahami terlebih dahulu tahapan-tahapan yang perlu dilalui anak-anak dalam meningkatkan keterampilan berbahasanya.

IMG-20170607-WA0048

πŸ’ Tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Keterampilan Mendengarkan (listening skills)
b. Keterampilan Berbicara (speaking skills)
c. Keterampilan Membaca (reading skills)
d. Keterampilan Menulis (writing skills).

Keempat tahapan tersebut di atas harus dilalui terlebih dahulu secara matang oleh anak. Sehingga anak yang BISA MENDENGARKAN (Menyimak) komunikasi orang dewasa di sekitarnya dengan baik, pasti BISA BERBICARA dengan baik, selama organ pendengaran dan organ pengecapnya berfungsi dengan baik.

Mendengarkan dan berbicara adalah tahap yang sering dilewatkan orangtua dalam menstimulasi anak-anaknya agar suka membaca. Sehingga hal ini mengakibatkan anak yang BISA MEMBACA, belum tentu terampil mendengarkan dan berbicara dengan baik dalam kehidupan sehari-harinya. Padahal dua hal keterampilan di atas sangatlah penting.

Banyak orang dewasa yang menggegas anaknya untuk bisa cepat-cepat membaca, padahal anak yang BISA BERBICARA dengan baik, pasti akan BISA MEMBACA dengan baik, tetapi banyak yang mengesampingkan 2 tahap sebelumnya.

Pertanyaan selanjutnya, mengapa banyak anak bisa membaca tetapi sangat sedikit yang menghasilkan karya dalam bentuk tulisan, bahkan di antara kita orang dewasa pun sangat susah menuangkan gagasan-gagasan kita, apa yang kita baca, kita pelajari dalam bentuk tulisan?

Padahal kalau melihat tahapan di atas anak yang BISA MEMBACA dengan baik pasti akan BISA MENULIS dengan baik.

Mengapa? Karena selama ini anak-anak kita hanya distimulus untuk BISA membaca tidak SUKA MEMBACA. Sehingga banyak di antara kitaΒ  BISA MENULIS huruf (melek huruf) tetapi tidak bisa menghasilkan karya dalam bentuk tulisan (MENULIS KARYA).

TerbuktiΒ  berdasarkan survei UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia baru 0,001 persen. Artinya dalam seribu masayarakat hanya ada satu masyarakat yang memiliki minat baca. Berdasarkan studi “Most Literate Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.

Continue reading

Buku yang paling Ingin Kubaca Tahun Ini

Saya ini mengaku pecinta buku, tapi lihatlah, buku yang saya ulas di blog ini amatlah minim. Boro-boro mau bikin blog khusus ulasan buku yang sudah dibaca. Kalau mengingat masa-masa ngeblog di Multiply sekitar 8 tahun yang lalu ketika saya bisa membaca lebih dari satu buku dalam seminggu sekaligus menuliskan review saya lalu dibikin rekap perbulan, memang jauuuh. Realistis juga sih, waktu itu masih bekerja di kantor yang tidak sesibuk kantor di Jakarta dan belum punya anak pula. Maka jika sekarang bisa baca dua buku sebulan (selain bacain buku untuk anak-anak–yang semalam bisa tiga-empat buku meski tipis-tipis) aja rasanya itu udah prestasi banget. Selesai baca buku, maunya sih bikin catatan dan ulasan untuk mengikat apa yang sudah dibaca dan dokumentasi pribadi juga, tapi sementara pembelaan diri saya adalah “mending waktunya buat baca buku yang lain dulu aja deh — itu juga kalau sempat”. Bagaimana pun, harus ada skala prioritas, kan? *ngeles lagi.

Jadi ketika mba Ika di blognya melempar pertanyaan “Buku apa yang paling ingin dibaca tahun ini?”, sebetulnya sih yang pertama ingin dibaca adalah tumpukan buku di rumah, hehehe. Tapi supaya lebih spesifik, saya khususkan untuk buku-buku yang baru akan keluar tahun ini alias statusnya masih ‘coming soon‘, ya. Kenapa nggak cuma satu, ceritanya biar imbang antara fiksi sama nonfiksi.

