[Kliping] Batuk, Pneumonia dan Sesak Napas pada Anak

Awal masuk TK, Fathia malah batuk. Lumayan juga, dari yang tadinya sudah mendingan waktu mudik sepertinya ketularan lagi begitu kamu kembali. Karena sampai demam beberapa kali, jadinya Fathia harus nggak masuk sekolah selama tiga hari dalam dua minggu pertamanya bersekolah.
image

image

Dalam masa itu terus terang saya deg-degan ketika memantau hitung napasnya (selain juga asupan cairan). Soalnya sesak nafas merupakan salah satu tanda kegawatdaruratan, kan? Khawatir kalau ternyata pneumonia. Berikut dari Ayahbunda:

Sesak napas karena pneumonia beda dengan asma. Pada pneumonia, kesulitan napas terjadi pada saat anak menarik napas. Sedangkan pada asma, kesulitannya saat mengeluarkan napas, bahkan terkadang bunyi ngik-ngik atau mengi.
Pedoman Perhitungan Frekuensi Napas (WHO)
Usia anak    Napas Normal         Napas Cepat
0–2 bulan    30–50 per menit    > 60 per menit
2-12 bulan   25-40 per menit     > 50 per menit
1-5 tahun    20-30 per menit     > 40 per menit

Saya tetap kontak-kontakan sama dokternya, tentu. Dan buka-buka juga arsip milis sehat. Sekalian dikopi kemari biar gampang. Alhamdulillah sih, sudah berlalu. Tinggal PR balikin bb-nya yang sempat menyusut, huhuhu.

Dari arsip milis sehat bulan September 2013:

  • Dear Mba,

    Coba diperhatikan apakah napas cepat saja (yang umum terjadi kalau sedang demam) atau sesak napas? Coba pelajari ini:

    Definisi sesak napas:

    – tarikan otot-otot perut (sampe kalau napas tuh perutnya keliatan kembang kempis gitu)
    – tarikan otot-otot dada (sama juga kalau napas dadanya keliatan kembang kempis…bahasanya saya sampe keliatan “nekuk” ke dalam, mudah-mudahan bisa dibayangkan)
    – tarikan otot-otot leher
    – cuping hidung kembang-kempis

    Semakin ke atas semakin “parah” sesak napas ya (maksudnya kalau sudah sampe cuping hidungnya yang kembang kempis berarti sesak nafasnya bisa dikategorikan “parah”).

    Video Breathing Problems & Respiratory Distress
    Breathing difficulties:
    1. http://www.youtube.com/watch?v=GUkh1EGXvaE
    Retraksi dada; lekuk leher tertarik ke dalam kala menarik nafas; mengi terdengar jelas.

    2. http://www.youtube.com/watch?v=ZpGK8auKh0U&feature=related
    Retraksi dada; lekuk leher tertarik ke dalam kala menarik nafas; kemungkinan ada mengi (nggak terdengar di videonya)

    3. http://www.youtube.com/watch?v=U-RfbrnMJZE&feature=related
    Retraksi dada; lekuk leher tertarik ke dalam kala menarik nafas; kemungkinan ada mengi (nggak kedengeran di video-nya)

    Respiratory distress (derajatnya sudah lebih berat daripada breathing difficulties dalam ketiga video di atas):
    4. http://www.youtube.com/watch?v=pF_1wu4Q7wk
    Retraksi dada; lekuk leher tertarik ke dalam kala menarik nafas; mengi
    masih terdengar (ada juga suara lendir di tenggorokan).

    5. http://www.youtube.com/watch?v=sJLHiTaXrtc
    Retraksi dada; lekuk leher tertarik ke dalam kala menarik nafas;
    kemungkinan mengi sudah tidak ada (pada sesak napas berat atau repiratory
    distress, mengi malah sudah tidak ada lagi –lihat pocket guide GINA https://ginasthma.org/pocket-guide-for-asthma-management-and-prevention/).

    Anak sendiri apa lemas, tidak mau beraktivitas, makan minum sam sek? Berapa kali pipis dalam sehari?

    Bila Mba yakin sesak napas juga anak tidak mau makan minum dan menunjukkan tanda dehidrasi ya segera ke dokter.

    Mengenai pemberian paracetamol, pertimbangkan risk vs benefit Mba. Bisa dicoba dulu metoda membuat nyaman yang lain yang trik-triknya sudah buanyak banget di-share.

    HTH

    Your BFF-Breastfeeding Friend, F.B.Monika, @f_monika_b

    La Leche League (LLL) Leader of Roc, South NY,US

  • purnamawati.spak@…
    Sun, 05:44 PM
    Sesak (dyspnea) atau napas cepat (tachypnea)?
    Saat demam, napas pasti cepat.
    Kalau sesak, kan bukan sekedar frekuensi.
    Kedua, saat menghitung frekuensi napas, apakah anak sdg tidur? Ukur frek napas harus saat anak tidur.
    Apakah mungkin lebih dari sekedar common cold?
    Waktu ke IGD, diagnosisnya apa? Kok dinebul NaCl?
    Bukan pneumonia dong ya
    Bukan juga bronkiolitis

    Coba assessment nya diperbaiki

    Wati

    -patient’s safety first-

Yang ini email dr. Anto, Sp.A. Juli 2016

Pneumonia adalah diagnosis klinis, terdapat sesak napas yang ditandai dengan upaya peningkatan volume paru, gejala berupa retraksi atau cekungan dan peningkatan frekuensi napas.
Derajat pneumonia bisa ringan, sedang atau berat. Pada pneumonia terdapat peningkatan upaya pemenuhan kebutuhan oksigen dengan parameter obyektif saturasi oksigen. Bila kadar saturasi oksigen <92% maka perlu terapi oksigen atau bila saturasi >92% tetapi terdapat peningkatan upaya napas (frekuensi meningkat dan dada cekung) maka juga diperlukan oksigen.

Bagaimana penyebabnya?
Pneumonia bisa disebabkan virus atau bakteri bahkan jamur. Yang paling sering tentu virus atau bakteri. Bila gejal awal terdapat common cold maka mengarahkan kepada virus. Namun perlu dilakukan pemeriksaan penunjang untuk memastikan, kenapa? karena tingkat kesakitan dan kematian pneumonia tinggi apalagi pada kelompok risiko tinggi (neonatus, bayi, gizi buruk, asma kronik, pemakaian steroid lama, penyakit jantung bawaan, gangguan sistem imunitas atau lansia)

Dari laboratorium dinilai adalah leukosit: secara umum 3-36 bulan, bila leukosit >15.000 maka mengarahkan kepada infeksi bakteri. Dilihat hitung jenis leukosit, bila peningkatan pada batang atau segmen maka mengarah kepada bakteri, sementara bila limfosit yang meningkat maka mengarah kepada virus.

Sementara pemeriksaan rontgen thoraks akan membantu: bila infiltrat (gambaran putih tampak pada satu lobus (bagian) paru maka mengarahkan kepada bakteri.

CRP merupakan protein reaktif akut yang meningkat pada proses peradangan, Peradangan dapat disebabkan oleh bakteri atau virus atau luka jaringan, jadi CRP membantu diagnosis, bukan standar emas. Standar emas adalah bilasan bronkus, tetapi ini tidak dilakukan rutin karena tingkat kesulitan dan manfaat dan risikonya.

Bila terdapat keraguan antara virus dan bakteri?
Bila terdapat fasilitas lengkap dan dapat diperiksa lengkap, secara umum bila didahului infeksi virus, tidak terdapat peningkatan leukosit, atau peningkatan pada limfosit saja, gambaran rontgen mendukung virus maka dapat diterapi sebagai pneumonia karena virus dengan pemantauan, dalam 48 jam bagaimana respons klinis, bila perburukan maka dilakukan evaluasi ulang.

Bila terdapat peningkatan leukosit, segmen atau batang, rontgen thoraks sesuai dengan bakteri maka diterapi antibiotik, dan pemantauan sama 48-72 jam harus memberikan respons perbaikan, bila tidak membaik maka perlu evaluasi ulang.

Kortikosteroid setahu saya tidak termasuk dalam tata laksana pneumonia (bisa cek di pneumonia guideline British Thoracic Society, atau IDSA)
semoga bisa membantu dan lekas sembuh.

salam,
-anto- (dr. Yulianto milis sehat)

Ada juga infografisnya lhoo…sila mampir ke blog Icha ini.

 

Catatan tambahan terkait salah satu obat batuk yang biasa digunakan (ambroxol): http://www.idionline.org/wp-content/uploads/2016/04/SURAT-KE-IDI-DAN-DDL-B-POM.pdf

Masuk Majalah!

Sedikit nostalgia peristiwa lama karena waktu itu belum sempat diposting di blog. Tanggal 29 Agustus tahun lalu untuk pertama kalinya saya ikut gathering anggota grup pendukung ASI TATC (Tambah ASI Tambah Cinta) yang kali itu diselenggarakan di RS Meilia Cibubur. Sekalian seminar keluarga terkait ASI dan postpartum depression sih ceritanya. Nah, sebelum acara dimulai, Mba Wynanda, kreator dan admin grup tersebut sempat bilang bahwa nanti akan ada peliput dari majalah Mother & Baby Indonesia yang wawancara untuk masuk rubrik komunitas. Benar saja, ketika break acara saya dimintai pendapat mengenai TATC dan menyusui oleh perwakilan majalah tersebut.

Selesai rangkaian seminar, kami berempat yang diwawancarai (dua admin dan dua member yang hadir) diambil gambarnya bersama anak-anak. Sayang kedua putri mba Wynanda tidak bisa ikut berfoto, Kirana masih dirawat di RS sedangkan kakaknya Kasih sedang bersama eyang keluar ruangan. Kemudian kami diberi informasi bahwa liputan komunitas ini akan dimuat dalam majalah edisi dua bulan yang akan datang. Dan inilah hasilnya, yang tepatnya dimuat di rubrik Mum’s Club edisi Oktober 2015 (versi digital bisa dilihat di http://www.pressreader.com/Indonesia/mother-baby-indonesia/20151001/textview).