Continue reading

Kontroversi Buku Aku Berani Tidur Sendiri

Pekan lalu beberapa grup whatsapp yang saya ikuti, khususnya yang beranggotakan para ibu, diramaikan dengan kabar adanya buku anak yang kontennya tidak pantas karena justru seperti mengajarkan anak untuk bermain-main dengan kelaminnya, atau masturbasi. Sekilas lihat, sampul buku tersebut familiar bagi saya, dan memang ternyata dari penerbit dan penulis yang tidak asing: Tiga Ananda (imprint penerbit Tiga Serangkai, Solo, yang dulunya kebih saya kenal sebagai penerbit buku pelajaran, apalagi saya memang lahir dan besar di kota dekat Solo sehingga banyak memakai buku terbitannya) dan mba Fita Chakra (nama aslinya adalah mba Fitria Chakrawati, tulisan saya dan mba Fita pernah dimuat dalam satu buku yang sama yaitu Long Distance Love).

Penerbit sebesar Tiga Ananda, penulis sekaliber mba Fita, mestinya sudah mempertimbangkan dengan matang sebelum memutuskan sebuah buku layak terbit. Memangnya sseperti apa sih, isinya? Jujur, saya juga punya buku Aku Berani Tidur Sendiri di rumah, tapi masih terbungkus rapi dan tersimpan di tumpukan buku yang harus saya saring dulu sebelum diberikan ke anak-anak. Dan karena keterbatasan waktu, saya belum sempat membukanya. Begitu membaca tulisan dalam foto yang viral beredar, saya mengerutkan dahi. Memang cenderung vulgar, ya. Tapi kalau sampai menduga-duga motif negatif mba Fita menulis ini, saya tak berani. Sedih saya membaca hujatan orang-orang di media sosial yang menghujat penerbit dan penulis yang dianggap sengaja agar anak meniru jalan cerita dalam buku, bahkan lebih jauh lagi punya misi menghancurkan generasi muda. Beberapa di antaranya dirangkum dalam berita BBC ini http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-39038005. Ada teman-teman penulis yang juga membuat postingan tanggapan dengan sudut pandang masing-masing.

Continue reading

Bobo Treasure Hunt, Seseruan Bareng Anak di Gramedia Matraman

Sebuah postingan di instagram Penerbit Kiddo menarik perhatian saya beberapa minggu yang lalu. Penerbit ini rupanya hendak menggelar lomba yang cukup unik dalam rangka peluncuran buku kumpulan cerpen dari majalah Bobo. Sebetulnya bentuk lombanya sendiri masih kurang jelas bagi saya ya, karena hanya disebutkan ‘berburu harta karun’ sebagaimana sudah tersirat dalam judul acara itu sendiri. Tapi karena sepertinya menarik, maka saya pun mencoba mendaftar. Apalagi lokasi acaranya cukup dekat dari rumah, yaitu Gramedia Matraman. Peserta lomba ini disyaratkan berpasangan antara ibu-anak, ayah-anak, atau bisa juga kakak beradik, dengan catatan usia anak 4-13 tahun. Untuk 30 pendaftar yang mengunggah (ke fb atau IG) foto kupon yang ada di majalah Bobo terbaru, dapat hadiah tambahan. Demi hadiah itu, saya pun beli Bobo lagi, majalah kesayangan saya di masa kecil itu :D.

Tibalah hari-H, 10 Desember 2016. Kami datang sedikit terlambat, dan beberapa peserta sudah terlihat sibuk di dekat pintu masuk lantai 1. Tapi ternyata masih diterima untuk ikutan, kok. Di tempat pendaftaran di ruang serbaguna di lantai 3, setelah membayar, peserta mendapatkan nomor urut, kartu penilaian, tas berisi kue-kue, pin, buku, dan spidol. Seperti yang dijanjikan, kami memperoleh bonus buku karena termasuk dalam 30 pendaftar pertama melalui media sosial.

serius menyusun puzzleSesuai petunjuk, kami langsung turun ke lantai 1. Tantangan pertama adalah menyusun puzzle dari gambar sampul buku-buku yang akan diluncurkan. Setelah puzzle tersusun rapi, peserta diberi kertas yang berisikan petunjuk untuk mencari bolpoin berlogo Gramedia. Di sinilah kami (dan beberapa peserta lain juga) agak kelamaan menghabiskan waktu, memutari area alat tulis sambil tanya-tanya. Para pramuniaga entah memang tidak tahu atau dilarang memberi petunjuk sehingga pencarian cukup rumit. Malah ada pramuniaga yang mengarahkan saya untuk bertanya ke customer service lantai berikutnya. Hampir kami mengikuti jejak pasangan lain yang kayaknya sudah memutuskan membeli bolpoin berlabel Gramedia yang dijual, ketika saya berpikir masak iya sih harus keluar uang (lagi, soalnya uang pendaftarannya juga sudah lumayan :D). Saya pun kembali untuk bertanya pada panitia, yang dijawab “Carinya di sini-sini aja, Bu.”, dan rupanya memang dekat dengan tempat tantangan puzzle tadilah saya melihat sekotak bolpoin yang ditempeli tanda “tidak dijual”. Lha…