MnB

Serba-serbi MPASI dari Grup HHBF

Disclaimer: tulisan ini disusun berdasarkan rekomendasi pada saat itu (maka dari itu saya sebutkan sumbernya juga agar dapat langsung dicek). Semoga dapat memberikan wawasan bahwa memang ilmu terus berkembang dan akses terhadap informasi pun makin luas sehingga bisa jadi apa yang direkomendasikan dahulu berbeda dengan sekarang.

=======

Melengkapi bahasan MPASI dari AIMI yang sebagian klipingnya pernah saya posting dulu (bisa dibaca di sini https://ceritaleila.wordpress.com/2014/12/05/serba-serbi-mpasi-dari-grup-aimi/), berikut yang dari grup Homemade Healthy Baby Food ya…

Amanda Pingkan Wulandari Pratama Jika anak sembelit, evaluasi komposisi asupan menunya.

* apakah makan lengkap 4 bintang?
* apakah sudah diberi lemak tambahan ?
* apa selingan buahnya ?
* bagaimana tekstur dan porsi makannya ?
* bagaimana asupan asi dan air putihnya ?

MENU 4 bintang yaitu terdiri dari :
🌟Sumber karbohidrat dikenal sebagai makanan pokok sumber penghasil energi (memenuhi fungsi zat tenaga). Selain nasi, ada kentang, ubi, singkong, labu kuning, jagung, oat, pasta, bihun, mie, roti.
🌟🌟 Sumber hewani; sumber pembentuk sel tubuh dan sumber zat besi (memenuhi fungsi zat pembentuk), dapat diberikan sesering mungkin. Aneka ikan air tawar, ikan laut, daging ayam, sapi, kambing (termasuk otak, ati), telur
🌟🌟🌟 Kacang-kacangan dan olahannya sebagai sumber protein nabati dan mineral zat besi (memenuhi fungsi zat pengatur). Ada kacang hijau, kacang merah, kacang polong, kacang kedelai, kacang tolo, edamame, kecambah (toge), buncis, tahu, tempe.
🌟🌟🌟🌟 Aneka buah dan sayuran berwarna hijau dan jingga yang kaya vitamin A (memenuhi fungsi zat pengatur).

Penunjang yang wajib ada yaitu sumber lemak tambahan (minyak/mentega/margarin/santan — boleh dan dianjurkan dikenalkan sejak usia 6 bulan ) untuk menambah nilai kalori makanan (bisa untuk membantu boost BB), sebagai pelarut vitamin A, D, E dan K; menambah rasa gurih alami makanan serta untuk membantu melancarkan pencernaan.

 

Tentang komposisi makanan yang baik sudah pernah diposting di wall, pembahasan sembelit ada di file grup 🙂

Ol hp, buka fb via browser atau opera mini, masuk ke grup, scroll ke bawah, klik photos untuk ke album foto grups atau klik files untuk dokumen grup.

Yang ol hp fb aplikasi, masuk ke grup, klik tanda i di bawah foto cover grup, klik photos untuk ke album foto grups atau klik files untuk dokumen grup.

Untuk buka link, ol hp buka fb via browser atau opera mini.

Komposisi Makanan Ideal
https://m.facebook.com/groups/208836479136874?view=permalink&id=987647997922381&refid=18&_ft_

Sembelit Bayi Mpasi
https://m.facebook.com/groups/208836479136874?view=permalink&id=209212342432621&refid=18&_ft_

Saat sembelit jangan buru-buru panik ngasih anak buah atau sayur biar lancar BAB.

Bukan sekedar lengkap 4 bintangnya, tapi perlu dievaluasi juga :
* bagaimana komposisinya…apakah sayuran melebihi protein ? Bayi dan anak butuh serat, tapi cukup sedikit. Bayi dan anak butuh banyak protein dan lemak. Jika porsi sayur berlebih, kurangi sayur, perbanyak protein dan lemak tambahan.
* apa saja variasi lemak tambahannya? Apa hanya dikasih kaldu saja? Kenalkan minyak dan juga santan misalnya
* apa saja variasi buahnya? Apakah sering diberi pisang dan pepaya? Saat sembelit dijejali pepaya dan pisang justru makin sembelit. Imbangi dengan buah yang kandungan air (pir, buah naga, jeruk, semangka, melon) atau buah kaya kandungan lemak
* bagaimana asupan asi dan air putihnya? Cukupkah?
* apakah sering diberi oat/jagung/beras merah/beras hitam? Bahan karbohidrat ini tinggi serat.
* seberapa banyak porsinya? Porsi terlalu banyak pun bisa menyebabkan sembelit.
* apakah naik tekstur terlalu cepat? Perpindahan drastis dari lembut ke kasar pun bikin sembelit.
* terkadang sembelit bisa juga indikasi tidak cocok makanan tertentu

Continue reading

[Kliping] Pembatasan Televisi di Rumah

Tulisan dari Abah Ihsan (Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari, page fb @abahihsanofficial) di bawah ini kemarin lewat di news feed Facebook saya. Saya jadi teringat untuk menghitung hari. Terhitung sampai akhir bulan Juli ini kami telah delapan bulan menyingkirkan televisi. Nggak total banget, sih. Televisi cuma diungsikan ke lantai dua, tempat yang jarang banget dijangkau anak-anak.

Sekali dua, kami masih menyempatkan nonton khususnya jika sedang ada liputan atau ulasan bagus yang informasinya kami peroleh sebelumnya. Beberapa kali anak-anak juga kami ajak ke atas (biasanya sambil salah satu di antara kami beberes) dan akhirnya TV dinyalakan, tapi belum tentu dua bulan sekali kami melakukannya. Kami juga masih belum berniat benar-benar mensterilkan anak-anak dari televisi, apalagi di tempat saudara atau tetangga ketika kami berkunjung. Lebih-lebih di tempat umum. Ya, saya sempat membaca bahwa salah satu tips ayah Musa sang hafidz Al Qur’an ternyata termasuk meminta kepada tuan rumah untuk mematikan TV jika kebetulan sedang disetel.

Continue reading

Kapan Pertama Kali Mens Setelah Nifas?

Setelah melahirkan anak pertama, saya mendapatkan menstruasi tak lama setelah nifas selesai. Sempat sebulan lebih sedikit tidak haid, kemudian setelah itu sudah mens rutin. Awalnya saya bingung karena yang pada saat itu dibaca di grup dukungan menyusui di fb adalah banyakkk member yang bertanya kenapa nggak mens-mens juga setelah lahiran. Tapi di kolom jawaban oleh adminnya dijelaskan kalau itu wajar aja, karena bisa beda di setiap orang. Isapan bayi, pola menyusui, kondisi tubuh dan hormon kan lain-lain.

Di kehamilan pertama saya mengalami keguguran saat usia kandungan 9 pekan. Seingat saya waktu itu siklus haid saya tidak makan waktu lama sudah kembali normal. Nah, sehabis melahirkan anak kedua, saya mens pertama setelah bayi berumur 6 bulan. Kebetulan pas bulan Ramadhan mens pertama ini, padahal sudah senang tadinya kirain bisa puasa full kayak pas hamil, hehehe, ternyata harus bolong.

Kakak dan dedek sama-sama full ASI (dedek baru 18 bulan sih, semoga bisa sampai 2 tahun :)) dan saya sampai sekarang tidak menggunakan KB hormonal maupun yang dipasang di tubuh saya. Analisis sementara penyebabnya mungkin karena kakak dikenalkan pakai dot sejak awal (dilatih dari sebelum masuk kantor kembali), sedangkan dedeknya memang sengaja nggak dipakaikan dot sama sekali. Pola menyusui/mengosongkan payudara khususnya yang secara langsung ke payudara ibu kan bisa mempengaruhi hormon yang menghambat ovulasi, sedangkan kebiasaan memakai dot berpotensi menurunkan daya isap bayi atau kadang disebut dengan bingung puting laten. Tapi banyak juga sih working mom yang bayinya pakai dot lantas baru mens setelah bayinya disapih (sekitar 2 tahun), tanpa KB hormonal tentunya (kalau pakai, jadwal menstruasi bisa jadi berbeda memang ya), termasuk beberapa teman kantor.

Continue reading

Mainan Anak dari Bahan Makanan

Selama ini sering saya baca baik di majalah, laman web, hingga akun pribadi ada yang berbagi tips membuat play dough sendiri, adonan mainan homemade, dan sejenisnya. Tentu saja sebagai ibu yang suka mentok soal permainan edukatif anak saya ikut mengumpulkan resep-resepnya, tapi belum sampai betul-betul bikin. Entahlah, rasanya kok sayang saja, gitu. Termasuk penggunaan kentang atau bawang untuk membuat semacam stempel. Itu bahan makanan kan, ya? Bisa buat memenuhi hak tubuh, dan di tempat lain bisa jadi ada yang lebih membutuhkan kan, ya?

Memang, permainan bukannya tidak bermanfaat, ada stimulasi sensori motorik di situ. Tapi pilihan lain kan ada, beli jadi misalnya. Mau pakai alasan ‘yang homemade lebih aman’ pun, produsen play dough terkemuka biasanya jelas mencantumkan cara pakai dan komposisi di kemasan kok, meliputi pewarna apa yang dipakai dan peringatan akan adanya kandungan tertentu yang berpotensi memicu reaksi alergi, termasuk terigu (nah, ini gimana ya, termasuk menyia-nyiakan bahan makanan juga nggak, ya?). Jadi bisa dipilih sesuai dengan kondisi. Kalau dibilang ‘proses bikinnya itu yang seru dan mendidik’, ya masih bisa juga anak diajak bikin adonan buat roti beneran. Misalkan kepepetnya anak ada alergi sehingga yang aman dimainkan hanya yang bikinan sendiri, yang ini mungkin bisa mendapat pengecualian (jika memang darurat ada kemampuan tertentu yang harus distimulasi dengan cara itu barangkali ya).