Continue reading

Menikmati Festival Dongeng Internasional Indonesia 2016

img_20161002_090131.jpgKarena sempat menikmati keseruan Festival Dongeng Internasional Indonesia tahun kemarin, saya pun menanti-nanti gelaran berikutnya. Awal Oktober lalu ketika kami main ke Taman Suropati rupanya ada kegiatan pendahuluan menuju FDII 2016 berupa Dongeng Kejutan di Hari Minggu.

Fathia yang sebetulnya sedang moody abis karena baru sembuh dari sakit ternyata tertarik ikut duduk mengikuti dongeng rubah yang ingin jadi keledai :). Dari banner yang dipasang panitia kami memperoleh informasi bahwa FDII 2016 akan dilaksanakan pada tanggal 5-6 November 2016 di tempat yang sama yaitu Museum Nasional. Oke deh, mari kita masukkan ke agenda…

img-20161107-wa0022Menjelang hari-H saya mengintip akun Instagram dan facebook Komunitas Ayo Dongeng Indonesia (AyoDI/@ayodongeng_ind) dan memperoleh beberapa informasi tambahan seperti jadwal acara dan cara pendaftaran kelas-kelas khusus (berbayar) yang dibuka yaitu kelas kriya (crafting) dan kelas dongeng. Ingin rasanya ikutan belajar dari mereka yang terampil di bidangnya, tapi saat ini sepertinya belum memungkinkan. Sementara ini, belajar lewat menyimak dongeng yang dibawakan saja, ya…

Continue reading

Menikmati Diskon Big Bad Wolf Tanpa ke Sana

Poster Big Bad Wolf Book Sale Surabaya yang tersebar di media sosial sejak berminggu-minggu sebelum pelaksanaannya membuat saya teringat lagi akan gelaran sebelumnya yang diadakan di ICE BSD, Tangerang Selatan. Bazaar buku semacam ini sebetulnya menggiurkan sekali bagi saya yang suka belanja membaca buku. Apalagi melihat postingan mereka yang sudah pergi ke sana dan memamerkan buku-buku menarik nan murah yang ditawarkan, wah….

Namun, sekarang-sekarang ini rasanya kok sayang jauh-jauh ke suatu tempat (yang bukan urusan tugas kantor atau acara keluarga) padahal waktunya bisa digunakan untuk main dengan anak-anak yang sehari-hari sudah ditinggal kerja. Sedangkan bila anak-anak diajak juga belum tentu mereka nyaman/bisa menikmati.

Paling mentok sih kami sekeluarga pergi ke book fair di Senayan, misalnya Indonesia International Book Fair atau Islamic Book Fair. Itu juga tak begitu maksimal pilih-pilihnya. Kalaupun ke sana, biasanya ada talkshow atau program menarik yang diincar untuk diikuti, meskipun tak sepenuhnya bisa fokus juga (lagi-lagi mempertimbangkan kemampuan rentang perhatian anak-anak).

Walhasil saya lebih sering mantengin online shop. Tinggal klik-klik dan barang sampai ke rumah, bahkan banyak yang menawarkan gratis ongkos kirim. Saya sudah menyimak sih pengalaman dan tips dari beberapa teman yang ke BBW, misalnya yang dituangkan oleh Uni Dian di blognya ini http://www.dianonasis.com/2016/05/tips-ala-dian-onasis-saat-belanja-buku.html, tapi tetap rasa hati ini belum mantap.

Continue reading

Cerita Nama Fathia dalam Buku

Mbak Dewi Rieka atau biasa dipanggil mbak Dedew adalah penulis produktif sekaligus blogger yang saya kenal sejak kami sama-sama menjadi anggota milis pembaca majalah Cita Cinta, sekitar sepuluh tahun yang lalu.Β  Lantas kami pun cukup aktif ngeblog di Multiply. Kini Mbak Dedew makin moncer saja karier menulisnya (tahu seri Anak Kos Dodol yang salah satunya sudah difilmkan, kan?), saya mah masih begini-begini saja, hehehe. Pada suatu hari (ah, saya mencoba menghindari kata ini tapi kok ya susah) mbak Dedew menghubungi saya menanyakan kisah penamaan putri pertama saya dan suami. Berceritalah saya, yang sedang hamil Fahira, melalui pesan singkat.

Continue reading