Belakangan seorang teman di grup whatsapp memposting kutipan artikel di bawah ini yang menjawab kegundahan saya. Yah, walaupun awalnya saya tidak kepikiran soal biji-bijian untuk kolase atau dironce misalnya. Mungkin karena dalam pikiran saya untuk biji-bijian yang terpakai tidak terlalu banyak sebagaimana yang terjadi untuk adonan ya. Omong-omong soal jumlah, mungkin kalau sedikit atau bisa dipakai kembali (biji-bijian, makaroni habis dironce yang bisa dibersihkan) tidak apa-apa? Harus ditanyakan lagi nih ke yang kompeten menjawab, nanti saya update postingan kalau sudah ada jawaban.

Lebay? Mungkin ada yang beranggapan begitu ketika membaca tulisan tersebut. Yah, namanya hati-hati dengan dalil yang jelas (bukan sekadar waspada karena testimoni atau kekhawatiran yang tidak beralasan) kan boleh, ya? 🙂 Yang jelas, saya saat ini mantap untuk tidak bikin sendiri play dough dan sejenisnya (bukan karena malas bikin ya, hehehe).

=============================================================================

Membuat Kolase dari Beras, Kacang dll

Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah

Pertanyaan:

Akhir-akhir ini muncul permainan untuk anak-anak dengan bahan baku kacang, beras dan adas (sejenis rempah-rempah) dan bahan makanan lain dari nikmat-nikmat Allah. Bahan-bahan ini juga digunakan dalam pembuatan media pembelajaran. Seperti untuk membuat peta dan yang lainnya, kemudian dicat dengan warna tertentu. Apakah perbuatan ini diperbolehkan? Bagaimana jika digunakan untuk pembuatan ilustrasi? Kami mengharapkan penjelasan.

Jawaban:
Yang nampak bagiku tentang masalah ini bahwa perbuatan ini tidak boleh dilakukan. Karena di dalamnya terdapat unsur menghinakan nikmat-nikmat Allah. Juga terdapat unsur buang-buang harta tanpa ada keperluan. Perbuatan semacam ini mengumpulkan dua unsur tadi, buang-buang harta dan menghinakan nikmat, yang seharusnya nikmat tersebut dimanfaatkan dengan cara yang lain. (Pendapat) inilah yang menurutku paling kuat dan paling dekat dengan kebenaran. Wallahua’lam.
(Sumber: www.alifta.net)

Membuat Playdough dari Tepung, Minyak Goreng dan Garam

Fatwa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al Ilmiyyah wal Ifta

Pertanyaan:
Kami adalah ibu guru yang mengajar di sebuah Taman Kanak-kanak. Kami memiliki  sebuah materi pelajaran yang disebut dengan pelajaran ketrampilan seni. Anak-anak diberikan adonan yang terbuat dari campuran tepung putih, garam,  minyak, pewarna makanan. Bahan-bahan ini diuleni ibu guru hingga menjadi adonan kalis berwarna yang lebih lembut daripada tanah liat. Adonan ini diberikan kepada anak-anak untuk bermain. Perlu diketahui, sebagian adonan ini berjatuhan di lantai, terinjak kaki dan ketika kering adonan ini dibuang ke tempat sampah. Apa hukum bermain adonan dengan model permainan seperti di atas, sementara pelajaran ini menjadi kurikulum yang ditetapkan kementerian pendidikan dan pengajaran. Berilah kami pencerahan tentang masalah ini dengan penuh ucapan terima kasih. Jazakumullahu khairan.

Jawaban:
Menyuguhkan adonan seperti yang disebutkan dalam soal diatas untuk diberikan kepada anak-anak agar mereka bermain dengan adonan tersebut, termasuk menghinakan dan menyia-nyiakan nikmat. Sementara banyak orang sangat membutuhkannya. Sungguh Nabi shallallahu’alaihi wasallam memerintahkan untuk menjaga nikmat dan memuliakannya. Beliau juga memberi arahan kepada orang yang membawa makanan lalu sepotong makanan terjatuh, agar orang tersebut membersihkan bagian yang kotor lalu memakannya dan tidak menyisakannya untuk setan. Dan masih memungkinkan memberikan mainan alternatif lain bagi anak seperti tanah liat dan bahan lainnya yang memiliki tujuan yang sama, yang dapat melatih anak-anak.

Wabillahit taufiq. Washallallahu’ala Nabiyyina Muhammadin wa’ala aalihi washahbihi wa sallam

Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al Ilmiyyah Wal Ifta

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah Alu Asy Syaikh
Anggota
Abdullah bin Ghudayyan
Shalih bin Fauzan Al Fauzan
Ahmad bin Ali Al Mubaraki
Abdullah bin Muhammad Al Muthalliq
Abdullah bin Muhammad bin Khunain
Sa’d bin Nashir Asy Syitri
(Sumber: www.alifta.net)

Boleh Bermain dengan Kulit dan Ampas Makanan

Oleh Syaikh Khalid bin Suud al Bulihid

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum,
Saya tinggal di Swiss. Di sini, anak-anak TK biasa bermain adonan yang terbuat dari tepung,  garam sehingga tidak meracuni anak (jika tertelan). Apakah hal ini diperbolehkan meskipun terbuat dari bahan makanan? Apakah diperbolehkan jual beli mainan seperti ini?

Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh,

Alhamdulillah,
Yang nampak bahwa tidak diperbolehkan bermain dengan adonan makanan secara mutlak. Karena termasuk membuang-buang dan menghinakan sesuatu yang seharusnya dimuliakan. Juga karena perbuatan semacam ini meniadakan syukur yang wajib. Sementara Allah Ta’ala sungguh memerintahkan kita untuk mensyukuri nikmat. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.”

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sangat memuliakan makanan walaupun hanya sedikit. Sampai-sampai beliau shallallahu’alaihi wasallam bermaksud memakan satu kurma yang beliau temui di jalan akan tetapi beliau khawatir kurma tersebut adalah kurma sedekah. Beliau shallallahu’alaihi wasallam juga memerintahkan  untuk mengambil sepotongan makanan yang terjatuh di tanah. Sebagaimana sabda beliau shallallahu’alaihi wasallam,

إِذَا سَقَطَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيُمِطْ عَنْهَا الْأَذَى وَلْيَأْكُلْهَا وَلَا يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ ) ، وَأَمَرَنَا أَنْ نَسْلُتَ الْقَصْعَةَ قَالَ : ( فَإِنَّكُمْ لَا تَدْرُونَ فِي أَيِّ طَعَامِكُمْ الْبَرَكَةُ ) .

Jika sepotong makanan salah seorang di antara kalian terjatuh hendaknya ia membuang kotoran darinya kemudian memakannya. Dan janganlah membiarkannya untuk setan.” Beliau memerintahkan kami agar membersihkan makan yang tertinggal di piring (dengan tangan). Kemudian bersabda, “Sesungguhnya kalian tidaklah tahu, makanan mana yang mengandung berkah.” (HR. Muslim)

Bermain adonan makanan termasuk merugikan dan menyia-nyiakan harta dalam perkara yang tidak benar. Sungguh Nabi shallallahu’alaihi wasallam melarang kita dari hal-hal yang demikian sebagaimana terdapat dalam sunnah.

Bermain adonan makanan termasuk sikap boros dalam harta. Sungguh Allah Ta’ala berfirman,

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا

“Makan, minumlah dan jangan berlebihan.” (QS. Al A’raf: 31)

Adapun bermain kulit makanan atau sampah makanan yang umumnya tidak dapat diambil manfaatnya atau tidak jelas kegunaannya maka tidak mengapa. Karena itu bukan termasuk makanan yang dimuliakan. Dahulu,  para sahabat ridhwanullahi’alaihim saling melempari dengan kulit semangka,  sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari.

Dengan demikian, tidak seharusnya menjadikan apapun jenis makanan selama makanan tersebut dimuliakan lalu digunakan sebagai bahan mainan anak-anak. Akan tetapi yang wajib dilakukan adalan memuliakan makanan, memperhatikan dan merawatnya karena rasa syukur kepada Dzat yang Maha Melindungi yang telah memberikan nikmat yang berharga.
Sudah selayaknya mencari alternatif material lain yang tidak dimuliakan namun cocok dibuat mainan dan senang-senang.

Demikian juga perlu diwaspadai untuk tidak menggunakan bahan makanan seperti telur, kelapa, tepung dalam perlombaan dan perayaan seperti kebiasaan sebagian orang bermain-main dengan bahan tersebut.

Tidak pantas bagi seorang muslim ikut-ikutan menjualbelikan, menyewakan makanan yang dipersiapkan sebagai bahan untuk acara permainan dan hiburan, karena hal ini termasuk tolong menolong dalam dosa dan permusuhan. Para ulama telah menegaskan haram hukumnya menjual makanan kepada orang yang akan menggunakannya untuk berjudi.

Diperbolehkan bagi seseorang menggunakan makanan untuk memperbaiki tubuhnya atau untuk pengobatan. Seperti menggunakan buah-buahan, madu untuk menghaluskan kulit dan menghilangkan bintik-bintik dan tujuan baik yang lain. Karena ini termasuk menggunakan makanan untuk tujuan yang jelas kemanfataannya. Karena termasuk dalam pengobatan yang mubah serta bukan termasuk menerjang kemuliaan makanan dan bukan untuk main-main. Maka tidak mengapa memanfaatkan makanan untuk pengobatan atau kosmetik agar penampilan makin cantik (untuk berhias didepan suami-pen). Wallahua’lam.washallallahu’ala Muhammad wa aalihi washahbihi wasallam. (Sumber: https://saaid.net/Doat/binbulihed/f/365.htm)

Di antara alternatif mainan anak-anak dari sisa makanan yang tidak bermanfaat lagi misalnya menggunakan ampas kelapa, kulit semangka, kulit jeruk atau tepung yang sudah bau apek, berjamur, berkutu, banyak larva sehingga sangat tidak layak dikonsumsi bisa dimanfaatkan untuk bahan playdough daripada dibuang. Allahu Ta’ala A’lam.

اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله واصحابه

***
Penyusun: Ummu Fatimah Abdul Mu’ti
Artikel wanitasalihah.com

Sumber:http://wanitasalihah.com/mainan-anak-anak-yang-terbuat-dari-bahan-makanan-apa-kata-ulama/

Bermain Kubus untuk Perkembangan Anak

Beberapa waktu yang lalu saat kami mengikuti acara seminar awam tentang prematuritas di RS Evasari, dokter yang menjadi pembicara menyampaikan tentang balok-balok yang dapat digunakan sebagai alat pemantau perkembangan anak. Menurut beliau, pengecekan perkembangan anak di luar negeri sudah melibatkan penggunaan balok ini. Saya jadi ingat KPSP atau kuesioner praskrining perkembangan anak yang biasa digunakan untuk mengukur apakah perkembangan anak sudah sesuai dengan usianya atau belum. Balok ini disebutkan di beberapa bagian sbb:

Muncul di pertanyaan untuk usia 12 & 15 bulan: Tanpa bantuan, apakah anak dapat mempertemukan dua kubus kecil yang ia pegang? Kerincingan bertangkai dan tutup panel tidak ikut dinilai.

Muncul di pertanyaan untuk usia 21 & 24 bulan: Apakah anak dapat meletakkan satu kubus di atas kubus yang lain tanpa menjatuhkan kubus itu? Kubus yang digunakan ukuran 2.5-5.0 cm

Muncul di pertanyaan untuk usia 30 & 36 bulan: Dapatkah anak meletakkan 4 buah kubus satu persatu di atas kubus yang lain tanpa menjatuhkan kubus itu? Kubus yang digunakan ukuran 2.5 – 5 cm.

Muncul di pertanyaan untuk usia 42, 48, dan 54 bulan: Dapatkah anak meletakkan 8 buah kubus satu persatu di atas yang lain tanpa menjatuhkan kubus tersebut? Kubus yang digunakan ukuran 2.5 – 5 cm.

Selengkapnya bisa dilihat antara lain di

https://tumbuhkembang.info/alat/kuesioner-pra-skrining-perkembangan-kpsp/

PhotoGrid_1461513455766

Fathia dulu belum punya balok khusus untuk bermain di tahun pertamanya. Iseng, saya menggunakan toples mungil wadah bumbu untuk ‘tes’ ini, hehehe. Sekitar usia dua tahun ia bisa menumpuk 4 wadah bumbu. Sekarang, kami pakai balok yang dibeli dari Toko Mama Sekar (mba Evi Rismawati). Aslinya ini puzzle 6 in 1 sih, alias bisa disusun menjadi 6 gambar berbeda. Kebetulan ukurannya pas dengan yang disyaratkan dalam KPSP.

NYUSUN BUMBU

Manfaat balok-balok permainan ini sendiri bisa disebutkan sebagai berikut:

Orangtua dan guru perlu merancang lingkungan yang mendorong dan meningkatkan kemampuan anak dalam memecahkan masalah sejak usia dini (Rachel Keen, psikolog perkembangan, 2011).

Meski tak se-wah mainan robot yang bisa bergerak atau video game, balok-balok mainan cocok untuk mendukung tujuan di atas, termasuk membantu anak mengembangkan keterampilan motorik serta koordinasi tangan dan mata, skill spasial, kemampuan berpikir yang kreatif dan bervariasi, keterampilan sosial, serta keterampilan berbahasa. Anak juga bisa bermain peran atau ‘sandiwara’ dengan balok tersebut. Bahkan balok-balok ini sekaligus berpotensi melatih kemampuan matematika.  Bahasan selengkapnya di http://www.parentingscience.com/toy-blocks.html.

(Kalau yang ini Fathia berkreasi dengan Math Block)

IMG_20151122_155514

Angkut-angkut ASI Perah

Ketika masih menyusui anak pertama, saya cukup ‘aman’ dari kemungkinan dinas ke luar kota karena kebetulan saya saat itu ditempatkan di bagian pelayanan terdepan yang jarang kebagian tugas dinas. Alhamdulillah sih, karena kalau membaca beberapa cerita ibu-ibu yang mendapat penugasan ke luar kota bahkan luar negeri, atau malah bekerja di pulau yang berbeda dengan bayinya, atau pekerjaannya mengharuskan jarang menetap di satu tempat, rasanya perlu perjuangan banget (walaupun kalau mau dibawa santai barangkali bisa dijalani dengan lebih tenang ya, tapi tetap saja penuh tantangan, kan).

Saya pun melihat sendiri betapa teman yang bertugas di Bangka (dulu kami sekantor) ketika harus mengikuti diklat ke Bogor dan Jakarta sampai repot-repot mencari tahu apakah mungkin ada anggota grup dukungan menyusui yang kami ikuti yang bisa dititipi ASI perah, jaga-jaga kalau di tempatnya diklat tidak tersedia freezer — salah satunya diakhiri dengan ia menempuh perjalanan bolak-balik hotel-rumah saya untuk menitipkan ASIP karena kesulitan menitip di freezer hotel. Menjelang dan setelah Fathia lulus ASI 2 tahun, barulah saya diperintahkan ikut bimtek, workshop, course dan sejenisnya yang semuanya tetap berlokasi di Jakarta.

Continue reading

Menyusui Bikin Rambut Rontok, Mitos atau Fakta?

Menemukan helaian rambut yang rontok di mana-mana pada masa menyusui adalah momok bagi sebagian ibu. Ada teman yang cerita bahwa ART-nya sampai sering berseru prihatin melihat rambut-rambut yang jadi berceceran di rumah.

“Aku menikmati banget waktu lagi hamil, deh, soalnya rambut jadi tebel, berkilau juga,” begitu cerita teman ini melanjutkan. Ya, kondisi rambut ketika sedang mengandung memang seringkali berbanding terbalik dengan ketika sudah berstatus busui. Biasanya sih kerontokan rambut yang lumayan parah ini terjadi pada tiga bulan pertama.

Dari hasil baca-baca, sebagian mengaitkan kerontokan rambut ini gara-gara ‘gizi ibu yang diambil untuk keperluan bayi melalui ASI’. Malah ada juga yang bilang ini karena bayi sedang suka mainan air liur atau memasukkan tangan ke mulut. Apa hubungannya? Entahlah, mitos itu tidak beredar di keluarga saya sehingga saya baru mengetahuinya melalui grup pendukung ASI yang saya ikuti. Jadinya saya tertarik untuk mencari tahu lebih lanjut, sebetulnya apa sih, penyebabnya?

Dulu pernah ada tulisan mengenai rontoknya rambut busui yang di-post oleh mba Luluk Lely Soraya Ichwan, konselor laktasi dari Yayasan Orangtua Peduli di blognya, tapi karena Multiply menutup layanan dan belakangan menghapus semua postingan penggunanya dari dunia maya, tulisan mba Luluk ikut hilang. Saya sempat menyalinnya untuk keperluan grup ASI, tapi kali ini saya tuliskan ulang dari artikel asli yang menjadi sumber unggahan mbak Luluk, yaitu dari http://kellymom.com/bf/concerns/mother/hairloss/.

Sebetulnya rontoknya rambut ibu pascamelahirkan itu normal, kok. Banyak ibu yang mengalaminya. Rambut kita punya fase sendiri dalam pertumbuhannya. Ada fase bertumbuh yang disebut anagen dan ada fase istirahat yang dinamakan telogen. Di kulit kepala, fase anagen berlangsung selama lebih kurang 3 tahun, sedangkan telogen biasanya selama tiga bulan. Kisaran ini masih bisa bervariasi pada setiap orang. Pada fase telogen, rambut yang ‘beristirahat’ tetap bertahan pada folikelnya sampai terdorong oleh rambut baru yang sedang tumbuh.

Continue reading

Media Penyajian ASIP

11800288_378688038995643_6148385884336034089_n[Mabes TATC – Mari Belajar Sama-sama, Tambah ASI Tambah Cinta]

2 Agustus 2015

Masih dalam rangkaian Pekan ASI Sedunia yang tahun ini mengambil tema ‘Breastfeeding and Work, Let’s Make It Work‘, kali ini yuk kita kupas media penyajian Air Susu Ibu Perah (ASIP). ASI adalah hak anak, tetapi bagaimana ketika ibu dan bayi harus terpisah jarak atau ada kondisi lain yang membuat bayi tak bisa menyusu langsung? Pemberian ASIP menjadi jawabannya.

Nah, untuk menyajikan ASIP yang telah disiapkan agar bisa diminum oleh bayi tentunya perlu sarana atau media. Beberapa media yang bisa dipilih adalah:

1. Cangkir kecil atau sloki. Tidak harus yang bermerk/dikhususkan untuk itu sebenarnya (yang biasanya disebut cup feeder), tetapi bisa juga manfaatkan yang sudah ada. Seorang teman kuliah saya memilih gelas beling biasa, sedangkan salah satu admin di sini menggunakan tutup botol dot.

2. Sendok. Jika ada, pilih yang bahannya empuk untuk mengurangi kemungkinan menyakiti gusi atau rongga mulut bayi. Praktis dan biasanya di setiap rumah ada, sehingga cocok juga untuk yang pemberian ASIP-nya hanya temporer (tidak serutin yang bekerja di luar rumah atau kuliah) atau mendadak (misalnya ketika ada yang sakit).

3. Botol sendok, ada botol sendok yang sebetulnya ditujukan untuk penyajian MPASI dengan tekstur lebih kental ketimbang ASIP, sehingga beberapa sumber tidak menyarankan untuk ASIP yang akan mengalir lebih cepat dengan ukuran lubang sebesar itu.

4. Ada pula semacam botol sendok yang memang fungsinya untuk kasih ASIP, biasanya disebut dengan soft cup feeder. Ujungnya tidak terlalu mirip dengan sendok memang, tapi cara kerjanya lebih kurang sama dengan botol sendok yaitu bagian badan/botol penampung ASIP atau leher ‘sendok’-nya dipencet agar cairan dalam badan/botolnya keluar.

5. Pipet tetes, bisa pakai yang sering disertakan dalam kemasan obat untuk bayi, atau beli di apotek.

Continue reading